Showing posts with label bernard batubara. Show all posts
Showing posts with label bernard batubara. Show all posts

3 December 2017

[Resensi LUKA DALAM BARA] Sehimpun Curhatan




“Mungkin saja, yang kamu perlukan hanyalah jatuh cinta lagi.”
(Menulis dan Mencintai, hlm. 69)
Tak jarang, aku menjelma impulsif saat membeli buku. Luka dalam Bara adalah salah satu contohnya. Semata karena sampul dan ilustrasinya yang cantik, serta jilidan hardcover dengan harga yang murah, aku memutuskan ikut pre-order edisi bertanda tangan di Bukabuku.
Apakah aku menyesal setelah membaca buku kumpulan curhatan Bara ini?

Tidak juga, meski aku berharap Bara bisa lebih elegan dalam menuliskan curhatannya seputar hubungan percintaannya—tidak sementah dan sebiasa ini. Yah, itulah salah satu untungnya menjadi penulis ternama. Namun, tak bisa juga aku menghakimi lantaran di kata pengantar Untuk Apa Saya Menulis? Bara memang sudah mengatakan bahwa tulisan-tulisannya di buku ini—yang awalnya ia tampilkan di blog—adalah “fragmen-fragmen perasaan aktual” yang “terlalu personal dan jujur untuk saya bagi dalam bentuk sebuah buku utuh” (hlm. 2). Namun, kalau dia menuliskannya ke dalam bentuk puisi nan penuh umpama, apakah itu lantas tidak jujur namanya? Nah, apakah curhatan yang “terlalu personal dan jujur untuk dibagi dalam bentuk sebuah buku utuh” ini tidak terlalu personal dan jujur juga untuk dibagi ke khalayak lewat blog? Mungkin kesannya beda, ya. Entahlah.

Untung, sampul dan ilustrasinya cantik. Untung dapat bonus pouch lucu buat tempat alat tulis.


Untung, di beberapa bagian aku bisa menemukan rasa terkoneksi dengan tulisannya, misalnya bagaimana cara salah satu tokoh menangani patah hatinya (Menangani Patah Hati, hlm. 62-64). Ini mirip dengan caraku menyembuhkan diri pasca-patah-hati: memeras kesedihan sampai kering kemripik, lalu menggorengnya dan memakannya bak kerupuk, yang pada akhirnya kukeluarkan di toilet dan kusirami sampai lenyap dari pandangan. Mampus kau kenangan. (Seandainya bisa seperti itu.) Lalu aku bangun dan menjalani kembali hidup yang tak akan pernah seperti semula (tentunya setelah tak lupa cebok dan memakai celana); hidup yang aku telah berdamai dengannya.

Atau bagaimana juga aku merasa terkoneksi dengan Bara karena kami memiliki beberapa kesamaan dalam hal aktivitas menulis. Menulis untuk menumpahkan perasaan, karena aku lebih bisa menulis daripada berkata-kata.
“Sesuatu yang membuatku mencintai seorang begitu lama adalah, karena garis waktuku dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu yang terulur, cinta semakin dalam terpancang.”
(Surat-surat untuk J
(#6), hlm. 53)
Yah, begitulah. Oleh karena itu, masa-masa paling menyenangkan adalah saat pedekate. (Ada hubungannya nggak, sih? 😕)

Ada kalimat Bara yang membuatku tercenung, yaitu dalam Ikatan. Ikatan dan/atau komitmen adalah salah satu ketakutan terbesarku. Saat ketakutan itu menyerang, aku selalu mengingat petikan dalam Madre karya Dee,
“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?”
Nah, Bara mengingatkanku lagi dengan cara yang berbeda.
“Bagaimana bisa kita terbebas dan terlepas dari ikatan, sementara kita sendiri tercipta dan terbentuk melalui ikatan-ikatan?”
(hlm. 81)
Ya, bagaimana aku bisa lupa kalau tubuhku terdiri dari ikatan-ikatan molekul? Yah, atau mungkin karena sudah terlalu banyak ikatan dalam tubuhku sehingga aku tak menginginkan tambahan lagi....
Selain itu aku juga suka tulisan berjudul Rumah.
“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata....”
(hlm. 7)
Yah, reading is sexy indeed. Selebihnya, isi buku ini tak meninggalkan kesan yang kuharapkan padaku. The best part is, I learned this: judge a book by its cover but don't judge a book by "who's its author". Or even, judge nothing.[]

identitas buku
Judul: Luka dalam Bara
Penulis: Bernard Batubara
Editor: Teguh Afandi
Penerbit: Noura
Cetakan: I, Maret 2017
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-602-385-232-1
Harga: Rp 49.000,00
Ratingku: ⭐⭐ (1 bintang untuk konten dan 1 bintang untuk ilustrasi yang ciamik)

31 December 2015

[Resensi DIJUAL: KEAJAIBAN] Sembilan+ Pelajaran Berharga dari Sastra Asia


Judul: Dijual: Keajaiban
Penulis: Gao Xingjian, Khayriyah Ibrahim as Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, RK Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Penerjemah: Tia Setiadi
Editor: Ainini
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, Desember 2015
Tebal: 228 halaman
ISBN: 978-602-391-049-6
Rating saya: 4/5

Sembilan cerpen dari sembilan penulis besar Asia terkompilasi dalam buku ini, ditambah bonus seuntai esai dari pidato Nobel Sastra Gao Xingjian. Hanya dua dari sembilan nama itu yang saya sudah pernah berkenalan dengan karyanya, yaitu Naguib Mahfouz dan Orhan Pamuk. Pun waktu itu saya berkenalannya juga lewat karya terjemahan Tia Setiadi, Menggali Sumur dengan Ujung Jarum. Sebenarnya tiga dari sembilan penulis tersebut berasal dari Mesir (Naguib Mahfouz, Taufiq el-Hakim, dan Yusuf Idris), tapi mereka pun ikut disebut sebagai "pengarang besar Asia". Menurut penerawangan saya, mungkin karena karya-karya mereka berbahasa Arab. Mungkin, lho ini.

Gao Xingjian, seperti bisa ditebak dari namanya, berasal dari Tiongkok, tapi kemudian eksil ke Perancis. Dia orang Tiongkok pertama yang mendapat Nobel Sastra pada tahun 2000. Cerpennya, Di Sebuah Taman, membuka buku ini dengan serangkaian dialog antara dua orang laki-laki dan perempuan, yang berlatarkan di sebuah taman. Cerpen ini unik, lantaran penuh dialog dan miskin sekali narasi. Namun, dialog yang berisi selalu mampu bercerita semumpuni narasi, atau bahkan bisa mengungkap lebih, seperti dalam cerpen ini.

Tiap kali dialog menyentuh hal sensitif seputar hubungan antara mereka berdua, mereka berpindah ke topik lain, sebelum kemudian si perempuan mengungkapkan sesuatu yang membuat saya mengerti bahwa mereka dulu saling mencintai, tapi kemudian si perempuan terpaksa menikah dengan lelaki lain. Uniknya, ada satu tokoh di latar belakang: seorang perempuan muda, yang sedang menunggu seseorang sendirian di taman itu, dan kemudian menangis. Mereka berdua memperbincangkan sosok perempuan muda itu, tentang "menunggu" dan "berharap". Saya menangkap bahwa tokoh perempuan muda itu beserta kesedihannya diciptakan penulis sebagai cerminan akan perasaan dua orang yang sedang berdialog, tentang kepedihan dan penyesalan mereka sendiri.

"... orang mestinya hanya melakukan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan." (hal. 25)

Cerpen kedua, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, adalah karya Khayriyah Ibrahim as Saqqaf, seorang penulis dari Arab Saudi. Ia juga adalah editor perempuan pertama di sebuah koran terkenal di negaranya. Cerpen ini berkisah tentang Raha, seorang perempuan Arab yang berpikiran modern, berkat ilmu yang diserapnya dan dari pergaulan dengan teman-teman sekolah. Nahas sekali nasibnya, kepulangannya untuk menjenguk kedua orang tua berakhir pada penyiksaan batin dan fisik. Orang tuanya memaksa untuk menikahkannya dengan Fahid, seorang laki-laki tua yang kaya raya. Raha tak bisa kembali ke sekolahnya lagi.

"Aku mengira bahwa ibuku menginginkanku terlihat cantik di antara teman-temanku. Tak kusangka bahwa dia hanya mempersiapkanku untuk dikorbankan, bak si penggembala yang merawat dan menggemukkan kambingnya untuk dijual." (hal. 37)

Cerpen ini sungguh memilukan, terlebih adegan kekerasan yang dilakukan sang ibu pada Raha, semua hanya demi uang. Budaya yang membatasi para perempuan untuk menggapai mimpi-mimpinya, terpancang kokoh di cerpen ini. Membacanya membuat saya teringat Sitti Nurbaya. Penulis membuka cerpen ini dengan judul yang bikin penasaran. Jika boleh saya parafrasakan judulnya, "pembunuhan cahaya" mungkin berarti "matinya segala mimpi dan cita-cita Raha karena perjodohan yang tak diinginkannya". Kemudian, "alir sungai" mungkin berarti "air mata Raha".

Cerpen ketiga, Qismati dan Nasibi, adalah karya Naguib Mahfouz, berkisah tentang dua anak kembar siam, yang punya dua kepala tapi tubuh bagian bawahnya menyatu. Kisah berawal mulai dari saat orang tua mereka menginginkan anak, sampai mereka lahir, tumbuh besar, dan mati. Masalah mulai muncul ketika mereka mulai tumbuh menjadi sosok yang berbeda dan sering berseberangan cara berpikir dan cita-cita. Mereka terjebak oleh kedekatan dan sikap saling bergantung yang mengerikan. Saya mencium aroma magis-realis ketika membaca cerpen ini.

"Seandainya kami lahir dengan satu kepala dan dua bagian bawah yang terpisah, mungkin segalanya akan menjadi lebih mudah!" (Qismati, hal. 60)


Cerpen keempat, Memandang ke Luar Jendela, karya Orhan Pamuk, menggunakan sudut pandang seorang anak laki-laki. Di luar segala persoalan kanak-kanak, (termasuk kekalahannya yang bertubi-tubi saat main kartu dengan sang kakak dan ketakutannya akan suntikan) ada masalah lebih besar yang ditangkap oleh jala-jala pikirannya, yaitu kepergian ayahnya secara misterius ke Perancis. Tak ada yang tahu, kecuali ia. Nampak dalam cerpen ini, kesadaran dalam diri anak kecil akan masalah-masalah dan perasaan orang dewasa. Beberapa sumber mengindikasikan bahwa cerpen ini ditulis berdasarkan pengalaman Orhan sendiri (The Guardian, SFGate).

"Memandang ke luar jendela adalah sebuah hiburan penting sehingga tatkala televisi pada akhirnya datang ke Turki, orang-orang bertindak sama di depan kotak ajaib itu dengan yang mereka lakukan di depan jendela-jendela mereka." (hal. 66)


Cerita kelima, Anjing Buta, adalah karya RK Narayan, seorang penulis India. Cerpen ini memantik kepiluan lebih mendalam di hati saya, ketimbang ketika saya membaca Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai. Cerpen ini mengisahkan persahabatan tak sempurna antara seorang lelaki buta dan seekor anjing. Si lelaki buta merasa tertolong oleh si anjing yang selalu menuntunnya ke mana pun dia pergi, pun melindunginya dari berbagai ancaman. Namun, sial bagi si anjing. Dunianya kini hanya sepanjang tali pengikat lehernya. Si lelaki buta pun kerap menendanginya. Anjing itu pun lama-lama jadi kurus. Orang lain yang melihat penderitaan itu berusaha membebaskan si anjing, dengan memotong talinya. Ironisnya, setelah beberapa saat mengecap kebebasan, si anjing kembali lagi ke lelaki buta karena ia butuh makan.

"'Ia keluyuran selama dia bisa menemukan sampah untuk dimakan di jalan, tapi kelaparan yang amat sangat membawanya kembali kepadaku, dan kini anjing itu tak akan meninggalkanku lagi. Lihat! Aku sekarang dapat ini,' dan si lelaki buta itu menggoyang-goyangkan talinya: kali ini rantai besi." (hal. 115)

Oleh karena itu, si anjing pun tak ubahnya sudah buta, karena gagal melihat kebebasan yang telah ia dapatkan kembali. Dilema yang dialami si anjing barangkali menggambarkan yang sering kita alami sebagai manusia, dalam pertarungan antara kebutuhan vs kebebasan. Saya pernah berada di situasi seperti ini, beberapa kali. Pada tahun 2012, saya pernah melamar kerja sebagai guru bahasa Indonesia bagi orang-orang luar negeri, di sebuah lembaga bahasa. Saya melewati beberapa tahap seleksi, hingga akhirnya diterima. Saya masih berada dalam tahap training, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena ikatan kerjanya terlalu membebani. Hmm, saya memang butuh uang tambahan untuk bertahan hidup, tapi saya lebih memilih kebebasan pada waktu itu.

"Apa yang bisa kita lakukan dengan sesosok makhluk yang kembali kepada hukumannya dengan begitu sukarela?" (hal. 116)

Cerpen keenam, Di Selatan, Dua Lelaki Tua India, adalah karya Salman Rushdie, seorang penulis India. Cerpen ini berkisah tentang dua orang lelaki tua yang tinggal di India Selatan. Beberapa persamaan menyatuhkan mereka, termasuk kesamaan nama, V entah siapa, sehingga mereka lebih suka dipanggil Senior dan Junior (tanggal lahir mereka beda 7 hari). Namun, mereka memiliki masa lalu yang berbeda. Si Senior, memiliki masa lalu yang berkelimpahan dan keluarga besar yang terdiri dari 200+ anggota keluarga, sehingga lama-lama ia merasa terlalu "ramai". Sebaliknya, si Junior, memiliki masa lalu yang mengecewakan dan tidak beristri. Mereka berdua menjalin persahabatan, meski dengan pemikiran berbeda, sebelum si Junior meninggal lebih dulu. Peristiwa tsunami tahun 2004 juga masuk dalam cerita ini. Dalam cerpen ini, Salman Rushdie berhasil membentuk kedua tokohnya seperti layaknya kakek-kakek tua, dari cara berpikir dan berkelakuan mereka.

Cerpen ketujuh, Dijual: Keajaiban, adalah karya Taufiq el-Hakim, seorang penulis dari Mesir. Bertokoh-utamakan seorang rahib atau pendeta, cerpen ini mengisahkan bagaimana rahib itu dimintai tolong untuk menyembuhkan seorang yang sedang sakit di sebuah desa. Setelah ia berhasil menyembuhkan orang itu, dan hendak pergi dari desa tersebut, datanglah orang lain lagi yang juga memintanya datang ke desanya untuk menyembuhkan seseorang. Ia telah melakukan keajaiban-keajaiban penyembuhan. Sebagai balasnya, orang-orang itu menampung sang rahib di rumah mereka dan melimpahinya dengan keramahtamahan. Ternyata, tanpa ia ketahui, keajaiban yang telah diperbuatnya itu harus dibayar mahal oleh gerejanya. Saya terperenyak sembari senyam-senyum ketika sampai pada twist di bagian akhir. Taufiq el-Hakim telah mempermainkan saya, hahaha.

Cerpen kedelapan, Tujuh Jembatan, adalah karya Yukio Mishima, yang sering disebut sebagai penulis terbesar Jepang abad ke-20. Dua orang geisha, Kanako dan Koyumi, bersama Masako, putri pemilik Yonei House, melakukan ritual menyeberangi tujuh jembatan agar doa-doa mereka terkabul. Di detik terakhir, Mina, pembantu Masako, ikut serta dalam ritual itu. Agar doa-doa terkabul, syaratnya adalah:

"Dari menit sejak kita beranjak dari rumah ini kau tak akan buka mulut, tak peduli apa pun yang terjadi, sampai kita menyeberangi tujuh jembatan seluruhnya. Bahkan kalau sepatah kata saja kau ucapkan maka kau tak akan mendapatkan apa yang kau doakan. Dan kalau siapa pun yang mengenalmu berbicara kepadamu, maka siallah kau.... Kau tak diperkenankan untuk kembali ke jalan yang sama dua kali." (hal. 163)

Sebelum sampai di jembatan terakhir, Kanako dan Koyumi telah gagal. Tinggallah Masako berdua dengan Mina. Masako sangat membenci gadis itu, sehingga sepanjang jalan ia merasa tidak nyaman. Namun, pada akhirnya Masako pun gagal menyeberangi ketujuh jembatan. Sang penulis berhasil membuat saya penasaran sampai akhir, akan apa sebenarnya doa yang dipanjatkan Mina. Sosoknya pun misterius, dan karenya ada hawa menyeramkan keluar darinya. Sepanjang perjalanan dari awal hingga akhir, penulis banyak mendeskripsikan latar hal-hal di sekitar mereka. Ada deskripsi yang meninggalkan kesan kuat bagi saya:

"Beberapa jonjot awan berlayar di langit.." (hal. 165)
"Air di dalam sungai berlipat-lipat dalam cahaya bulan." (hal. 168)

Cerpen terakhir, Nampan dari Surga, adalah karya Yusuf Idris, seorang penulis Mesir, yang terkenal sebagai pelopor yang membaurkan bahasa Arab standar dengan bahasa Mesir pasaran. Syaikh Ali, tokoh dalam cerpen ini, menjadi bahan olok-olokan sedesa karena keanehan dan kemiskinannya. Suatu kali, ia mengutuk Tuhan karena kemiskinan dan kelaparan yang sudah tak tertahankan. Seisi desa menjadi takut kalau-kalau Tuhan akan murka karena hujatan Syaikh Ali itu.

"Aku tak akan diam kecuali Dia mengirimiku sebuah meja yang sarat makanan dari langit, sekarang juga." (hal. 193)

Mendengar itu, orang-orang mulai memberinya makan, meski mereka sendiri pun sebenarnya jauh dari "kaya". Sosok Syaikh Ali ini menggampar saya, dan mungkin kita semua, yang kadang mengaku bertakwa kepada Tuhan, tapi melupakan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan.

Terakhir, lewat pidato nobelnya, Gao Xingjian menyerukan perihal hakikat sastra yang sejati menurut pemikirannya. Esai ini menarik, karena menambah keyakinan saya yang sempat terombang-ambing: haruskah saya menulis apa yang saya inginkan, atau yang pasar inginkan?

"... sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan." (hal. 203)

"Sastra bukan buku paling best-seller atau buku paling laris.... tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra." (hal. 209, 221)
***

Saya setuju dengan pendapat Bernard Batubara dalam prolognya di buku ini, bahwasanya Tia Setiadi telah menerjemahkan karya-karya sastra ini dengan baik. Terjemahannya mampu memberikan kesan seolah-olah ini bukan terjemahan, seolah isi buku ini memang sedari awal ditulis dalam bahasa Indonesia. Seperti Bernard Batubara, saya juga mengakui bahwa banyak elemen bahasa menarik dan unik yang tercipta dari proses terjemahan, seperti:

"Qismati mabuk oleh nektar hasrat..." (hal. 56)
"Kanako sangat pendiam sehingga terlihat seakan-akan angin semilir pun akan melupakannya..." (hal. 159)
"...jonjot-jonjot awan mulai meluas di atas kepala." (hal. 16)
"Dia adalah keluarga nyamuk, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal." (hal. 124)

Lagi-lagi, saya juga setuju dengan Bernard Batubara, bahwa penerjemah memilih cerpen-cerpen yang "tepat untuk memberi kesan pertama yang menyenangkan bagi pembaca yang masih awam terhadap pengarang-pengarang dalam buku ini" (hal. 8). Secara keseluruhan, saya menyukai semua cerpennya, tapi yang paling berkesan adalah Anjing Buta dan Tujuh Jembatan. Pidato Nobel Gao Xingjian, yang berjudul Perihal Sastra pun menempati sudut spesial dalam benak saya.[ ]

22 February 2015

[Resensi] Jatuh Cinta dan atau Bunuh Diri


Judul Buku                   : Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri
Penulis                         : Bernard Batubara
Editor                           : Ayuning & Gita Romadhona
Tebal                            : vi + 294 halaman
Penerbit/cetakan          : GagasMedia/Cetakan I, 2014
ISBN                            : 978-979-780-771-9
Harga                           : Rp 50.000,00

Rating :                       


Mataku menonjol di balik saku. Kutengadahkan kepala dan sudut pandangan sempitku terperangkap bayangan tiga buku yang ia peluk tergesa menuju meja kasir di ujung sana. Sensor proksimitas yang terkubur dalam dahiku mencicit. Ada yang mendekat, meniupkan suara seorang laki-laki. Beli tiga buku gratis satu, katanya. Ia, gadis itu, bersuara dengan frekuensi gelombang meninggi di ujungnya. Bisa kubayangkan, matanya kini sedang berbinar. Mendadak, ia menarikku cepat dan menyuruhku menyampaikan pesan pada temannya, “Gratis satunya ambil buku apa, ya?”
Aku membisu. Sang teman belum memberi jawaban. Dahinya seolah teranyam ketika pandangnya meoncat-loncat dari satu sampul ke sampul berikutnya. Sesekali ia melirik padaku cemas. Setengah jam berlalu. Jika bisa kugambarkan di atas kertas, maka gerakan langkah kakinya serupa obat nyamuk bakar. Ia berhenti tiba-tiba. Matanya terefleksi ungu seluruhnya. Seperti tersihir, tangannya teracung, menunjuk sampul buku berwarna ungu dengan tulisan judul kuning sambil berseru, “Yang itu!” 
Ketika ia berjalan keluar dengan tas plastik menggantung di ujung jari-jarinya, aku mencicitkan pesan balasan sang teman, “Jatuh Cinta-nya Bernard Batubara aja!”
“Ugh, udah telat! Eh, tapi....” Ia berhenti bergumam dan mengeluarkan satu buku dari tas plastik. Sampul depannya menghadap ke arahku, dan aku mengejanya dalam hati.
Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Bernard Batubara.
***

Cerita mini di atas adalah sejarah bagaimana buku ini bisa berada di tangan saya (sekarang udah nggak lagi di tangan saya, tapi di atas lantai). Sebelumnya, saya pernah baca karya Bang Bernard yang berjudul Milana. Ternyata yang sampulnya ungu ini pun kumpulan cerpen (saya tidak tahu sampai membaca tulisan kecil di bawah judul, “dan cerita-cerita lainnya”. Hehe, maaf, saya kuper).  Sejak pertama kali menyobek plastik pembungkus dan membolak-balik isinya, saya langsung jatuh cinta. Bukan, bukan pada isi ceritanya (baca aja belum, kan), tapi pada sampul, ilustrasi, dan layout dalamnya. Desain sampul yang simpel dipertegas dengan pemilihan warna yang cukup mencolok tapi serasi: ungu-kuning. Saya suka perpaduan warna ini. Selalu ada ilustrasi yang mengawali tiap cerita, dan itu bagus. Layout-nya bikin saya betah baca lama-lama. Jenis dan ukuran hurufnya tepat, margin halamannya pun pas. Hal simpel ini sungguh menolong mata minus lima saya agar tak cepat capek baca.

Terdiri dari lima belas cerpen, yang tiga darinya pernah dimuat di media cetak, saya optimis separuh lebih akan nyantol di hati saya. Pasalnya, cerpen yang ditulis Bang Bernard di blognya, berjudul Perkenalan, yang saya baca malam sebelumnya cukup memikat hati saya. Dan langsung saya baca, tapi dari belakang ke depan (seolah komik Jepang). Hanya karena saya ingin baca cerpen yang judulnya jadi judul buku ini, sebagai cerpen pembuka (karena ia diletakkan sebagai cerpen pamungkas).
“Kau jatuh cinta kepada manusia, lalu ingin menjadi manusia? Kau sudah tahu caranya. Kau harus bunuh diri.” (hal. 282)
Sekarang saya tahu mengapa judul cerpen ini yang diberi keistimewaan jadi judul bukunya. Keseluruhan cerpen dalam buku ini memiliki urat nadi yang sama: jatuh cinta dan atau bunuh diri. Pemaknaan dua frasa ini mewujud dalam berbagai cara. Dalam cerpen pembuka saya ini, tokoh Bril mengalami salah satu jenis jatuh cinta yang manjur untuk bunuh diri, yaitu jatuh cinta pada orang yang mencintai orang lain. Bagian akhirnya cukup tertebak, tapi untungnya penulis mengumpani saya dengan satu teka-teki.
“Dia tidak menyukai namanya. Dia mengubah namanya hanya karena ia lebih percaya diri dengan nama lain. Lucu sekali. Aku menyukai dia.” (hal. 285)
Namanya berinisial J, ya? Hehehe.

Jatuh cinta sendiri ini juga dialami oleh sang perempuan dalam Seorang Perempuan di Loftus Road, yang ditulis sebagai respons cerpen Sungging Raga, “Sebatang Pohon di Loftus Road”. Jenis jatuh cinta yang sama juga berlaku untuk si Kunti di Nyanyian Kuntilanak. Dalam cerpen ini, penulis mengeksplor sebagian cerita rakyat tentang sejarah kota Pontianak. Bagian lain kota ini, yaitu sungainya—Kapuas—juga muncul di dua cerpen lain, Meriam Beranak dan Bayang-bayang Masa Lalu.  Kedua cerpen ini mengisahkan dua orang wanita yang dikutuk. Dalam Meriam Beranak, sang wanita mengutuk dirinya sendiri menjadi meriam karena keindahan fisiknya membuat rusuh seisi kampung. Kecintaan akan fisik ini juga menjadi isu dalam cerpen Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah. Dalam Bayang-bayang Masa Lalu, sang wanita dikutuk menjadi perawan tua, tak kurang umurnya 709 tahun. Kutukan itu harus ditanggungnya karena ia jatuh cinta pada laki-laki dari suku yang berbeda.

Salah satu kecamatan di Pontianak juga dijadikan latar tempat dalam Bayi di Tepi Sungai Kayu Are. Dalam cerpen ini, seorang bayi disalahgunakan sebagai bukti palsu oleh Yuni, karena cintanya pada Iswandi tak berbalas. Saya mengapresiasi inisiatif penulis untuk menjahitkan pernik-pernik kota kelahirannya pada lembaran cerpennya.

Dalam Menjelang Kematian Mustafa, Mustafa jatuh cinta terhadap pekerjaannya sebagai pencabut nyawa. Sesungguhnya, jatuh cinta itu telah membuatnya membunuh sifat manusiawi dalam dirinya sendiri. Plot yang dipilih penulis cukup mengejutkan, meninggalkan akhir yang tak mudah ditebak. Jatuh cinta terhadap orang tertentu juga bisa mengerikan dampaknya, seperti jatuh cinta pada perempuan nyctophilia dalam Nyctophilia. Atau jatuh cinta pada seorang teroris, dalam Bulu Mata Seorang Perempuan.  

Bukan hanya jatuh cinta pada orang lain yang bisa membunuh orang. Jatuh cinta pada ketakutan tertentu juga bisa bikin orang lain terbunuh, meski efeknya tidak secara langsung (seperti teori butterfly effect). Dalam Langkahan, karena terlalu mencintai ketakutan akan dilangkahi oleh adik perempuannya, Mariani menyebabkan calon suami adiknya terbunuh.

Lalu, konsep kausalitas antara “cinta” dan “membunuh” ini diekspresikan secara eksplisit dalam cerpen Orang yang Paling Mencintaimu, di mana para tokohnya membunuh orang-orang yang paling mereka cintai.
Sumber di sini, diedit oleh saya.
Nampak dalam cerpen-cerpennya di buku ini, Bang Bernard gemar memperalat detail-detail simpel, mengolahnya sedemikian rupa agar efeknya mampu mendramatisasi cerita. Namun, jika saya hanya melihat gambar besar ceritanya dari jauh, tanpa meletakkan kaca pembesar pada bagian-bagian kecilnya, kadang ceritanya terlihat biasa. Bahkan, efek si detail itu nyaris tak terlihat. Seperti mitos “bulu mata jatuh” dalam Bulu Mata Seorang Perempuan dan lagu daerah “Cik-cik Periuk” dalam Nyanyian Kuntilanak. Juga, yang jadi favorit saya adalah metafora “matahari dan pohon” dalam Seribu Matahari untuk Ariyani.

Penulis sering menggunakan sudut pandang penceritaan orang pertama. Poin pentingnya, tokoh-tokoh “aku” ini dapat membicarakan hal-hal penting tanpa menjadi bawel. Dalam cerpen Hujan Sudah Berhenti dan Lukisan Nyai Ontosoroh, penulis mengeksplorasi cara berpikir dua anak kecil yang sama-sama menjadi saksi perceraian ayah-ibu mereka. Kadang, yang menjadi “aku” agak berbeda dengan tokoh kebanyakan. Seperti dalam Seribu Matahari untuk Ariyani, di mana si “aku” adalah seorang anak penderita keterbelakangan mental. Sang penulis mendadak menjelma jadi bocah idiot, dan caranya berkata-kata sungguh seadanya, dengan bahasa kaku dan diksi diulang-ulang.
“Aku duduk di pinggir trotoar depan sekolah. Aku menggambar. Aku duduk menggambar setiap sore. Aku menggambar sendirian....” (hal. 81)
Di samping segala keunggulan itu, saya kecewa terhadap beberapa cerpen yang mudah tertebak plotnya, seperti Nyanyian Kuntilanak, Hujan Sudah Berhenti, Langkahan, Bayang-bayang Masa Lalu, dan Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri. Hujan Sudah Berhenti itu akan lebih matang jika plotnya diolah lebih baik lagi, karena seperti masih ada yang menggantung di sana. Saya rasa, penulis semestinya bisa menggali lebih dalam ide ceritanya dan mengembangkannya jadi lebih menusuk.

Ada 6 cerpen yang paling mengesankan saya:
  1. Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah
  2. Nyctophilia
  3. Seribu Matahari untuk Ariyani
  4. Bayi di Tepi Sungai Kayu Are
  5. Menjelang Kematian Mustafa
  6. Seorang Perempuan di Loftus Road

Selain itu, ada 3 cerpen lain yang cukup bagus: Lukisan Nyai Ontosoroh, Meriam Beranak, dan Bulu Mata Seorang Perempuan. Berdasarkan hitungan sederhana ini,
saya memberikan rating 3. FYI, cerpen terfavorit saya dalam buku ini adalah Seribu Matahari untuk Ariyani. Secara keseluruhan, penulis mengembangkan ide-idenya seputar jatuh cinta secara tidak biasa dan bernuansa muram (hampir semua cerpennya memiliki akhir yang tidak menyenangkan). At last, ini adalah kumpulan cerpen yang worth-read.

bloggerwidgets