Showing posts with label mental illness. Show all posts
Showing posts with label mental illness. Show all posts

22 January 2018

[Resensi PERSONA] Jatuh Cinta Sekaligus Patah Hati


Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Editor: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-2629-0
Harga: Rp 58.000,00

ada apa?

Hidup Azura awalnya bahagia. Keluarga kecilnya, Papa dan Mama dan dia sendiri, adalah keluarga yang harmonis. Namun sejak Azura SD rasanya ada yang berubah dari keharmonisan Papa-Mamanya. Dan Azura tidak pernah tahu apa masalah sebenarnya. Pertengkaran-pertengkaran itu menekan mental Azura hingga ia menemukan ketenangan lewat irisan-irisan yang ia goreskan di pergelangan tangannya. Rasa perih itu anehnya terasa menenangkan dan membantu Azura terlelap.

Di sekolah, Azura tidak pernah punya teman. Sampai SMA pun masih begitu. Ia selalu sendirian, menghabiskan jam istirahat pertama di perpustakaan, di lantai dua gedung sekolahnya, duduk di hadapan jendela perpustakaan untuk menonton permainan sepak bola di lapangan di bawah. Tepatnya yang ia tonton adalah Kak Nara. Cowok yang pernah menolongnya waktu ia terjatuh ke dalam lubang galian di sekolah akibat melamun. Tapi kayaknya Kak Nara tidak pernah mengingatnya lagi, padahal Azura diam-diam menyukai cowok itu.

Semuanya berubah saat Azura kelas XI. Tiba-tiba ada Altair, murid baru yang sekelas dengan Azura, dan sejak pertama kali bertemu cowok itu sudah menganggapnya teman. Sejak itu, mereka selalu berdua ke mana-mana. Lama-lama Azura makin yakin akan perasaannya pada Altair, dan ketika mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba Altair menghilang, meninggalkan Azura bertanya-tanya dan terluka. Di sisi lain, saat itu hubungan Azura dengan Mama membaik, meskipun setelah pertengkaran besar terakhir, Papa pergi dari rumah dan tak kembali.

Tahun 2010. Azura telah jadi mahasiswa, dan untuk pertama kalinya dia punya teman perempuan. Yara namanya. Mereka jadi amat dekat, dan ketika Azura main ke rumah Yara, dia bertemu dengan abangnya, yang ternyata adalah… Kak Nara. Kak Nara yang sudah jadi mahasiswa kedokteran. Yara memberinya keluarga baru, saat ia jarang berinteraksi dengan Mamanya sendiri. Azura menjalani masa-masa bahagia bersama keluarga barunya: Yara, Ibu, Ayah, Bara, dan Kak Nara. Namun tiba-tiba Altair muncul kembali, menghadirkan kembali gempa dalam hidupnya yang telah cukup damai.

sama-sama tentang penyakit mental

Tarik napas dulu.
Fiuh.

Meski aku udah tahu gimana akhirnya (sial, adikku yang udah baca ini duluan ngasih sopiler 😥 tapi aku tetap nikmatin bacanya, sih), tetap saja rasanya nyesek. Really depressing.

Oke, begini. Ini adalah novel young adult kedua terbitan GPU yang kubaca; yang pertama adalah Auntuk Amanda, dan sama seperti yang pertama, Persona juga mengangkat isu penyakit mental dengan tokoh utama anak SMA (yang lalu jadi mahasiswa). Bedanya, tokoh Amanda dalam A untuk Amanda menderita depresi karena ia memiliki hidup yang terlalu sempurna. Ia juga sadar bahwa dia menderita depresi, sifatnya yang sangat rasional membantu di sini. Nuansanya juga relatif cerah ketimbang Persona, berkat humor-humor dalam dialog dan pemikiran Amanda.

Namun, dalam Persona tak ada (kalaupun ada, pasti sangat sangat kecil) celah untuk berhumor. Kenapa? Karena dari awal nuansanya sudah kelam. Beda dengan Amanda, Azura (eh, namanya sama-sama berawalan huruf A) diduga menderita depresi karena memang hidupnya menderita. Orang tuanya nggak akur, terancam bercerai; nggak punya teman; kisah cinta yang nol besar; eh, begitu melewati masa-masa menyenangkan dengan Altair, cowok itu menghilang tiba-tiba. Beda dengan Amanda yang sadar bahwa dia depresi dan sedang menjalani serangkaian terapi, Azura tidak sadar kalau dia mengalami penyakit mental, maka dia tidak mencari pertolongan medis, dan maka kita cuma bisa menduga kalau dia depresi. Itulah kenapa, kadar depresif kisah ini lebih nyesek ketimbang A untuk Amanda.

Sudah saatnya kita melek perihal penyakit mental dan peka terhadap, pertama, diri kita sendiri, dan kedua, orang-orang di sekitar. Seperti yang baru-baru ini terjadi, Jonghyun Shinee bunuh diri akibat depresi yang sudah tak tertahankan lagi. Salah satu cara untuk bisa lebih peka adalah dengan membaca literatur. Tak melulu literatur ilmiah dan nonfiksi terkait, tapi bisa juga lewat buku fiksi, yang bisa jadi tak kalah efektifnya dalam memberi pemahaman terkait penyakit mental karena dibawakan dengan cara yang lebih menyenangkan. Di dalam novel Persona ini, selain penyakit mental, tema lain yang jadi hidangan utama adalah broken home dan persahabatan. Ketiganya diramu dengan baik, dengan saling keterkaitan yang kental.

ada siapa saja?

Sebagai tokoh utama novel ini dan sang narator dengan sudut pandang orang pertama, Azura jadi sangat saya kenal. Terutama lewat emosi-emosinya yang meluap-luap dan sering tak tersampaikan. Rasanya aku ingin memeluknya dan bilang, “Tak apa-apa, kamu tak salah kalau kamu jadi begini. Aku mengerti. Tapi mari kita pikirkan lagi, apakah kau ingin tetap seperti ini?”

Dengan mudah para pembaca mungkin akan jatuh kasihan terhadap tokoh ini, tapi aku tidak kasihan, aku hanya mengerti dan entah bagaimana, jadi merasa menyayangi tokoh Azura. Tapi memang tidak seperti tokoh Amanda yang kuat dan mandiri, Azura ini tokoh yang sangat tergantung dengan orang lain. Maka, ketika tak ada orang lain yang bisa ia jadikan sandaran—orang tuanya tak memberinya kasih sayang yang cukup dan ia tak punya teman—ia hanya punya dirinya sendiri, tumpukan komik Jepang, dan buku harian yang ia tulisi kadang-kadang. Maka, wajar setelah kemunculan Altair, ia jadi begitu bergantung pada cowok itu.

Sementara itu, tokoh Altair yang blasteran Jepang itu bak tokoh cowok idaman di komik-komik. Ia setia sekali menemani Azura dan jadi sandarannya, siap menolong kapan pun Azura butuh, bahkan ia juga tetap mendukung Azura untuk mendekati Kak Nara. Dan ah, betapa romantisnya adegan Altair menunjukkan pada Azura tiga bintang yang menyusun segitiga musim panas di langit malam itu setelah mereka menonton Festival Isen Mulang, festival khas kota Palangka Raya. Namun karena kita mendengarkan cerita dari sudut pandang orang pertama Azura, kita jadi kurang mengenal Altair, selain masa lalu suramnya yang hampir mirip dengan kisah Azura: keluarga yang awalnya bahagia, lalu orang tua yang bertengkar terus, sampai akhirnya bercerai. Bahkan Altair pernah mencoba bunuh diri setelah perceraian kedua orang tuanya, tapi berhasil diselamatkan. Sayang sekali, kita tidak tahu bagaimana Altair melewati itu semua sampai akhirnya pindah ke sekolah yang sama dengan Azura. Namun, jangan kesal dulu. Memang harus seperti itu—kita tidak tahu banyak tentang Altair—karena ini tuntutan twist cerita.

Kalau Altair adalah malaikat yang diberikan Tuhan pada Azura saat SMA, maka Yara adalah malaikat yang diberikan pada Azura sejak awal kuliah sampai sekarang. Yara, yang bawel, spontan, penuh perhatian, cocok sekali dengan kepribadian Azura. Sungguh, di sini aku membaca kisah persahabatan sejati. Bahkan Yara memberikan keluarga baru bagi Azura, suatu berkah yang tak terkira berharganya. Keluarga yang antitesis dari keluarga asli Azura. Sementara itu, belakangan aku tahu bahwa dulunya Kak Nara bak malaikat rahasia, yang ternyata memperhatikan Azura tapi cewek itu tidak sadar. Nah, di masa kini, Kak Nara menjelma salah satu malaikat bagi Azura setelah Altair menghilang. Dan yah, aku tak tahu banyak tentang diri Kak Nara karena bintang utamanya memang Azura.

Azura memang menjalani masa bahagia bersama keluarga barunya, tapi keluarga lamanya tetaplah keluarga yang rusak. Membaca sosok orang tua Azura, aku jadi teringat sosok orang tua Salva di novel Di Tanah Lada. Kalau sang Papa memang jelas-jelas bajingan, sang Mama adalah sosok yang juga bajingan tapi tidak jelas-jelas. Setelah kepergian Papa, dengan dalih menghidupi keluarga, Mama bekerja terus sampai tak punya waktu untuk Azura. Awalnya Azura memahami ini: Papa menjadi sewenang-wenang karena menganggap Mama dan Azura tak bisa hidup tanpa uangnya; maka sebagai bentuk pemberontakan dan pembuktian, Mama bekerja sendiri. Namun belakangan, kita tahu bahwa Mama bekerja tidak dengan cara yang benar. Ia cuma keluar dari mulut singa untuk masuk ke mulut singa lainnya. Lingkaran setan, ya. Dan tanpa Mama sadari, kelakuannya ini makin menghancurkan Azura yang sudah hancur.

plot dan twist dari twist

Plot maju dan mundur yang diusung cerita ini terbagi jadi dua bagian: Keping Pertama menceritakan hidup Azura sejak awal kemunculan Altair sampai menghilangnya cowok itu dan Keping Kedua menceritakan hidup Azura setelahnya, sejak awal kuliah, bertemu Yara, sampai ia mengetahui rahasia tentang dirinya sendiri yang pengungkapannya dibantu oleh keluarga Yara. Penggunaan gaya alur ini sudah pas menurutku. Bagian flashback menyediakan cukup amunisi bagi kita untuk mengerti apa yang dialami Azura di masa lalu. Bagian alur majunya mengajak kita terus mengikuti perkembangan kisah Azura.

Oya, meski banyak adegan bagian Keping Pertama terjadi di sekolah, anehnya, pihak sekolah sama sekali (tak ditunjukkan) menunjukkan perhatian terhadap “keanehan” Azura. Apakah se-menutup-mata itukah pihak sekolah? Atau memang penulisnya hanya tidak merasa perlu mengeksplorasi hal ini.

Bagiku, twist-nya sudah bukan lagi jadi twist, ingat, kan, adikku membocorkannya padaku. Tapi meski belum dikasih bocoran, kayaknya aku bisa nebak karena menurutku penulisnya dengan baik hati memberikan petunjuk-petunjuk yang cukup memadai. Di sini pemilihan sudut pandang orang pertama Azura mendukung suksesnya twist yang ini. Tapi, tapi, yang bikin aku terguncang justru bagian ending, yang merupakan twist dari twist sebelumnya. Kampret sekali! Mungkinkah, mungkinkah? Tapi, kok bisa-bisanya ada bukti fisik? Aku, yang mencoba mencari penjelasan logis, akhirnya cuma bisa mereka-reka penjelasan yang berangkat dari penuturan Azura yang kadang unreliable. Jangan-jangan dia sendiri yang secara tidak sadar telah membuat bukti fisik itu untuk dirinya sendiri, dan lalu dia tidak ingat sama sekali? Entahlah. Aaaarrrggh!!

mengapa rasi bintang dan “persona”?

Mengapa sampul novel ini bergambarkan rasi bintang? Dan kenapa judulnya “Persona”?

Rasi bintang memang secara gamblang cuma muncul sekali, yaitu saat Altair menjelaskan tentang segitiga musim panas pada Azura. Tapi sesungguhnya lewat Altair, yang namanya sama dengan bintang paling terang di rasi Aquila itu, bintang selalu hadir dalam kisah ini. Bintang yang menerangi kehidupan Azura yang suram. Altair sendiri berasal dari kata Arab yang berarti “elang terbang”. Elang terbang yang lalu menclok ke kehidupan Azura yang bak tebing tinggi terjal tersembunyi. Tapi, yah, namanya elang, dia pasti akan terbang lagi entah ke mana. Gambar sampul novel ini pas sekali, kan.
Rasi Aquila
Sumber di sini.
Kemudian erat kaitannya dengan Festival Tanabata yang menjadi favorit Altair, festival tersebut berasal dari Festival Qixi dari Cina. Tujuan festival ini untuk merayakan bertemunya dewi Orihime (diwakili oleh bintang Vega) dan dewa Hikoboshi (diwakili oleh bintang Altair), sepasang kekasih yang terpisahkan oleh Bima Sakti dan hanya bisa bertemu setahun sekali (sumber di sini). Cocok sekali dengan Altair dan Azura yang “terpisahkan” tapi sayangnya tak mesti bertemu setahun sekali.
Orihime dan Hikoboshi yang terpisahkan oleh Bima Sakti.
Sumber di sini.
Pemilihan judul novel ini sendiri menurutku memikat sekali. “Persona” merupakan turunan dari bahasa Latin yang artinya topeng atau karakter yang dimainkan oleh aktor. Dalam bidang analisis sastra, “persona” sering dikaitkan dengan narator bersudut pandang orang pertama (sumber di sini). Kalau di novel ini berarti Azura adalah “persona” dari sang penulis. Kalau dalam bidang psikologi Jungian,
“Persona pada dasarnya tak nyata. Ia merupakan kompromi antara individu dengan masyarakat…., apa yang seseorang harus ‘kelihatan seperti’. Persona adalah suatu kemiripan, realita dua dimensi….”
(kuterjemahkan bebas dari Two Essays on Analytical Psychology karya Carl G. Jung, hlm. 165, terbitan Bailliere, Tindall and Cox, London, 1928. Akses saya dapat di sini). 

Gampangnya, persona ini adalah topeng yang ditampilkan seseorang pada dunia. Atau topeng yang seseorang kenakan pada orang lain. Jung juga menyebut persona sebagai “diri yang tak sadar”. Dalam novel ini, barangkali “diri tak sadar” Azura telah terlalu jauh mengambil alih dirinya yang sebenarnya. (Maaf, aku tak bisa menuliskan lebih banyak lagi tentang ini karena pasti akan jadi sopiler.)

pada akhirnya

Ini pertama kalinya aku membaca karya Fakhrisina Amalia, dan ini adalah perkenalan yang sangat baik. Setelah A untuk Amanda, novel ini jadi YA lokal terbitan GPU kedua yang jadi favoritku. Ide yang menarik dan masih jarang dieksekusi dalam literatur YA dalam negeri dipadukan dengan eksekusi yang baik. Sungguh memikat dan mematahkan hatiku, persis seperti yang ditulis oleh penulis di bagian Ucapan Terima Kasih:
Aku menulis Persona untuk mereka yang jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan.
(Fakhrisina Amalia)

10 October 2017

[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

30 May 2017

[Resensi A UNTUK AMANDA] Bahagia Itu Tanggung Jawab Diri Sendiri




Tadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dalam hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna. (hlm. 10)
Mari, kukenalkan kau pada Amanda, seorang gadis SMA yang hidupnya nyaris sempurna. Ia bersekolah dengan mendapat keringanan finansial di SMA swasta terbaik dan kedua termahal di kotanya. Berkat apa lagi, kalau bukan riwayat akademisnya yang cemerlang? Amanda anak yang cerdas dan paling sering menjawab ketika guru melontarkan pertanyaan di kelas. Begitu masuk ke Klub Komputer, yang beranggotakan anak-anak jenius, Amanda merasa kepintarannya bukan apa-apa. Yah, tetap saja, waktu rapor akhir semester dibagikan, semua nilainya A.

Kau mungkin bertanya-tanya, bagaimana kehidupan sosial seorang Amanda yang amat rajin belajar dan perfeksionis dalam mengerjakan tugas? Bisa dibilang, nol. Yah, bukan nol besar, cukuplah nol kecil. Lagi pula, itu bukan masalah baginya karena ada Tommy, sahabatnya sejak bayi. Yah, kau akan tahu bahwa Amanda menganggap Tommy lebih dari sekadar sahabat, sebenarnya. Entah sejak kapan, dia jatuh cinta padanya. Apakah Tommy juga begitu, atau menganggapnya tak lebih dari sahabat?

Bisa dibilang, idola Amanda adalah ayahnya, yang telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya. Ayahnya adalah seorang guru sains, dan pada suatu momen yang melibatkan fenomena pelangi ganda, Amanda terpukau pada alam semesta dan segera saja bertekad akan menekuni ilmu alam. Ya, Amanda lima belas tahun dan begitu yakin akan dirinya.

Lalu ia mulai meragukan dirinya sendiri. Bagaimana jika selama ini para guru memberinya nilai bagus hanya karena reputasinya sebagai anak pintar? Bagaimana jika ternyata ia hanya beruntung dan tidak sepintar kelihatannya? Amanda merasa seperti penipu dan cemas kalau-kalau rahasia ini terbongkar.

Amanda mulai mengalami depresi. Dan segalanya hancur dalam sekejap. Hubungannya dengan Tommy, aplikasinya ke Institut George Gamow, dan prestasi akademisnya—ini pertama kalinya Amanda mendapat nilai B untuk satu mata pelajaran. Dan begitulah, ia merasa menjadi produk evolusi yang gagal.

Kau mungkin akan geregetan dan ingin sekali mendamprat Amanda, “Amanda, kau tak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya!”
***
Aku jatuh cinta pada tokoh Amanda. Membaca tuturannya sepanjang novel ini membuatku merasa sangat dekat dengannya. Oh, aku senang sekali kalau bisa bertemu seorang sahabat seperti dia. Salah satunya karena aku berpikir bahwa kami berdua mirip dalam hal “bisa terlalu rasional kadang-kadang”. Eh, atau sering, malah 😅😥.

Aku kagum pada anak SMA dengan pemikiran kritis semacam itu. Wow. Aku yakin, kami pasti akan cocok mengobrol tentang ini-itu, terutama tentang Tuhan dan gender. Ah, bahkan ia sudah memutuskan jadi agnostik di umur empat belas! Akhir-akhir ini aku menjadi agak agnostik, dan oleh karenanya, aku mampu memahami pemikiran Amanda, dan mengapa ia berpikir seperti itu.

Mungkin inilah alasannya orang membutuhkan Tuhan—untuk mengetahui ada alasan yang lebih penting atas keberadaan mereka daripada sekadar produk evolusi. (hlm. 86)

Pemikiran-pemikiran kritis Amanda menarik untuk dibaca; tentang alam semesta, Tuhan, dan gender. Namun, di sisi lain, kelihatan sekali jiwanya masih belum dewasa dan bergejolak. Emosinya gampang meledak jika mendapati hal yang menurutnya tidak benar, tapi orang-orang lain seperti tidak menyadari bahwa itu tidak benar. (Btw, aku sering berada di posisi seperti ini.) Misalnya, saat ia terlibat obrolan tentang gender dengan Kenny dan Tommy.

“Sejak kapan warna punya jenis kelamin? Pink untuk anak perempuan, biru untuk anak laki-laki? Pasti kalian masih beranggapan boneka cuma untuk anak perempuan dan mobil-mobilan untuk anak laki-laki.”
Mereka berpandangan lalu mengangkat bahu, seakan berkata, “Yeah, bukannya memang begitu?”
Aku menjadi berang. “Itu mainan anak-anak! Kau tidak memainkannya dengan alat kelamin. Jadi apa pengaruhnya?”

(hlm. 28-29)

Yah, aku berharap semakin banyak orang sadar bahwa segregasi berdasarkan gender itu sangat tidak keren.

Tentang alam semesta, Amanda mengagumi betapa raksasa dan misteriusnya jagat raya, juga betapa sesungguhnya Bumi hanyalah setitik mungil di alam semesta.

[...] bagaimana setiap tahun ada kontes gadis tercantik di Bumi dan mereka memberinya gelar Miss Universe. Kenapa orang menamainya Nona Jagat Raya kalau dia cuma gadis tercantik di sebuah titik mungil? (hlm. 22)

Amanda juga punya selera humor yang, uhm, tidak biasa. Ia bisa menjadi lucu padahal sedang serius.
Wajah Tommy berubah cerah. "Aku tahu," katanya sambil meremas tanganku. “Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu, Amanda sayang. Orang lain mungkin datang dan pergi, tapi kau dan aku akan bersama terus selamanya, kan?”
Dan orang-orang bilang para pria fobia terhadap komitmen.

(hlm. 114)
Isi pikirannya kadang membuatku tertawa, bahkan saat ia mengklaim bahwa pikirannya itu membuatnya sedih.
Gambaran Ibu mendorong troli di supermarket dan mengisinya dengan terong—ide yang mungkin didapatnya setelah membaca buku self-help dengan judul macam Apa yang Harus Dilakukan Saat Orang Tercinta Menderita Penyakit Mental—entah bagaimana membuatku sedih. (hlm. 172)
Lebih lucu lagi ketika ia berpura-pura punya teman tak terlihat di depan Martha (hlm. 245), tapi temannya itu tidak paham dan akhirnya malah Tommy yang tertawa diam-diam.

Aku juga jatuh cinta pada gaya bercerita sudut pandang orang pertama Amanda. Penulis menuliskannya seperti gaya bahasa novel remaja terjemahan. Narasinya terkesan cerdas, dingin, tapi kadang humoris. Sangat "Amanda". Dalam hal ini, penulis berhasil menghidupkan sungguh karakter Amanda. Saat ia mulai menderita depresi, penulis juga menunjukkan tanda-tanda dan isi pikiran Amanda yang depresi itu dengan meyakinkan dan mulus sehingga aku sendiri nyaris ikut-ikutan gila membacanya.
***
Aku langsung jatuh cinta pada tokoh ayah Amanda begitu ia keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah mok besar bertuliskan: Kau tidak boleh menyebut “kopi” dan “instan” di kalimat yang sama. (hlm. 23) Aku setuju sekali dengan tulisan itu. Bagaimana kalau aku mencetak tulisan itu di sebuah mok juga? Kopi instan itu bukan kopi. Kopi, ya kopi. Tanpa gula, apalagi susu dan berbagai aksesori entah apa itu.

Aku juga menyukai bagaimana ayah Amanda mengobrol dengan putrinya tanpa menganggap bahwa putrinya itu “masih anak kecil”, misalnya seperti saat ia menjelaskan tentang fenomena pelangi ganda.
Dan karena setiap orang melihat cahaya dibelokkan oleh tetesan hujan yang berbeda, tidak ada dua orang yang melihat pelangi yang sama. Kau melihat pelangi yang berbeda dengan kulihat, meskipun kita berdiri bersebelahan. (Ayah Amanda, hlm. 143)
***
Dan, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada karakter Helena, melihat betapa nyata (dan tidak berlebihan) perhatiannya terhadap Amanda? Ia memegangkan rambut Amanda saat ia muntah-muntah di kamar mandi, mengunjunginya saat ia terpuruk di kamar, dan terutama, menerima dengan mudah kenyataan bahwa Amanda menderita depresi. Tidak seperti Tommy, yang malah menyangkal habis-habisan dan menyalahkan Amanda.
“Aku tahu, hanya saja... dia sering bilang ini hanya ada di kepalaku saja. Aku hanya takut reaksinya, um, tidak baik.”
“Itu penyakit mental,” tukas Helena. “Jelas adanya di kepalamu. Di mana lagi dia berharap bisa menemukannya? Di paru-paru?”

(hlm. 195)
 ðŸ˜‚ 😂

Barangkali penulis memunculkan tokoh Helena untuk menunjukkan bahwa ia tak setuju dengan pandangan bahwa “cewek cantik yang suka dandan dan suka warna pink adalah Barbie berotak kosong”. Bahkan seorang guru pun bisa saja memiliki pandangan seperti itu, dan pada akhirnya meremehkan sang murid terkait. Ini terlihat saat Bu Gita meremehkan pendapat Helena tentang Big Bang, tapi menerima begitu saja saat Amanda yang berpendapat. Bu Gita meremehkan Helena karena imejnya tidak tampak seperti murid pintar. Lewat narasi Amanda, penulis mengkritik pandangan semacam ini.
Aku tidak bisa tidak berpikir seksisme masih sangat nyata, dan stereotip bahwa sains bukanlah keahlian wanita masih berlaku. Mungkin tidak begitu terlihat kalau kau cewek berkacamata dengan celana jins dan kaus Google. Tapi cewek seperti Helena, yang suka mengenakan makeup dan warna pink, masih sering diperlakukan seperti Barbie berotak kosong. (hlm. 193-194)
Yang jadi masalah, kalau kau mengabaikan perkataan seorang murid hanya karena dia kelihatan seperti gadis yang tidak pernah  menunjukkan minat terhadap hal lain selain eyeliner dan nilainya hanya rata-rata, lalu menerima begitu saja perkataan murid lain hanya karena dia dikenal sebagai juara kelas. (hlm. 71-72)
Helena juga sadar tentang ketidaksetaraan gender. Ini terlihat dari dialognya dengan Amanda tentang fenomena  “saat persetujuan si cewek dianggap tidak ada artinya” (hlm. 81). Helena sendiri juga punya masalah terkait imejnya itu, seperti ia tidak dipercaya oleh teman sekelompoknya untuk mengerjakan barang satu bagian lantaran ia dianggap sebagai "Barbie berotak kosong". Namun, ia tidak menampakkan bahwa ia punya masalah. Ia terlihat ceria dan menganggap itu seolah bukan masalah.
***
Jujur, aku tidak terlalu menyukai karakter Tommy. Awalnya aku menyukainya, sih, tapi begitu melihat reaksinya terhadap depresi yang diderita Amanda, aku jadi agak ilfil. Tapi aku mengampuninya karena ia mau mengubah sikap. Tommy adalah jenis cowok yang punya kehidupan sosial bagus sekaligus “nilai rata-rata A minus” (hlm. 14).
Tommy tahu lebih banyak tentang Bagaimana Menjadi Keren ketimbang aku, dan ini salah satu aturan yang terus kulupakan: oke-oke saja kalau kau ingin mendapat Prestasi yang Memuaskan, tapi kau tidak boleh menunjukkan kau berupaya keras untuk itu. Itu tidak keren. (hlm. 13-14)
Ia sosok yang menyayangi keluarga dan enggan terpisah dari mereka. Kalau kata Amanda, Tommy mengidap misoneism alias takut terhadap perubahan. Yah, tapi Tommy tetaplah Tommy, kan. Oya, Tommy juga punya selera humor yang garing, misalnya ini:
Kami praktikum kimia tadi pagi. Seseorang membuat campuran yang salah di tabung reaksi, lalu... BAM! Lab-nya meledak. Sekarang kita terbebas dari praktikum kimia sepanjang semester. (hlm. 13)
😦 (Lalu ada suara latar, “Mbeeeeekkk!”)
***
Aku menyukai dialog-dialog antara Amanda dan Dokter Eli. Ah, sejatinya aku menyukai juga obrolan Amanda dengan Tommy, obrolan Amanda dengan Helena, obrolan Amanda dengan ayahnya di masa lalu, dan obrolan Amanda dengan ibunya. Novel ini punya kekuatan dalam dialog-dialognya, yang bisa jadi berisi sekaligus humoris dalam satu waktu.

Dialog-dialog dengan Dokter Eli mengingatkanku untuk berpikir positif kembali. Aku manusia biasa; sepositif apa pun aku, kadang pikiran negatif bermunculan di benakku.
Misalnya orang-orang memandang rendah padamu, kenapa kau harus membiarkan apa yang mereka pikirkan memengaruhi kebahagiaanmu? (Dokter Eli, hlm. 155)
Kau tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain. Yang memengaruhi mood-mu adalah apa yang kau pikir sedang dipikirkan orang tentangmu. (Dokter Eli, hlm. 156)
Aku suka bagaimana perlakuan Dokter Eli terhadap Amanda. Menghadapi anak cerdas seperti dia, pasti kau akan lebih suka untuk memancingnya daripada menyuapinya, kan?
“Mari berpikir secara ilmiah. Bila kau memiliki sebuah hipotesis, apa yang harus kaulakukan untuk mengetahui kebenarannya?”
“Mengetesnya?”
“Tepat sekali! Jadi lain kali kau menolak ajakan temanmu untuk berkumpul, dengan prediksi itu tidak akan memberimu kesenangan apa pun, bagaimana kalau kau mengetesnya dengan pergi dan membuktikannya sendiri? Siapa tahu, kau bisa saja mendapat kesenangan lebih dari yang diperkirakan.”

(hlm. 162)
Dan, yang paling menohokku adalah kata-kata Dokter Eli yang ini:
Amanda, menjadi feminis berarti kau bebas membuat pilihanmu sendiri. Titik. Menjadi feminis bukan berarti kau tidak boleh bersedih telah kehilangan orang yang berharga untukmu, apalagi kalau kalian sudah bersama dalam waktu lama.
(Dokter Eli, hlm. 214)
***
Setelah membaca ulang novel ini, aku memutuskan untuk mendudukannya ke rak favorit di akun Goodreads-ku. Apa yang dialami Amanda dalam novel ini mengingatkanku untuk mengatasi pikiran-pikiran negatifku sendiri. Novel ini mengingatkanku bahwa akulah yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku. Bahkan alam semesta pun tidak.

Novel ini sangat bagus dibaca oleh para remaja dan dewasa-muda yang sedang mencari jati diri. Apalagi yang juga menderita depresi. Wejangan-wejangan Dokter Eli pasti berguna juga untuk para pembaca. Mungkin sebagian pembaca akan merasa bahwa pemikiran Amanda tentang Tuhan itu radikal dan berbahaya bagi keimanan remaja yang jadi pembacanya. Wajar, sih, karena kebanyakan orang Indonesia bisa dibilang agamis, dan oleh karenanya agak sulit menerima pemikiran yang berbeda. Namun, aku mengagumi bahwa Amanda, anak semuda itu, bisa berpikir sendiri dan tak lelah bertanya serta mencari.
Alam semesta tidak punya kewajiban untuk membuatku merasa berharga; aku yang harus melakukannya untuk diriku sendiri. (hlm. 262)
rating saya:


identitas buku

Judul: A untuk Amanda
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Yuniar Budiarti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-605-03-2631-3
Harga: Rp 60.000,00

bloggerwidgets