Showing posts with label Noura Books. Show all posts
Showing posts with label Noura Books. Show all posts

3 December 2017

[Resensi LUKA DALAM BARA] Sehimpun Curhatan




“Mungkin saja, yang kamu perlukan hanyalah jatuh cinta lagi.”
(Menulis dan Mencintai, hlm. 69)
Tak jarang, aku menjelma impulsif saat membeli buku. Luka dalam Bara adalah salah satu contohnya. Semata karena sampul dan ilustrasinya yang cantik, serta jilidan hardcover dengan harga yang murah, aku memutuskan ikut pre-order edisi bertanda tangan di Bukabuku.
Apakah aku menyesal setelah membaca buku kumpulan curhatan Bara ini?

Tidak juga, meski aku berharap Bara bisa lebih elegan dalam menuliskan curhatannya seputar hubungan percintaannya—tidak sementah dan sebiasa ini. Yah, itulah salah satu untungnya menjadi penulis ternama. Namun, tak bisa juga aku menghakimi lantaran di kata pengantar Untuk Apa Saya Menulis? Bara memang sudah mengatakan bahwa tulisan-tulisannya di buku ini—yang awalnya ia tampilkan di blog—adalah “fragmen-fragmen perasaan aktual” yang “terlalu personal dan jujur untuk saya bagi dalam bentuk sebuah buku utuh” (hlm. 2). Namun, kalau dia menuliskannya ke dalam bentuk puisi nan penuh umpama, apakah itu lantas tidak jujur namanya? Nah, apakah curhatan yang “terlalu personal dan jujur untuk dibagi dalam bentuk sebuah buku utuh” ini tidak terlalu personal dan jujur juga untuk dibagi ke khalayak lewat blog? Mungkin kesannya beda, ya. Entahlah.

Untung, sampul dan ilustrasinya cantik. Untung dapat bonus pouch lucu buat tempat alat tulis.


Untung, di beberapa bagian aku bisa menemukan rasa terkoneksi dengan tulisannya, misalnya bagaimana cara salah satu tokoh menangani patah hatinya (Menangani Patah Hati, hlm. 62-64). Ini mirip dengan caraku menyembuhkan diri pasca-patah-hati: memeras kesedihan sampai kering kemripik, lalu menggorengnya dan memakannya bak kerupuk, yang pada akhirnya kukeluarkan di toilet dan kusirami sampai lenyap dari pandangan. Mampus kau kenangan. (Seandainya bisa seperti itu.) Lalu aku bangun dan menjalani kembali hidup yang tak akan pernah seperti semula (tentunya setelah tak lupa cebok dan memakai celana); hidup yang aku telah berdamai dengannya.

Atau bagaimana juga aku merasa terkoneksi dengan Bara karena kami memiliki beberapa kesamaan dalam hal aktivitas menulis. Menulis untuk menumpahkan perasaan, karena aku lebih bisa menulis daripada berkata-kata.
“Sesuatu yang membuatku mencintai seorang begitu lama adalah, karena garis waktuku dengannya selalu bersaling-silang. Belum benar-benar bertemu pada garis dalam alur yang sama. Semakin lama waktu yang terulur, cinta semakin dalam terpancang.”
(Surat-surat untuk J
(#6), hlm. 53)
Yah, begitulah. Oleh karena itu, masa-masa paling menyenangkan adalah saat pedekate. (Ada hubungannya nggak, sih? 😕)

Ada kalimat Bara yang membuatku tercenung, yaitu dalam Ikatan. Ikatan dan/atau komitmen adalah salah satu ketakutan terbesarku. Saat ketakutan itu menyerang, aku selalu mengingat petikan dalam Madre karya Dee,
“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?”
Nah, Bara mengingatkanku lagi dengan cara yang berbeda.
“Bagaimana bisa kita terbebas dan terlepas dari ikatan, sementara kita sendiri tercipta dan terbentuk melalui ikatan-ikatan?”
(hlm. 81)
Ya, bagaimana aku bisa lupa kalau tubuhku terdiri dari ikatan-ikatan molekul? Yah, atau mungkin karena sudah terlalu banyak ikatan dalam tubuhku sehingga aku tak menginginkan tambahan lagi....
Selain itu aku juga suka tulisan berjudul Rumah.
“Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata....”
(hlm. 7)
Yah, reading is sexy indeed. Selebihnya, isi buku ini tak meninggalkan kesan yang kuharapkan padaku. The best part is, I learned this: judge a book by its cover but don't judge a book by "who's its author". Or even, judge nothing.[]

identitas buku
Judul: Luka dalam Bara
Penulis: Bernard Batubara
Editor: Teguh Afandi
Penerbit: Noura
Cetakan: I, Maret 2017
Tebal: 108 halaman
ISBN: 978-602-385-232-1
Harga: Rp 49.000,00
Ratingku: ⭐⭐ (1 bintang untuk konten dan 1 bintang untuk ilustrasi yang ciamik)

10 October 2017

[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

2 June 2017

[Resensi PERCY JACKSON'S GREEK GODS] Surat untuk Percy Terkait Dewa-dewi Olympia



Dear, Percy.

Terima kasih, kau telah mengisahkan padaku—yang buta terhadap kisah dewa-dewi Yunani—kisah mereka secara cukup terstruktur. Kau mulai dari kisah munculnya Kaos (Chaos), dewa pertama, yang kemudian disusul terciptanya Ibu Bumi (Gaea), dan sekumpulan dewa purba lain. Kemudian, Gaea dan Ouranos (Langit) mendapatkan 12 anak yang disebut Titan, terdiri dari 6 perempuan dan 6 laki-laki. Titan  menyerupai manusia, tapi jauh lebih tinggi dan kuat. Kemudian mereka punya tiga anak kembar yang buruk rupa, yaitu Cyclops, dan tiga anak kembar lagi yang disebut Para Tangan Seratus. Karena Ouranos sangat menyebalkan dan membuat Gaea marah berkali-kali, akhirnya Gaea memutuskan bahwa Ouranos sebaiknya dibunuh saja. Dari semua anak Titan-nya, Kronos, si bungsulah yang mau melakukan pembunuhan itu. Kemudian Kronos jadi raja semesta menggantikan ayahnya.

Kronos menikah dengan Rhea, dan dari rahimnya lahirlah keenam dewa-dewi generasi pertama. Kronos yang ketakutan bahwa anaknya akan menghancurkan dirinya, memilih untuk menelan mereka. Yah, Percy, kau berhasil membuatku jijik di banyak kesempatan. Pada akhirnya Zeus, si bungsu, berhasil membunuh Kronos. Di sini aku merasa déjà vu. Sejak itu, kau fokus menceritakan satu dewa/dewi di tiap bab.

O ya, aku iseng bikin silsilah para dewa-dewi itu.
Maaf, ya, kalau ada yang kurang atau keliru.
Terima kasih, Percy, kau telah menceritakan betapa ruwet dan tak bermoralnya kehidupan para dewa-dewi Olympia dengan cara yang, seolah-olah, kau sedang menceritakan kisah penuh kekonyolan. Yah, memang, ada banyak kekonyolan. Aku tak bisa melupakan begitu saja saat “Hermes bertanya-tanya jika Argus memiliki mata di telapak tangannya, dan jika begitu, apakah matanya menghitam dari memegang tongkat gadanya seharian?” (Bab Hermes hlm. 33). Atau saat monster Typhoeus memunculkan diri dan Poseidon melihatnya, lalu berkata, “Eh, pria itu gede banget.” (Bab Zeus, hlm. 34). Juga dialog konyol antara Hera dan Zeus ini:

“Kau menyukaiku,” ucapnya. “Kau tahu itu.”
“Jelas-jelas tidak,” sahutnya. “Kau bodoh, mata keranjang, jahat, dan pembohong!”
“Tepat sekali!” seru Zeus. “Itu adalah kualitas terbaikku!”
(Bab Hera, hlm. 6)

“Bagaimana caraku untuk meyakinkanmu bahwa kau cuma membuang-buang waktu saja?”
“Memang tidak bisa. Aku mencintaimu.”
Hera mendengus. “Kau mencintai apa pun yang memakai gaun.”
(Bab Hera, hlm. 7)

Para dewa-dewi itu, tak bisakah mereka hidup dengan benar?

Di antara para dewa-dewi Olympia, kebaikan merupakan sebuah komoditi yang langka dan sangat berharga.
(Bab Hestia, hlm. 21)

Yah, setidaknya ada beberapa yang bisa hidup dengan lumayan benar, misalnya Hestia, yang dengan bijaksana memutuskan tidak ingin menikah (yang adalah gagasan tidak masuk akal bagi Zeus). Hestia kemudian menjadi penjaga api perapian Olympus selamanya. Di antara para dewa, barangkali yang paling bermoral adalah Hades (yah, meskipun ia juga melakukan beberapa perselingkuhan dari Persephone), dan Hephaestus (yah, meskipun ia membalas dendam pada Hera, ibunya). Sejak masa pemerintahan Hades, Dunia Bawah mengalami perubahan besar-besaran, dalam artian positif. Tidak seperti Zeus dan Poseidon, Hades adalah dewa yang tergolong sopan dalam mengejar perempuan yang dicintainya. Tapi gara-gara nasihat sesat dari Zeus, dia malah menculik Persephone. Namun setelah itu, ia memperlakukan Persephone dengan sangat baik.

Hephaestus mengalami masa kecil yang mengerikan. Ia dibuang Hera, ibunya, begitu lahir, lewat jendela istana Olympus, karena ia teramat buruk rupa dan cacat. (Yah, ini menunjukkan betapa Hera bisa menjadi sangat tak bermoral, bahkan setelah ia menjadi Dewi Pernikahan dan Keibuan. Insiden ini juga menunjukkan bahwa para dewa-dewi secara umum terlalu mengutamakan keindahan fisik seseorang.) Ia jatuh ke laut, lalu dibesarkan oleh Thetis, yang tidak bermasalah dengan keburuk-rupaannya. Hephaestus berbakat dalam membangun dan membuat karya dan menjadi pandai besi. Kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke Olympia dan membalas dendam pada ibunya.

Kau telah membuangku karena aku jelek dan cacat, kau menjatuhkanku dari gunung. Aku ingin kau menderita karena itu, Ibuku Tersayang. Pikirkan tentang segala hal yang bisa kubuatkan untukmu kalau kau memperlakukanku dengan baik. Mungkin kau akan menyadari bahwa kau telah membuang sesuatu yang berharga. Kau tak semestinya menilai seorang dewa dari penampilannya saja.
(Hephaestus, Bab Hephaestus, hlm. 10)

Hephaestus juga termasuk sopan saat mengejar perempuan yang ia cintai, yaitu Athena, yang sebenarnya enggan berhubungan dengan pria mana pun. Aku tak akan lupa bagaimana ulah Hephaestus itu menimbulkan “insiden sapu tangan”.

Bicara tentang Athena…, yah, dia telah jadi salah satu favoritku sejak kelahirannya yang mengejutkan. Aku tak akan lupa bagaimana Dewi Perang dan Kebijaksanaan ini lahir dari kepala Zeus (dengan dibantu oleh Hephaestus yang membedah tengkorak Zeus).

Dia mulai menendang-nendang, memukul-mukul, dan menjerit-jerit di dalam tengkorak Zeus, membuat kegaduhan sebisa mungkin. (Mungkin dia memiliki banyak ruangan untuk bergerak-gerak di sana karena otak Zeus teramat kecil. Jangan bilang kepadanya aku mengatakan itu.)
(Bab Athena hlm. 3-4)

Athena punya kisah duka saat ia masih remaja. Tanpa sengaja, ia membunuh sahabat karibnya sendiri, Pallas. Oh, Zeus terlibat di kejadian tragis ini. (Nah, banyak sekali alasan untuk membenci Zeus, kan. Jangan salahkan aku, Percy.) Athena pernah terlibat adu menenun dengan Arachne, seorang manusia yang memiliki keahlian menenun luar biasa. Pada akhirnya karya mereka seri, tapi Athena mengutuk Arachne jadi laba-laba karena gadis itu memutuskan untuk bunuh diri. Athena, dengan segala kebijaksanaannya, juga pernah memenangkan perseteruan dengan Poseidon saat memperebutkan sebuah kota untuk mereka lindungi.

Dewi lain yang jadi favoritku adalah Artemis, saudari kembar Apollo. Mereka berdua sama-sama ahli memanah. Artemis memohon pada Zeus agar menjadi perawan selamanya. Ia tidak ingin menikah, apalagi punya anak, karena itu akan menghambat hasratnya untuk menjelajah dunia dan berburu hewan-hewan berbahaya. Artemis punya kekuasaan yang kontradiktif: ia Dewi Berburu sekaligus Dewi Hewan Liar. Maksudnya, ia akan melindungi para pemburu asal mereka tidak merusak alam, benar-benar memanfaatkan apa yang mereka bunuh, serta tidak membunuh secara berlebihan tanpa alasan yang jelas. Artemis punya sekelompok pengikut yang terdiri dari para perempuan yang juga tak ingin menikah. Bersama-sama mereka menjelajahi alam liar. Nahas, Artemis dua kali kehilangan sahabatnya—yang juga adalah pengikutnya, dan sejak saat itu memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan para pengikutnya.

Dari ceritamu, aku belajar bahwa para dewa-dewi ini memang gemar melakukan keajaiban, bahkan sejak kelahiran mereka. Yang paling menarik bagiku adalah kelakuan Hermes. Saat baru lahir, ia menghabiskan hari pertamanya di dunia dengan mencuri lima puluh sapi milik Apollo dan menciptakan alat musik lira dari tempurung kura-kura dan urat domba dan alat musik suling ganda yang dia beri nama syrinx. Sepertinya seru sekali menjadi dewa perjalanan dengan banyak sekali urusan seperti Hermes, termasuk saat membantu Zeus melaksanakan pekerjaan kotor.

Ah, Zeus…. Zeus memang punya hobi melakukan hal-hal tak bermoral, bahkan cenderung menjijikkan, terutama menyangkut perempuan. Kau telah merangkum dengan baik siapa itu Zeus dalam empat kalimat ini, Percy:

Pokoknya, Zeus menjadi marah dan memutuskan untuk memusnahkan seluruh ras manusia. (Bab Zeus, hlm. 13)

Apa pun itu, Zeus senang membiarkan kaum manusia kembali ke dunia, karena tanpa mereka, dia takkan memiliki gadis-gadis manusia cantik untuk dikejar.
Kau takkan bisa mengayunkan kucing di Yunani Kuno tanpa mengenai setidaknya satu mantan pacar Zeus. (Bab Zeus, hlm. 24)

Zeus sama sekali tak memiliki rasa malu dan tak pernah kehabisan kreativitas bila menyangkut merayu perempuan. (Bab Zeus, hlm. 25)

Dewa-dewi yang lain adalah Demeter—sang Dewi Tanaman, Persephone—putri Demeter yang manja, Hera—yang tak ragu membasmi para selingkuhan Zeus serta anak-anak mereka, Poseidon—sang Dewa Laut yang berakhir jadi tukang batu, Aphrodite—sang Dewi Cinta dan Kecantikan yang menimbulkan banyak bencana, Ares—sang Dewa Perang yang suka adegan berdarah-darah tapi pengecut, Apollo—sang Dewa Musik dan Puisi yang memutuskan melajang agar bisa berkencan dengan banyak perempuan, dan Dionysius—sang Dewa Anggur yang memiliki kekuasaan melebihi perkiraan orang.
***
Aku suka gaya berceritamu, Percy. Kau sepertinya berbakat dalam hal ini. Kau menceritakannya dengan bahasa yang mengalir dan seru. Kau juga suka bercanda, ya? Kau sering bikin aku tertawa. Salah satu trik humormu adalah kau seenaknya membawa hal-hal kekinian ke konteks zaman para dewa-dewi Yunani.

Apollo tak suka itu. Dia baru mempunyai lima lagu urutan pertama di tangga lagu Billboard. Dia tak ingin ada sosok satyr bodoh menghias sampul majalah Rolling Stone alih-alih dirinya.
(Bab Apollo, hlm. 28)

Meski guyonanmu sering garing juga, sih, seperti yang kau katakan di bab “Pengantar” hlm. 2:

Aku hanya berharap aku tidak akan memancing amarah mereka sampai-sampai mereka menghanguskanku sebelum aku—
AAAAAHHHHHHHHHH!
Hanya bercanda. Masih di sini.

Kadang juga candaanmu terlalu ofensif, jadi aku tak bisa tertawa. Maaf ya, Percy. Tapi kau kadang bisa menjadi begitu bijaksana dan itu membuatku terkesan.

Kalau kau diserang seorang bajingan, itu tak pernah karena kesalahanmu. Beritahukan kepada orang lain. (Bab Artemis hlm. 34)

Memang, dia adalah Dewi Cinta, tapi sebetulnya antara cinta dan kebencian tak jauh berbeda. Keduanya lepas kendali dengan mudahnya, dan salah satu berpaling menghadap lawannya. (Bab Artemis, hlm. 44)

Ah, iya, kadang kau agak tidak logis, Percy. Misalnya, dalam kisah penghukuman Hera terhadap Semele, salah satu selingkuhan Zeus. Dengan lihai Hera membuat Zeus menampakkan diri dalam wujud asli dewa sehingga membuat Semele musnah. Nah, tapi di Bab Zeus hlm. 29, kau ceritakan bahwa Zeus mewujudkan diri jadi dewa di depan Europa (sama seperti Semele, Europa juga seorang manusia). Tapi kok, Europa tidak mati?

Kemudian juga dalam kisah Demeter.

Dan setelah sepuluh hari berada di jalanan, pakaian kotornya mulai menumbuhkan berbagai kapang dan jamur yang bahkan tak dikenali oleh Dewi Tanaman sendiri.(Bab Persephone, hlm. 25)

Percy, tidakkah kau tahu bahwa jamur itu bukan tanaman?

O ya, ceritamu juga jadi lebih menyenangkan untuk kubaca berkat ilustrasi karya John Rocco. Sayangnya, di versi digital bukumu ini beberapa kali terjadi kasus satu kalimat terulang dua kali di halaman yang sama. Kau memang mengulang kalimat itu, atau ini bagian dari kesalahan proses digitalisasi? Sepertinya yang kedua, sih. Itu cukup mengganggu, btw.

Ini pertama kali aku membaca karya Rick Riordan, dan yah, kau telah memberiku kesan yang cukup baik, Percy. Mungkin aku akan baca juga bukumu yang lain.

Salam hangat,


Frida
(Manusia biasa)

identitas buku

Penulis: Rick Riordan
Ilustrasi oleh: John Rocco
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penerbit: Mizan Fantasi (Noura Books)
ISBN: 978-602-0989-88-4
(versi digital, baca via iJak)
Rating saya:


bloggerwidgets