26 July 2013

Resensi – NOTASI "Mahasiswa: Pemuda yang Memegang Teguh Prinsip dan Janjinya"


Judul Buku                           : Notasi
Penulis                                : Morra Quatro
Tebal                                  : vi + 294 halaman
Penerbit                              : Gagasmedia, 2013
ISBN                                    : 979-780-635-9
Harga                                  : Rp 43.000,00

“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia.” (Sukarno)
Benar sekali, pemuda sarat akan idealisme, semangat perjuangan yang tinggi, dan pantang menyerah. Peran pemuda ini nampak sekali pada masa Orde Baru, masa pemerintahan yang sangat menyejahterakan rakyat (kelihatannya), tapi di balik itu, pemerintah serupa rantai-rantai besi yang mengikat rakyat, menggunakan kekuatan militer untuk menjelmakan keotoriteran seutuhnya.

Demikianlah juga adanya, tokoh-tokoh utama yang diceritakan dalam novel Notasi karya Morra Quatro ini adalah para mahasiswa idealis dari UGM. Ditulis atas dasar tema yang tak biasa, yaitu revolusi tahun 1998 yang dimotori oleh para mahasiswa seluruh Indonesia. Novel setebal 294 halaman ini dibagi menjadi tiga bagian, dengan sebuah prolog dan sebuah epilog, dan dikisahkan dengan sudut pandang orang pertama. Bagian prolog menceritakan tentang masa kini, di mana seorang gadis bernama Nalia “aku”, alumni Fakultas Kedokteran Gigi UGM, kembali ke Yogyakarta, hingga kenangan akan masa-masa kuliahnya dulu kembali terkuak ke  permukaan. Yang paling diingatnya adalah saat-saat revolusi tahun 1998, dan juga tentang kekasih lamanya.

Bagian pertama novel ini berkisah tentang pertemuannya yang tidak mengenakkan dengan Nino, seorang mahasiswa Teknik Elektro yang pendiam dan menyimpan misteri. Pertemuan itu bermula dari Nalia, yang hendak memasang iklan di radio ilegal milik mahasiswa Teknik Elektro, radio Jawara, tapi anak-anak radio itu memberi sambutan yang dingin. Telah menjadi warisan turun-temurun bahwa mahasiswa fakultas kedokteran bermusuhan dengan fakultas teknik. Masalahnya sederhana saja, karena kesenjangan ekonomi antara kedua fakultas itu; sampai saat ini pun masih seperti itu. Di samping itu juga karena adanya persaingan memperebutkan kursi presiden BEM universitas, di mana dua dari tiga calon kuatnya berasal dari dua fakultas itu. Itulah mengapa bagian pertama ini berjudul “Dua kubu yang saling bertentangan”.

Pertentangan dua kubu itu menjadi terabaikan ketika semua mahasiswa dari berbagai fakultas di UGM turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Segala permusuhan yang tertanam selama ini sirna begitu saja ketika mereka bergabung menyemut di sekitar bundaran UGM dan mengucapkan Sumpah Mahasiswa. Semuanya bersatu demi Indonesia baru yang mereka perjuangkan. Nalia terlibat di dalamnya, bersama teman-teman jurusannya, Zee, Tengku, dan Lin Lin, juga Nino dan teman-temannya, Farel, Amir, Aziz, dan Ve, gadis yang menyimpan rahasia. Demonstrasi itu berakhir dengan Nino yang menghilang setelah melawan seorang perwira bersenjata.

Menghilang, dan hanya mengirimkan surat-surat tanpa alamat, dengan janji yang selalu tertulis di sana: “Suatu saat aku pasti kembali, Nalia.” Awalnya, saya merasa skeptis akan janji-janji macam begini dari mulut seorang lelaki. Hingga terungkaplah rahasia yang selama ini dipendam Nino, rahasia yang membuatnya jadi orang pendiam dan tak pernah mau difoto. Akankah Nino kembali—seperti janjinya? Apa pula rahasia Ve sebenarnya?
Hal yang menjadi kelebihan novel ini adalah tentu saja temanya, yang menunjukkan betapa besar rasa nasionalisme para pemuda Indonesia untuk melawan pemerintahan Orde Baru yang otoriter. Selain itu, deskripsi setting yang kuat, yang menggambarkan kawasan-kawasan kampus UGM, daerah-daerah di Yogyakarta, terasa sangat faktual dan berhasil menyeret saya dalam imajinasi. Saking detilnya deskripsi tempat itu, kadang membuat saya berdecak, “Oya? Saya baru tahu.”, seperti tentang taman segi delapan di tengah fakultas teknik UGM, tempat saya kuliah selama ini. Berkat novel ini, saya baru sadar bahwa taman itu berbentuk segi delapan haha. Tapi, kadang, deskripsi tempat yang terlalu detil itu membuat saya agak bingung, dan harus membaca ulang untuk bisa memahami.

Cerita yang mengalir erat dengan kehidupan kampus, menyatu ringan dengan aroma persahabatan dan cinta yang hadir secara konsisten, tapi tak mengurangi kesan menegangkan kisah demonstrasi. Saya merasa kisah cinta Nalia dan Nino sangat sederhana. Penulis juga dengan lihai menyelipkan humor-humor yang tak kentara, hingga tak menodai kesan serius yang ditampilkan novel ini.

Saya menyukai cara bertutur si penulis, yang tidak terlalu berat, tapi berbobot, ditambah dengan selipan-selipan pengetahuan sejarah dan tentang beberapa ilmu keteknikan, menunjukkan bahwa si penulis melakukan riset yang tidak main-main.
Sayangnya, banyak salah ketik yang terjadi dalam novel ini, termasuk spasi antarkata yang kacau, kadang dua atau tiga kata tergabung tanpa spasi hingga membingungkan pembaca. Di samping itu, saya rasa pemberian judul “Notasi” kurang cocok, mungkin karena bercerita tentang siaran-siaran radio. Tapi tetap saja, radio di masa itu berperan penting dalam penyampaian berita, bukan pada lagu-lagu yang diputarnya, lagu-lagu yang tercipta dari rangkaian notasi. Namun, kekurangan itu tertutup oleh cover yang bagus dan ilustrasi-ilustrasi isi yang indah di dalamnya. Plot yang kadang berubah-ubah menurut bingkai waktu juga sama sekali tak membingungkan. Tentang tokoh, saya suka tokoh Ve, gadis tomboi yang pemberani dari jurusan Teknik Elektro. Meskipun awalnya tokoh “aku” tak menyukainya, tapi sebenarnya ia adalah gadis yang loyal, perhatian, dan memegang teguh arti persahabatan.

Awalnya, saya penasaran akan cerita dalam novel ini begitu membaca sinopsis di back-cover-nya, yang tumben, tak menipu hehe. Pada sinopsis itu, ada kalimat, “Rasanya sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung”. Kalimat ini membuat saya penasaran, apakah Desa Pogung yang dimaksud adalah desa yang sama tempat saya menge-kos saat ini. Haha.

Pada akhirnya, saya merekomendasikan novel ini untuk para pemuda, yang mengaku sebagai mahasiswa Indonesia, terutama, karena novel ini bisa menyadarkan kita akan rasa nasionalisme yang sudah seharusnya kita miliki. Hidup mahasiswa Indonesia!

“Tapi, bila revolusi tidak terjadi hari ini, pasti akan terjadi juga suatu saat nanti...” (halaman 246).
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets