Showing posts with label lokalitas. Show all posts
Showing posts with label lokalitas. Show all posts

10 March 2018

Untuk Apa Surga Diciptakan? (Sebuah Resensi atas "Puya ke Puya" karya Faisal Oddang)


Kenapa surga diciptakan?
Surga diciptakan karena…
(hlm. 3)

Faisal Oddang menyuguhkan padaku
semangkuk sup yang sangat tidak enak,
tapi terpaksa kulahap juga karena aku kelaparan dan
itu satu-satunya makanan yang bisa kudapatkan.

(Allu bukanlah Soe Hok Gie, jelas. Ia, yang awalnya kukira mahasiswa aktivis yang menolak dibukanya tambang nikel demi memperjuangkan apa yang dia yakini, ternyata melakukan itu atas suruhan orang yang memberinya uang.

Allu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Namun suatu hari, tibalah padanya kabar tentang meninggalnya Ambe—ayah—lewat suara Indo—ibu—di telepon. Betapa hatinya seakan rontok begitu saja: ia telah berjanji pada Ambe untuk jadi sarjana tahun itu, tapi Ambe keburu tiada untuk dapat menyaksikan ia diwisuda. Penderitaan itu diperparah oleh keberangkatan dosen pembimbing skripsinya ke luar negeri untuk melanjutkan studi.

Skripsinya terbengkalai. Bagaimanapun, yang terpenting saat ini adalah ia harus kembali ke tanah kelahirannya, sebagai satu-satunya keturunan Ambe. Ia harus membuat keputusan. Keputusan-keputusan berat berkaitan dengan kematian Ambe dan masa depan nama baik keluarga besar Ralla.

… untuk sampai ke surga,
Ambe harus diupacarakan,
dipotongkan puluhan kerbau dan ratusan babi.
Hal itu tidak mudah, tetapi demi derajat dan adat,
sebagai keturunan bangsawan—tana bulaan
Ambe harus melakukannya, lagi-lagi itu kata Ibu Pohon.

(Maria, hlm. 12)

Untuk melaksanakan upacara rambu solo itu, tentu tak sedikit uang yang dibutuhkan. Sebagai mahasiswa kritis, Allu tak setuju untuk melaksanakan adat itu, yang dianggapnya tidak relevan lagi dengan situasi masa kini. Sementara itu, anggota keluarga besar memaksa agar upacara itu tetap diadakan. Kalau tak ada rambu solo, martabat kerabat akan tercoreng. Keluarga bangsawan, pemimpin adat meninggal kok tak ada rambu solo. Apalagi telah terbukti bahwa adat tersebut selama ini menimbulkan masalah; ia menyebabkan orang hidup dalam lingkaran utang, di bawah bayang-bayang “harga diri”.

Lihatlah, begitulah adat membuat rasa pamrih,
begitulah adat secara halus menanamkan paham
tidak ada yang gratis di dunia ini.
Bahkan tenaga harus dibayar—
di masyarakat tradisional yang masih jauh dari
individualisme masyarakat kota.

(Allu, hlm. 136)

Di perutku sup itu bergolak.
Aku gelisah.
Ia seperti ingin keluar tapi
aku harus menahannya agar perutku tetap terasa kenyang.

(Seperti dalam novel Saman, aku menyaksikan kembali perebutan lahan warga lokal oleh perusahaan [bersama pemerintah dan/atau bersama militer]—kali ini adalah perusahaan tambang nikel. Dulunya Ambe menolak keras masuknya pertambangan ini di kampung mereka, sementara Allu mendukung Ambe dari Makassar dengan bantuan teman-teman mahasiswanya. Tapi, akhirnya para warga menurut saat Pak Kades turun tangan untuk melicinkan masuknya tambang itu.

Di sini, aku teringat akan Salim Kancil, yang darahnya merembesi pasir Pantai Watu Pecak dan suara-suaranya tak akan mati meski ia telah mati.

Pada akhirnya, karena tertekan oleh sana-sini, Allu akhirnya menentang Indonya dan diam-diam menjual tanah milik keluarga pada perusahaan serta tongkonan mereka yang akan dihancurkan. Memang, Allu mendapat sejumlah banyak uang. Tapi perusahaan melakukan itu dengan jebakan licik dan menyakitkan. Namun Allu memang bukanlah seorang pahlawan. Dengan mudah, ia malah masuk dan tinggal dalam jebakan itu: cinta, lalu sakit hati dan rasa kecewa begitu merasukinya hingga ia melakukan hal yang kuharap tak ia lakukan.

Aku kecewa, pemuda kritis seperti Allu berakhir begitu.

Aku terenyak; ekspektasiku tergugu. Bukankah kebanyakan dari kita juga begitu: bukan seorang “pahlawan”? Dan tak bisa disangkal, kita bukannya tak butuh uang. Bagi kebanyakan dari kita, memastikan makanan selalu tersedia di rumah barangkali lebih utama ketimbang berdemonstrasi di depan istana negara menyuarakan ketidakadilan dengan risiko-risiko, salah satunya: ketidakpastian.
Aku terenyak lagi. Aku kesal tapi, sial sekali, aku tetap tak bisa begitu saja menyalahkannya.)

Sup itu naik ke kerongkonganku.
Cairan kentalnya menjelma juluran
tangan-tangan dan mencekikku.

(Di dalam sup pahit bernama Puya ke Puya ini, Faisal bermain-main dengan racikan bumbunya. Ia menggunakan beberapa sudut pandang berganti-ganti, dengan mekanisme pergantian yang unik. Termasuk di antaranya adalah sudut pandang roh gentayangan Maria dan roh gentanyangan Ambe. Maria, adik Allu, telah meninggal sejak bayi dan dimakamkan dalam tubuh pohon tarra—makam passiliran.

Katanya lagi, aku tinggal menunggu tubuhku
dihancurkan batang pohon,
menyatu bersama getahnya yang kami susui,
menyatu dengan ranting, menjadi daun, lalu kering,
lalu jatuh kembali ke tanah, kembali ke asal,
dan kembali ke surga.

(Maria, hlm. 11)

Dari kisah Maria inilah, aku mengetahui kisah tentang kehidupan di dalam makam passiliran; tentang dalih “kesucian yang harus dijaga” yang malah menghalangi percintaan antara dua remaja—apakah percintaan memang sebegitu menakutkannya hingga harus disensor sedemikian rupa agar tak meracuni mereka yang dianggap “belum cukup umur”?; tentang peristiwa pencurian fosil bayi dari dalam tubuh tarra demi dijual dengan harga yang tinggi untuk membiayai rambu solo. Betapa ironis!

Sementara itu, roh gentayangan Ambe dilanda kegalauan tiada akhir, yang makin parah ketika mendapati kondisi keluarga besar Ralla makin kacau. Betapa seorang arwah tak gundah setengah mati (padahal ia sudah mati) ketika menyadari bahwa kematiannya hanya akan menyisakan beban besar bagi keluarga yang ia tinggalkan. Terlebih, di sisi lain, ia tak bisa memungkiri bahwa ia sendiri pun ingin diadakan rambu solo agar bisa “tiba di surga selayak bangsawan, menunggang kerbau belang diiringi ratusan babi dan puluhan kerbau lainnya” (hlm. 31).

Dulu, aku pernah berharap untuk menjadi To Membali Puang
menjadi dewa, ketika kelak tiba di surga.
Aku ingin, bahkan sampai saat ini
aku masih diam-diam memeram keinginan itu.

(Ambe, hlm. 32))
Tangan-tangan sup itu mencekikku
dan aku tak kunjung mati.

(Sampai akhir, seperti para arwah yang telah menuju puya, dan tetap tak bisa menjawab…, aku terenyak. Ternyata aku pun tetap tak bisa menjawab.

“Untuk apa surga diciptakan?”

Mengapa surga diciptakan jika keberadaannya malah menghancurkan kehidupan orang-orang yang masih hidup di bumi? Mungkin, mungkin, karena yang “menciptakan” surga itu adalah manusia sendiri...

Ah, Faisal Oddang, kau menanyakan pertanyaan yang sulit sekali.

Terus terang, kupikir novel ini lebih baik dibandingkan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, juara kedua dan ketiga sayembara novel DKJ 2014.)

identitas buku

Judul: Puya ke Puya
Penulis: Faisal Oddang
Editor: Christina M. Udiani
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: II, Agustus 2016
Tebal: xii + 218 halaman
ISBN: 978-602-424-126-1
Harga: Rp 50.000,00

2 May 2016

[Resensi KAMBING DAN HUJAN] Bukan Sekadar Cinta Terlarang

Periode baca: 19-21 April 2016

Judul: Kambing & Hujan
Penulis: Mahfud Ikhwan
Editor: Achmad Zaki
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: vi + 374 halaman
ISBN: 978-602-291-027-5
Harga: Rp 69.000,00
Rating saya: 4/5

Betapa kehidupan selalu penuh ironi. Rencana pernikahan Sung Bo Ra dan Sung Sun Woo awalnya tak diterima oleh kedua orang tua mereka karena mereka berdua sama (sama-sama bermarga Sung). (Efek belum bisa move on dari drama Korea Reply 1988). Nah ini, hubungan Mif dan Fauzia ditentang karena mereka berbeda (beda kelompok agama).
Sebuah pertemuan tak disengaja di dalam bus membuat Mif dan Fauzia bertukar alamat surel. Mereka memang berasal dari satu desa yang sama, Centong, tapi tak pernah akrab waktu kecil. Bukan hal yang mengherankan, lantaran Mif adalah anak tokoh Masjid Utara, sedangkan Fauzia anak tokoh Masjid Selatan. Saat itu Mif, yang sudah lulus kuliah di Yogya, bekerja sebagai editor buku. Sementara itu, Fauzia kuliah di Surabaya dan sebentar lagi wisuda. Diawali sebuah surel dari Mif, hubungan dan kisah cinta di antara mereka berdua terjalin.

Sejak awal Mif dan Fauzia tahu, tak akan mudah memperjuangkan cinta mereka. Awalnya, Mif dan Fauzia sama-sama mengira bahwa Pak Kandar (bapak Mif) dan Pak Fauzan (bapak Fauzia) adalah dua orang tokoh agama Islam yang berseberangan dan saling membenci. Yang pertama tokoh Pembaharu, yang terakhir tokoh Nahdliyin. Mif dan Fauzia kemudian sepakat untuk pulang ke Centong dan berbicara pada orang tua terkait rencana mereka untuk menikah.

Tak dinyana, dari cerita yang dituturkan Pak Kandar dan Pak Fauzan, dari sebendel surat-surat lama yang disimpan Pak Fauzan, serta cerita dari Pak Anwar belakangan, Mif dan Fauzia masing-masing akhirnya mengetahui sejarah dua kelompok muslim yang berseberangan di Centong sejak tahun 1960-an dan sejarah hubungan Is dan Mat. Mereka akhirnya tahu, bahwa Is dan Mat bukanlah dua orang yang saling membenci. Bukan, mereka adalah dua orang sahabat bagai saudara yang terpaksa berada di posisi yang berseberangan, dan terpaksa tak saling menyapa selama puluhan tahun.

Tahulah kini Mif dan Fauzia, yang harus mereka hadapi bukan sekadar dua orang tua yang telah lama tak saling menyapa, melainkan dua kelompok penduduk Centong: orang Utara dan orang Selatan.

"Dan, apa salahnya berbeda? Tuhan menciptakan makhluk juga berbeda-beda... Dan, mereka memang menjadi dua orang yang berbeda. Tapi, karena apa yang kalian lakukan--atau apa yang kalian tidak lakukan--anak-anak kalian jadi dua orang yang berbeda sekaligus saling ingin melenyapkan." (Anwar, hlm. 338)
***

Bagaimana Awalnya Novel Ini Berada di Apitan Ketiak Saya


Awal November 2015, saya menjadi tamu (yang tidak diundang dan tidak tahu diri) di Kampus Fiksi #14. Acara Kampus Fiksi reguler selalu menghadirkan pemateri yang berkecimpung di dunia tulis-menulis atau nyerempet-nyerempet itu. Angkatan saya (angkatan 12) dulu mendapatkan materi menulis dari Agus Noor (terkutuklah saya yang sampai saat itu belum pernah membaca karya blio). Nah, angkatan ini dihadiri oleh Mahfud Ikhwan, yang membagikan kisah di balik penulisan Kambing & Hujan. Betapa keras perjuangan yang blio lakukan demi lahirnya novel ini.

Sejak itulah, saya bertekad untuk memburu novel Kambing & Hujan. Nahas, pada suatu Selasa di Togamas Affandi (hari diskon 25% untuk novel), saya hanya menemukan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, sedangkan Kambing & Hujan berstatus "in order". Sampai beberapa lama kemudian, statusnya tak berganti. Akhirnya, saya meminjam novel ini dari Mbak Tiwi, seorang perempuan biasa yang tak sebiasa yang diakuinya.

Pada percobaan awal membaca Kambing & Hujan, entah kenapa, saya menyerah ketika baru melahap beberapa puluh halaman. Entah apa yang terjadi pada kemampuan baca saya waktu itu. Mungkin saya hanya belum menemukan keseruan alur atau gaya ceritanya. Sampai berbulan-bulan kemudian, novel ini bak mati (suri) di atas meja saya (untung yang punya tidak terburu memintanya kembali). Akhirnya, saya beranikan diri untuk mulai baca novel ini lagi, karena tak lama lagi saya harus meninggalkan kosan dan Yogya tercinta untuk memulai petualangan baru (saat tulisan ini dipunlikasikan, saya sudah tak di Yogya), sehingga sebagai orang yang agak tahu diri, saya bertekad menyelesaikan dan mengembalikannya secepat mungkin.

Hanyalah Lapisan Epidermis


Wajar jika saya awalnya mengira novel pemenang pertama sayembara menulis novel DKJ 2014 ini hanya berisi perjuangan sepasang manusia memperjuangkan cinta terlarang akibat pertentangan dua keluarga. Wajar jika fantasi saya langsung melayang ke kisah Romeo & Juliet dengan keluarga Capulet vs Montague-nya. (Judul novel ini pun memiliki pola ... & ...) Eh, ternyata, saya terkelabui.

Kisah cinta terlarang Mif & Fauzia hanyalah lapisan epidermis dari organisme novel ini. Atau, ia hanyalah pembuka kaleng yang digunakan oleh penulis untuk membuka kaleng berisi kisah sejarah Centong dan dua kelompok yang berseteru, yang menempatkan Is dan Fauzan sebagai pentolan. Kisah Mif & Fauzia hanya diceritakan sepotong-sepotong, di bagian awal, pertengahan, dan akhir. Sebagian besar novel ini berisi sejarah dan dokumentasi dinamika sosial penduduk Centong. Oleh karena itu, tak adil bila saya menggugat penulis, mengapa Mif dan Fauzia, tiba-tiba memiliki keinginan menikah, padahal hubungan mereka tak banyak dibahas.

Apakah saya menyesal karena terkelabui? Tidak, malah saya menjadikan buku ini salah satu favorit saya. Saya bersyukur karena penulis memfokuskan ceritanya pada sejarah kultural dan sosial Centong yang kompleks, yang nantinya memengaruhi hubungan Mif dan Fauzia. Saya bersyukur karena novel ini tak jadi roman yang sekadar berisi percintaan terlarang dua manusia.

Ketika membaca kalimat demi kalimat yang mengalir lincah dan dapat memerangkap rasa penasaran saya (meski saya sudah tahu sejak awal kalau kisahnya akan berakhir bahagia dan tidak ada teka-teki eksplisit yang minta dipecahkan) akan bagaimana nantinya hubungan Is dan Mat berakhir. Saya tahu kalau mereka akan berdamai, tapi bagaimana caranya? Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan mereka berdua terlihat saling membenci? Apakah sesederhana alasan cinta segitiga Is-Yatun-Mat di masa lalu?

Nah, itulah yang bikin novel ini menarik. Cara penulis memvisualisasikan setiap kejadian di Centong sungguh hidup dan "dekat", membuat saya seolah menjadi saksi mata langsung atas sejarah Centong. Dinamika kehidupan beragama penduduk Centong sangat menarik dikaji. Bagaimana awalnya mereka beragama sekaligus menyembah pohon yang disebut kukun kawin. Bagaimana tradisi orang-orang tegalan kala masa menanam dan panen. Bagaimana desa santri itu, yang awalnya semua kegiatan agama berpusat di satu masjid--yang nantinya disebut Masjid Selatan--setelah kemunculan Cak Ali dan para pengikutnya, kemudian bercabang dua. Kelompok Muhammadiyah di Utara dan NU di Selatan. Bagaimana penulis mengeksplorasi detail kejadian yang berpengaruh terhadap dinamika orang Centong. Bagaimana penulis dengan piawai menyelipkan humor (yang banyak terdapat di bagian kisah masa remaja Is dan kawan-kawan) dalam roman yang kadang bikin terharu ini.

Mengapa Kambing & Hujan?


Lebih menarik lagi ketika penulis menakdirkan Is dan Mat, yang awalnya sahabat, terpaksa berada di pihak yang berseberangan. Itulah awal munculnya istilah "kambing dan hujan", seperti petikan yang saya tulis di bagian awal resensi ini. Meski demikian, saya susah menangkap mengapa kambing dan hujan dijadikan simbol dua hal yang berseberangan, yang susah dipertemukan. Apakah karena kambing tak suka hujan? Lalu, kenapa kover novel ini bergambar sebotol susu kambing (?)?

Ternyata memang kambing tak suka hujan, seperti saya baca di sini. Sementara itu, makna gambar sebotol susu di kovernya, mungkin seperti yang coba diterjemahkan oleh Sri Hadriana di artikel ini. Mahfud menguraikan kisah yang sebenarnya berat dengan bahasa yang encer, sederhana, mudah dicerna, seperti susu yang berwarna putih itu. Namun, sarat nutrisi.

Kambing dan hujan mewakili kelompok NU dan Muhammadiyah di Centong. Oleh karena saya sebelumnya belum tahu bagaimana sejarah munculnya dua kelompok tersebut, apa yang diceritakan oleh novel ini memberi pengetahuan baru bagi saya. Kisah NU dan Muhammadiyah ini mengingatkan saya akan pertentangan Katolik dengan Protestan yang menyebabkan keduanya menjadi agama berbeda. Yang satu kelompok "tua", yang lain kelompok "muda" alias pembaharu.

Meski penulis menggambarkan bahwa kedua kelompok di Centong itu sangat bertentangan, ada elemen-elemen yang secara malu-malu menyatakan bahwa sebenarnya mereka merindukan untuk bersatu. Tampaklah dari narasi di halaman 263-265, yang mengatakan, "Tidak ada enaknya terdapat dua hari raya di desa sekecil Centong. Sungguh. Jika ditanya, semua orang, baik orang Selatan maupun orang Utara, akan bilang tidak suka."

Penulis sendiri menghadirkan elemen yang sama di antara dua kelompok itu, mungkin sebagai simbol bahwa sebenarnya mereka adalah satu: sama-sama umat Muslim. Nama guru Is, yang menggerakkan pembaharuan, bernama Cak Ali. Nama salah satu tokoh yang memengaruhi pemikiran Mat, yang menentang pembaharuan, bernama Ali juga (Ali Qomaerullaeli). Mungkin saya terlalu mengada-ada *sigh*.

Meski kisah ini berpusat pada sosok-sosok lelaki (Is, Mat, Cak Ali dan para pengikutnya, Pak Kamituwo dan kerabatnya), penulis menunjukkan bahwa sekalinya perempuan diberi kesempatan bicara, ia mampu membalik keadaan sedemikian rupa. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Bu Sri, ibu Mif, menyarankan putranya untuk meminta bantuan Pakde Anwar.
"Pakdemu itu... suaminya... Bude Siti. Bude Siti... tak lain... adalah adik Pak Fauzan. Jadi... anakku... cah ngganteng... Pakde Anwar-mu itu... sekaligus juga... Paklik Anwar-nya Fauzia." (Bu Sri, hlm. 277-78)
"... seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya." (Bu Sri, hlm. 278)
Kisah memang berpusat pada Is dan Mat, serta Mif dan Fauzia, tapi penulis tetap memberi porsi yang pas untuk mengeksplorasi tokoh-tokoh lainnya, seperti Pak Anwar. Barangkali, tokoh favorit saya adalah Pak Anwar. Berkat dia, akhirnya dua orang yang sekian lama tak saling menyapa bisa punya alasan dan keberanian untuk saling berbicara lagi. Pak Anwar adalah simbol pemersatu. Di masa lalu, ia pun tak segan menyeberang dari Utara ke Selatan, karena niat tulusnya untuk mengajar di madrasah. Lalu, sebagai orang Utara, ia menikah dengan Bu Siti, orang Selatan. Namun memang tak mudah jadi orang yang sekaligus Utara dan Selatan seperti Pak Anwar. Ia tak diterima dua-duanya, dan akhirnya minggat ke Brunei Darussalam. Tindakan ini bisa dianggap pengecut, sih. Tapi setidaknya, Pak Anwar menebus kepengecutannya itu dengan mempertemukan kembali Is dan Mat.
***
Tak salah jika novel ini menjadi pemenang pertama sayembara menulis novel DKJ 2014. Dibandingkan novel pemenang kedua dan ketiga, novel ini sangat mencolok unggulnya. Namun, ada teman yang bilang kalau Ulid Tak Ingin ke Malaysia lebih menarik ketimbang Kambing & Hujan. Baiklah, saya tak tahu benarkah itu sebelum membaca Ulid sendiri. Terima kasih, Mbak Tiwi, telah rela hati membiarkan Kambing & Hujan berada di apitan ketiak saya selama berbulan-bulan.

5 February 2016

[Resensi INTERVAL] Masa Lalu yang Menanti Disibak

Judul: Interval
Penulis: Diasya Kurnia
Editor: Ainini
Penerbit: PING
Cetakan: I, 2016
Tebal: 176 halaman
ISBN: 978-602-391-059-5
Harga: Rp 36.000,00
Rating saya: 2/5

SEBAGAI seorang pelajar SMA merangkap penari jathil, Kinanti sudah terbiasa mendengar pergunjingan negatif mengenai dirinya. Penari jathil kerap dikaitkan dengan label perempuan murahan, yang bagian tubuhnya sering dipegang-pegang para lelaki sambil menyelipkan sawer. Namun, Kinanti dan sahabatnya, Rey, adalah anggota grup reog Singo Taruno Joyo milik Pak Rengga yang tak berani menerima sawer. Tinggal berdua dengan seorang kakek yang sudah tua, yang mengandalkan penghidupan dari membuat topeng Bujang Ganong, Kinanti bertahan hidup dengan menjalani dua kehidupan berbeda: di siang hari ia menjadi anak sekolah, dan sepulang sekolah ia menjadi penari jathil.

DI sekolah, bersama Rey, Kinanti menjadi anggota Klub Tari. Menginjak tahun ajaran baru, pemilihan ketua baru Klub Tari pun akan dilaksanakan. Salah satu kandidat kuatnya adalah Ratih, si gadis populer yang sombong, yang juga pacar Dimas. Sialnya, Kinanti diam-diam menyukai Dimas, dan suatu pertemuan tak disengaja dengan Dimas di taman belakang sekolah menimbulkan agresi dari pihak Ratih. Sembari mengata-ngatai Kinanti dan Rey tentang pekerjaan mereka sebagai penari jathil, ia menantang mereka berdua.
"Ya, anggaplah ini adalah sebuah tantangan untuk membuktikan bahwa penari jathil keliling harus naik kasta lebih tinggi. Tidak hanya berada di kelas rendah, kaum yang berada di kasta Sudra, kubangan lumpur. [...] Makanya kutantang kamu agar memenangkan kandidat pemilihan ketua tari sebentar lagi. Jika di antara kalian berdua ada yang bisa mengalahkanku maka aku tidak akan sekali-kali menganggap kalian sebagai gadis menjijikkan lagi." (Ratih, hlm. 43-44)

"Kami menerima tantanganmu bukan karena kami ingin membuktikan diri bahwa kami ini kaum jathil yang seperti kamu katakan. Tapi kami hanya ingin kamu mengerti bahwa kami menari untuk seni." (Rey, hlm. 44)
TERNYATA, diam-diam Rey mengundurkan diri menjadi kandidat pemilihan ketua tari, karena sejak awal dia memang hanya ingin memotivasi Kinanti agar bersedia ikut. Salah satu poin seleksi adalah menampilkan bakat tari di depan banyak orang, jadi ini kesempatan bagus untuk Kinanti menunjukkan kemampuannya.

KEHIDUPAN percintaan Kinanti sering tak berjalan mulus. Datanglah seorang guru baru dari Amerika Serikat, bernama Carl. Umurnya baru 22 tahun. Kinanti yang awalnya tidak pede dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, didorong oleh Rey, menjadi rajin belajar dan berdiskusi dengan Carl. Hubungan mereka berdua makin dekat, tapi ketika Carl main ke rumah Kinanti, sang kakek menolaknya habis-habisan. Kinanti menduga ini ada hubungannya dengan mimpi yang sering mampir di tidurnya, tentang seorang wanita pribumi dan seorang lelaki bule, si wanita menggendong seorang bayi. Kinanti juga mulai bertanya-tanya mengapa rambutnya berwarna brunette.

ENAM tahun setelah Kinanti lulus SMA, ia berkunjung ke New York untuk mencari orang tuanya, hanya berbekal foto lama ibunya dan sebuah alamat di baliknya. Selain itu, diam-diam dia punya misi lain, yaitu untuk menemui Carl dan menyatakan perasaannya. Namun, kadang rencana-rencana manusia tak berbuah manis seperti harapan....

----------

DI halaman 3, Guntur Alam menuliskan endorsement atas novel ini. Katanya,
"Tak banyak novel romance remaja yang mengangkat tema lokalitas. Pilihan tema itu yang membuatnya istimewa. Lewat novel ini, penulisnya ingin mengenalkan kembali kekayaan negeri, terutama dari Kota Ponorogo, kepada anak muda. Jalinan cerita yang runut membuat novel ini sangat mudah dipahami."
BERBEKAL setumpuk pengalaman patah hati, saya belajar untuk tidak berekspektasi. Sekalipun Guntur Alam menuliskan testimoni seperti itu, saya tak mudah dipengaruhi. Sialnya, fokus saya terlalu tersedot pada kata "lokalitas", sehingga mengabaikan bahwa "novel romance remaja" lebih dulu disebut oleh Guntur Alam. Pemilihan susunan kalimat pertama testimoni ini mengisyaratkan bahwa Interval adalah novel romance remaja, jadi genre-nya romance, tapi temanya lokalitas. Sekental apa pun tema lokalitasnya, kaldu romance-nya akan tetap lebih kental. Kemudian, kalimat kedua mengingatkan saya akan reog Ponorogo. Kalimat terakhir memberi kesan bahwa Guntur seperti kurang bisa menemukan keunggulan novel ini selain tema lokalitasnya, sehingga dengan terpaksa (mungkin) ia hanya sanggup menuliskan tentang "jalinan cerita yang runut yang mudah dipahami". Pertama, jalinan cerita runut bukan jaminan cerita akan mudah dipahami. Kedua, cerita mudah dipahami bukan merupakan keunggulan yang istimewa, karena banyak sekali novel romance remaja lain yang ceritanya mudah dipahami.

SAYA akan berhenti sampai di situ mengkritisi testimoni Guntur Alam, karena saya akan mulai membahas tema lokalitas yang katanya membuat novel romance remaja ini istimewa. Tema lokalitas yang diangkat diwakili oleh profesi sambilan Kinanti dan Rey, yaitu penari jathil; dan profesi kakek Kinanti sebagai pengrajin topeng Bujang Ganong. Namun, konflik mayor tidak fokus pada tema lokalitas ini, tapi fokus pada perjuangan Kinanti menemukan orang tuanya di Amerika Serikat. Konflik ini sekilas mengingatkan saya akan novel karya Pia Devina, berjudul Carrying Your Heart. Tidak ada adegan yang langsung menunjukkan pementasan tari jathil. Kelokalitasan hanya dibangun mengandalkan cuap-cuap narator, yaitu "aku" (Kinanti), sehingga sangat kurang bisa menampilkan hawa lokalitas. Kebanyakan adegan berlangsung di sekolah dan di New York.

LOKALITAS sirna setelah bab 8 selesai di halaman 82, karena mulai bab 9 Kinanti telah berada di New York untuk mencari orang tuanya. Tak terduga, konflik minor malah merambah ke ranah topik lesbian dan homoseksual, yang menurut saya, alih-alih menimbulkan twist, ia malah mencederai kadar kohesi alur cerita. Konflik minor tersebut muncul beberapa kali, sehingga cukup mendominasi alur cerita, dan terasa mencelat terlalu jauh dari alur yang dibangun sejak awal. Memang, saya sudah curiga bahwa si tokoh itu lesbi sejak ia ngambek di bagian awal, tapi saya kira sudah cukup sampai di situ penulis menghadirkan isu LGBT. Ternyata, di New York, lagi-lagi LGBT merebak. Mengapa novel ini jadi gencar bercerita tentang LGBT? Mengapa penulis tidak memilih menceritakan saja perjuangan Kinanti menjadi penari jathil bertaraf internasional, misalnya (karena setahu saya Kinanti bermimpi menjadi penari profesional dan keliling dunia, coba lihat halaman 7)? Saya jadi agak curiga, jangan-jangan LGBT dipilih karena sedang ngetren saat ini.... Saya kira, penulis mengeksploitasi tokoh Kinanti untuk menyatakan ketidaksetujuannya dengan keberadaan kaum LGBT.

ADA juga ke-"tiba-tiba"-an lain yang menjadikan alur terasa melompat-lompat tanpa koneksi kuat, antara lain bunuh dirinya seorang tokoh penting. Peristiwa itu hanya disinggung sebentar, dan terlalu tiba-tiba karena awalnya tidak ada indikasi hal itu akan terjadi. Bukannya menjadikan twist, melainkan mengagetkan pembaca dengan cara yang tidak nyaman. Bisa disimpulkan, di bagian menjelang akhir, beberapa adegan terlalu dipaksakan masuk ke dalam alur cerita.

KEHIDUPAN romance Kinanti sungguh sial. Gagal sebelum mencoba dengan Dimas. Kemudian ia menyukai Carl, dan Dimas terlupakan. Tapi nahas, Carl sudah punya pacar. Lantas dengan mudahnya Kinanti menyukai Seth, tapi sial, ternyata Seth.... Saya mengerutkan dahi berkali-kali membaca bagian kisah percintaan Kinanti ini. Agak terlalu didramatisasi, yang diperparah oleh karakter Kinanti yang terlalu mudah jatuh cinta. Selain mudah jatuh cinta, Kinanti juga sosok yang pesimis. Untunglah ada Rey, sahabatnya, yang selalu optimis dan mampu memotivasinya. Selain itu, Kinanti juga polos dan cenderung naif. Contohnya ada di halaman 32,
"Coba bayangkan bagaimana aku berkomunikasi dengan orang asing menggunakan bahasa Inggris jika nilaiku saja sulit menembus angka tujuh?"
DARI kalimat itu terlihat dua karakter Kinanti sekaligus: pesimis dan polos. Polos, karena ia tidak tahu bahwa nilai pelajaran bahasa Inggris tidak menentukan bisa tidaknya kita berkomunikasi dengan orang asing. Mungkin menentukan, kalau itu nilai TOEFL, TOEIC, atau IELTS. Pesimis, karena ia sudah menghakimi diri tak bisa berkomunikasi dengan orang asing, hanya karena nilainya sulit mencapai angka 7. Mengapa tak mencoba belajar dengan bantuan Rey? Bukankah Rey salah satu murid terpandai di sekolah, termasuk dalam pelajaran bahasa Inggris?
"Melupakan kesedihan bahwa aku tidak akan bertemu dengan orang tuaku." (hlm. 97)
KALIMAT tersebut juga menunjukkan betapa pesimisnya Kinanti, padahal itu baru percobaan pertama dalam usaha pencarian orang tuanya. Aneh, padahal Kinanti pernah mengatakan juga bahwa ia sadar kalau pencariannya ini akan sulit karena hanya berbekal alamat yang diberikan puluhan tahun lalu. Sangat mungkin orang tuanya sudah pindah alamat, kan?

SELAIN itu, karena terbiasa hidup berkekurangan, perhatian Kinanti terlalu tersedot pada bagaimana caranya menghasilkan uang. Hal ini membentuk persepsi bahwa Kinanti materialis dan kurang mensyukuri hidup.
"Aku bukan berasal dari keluarga kaya yang mampu menutup semua mulut berbisa itu dengan uang. Setidaknya, jika memiliki banyak uang aku lebih mudah mendapatkan apa yang kuinginkan. Sayang, aku tetap seorang anak yang bisa disebut yatim piatu, dengan seorang Kakek yang hanya berjualan keliling."
(Kalau tidak materialis, Kinanti akan berpikir untuk "menutup semua mulut berbisa itu" dengan membuktikan bakat menarinya. Ini juga mempertegas kalau Kinanti lebih cenderung naif ketimbang polos. Kalau polos, ia mungkin tidak tahu bahwa mulut bisa ditutup pakai uang. Tapi, karena ia menganggap bahwa semua mulut bisa ditutup pakai uang, maka ia naif. Maaf kalau kalian bingung >,< saya memang kurang pandai menjelaskan wkwk.)
"Aku hanya berpikir bagaimana Kakek cepat sehat kembali serta aku bisa mendapatkan banyak uang untuk pengobatannya. Uang, uang, dan uang. Hanya itu yang ada di otakku sekarang." (hlm. 50)
NAMUN, di luar semua pengakuan akan karakter negatifnya itu, Kinanti punya kualitas positif juga. Ia mampu bangkit dan move on (dengan cukup cepat), baik dari gagalnya cinta maupun dari peristiwa pahit meninggalnya beberapa tokoh.

REY adalah sosok sahabat yang sangat baik, bahkan terlalu baik. Ia tak lelah memotivasi Kinanti untuk maju. Mulai dari perihal pemilihan ketua tari, meminta pada Carl untuk membantu Kinanti belajar bahasa Inggris, sampai memberikan honor sebagai penari jathil pada Kinanti. Maklum, sih, Rey menari jathil bukan untuk mencari uang, karena ia berasal dari keluarga berada. Selain itu, ia juga pintar dalam hal akademik. Rey juga seorang gadis yang tidak akan tinggal diam melihat sahabatnya dihina.

GAYA bahasa yang digunakan penulis terlalu baku untuk obrolan antaranak SMA. Tapi kebakuannya itu juga tidak konsisten.
"'Kita menari sampai malam, Rey. Kalau tahu bahwa Pak Kusno tidak hadir hari ini, aku memilih bolos, deh!'" (hlm. 12)
KATA "bahwa" dan "tidak" membuat kalimat terkesan sangat baku, tapi kemunculan kata "deh" di akhir mencederainya. Kemudian, kalimat balasan Rey juga galau antara bahasa baku atau bahasa gaul, atau campuran. Kalaupun campuran, kadarnya kurang menyatu dengan pas.
"'Ye, kita akan ulangan umum sebentar lagi, Kin. Kalau kamu sering bolos, gimana kamu akan mengejar ketinggalan?'
'Masih ada kamu, Rey. Kasih contekan, dong!' Aku mengedip pada Rey." (hlm. 12)
ADA juga cara penuturan penulis yang kurang saya pahami sehingga mengurangi kenyamanan membaca dan membuat penuturannya kurang lancar. Hal ini disebabkan oleh penggunaan kata/istilah yang kurang tepat atau kekuranglogisan adegan. Contohnya:

1. "Aku tengah memperbaiki pekerjaan rumah saat Carl muncul di depan kelas dengan tampang biasanya." (hlm. 67)
"Tampang biasanya" ini maksudnya apa?

2. "Carl setuju dan kami menyusuri kampung sebelum mencapai ruang belakang yang digunakan Kakek untuk menyimpan semua peralatannya." (hlm. 77)
Adegan ini kurang logis. Di halaman 76 disebutkan bahwa "Carl telah tiba di halaman rumah Kakek dengan senyum mengembang", berarti adegan ini mungkin sekali berlangsung di halaman rumah Kakek. Lantas, mengapa untuk mencapai ruang belakang rumah Kakek mereka perlu "menyusuri kampung"? Seolah awalnya mereka berdua ada di mulut gang masuk kampung. Atau ruang belakang dan halaman rumah Kakek terpisah oleh kampung. Keren banget, ya?

3. "celana panjang mencapai lutut" (hlm. 101)
Frasa tersebut menunjukan penggunaan kata sifat yang kurang tepat. Seharusnya itu namanya celana tiga perempat, atau simpelnya celana selutut, bukan celana panjang. Kalaupun panjang, maka akan lebih cocok untuk menggambarkan bahwa ia mencapai mata kaki, misalnya. Kalau hanya mencapai lutut, maka itu belum tergolong celana panjang.

4. "... aku datang ke acara reuni sekolah di RJ, semacam kafe bernuansa western yang di setiap sudut dominan warna merah menyala." (hlm. 161)
Mungkin akan lebih tepat jika "yang setiap sudutnya didominasi warna merah menyala".

5. "Ingatanku sungguh bagus untuk mengingat postur dan wajah seseorang meski kini ia tidak seideal dulu, Ratih, tentu saja." (hlm. 163)
Kata "seideal" dulu terlalu abstrak dan general. Coba kalau diganti dengan "tidak secantik/selangsing/semenarik/seseksi dulu".

6. "'Untung saja aku masih cukup seksi untuk berkeliling. Ya, setelah melahirkan putra pertamaku dua bulan lalu, aku menjalani diet dan kembali ideal.' Ratih nyinyir dan memamerkan pinggulnya... (hlm 163)
Ucapan Ratih di bagian "masih cukup seksi untuk berkeliling" itu kurang bisa saya pahami maksudnya. Berkeliling ke mana? Mengapa hanya untuk berkeliling harus cukup seksi dulu? Dan lagi-lagi, kata seabstrak "ideal" muncul.

7. Penggunaan kata "Amerika" (hlm. 32), yang seharusnya "Amerika Serikat", karena penggunaannya merujuk pada negara, bukan benua.

8. Grammar yang kurang tepat.
"'I mean, we're friend and learn everything together.'" (hlm. 68)
Lebih tepat jika: "I mean, we're friends, and we learn everything together."

KOVER novel ini cukup simpel, dengan warna dasar putih dan background seperti kertas yang lecek. Gambar kuda-kudaan mewakili penari jathil. Dua frame berisi foto perempuan dan laki-laki mungkin menggambarkan sosok orang tua Kinanti. Kemudian, dari membaca judul novel ini, susah ditebak alur ceritanya. Lain dengan, misalnya ketika saya mendengar judul novel terbaru Christian Simamora, "Tiger on My Bed" dan "Meet Lame". Yang pertama langsung bisa saya bayangkan sebagai novel contemporary romance yang tokohnya disimbolkan sebagai harimau, dan melibatkan banyak adegan hot di atas ranjang. Kalau yang kedua, bisa dibayangkan sebagai kisah kebalikan dari "meet cute". Nah, kembali ke novel ini. "Interval", judul ini mungkin mewakili masa antara kejadian di masa lalu (kisah orang tua Kinanti) dengan kejadian masa kini (kehidupan Kinanti masa SMA) dan masa depan (petualangan Kinanti mencari orang tuanya).

PESAN moral yang ingin disampaikan penulis mungkin merupakan negasi dari semua karakter negatif Kinanti:
1. Alangkah menyenangkannya hidup ini jika kita tidak mudah jatuh cinta dan baperan.
2. Lebih sering-seringlah optimis ketimbang pesimis, apalagi untuk hal-hal yang belum dicoba.
3. Uang bukanlah segalanya.
4. Kaum LGBT juga manusia, yang punya hak-hak asasi.

KESIMPULAN:
1. Karakter Kinanti sukses bikin saya kesal.
2. Kembali lagi ke testimoni Guntur Alam. Nyatanya, meski alur cerita novel ini runut, tak menjadikannya benar-benar runut. Adegan yang tiba-tiba terjadi memberi kesan ada yang bolong dari alurnya. Oleh karena itu, cerita ini jadi tidak mudah dipahami (selain karena gaya bahasa penulis yang membutuhkan usaha keras untuk bisa dinikmati).
3. Rating 2 bintang saya berikan untuk novel ini, karena saya mengapresiasi niat baik penulis untuk meleburkan lokalitas kota Ponorogo dalam Interval.

5 August 2015

[Resensi TRILOGI DARAH EMAS #2] Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus

Judul: Gadis Buta dan Tiga Ekor Tikus
Penerjemah: Meiliana K. Tansri
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-979-22-5736-6
Harga: Rp 10.000,00 (obral)



[Apa hubungannya jawaban atas teka-teki itu dengan nafkah untuk Sakim? Pasalnya, hingga buku ketiga berakhir dan teka-teki itu terjawab, tak ada perihal tentang nafkah disinggung. Atau mungkin saya yang melewatkannya, hmm.]

Dua puluh satu tahun setelah bayi Mempelai Naga lahir.

Putri Naga ternyata selamat, setelah ibunya dibunuh Datuk Itam pasca-melahirkan. Saat itu, sang bayi tak kunjung membuka mulutnya, sehingga Naga tak bisa memberinya mustika di lidahnya. Alhasil, bayi itu tumbuh menjadi seorang gadis buta. Leng Cu, nama gadis itu, dibesarkan oleh Rombeng, yang mengaku sebagai kakeknya. Rombeng mengajarinya bela diri dan mengajarkannya bahwa “cacat tidak berarti tidak berdaya, tidak berguna, dan hanya pantas dikasihani” (hal. 28). Selama ini mereka tidak lagi tinggal di Jambi. Setelah Rombeng memberitahu tentang tujuan penting yang Leng Cu bawa sedari lahir sebagai Putri Naga, mereka merantau ke Jambi untuk menggali Kerajaan Kemingking dan menemukan mustika Naga.

Perjalanan mereka tidaklah mudah. Hartanto dan Datuk Itam masih terus melacak keberadaan Putri Naga, meski Datuk Itam punya tujuan lain. Akibat membunuh Mempelai Naga, tujuh sisik Naga tertancap di sekujur sistem pencernaannya dan menimbulkan luka abadi yang hanya bisa disembuhkan oleh Putri Naga. Sementara itu, Hartanto tetap keras kepala, padahal Datuk Itam sudah memperingatkannya untuk menjauhkan cucunya, si Sumbing alias Xander, dari Jambi—dari Putri Naga. Takdir menemukan jalannya sendiri untuk mempertemukan Xander dengan Rigel, ibunya, dan juga dengan Putri Naga.

Ketika Hartanto menyerang rumah Rombeng dan berhasil membunuhnya, Putri Naga berhasil melarikan diri dengan bantuan tiga ekor tikus. Tiga ekor tikus itu, Akyg, Mnem, dan Noakh, sebenarnya adalah pangeran, penasihat raja, dan hulubalang dari Kerajaan Kemingking, yang percaya bahwa Putri Naga dapat membuat mereka menjelma kembali jadi manusia.

Banyak orang menggantungkan nasibnya pada Putri Naga. Namun setelah sisik Naga dari tubuh Datuk Itam berpindah ke tubuh Leng Cu, gadis itu jadi tak sama lagi. Kekuatan jahat Datuk Itam telah mencemarinya, menjadikannya manusia yang haus kekuasaan. Setelah situs Kemingking berhasil digali dengan bantuan Reuben Moore, teman Rigel, yang adalah seorang arkeologis, Putri Naga mengambil mahkota kuno yang seharusnya dikenakan oleh raja yang akan dinobatkan, kemudian menghilang.

***


Novel dimulai dengan adegan ajaib di kebun binatang Jambi, ketika seorang pawang bernama Sakim melepaskan semua hewan di sana. Katanya, seekor harimau bernama Sultan-lah yang menyuruhnya. Sultan juga yang kemudian memberinya teka-teki tentang putri dan raja.

Sejak membaca buku pertama, Mempelai Naga, saya mendapati bahwa penulis piawai dalam memilih adegan pembuka novelnya. Adegan pembuka di buku kedua ini bahkan lebih merenggut perhatian daripada di buku pertama. Jawaban teka-teki Sultan tampak sangat eksplisit. “Putri apa mencari mata” tentu saja adalah sang Putri Naga yang buta, yang sedang mencari mustikanya. Lalu, “tikus apa menobatkan raja” tentu saja si tikus jadi-jadian itu. Namun, tanpa disadari, penulis menebar jebakan di sini. Sang raja yang awalnya saya kira adalah Akyg (karena ia adalah pangeran, jadi seharusnya ia yang menjadi raja di masa mendatang), ternyata adalah makhluk lain.

Banyak tokoh menyesaki plot novel ini. Tokoh-tokoh baru pun bermunculan. Ibaratnya mati satu tumbuh seribu. Satu tokoh mati, tokoh-tokoh baru berdatangan. Sakim, Sultan, tiga ekor tikus, Reuben Moore, Xander, dan Leng Cu sendiri. Keberadaan masing-masing tokoh ini menjanjikan peran penting, meski belum terlalu tampak di buku kedua. Reuben Moore yang muncul untuk membantu penggalian Kerajaan Kemingking tentu saja punya peran penting, tapi motivasi pribadinya belum terungkap. Sakim dan Sultan juga punya peran penting untuk mengungkap siapa raja sebenarnya, meski masih akan terungkap di buku ketiga.

Leng Cu, sebagai Putri Naga tentu saja penting, karena ia menjadi center of attention. Awalnya, ia adalah protagonis cerita. Namun, di akhir buku, penulis memutarbalikkan perannya jadi antagonis. Bukan antagonis murni, sih, lantaran perubahan Putri Naga disebabkan faktor yang tak disadarinya. Bagian perubahan tokoh putih jadi hitam ini sangat menarik.

Tiga ekor tikus muncul sebagai simbol pengharapan dan kesetiaan dalam menantikan keselataman, yang dihadirkan dalam sosok Putri Naga. Bersama dengan situs Kemingking, ketiganya merupakan simbol sejarah yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah modernitas dan masyarakat yang tak acuh.

Xander, muncul dengan dualisme. Di satu sisi, ia harus menjadi cucu yang baik bagi Hartanto, kakeknya, karena ia menyayanginya. Namun, di sisi yang lain, ia sangat tak setuju terhadap keserakahan Hartanto; perusakan lingkungan dan situs Kemingking, juga keabaiannya terhadap para pekerjanya. Xander muncul sebagai simbol akan diri kita, manusia yang ibaratnya berada di pinggir jurang. Kita tahu bahwa perusakan lingkungan terjadi di depan kita, atau bahkan kita sendiri yang melakukannya dengan terpaksa, tapi kita belum berani untuk menghentikannya.

***

Dibandingkan buku pertama, alur di buku kedua ini mengalir dengan tempo yang lebih cepat dan padat. Banyak elemen cerita yang memiliki ceritanya sendiri, tapi berpusar jadi satu dalam konflik utama: pencarian mustika. Alur yang padat ini di satu sisi mendukung kompleksitas cerita dan membantu penulis untuk menceritakan banyak hal dalam jumlah halaman yang relatif tidak tebal. Di sisi lain, diperparah dengan banyaknya tokoh, buku ini berpotensi membingungkan pembaca. Saya sering lupa akan satu tokoh, atau satu adegan yang telah terjadi, hingga harus membolak-balik lembaran buku.

Selain isu sejarah yang telah saya sebutkan sebelumnya, penulis juga kerap menyindir Indonesia. Salah satu contohnya, ketika ada kecelakaan kerja di pabrik kayu lapis Hartanto. Saat itu, Xander yang lama tinggal di luar negeri, menyarankan agar memanggil polisi. Hartanto menolaknya dengan alasan: “Polisi di sini tidak sama dengan di Eropa”. Di benaknya saat itu terbayang penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan polisi atas bayarannya. (hal. 92)

Contoh yang lain adalah tentang isu sumber daya alam. Selama ini Indonesia terlalu percaya diri akan kekayaan sumber daya alamnya, sehingga menghamburkannya tanpa rasa berdosa.


Selain itu, penulis juga seperti berusaha mengangkat nama baik wartawan.


Seperti biasa, tulisan Meiliana K. Tansri penuh dengan bahasa baku yang mudah dimengerti dan anti typo. Namun, ada satu kalimat yang gagal saya pahami.
“Membohongi Hartanto adalah tindakan berisiko, tetapi Datuk Itam merasa tumpukan tahun lalu di belakang namanya sudah cukup akomodatif untuk mengganjal jiwa kalau kemarahan Hartanto menerjangnya.” 
(hal. 121)
Hmm, “tumpukan tahun lalu” maksudnya apa, ya?

Secara keseluruhan, saya lebih menikmati buku kedua ini daripada yang pertama. Pada akhirnya, saya akan menutup resensi ini dengan satu teriakan, “Temukan raja!”

Sila kunjungi tautan ini untuk membaca resensi buku pertama, Mempelai Naga. ^^

 
Sumber foto di sini.

bloggerwidgets