24 May 2017

[Resensi DI TANAH LADA] Lada dan Garam di Tanah Lada

sinopsis

"Yang bikin Mas sedih soal kamu dan dia," kata Mas Alri pelan-pelan, "itu karena kalian berdua tumbuh jadi anak-anak yang skeptis." (hlm. 196)
Apa ekspektasimu ketika membaca novel yang ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama seorang anak kecil? Pasti kamu berharap akan menyaksikan bagaimana pemikiran-pemikiran polos yang otentik. Dalam Di Tanah Lada, Ziggy menghadirkan itu melalui sudut pandang orang pertama Salva, alias Ava.

Setelah Kakek Kia-ayah Papa-meninggal, Papa menjadi kaya karena mendapat uang warisan (dan nantinya menghabiskannya untuk berjudi). Anehnya, dia malah memutuskan mereka sekeluarga pindah ke Rusun Nero, yang kumuh dan katanya angker. Papa sering memaksa Mama untuk ikut dia pergi, sehingga Ava berkeliaran sendiri. Di sanalah Ava bertemu bocah laki-laki yang hobi main gitar. Oleh Ava, bocah bernama P itu dikira pengamen. Dari pertemanannya dengan P, Ava jadi mengenal juga Kak Suri dan Mas Alri yang juga tinggal di Rusun Nero. Keduanya baik terhadap P, dan juga terhadap Ava.

Seperti Ava, P juga mengalami kekerasan oleh papanya, bahkan lebih parah. Meski sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dari orang tua, mereka cukup bahagia dengan persahabatan mereka berdua. Setidaknya mereka saling memiliki.
Bagaimana kelanjutan persahabatan mereka?
Apakah Papa-papa mereka akan berubah sikap atau tidak?
Akankah mereka terus terpenjara di Rusun Nero, dalam bayangan ketiak Papa galak? 
Atau, bisakah mereka keluar dan kabur entah ke mana?

karakter

-AVA-

"Makasih," katanya.
"Terima kasih," aku mengoreksinya. "Kata Kakek Kia, harus bilang begitu. Katanya, 'makasih' itu bukan kata yang bagus."
"Masa, sih?" komentar Si Anak Pengamen. [...] "Biasa aja, kok. Orang-orang semuanya bilang 'makasih'. Memangnya kenapa?"
Aku mengangkat bahu. "Papa juga kadang-kadang bilang 'makasih'. Papa nggak baik. Jadi, pasti itu bukan kata yang baik."
Si Anak Pengamen berpikir-pikir. "Papaku juga suka bilang 'makasih'."
"Papa kamu baik?"
Dia menggeleng.
"Kalau begitu, itu bukan kata yang dipakai orang baik."
Aku terkesan dengan kemampuanku mengambil kesimpulan.
(hlm. 43)
😂😂😂
Ava sangat memuja sosok Kakek Kia. Ke mana-mana ia membawa kamus bahasa Indonesia pemberian Kakek Kia di hari ulang tahun ketiganya. Ava jadi pintar berbahasa Indonesia yang baku dan gemar menganalisis kosakata baru yang didengarnya, sebelum mencari tahu artinya di kamus. Gaya bicaranya yang baku dianggap aneh dan kadang susah dimengerti oleh P. Setelah Kak Suri memberinya pengertian,
Soalnya kalau lawan bicara kamu nggak mengerti apa yang kamu bicarakan, nggak ada gunanya juga kamu bicara. Benar, kan? (hlm. 67)
Ava mau menggunakan kata "nggak" alih-alih "tidak". Melalui tokoh Ava yang gemar dan pintar berbahasa Indonesia, mungkin kamu berpikir bahwa penulis mencoba menggambarkan kenyataan yang sungguh terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Orang-orang cenderung menganggap bahwa yang bisa berbahasa Inggris itu "pintar", sedangkan bahasa Indonesia disepelekan. Yah, begitulah mentalitas penduduk bekas jajahan negara-negara Eropa. Yang berbau kebarat-baratan dianggap lebih unggul dibandingkan yang berbau asli negeri sendiri.
[...] hanya Kakek Kia yang memujiku kalau aku pintar bahasa Indonesia. Orang lain tidak peduli. Mereka pikir, yang pintar hanya yang berbahasa Inggris.
(hlm. 210)
Mungkin kamu akan menganggap bahwa untuk anak ukuran umur segitu, Ava terlalu pintar. Namun, menarik sekali mengetahui cara berpikirnya yang polos dan sering melompat-lompat tapi menunjukkan kemampuan nalarnya, terlebih ketika menganalisis kosakata bahasa Indonesia. Kamu mungkin akan tergelak.
Aku mau tahu apa hubungannya kata 'penanak' dan 'anak'. Mungkin 'penanak nasi' maksudnya alat untuk membuat nasi beranak. Jadi, kalau nasi dimasukkan ke alat itu, dia bisa beranak-pinak dan jadi banyak. Aku pernah lihat Mama memasukkan sedikit nasi dan air ke dalam penanak nasi, lalu beberapa saat kemudian nasinya jadi banyak sekali. (hlm. 56)
Dari narasi Ava, kamu akan tahu bahwa Kakek Kia beberapa kali mengutuk anaknya, Papa, dengan sebutan "setan jahanam" dan "si bengis bau tengik". Kamu nanti juga akan tahu bahwa ternyata Kakek Kia secara tidak langsung turut bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan Papa terhadap Ava.
Kamu mungkin akan heran, kok Ava bisa tahu bahwa letak mereka berada saat menjelang akhir cerita (di Pantai Kiluan) adalah 317 kilometer dari tempat ia dan P bertemu pertama kali (di Jakarta)?
Di bawah langit yang berbintang, di atas tanah yang menumbuhkan kehangatan, 317 kilometer dari tempat kami pertama bertemu, dia bahagia. (hlm. 236)

-P-

Mungkin, Papa juga peduli. Tapi cuma cukup peduli untuk nggak membiarkan aku mati. Nggak cukup peduli untuk membuat aku bahagia. [...] Nggak ada seorang pun yang cukup sayang aku untuk peduli aku bahagia atau nggak.
(P, hlm. 223)
P lebih tua daripada Ava. Lebih parah daripada Ava, ia tidak tahu siapa mamanya. Lebih parah juga daripada Ava, yang meski dilarang Papa untuk tidur di kamar, bisa tidur di atas koper terbuka berisi pakaian, P tidur di dalam kamar... kardus. Tepatnya kardus lemari es. P tidak sekolah, tapi ia anak yang cerdas dan mandiri. Oleh Mas Alri, ia diajari main gitar. Lucunya, P alias Pepper sering mengaitkan hal apa saja dengan makanan.
"Kamu mau ikut, kan? Ke tempat Nenek Isma? Nenek Isma baik. Nggak ada Papa di sana. yang ada cuma Om Ulo sama Tante Anggi. Ada sepupu aku juga. Sama, ada sapi."
"Aku suka sapi," komentar Pepper. "Apalagi kalau jadi rendang."
"Ada ayam juga," kataku. [...]
"Ayam juga enak," tambah Pepper. "Telurnya juga. Digoreng paling oke."
(hlm. 148)
Oya, nama P menjadi Pepper sejak Ava memanggilnya begitu. Ia terinspirasi oleh botol merica dan garam di atas meja suatu restoran. P merasa kisah Pangeran Kecil (Pangeran Kecil yang itu, karya Antoine de Saint-Exupery) mirip kisah hidupnya, dengan dia sebagai Pangeran Kecil dan papanya yang jahat-tapi bagaimanapun akan aneh hidup tanpa dia-adalah si Mawar yang ia tinggalkan di asteroid asalnya.

-MAMA-

"Mama?" kataku. "Ava tahu Mama sayang Ava. Tapi Mama nggak butuh Ava. Mama sering lupa soal Ava, karena Mama nggak butuh Ava. Tapi Pepper butuh Ava. Makanya, Ava harus pergi sama Pepper."
(hlm. 148)
Barangkali tokoh yang paling membuat kamu sebal bukanlah Papa Ava atau Papa P, melainkan Mama Ava. Kedua papa itu memang sudah jelas "jahat"-nya, tapi Mama Ava... Ia sosok yang menyebalkan karena tahu harus melakukan hal yang benar tapi tidak melakukannya. Ia juga tidak berani melawan Papa, dan yang paling menyesakkan, malah sering tampak melupakan Ava. Pada akhirnya, yang dikatakan Ava dalam pikirannya ini merupakan kebenaran.
Kurasa, sebenarnya, bukan aku yang penurut, tapi Mama. Kuharap Mama tidak terlalu penurut, jadi dia tidak menuruti Papa terus. Papa tidak boleh dituruti. Kata Kakek Kia, tidak boleh menuruti setan. Papa kan setan. (hlm. 79)

-MAS ALRI-

Jadi, semua orang adalah satu orang. Kata Mas Alri, makanya, setiap kamu melukai orang, kamu melukai diri sendiri juga. Dan, setiap kamu membuat orang senang, kamu membuat kamu sendiri senang. (P, hlm. 141)
Mas Alri (dan Kak Suri) barangkali menurutmu adalah sosok yang malah tampil layaknya orang tua bagi P (dan juga Ava). Mas Alri perhatian terhadap kedua anak itu. Namun, ada hal--yang sebaiknya tak kutuliskan di sini, supaya tidak sop iler--yang mungkin akan membuatmu ilfil atau kesal terhadap tokoh Mas Alri. Ah, setidaknya, ada satu ujaran Mas Alri yang sangat membekas di hatiku dan mungkin juga di hatimu. Petikan yang mengingatkanku lagi betapa inginnya aku kembali jadi anak kecil dan betapa kini aku telah jadi orang dewasa yang takut jatuh cinta karena takut patah hati.
Kamu mungkin nggak punya Papa yang baik, seperti kebanyakan orang. Tapi, kamu masih bisa bahagia. Mungkin, kamu nggak perlu Papa yang baik untuk bisa bahagia. [...] Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati.
(Mas Alri, hlm. 197)

ada apa dengan 'lada'?

Lada menjadi penting dalam kisah ini sejak Ava membaptis P menjadi belahan hatinya dengan nama "Pepper" yang mengandung filosofi khas mereka. Ava merasa namanya jika diucapkan mirip dengan "salt". Lantas, "lada itu temannya garam; kalau ada lada, ada garam" dan sebaliknya, meski tak selalu begitu, tapi akan lebih enak jika ada mereka berdua bersama-sama. Nama ini jadi lebih cocok lagi lantaran
[...] kata Papa, aku bikin sakit mata. kalau kena lada juga jadi sakit mata.
(P, hlm. 89)
Sementara itu, frasa "di tanah lada" menggambarkan fase akhir kisah mereka berdua. "Tanah lada" merujuk ke Lampung, tempat rumah Nenek Isma berada.
Dan sekarang, semuanya terasa benar. Mungkin, tanah ini memang tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.
(hlm. 236)

akhir kata

Barangkali kamu berpikir bahwa Ziggy adalah salah satu penulis muda Indonesia yang produktif dan mampu jadi "bunglon". Ya, aku juga berpendapat begitu. Ia bisa menuliskan kisah dari banyak genre dengan relatif bagus. Kisah fantasi, itu salah satu keahliannya. Ia juga bisa menulis genre drama seperti ini, yang mengangkat tema kekerasan terhadap anak dan berfokus pada kondisi mental dan psikis si anak. Ziggy menyamar jadi anak perempuan enam tahun (eh, benar kan, umur Ava enam tahun?); menarasikan isi pikirannya seolah-olah dia sendirilah Ava. Yah, meski Ava sering tampak terlalu pintar untuk anak umur segitu.

Setelah membaca novel ini, mungkin masih ada yang mengganjal di benakmu karena di akhir tiba-tiba cerita menjadi begitu. Ada puntiran cerita yang dari awal mungkin tak terduga bakal jadi twist. Tapi setidaknya kau menikmati dialog-dialog antara Ava dan P, yang begitu polos dan sering kocak.
"Kamu mau dibuat patung?"
"Nggak mau, ah. Patung kan semuanya nggak pakai bagu. Nanti, kamu lihat 'itu'-nya aku, lagi," gerutunya.
"'Itu' itu apa?"
"'Itu'," kata Pepper.
Tapi itu tidak menjelaskan apa-apa dan Mas Alri sudah mulai tertawa keras-keras lagi (MUAHAHAHAHAHA HEKK). Aku akan cari di kamus nanti.
(hlm. 96)
Tapi isi obrolan mereka kadang juga memilukan.
 "[...] kata Mas Alri, nggak ada bintang lagi di Jakarta."
"Masa, sih?"
"Iya, betulan. Katanya, di langit masih ada bintang. Tapi, di langit Jakarta, nggak ada lagi. Makanya, mereka buat sereal bentuk bintang. Supaya, meskipun malam-malam mereka nggak bisa melihat bintang, mereka bisa lihat di pagi hari."
"Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul?"
"Nggak bisa," kata Pepper. "Permohonan mereka nggak bisa terkabul."
"Sereal bintang nggak bisa mengabulkan permohonan, ya?"
"Nggak bisa. Tapi bisa bikin kenyang dan sakit gigi."
"Kasihan, ya?"
"Memang iya."
(hlm. 123)
Dan, mungkin, seperti aku, kamu juga jadi ingin kembali menjadi anak-anak setelah baca novel yang jadi pemenang kedua sayembara DKJ 2014 ini.

 rating saya

identitas buku

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor: Mirna Yulistianti
Ilustrasi sampul & isi: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus, 2015
Tebal: 244 halaman
ISBN: 978-602-03-1896-7
Harga: Rp

22 May 2017

[Review of GONE GIRL the Novel] The Matter of Point of View




synopsis

Who is Amy? (What is my wife thinking?)
(Nick, p. 82)
On the day of their 5th anniversary, Nick Dunne lost his wife. Amy Elliott Dunne was gone, leaving their house looking like a staged crime scene. Nick’s lack of alibi, his lies toward the cops and the public, and the clues that seemed to point toward him, soon made his image negative. Like one of the cliches found in movies, when the wife was gone or found dead, the closest one was likely the suspect. Who else if not the husband, then?

So, Nick, did you kill your wife?

characters

A friend told me that she dislike this book because all the main characters suck. Yeah, they did. But, in my opinion, it’s just not fair if we hate a book because we hate the characters (I sometimes did it too, but only if the characters suck and the background of their characters are not logical. A good example of this kind of books is Dari Kirara untuk Seekor Gagak. You can find out why I dislike this book so much on my review here.). I like how the author made “alive” her characters, especially Nick and Amy, and how she elaborated the background of them. All the bumps in their marriage, the problem in each of their family, they seemed real.

—AMY—
It’s strange how little I own in this world when I used to own so much.
(Amy, p. 340)
As one of the main characters, we gotta know that there are three versions of Amy’s character: the one as seen on Nick’s eyes, another one as read from her writings on her diary, and the last one as read from the real her. This book consists of three parts: Part 1 – Boy Loses Girl, Part 2 – Boy Meets Girl, Part 3 – Boy Gets Girl Back (Or Vice Versa), and the real Amy began to take over the story telling since Part 2. While, in Part 1 we only know Amy through her diary and Nick’s point of view.

Amy’s diary showed us how her lovely love life with Nick since their first meeting until the earlier period of their marriage. And gradually Nick became distant and abusive, especially after he lost his job as a magazine writer. Poor them, Amy also lost her job as a quiz writer on a magazine. Considering their jobless-state-of-financial and Nick's mother’s dying because of cancer, Nick decided to move to his hometown, Missouri. Amy, who was born and grew in New York City, didn’t like this idea. But she tried to be cooperative. Even she kept trying to be good wife for him and lovely daughter-in-law for Maureen and Bill Dunne. Oh, poor Amy.

Moreover, Amy then gave up all her saving since her parents borrowed huge part of it and she gave the rest to Nick to buy a bar which was later run by him and his sister, Go. Her parents, who were the successful and famous writers of famous children book series Amazing Amy, were slow to realize that they were in financial problem since the book sale sank deeply and they stuck in their old high-class lifestyle.

And then, we know that Amy grew up as a girl who wasn’t considered as a child by her parents since they have their own ideal version of her which was written as Amy in Amazing Amy. She then became a vengeful, manipulative, yet smart and beautiful girl who try to be a Cool Girl.

—NICK—
...because at this point of our marriage, I was so used to being angry with her, it felt almost enjoyable, like gnawing on a cuticle: You know you should stop, that it doesn’t really feel as good as you think, but you can’t quit grinding away.
(Nick, p. 121)
(I love the analogy “gnawing on a cuticle” cos gnawing on cuticle is one of my hobby and it really is like what Nick had said. It is very addictive! 😂)

His character flawed by his trauma as a child who had experienced relationship problem with his mysoginistic and abusive father. His parents then had got divorced. Later, his father faded into dementia. Despite the horrible memory about his father, Nick did believe that he could be a good father for his own child... later.

Nick was easy to forget things, and this sometimes got Amy’s nerve. Nick also was not wise enough to show a right image to the public so they didn’t become to hate him. We, the reader, like the public in this book, somehow wished that he was not the suspect of Amy’s disappearing. But, then we know that the clues analysed by the cops and the media pointed toward him as a suspect. Moreover after Andie, his mistress, showed up and Amy’s diary was found.

He was also the kind of man who was easy to be touched at heart. When he started reading the clues Amy gave for the treasure hunt after she was gone (it was Amy who first had the idea to do treasure hunt to celebrate their wedding anniversary. This hunt should be end once Nick finished solving all the clues and reached to his anniversary gift but it often ended when Nick gave up trying to solve the clues.), Nick really felt that somehow he fell in love again with her wife.

points of view

Love makes you want to be a better man—right, right. But maybe love, real love, also gives you permission to just be the man you are.
(Nick, p. 170)
For me, it’s always interesting to read a story from more than one points of view. It makes the story clearer and more intriguing. A story of just one point of view is often flat. But, in the case of thriller fiction, telling the story from just one point of view or holding the other before the time comes could help it become more mysterious. The two sides to the story of this book, from Nick’s and Amy’s point of view, did present twists and even twist of twist.

If we glance at their points of view, at first they might look alike. But, after walking from chapter to chapter which are alternated between Nick’s and Amy’s point of view, we might feel that the two do have their own style and voice. For example, Nick’s style is more unadorned than Amy’s.

Amy liked to use quizzes in her narrative, like the one we found on p. 28–29:
I didn’t break my stride, just turned to him and said:
a)    ‘Do I know you?’ (manipulative, challenging)
b)   ‘Oh, wow, I’m so happy to see you!’ (eager, doormatlike)
c)    ‘Go fuck yourself.’ (aggresive, bitter)
d)   ‘Well, you certainly take your time about it, don’t you, Nick?’ (light, playful, laid-back)
Answer: D
From her quizzes, I can read that she was skilled at choosing the right act that would bring her expected reaction from the person she acted on. She had a knack of “putting on a show”. Amy used present tense to tell her story since Part 2 and afterward. While Nick, he kept using past tense.

such a wittyly humorous thriller

I always love shorter chapter in fiction, especially with the genre of thriller (mystery, suspense, crime, yeah, thriller and its friends) cos it help build the suspense. But I don’t really love very-short-chapter style like I found in Salt to the Sea cos it averted me to know each character deeper. In the other side, I also can stand a kind of book without chapter, like The Circle, because I had been carried away by the story.

In the case of Gone Girl, I love how the author kept the chapter short but doesn't averted me to know more about the character. But, I’d just begun to be carried away by the story once I entered the Part 2. The actions and character's mind-exploring had balance portion in this story. So, it’s not the kind of thriller that made me drenched in sweat and panting and screaming in my mind while reading it. No, it’s a thriller with a poise tone; it also had witty tone. Wittily humorous. For example,
Then maybe we’ll have sex again. And a late-night burger. And more Scotch. Voilà: happiest couple on the block! And they say marriage is such hard work.
(Amy on her diary, p. 46)
Gone Girl made me wondering, did of all this time people around me and I myself do much pretendings? It’s really horrifying if in our interaction actually each of us is wearing a mask. Nah, even I’m not be the real me to myself sometimes. Gone Girl also made me realise that it’s not impossible that in real marriage life such complex issues do happen.

Shit, Amy, I wish I can be as smart, persistent, cool, and horrible as you. Badass bitch!
No relationship is perfect, they say—they, who make do with dutiful sex and gassy bedtime rituals, who settle for TV as conversation, who believe that husbandly capitulation—yes, honey, okay, honey—is the same as concord. He’s doing what you tell him to do because he doesn’t care enough to argue, I think.
(Amy on her diary, p. 32)
my rating

book identity

Title: Gone Girl
Author: Gillian Flynn
Published by: Weidenfeld & Nicolson
Published year: 2013 (paperback edition)
Number of page: 466 pages
ISBN: 978-1-780-22135-9
Price: UK £7.99

5 May 2017

[BBIHUT6] BBI Giveaway Hop - Pengumuman Pemenang

Halo, pembaca semua, dan tentunya kalian yang sudah berpartisipasi dalam BBI giveaway hop yang saya adakan di blog ini. Pasti kalian sudah nggak sabar dan bertanya-tanya kapan pemenangnya saya umumkan, kan? Eh, nggak, ya? Ya sudah kalau gitu... *ngambek*

Namun karena saya berusaha menepati janji mesti kalian merasa saya pehape-in. Sebenarnya saya nggak pehape, saya hanya bingung menentukan siapa pemenangnya, karena banyak jawaban yang menarik. Sampai empat kali tahap saya baru bisa menentukan dua jawaban yang klop di hati saya. Terima kasih saya ucapkan untuk Ama, sahabat saya yang telah saya mintai pendapat. Nah, berikut ini adalah pemenang pertama dan kedua:

Pemenang pertama - voucher buku senilai 150 ribu
Annisa Rizki Sakih
@Annisakih

Pemenang kedua - paket buku
Nabilah Rosyadah
@Ariestanabirah

Selamat buat kedua pemenang!
 
Saya akan segera menghubungi kalian berdua. Terima kasih untuk partisipasi Teman-teman dalam giveaway ini. Untuk kalian yang belum menang di giveaway ini: mungkin belum berjodoh saja, coba terus, jangan menyerah memburu kuis berhadiah buku 😇

15 April 2017

[#BBIHUT6] Giveaway Hop & My Birthday

Yeaay, inilah saat yang saya tunggu-tunggu setelah berjuang selama enam hari berturut-turut nerbitin tulisan di blog ini (kok saya merasa ngos-ngosan--ya iyalah, kan marathon!), akhirnya sampai di hari terakhir!
....
Nggak, maaf, abaikan kalimat di atas. Aslinya, saya seneng bisa ikutan #BBIHUT6 marathon ini. Memang, sih, rasanya ngos-ngosan banget (biasanya ngeblog nggak mesti seminggu sekali 😫) tapi saya merasakan manfaatnya. Itung-itung latihan berkomitmen #eaaa dan berdisiplin. Agak sedih juga sudah selesai marathonnya. Namun apapun itu, saya ingin berbagi buntelan kepada teman-teman pecinta buku dalam rangka giveaway hop sekalian ngerayain ulang tahun saya. Btw, inget-inget, ya ultah saya pas di Hari Kartini, tapi sayang nama saya bukan Kartini, jadi saya nggak bisa ikut kuis "Nama Saya Kartini"-nya Noura Books itu 😭.

Hadiah yang saya siapkan untuk kalian:
  • 1 (satu) voucher buku senilai Rp 150.000,00 untuk 1 (satu) orang pemenang. Buku boleh apa saja, jumlahnya bisa 1 atau 2 atau secukupnya sampai senilai 150.000. Harganya boleh setelah atau sebelum diskon, terserah pemenang. Pokoknya total 150.000 (tenang, ongkir tidak termasuk, akan saya tanggung sepenuhnya). Buku harus bisa dipesan di toko buku daring yang terpercaya yang ada di Indonesia.
  • 1 (satu) paket buku kolpri saya yang masih segel untuk 1 (satu) orang pemenang. Paket berisi buku Jatuh Cinta Diam-diam #2 (Dwitasari & Friends) dan Patah Hati Terindah (Aguk Irawan MN).
Oya, karena ada yang menanyakan tentang mekanisme penentuan pemenang kepada saya lewat Twitter, saya tambahkan di sini penjelasannya.

Pemenang akan saya pilih berdasarkan kelengkapan syarat dan jawabannya. Jawaban yang paling menarik dan ngena di hati saya *eaa* akan jadi pemenang pertama (yang akan dapat voucher buku) dan jawaban menarik berikutnya akan mendapatkan paket buku.

Jika, apes-apesnya--saya harap nggak terjadi--, nggak ada jawaban yang memenuhi ekspektasi saya, maka saya akan minta bantuan random.org.
Ketentuan:
  • Memiliki alamat kirim di Indonesia.
  • Ikuti blog ini, bisa lewat Google Friend Connect atau Bloglovin'.
  • Ikuti akun Twitter saya, @kimfricung.
  • Jawab pertanyaan berikut lewat Twitter dengan mensyen saya dan pakai hestek #BBIGAHop:
Apa yang membuatmu memutuskan membeli sebuah buku fisik padahal kamu sudah punya versi digitalnya?
  • Jawabanmu harus cukup dalam 1 (satu) kali tweet, ya. Jadi, tulis sepadat dan secantik mungkin.
  • Bagikan juga tautan giveaway ini lewat medsosmu, kalau lewat Twitter, tolong mensyen saya dan pakai hestek #BBIGAHop, ya.
  • Para pemenang nanti saya harapkan untuk menuliskan dan membagikan resensi dari buku yang hadiah giveaway ini (boleh di media apa saja).
  • Isikan data dirimu di Google form berikut.



Giveaway ini berlangsung mulai tanggal 15 April 2017 sampai 29 April 2017.
*Kepoin giveaway yang diadain para bloggers yang lain dalam rangkaian #BBIHUT6 di sini (di kolom tanggal 15 April 2017).

[SiPiLis #4] Furqonie Akbar: Penulis Kece yang (Ngaku) Mirip Lee Min Ho

Yeaaayy, SiPiLis datang kembali setelah vakum selama... errr, setahun lebih 😳. (Ketahuan banget, masih kimfricung.blogspot.com)
Yuk, kita kenalan dengan Furqonie Akbar alias Furqon, penulis kece yang sudah (atau baru?) ngelahirin tiga buku.

Keterangan:
Yang huruf tebal dan cetak miring pakai tanda bintang *--itu saya.
Yang pakai huruf warna ungu--itu Furqon.

Kenalan dulu, dong, Furqon, biar kami bisa ngebayangin ketampananmu

Hai, nama gue Furqon. Zodiak scorpio, golongan darah O, dan O yang terakhir? Jomblo.
Ketampanan gue itu gak bisa dibayangin dan gak bisa dijangkau imajinasi. Jadi ya silakan searching ada di Google pake keyword “Lee Min Ho”
Makasih.
Sumber: Pinterest
*Ekspresi gue waktu denger lu mirip Lee Min Ho. Btw, gue nggak ngerti Bakuman itu apa, tapi abis searching di Google nemu itu.
Ceritanya gimana, sih, bisa nyemplung ke dunia kepenulisan? Boleh banget nih, kalau mau cerita suka-duka seorang Furqon sebagai penulis.

Jujur ya, ampe sekarang gue bingung kenapa bisa terjun ke dunia menulis. Asli. Ya walaupun emang dari kecil udah demen ngayal sih.
Pertama kali serius nulis itu waktu patah hati hebat banget. Karena bingung mau curhat ke mana (mungkin gak kayak keliatannya ya. Tapi gue ini introver), gue akhirnya nulis-nulis di catetan Facebook.

*Bentar deh, lu introver? SERIUS? Jadi lu selama ini sok-sokan rame gitu ya, orangnya. Oke.

Beberapa waktu kemudian, gue baca bukunya Indra Widjaya yang judulnya “Idol Gagal”. Waktu baca buku itu, gue ngebatin “Lho? Kalo gini doang mah gue bisa!” Setelah itu gue mulai rutin nulis. Tapi, yang bikin bergerak buat bikin buku itu setelah baca Skripshit-nya Mas Alit Susanto. Buku itu benar-benar memotivasi. Makasih ya, Mas Indra & Mas Alit. Love yah~

Suka dukanya ya? Banyak. Sukanya itu nama kita jadi dikenal. Jelas ya ini. Lainnya, ada kebahagiaan tersendiri ketika karya kita dinikmati orang lain. Dukanya, penulis itu pekerjaan yang kudu ngandelin sabar. Ngerampungin naskah kudu sabar. Nunggu naskah terbit harus sabar. Nunggu royalti harus super sabar. Serba sabar pokoknya. Jadi, wanita, kalian gak tertarik apa sama cowok penyabar ini? *dihajar*

*Tuh, para pembaca cewek, kalian nggak tertarik sama Lee Min Ho KW 2 ini?

Apa filosofi menulismu?

Waktu baca pertanyaan ini gue langsung mikir keras. Saking kerasnya ampe ngeden.
Bahahaha

*Yuk, ngeden bareng.

Selama ini gue nulis buat diri sendiri dan sukur-sukur dinikmati orang banyak. Jadi, mungkin filosofi gue itu,
Nulis apa pun, yang penting gue hepi.
Bukumu yang udah terbit apa aja, sih? (Lumayan, lho, kesempatan buat pamer gratis wkwk)

Oh, baru ada tiga. *sisir rambut* *sisirnya nyangkut*
Pertama itu Cinta Acakadut. Udah bada baca? Oh, belom. *nangis*
Cinta Acakadut
*Tenang, Fur, gue udah baca, kok. Yang waktu itu gue kasih bintang 2 di Goodreads itu, kan?

Kedua, Move On Garis Keras (BUKU YANG KITA TULIS BERLIMA ITU LHO, FRI. YANG COVERNYA KUNING, BAGUS. YANG KAMU NULIS PAKE DATA-DATA STATISTIK GITU. ITU NULIS BUKU APA SKRIPSI, BUK?)

*Kampreeeet. Maaf, saya nggak kenal Anda.
Yang baru aja terbit, itu Three Mas Getir. MASIH ADA DI TOKO BUKU LHO! BORONG~

*Ini gue belum baca, Fur. Nggak mau ngasih gratis ke gue, gitu?

Pasti ada kisah menarik saat proses penulisannya... Ceritain, dong.

Bakal panjang nih. Gapapa? Wkwk

*Nggak apa-apa, laman blog gue punya banyak space untuk diisi sama curhatan lu.

Hmm..
Buku pertama, Cinta Acakadut itu gue tulis waktu ilmu gue masih cetek banget. Bukan berarti sekarang udah bagus. Cuma, itu tulisan gue yang paling murni. Sampe sekarang, gue ogah baca ulang tulisan gue di buku itu saking malunya. Serius. Ya ampun, Polos banget deh tulisan gue di sana. Proses bikin buku ini yang paling seru sih menurut gue. karena mungkin ini buku pertama kali ya. Semangat sama motivasinya bener-bener beda. Sampe sekarang gue belom nemu lagi semangat nulis kayak gue nulis buku pertama.

Buku MOGK lain lagi tantangannya. Ada 5 penulis yang disuruh ngomongin move on. Temanya hanya move on. Bayangin. Padahal, yang namanya move on ya begitu-begitu aja kan? Tapi setelah diskusi panjang, baku hantam, mandi kembang dan puasa 7 hari 7 malam, akhirnya kami berhasil membuat konsep dan lahirlah buku tersebut.
Nb: MAKASIH YA FRIDA, BERKAT TULISAN KAMU, BUKU INI BISA MEMENUHI SYARAT MINIMAL HALAMAN. WALAU AKHIRNYA KEBANYAKAN DAN TULISAN KITA BANYAK YANG DIPANGKAS. *dibakar editor*

*Sama-sama, Fur 😎
Buku ketiga adalah sebuah pengalaman baru buat gue. Karena buku ini terdiri dari 50% komik, 40% tulisan, dan 10% keringat dan air mata. Di buku ini, gue ngonsep tokoh, bikin skenario komik, sama bikin tulisan-tulisan pendukung komik. Sementara komiknya digambar sama Julian. Mungkin yang punya Instagram lebih ngenal dia lewat akun @sengklekman. Proses pembuatan buku ini sangat berdarah-darah. Julian sering bolak balik revisi gambarnya, sementara gue hampir koma karena stres dikejar deadline tulisan dan script. Tapi, karena emang kami pengin banget komik ini hasilnya maksimal, kami menjalani itu semua dengan senang hati. Yang lebih keren, gue berasa tokoh di manga Bakuman. Keren banget asli.

*Wah, gue jadi penasaran pengin baca. Teman-teman pembaca sudah pada baca ini belum?
Jadi, sebenarnya inspirasimu itu datangnya dari mana?

Dari kehidupan sehari-hari. Gue sering banget dapet pengalaman absurd. Mungkin  gue emang ditakdirkan buat menceritakan pengalaman-pengalaman itu buat menghibur orang. Hehe.

*Mulia banget hidup lu, Fur.

Saat ini lagi sibuk nulis atau ngegambar apa atau ngecengin berapa cewek? #eh

Kayaknya sekarang sibuk kuliah deh. Sama main game sih. Wkwk
Nulis paling buat hehorean aja. Tapi tahun ini harus selesai 1 naskah. Tunggu ya!

Ehm. Ini penting. Gue udah pensiun dari dunia sepik-menyepik cewek. Ya paling sekarang cuma hobi bikin drama aja sih sama Tiwi atau Chinggam. Bahaha #PodoWae

Ada pesan, nggak, buat teman-teman penulis dan pembaca (terutama pembaca bukumu)?

Buat temen-temen penulis, tulislah apa yang bikin kamu bahagia. Wajar ketika kita melihat tulisan orang lain lebih bagus atau lebih ‘wah’ dari tulisan kita dan kita ingin menjadi seperti mereka. Tapi, ketika kamu meninggalkan jati diri, apa hal itu bikin bahagia? Gak usah malu sama jati diri kita. 

*Setuju banget. Tumben lu waras.

Anak Punk bisa menikmati aliran musik lain, tapi Punk gak akan bisa jadi Blues atau Jazz. Karena yang namanya jiwa itu gak bisa diubah, meskipun fisiknya kita ubah. Ya, intinya gitu deh. Gue ngomong apaan sih?

Buat temen-temen pembaca, apa ya… ehm, maaf karena belum bisa maksimal dalam menulis dan maa karena belum ada tanda-tanda karya berikutnya. Gue tau menunggu itu melelahkan, tapi, tunggu karya gue selanjutnya!

*Siaaap!

Oya, rencana mau lulus kapan? Wkwk

Apa? Ini di mana? Aku siapa? Di mana jodoh gue? Di manaaaaaa?

*Nah, barangkali para pembaca penasaran seperti apa, sih, ketampanan Furqon yang kayak Lee Min Ho ini.
Bahkan balita pun disepik sama dia.
Sumber: qonrobovski
Sila kenalan sama Furqon di Instagram atau Twitter atau Facebook atau ketiganya. Orangnya asik banget dan emang rada gila. Semoga buku selanjutnya segera jadi kenyataan, ya Fur *ini doa sekaligus buat diri sendiri*

Baca juga [SiPiLis #3] Ziggy: Suka Bikin Banyak Karakter

Wah, udah sampai di hari terakhir #BBIHUT6 marathon 😢.
Setelah ini, saya akan bagi-bagi buku gratis dalam rangkaian giveaway hop #BBIHUT6. Tunggu, ya!

bloggerwidgets