Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

10 March 2018

Untuk Apa Surga Diciptakan? (Sebuah Resensi atas "Puya ke Puya" karya Faisal Oddang)


Kenapa surga diciptakan?
Surga diciptakan karena…
(hlm. 3)

Faisal Oddang menyuguhkan padaku
semangkuk sup yang sangat tidak enak,
tapi terpaksa kulahap juga karena aku kelaparan dan
itu satu-satunya makanan yang bisa kudapatkan.

(Allu bukanlah Soe Hok Gie, jelas. Ia, yang awalnya kukira mahasiswa aktivis yang menolak dibukanya tambang nikel demi memperjuangkan apa yang dia yakini, ternyata melakukan itu atas suruhan orang yang memberinya uang.

Allu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Namun suatu hari, tibalah padanya kabar tentang meninggalnya Ambe—ayah—lewat suara Indo—ibu—di telepon. Betapa hatinya seakan rontok begitu saja: ia telah berjanji pada Ambe untuk jadi sarjana tahun itu, tapi Ambe keburu tiada untuk dapat menyaksikan ia diwisuda. Penderitaan itu diperparah oleh keberangkatan dosen pembimbing skripsinya ke luar negeri untuk melanjutkan studi.

Skripsinya terbengkalai. Bagaimanapun, yang terpenting saat ini adalah ia harus kembali ke tanah kelahirannya, sebagai satu-satunya keturunan Ambe. Ia harus membuat keputusan. Keputusan-keputusan berat berkaitan dengan kematian Ambe dan masa depan nama baik keluarga besar Ralla.

… untuk sampai ke surga,
Ambe harus diupacarakan,
dipotongkan puluhan kerbau dan ratusan babi.
Hal itu tidak mudah, tetapi demi derajat dan adat,
sebagai keturunan bangsawan—tana bulaan
Ambe harus melakukannya, lagi-lagi itu kata Ibu Pohon.

(Maria, hlm. 12)

Untuk melaksanakan upacara rambu solo itu, tentu tak sedikit uang yang dibutuhkan. Sebagai mahasiswa kritis, Allu tak setuju untuk melaksanakan adat itu, yang dianggapnya tidak relevan lagi dengan situasi masa kini. Sementara itu, anggota keluarga besar memaksa agar upacara itu tetap diadakan. Kalau tak ada rambu solo, martabat kerabat akan tercoreng. Keluarga bangsawan, pemimpin adat meninggal kok tak ada rambu solo. Apalagi telah terbukti bahwa adat tersebut selama ini menimbulkan masalah; ia menyebabkan orang hidup dalam lingkaran utang, di bawah bayang-bayang “harga diri”.

Lihatlah, begitulah adat membuat rasa pamrih,
begitulah adat secara halus menanamkan paham
tidak ada yang gratis di dunia ini.
Bahkan tenaga harus dibayar—
di masyarakat tradisional yang masih jauh dari
individualisme masyarakat kota.

(Allu, hlm. 136)

Di perutku sup itu bergolak.
Aku gelisah.
Ia seperti ingin keluar tapi
aku harus menahannya agar perutku tetap terasa kenyang.

(Seperti dalam novel Saman, aku menyaksikan kembali perebutan lahan warga lokal oleh perusahaan [bersama pemerintah dan/atau bersama militer]—kali ini adalah perusahaan tambang nikel. Dulunya Ambe menolak keras masuknya pertambangan ini di kampung mereka, sementara Allu mendukung Ambe dari Makassar dengan bantuan teman-teman mahasiswanya. Tapi, akhirnya para warga menurut saat Pak Kades turun tangan untuk melicinkan masuknya tambang itu.

Di sini, aku teringat akan Salim Kancil, yang darahnya merembesi pasir Pantai Watu Pecak dan suara-suaranya tak akan mati meski ia telah mati.

Pada akhirnya, karena tertekan oleh sana-sini, Allu akhirnya menentang Indonya dan diam-diam menjual tanah milik keluarga pada perusahaan serta tongkonan mereka yang akan dihancurkan. Memang, Allu mendapat sejumlah banyak uang. Tapi perusahaan melakukan itu dengan jebakan licik dan menyakitkan. Namun Allu memang bukanlah seorang pahlawan. Dengan mudah, ia malah masuk dan tinggal dalam jebakan itu: cinta, lalu sakit hati dan rasa kecewa begitu merasukinya hingga ia melakukan hal yang kuharap tak ia lakukan.

Aku kecewa, pemuda kritis seperti Allu berakhir begitu.

Aku terenyak; ekspektasiku tergugu. Bukankah kebanyakan dari kita juga begitu: bukan seorang “pahlawan”? Dan tak bisa disangkal, kita bukannya tak butuh uang. Bagi kebanyakan dari kita, memastikan makanan selalu tersedia di rumah barangkali lebih utama ketimbang berdemonstrasi di depan istana negara menyuarakan ketidakadilan dengan risiko-risiko, salah satunya: ketidakpastian.
Aku terenyak lagi. Aku kesal tapi, sial sekali, aku tetap tak bisa begitu saja menyalahkannya.)

Sup itu naik ke kerongkonganku.
Cairan kentalnya menjelma juluran
tangan-tangan dan mencekikku.

(Di dalam sup pahit bernama Puya ke Puya ini, Faisal bermain-main dengan racikan bumbunya. Ia menggunakan beberapa sudut pandang berganti-ganti, dengan mekanisme pergantian yang unik. Termasuk di antaranya adalah sudut pandang roh gentayangan Maria dan roh gentanyangan Ambe. Maria, adik Allu, telah meninggal sejak bayi dan dimakamkan dalam tubuh pohon tarra—makam passiliran.

Katanya lagi, aku tinggal menunggu tubuhku
dihancurkan batang pohon,
menyatu bersama getahnya yang kami susui,
menyatu dengan ranting, menjadi daun, lalu kering,
lalu jatuh kembali ke tanah, kembali ke asal,
dan kembali ke surga.

(Maria, hlm. 11)

Dari kisah Maria inilah, aku mengetahui kisah tentang kehidupan di dalam makam passiliran; tentang dalih “kesucian yang harus dijaga” yang malah menghalangi percintaan antara dua remaja—apakah percintaan memang sebegitu menakutkannya hingga harus disensor sedemikian rupa agar tak meracuni mereka yang dianggap “belum cukup umur”?; tentang peristiwa pencurian fosil bayi dari dalam tubuh tarra demi dijual dengan harga yang tinggi untuk membiayai rambu solo. Betapa ironis!

Sementara itu, roh gentayangan Ambe dilanda kegalauan tiada akhir, yang makin parah ketika mendapati kondisi keluarga besar Ralla makin kacau. Betapa seorang arwah tak gundah setengah mati (padahal ia sudah mati) ketika menyadari bahwa kematiannya hanya akan menyisakan beban besar bagi keluarga yang ia tinggalkan. Terlebih, di sisi lain, ia tak bisa memungkiri bahwa ia sendiri pun ingin diadakan rambu solo agar bisa “tiba di surga selayak bangsawan, menunggang kerbau belang diiringi ratusan babi dan puluhan kerbau lainnya” (hlm. 31).

Dulu, aku pernah berharap untuk menjadi To Membali Puang
menjadi dewa, ketika kelak tiba di surga.
Aku ingin, bahkan sampai saat ini
aku masih diam-diam memeram keinginan itu.

(Ambe, hlm. 32))
Tangan-tangan sup itu mencekikku
dan aku tak kunjung mati.

(Sampai akhir, seperti para arwah yang telah menuju puya, dan tetap tak bisa menjawab…, aku terenyak. Ternyata aku pun tetap tak bisa menjawab.

“Untuk apa surga diciptakan?”

Mengapa surga diciptakan jika keberadaannya malah menghancurkan kehidupan orang-orang yang masih hidup di bumi? Mungkin, mungkin, karena yang “menciptakan” surga itu adalah manusia sendiri...

Ah, Faisal Oddang, kau menanyakan pertanyaan yang sulit sekali.

Terus terang, kupikir novel ini lebih baik dibandingkan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, juara kedua dan ketiga sayembara novel DKJ 2014.)

identitas buku

Judul: Puya ke Puya
Penulis: Faisal Oddang
Editor: Christina M. Udiani
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: II, Agustus 2016
Tebal: xii + 218 halaman
ISBN: 978-602-424-126-1
Harga: Rp 50.000,00

18 February 2015

[Resensi "Yang Hidup dan Mati"] Budaya Bengali Klasik yang Menyimpan Banyak Kejutan


Judul Buku                       : Yang Hidup dan Mati
Penulis                            : Rabindranath Tagore
Penerjemah                     : Sovia Veronica Purba
  (diterjemahkan dari Selected Short Stories, London: Penguin Books)
Tebal                              : 384 halaman
Penerbit/cetakan              : DIVA Press/Cetakan I, Desember 2014
ISBN                              : 978-602-255-771-5
Harga                             : Rp 60.000,00

Rating : 

Buku ini merupakan kumpulan tiga puluh cerpen pilihan karya Rabindranath Tagore, yang diterbitkan pertama kali di beberapa majalah[1] Bengali pada tahun 1891 – 1900. Sebuah pendahuluan setebal 35 halaman yang sepertinya ditulis oleh pihak penerjemah dari Penguin Books memiliki peran tersendiri dalam buku ini. Bagian pendahuluan yang berisi biografi singkat Tagore itu cukup menjawab pertanyaan awal pembaca yang awam akan karyanya (layaknya saya), seperti tema cerpen seperti apa yang biasanya beliau tulis? Berikut ini adalah pengakuannya.
“...ceritaku dipenuhi oleh perangai orang-orang desa.... Ada sebuah daya tarik universal yang tercatat dalam diri mereka, karena manusia di mana pun adalah sama.” (hal. 12)
Bagian pendahuluan ini juga menyelipkan latar belakang mengapa Tagore lebih memilih untuk menuliskan kehidupan orang-orang desa dibandingkan dengan kehidupan di kota[2].

Orang Desa versus Orang Kota

Sumber di sini.

Memang, Tagore menjadikan orang-orang desa sebagai tokoh utama ceritanya, dan berbagai masalah hidup mereka sebagai pemandu plotnya. Orang desa ini terwakili oleh sosok Kadambini (Yang Hidup dan Mati). Tokoh ini terbelah status hidupnya, berada di antara “hidup” dan “mati”, yang menjadi simbol krisis jati diri orang desa yang mengalami transisi menuju kehidupan modern. Sifat orang desa yang peka dan penuh kasih muncul dalam sosok Ratan (Kepala Kantor Pos). Juga dalam kerelaan Raicharan (Kembalinya si Tuan Kecil) menyerahkan anaknya[3] pada majikannya agar hidupnya terjamin, lantaran ia amat miskin. Tagore juga menggambarkan kepolosan (yang teramat berlebihan) orang desa melalui karakter Taraprasanna (Popularitas Taraprasanna), sehingga ditipu oleh orang-orang kota (Kalkuta).

Tak semua orang desa berkarakter polos. Ternyata ada juga yang kikir, seperti Yajnanath (Penyerahan Kekayaan), yang sedemikian kikir mengumpulkan harta hingga direlakannya istrinya meninggal daripada jika harus menghabiskan uang untuk memanggil dokter. Tagore juga mengangkat cerita tentang orang desa yang menjadi orang kaya baru, kemudian pindah ke Kalkuta (tokoh Baidyanath dalam Anak Tumbal). Fenomena orang kaya baru ini memiliki kekuatan mengubah orang menjadi sombong dan menimbulkan ironi tersendiri.
“Baidyanath justru duduk di tengah-tengah makanan berlimpah dan sibuk memikirkan siapa kelak yang harus memakannya. Seluruh wilayah negara yang sedang kelaparan menatap piring kosongnya dan bertanya-tanya apa yang harus dimakannya.” (hal. 298)
Lebih parah lagi, Tagore mengeksplorasi bahwa di tengah kemiskinan pun dapat terjadi perselisihan antarkeluarga karena perebutan harta. Hanya gara-gara perebutan sebuah parit pembatas kedua rumah beserta sebatang pohon limau yang tumbuh di satu sisinya, memecah kerukunan keluarga Harachandra dan Gokulchandra (dalam Perpecahan). Harga diri dan harta yang tak seberapa itu merusak persahabatan di antara kedua anak mereka, Banamali dan Himangshu.

Berlawanan dengan kata-katanya sendiri, nyatanya banyak cerpen Tagore yang justru bercerita tentang kehidupan orang kaya, sebagian besar berprofesi sebagai zamindar[4]. Bahkan, zamindar yang berasal dari Nayanjor dipanggil dengan gelar bangsawan (dalam Thakurda). Dalam cerpen ini, Kailas Babu adalah keturunan keluarga kaya itu, tapi sudah tak tersisa lagi warisan baginya, sehingga ia tak ubahnya orang miskin. Tapi, penampilannya membuat tetangganya mengira ia masih sok kaya, padahal itu semua dilakukannya semata untuk menjaga martabat nenek moyangnya. Seorang zamindar bijaksana, Matilal Babu (dalam Sang Tamu) menemukan kekayaan lain di luar kekayaan materinya, semenjak bertemu dengan Tarapada. Dari kepribadian sederhana bocah brahmana itu ia belajar membuka pikirannya. Calon menantu untuk anak perempuannya tak harus berasal dari keluarga yang selevel dengannya, karena ada yang lebih penting daripada itu, yaitu kepribadian yang baik, seperti yang dimiliki Tarapada. Namun, bocah itu ternyata memiliki kekayaan jiwa yang bebas hingga ia tak mau terikat selamanya akan apa pun.

Jangan Anggap Remeh Seorang Anak

Sumber di sini.

Mungkin Tagore hidup sebelum kutipan terkenal itu ditulis, tapi kepekaannya akan kehidupan telah membuatnya menuliskan cerita-cerita di mana seorang anak memiliki peran yang penting dalam membalik kehidupan orang dewasa. Petikan di atas sangat sesuai dengan yang Tagore sampaikan melalui Terkabulnya Sebuah Keinginan, di mana ayah dan anak (Subal dan Sushil) saling belajar dari diri satu sama lain setelah sang Dewi Keinginan membuat mereka bertukar tubuh. Cerita serupa juga muncul dalam Sang Redaktur.
“Aku tidak begitu paham, perhatian siapa yang lebih kuat: diriku yang harus membesarkan putriku yang tidak lagi memiliki ibu dengan kasih sayang ganda, atau dia yang harus merawat ayahnya yang tidak lagi beristri.... Terlihat jelas bahwa anak kecil ini mencoba menjadi malaikat penjaga ayahnya.” (hal. 157)
Tokoh “aku” tersebut akhirnya menjadi tenar sebagai penulis, dan juga seorang redaktur majalah. Kesibukannya itu membuatnya tak lagi punya waktu untuk anaknya, dan dengan cepat hubungan mereka menjadi berjarak. Sampai kemudian anaknya sakit, dan ia sadar bahwa tulisan-tulisannya jauh tidak lebih penting dibandingkan anaknya.
Dengan bicara tentang ketidakadilan yang ditimpakan pada mereka, anak-anak memberikan pembelajaran terhadap orang dewasa. Dalam Sang Nyonya Rumah, Tagore menggunakan tokoh Ashu, yang dihina oleh gurunya yang gemar mengganti nama murid-muridnya, untuk bicara tentang perlakuan tidak adil tersebut.
“...orang umumnya mencintai namanya sendiri jauh melebihi diri mereka sendiri; mereka akan berbuat apa saja untuk memperjuangkan nama mereka.... Jika kamu mengubah nama seseorang, maka kamu mengusik sesuatu yang lebih berharga dibanding hidup itu sendiri.” (hal. 74)
Seorang anak, yang bahkan tidak disadari keberadaannya oleh sang ayah kandung, ternyata dapat menimbulkan masalah pelik, seperti dalam Anak Tumbal.
“Gurudoyal datang, kemudian mengusir perempuan dan anaknya yang kecil. Anak laki-laki kecil yang kelaparan itu ternyata adalah anak satu-satunya Baidyanath. Ratusan pendeta brahmana yang diberi gizi dengan baik dan tiga sannyasi gendut, terus memikat Baidyanath dengan janji bahwa ia akan mempunyai seorang anak, dan terus memakan makanannya dengan rakus.” (hal. 299)
Kehadiran seorang anak yang tampak tak berdaya ternyata dapat menghancurkan harapan dan rencana licik orang dewasa, seperti dimunculkan Tagore dalam Kakak Perempuan. Nilkanta, seorang bocah brahmana dalam Yang tak Diinginkan, juga mengalami kesulitan akibat perlakuan buruk yang ditimpakan Sharat padanya karena orang dewasa itu merasa tersingkir dan iri hati.

Posisi Perempuan yang Begitu Mengerikan

Sumber di sini.

Dari cerita-cerita Tagore, saya mempelajari peran dan posisi perempuan dalam budaya India zaman dulu. Dan, meski mungkin di banyak negara lain di zaman dulu para perempuan diperlakukan sama buruknya, tetap saja saya terkejut akan betapa mengerikan hal-hal yang saya temukan di sini.

PERNIKAHAN USIA TERAMAT DINI

Gadis-gadis India zaman dulu menikah pada usia kanak-kanak.
“Umurku belum genap delapan tahun ketika aku menikah.” (Anugerah Penglihatan, hal. 319)
Fenomena ini menyebabkan banyak anak perempuan yang tak sempat mengecap pendidikan. Belajar menulis pun menjadi sesuatu yang teramat salah, jika itu dilakukan oleh seorang gadis muda yang telah bersuami. Uma, yang menikah pada umur sembilan tahun (dalam Buku Latihan) mengalami hal ini. Kegemarannya menulis apa pun dalam buku latihannya menimbulkan kecaman keluarga sang suami.
“Rupanya si istri juga ingin pergi ke kantor dengan menyelipkan pena di telinganya?” (hal. 187)
Ironisnya, “Pyarimohan (sang suami) juga mempunyai sebuah buku latihan yang penuh dengan berbagai macam esai sepihak yang menusuk, tapi tak ada seorang pun berani mencuri dan memusnahkannya.” (hal. 188)

PERNIKAHAN ADALAH UPACARA JUAL-BELI

Tagore berusaha menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap adat pernikahan India yang mewajibkan orang tua si mempelai perempuan membayar sejumlah mahar kepada pihak mempelai laki-laki. Jadi, orang tua mempelai perempuan harus menanggung dua beban: menyerahkan anaknya untuk tinggal di rumah mertua[5] dan membayar mahar yang tidak sedikit. Jika gagal melunasi mahar, maka sesuatu yang buruk dapat terjadi pada anak gadisnya, seperti dalam Untung dan Rugi.

ISTRI HARUS MEMBELA SUAMI, APAPUN YANG TERJADI

Dalam masa itu, seorang istri memiliki pengabdian yang tak terhingga pada sang suami, sehingga apa pun akan dilakukan untuk menjaga nama baik suami. Tokoh “aku” yang buta dalam Anugerah Penglihatan melakukan hal semacam ini. Ketika terbukti bahwa upaya pengobatan yang dilakukan suaminya (yang adalah dokter muda) ternyata malah makin merusak matanya, ia tetap menutupi kesalahan suaminya itu.
“Seorang ibu harus membohongi anaknya; seorang istri harus membuat suaminya senang...” (hal. 322)
Bukan hanya itu, ia juga tak mengizinkan suaminya merawatnya terlalu berlebihan.
“Tidak ada laki-laki yang harus membuat janji untuk menjadi budak abadi bagi istrinya yang buta.” (hal. 326)
Pernah terjadi juga, sang suami menimpakan kesalahan pada istrinya. Dalam Hukuman, Chidam bahkan menjadikan istrinya sendiri, Chandara, sebagai tersangka pembunuhan terhadap kakak iparnya, Radha. Padahal sebenarnya kakak laki-lakinyalah, Dukhiram, yang membunuh istrinya sendiri.

ADA JUGA PEREMPUAN PEMBERANI...

Jika sebelumnya Tagore memunculkan tokoh perempuan yang mengalami perlakuan buruk oleh suaminya dan tak melakukan apa pun untuk membela dirinya, maka kini sebaliknya. Melalui tokoh Giribala dalam Ketenangan yang Lembut, Tagore menyatakan bahwa perempuan juga dapat membela dirinya sendiri. Juga melalui keteguhan tokoh Sashi dalam membela adiknya di hadapan sang suami (Kakak Perempuan).

Tagore juga memunculkan kontradiksi, dengan adanya sosok perempuan berpendirian kuat dan sangat kaku, yang berlawanan dengan kepribadian umum para perempuan lainnya. Tokoh ini adalah Jaylkali dalam Dilarang Masuk.
“Perempuan ini memiliki semua kelebihan yang seharusnya dimiliki seorang laki-laki.... Para lelaki di desa itu juga takut kepadanya....” (hal. 190)

Pada Akhirnya....

Tagore menggunakan hal-hal gaib untuk menimbulkan kesan dramatis terhadap ceritanya. Seperti saat ia menciptakan kejutan yang mustahil di bagian akhir Kembalinya si Tuan Kecil. Ia juga menggunakan sosok hantu, seperti dalam Kerangka. Beberapa kali Tagore menggunakan sudut pandang orang pertama, dan kadang muncul hanya sebagai sosok tersembunyi sebagai narator “aku”. Ajaibnya, ia juga kadang muncul secara tiba-tiba (padahal sebelumnya tak ada narator “aku”) di satu bagian cerita sebagai tokoh pencerita, si “aku”, seperti dalam Kakak Perempuan.
“Ketika ia mengucapkan selamat tinggal kepada adiknya, Sashi mengatakan bahwa ia akan bertemu lagi dengannya. Aku tidak tahu, apakah janji itu telah dipenuhi olehnya atau tidak.” (hal. 232)
Yang sangat disayangkan dari buku ini adalah keberadaan footnote. Tak ada footnote saat dibutuhkan, dan malah ada saat keberadaannya tidak bermanfaat, seperti footnote pada halaman 273. Footnote ini menjelaskan arti kata subal dan sushil, padahal sudah dijelaskan dalam narasi. Banyaknya istilah dalam bahasa India yang digunakan Tagore menimbulkan kesulitan pemahaman cerita. Memang, arti istilah-istilah tersebut telah dijelaskan di bagian glosarium, tapi banyak juga yang tidak ada di sana. Tentang glosarium ini, saya tidak terlalu nyaman menggunakannya. Ketika sedang asyik membaca, saya harus mencari arti suatu istilah di bagian belakang buku, dan begitu kembali membaca cerita, saya sudah lupa tadi sampai mana. Menurut saya, lebih nyaman jika menggunakan footnote. Lagipula, meski banyak, keberadaan istilah asing ini tidak padat (tidak mesti dalam satu halaman ada istilah asing), sehingga tak masalah jika penjelasannya diletakkan di footnote saja.

Satu hal lagi yang paling disayangkan adalah penerjemahan. Karena sudah melewati dua tahap penerjemahan (India – Inggris – Indonesia), maka banyak makna yang hilang, tak sesuai, atau tak tersampaikan dengan baik. Kondisi ini menyebabkan saya kurang mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Tagore, sehingga mengurangi kenikmatan membaca. Oleh karena itu, saya hanya dapat memberikan rating 3 dari 5 untuk buku ini.





[1] Majalah Sadhana (1891 – 1895), Hitabadi (1891), jurnal Sakha o sashi (1895), dan Bharati (1898 – 1900).
[2] Dalam banyak cerpennya, istilah kota sering merujuk pada Kalkuta.
[3] Yang anehnya mirip dengan almarhum putra sang majikan.
[4] Pemilik saham tanah dan pengumpul pajak.
[5] “Rumah mertua” dalam bahasa India adalah “svasur-bari”, yang juga berarti penjara. Dalam Kabuliwallah, tokoh Rahamat menggunakan permainan kata antara penjara dan rumah mertua.

22 December 2014

Resensi ERAU KOTA RAJA - Meriahnya Erau Tumpas Galau

Judul Buku                         : Erau Kota Raja
Penulis                               : Endik Koeswoyo
Editor                                : Diaz
Tebal                                 : 204 halaman
Penerbit/cetakan                : PING!!!/Cetakan I, 2015
ISBN                                 : 978-602-296-056-0
Harga                                 : Rp 40.000,00
Rating                                 : 





Kamu pasti sudah tahu kalau kebudayaan Indonesia itu sangat kaya. Saya tidak ragu, kamu pasti juga tahu banyak festival kebudayaan yang sampai saat ini masih dirayakan oleh masyarakat dari berbagai suku. Tapi, apakah kamu bisa menyebutkan satu saja, festival kebudayaan Indonesia yang diadakan dalam skala internasional? Atau kamu pernah menonton secara langsung?

Kalau belum, langsung saja, mari kita jalan-jalan ke pulau Kalimantan. Kenapa Kalimantan? Karena saya pernah mengabdi di sana. Hehehe.

Ayo tebak, di bawah ini foto acara adat daerah mana?

Ya, benar sekali! (Saya anggap benar aja, biar kamu nggak kesal terus mencet tombol close tab halaman blog saya ini, hehehe). Nyobeng Sebujit namanya, perayaan adat suku Dayak di Kalimantan Barat, tepatnya di Kecamatan Siding, yang diadakan tiap tahun sekitar bulan Juni. Selain dihadiri oleh suku Dayak yang ada di Kalbar, perayaan ini juga diramaikan oleh orang Dayak dari Malaysia dan Brunei. Mari kita melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Timur. Ternyata, di Kutai, ada festival kebudayaan internasional, yang skalanya lebih besar, lho.


Festival Erau menjadi festival terbesar di Kabupaten Kutai, memenuhi seantero GOR Bondong Demang, Tenggarong, dengan gempita penampilan seni dan budaya. Bukan hanya budaya Indonesia, melainkan juga dari berbagai negara lain, dalam Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF). Tak aneh jika festival ini sangat ramai, lantaran nama Erau saja berasal dari kata eroh, yang artinya ramai, ribut, atau suasana yang penuh sukacita (halaman 130). Tahun 2014, Festival Erau ini diadakan pada tanggal 15-22 Juni, yang diikuti oleh 11 negara anggota Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Art (CIOFF), yaitu Belanda, Italia, Hungaria, Latvia, Rusia, Kroasia, Filipina, Korea Selatan, Kolombia, Mesir, dan Bangladesh. Keren sekali, yah?

Menari beramai-ramai di tengah stadion.

Salah satu prosesi dalam Festival Erau: Belimbur, saling menyiramkan air.
Apa kamu seperti saya, yang belum pernah menonton Erau? Kalau gitu, ini kesempatan bagus, di mana kita bisa turut hadir dalam festival itu melalui sosok seorang jurnalis majalah budaya, Kirana.

***

Baru saja putus dari Doni, pacarnya selama 4 tahun belakangan, Kirana dirundung galau. Bisa dibilang ia putus dengan terpaksa, karena pacarnya tidak kunjung menunjukkan niat untuk menikahinya di usianya yang sudah 26 tahun. Tugas meliput Festival Erau yang diutuskan oleh bosnya menjadi kesempatan Kirana untuk sejenak mengalihkan kegalauannya.

Semua hotel di Kutai sudah penuh. Kirana yang kebingungan akhirnya menginap di rumah Pak Camat Kota Raja. Suasana keramahan pedesaan yang ditawarkan keluarga Pak Camat membuatnya lekas merasa betah. Pertemuan pertamanya dengan Reza, pemuda desa yang bersikap dingin dan menyebalkan, menyulut pertemuan-pertemuan berikutnya. Ternyata, pemuda itu tak sedingin kesan awal yang ia tampilkan. Malah, Reza dengan senang hati mengajak Kirana mengunjungi tempat-tempat bagus di Kutai, dan berperan layaknya tour guide pribadi.

Waktu yang dihabiskan bersama itu ternyata menyemaikan suatu perasaan di benak Reza maupun Kirana. Tapi, ada wanita yang sudah lama dan masih setia menunggu Reza. Wanita yang telah diharapkan oleh ibu Reza untuk menjadi menantunya, Alia. Kejengkelan ibu Reza karena anaknya tidak kunjung mengabulkan keinginannya agar membuka praktik dokter membuatnya menyalahkan berbagai hal, termasuk Kirana. Alia, yang dihantui cemburu pun ikut menyerang. Keputusan harus diambil cepat. Apakah Reza orang yang tepat untuk Kirana? Atau pria itu hanya perhentian sementara dalam perjalanannya mencari cinta sejati, hmm, tepatnya calon suami?
***

Bertualang bersama Kirana mungkin akan membuatmu kagum akan sifatnya yang konsisten, mandiri, dan berani mengambil keputusan. Atau, mungkin kau jadi iri akan kemampuannya untuk cepat move on dari mantan pacar. Hehehe. Ya, dan keoptimisannya untuk menemukan cinta baru! Selama empat hari di Kutai, kau juga akan mengenal sifat konsisten tokoh Reza, pria yang berbakti pada ibunya, meski ibunya salah paham terhadapnya. Reza adalah sosok pemuda desa berpendidikan tinggi yang langka. Mengapa? Alih-alih pergi bekerja ke kota besar, ia memilih untuk tetap tinggal dan membangun desanya. Ini pasti karena jiwa nasionalismenya yang teramat tinggi. Tapi, ia juga mahir sekali bersikap dingin pada orang yang ia tak ingin mendekatinya, seperti Alia.

Mungkin kau juga akan sebal terhadap ibu Reza, Bu Tati, yang terkesan egois dan mudah salah paham. Tokoh semacam ini pasti sering kaujumpai di sinetron. Meski begitu, jangan khawatir, sang penulis nggak membesar-besarkan masalah hingga ruwet macam sinetron, kok. Malah, masalah yang dihadapi para tokoh segera diselesaikan oleh penulis, dengan solusi yang terbaik bagi semua orang.

Sedikit sebal juga terhadap Alia, gadis yang menurut saya terlalu sabar dan baik. Huh. Lain lagi dengan Doni. Jika kau ingin komitmen tinggi, mungkin sebaiknya tidak menjalin hubungan dengan pria yang tak lekas mengambil keputusan dan plin-plan seperti dia. Tokoh Pak Camat dan Ridho juga menempati peran penting dalam novel ini. Pak Camat, yang awalnya bimbang menerima Kirana di rumahnya, tapi selanjutnya ia menganggap Kirana seperti keluarga sendiri. Sementara itu, Ridho adalah tokoh yang mendistorsi cerita dengan kelakuan usilnya, yang suka menggoda cewek, juga kenaifannya. Meskipun begitu, ia terkadang bisa jadi bijak juga.
“Menurut Ridho, tidak ada yang perlu disalahkan. Hanya saja, Bu Tati dan Reza punya kemauan berbeda.” (halaman 98)
Di awal halaman pertama, saya terkesima ketika disodori kalimat-kalimat indah dan tak biasa yang menunjukkan pertarungan batin dua tokoh. Kayaknya saya bakal menyukai gaya bahasanya, nih

Tapi, ternyata, keindahan bahasa itu makin ke belakang makin luruh. Meski tidak sepenuhnya hilang, tapi saya merasa keindahan gaya bahasa narasinya semakin klise. Meski begitu, saya mengagumi konsistensi penulis dalam penggunaan gaya bahasa santai untuk dialog. Saya juga mengapresiasi penulisan tagline di setiap awal bab, yang juga bisa dibilang merupakan rangkuman inti tiap bab yang ingin ditekankan penulis.

Eh, tapi ada pengecualian, nih, untuk gaya bahasa yang digunakan Reza untuk bicara. Saya heran, ini manusia apa buku ensiklopedia? Ia memaparkan berbagai hal seputar sejarah Erau dan tempat-tempat di Kutai dengan pilihan kata yang sama sekali tidak seperti obrolan. Seolah-olah ia sedang membacakan berita, bukannya berdialog dengan Kirana. Hmmm, mungkin penulis memang membuat tokoh Reza seperti itu.
“Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara… Dalam perkembangannya, selain sebagai upacara penobatan raja, upacara Erau juga untuk… Festival Erau yang kini telah masuk dalam calendar of events pariwisata nasional….” (halaman 113-114)
Eh, tapi, ada yang bisa mengantisipasi kejenuhan, kok: penggunaan metafora yang cukup unik. Hihihi.
“Capek dengerin penjelasan kamu yang cuma muter-muter kayak kipas.” – Kirana (halaman 18)

Meskipun judulnya Erau, tetapi inti ceritanya bukanlah Festival Erau itu sendiri, melainkan masalah tentang jodoh. Apa, sih, jodoh itu? Apa definisi jodoh = takdir Tuhan = sosok pangeran berkuda putih yang dinanti-nantikan itu masih relevan di masa sekarang? Kalau menurutmu bagaimana? Apa kau sependapat dengan Kirana, yang akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri (pertanyaan di awal cerita itu)?



Novel romansa yang telah diedit dengan cermat hingga minim typo ini cocok dibaca buat kamu yang pengin menambah wawasan tentang kebudayaan Indonesia. Selain dapat wawasan baru tentang definisi jodoh menurut Kirana, kamu juga makin cinta Indonesia—dan semoga menumbuhkan jiwa nasionalisme seperti Reza! Jangan lupa tonton filmnya yang akan tayang mulai 8 Januari 2015 ^^. Oh, iya, mungkin kamu penasaran ingin menonton Festival Erau.... Saya nggak bisa beliin tiket pesawat ke Kutai (apalagi festivalnya udah lewat), tapi saya bisa share video dokumenter berikut ini. Semoga cukup memberikan gambaran (kalau kau nggak bosan duluan nontonnya, hehe).


bloggerwidgets