Showing posts with label diva press. Show all posts
Showing posts with label diva press. Show all posts

19 February 2016

[Resensi Reruntuhan Musim Dingin] Musim Dingin Berlalu, Musim Dingin Runtuh Perlahan

Judul: Reruntuhan Musim Dingin
Penulis: Sungging Raga
Editor: Ainini
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Januari 2016
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-602-391-079-3
Harga: Rp 50.000,00
Rating saya: 3/5

Sungging Raga pertama saya kenal lewat cerpen "Sebatang Pohon di Loftus Road" (Kompas, 14 April 2013), yang saya baca karena terdorong oleh rasa penasaran pasca-membaca cerpen Bernard Batubara yang berjudul "Seorang Perempuan di Loftus Road" (dalam kumcer Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri), yang merupakan tanggapan dari cerpen Sungging tersebut. Cerpen Sungging diceritakan dengan sudut pandang orang pertama di laki-laki, sedangkan cerpen Bara dari sudut pandang si perempuan. Kesan yang berhasil saya petik di perkenalan pertama dengan Sungging itu adalah tema cinta yang dibalut elemen sureal berupa mitos bahwa perempuan yang menunggu seorang lelaki yang tak kunjung datang melewati waktu janjian, akan berubah menjadi pohon. Sungging menceritakan pertemuan dan perpisahan yang menyesakkan tapi indah. Pun saya sudah bisa menangkap gaya bahasa Sungging yang syahdu, seperti perumpamaan "senyumnya yang serupa alunan nada akordion".

Ini kali kedua perkenalan dengan Sungging. Reruntuhan Musim Dingin, buku kumcer pertama dari lini "Sastra Perjuangan", berhasil membentuk pemahaman akan kekhasan cerpen Sungging. Lini penerbitan yang baru dari DIVA Press ini mencoba mengakomodasi relasi idealis antara penulis sastra, karya sastra, dan pembacanya.
"Kupikir, sebaiknya kamu jangan jatuh cinta kepada penulis. Ia lebih banyak memeras kenangan, sebanyak mungkin dari dirimu, untuk kemudian ditinggalkan." (Reruntuhan Musim Dingin, hlm. 68)
Sebagaimana dituliskan oleh Tia Setiadi dalam Kata Pengantar, "Sastra adalah seni yang memangsa dan menjarah. Apa yang dijarahnya adalah kehidupan.", penulis memeras kenangan dari kehidupannya maupun segala makhluk di sekitarnya demi melahirkan karya sastra. Gaya penulisan yang dimeriahkan oleh teknik, simbol, dan metafora, pemerasan kenyataan itu menjadi tersamarkan. Dalam cerpen-cerpennya, Sungging menggunakan bahasa yang lugas, padat, dan efektif, tapi tak lepas dari jerat metafora yang kadang tak terduga.
"Wajah perempuan itu memang cantik, ia memiliki senyum yang begitu tipis dan ringan, berat senyumnya hanya satu miligram, seperti judul lagu From Autumn to Ashes, 'Milligram Smile', tapi senyum itu begitu memukau." (Dermaga Patah Hati, hlm. 38)
'Karena senja seperti dirimu, pendiam, tapi menyenangkan.'" (Serayu, Sepanjang Angin Akan Berembus, hlm. 49)
"Wanita itu bernama Kunnaila. Hidupnya meliuk seperti ilalang, penderitaannya setebal hujan." (Biografi Kunnaila, hlm. 153)
Sungging pun gemar memainkan emosi pembaca. Gaya tuturnya melemparkan pembaca, yang sebelumnya telanjur terisap dalam jagat fiksi, kembali ke kenyataan. Seperti ulasan Tia Setiadi dalam kata pengantarnya (hlm. 12), yang menyebut teknik ini sebagai "pembocoran". Namun, sekiranya Sungging terlalu banyak membuat pengakuan dosa semacam itu, maka hancurlah segala dunia fiksional yang sedang dibangunnya.
"'Bagaimana kalau esok matahari tak terbit lagi?' Lelaki itu bertanya dengan senyum tertahan.
'Jangan terlalu sentimental. Kita tidak sedang hidup di dalam cerita surealis.'" (Selebrasi Perpisahan, hlm. 30)
"Namun Watono telah berjanji bahwa dalam cerita pendek ini dia tak berniat macam-macam pada Kunnaila, dia tak mau memaksakan konflik dan jalan cerita sesuai kehendaknya, dia hanya ingin dirinya muncul dalam cerita pendek ini meski cuma satu paragraf. Katanya, agar bisa diceritakan kembali kelak pada anak dan cucunya." (Biografi Kunnaila, hlm. 152)
Selain dengan teknik pembocoran, cerpen-cerpen Sungging tak jarang menimbulkan kesan sendu tapi dingin dan/atau datar, melalui dialog maupun narasinya. Dalam "Selebrasi Perpisahan", dialog sepasang kekasih yang akan berpisah di Terminal Tawang menguarkan aroma sendu campur ketegaran atau efek "dingin". Dari sini pembaca juga bisa menangkap bahwa ruh penting cerita justru bisa diserap melalui dialog kedua tokoh, yang menyimpan degup perpisahan tapi bersemburat ketegaran dalam usaha menerima kenyataan. Bisa dikatakan bahwa Sungging mengeksploitasi dialog dengan baik demi perkembangan cerita.
"'Kelak, entah berapa tahun lagi, aku akan berkunjung kembali ke kota ini. Dan kau pasti sudah berkeluarga.'
'Kau juga akan menikah dengan wanita lain.'
(hlm. 28)
Dalam "Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis", hal "fantastik dalam cerpen ini justru dikisahkan dengan undertone yang cenderung dingin dan datar, bahkan sesekali disusupi perdebatan ilmiah segala", begitu menurut Tia Setiadi (hlm. 9-10). Oleh karena itu, alur mencapai puncak nyaris tanpa terasa, karena sang narator menceritakan dengan gaya se-"cool" mungkin, tak turut terseret dalam arus cerita. Ia mengajak pembaca bertanya-tanya tentang keajaiban rembulan yang menangis sembari terus menjawabnya tanpa kehilangan ruh sureal. Contohnya adalah ketika ia menceritakan tentang asal-usul air mata rembulan yang jatuh di Carrow Road.
"Barangkali prosesnya lain, rembulan itu langsung menceburkan diri ke lautan, menyerapnya seperti spons, lalu melompat ke langit, dan langsung meneteskannya, jadi hanya butuh siklus satu hari satu malam." (Untuk Seseorang yang Kepadanya Rembulan Menangis, hlm. 57)
Namun, elemen surealis yang diusung dengan menyertakan perdebatan ilmiah macam begitu, malah membuat saya skeptis, sehingga susah tercebur dalam dunia fiksi sureal yang sedang diracik oleh Sungging dalam cerpen ini. Untunglah, hal serupa tak terjadi lagi ketika saya membaca "Melankolia Laba-laba", yang merupakan salah satu cerpen favorit saya di kumcer ini. Ini adalah kisah cinta yang menyedihkan, antara binatang dan manusia. Namun, jangan harap akan berakhir seperti The Princess and the Frog, yang mengisahkan bahwa si kodok berubah jadi pangeran. Bahkan si naratornya sendiri, si laba-laba bernama Sarelgaz itu, mengatakan begini:
"... tapi aku tak bermimpi kau menciumku seperti kisah pangeran kodok. Aku tak akan menjelma manusia, ini bukan cerita surealis." (Melankolia Laba-laba, hlm. 41)
[tapi belakangan Sungging membuat kisah ini jadi surealis, dengan berubahnya Nalea menjadi laba-laba]
Sarelgaz sudah bertahun-tahun tinggal di dalam kamar Nalea, gadis yang dicintainya itu, hingga generasi laba-laba lain berganti satu per satu. Kala ia telah menjadi laba-laba tua, Nalea tiba-tiba menghilang. Raibnya gadis itu dibarengi dengan munculnya seekor laba-laba perempuan yang sebelumnya tak pernah ada di kamar itu. Laba-laba baru itu mengaku bernama Nalea, yang meninggalkan jasad manusianya untuk bertemu cinta sejatinya, yaitu Sarelgaz. Namun, naas, Sarelgaz tak percaya dan mengusirnya ke luar kamar. Sarelgaz hanya mencintai seorang gadis bernama Nalea, bukan laba-laba bernama sama.
"Dari cara berjalannya, ia seperti laba-laba betina yang bekerja sebagai model majalah laba-laba dewasa." (Melankolia Laba-laba, hlm. 46)
[di dunia laba-laba ada juga majalah dewasa, to? :)] ]

Ada dua ironi raksasa yang mendominasi cerita ini. Pertama, Sarelgaz mencintai Nalea, padahal secara tak langsung, gadis itulah yang menyebabkan orang tua Sarelgaz meninggal setelah aktivitas bersih-bersih kamar bersenjatakan sapu. Kedua, saat Sarelgaz tak memercayai laba-laba bernama Nalea, dan malah mengusirnya. Padahal, berubahnya Nalea jadi laba-laba secara tak langsung berkat doa Sarelgaz.
"Aku tak tahu apa yang biasa kau ucapkan dalam doamu, sementara doaku jelas, agar aku bisa tetap menemukan cara untuk mencintaimu." (Melankolia Laba-laba, hlm. 45)
Namun, Sarelgaz belakangan bertindak seperti manusia tak tahu diri, yang seringkali tak bersyukur dan malah mengutuk Sang Pemberi setelah doanya dikabulkan. Kesetiaan yang terlalu dalam membutakan Sarelgaz, hingga ia gagal menyadari, bahwa si laba-laba itu adalah benar-benar Nalea. Kisah cinta tak sampai antara binatang dan manusia mungkin akan berisiko menjadi klise, tapi Sungging dengan cukup gemilang menghindarinya. Lagi-lagi, Sungging mempermainkan kesadaran pembaca dengan menyelipkan "pembocoran" di tengah nuansa sureal yang terbangun.
"'Bagaimana kau bisa tahu namaku? Apakah penulis cerita ini yang memberi tahu?"' (Melankolia Laba-laba, hlm. 45)
"Melankolia Laba-laba" adalah cerpen pertama dalam kumcer ini yang mewedar fenomena transformasi manusia menjadi alam (maupun sebaliknya) demi mengalami cinta. Hal serupa menjadi napas cerpen "Rayuan Sungai Serayu", tapi kali ini alamlah yang berubah menjadi manusia. Dikisahkan bahwa Sungai Serayu yang sudah lelah menjadi sungai tiba-tiba menjelma seorang perempuan, kemudian berkasih-kasihan dengan seorang lelaki kesepian yang ditemuinya di Warung Hujan Bulan Juni (namanya sama dengan judul kumpulan puisi SDD :)] ). Uniknya, dalam cerpen ini Sungging menebar beberapa istilah ilmiah (cukup wajar, mengingat Sungging pernah berkuliah di Jurusan Matematika. Saya percaya bahwa apa yang ditulis oleh penulis sedikit banyak memiliki keterkaitan dengan kehidupan pribadi si penulis #tsah). Contohnya, penggunaan istilah "koefisien kesepian" dan "Termometer Kesunyian" (hlm. 84).

Sementara itu, alam kembali bertransformasi menjadi manusia dalam cerpen "Sihir Edelweis". Seorang lelaki bertemu dengan perempuan yang mengaku sebagai edelweis di Bromo.
"'Aku benar-benar perempuan edelweis, aku terbentuk dari serbuknya yang putih, dari kabut yang turun di malam hari, dan dari garis merah pertama ketika matahari merancang pagi.'" (Sihir Edelweis, hlm. 117)
Ia membawa edelweis itu pulang. Dan meskipun sudah beristri, ia jatuh cinta pada perempuan edelweis. Sampai si lelaki dan istrinya menua, bunga edelweis itu tak layu juga, "malah sepertinya bertambah lebat". Bertambah lebat karena perempuan edelweis melahirkan anak-anak edelweis--anak mereka berdua. Dalam cerpen ini, Sungging menyelipkan elemen setting yang detail: "di ketinggian 2770 meter"; "saat itu masih pukul 04.04" (hlm. 113). Ada satu kalimat yang masih kurang bisa saya pahami kekohesifannya dalam paragraf:
"Semua memang serba gelap sehingga belum butuh penjelasan lebih lengkap." (Sihir Edelweis, hlm. 113)
Tiga kisah transformasi manusia ke bentuk lain dan sebaliknya ini memberi pengharapan bagi pembaca akan kemungkinan terjadinya "rekonsiliasi yang segar antara manusia dan alam" (hlm. 19).

Cerpen lain yang menarik adalah "Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu". Cerpen sureal ini mengisahkan tentang fenomena aneh yang tiba-tiba terjadi pada semua wanita di sebuah desa: seluruh permukaan tubuh mereka berubah warna jadi ungu. Hal ini menyebabkan semua wanita menjadi minder dan mogok beraktivitas. Mereka hanya mengurung diri di dalam kamar, termasuk Manisha. Anehnya, warna kulit Manisha berubah seperti sedia kala setelah ia menerima penghiburan dari suaminya yang sangat menyentuh hatinya. Setelah itu, Manisha bersedia keluar dari kamar dan mulai beraktivitas seperti biasa. Saya menemukan sebuah ironi di sini. Sang suami menghibur Manisha dengan kata-kata manis yang terdengar tulus, padahal sebelumnya ia sempat bernarasi begini:
"Mereka beranggapan ini hanya solusi sementara, tidak jangka panjang, apalagi kita tahu bahwa sering kali kita diberi bantuan sesuatu yang sifatnya hanya sementara, untuk menghibur saja, tidak mengubah apa-apa." (Suatu Hari, Semua Wanita Akan Berwarna Ungu, hlm. 133-34)
[jadi ingat penghiburan pemerintah kepada masyarakat kurang mampu yang sering dibagikan dulu: BLT]

Cerpen ini menggambarkan dengan sangat baik bagaimana cara pikir wanita dan laki-laki pada umumnya. Wanita (walau tak semuanya) sering atau mudah merasa insecure akan penampilannya. Sementara itu, laki-laki akan sungguh-sungguh melakukan sesuatu untuk wanitanya, jika ia mendapatkan keuntungan dari hal itu. Contohnya, dalam cerpen ini, karena Manisha mengurung diri dalam kamar dan tidak memasak, si "aku"--suaminya--kelaparan ("padahal aku lapar, belum sarapan"--hlm. 132). Nah, karena itulah, si "aku" berusaha menghibur istrinya. Akhirnya, Manisha mau keluar dari kamar dan berkata tepat sesuai keinginan si "aku":
"'Terima kasih, ya,' katanya, 'oh, apa kau lapar? Aku akan buat menu pecel garahan, pecel kesukaanmu.'" (hlm. 136)
Mungkin cerpen ini juga hendak memaparkan kekuatan kata-kata penuh penghargaan yang kita ucapkan pada orang lain. Bisa memulihkan mereka dari keterpurukannya, atau malah membuatnya makin terpuruk. Selain itu, ada petikan dalam cerpen ini:
"Padahal aku masih ingat, tokoh aktivis inilah yang dulu berkata bahwa bukan rok pendek itu yang menjadi biang masalah pelecehan seksual, tapi pikiran negatif si lelaki saja." (hlm. 134)
yang mengingatkan saya akan suatu momen di tahun 2011-2012, di mana kontroversi "rok mini penyebab perkosaan?" sempat mencuat jadi isu nasional.

Cerpen "Kompor Kenangan" juga tak kalah menarik. Dengan uniknya, sebuah kompor gas dijadikan simbol cinta. Setelah bercerai, Nalea membawa pergi kompor itu (cintanya) dari sang suami, dan memberikannya secara cuma-cuma ke sebuah tokoh, karena ia sudah punya kompor baru (cinta baru untuk calon suami baru).
"Ah, kompor adalah benda yang tenang, mengeluarkan api tapi tak membakar dirinya sendiri, melawan filosofi lilin, romantis sekali." (Kompor Kenangan, hlm. 125)
Bicara tentang para tokoh, yang tak hanya manusia, tapi juga binatang, sungai, bunga, semut, rangka, dan lain-lain, Sungging memiliki tendensi untuk menggunakan beberapa nama yang statis. Seperti Seno Gumira dengan tokoh Alina dan Sukab (misalnya dalam kumcer "Penembak Misterius"), Sungging gemar menggunakan nama tokoh ini, antara lain Nalea, Salem, dan Manisha. Suatu saat, Nalea adalah gadis penjual toffee di Craven Cottage. Suatu saat, ia berubah menjadi serangkaian rangka, lalu menjadi seorang istri yang setelah bercerai ngotot membawa kompor gas buatan Jerman, lantas berubah menjadi gadis dalam kereta yang bertemu dengan Salem.

Saya cukup yakin, para pembaca resensi ini sudah bisa menebak bahwa tema utama cerpen-cerpen dalam kumcer ini adalah cinta--lebih tepatnya percintaan antara laki-laki dan perempuan. Meski kisah cinta pada umumnya sulit dipisahkan dari kesan klise, dalam kumcer ini Sungging telah berhasil meramu kisah cinta yang memiliki keunikan dan daya kejut, serta keindahan tersendiri.

31 December 2015

[Resensi DIJUAL: KEAJAIBAN] Sembilan+ Pelajaran Berharga dari Sastra Asia


Judul: Dijual: Keajaiban
Penulis: Gao Xingjian, Khayriyah Ibrahim as Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, RK Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Penerjemah: Tia Setiadi
Editor: Ainini
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Desember 2015
Tebal: 228 halaman
ISBN: 978-602-391-049-6
Rating saya: 4/5

Sembilan cerpen dari sembilan penulis besar Asia terkompilasi dalam buku ini, ditambah bonus seuntai esai dari pidato Nobel Sastra Gao Xingjian. Hanya dua dari sembilan nama itu yang saya sudah pernah berkenalan dengan karyanya, yaitu Naguib Mahfouz dan Orhan Pamuk. Pun waktu itu saya berkenalannya juga lewat karya terjemahan Tia Setiadi, Menggali Sumur dengan Ujung Jarum. Sebenarnya tiga dari sembilan penulis tersebut berasal dari Mesir (Naguib Mahfouz, Taufiq el-Hakim, dan Yusuf Idris), tapi mereka pun ikut disebut sebagai "pengarang besar Asia". Menurut penerawangan saya, mungkin karena karya-karya mereka berbahasa Arab. Mungkin, lho ini.

Gao Xingjian, seperti bisa ditebak dari namanya, berasal dari Tiongkok, tapi kemudian eksil ke Perancis. Dia orang Tiongkok pertama yang mendapat Nobel Sastra pada tahun 2000. Cerpennya, Di Sebuah Taman, membuka buku ini dengan serangkaian dialog antara dua orang laki-laki dan perempuan, yang berlatarkan di sebuah taman. Cerpen ini unik, lantaran penuh dialog dan miskin sekali narasi. Namun, dialog yang berisi selalu mampu bercerita semumpuni narasi, atau bahkan bisa mengungkap lebih, seperti dalam cerpen ini.

Tiap kali dialog menyentuh hal sensitif seputar hubungan antara mereka berdua, mereka berpindah ke topik lain, sebelum kemudian si perempuan mengungkapkan sesuatu yang membuat saya mengerti bahwa mereka dulu saling mencintai, tapi kemudian si perempuan terpaksa menikah dengan lelaki lain. Uniknya, ada satu tokoh di latar belakang: seorang perempuan muda, yang sedang menunggu seseorang sendirian di taman itu, dan kemudian menangis. Mereka berdua memperbincangkan sosok perempuan muda itu, tentang "menunggu" dan "berharap". Saya menangkap bahwa tokoh perempuan muda itu beserta kesedihannya diciptakan penulis sebagai cerminan akan perasaan dua orang yang sedang berdialog, tentang kepedihan dan penyesalan mereka sendiri.

"... orang mestinya hanya melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan." (hal. 25)

Cerpen kedua, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, adalah karya Khayriyah Ibrahim as Saqqaf, seorang penulis dari Arab Saudi. Ia juga adalah editor perempuan pertama di sebuah koran terkenal di negaranya. Cerpen ini berkisah tentang Raha, seorang perempuan Arab yang berpikiran modern, berkat ilmu yang diserapnya dan dari pergaulan dengan teman-teman sekolah. Nahas sekali nasibnya, kepulangannya untuk menjenguk kedua orang tua berakhir pada penyiksaan batin dan fisik. Orang tuanya memaksa untuk menikahkannya dengan Fahid, seorang laki-laki tua yang kaya raya. Raha tak bisa kembali ke sekolahnya lagi.

"Aku mengira bahwa ibuku menginginkanku terlihat cantik di antara teman-temanku. Tak kusangka bahwa dia hanya mempersiapkanku untuk dikorbankan, bak si penggembala yang merawat dan menggemukkan kambingnya untuk dijual." (hal. 37)

Cerpen ini sungguh memilukan, terlebih adegan kekerasan yang dilakukan sang ibu pada Raha, semua hanya demi uang. Budaya yang membatasi para perempuan untuk menggapai mimpi-mimpinya, terpancang kokoh di cerpen ini. Membacanya membuat saya teringat Sitti Nurbaya. Penulis membuka cerpen ini dengan judul yang bikin penasaran. Jika boleh saya parafrasakan judulnya, "pembunuhan cahaya" mungkin berarti "matinya segala mimpi dan cita-cita Raha karena perjodohan yang tak diinginkannya". Kemudian, "alir sungai" mungkin berarti "air mata Raha".

Cerpen ketiga, Qismati dan Nasibi, adalah karya Naguib Mahfouz, berkisah tentang dua anak kembar siam, yang punya dua kepala tapi tubuh bagian bawahnya menyatu. Kisah berawal mulai dari saat orang tua mereka menginginkan anak, sampai mereka lahir, tumbuh besar, dan mati. Masalah mulai muncul ketika mereka mulai tumbuh menjadi sosok yang berbeda dan sering berseberangan cara berpikir dan cita-cita. Mereka terjebak oleh kedekatan dan sikap saling bergantung yang mengerikan. Saya mencium aroma magis-realis ketika membaca cerpen ini.

"Seandainya kami lahir dengan satu kepala dan dua bagian bawah yang terpisah, mungkin segalanya akan menjadi lebih mudah!" (Qismati, hal. 60)


Cerpen keempat, Memandang ke Luar Jendela, karya Orhan Pamuk, menggunakan sudut pandang seorang anak laki-laki. Di luar segala persoalan kanak-kanak, (termasuk kekalahannya yang bertubi-tubi saat main kartu dengan sang kakak dan ketakutannya akan suntikan) ada masalah lebih besar yang ditangkap oleh jala-jala pikirannya, yaitu kepergian ayahnya secara misterius ke Perancis. Tak ada yang tahu, kecuali ia. Nampak dalam cerpen ini, kesadaran dalam diri anak kecil akan masalah-masalah dan perasaan orang dewasa. Beberapa sumber mengindikasikan bahwa cerpen ini ditulis berdasarkan pengalaman Orhan sendiri (The Guardian, SFGate).

"Memandang ke luar jendela adalah sebuah hiburan penting sehingga tatkala televisi pada akhirnya datang ke Turki, orang-orang bertindak sama di depan kotak ajaib itu dengan yang mereka lakukan di depan jendela-jendela mereka." (hal. 66)


Cerita kelima, Anjing Buta, adalah karya RK Narayan, seorang penulis India. Cerpen ini memantik kepiluan lebih mendalam di hati saya, ketimbang ketika saya membaca Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai. Cerpen ini mengisahkan persahabatan tak sempurna antara seorang lelaki buta dan seekor anjing. Si lelaki buta merasa tertolong oleh si anjing yang selalu menuntunnya ke mana pun dia pergi, pun melindunginya dari berbagai ancaman. Namun, sial bagi si anjing. Dunianya kini hanya sepanjang tali pengikat lehernya. Si lelaki buta pun kerap menendanginya. Anjing itu pun lama-lama jadi kurus. Orang lain yang melihat penderitaan itu berusaha membebaskan si anjing, dengan memotong talinya. Ironisnya, setelah beberapa saat mengecap kebebasan, si anjing kembali lagi ke lelaki buta karena ia butuh makan.

"'Ia keluyuran selama dia bisa menemukan sampah untuk dimakan di jalan, tapi kelaparan yang amat sangat membawanya kembali kepadaku, dan kini anjing itu tak akan meninggalkanku lagi. Lihat! Aku sekarang dapat ini,' dan si lelaki buta itu menggoyang-goyangkan talinya: kali ini rantai besi." (hal. 115)

Oleh karena itu, si anjing pun tak ubahnya sudah buta, karena gagal melihat kebebasan yang telah ia dapatkan kembali. Dilema yang dialami si anjing barangkali menggambarkan yang sering kita alami sebagai manusia, dalam pertarungan antara kebutuhan vs kebebasan. Saya pernah berada di situasi seperti ini, beberapa kali. Pada tahun 2012, saya pernah melamar kerja sebagai guru bahasa Indonesia bagi orang-orang luar negeri, di sebuah lembaga bahasa. Saya melewati beberapa tahap seleksi, hingga akhirnya diterima. Saya masih berada dalam tahap training, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena ikatan kerjanya terlalu membebani. Hmm, saya memang butuh uang tambahan untuk bertahan hidup, tapi saya lebih memilih kebebasan pada waktu itu.

"Apa yang bisa kita lakukan dengan sesosok makhluk yang kembali kepada hukumannya dengan begitu sukarela?" (hal. 116)

Cerpen keenam, Di Selatan, Dua Lelaki Tua India, adalah karya Salman Rushdie, seorang penulis India. Cerpen ini berkisah tentang dua orang lelaki tua yang tinggal di India Selatan. Beberapa persamaan menyatuhkan mereka, termasuk kesamaan nama, V entah siapa, sehingga mereka lebih suka dipanggil Senior dan Junior (tanggal lahir mereka beda 7 hari). Namun, mereka memiliki masa lalu yang berbeda. Si Senior, memiliki masa lalu yang berkelimpahan dan keluarga besar yang terdiri dari 200+ anggota keluarga, sehingga lama-lama ia merasa terlalu "ramai". Sebaliknya, si Junior, memiliki masa lalu yang mengecewakan dan tidak beristri. Mereka berdua menjalin persahabatan, meski dengan pemikiran berbeda, sebelum si Junior meninggal lebih dulu. Peristiwa tsunami tahun 2004 juga masuk dalam cerita ini. Dalam cerpen ini, Salman Rushdie berhasil membentuk kedua tokohnya seperti layaknya kakek-kakek tua, dari cara berpikir dan berkelakuan mereka.

Cerpen ketujuh, Dijual: Keajaiban, adalah karya Taufiq el-Hakim, seorang penulis dari Mesir. Bertokoh-utamakan seorang rahib atau pendeta, cerpen ini mengisahkan bagaimana rahib itu dimintai tolong untuk menyembuhkan seorang yang sedang sakit di sebuah desa. Setelah ia berhasil menyembuhkan orang itu, dan hendak pergi dari desa tersebut, datanglah orang lain lagi yang juga memintanya datang ke desanya untuk menyembuhkan seseorang. Ia telah melakukan keajaiban-keajaiban penyembuhan. Sebagai balasnya, orang-orang itu menampung sang rahib di rumah mereka dan melimpahinya dengan keramahtamahan. Ternyata, tanpa ia ketahui, keajaiban yang telah diperbuatnya itu harus dibayar mahal oleh gerejanya. Saya terperenyak sembari senyam-senyum ketika sampai pada twist di bagian akhir. Taufiq el-Hakim telah mempermainkan saya, hahaha.

Cerpen kedelapan, Tujuh Jembatan, adalah karya Yukio Mishima, yang sering disebut sebagai penulis terbesar Jepang abad ke-20. Dua orang geisha, Kanako dan Koyumi, bersama Masako, putri pemilik Yonei House, melakukan ritual menyeberangi tujuh jembatan agar doa-doa mereka terkabul. Di detik terakhir, Mina, pembantu Masako, ikut serta dalam ritual itu. Agar doa-doa terkabul, syaratnya adalah:

"Dari menit sejak kita beranjak dari rumah ini kau tak akan buka mulut, tak peduli apa pun yang terjadi, sampai kita menyeberangi tujuh jembatan seluruhnya. Bahkan kalau sepatah kata saja kau ucapkan maka kau tak akan mendapatkan apa yang kau doakan. Dan kalau siapa pun yang mengenalmu berbicara kepadamu, maka siallah kau.... Kau tak diperkenankan untuk kembali ke jalan yang sama dua kali." (hal. 163)

Sebelum sampai di jembatan terakhir, Kanako dan Koyumi telah gagal. Tinggallah Masako berdua dengan Mina. Masako sangat membenci gadis itu, sehingga sepanjang jalan ia merasa tidak nyaman. Namun, pada akhirnya Masako pun gagal menyeberangi ketujuh jembatan. Sang penulis berhasil membuat saya penasaran sampai akhir, akan apa sebenarnya doa yang dipanjatkan Mina. Sosoknya pun misterius, dan karenya ada hawa menyeramkan keluar darinya. Sepanjang perjalanan dari awal hingga akhir, penulis banyak mendeskripsikan latar hal-hal di sekitar mereka. Ada deskripsi yang meninggalkan kesan kuat bagi saya:

"Beberapa jonjot awan berlayar di langit.." (hal. 165)
"Air di dalam sungai berlipat-lipat dalam cahaya bulan." (hal. 168)

Cerpen terakhir, Nampan dari Surga, adalah karya Yusuf Idris, seorang penulis Mesir, yang terkenal sebagai pelopor yang membaurkan bahasa Arab standar dengan bahasa Mesir pasaran. Syaikh Ali, tokoh dalam cerpen ini, menjadi bahan olok-olokan sedesa karena keanehan dan kemiskinannya. Suatu kali, ia mengutuk Tuhan karena kemiskinan dan kelaparan yang sudah tak tertahankan. Seisi desa menjadi takut kalau-kalau Tuhan akan murka karena hujatan Syaikh Ali itu.

"Aku tak akan diam kecuali Dia mengirimiku sebuah meja yang sarat makanan dari langit, sekarang juga." (hal. 193)

Mendengar itu, orang-orang mulai memberinya makan, meski mereka sendiri pun sebenarnya jauh dari "kaya". Sosok Syaikh Ali ini menggampar saya, dan mungkin kita semua, yang kadang mengaku bertakwa kepada Tuhan, tapi melupakan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan.

Terakhir, lewat pidato nobelnya, Gao Xingjian menyerukan perihal hakikat sastra yang sejati menurut pemikirannya. Esai ini menarik, karena menambah keyakinan saya yang sempat terombang-ambing: haruskah saya menulis apa yang saya inginkan, atau yang pasar inginkan?

"... sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan." (hal. 203)

"Sastra bukan buku paling best-seller atau buku paling laris.... tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra." (hal. 209, 221)
***

Saya setuju dengan pendapat Bernard Batubara dalam prolognya di buku ini, bahwasanya Tia Setiadi telah menerjemahkan karya-karya sastra ini dengan baik. Terjemahannya mampu memberikan kesan seolah-olah ini bukan terjemahan, seolah isi buku ini memang sedari awal ditulis dalam bahasa Indonesia. Seperti Bernard Batubara, saya juga mengakui bahwa banyak elemen bahasa menarik dan unik yang tercipta dari proses terjemahan, seperti:

"Qismati mabuk oleh nektar hasrat..." (hal. 56)
"Kanako sangat pendiam sehingga terlihat seakan-akan angin semilir pun akan melupakannya..." (hal. 159)
"...jonjot-jonjot awan mulai meluas di atas kepala." (hal. 16)
"Dia adalah keluarga nyamuk, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal." (hal. 124)

Lagi-lagi, saya juga setuju dengan Bernard Batubara, bahwa penerjemah memilih cerpen-cerpen yang "tepat untuk memberi kesan pertama yang menyenangkan bagi pembaca yang masih awam terhadap pengarang-pengarang dalam buku ini" (hal. 8). Secara keseluruhan, saya menyukai semua cerpennya, tapi yang paling berkesan adalah Anjing Buta dan Tujuh Jembatan. Pidato Nobel Gao Xingjian, yang berjudul Perihal Sastra pun menempati sudut spesial dalam benak saya.[ ]

11 April 2015

[Resensi MARRIED, SINGLE, AND IN BETWEEN] Rahasia-rahasia Gelap Sahabat


Tutup
Penulis: Ca
Editor: Misni Parjiati
Tebal: 460 halaman
Penerbit: Divapress
Cetakan: Pertama, Desember 2014
ISBN: 978-602-255-773-9
Harga: Rp 50.000,00
Rating saya: ****
"Park Yookwon bergerak bagai bidak catur yang arah gerak dan banyak langkahnya ditetapkan tangan-tangan penguasa. Itulah yang ia namakan kebahagiaan. Berada dalam permainan tanpa cacat. Pernikahan itu tak berarti apa-apa selain uang."
(halaman 17-18)

"Jaeho menganggap bantuan kita mengolok-oloknya di depan Remi. Mungkin... sebenarnya kita memang agak berlebihan memperlakukan kondisi Jaeho. Bagaimana bila ia sesungguhnya tak membutuhkan bantuan?"
(Hyesung, halaman 169)

"Karena jika kau ingin mencapai tujuan di seberang lautan itu, mau tak mau kau harus membangun sebuah perahu. Perahu yang kokoh agar sampai dengan selamat." (Hyesung pada Chunhee, halaman 256)
  
"Maaf, selama ini menipu kalian semua... aku pantas mati. Aku lelah..., aku ingin mengakhiri hidup penuh kebohongan ini."
(Shiyoon, halaman 424, 426)
 
Semenjak dunia novel berlatarkan Korea ataupun yang bertokohkan idola K-Pop telah runtuh, saya agak membatasi diri terhadap kontaminasi novel sejenis. Paradigma yang telanjur terbentuk berkat novel-novel K-Pop yang dulu pernah mendominasi pasar fiksi Indonesia (dan sulit menemukan yang berkualitas di antara mereka) membuat saya berhati-hati dalam membaca novel tentang Korea. Novel ini pun awalnya membersitkan sedikit rasa cemas pada saya, bahwa ceritanya akan klise. Hmm, ternyata tidak juga. Paradigma saya tidak selalu benar.
 
Pertama kali menengok sampulnya yang terkesan feminin, saya kira buku ini akan bertokoh-utamakan perempuan. Hmmph, ternyata dugaan saya dimentahkan. Buku ini bercerita tentang lima laki-laki satu geng, yang terdiri dari Oh Hyesung, Park Yookwon, Kim Chunhee, Byun Jaeho, dan Do Shiyoon. Meski mereka telah bersahabat sejak lima tahun lalu, dan sudah saling membagi cerita dan rahasia sejak itu, tak berarti bahwa tak ada lagi rahasia yang tersisa. Nyatanya, kehamilan Gain, istri Yookwon masih menjadi rahasia, sampai Yookwon mengatakannya pada Hyesung. Ketidakharmonisan rumah tangga Chunhee yang selama ini selalu terlihat baik-baik saja pun akhirnya terbuka di hadapan Hyesung. Permasalahan pernikahan Jaeho dengan Moonhye yang tidak disetujui oleh keluarga sang istri pun muncul kembali ke permukaan. Belum lagi munculnya orang dari masa lalu yang hendak merebut Moonhye dari Jaeho dan berisiko membahayakan nyawa Remi, putri mereka. Namun, barangkali, rahasia terbesar dan tergelap selama ini berhasil disimpan rapi oleh Shiyoon, sebelum pertemuannya dengan Shin diketahui oleh Hyesung.

"Rahasia-rahasia sahabat yang dititipkan padamu" sangat cocok menjadi tagline novel ini. Sebagai satu-satunya yang belum menikah di dalam gengnya, Hyesung turut terseret permasalahan rumah tangga para sahabatnya karena rahasia yang mereka bocorkan (secara sukarela maupun tidak) padanya. Persahabatan mereka, mungkinkah terus bertahan ketika masalah pribadi mengguncangnya? 

***
Buku ini bagaikan empat novelet yang digabung menjadi satu, dengan narator 'aku' Oh Hyesung. Bab 1 didedikasikan untuk Yookwon, bab 2 untuk Jaeho, bab 3 untuk Chunhee, dan bab 4 untuk Shiyoon. Sementara itu, kisah Hyesung memiliki porsi tersendiri yang menggentayangi cerita dari awal hingga akhir. Di bagian awal, penulis langsung menantang pembaca dengan konflik pertemuan Hyesung dengan seorang gadis mencurigakan bernama Nam Sooni, dalam suasana yang tidak menyenangkan pula. Di bagian ini, saya curiga jika nantinya gadis ini malah akan menjadi kekasih Hyesung. Hmm, ternyata benar, tapi proses menuju ke sana dan kejadian-kejadian setelahnya masih tak terduga. 
 
Untuk mengeksplorasi cara berpikir dan bersikap tiap tokoh utama dalam tiap bab, penulis menggunakan sudut pandang penceritaan orang ketiga serba-tahu. Di bagian-bagian tertentu, sudut pandang orang pertama Oh Hyesung digunakan. Perpindahan sudut pandang ini berjalan mulus, sama sekali tidak membingungkan. Malah, yang membuat saya bingung adalah informasi setting waktu yang tidak memadai. Saya sering bertanya-tanya, kejadian ini terjadi kapan, ya? Pagi setelah kejadian sebelumnya, atau siang? Parahnya, saya juga bingung, kejadian sebelumnya itu terjadinya kapan (-__-).

Lain halnya dengan setting tempat. Meski tidak terlalu detail, suasana Korea Selatan terasa sangat kental. Kalau menyertakan tempat, pun, misalnya rumah sakit atau hotel atau restoran, penulis tidak menyertakan deskripsi tempat secara berlebihan. Hanya hotel. Hanya rumah sakit. Suasana yang terasa sangat "Korea" itu saya rasa berhasil dibangun oleh dialog, deskripsi, dan perilaku tokoh. Seperti formalitas lintas-umur yang sangat dijunjung tinggi di sana. Juga lewat tokoh-tokoh klise seperti dalam serial drama Korea, misalnya tokoh Chunji (adik Chunhee) yang mewarisi perusahaan ayahnya. Masalah kehidupan materalistis, isu homoseksualitas, dan tren laki-laki Korea menjalin hubungan dengan noona (perempuan yang lebih tua) turut membangun nuansa Korea.

Sayangnya, banyak saya jumpai typo dan kalimat membingungkan nan kurang efektif.
  1. Bekal pengalaman di klub atletik semasa SMU yang dibanggakannya, memberi kemudahan dalam menggerakkan tubuh jangkung yang bagi sebagian orang adalah minus kelincahan. (halaman 14).
    Mungkin lebih jelas jika "tubuh jangkung yang bagi sebagian orang dianggap minus kelincahan".
  2. Yookwon menjatuhkan duduk di lantai lift.... (halaman 15) Lebih baik jika "menjatuhkan" dihilangkan saja.
  3. Setidaknya masih ada tiga perempat bulan lagi sampai mereka cukup besar untuk mewujudkan keinginan tersebut. (halaman 53) Kalimat ini kurang jelas, "tiga perempat bulan" sampai apa? Siapa yang cukup besar? Anak pertama Yookwon bahkan baru berumur beberapa minggu dalam kandungan.
  4. Kalimat racauan Hyesung saat memakan daging rebus yang amat panas di halaman 184 itu sama sekali tidak perlu ditulis, karena pembaca tidak mengerti apa maksudnya? Pun setelahnya, dialog Sooni-Hyesung tak ada kaitannya dengan racauan itu.

Ada juga bagian yang cacat logika. Di halaman 131, ketika Jaeho datang ke kantor Hyesung untuk meminta bantuannya, untuk menjaga Remi sementara sang ayah mencari kerja, ada satu hal aneh. Sejak awal kedatangan Jaeho, tak disebutkan keberadaan Remi. Ketika Jaeho berlutut memohon pada Hyesung pun, anak itu belum disebut (saya bingung, ditaruh mana tuh anak? Digendong ayahnya, atau didudukkan di kursi?). Lalu tiba-tiba "gadis kecil itu tak meronta saat dipindahtangankan pada Hyesung....". Lho, jadi, dari tadi ada Remi?

Mantan pacar Sooni itu Jaehyuk atau Jihyuk? Namanya berubah-ubah sepanjang cerita, mungkin penulisnya ngantuk, hehehe. Pemikiran Hyesung ada yang aneh. Sejak kapan "jalanan bisa jadi sangat licin dan embun yang timbul di kaca mobilku agak mengganggu pandangan" (halaman 304) menjadi alasan untuk membeli mobil baru? Saya juga kurang beruntung, mendapatkan novel ini dengan banyak halaman terlewat dan halaman kosong (ada lebih dari 20 halaman), sehingga saya kelewatan bagian masa lalu Moonhye dengan Sungyeol (duh, jadi teringat anggota boyband Infinite). Ada juga beberapa kata asing yang tidak dilengkapi keterangan. Untungnya, saya cukup mengerti bahasa Korea berkat kefasihan dalam dunia K-Drama dan K-Pop, hehehe.

Ada beberapa hal yang membuat saya kurang puas.
  1. Bagian akhir bab empat, tentang Shiyoon. Bagian "ayahnya juga pernah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kyujong padanya" itu sebenarnya apa, sih? Dugaan saya bisa saja meleset, kan. Mungkin penulis sengaja menyamarkannya, atau membuatnya implisit. Tapi, se-implisit apa pun, seharusnya ia cukup jelas, dong. (Sebenernya, sih, aku sebel karena penasaran, yang kupikirin bener nggak, haha).
  2. I need more details! Terutama tentang deskripsi fisik para tokoh (terutama kelima laki-laki itu). Yah, karena, penggambaran fisiknya sangat hambar. Misalnya, Shin hanya digambarkan sebagai laki-laki muda berkulit gelap yang punya aura membius dan memesona. Mungkin akan lebih terasa "nyata" kalau digambarkan bentuk wajahnya, sorot matanya ketika memandang seseorang....
Persahabatan kelima orang ini mengingatkan saya akan boyband Shinhwa (minus satu orang), entah mengapa. (Mungkin karena ada yang namanya Hyesung, hehehe.) Yang jelas, persahabatan mereka sungguh manis, meski tak luput dengan rahasia-rahasia dan berbagai masalah. Yang paling mencengangkan tentu saja bab terakhir. Saya tak menduga, lho, kalau ternyata Shiyoon tidak menyimpan rasa pada Shin, tapi malah.... 

Penulis berhasil menghidupkan sudut pandang "aku" Hyesung sebagai laki-laki. Terkadang, penulis perempuan mengalami kesulitan dalam menciptakan tokoh "aku" laki-laki yang benar-benar terdengar seperti laki-laki. Berbagai cara berpikir Hyesung, seperti kebingungannya menghadapi Sooni ketika gadis itu ngambek di halaman 231, itu cowok banget. Hahaha.

Saya puas dengan ending-nya yg amat manis! (Ternyata persahabatan para cowok bisa semanis ini, ya?) Saya, kok malah ingin Hyesung dengan Shiyoon saja, ya, soalnya mereka berdua manis sekali hihihi (digampar massa).

"Setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain, dengan kekurangan dan kelebihan sama banyaknya."
(halaman 102)

"Sejak mendeklarasikan pertemanan, seseorang harus siap dengan segala konsekuensi." (Hyesung, halaman 313)

11 March 2015

[Resensi YUNANI] Awas, Kepala TerbenturーRoh Melayang!




“Di sana, di pelataran Parthenon, sekali lagi Blue menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tiang-tiang pualam raksasa Parthenon berdiri dengan gagah dan utuh di puncak Bukit Acropolis. Blue kembali menggeleng. ‘Tidak, ini tidak mungkin!’” (hal. 76)
Setelah dibujuk-bujuk oleh Alex, sepupunya, akhirnya Blue setuju untuk ikut berlibur ke Yunani, bersama Rama dan Emma juga. Di Yunani, mereka menginap di tempat tinggal Theo, di daerah Kolonaki. Theo bersedia menemani mereka ke mana saja, yang berarti ia menjadi tour guide gratisan. Beberapa tempat telah mereka kunjungi sebelum reruntuhan Kuil Parthenon. Ketika mendaki anak-anak tangga pualam putih menuju pelataran Parthenon,  Blue terpeleset. Kepalanya terbentur anak tangga dan ia tak sadarkan diri.

Secara misterius, begitu membuka mata, Blue mendapati dunia yang sama sekali berbeda. Memang, ia masih berada di pelataran Kuil Parthenon, tapi bukan lagi berupa reruntuhan. Pun orang-orang yang ia jumpai terlihat asing. Anehnya, ia mengerti setiap bahasa yang mereka lontarkan, dan ia pun bisa merespons dengan bahasa yang sama. Untunglah, ada seorang wanita baik hati yang menolongnya, bernama Ione. Kebingungan melanda Blue. Di manakah teman-temannya? Ketika hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi mereka, ia terkesiap. Celana jins dan kaosnya telah raib, tergantikan sehelai gaun yang disebut peplos. Perlahan, ia menyadari bahwa dirinya tersesat ke dimensi lain. Bagaimana bisa ia menemukan mereka? Bagaimana caranya kembali? Atau, akankah ia kembali ke dunianya?
***

Yunani: Di Gerbang Parthenon ini adalah salah satu keluaran proyek #AstralProjection yang dicetuskan oleh Divapress pada tahun 2013 lalu. Kenapa saya tahu? Karena waktu itu saya iseng mengirimkan outline naskah, tapi tidak lolos seleksi (hiks #facepalm #curcol). Sebagai pembaca, kesan pertama begitu membaca blurb adalah tema utama novel ini pastilah tentang dunia astral, bagaimana seseorang bisa (secara misterius) tersesat ke dunia masa lalu (dalam novel ini, Yunani kuno), dan bagaimana caranya kembali ke dunianya masa kini. Sebelum membedah buku ini lebih lanjut, saya ingin menjelaskan dulu secara singkat, apa itu dunia astral. Bagi yang sudah tahu atau yang lebih tahu daripada saya, maka abaikan saja bagian ini (tapi jangan langsung di-close, ya, halaman blog saya).

DUNIA ASTRAL merupakan dunia yang berada di antara dunia fisik dan dunia mental. Bukan hanya manusia yang sudah lepas dari tubuh fisiknya saja yang menghuni dunia astral, melainkan juga berbagai makhluk lain, seperti peri. Dunia fisik adalah dunia tempat kita tinggal. Menurut ilmu Theosophy, dunia astral terdiri dari tujuh dimensi yang tersusun berupa tingkatan-tingkatan.

Gambar ini adalah hasil interpretasi saya atas artikel ini.

Perlu diingat bahwa dunia astral bukan hanya bisa dialami oleh orang yang sudah meninggal, melainkan juga oleh seseorang yang masih hidup di dunia fisik (misalnya cenayang, atau bukan-cenayang yang mengalami masuk ke dunia astral melalui tidur atau pengaruh narkotika).


Nah, lanjut ke PROYEKSI ASTRAL. Kalau tidak salah, yang saya tangkap dari beberapa sumber, proyeksi astral ini berarti peristiwa keluarnya roh dari tubuh fisik. Proyeksi astral ada yang berupa proyeksi dari pikiran kita sendiri. Saat kita tidur atau tak sadarkan diri, misalnya, roh kita melayang keluar dan "terproyeksi" ke tempat lain, dan hanya orang yang punya kemampuan "melihat" saja yang bisa melihat. Roh kita bisa pergi ke tempat mana pun di seluruh bumi atau ke dunia astral. Bisa ke masa lalu atau bahkan ke masa depan. Kalau ke masa lalu, berarti roh kita bersentuhan dengan kenangan dari kehidupan kita sebelumnya, atau disebut reinkarnasi.

Hal-hal yang berkaitan dengan ilmu ini banyak dibahas dalam novel Immortal Series karya Alyson Noel. 

***
Pertama-tama, saya hendak mengapresiasi kemampuan penulis membangun dunia Yunani kuno melalui serangkaian deskripsi tempat dan suasana yang cukup bagus. Penulis juga mengeksplorasi beberapa budaya Yunani kuno (khususnya Polis Athena), seperti diskriminasi terhadap perempuan Athena (termasuk di dalamnya pernikahan usia dini), ritual pemujaan Dewi Athena, dan Festival Panatheaea. Penulis mengajak pembaca berwisata ke seantero kota Athena, bahkan bertemu dengan si filsuf terkenal, Socrates.
Bisa-bisanya, penulis juga menyampaikan kritik sosial melalui percakapan Blue dengan Arkhos, ketika sedang membicarakan tentara perang Athena.
Blue : Wow, itu hebat, sungguh. Berbeda sekali dengan para pemimpin militer di tempat asalku. Para jenderal, petinggi militer, atau pemimpin lain hanya memberi perintah dari tempat teraman dan terlindungi.... 
Arkhos : Itu tindakan memalukan. Seharusnya para pemimpin berdiri di baris terdepan untuk memimpin perang, menghancurkan lebih banyak musuh dari para prajuritnya, dan memastikan para prajuritnya bisa pulang ke rumah. Orang seperti itulah yang berhak disebut pemimpin. 
(hal. 219)
Kehangatan sebuah keluarga juga merupakan salah satu topik utama yang dibahas penulis. Melalui keluarga Klaimaskos[1], penulis berusaha menghidupkan contoh sebuah keluarga yang ideal. Para anggota keluarganya saling menyayangi, mendukung, dan membantu dalam kesulitan. Pun, para budaknya juga sangat menyayangi mereka.
"Masa depan apa pun yang kamu pilih, Demos, aku akan selalu mendukungmu... Lakukan apa yang kamu inginkan, Demos. Raih mimpimu." (Ione, hal. 227)
Sangat manis, bukan? Beruntung sekali Blue ditemukan oleh Ione, sang wanita yang amat baik budinya, dan tinggal di tengah-tengah keluarga itu.

Alih-alih menyukai tokoh Blue, saya malah menyukai tokoh Mesa yang ceria, blak-blakan, dan lucu. Meski begitu, saya tidak terlalu suka dengan dialog antara Mesa dan Ione yang sering kali hanya berisi basa-basi. Mesa memuji Ione, Ione merasa tidak enak dan malu, dan begitulah berulang-ulang.

Namun, saya kecewa karena kisah hidup Blue di masa Yunani kuno terfokus pada masalah percintaan; tentang Blue yang tiba-tiba hendak dijodohkan dengan Arkhos. Meski begitu, kisah romansa antara mereka berdua pun hanya sekilas-sekilas dan tidak intens. Maksud saya, mereka jauh lebih sering dikelilingi anggota keluarga yang lain dibandingkan hanya ngobrol berduaan, misalnya. Jadi, agak aneh kalau rasa cinta tumbuh secepat itu (kecuali cinta pada pandangan pertama--saya angkat tangan kalau bicara tentang hal itu). Seringnya, ketika berdialog, yang terjadi adalah Blue bertanya seputar Athena (budaya, tempat, dll.) dan Arkhos menjelaskan.

Saya juga berharap ketika di Yunani kuno, Blue mengalami petualangan seru. Namun saya mendapati hanya ada satu kejadian yang cukup "seru", ketika Blue berhasil menyelamatkan Demos dan Theone dari serangan orang asing. Bagian ini pun seolah ditulis hanya untuk menimbulkan kesan pada pembaca betapa hebatnya Blue.

Tentang gaya penulisan, saya mengamati bahwa penulis memiliki kecenderungan untuk memanjang-manjangkan cerita. Bab 1, misalnya. Bab setebal 16 halaman itu sebenarnya lebih baik jika dihapus, karena hanya berisi kegalauan Blue akan ikut pergi ke Yunani atau tidak. Sebenarnya kegalauan ini cukup ditulis secara ringkas. Selain itu, penulis juga beberapa kali mengulang narasi ke dalam dialog. Ini cukup bikin saya capek membaca.

Sekhayal-khayalnya sebuah fiksi, rangkaian ceritanya tetap harus logis. (Call me a logical girl, then, hahaha) Nah, novel ini pun mengandung elemen fantasi, tapi sayangnya ada beberapa bagian terpenting cerita yang kurang logis.

PERTAMA, kalau saya disuruh bikin cerita fiksi tentang roh seseorang (misalnya nama orang itu Blue) yang tersedot ke dimensi masa lalu, maka saya akan bikin roh Blue itu masuk ke tubuh orang lain yang memang ada di zaman itu. Bukan tubuh orang sembarangan, melainkan tubuh orang reinkarnasinya di zaman itu. Mengapa? Sederhana saja, karena tubuh Blue masih tertinggal di zaman sekarang. Aneh, kan, ketika Blue tidak sadarkan diri selama sembilan hari dan tubuhnya tergeletak di ranjang rumah sakit, ia malah jalan-jalan bersama raganya sendiri di Yunani kuno? 

KEDUA, penulis menciptakan tokoh Blue sebagai gadis yang cerdas dan kuat fisiknya. Lucunya, ketika  sudah menyadari keanehan di sekitarnya, ia malah bertanya pada seseorang, “Emm, di manakah kita berada?” (hal. 74). Ia sudah tahu bahwa ia masih berada di tempat yang sama seperti sebelum ia tak sadarkan diri, jadi seharusnya ia bertanya, “Tahun berapakah ini?” Nah, it does make more sense. Oke, mungkin Blue sedang sangat syok sehingga linglung berkepanjangan.

KETIGA, tidak dijelaskan bagaimana atau mengapa pakaian Blue tiba-tiba berganti menjadi peplos, dan ia tiba-tiba bisa dengan lincah mengendarai kuda.

KEEMPAT, mungkin ini yang paling penting. Mengapa roh Blue tersesat ke masa Yunani kuno? Mengapa tidak ke Eropa Barat zaman Renaissance, Mesopotamia kuno, atau pada masa Kerajaan Sriwijaya? Mengapa Yunani kuno? Pasti ada alasan. Mungkin agar Blue menemukan jawaban di Yunani kuno, atas masalah yang dialaminya pada masa sekarang? Sayangnya, penulis tidak menuliskan alasannya. Baiklah, mungkin roh Blue tersesat ke Yunani kuno agar ia bisa merasakan kehangatan keluarga Klaimaskos dan bertemu dengan lelaki yang akhirnya ia cintai, Arkhos. Namun, bagi saya, alasan itu kurang signifikan.

KELIMA, ini tentang Red, saudara kembar Blue yang telah meninggal[2]. Red-lah yang berusaha keras membawa Blue kembali ke masa sekarang. Ia mencari roh Blue ke mana-mana, meminta bantuan para roh lain, tapi belum ketemu juga. Anehnya, ketika memandang langit malam, tiba-tiba Red melihat bayangan Blue sedang bersandar di tiang Parthenon. Mengapa Red baru bisa melihatnya saat itu?

KEENAM, butuh usaha keras agar Red dapat membawa Blue menuju portal. Jalan yang mereka lalui juga terdiri dari banyak lorong. Hanya satu lorong yang benar yang akan membawa Blue kembali ke masa kini. Red tahu yang mana lorong yang benar, setelah diberitahu oleh “mereka”[3].
“Mereka mengatakan aku harus membawamu melintasi lorong kosong yang tidak menampilkan apa pun, kecuali kegelapan. Inilah lorong itu…” (Red, hal. 331)
Anehnya, dengan begitu mudah, Arkhos berhasil melewati portal dan tiba di masa-kininya Blue, hanya karena ia berdoa pada Dewi Athena. Demos pun berhasil menyusulnya, padahal ia tidak ikut berdoa (?).


***
Terlepas dari itu semua, ide yang diangkat penulis cukup menarik. Ditambah lagi dengan kekuatan deskripsi setting tempat dan budaya Yunani kuno, novel ini layak dibaca bagi kamu yang ingin mencicipi novel bertemakan proyeksi astral. Selamat membaca!

[1] Keluarga ini terdiri dari Thelos (sang ayah, Ione (ibu), Arkhos (putra tertua), Demos (putra kedua), Theone (putri satu-satunya), dan Aeros (putra bungsu). Termasuk juga Mesa dan Aya, dua orang budak perempuan yang sudah seperti keluarga sendiri.
[2] Di awal novel, saya kira Red perempuan. Penggambarannya membentuk kesan pada pikiran saya bahwa ia sama sekali bukan laki-laki (?).
[3] Sayangnya, identitas “mereka” ini dirahasiakan, padahal saya juga ingin tahu. Mungkin lebih jelas jika penulis memberi porsi lebih banyak untuk tokoh Red, terutama tentang usahanya menyelamatkan Blue.

7 March 2015

[Resensi LUKISAN DORIAN GRAY] Aku Ingin Tetap Muda Selamanya



Lukisan Dorian Gray bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!).

Bulan Februari kemarin tanpa sengaja menjadi bulan sastra bagi saya. Ada lima karya sastra yang saya baca bulan itu (meski ada yang belum selesai). Tiga berupa kumpulan cerpen (Rashomon and Other Stories oleh Ryunosuke Akutagawa, The Steppe and Other Stories oleh Anton Chekov, dan Yang Hidup dan Mati oleh Rabindranath Tagore). Dua lainnya adalah novel, yaitu Lolita karya Vladimir Nabokov (yang belum selesai sampai sekarang) dan novel ini. Menariknya, dalam kelima karya sastra itu, saya menemukan benang merah yang tebal bertuliskan kritik sosial dan kemunduran moral.

Lukisan Dorian Gray diterjemahkan dari dari The Picture of Dorian Gray terbitan Penguin Books tahun 1994, yang masih terdiri dari 13 bab. Edisi ini merupakan terbitan ulang dari versi pertamanya yang diterbitkan pertama kali sebagai cerita berseri pada Juli 1890 oleh Lippincot’s Monthly Magazine. Oleh beberapa kritikus, karyanya dianggap merusak moral orang Inggris. Wilde kemudian merevisi bagian-bagian yang dianggap terlalu vulgar, dan menambah alur sehingga menjadi 20 bab. Termasuk menambahkan tokoh James Vane, kakak Sybil Vane, yang sangat protektif terhadap adiknya dan berniat membalas dendam pada Dorian. Versi revisi berbentuk novel ini diterbitkan pertama kali pada April 1891.
*** 
 “Betapa menyedihkan! Aku akan semakin menua dan jelek, juga buruk rupa. Tapi, lukisan ini selamanya akan tetap muda.... Seandainya aku bisa tetap selalu muda, dan seandainya lukisan ini saja yang menua, bukannya aku! Seandainya bisa begitu, seandainya bisa seperti itu—aku rela memberikan segalanya. Ya, tidak ada hal lain yang kuinginkan di dunia ini melebihi keinginanku tersebut.”(Dorian Gray, hal. 53)
Betapa satu hari saja bisa mengubah kepribadian orang! Dorian Gray, pemuda yang diberkati dengan ketampanan luar biasa dan kebaikan jiwa yang cemerlang, mendadak berubah menjadi pemuja estetika dan hedonisme era Victoria! Salahkan Lord Henry Wotton yang pertama kali bertemu Dorian di studio Basil Hallward pada bulan Juni. Kala itu, Dorian datang ke studio untuk menjadi model lukisan Basil. Salahkan Lord Henry atas ceramahnya selama beberapa jam  tentang dogma-dogma dan pengaruh buruknya!
 “Gunakanlah masa muda mumpung kau masih memilikinya. Menurutku, sungguh sebuah tragedi jika kau menyia-nyiakan anugerahmu.Karena masa muda hanya bertahan tidak lama...”(Lord Henry, hal. 47)
Satu bulan setelahnya, Dorian jatuh cinta pada seorang artis opera, Sybil Vane, dan berniat akan menikahinya. Dorian lalu mengajak Hallward dan Lord Henry menontonnya, tapi betapa kecewa dirinya karena akting Sybil Vane sangat jelek malam itu. Awalnya, Dorian jatuh cinta padanya karena ia sangat jenius dalam memerankan peran apapun, sehingga Dorian begitu kecewa dan meninggalkannya ketika aktingnya menjadi jelek. Malam itulah, pertama kali Dorian menyadari bahwa lukisannya berubah rupa menjadi mengerikan, seolah menanggung dosanya.

Seolah belum cukup mengubah Dorian, suatu saat Lord Henry mengiriminya sebuah novel Perancis yang berkisah tentang seorang pemuda Perancis dan perbuatan-perbuatan dosanya. Buku  berhasil meracuni Dorian, bahkan mungkin menjadi semacam panduan hidupnya. Bertahun-tahun berikutnya, Dorian menghabiskan masa mudanya dengan perbuatan-perbuatan amoral dan hedonistis. Hingga suatu malam, ketika Hallward mengunjunginya untuk mengonfirmasi gunjingan-gunjingan miring orang-orang terhadapnya, Dorian tak tahan lagi. Ia menunjukkan pada Hallward lukisan karyanya yang berubah menjadi sangat mengerikan. Ia merasa Hallward-lah yang harus bertanggung-jawab atas kerusakan moralnya.
“Lukisan itulah yang telah menghancurkanku.”(Dorian Gray, hal. 228)

Karakter Lebih Signifikan daripada Alur


Kekuatan karakter menjadi pilar utama yang membangun karya sastra ini. Wilde tidak terlalu memfokuskan ceritanya pada alur. Berupa alur maju, Wilde menciptakan alur yang padat dari bab pertama sampai kedelapan. Meskipun ada jarak setting waktu yang cukup lama antara bab tiga dengan bab sebelumnya, Wilde telah mengubah kepribadian tokoh utamanya dalam sekejap.  Inilah yang saya maksud dengan padat. Menginjak bab 9, saya terserang kebosanan parah. Satu bab yang tidak tipis itu hanya berisi narasi tentang ilmu-ilmu yang dipelajari Dorian selama bertahun-tahun kemudian. Seolah Wilde hendak mengatakan, “Lihatlah, betapa banyaknya hal yang ia kuasai!”Cobalah hilangkan bab 9 ini, maka cerita tetap akan berjalan dengan mulus, dan bahkan lebih bagus karena pembaca tak harus mengalami kebosanan berkepanjangan.

Ada tiga karakter inti dalam novel ini. Pertama, tentu saja Dorian. Dorian yang awalnya berjiwa bersih dengan mudahnya menjadi pemuja keindahan fisik di atas segalanya, hanya akibat terseret pengaruh Lord Henry. Tak heran Dorian semudah itu terpengaruh, lantaran Lord Henry adalah karakter pria dogmatis, berwawasan luas, terutama tentang psikologi dan filsafat. Ia pandai berkata-kata, sehingga dengan mudah menyihir orang lain. Lucunya, ia sendiri sadar bahwa pengaruh yang ia bawa itu buruk, tapi tetap menggencarkannya.

Dorian            : Benarkah Anda ini membawa pengaruh buruk, Lord Henry?
Seburuk yangdikatakan Basil?
Lord Henry     : Tidak ada itu yang namanya pengaruh yang baik, Tuan Gray.
Semua pengaruh itu sejatinya tidak bermoral… Karena dengan mempengaruhi seseorang berarti kau telah memberikan satu jiwa yang baru kepadanya. Dia tidak lagi berpikir sebagaimana dirinya….
(hal. 37)

Ia menjunjung tinggi estetika dan hedonisme. Hidupnya untuk bersenang-senang dan tidak memedulikan aturan. Namun, saya agak tersakiti membaca perkataannya yang secara eksplisit menjelaskan kedudukan wanita di bawah pria.
“Sahabatku yang baik, tidak ada wanita yang genius. Wanita hanyalah hiasan bagi pria. Mereka suka omong kosong, tetapi omong kosong itu mereka sampaikan dengan begitu menggoda. Wanita melambangkan penguasaan bendawi terhadap akal budi, sebagaimana pria yang melambangkan kemenangan akal budi terhadap moralitas… Dalam hal percakapan, hanya ada lima wanita di London yang layak untuk kita ajak mengobrol, padahal dua di antara mereka tidak diakui sebagai warga masyarakat yang terhormat.” (Lord Henry, hal. 67-68)
Juga pemikirannya tentang pernikahan.
“…salah satu hal yang menarik dari hidupku adalah bahwa pernikahan memungkinkan kedua belah pihak untuk saling berahasia.” (Lord Henry, hal. 14)
Sehingga Basil, si tokoh yang paling lurus hidupnya, merespons, “Aku tidak suka dengan caramu membicarakan kehidupan pernikahanmu, Harry.” (hal. 15). Ya, aku juga tidak suka, Harry. Cara berpikir dan bersikap yang dimiliki Basil ini bisa dibilang terlalu kaku, saking idealnya. Sebagai seorang pelukis, ia sering mengurung diri dalam studio untuk menyelesaikan karyanya, sehingga hidupnya sangat tertutup. Ia hanya memiliki sedikit teman. Beda sekali dengan Dorian atau Lord Henry, yang bisa dibilang “pria gaul Inggris”. Tapi saya mengagumi kelurusan prinsip hidup Basil, sehingga ia tidak terpengaruh ceramah Lord Henry, maupun kelakuan Dorian. Ia juga gambaran pria yang berhati lembut.

Keindahan wajah Dorian telah membawanya ke aliran seni yang baru, dengan semangat romantisme (hal. 26). Sikap Basil terhadap Dorian mengisyaratkan kesan homoseksualitas. Inilah salah satu sebab mengapa para kritikus zaman dulu mencaci karya Wilde.
“Aku harus mengakui bahwa diriku tergila-gila kepadamu, memujamu begitu rupa sampai sedemikian tidak masuk akal. Aku cemburu dengan setiap orang yang kau ajak bicara. Aku ingin memiliki dirimu seutuhnya.” (Basil Hallward, hal. 156)

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Dorian?

Setelah sampai pada halaman data diri penulis, saya masih bertanya-tanya, “Apa yang sebenarnya dilakukan Dorian sampai orang-orang mengecapnya sebagai simbol amoralitas zaman itu?” Bukannya saya yang telat mikir atau bagaimana, tapi nyatanya Wilde tidak menunjukkan tingkah buruk Dorian, tapi hanya mengatakannya berulang-ulang. Ia tak menceritakan secara spesifik perbuatan apa saja yang dilakukan Dorian. Ya, kecuali kasus Sybil Vane. Juga ketika Dorian meninggalkan Hetty Merton. Dengan bangganya ia merasa telah melakukan perbuatan baik karena meninggalkan (memutuskan) Hetty tanpa menodai kesuciannya. Oh my gosh!

Informasi paling jelas tentang kelakuan amoral Dorian hanya saya dapatkan dari kata-kata Basil, ketika ia hendak memastikan dari Dorian sendiri, apakah selama ini tuduhan-tuduhan buruk terhadap Dorian itu benar.
“Dorian, Dorian, reputasimu sungguh jelek.” (Basil Hallward, hal. 219)
Dari situ, saya tahu bahwa kelakuan buruk Dorian telah menyebarkan pengaruh buruk juga pada teman-temannya, sehingga mereka juga turut melakukan hal buruk. Karena itulah, mereka menjauhi Dorian, bahkan ada yang sampai bunuh diri.
“Kukatakan kepadanya bahwa hal itu tidak mungkin,… bahwa kamu tidak mungkin melakukan hal-hal sekeji itu. Kau tahu? Aku ragu apakah aku memang sudah mengenalmu.” (Basil Hallward, hal. 221)
Tapi, lagi-lagi, apa yang sebenarnya Dorian lakukan? Seperti Basil, saya juga ragu telah mengenal Dorian, bahkan sampai saya menamatkan buku ini.

Nah, saya juga penasaran, apa isi surat yang digunakan Dorian untuk mengancam Campbell agar memenuhi permintaannya?

Bukan Penutup

Novel sastra gotik ini sangat menarik untuk dibaca. Dengan nuansa gelap dan misterius yang selalu membuat saya bertanya-tanya, buku ini mengikat perhatian saya sampai lembar terakhir (kecuali bab 9). Di luar segala kekurangannya, (termasuk inkonsistensi Wilde, ketika ia tiba-tiba menginterupsi cerita bersudut-pandang orang ketiga dengan muncul sebagai “aku” di tengah narasi pada halaman 205. “Apakah memiliki karakter yang tertutup adalah hal yang begitu memalukan? Kurasa tidak.”), novel ini layak dinikmati. Apalagi nilai-nilai moral yang diutarakan Wilde adalah pelajaran berharga. Lewat karakter utamanya yang memuja keindahan dan penganut hedonisme, Wilde menyiratkan pelajaran bahwa:

Picture source here, quote and editing by me.

Picture source here, quote and editing by me.


Ini bukan penutup, karena saya masih bertanya-tanya, buku bersampul kuning yang meracuni Dorian itu sebenarnya buku apa? Jika kau juga ingin tahu, temukan jawabannya di sini.


bloggerwidgets