22 January 2018

[Resensi PERSONA] Jatuh Cinta Sekaligus Patah Hati


Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Editor: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-2629-0
Harga: Rp 58.000,00

ada apa?

Hidup Azura awalnya bahagia. Keluarga kecilnya, Papa dan Mama dan dia sendiri, adalah keluarga yang harmonis. Namun sejak Azura SD rasanya ada yang berubah dari keharmonisan Papa-Mamanya. Dan Azura tidak pernah tahu apa masalah sebenarnya. Pertengkaran-pertengkaran itu menekan mental Azura hingga ia menemukan ketenangan lewat irisan-irisan yang ia goreskan di pergelangan tangannya. Rasa perih itu anehnya terasa menenangkan dan membantu Azura terlelap.

Di sekolah, Azura tidak pernah punya teman. Sampai SMA pun masih begitu. Ia selalu sendirian, menghabiskan jam istirahat pertama di perpustakaan, di lantai dua gedung sekolahnya, duduk di hadapan jendela perpustakaan untuk menonton permainan sepak bola di lapangan di bawah. Tepatnya yang ia tonton adalah Kak Nara. Cowok yang pernah menolongnya waktu ia terjatuh ke dalam lubang galian di sekolah akibat melamun. Tapi kayaknya Kak Nara tidak pernah mengingatnya lagi, padahal Azura diam-diam menyukai cowok itu.

Semuanya berubah saat Azura kelas XI. Tiba-tiba ada Altair, murid baru yang sekelas dengan Azura, dan sejak pertama kali bertemu cowok itu sudah menganggapnya teman. Sejak itu, mereka selalu berdua ke mana-mana. Lama-lama Azura makin yakin akan perasaannya pada Altair, dan ketika mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba Altair menghilang, meninggalkan Azura bertanya-tanya dan terluka. Di sisi lain, saat itu hubungan Azura dengan Mama membaik, meskipun setelah pertengkaran besar terakhir, Papa pergi dari rumah dan tak kembali.

Tahun 2010. Azura telah jadi mahasiswa, dan untuk pertama kalinya dia punya teman perempuan. Yara namanya. Mereka jadi amat dekat, dan ketika Azura main ke rumah Yara, dia bertemu dengan abangnya, yang ternyata adalah… Kak Nara. Kak Nara yang sudah jadi mahasiswa kedokteran. Yara memberinya keluarga baru, saat ia jarang berinteraksi dengan Mamanya sendiri. Azura menjalani masa-masa bahagia bersama keluarga barunya: Yara, Ibu, Ayah, Bara, dan Kak Nara. Namun tiba-tiba Altair muncul kembali, menghadirkan kembali gempa dalam hidupnya yang telah cukup damai.

sama-sama tentang penyakit mental

Tarik napas dulu.
Fiuh.

Meski aku udah tahu gimana akhirnya (sial, adikku yang udah baca ini duluan ngasih sopiler 😥 tapi aku tetap nikmatin bacanya, sih), tetap saja rasanya nyesek. Really depressing.

Oke, begini. Ini adalah novel young adult kedua terbitan GPU yang kubaca; yang pertama adalah Auntuk Amanda, dan sama seperti yang pertama, Persona juga mengangkat isu penyakit mental dengan tokoh utama anak SMA (yang lalu jadi mahasiswa). Bedanya, tokoh Amanda dalam A untuk Amanda menderita depresi karena ia memiliki hidup yang terlalu sempurna. Ia juga sadar bahwa dia menderita depresi, sifatnya yang sangat rasional membantu di sini. Nuansanya juga relatif cerah ketimbang Persona, berkat humor-humor dalam dialog dan pemikiran Amanda.

Namun, dalam Persona tak ada (kalaupun ada, pasti sangat sangat kecil) celah untuk berhumor. Kenapa? Karena dari awal nuansanya sudah kelam. Beda dengan Amanda, Azura (eh, namanya sama-sama berawalan huruf A) diduga menderita depresi karena memang hidupnya menderita. Orang tuanya nggak akur, terancam bercerai; nggak punya teman; kisah cinta yang nol besar; eh, begitu melewati masa-masa menyenangkan dengan Altair, cowok itu menghilang tiba-tiba. Beda dengan Amanda yang sadar bahwa dia depresi dan sedang menjalani serangkaian terapi, Azura tidak sadar kalau dia mengalami penyakit mental, maka dia tidak mencari pertolongan medis, dan maka kita cuma bisa menduga kalau dia depresi. Itulah kenapa, kadar depresif kisah ini lebih nyesek ketimbang A untuk Amanda.

Sudah saatnya kita melek perihal penyakit mental dan peka terhadap, pertama, diri kita sendiri, dan kedua, orang-orang di sekitar. Seperti yang baru-baru ini terjadi, Jonghyun Shinee bunuh diri akibat depresi yang sudah tak tertahankan lagi. Salah satu cara untuk bisa lebih peka adalah dengan membaca literatur. Tak melulu literatur ilmiah dan nonfiksi terkait, tapi bisa juga lewat buku fiksi, yang bisa jadi tak kalah efektifnya dalam memberi pemahaman terkait penyakit mental karena dibawakan dengan cara yang lebih menyenangkan. Di dalam novel Persona ini, selain penyakit mental, tema lain yang jadi hidangan utama adalah broken home dan persahabatan. Ketiganya diramu dengan baik, dengan saling keterkaitan yang kental.

ada siapa saja?

Sebagai tokoh utama novel ini dan sang narator dengan sudut pandang orang pertama, Azura jadi sangat saya kenal. Terutama lewat emosi-emosinya yang meluap-luap dan sering tak tersampaikan. Rasanya aku ingin memeluknya dan bilang, “Tak apa-apa, kamu tak salah kalau kamu jadi begini. Aku mengerti. Tapi mari kita pikirkan lagi, apakah kau ingin tetap seperti ini?”

Dengan mudah para pembaca mungkin akan jatuh kasihan terhadap tokoh ini, tapi aku tidak kasihan, aku hanya mengerti dan entah bagaimana, jadi merasa menyayangi tokoh Azura. Tapi memang tidak seperti tokoh Amanda yang kuat dan mandiri, Azura ini tokoh yang sangat tergantung dengan orang lain. Maka, ketika tak ada orang lain yang bisa ia jadikan sandaran—orang tuanya tak memberinya kasih sayang yang cukup dan ia tak punya teman—ia hanya punya dirinya sendiri, tumpukan komik Jepang, dan buku harian yang ia tulisi kadang-kadang. Maka, wajar setelah kemunculan Altair, ia jadi begitu bergantung pada cowok itu.

Sementara itu, tokoh Altair yang blasteran Jepang itu bak tokoh cowok idaman di komik-komik. Ia setia sekali menemani Azura dan jadi sandarannya, siap menolong kapan pun Azura butuh, bahkan ia juga tetap mendukung Azura untuk mendekati Kak Nara. Dan ah, betapa romantisnya adegan Altair menunjukkan pada Azura tiga bintang yang menyusun segitiga musim panas di langit malam itu setelah mereka menonton Festival Isen Mulang, festival khas kota Palangka Raya. Namun karena kita mendengarkan cerita dari sudut pandang orang pertama Azura, kita jadi kurang mengenal Altair, selain masa lalu suramnya yang hampir mirip dengan kisah Azura: keluarga yang awalnya bahagia, lalu orang tua yang bertengkar terus, sampai akhirnya bercerai. Bahkan Altair pernah mencoba bunuh diri setelah perceraian kedua orang tuanya, tapi berhasil diselamatkan. Sayang sekali, kita tidak tahu bagaimana Altair melewati itu semua sampai akhirnya pindah ke sekolah yang sama dengan Azura. Namun, jangan kesal dulu. Memang harus seperti itu—kita tidak tahu banyak tentang Altair—karena ini tuntutan twist cerita.

Kalau Altair adalah malaikat yang diberikan Tuhan pada Azura saat SMA, maka Yara adalah malaikat yang diberikan pada Azura sejak awal kuliah sampai sekarang. Yara, yang bawel, spontan, penuh perhatian, cocok sekali dengan kepribadian Azura. Sungguh, di sini aku membaca kisah persahabatan sejati. Bahkan Yara memberikan keluarga baru bagi Azura, suatu berkah yang tak terkira berharganya. Keluarga yang antitesis dari keluarga asli Azura. Sementara itu, belakangan aku tahu bahwa dulunya Kak Nara bak malaikat rahasia, yang ternyata memperhatikan Azura tapi cewek itu tidak sadar. Nah, di masa kini, Kak Nara menjelma salah satu malaikat bagi Azura setelah Altair menghilang. Dan yah, aku tak tahu banyak tentang diri Kak Nara karena bintang utamanya memang Azura.

Azura memang menjalani masa bahagia bersama keluarga barunya, tapi keluarga lamanya tetaplah keluarga yang rusak. Membaca sosok orang tua Azura, aku jadi teringat sosok orang tua Salva di novel Di Tanah Lada. Kalau sang Papa memang jelas-jelas bajingan, sang Mama adalah sosok yang juga bajingan tapi tidak jelas-jelas. Setelah kepergian Papa, dengan dalih menghidupi keluarga, Mama bekerja terus sampai tak punya waktu untuk Azura. Awalnya Azura memahami ini: Papa menjadi sewenang-wenang karena menganggap Mama dan Azura tak bisa hidup tanpa uangnya; maka sebagai bentuk pemberontakan dan pembuktian, Mama bekerja sendiri. Namun belakangan, kita tahu bahwa Mama bekerja tidak dengan cara yang benar. Ia cuma keluar dari mulut singa untuk masuk ke mulut singa lainnya. Lingkaran setan, ya. Dan tanpa Mama sadari, kelakuannya ini makin menghancurkan Azura yang sudah hancur.

plot dan twist dari twist

Plot maju dan mundur yang diusung cerita ini terbagi jadi dua bagian: Keping Pertama menceritakan hidup Azura sejak awal kemunculan Altair sampai menghilangnya cowok itu dan Keping Kedua menceritakan hidup Azura setelahnya, sejak awal kuliah, bertemu Yara, sampai ia mengetahui rahasia tentang dirinya sendiri yang pengungkapannya dibantu oleh keluarga Yara. Penggunaan gaya alur ini sudah pas menurutku. Bagian flashback menyediakan cukup amunisi bagi kita untuk mengerti apa yang dialami Azura di masa lalu. Bagian alur majunya mengajak kita terus mengikuti perkembangan kisah Azura.

Oya, meski banyak adegan bagian Keping Pertama terjadi di sekolah, anehnya, pihak sekolah sama sekali (tak ditunjukkan) menunjukkan perhatian terhadap “keanehan” Azura. Apakah se-menutup-mata itukah pihak sekolah? Atau memang penulisnya hanya tidak merasa perlu mengeksplorasi hal ini.

Bagiku, twist-nya sudah bukan lagi jadi twist, ingat, kan, adikku membocorkannya padaku. Tapi meski belum dikasih bocoran, kayaknya aku bisa nebak karena menurutku penulisnya dengan baik hati memberikan petunjuk-petunjuk yang cukup memadai. Di sini pemilihan sudut pandang orang pertama Azura mendukung suksesnya twist yang ini. Tapi, tapi, yang bikin aku terguncang justru bagian ending, yang merupakan twist dari twist sebelumnya. Kampret sekali! Mungkinkah, mungkinkah? Tapi, kok bisa-bisanya ada bukti fisik? Aku, yang mencoba mencari penjelasan logis, akhirnya cuma bisa mereka-reka penjelasan yang berangkat dari penuturan Azura yang kadang unreliable. Jangan-jangan dia sendiri yang secara tidak sadar telah membuat bukti fisik itu untuk dirinya sendiri, dan lalu dia tidak ingat sama sekali? Entahlah. Aaaarrrggh!!

mengapa rasi bintang dan “persona”?

Mengapa sampul novel ini bergambarkan rasi bintang? Dan kenapa judulnya “Persona”?

Rasi bintang memang secara gamblang cuma muncul sekali, yaitu saat Altair menjelaskan tentang segitiga musim panas pada Azura. Tapi sesungguhnya lewat Altair, yang namanya sama dengan bintang paling terang di rasi Aquila itu, bintang selalu hadir dalam kisah ini. Bintang yang menerangi kehidupan Azura yang suram. Altair sendiri berasal dari kata Arab yang berarti “elang terbang”. Elang terbang yang lalu menclok ke kehidupan Azura yang bak tebing tinggi terjal tersembunyi. Tapi, yah, namanya elang, dia pasti akan terbang lagi entah ke mana. Gambar sampul novel ini pas sekali, kan.
Rasi Aquila
Sumber di sini.
Kemudian erat kaitannya dengan Festival Tanabata yang menjadi favorit Altair, festival tersebut berasal dari Festival Qixi dari Cina. Tujuan festival ini untuk merayakan bertemunya dewi Orihime (diwakili oleh bintang Vega) dan dewa Hikoboshi (diwakili oleh bintang Altair), sepasang kekasih yang terpisahkan oleh Bima Sakti dan hanya bisa bertemu setahun sekali (sumber di sini). Cocok sekali dengan Altair dan Azura yang “terpisahkan” tapi sayangnya tak mesti bertemu setahun sekali.
Orihime dan Hikoboshi yang terpisahkan oleh Bima Sakti.
Sumber di sini.
Pemilihan judul novel ini sendiri menurutku memikat sekali. “Persona” merupakan turunan dari bahasa Latin yang artinya topeng atau karakter yang dimainkan oleh aktor. Dalam bidang analisis sastra, “persona” sering dikaitkan dengan narator bersudut pandang orang pertama (sumber di sini). Kalau di novel ini berarti Azura adalah “persona” dari sang penulis. Kalau dalam bidang psikologi Jungian,
“Persona pada dasarnya tak nyata. Ia merupakan kompromi antara individu dengan masyarakat…., apa yang seseorang harus ‘kelihatan seperti’. Persona adalah suatu kemiripan, realita dua dimensi….”
(kuterjemahkan bebas dari Two Essays on Analytical Psychology karya Carl G. Jung, hlm. 165, terbitan Bailliere, Tindall and Cox, London, 1928. Akses saya dapat di sini). 

Gampangnya, persona ini adalah topeng yang ditampilkan seseorang pada dunia. Atau topeng yang seseorang kenakan pada orang lain. Jung juga menyebut persona sebagai “diri yang tak sadar”. Dalam novel ini, barangkali “diri tak sadar” Azura telah terlalu jauh mengambil alih dirinya yang sebenarnya. (Maaf, aku tak bisa menuliskan lebih banyak lagi tentang ini karena pasti akan jadi sopiler.)

pada akhirnya

Ini pertama kalinya aku membaca karya Fakhrisina Amalia, dan ini adalah perkenalan yang sangat baik. Setelah A untuk Amanda, novel ini jadi YA lokal terbitan GPU kedua yang jadi favoritku. Ide yang menarik dan masih jarang dieksekusi dalam literatur YA dalam negeri dipadukan dengan eksekusi yang baik. Sungguh memikat dan mematahkan hatiku, persis seperti yang ditulis oleh penulis di bagian Ucapan Terima Kasih:
Aku menulis Persona untuk mereka yang jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan.
(Fakhrisina Amalia)

25 December 2017

[Resensi MOMIJI] Momiji yang Tidak Pernah Berubah Merah, Benarkah?

Judul: Momiji
Penulis: Orizuka
Editor: Selsa Chintya
Penerbit: Penerbit Inari
Cetakan: I, Mei 2017
Tebal: 210 halaman
ISBN: 978-602-60443-8-9
Harga: Rp 59.000,00

Mungkinkah ada orang yang tidak menyukai musim gugur? Mungkin kau akan menjawab, mungkin sekali. Lantas aku tanya lagi, kenapa kau yakin sekali? Dan jawabmu, karena tidak mungkin ada sesuatu yang disukai semua orang. Oke, aku menyerah sampai di situ. Meskipun itu musim gugur, yang kata orang-orang menyimpan keindahan; merupakan lambang kematian dan pengharapan akan adanya kehidupan kembali. Seperti tulis Ernest Hemingway dalam A Moveable Feast,
You expected to be sad in the fall. Part of you died each year when the leaves fell from the trees and their branches were bare against the wind and the cold wintery light. But you knew there would always be the spring, as you knew the river would flow again after it was frozen. When the cold rains kept on and killed the spring, it was as though a young person died for no reason.
Iya, kan? Atau jika kau belum sadar bahwa musim gugur itu menyimpan keindahan, Albert Camus pernah berkata,
Autumn is a second spring when every leaf is a flower.
Yhaa! Itu adalah saat ketika daun-daun jadi cokelat, keemasan, merah, oranye seperti bunga! Menakjubkan, bukan?

Mengapa kau terdengar sangat yakin akan keindahan musim gugur? Memangnya kau pernah mengalaminya? Mungkin begitu tanyamu kemudian, yang kujawab dengan gelengan. Belum, tapi dari melihat foto-foto, aku tahu. Namun, ada satu orang yang kutahu membenci musim gugur, Momiji.
Aku benci musim gugur.
(Momiji, hlm. 79)
Apa yang menyebabkannya jadi seperti itu? Dan siapa “Momiji” ini? tanyamu. Baiklah, begini ceritanya, ujarku.
***
Patriot Bela Negara (serius, itu nama orang, dan maaf, untuk bisa sampai ke Momiji sebaiknya kita mulai dulu dari Patriot) selalu menderita karena dirinya sama sekali tak cocok dengan nama yang harus diusungnya seumur hidup. Ya, kau tak akan jadi orang tua yang tega pada anaknya dengan memberi mereka nama yang memberatkan, kan? Ia sama sekali tidak kelihatan seperti "patriot". Ia pemuda ceking, sering jadi korban perundungan selama sekolah karena namanya dan karena dirinya sendiri. Ia kekurangan rasa percaya diri, dan oleh karenanya kalau bisa, ia menghindar jauh-jauh dari manusia. Ia punya nama panggilan "Pabel". (Siapa pun itu yang pertama menjulukinya begitu, ia berterima kasih. Karena ia tak harus lagi dipanggil dengan nama aslinya.) Pabel menyukai banyak hal berbau Jepang, hingga dia bekerja keras belajar bahasa Jepang lalu pergi ke Osaka untuk belajar bahasa Jepang selama sebulan.

Di Osaka dia tinggal di rumah keluarga Shiraishi. Sebenarnya Pabel punya misi tertentu (selain belajar): mendapatkan seorang “Yamato Nadeshiko”, gadis ideal Jepang pujaannya. Itu lho, gadis Jepang yang mungil, kulit putih bersih, rambut hitam-lurus-panjang dengan poni pagar, imut, cantik. Yah, begitulah. Terdengar stereotipikal, ya? Yah, terima saja, dunia ini memang penuh stereotip. Impiannya itu seakan kurang sejengkal lagi saat ia tahu keluarga Shiraishi ternyata punya anak gadis seumuran dia yang sedang ada di luar kota. Namanya Momiji. Setelah melihat fotonya di rumah, Pabel langsung antusias: dia akan benar-benar bertemu Yamato-nya.

Namun suatu hari terjadi insiden. Seorang gadis dengan rambut megar panjang dicat merah dan berpenampilan bak yankii (anak berandalan) tiba-tiba masuk ke rumah dan menuduh Pabel sebagai Pencuri Susu. Gadis itu langsung menggetok kepala Pabel dengan pedang bambu yang dibawanya. Pabel langsung tak sadarkan diri, dan begitu membuka mata, ia menyaksikan pertengkaran antara Nanami, ibu asuhnya, dengan gadis nyentrik itu. Gadis nyentrik yang telah tiga tahun minggat dari rumah dan tiba-tiba kembali, tapi Nanami sudah telanjur muak dengan kelakuan putrinya.

Ha, apa? Momiji si Yamato Nadeshiko berubah jadi Momiji si yankii? tanyamu. Iya, Momiji yang sekarang memang bukan lagi Momiji seperti dalam foto, jawabku.

Sejak saat itu, Pabel terlibat serius dengan Momiji, dengan hubungan tidak akur antara Nanami dan Momiji, serta harus memecahkan teka-teki kenapa Momiji menghilang dari rumah selama tiga tahun kemarin. Di samping itu, dengan caranya sendiri, Momiji berhasil membujuk Sanjo Kanon, teman satu akademi Pabel, si Yamato Nadeshiko yang sesungguhnya, untuk makan siang dengan Pabel. Apa yang harus dia lakukan? Bersama Momiji, Pabel dihadapkan pada hal-hal baru—yang cenderung nekat dan menantang.
***
Di musim gugur, semua momiji akan berubah merah. Semua, kecuali momiji yang ini. Momiji yang ini tidak pernah berubah merah. Tidak akan pernah.
(Momiji, hlm. 79-80)
Kau tahu, ini kali pertama aku membaca karya Orizuka. Beneran. Dan memang, pengalaman memang "bicara". Karya seorang penulis yang telah menulis 27 novel ini memang enak sekali dibaca. Garis besar ceritanya sederhana, tapi bagaimana penulis membawakannya jadi terasa bermakna. Ini tentang pencarian jati diri seorang Pabel, yang tanpa dinyana malah menemukan dirinya dengan bantuan Momiji yang sering bertingkah mengesalkan dan melelahkan. Malah, kemudian ia sadar bahwa mimpinya mendapatkan seorang Yamato Nadeshiko itu tidak penting. Kadang kita terjebak pada obsesi tertentu sehingga mengabaikan realita sehari-hari. Lalu begitu kita coba rehat sejenak dari obsesi kita dan melihat sekitar, kita sadar betapa bodohnya kita selama ini mengabaikan kejutan-kejutan yang diberikan oleh hidup!

Dengan sudut pandang orang pertama Pabel, gaya bahasa yang renyah dan kadang lucu, novel ini enak sekali dibaca. Meski tipis, porsi alurnya terasa pas. Proses kebersamaan Pabel dan Momiji juga tidak terasa terburu-buru ataupun kayak "dipaksa jadi dekat". Mungkin karakter Momiji, yang supel dan seenaknya sendiri, sangat membantu di sini.

Kedua karakter itu memang cocok. Pabel yang kurang percaya diri, pasif, cenderung submisif, takut mengambil risiko, dipadankan dengan Momiji yang berandalan, pemberani, kelebihan kepercayaan diri, meledak-ledak, penuh kejutan, dan suka seenaknya sendiri. Karakter Momiji ini membantu Pabel untuk berkembang. Namun ternyata Momiji tidak segarang kelihatannya. Ia jadi seperti itu untuk menutupi luka hatinya di masa lalu. Dan secara tidak langsung, Pabel membantu Momiji berani berdamai dengan masa lalunya. Bisa dibilang, mereka berdua saling menolong meski tanpa sadar. Manis sekali. Bersama Momiji, Pabel berani melakukan hal-hal yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikir ia akan melakukan itu. Aku suka pasangan ini 💕.

Juga aku tak menyangka ada kejutan yang akan diberikan oleh penulis lewat tokoh Nanami, ibu Momiji. Itu keren sekaligus kocak. Eh, tapi agak tidak masuk akal. Kenapa? tanyamu. Hm, masa selama tinggal bersama sang ibu selama bertahun-tahun, Momiji dan Kazuki, adiknya, sama sekali tidak pernah memergoki “rahasia” sang ibu? Masa tidak pernah sama sekali terjadi ketidaksengajaan yang menyebabkan “rahasia” itu tersingkap?

Bicara tentang latar dan budaya Jepang, penulis sudah cukup membuatku merasa sedang berada di Jepang. Dan dalam hal budaya sosial Jepang yang diungkapkan Pabel, aku merasa seperti Pabel di situ.
Jepang adalah negara yang penduduknya sangat menghormati ruang pribadi orang lain. Meski dalam hati mungkin penasaran, mereka tidak akan melihat orang-orang yang berbeda dengan pandangan menilai, apalagi bertanya langsung kenapa mereka berbeda. Sebagai orang yang tidak nyaman berada di keramaian, aku menganggap budaya ini menenangkan meski kadang-kadang aku merasa orang Indonesia jauh lebih menakjubkan karena bisa lebih akrab dengan orang asing. (hlm. 113)
Aku sering ingin minggat dari Indonesia dan tinggal di negara lain yang karakter masyarakatnya seperti di Jepang itu. Yang lebih menghormati ruang pribadi orang lain, yang lebih tidak kepo dan tidak “usil”, tidak cepat membenci dan menghakimi orang yang “berbeda”. Namun di satu titik, aku juga menemukan kecintaan akan Indonesia, salah satu yang paling utama adalah karena keindahan alamnya. Nah, lho.
Ini contoh gambaran seorang Yamato Nadeshiko versi manga.
Orizuka, mungkin secara sadar ataupun tidak sadar, telah menunjukkan perlawanan atas stereotip gadis ideal Jepang, yang timbul sebagai akibat dari masyarakat yang patriarkal. Yah, aku percaya di mana pun pasti ada stereotip, bahkan di Jepang, yang kata Pabel masyarakatnya sangat menghormati ruang pribadi orang lain dan tidak gampang menghakimi. Lewat Momiji, Orizuka menunjukkan sosok yang berani tampil berbeda dan menjadi kebalikan dari elemen-elemen ideal dari gadis ideal. Dan dia, dengan caranya sendiri, sesungguhnya telah menjadi “ideal”. Karena yang ideal itu hanyalah ketidakidealan itu sendiri.

Ah, iya, novel Momiji edisi bertanda tangan ini kudapatkan sebagai hadiah kuis yang pernah diadakan oleh Kak Melani di akun Instagram-nya. Sudah berbulan-bulan lalu tapi baru sempat kubaca sekarang. Terima kasih sekali lagi, Kak Mel.
Novelnya bertanda tangan.
Novel ini ada bonusnya berupa gantungan berbentuk momiji. Cute, yah.
Demikianlah, kuberikan rating 3/5 bintang untuk novel ini. Meskipun aku menikmati membacanya, novel ini sekadar menghibur. Aku tidak dibikin gelisah olehnya. Namun untuk kategori novel young-adult, buku ini memang cukup bagus. Ah, iya, dan benarkah Momiji tidak pernah berubah merah? Kita lihat saja. Wkwkwk.[]

16 December 2017

[Resensi NYAWA] "Rasa sakit selalu membuatku tertawa."

Judul: Nyawa
Penulis: Vinca Callista
Editor: Starin Sani & Dila Maretihaqsari
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: iv + 296 halaman
ISBN: 978-602-1383-46-9
Harga: Rp 54.000,00

Ratingku: ★★★☆☆
“Aku suka kematian. Aku ingin kematian.
Aku ingin ketemu…”
(hlm. 208)
Kaatje. Pemeran utama—si Wanita Angka—teater Kubang mati di atas panggung kala sedang berpentas. Menit terakhir sebelum nyawanya direnggut lantai gedung yang mematahkan lehernya, ia tertawa-tawa di luar naskah, lalu seperti melayang sesaat dan terjungkal dari atas panggung. Ia mati di panggung yang membesarkan namanya. Kaatje mati, dari sepatu haknya bermunculan peniti-peniti; kakinya bertitik-titik merah: darah.
Di tribun penonton, seorang gadis tertawa-tawa menyaksikan itu, lalu menusuk-nusuk tangannya dengan peniti.
---
Penghuni kos Pondok Kumis hari itu pindah ke kos Rumah Mangga, kos yang masih dikelola oleh pemilik yang sama, lantaran kos yang lama hendak diratakan dengan tanah. Di kos itu ada delapan kamar, semuanya terisi. Ada Lian, gadis yang bergaya pakaian kuno—seperti yang sering dijadikan bahan gosip oleh Cangi dan Gandes, tidak mau makan di depan teman-temannya, dan suka melontarkan pertanyaan tak lazim secara tiba-tiba. Gadis itu kadang terbangun dengan bekas cekikan di lehernya. Di dalam kamarnya ada kardus-kardus yang ia sebut berisi persediaan.
“Ini buat persediaan aja. Aku butuh biar bisa deket terus sama orang yang aku sayang.” (Lian, hlm. 32)
Ada Rory, gadis populer yang cerdas, supel, tegas, kritis, tidak suka bergosip. Awalnya cuma Rory yang mau dekat-dekat dengan Lian. Ia punya hobi lari, mengobrol dengan orang-orang gila di pinggir jalan. Sejak magang di Padepokan Seni Pijar, jiwanya terikat oleh tempat itu. Di sana ia menekuni gambang bambu, juga teater. Dalam teater Kubang untuk memperingati 100 hari kepergian Kaatje, Rory mendapatkan peran utama. Peran yang sama dengan Kaatje. Mendekati pementasan, ia makin sering dihantui mimpi buruk tentang Kaatje. Jika teater itu diharapkan sememukau saat masih diperankan oleh Kaatje, apakah itu berarti Rory harus mati seperti Kaatje telah mati?

Cangi dan Gandes, dua orang teman dekat yang anehnya, tidak menampakkan interaksi persahabatan yang sehat. Cangi, si biang gosip yang suka asal jiplak itu sebenarnya naksir Aria. Sementara itu, Gandes, yang ingin jadi selebriti dan terobsesi pengin kurus, naksir Sandre. Sayang, Aria dan Sandre sama-sama naksir berat Rory. Aria, orang yang tertutup itu mungkin cuma membuka dirinya pada Rory. Pemilik kafe O’Koffie itu suka ngemilin biji kopi. Sementara itu, Sandre si blasteran ganteng, suka tebar pesona, playboy, dan suka mengambil keuntungan dari para cewek yang mengejar-ngejarnya.
“Yang penting bikin diri sendiri puas, dan biarkan orang lain penasaran.” (prinsip yang dipelajari Sandre dari Rory, hlm. 97)
Terakhir, ada Danu dan Mara, sepasang kekasih yang penuh drama. Mara cewek yang dominan, manja, rewel, cemburuan, dan sombong. Danu, yang submisif, sering tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Mara. Mereka semua kuliah di Universitas Palagan, kecuali Aria, yang kuliah di sekolah bisnis.
---
Keanehan-keanehan mulai merayapi Rumah Mangga, dimulai dari sepasang kakek-nenek misterius yang dipergoki Lian (eh, sebenarnya Lianlah yang dipergoki mereka sedang memergoki mereka—nah, lho!) masuk ke kosan dan menghilang ke halaman belakang. Siapa mereka? Lalu ada suara-suara pikiran yang merisaukan, entah milik siapa, menyeruak sejak awal dalam bentuk cetakan miring.
“Ingin kuludahi saja mereka. Lalu, kutendang satu-satu wajahnya hingga belah.”
(hlm. 11)
Ada suara-suara lenguhan seperti orang kesakitan di malam hari, seperti pernah didengar oleh Aria dan Rory. Sementara itu, Cangi pernah mendengar suara yang terdengar seperti anak kecil sedang mengoceh di malam hari. Dan siapa sangka, ternyata di halaman belakang Rumah Mangga ada kuburan?
***
“Rasa sakit selalu membuatku tertawa.”
(hlm. 115)
Ini kali ketiga aku membaca novel psychothriller Vinca. Yang pertama, Seruak, tetap menjadi yang terbaik, menurutku. Mungkin karena itu pertama kalinya aku berkenalan dengan gaya thriller blio. Yang kedua, Kilah, sangat biasa saja. Yang ketiga, adalah novel ini. Dari tiga buku itu, aku mendapati beberapa formula khas Vinca dalam meracik psychothriller-nya.

Pertama, di tiga buku blio yang sudah saya baca tersebut, ini kali ketiga blio meletakkan tokoh sekelompok anak muda yang berada dalam satu lokasi, lalu terjadi hal-hal aneh di sekitar mereka.

Kedua, permainan sudut pandang penceritaan. Aku ingat betapa dulu terpukau oleh permainan sudut pandang Boni–Nina dalam Seruak (FYI, di Nyawa ini nama “Natanina” nongol lagi, lho! Saya jadi menduga-duga, mungkin nama itu adalah nama favorit Vinca.). Nah, dalam novel ini, Vinca mengajak kita menyusuri alur maju di masa kini, yang bermula dari kepindahan para penghuni Pondok Kumis ke Rumah Mangga, dengan sudut pandang orang ketiga. Lalu, lewat sudut pandang orang pertama seseorang melesatkan kita ke masa lalu, dimulai dari tragedi meninggalnya Kaatje, terus ke masa yang lebih lalu. Permainan sudut pandang penceritaan ini memberi ruang bagi eksplorasi tokoh dan penciptaan nuansa misterius akibat anonimitas narator. “Siapa yang berbicara?” yang pada akhirnya berguna bagi Vinca untuk menyamarkan pelaku sesungguhnya.

Ketiga, berkaitan erat dengan poin kedua, adanya tokoh(-tokoh) yang mencurigakan, juga adanya tokoh perempuan yang keren abis. Ya, yang terakhir itu maksudku adalah tokoh Rory. Awalnya aku menyukai tokoh ini, bagaimana tidak? Berbakat di bidang seni, kepribadiannya bagus, cantik… Namun aku menyukainya pertama kali sejak ia mengkritisi asosiasi warna dengan gender.
“Kamar cewek itu nggak mesti pink. Warna pink itu nggak harus diidentikkan sama cewek. […] ‘Cewek harus pakai warna pink’ dan ‘cowok nggak boleh pakai warna pink’ itu cuma hasil konstruksi sosial. Saya nggak mau ngebatasin kemampuan kita cuma gara-gara kita nggak sadar buat keluar dari kurungan konstruksi sosial.” (Rory, hlm. 16)
Tapi makin ke belakang, aku merasa bahwa Rory ini terlalu sempurna. Kenapa dia diciptakan seperti itu, ya? Satu-satunya kesialannya pun tak mencederai kebijaksanaannya sama sekali. Namun menurutku ada satu blunder yang dia buat (Atau penulis yang buat? Entah dengan sengaja atau tidak.). Aku menangkap kesan bahwa Rory tak mau jadi pacar siapa pun karena kadung cinta pada seorang lelaki yang dia tahu tak akan pernah membalas cintanya. Rory jadi terdengar seperti “membalas dendam akan keadaan itu” tapi di sisi lain tetap berlagak seperti orang paling bijaksana dan orang-orang di sekitarnya pun menganggapnya begitu. Karena tahu bahwa lelaki itu tak akan membalas cintanya dan sialnya ia tetap mencintai lelaki itu, maka ia memutuskan untuk mengambil keuntungan dari para lelaki lain yang dengan senang hati menyenangkannya, meski tahu bahwa ia tak akan menjadi pacar salah satu dari mereka. Aku kok nggak bisa bersimpati dengan prinsip Rory yang satu ini. (Itu lho, yang tadi dikutip Sandre untuk membenarkan perilaku playboy-nya.)

Keempat, Vinca selalu berusaha menyelipkan opininya mengenai isu-isu sosial lewat suara tokohnya. Kali ini adalah isu tentang gender yang blio suarakan lewat Rory. Dan kritik-kritik sosial ini tidak semembahana yang blio usung di novel Seruak.

Kelima, ada kelainan tertentu yang diderita oleh tokoh tertentu. Di sini ada alien hand syndrome, Munchausen syndrome by proxy, dan Fregoli Delusion. Yang terakhir itu diinterpretasikan menjadi gambar sampul novel ini. Isu ini yang paling menarik bagiku, selain karena aku memang tertarik dengan pembahasan seputar penyakit mental, juga karena Munchausen syndrome by proxy dan Fregoli Delusion baru pertama ini kudengar. Kalau alien hand syndrome (AHS) sudah pernah kuketahui. (Kayaknya ini juga diderita oleh Alfa di Supernova: Gelombang, ya nggak, sih? Oya, jadi inget film jadul Idle Hands yang dibintangi si ganteng Devon Sawa. Paling ganteng tetap pas main di film Casper. Eh, maaf, ngelantur.) Penderita sindrom ini tak sadar ketika tangannya “bergerak sendiri”. Menurut sumber yang kubaca, sindrom ini berkaitan dengan kerusakan saraf. Namun di dalam novel ini, Vinca mengesankan bahwa kondisi jiwa yang tak sehatlah yang menyebabkan si tokoh mengalami AHS. Nah, apakah mungkin AHS disebabkan oleh penyakit jiwa alih-alih kerusakan saraf? Seperti yang kutemukan di artikel Neurology Times, menurut rekaman data medis, AHS ini sepenuhnya adalah kelainan saraf, tanpa ada unsur penyakit jiwa. Namun sering terjadi salah diagnosis di antara pasien yang diduga menderita AHS, bahwa “tangan mereka bergerak sendiri” itu sebenarnya disebabkan oleh kelainan jiwa. Nah, mungkin saja, si tokoh dalam novel ini tak benar-benar menderita AHS, melainkan itu salah satu efek dari kelainan jiwanya. Hmm, entahlah.

Sementara itu, Munchausensyndrome by proxy (MSBP) kebanyakan diderita oleh para ibu. Seorang ibu yang menderita MSBP terobsesi agar anaknya terlihat sakit, padahal sebenarnya tidak sakit sama sekali. Ini adalah penyakit mental yang mungkin disebabkan oleh trauma masa kanak-kanak si penderita, yang kemungkinan juga menjadi korban dari orang tua penderita MSBP.

Terakhir, Fregoli delusion. Penderita penyakit mental ini mengira bahwa banyak orang di sekitar mereka sebenarnya adalah satu orang yang sama yang sedang menyamar. Penamaan kelainan ini diambil dari nama Leopoldo Fregoli, seorang aktor Italia yang terkenal dengan kemampuannya yang luar biasa untuk menirukan orang-orang di panggung (Langdon, Connaughton, Coltheart [2014]). Fregoli juga bisa dengan cepat berubah-ubah penampilan saat di atas panggung (Frontier Psychiatrist).

Keenam, petunjuk teka-teki yang diumpankan pada pembaca pada ruang dan waktu tertentu, salah satunya untuk mempertahankan nuansa misterius dan membuat pembaca penasaran. Tapi tidak terlalu berhasil padaku. Di pertengahan novel, aku sudah menebak (dengan benar) siapa keponakan Kaatje. Memang sepertinya Vinca membuat ini bisa tertebak dengan mudah (?).

Alur novel ini tidak semenegangkan alur Seruak, maka kupikir bukan pada unsur thriller-nyalah keunggulan novel ini, melainkan pada ide-ide brilian yang dikombinasikan oleh Vinca di dalamnya. Banyaknya tokoh dengan keistimewaan masing-masing tentu berperan dalam hal ini. Dalam novel ini kita bisa menonton teater, mendengar musik dari gambang bambu, melihat Aria mengembangkan bisnis, melihat Sandre mengedit video dokumenternya. Kita diingatkan juga tentang deret Fibonacci dan bagaimana briliannya ide Isvara untuk mengangkatnya dalam naskah teater. Kita juga menyaksikan berbagai kelainan mental.

Namun, ide-ide brilian yang banyak ini jugalah yang jadi titik lemah Nyawa. Aku merasa banyak yang ingin diceritakan oleh Vinca tapi jumlah halaman tak mampu mewadahinya. Jadinya banyak yang nanggung. Banyak hal yang sangat potensial untuk dieksplorasi lebih jauh (ini, sih, semata keegoisanku sebagai seorang pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak 😅). Misalnya, masa lalu Lian dengan orang tuanya, terutama ibunya yang terobsesi bahwa anaknya sakit. Bagian ini cuma diceritakan sedikit, padahal ini sangat krusial bagi perkembangan karakter Lian dan bagi kita kalau ingin mengenal Lian dengan lebih dekat dan lebih benar. Ah, yang paling kusayangkan adalah sangat minimnya eksplorasi personal Kaatje, padahal tokoh ini sangat menarik. Yang kuketahui hanyalah bahwa ia pemain teater fenomenal, menjadi pujaan banyak lelaki, dan terobsesi menjadi seperti Leopoldo Fregoli. Apa yang menyebabkan ia jadi seperti itu?

Bagian akhirnya juga jadi terasa, “Loh, gitu doang?” Kukira Kaatje dibunuh keponakannya, ternyata…. Ini mungkin dimaksudkan jadi twist, tapi kok tidak terasa seperti twist, malah ia berlalu begitu saja tanpa sempat aku terpukau olehnya. Namun terlepas dari itu semua, aku mengapresiasi kegigihan Vinca untuk memperkaya khazanah novel psychothriller domestik yang tidak receh (seperti kubilang tadi, banyak ide brilian kita jumpai di novel ini; juga banyak pengetahuan baru yang kudapat). Blio juga memberi panggung bagi kesenian lokal, meski hanya sekilas. Juga bagaimana dengan tokoh sebanyak itu, blio bisa memberi ruang bagi masing-masing untuk bergerak dan membangun kekhasan tiap karakter hingga terus teringat oleh pembaca. Akhirnya, aku menantikan karya Vinca yang lebih menawan.
“Kalau kami sedih, kami tertawa.”
(hlm. 70)

bloggerwidgets