Showing posts with label romance. Show all posts
Showing posts with label romance. Show all posts

8 May 2018

[BLOGTOUR "Geekerella"] Ledakkan Bintang-bintang!


Sumber gambar: Penerbit Haru Online Shop
“Kalau kau tidak bisa memenangkan pertarungan, pakai senjata yang lebih besar.”
(Episode 14, Lebih Baik di Ruang Angkasa daripada Tidak Selamanya) – hlm. 87
Elle menjadi semacam asisten rumah tangga di rumahnya sendiri, sejak ayahnya meninggal. Catherine, ibu tirinya, selalu punya alasan untuk menyalahkannya, menyuruh-nyuruhnya melakukan segala pekerjaan rumah tangga. Seolah Elle tidak sama-sama (atau malah lebih) menderita saja. Sementara itu, sepasang saudari tirinya yang adalah vloggers kecantikan, Chloe dan Cal, dengan senang hati menyiksa batinnya dengan olokan-olokan yang mereka lakukan bersama geng anak populernya. Selama liburan musim panas, Elle menghabiskan waktunya mengurus urusan domestik (sementara Catherine bekerja—ia seorang perencana pernikahan, dan si Kembar kursus tenis) dan bekerja di truk makanan Magic Pumpkin—truk makanan sehat—bersama Sage, yang juga adalah putri sang pemilik.

Sementara Elle tidak memiliki ingatan kuat tentang ibunya, yang telah meninggal saat ia masih kecil, tidak begitu dengan ayahnya. Baginya, ayahnya adalah sosok pahlawan. Orang yang mengenalkan serial fiksi-ilmiah klasik Starfield padanya. Elle selalu menonton itu bersama ayahnya, dan sejak itu Elle telah menjadi seorang penggemar fanatik. Ayahnya jugalah yang memprakarsai ExcelsiCon, sebuah konvensi penggemar film fiksi-ilmiah. Setelah ayahnya meninggal, Elle tak pernah lagi pergi ke konvensi itu.

Elle kecewa berat ketika mengetahui siapa pemeran Carmindor dalam Starfield versi remake. Darien Freeman. Aktor opera sabun yang digemari cewek-cewek ABG. Bagi Elle—dan bagi para fans fanatik lain—sungguh, Darien tidak layak memerankan Carmindor. Sebagai pemilik blog RebelGunner (isinya tentang Starfield—oh, ayolah, apalagi yang begitu dipahami oleh Elle), ia menuliskan kritikan tentang pemilihan pemain Starfield versi remake itu. Dan, bum! Terkejut-kejutlah ia ketika mendapati berkat artikel itu, blognya jadi sangat terkenal!

Elle tak pernah punya teman sungguhan. Oleh karena itulah, karakter-karakter dalam Starfield begitu berharga baginya, karena merekalah teman-temannya. Maka, ketika ada seseorang yang mengaku Carmindor menghubungi nomornya, yang adalah nomor peninggalan ayahnya, dan mereka saling berkirim pesan terus-menerus, Elle akhirnya merasa punya teman sungguhan.

Maka setelah menemukan kostum cosplay Carmindor dan Putri Amara milik orang tuanya di loteng, Elle memutuskan untuk memakai kostum itu dalam kontes kostum di ExcelsiCon. Malam itu, berhasilkah ia tampil di dalam kostum orang tuanya dan menemukan dirinya sendiri?

*
Aku punya peran untuk kumainkan, aku punya karier, tapi semua itu di luar kendaliku. Aku terjebak di kursi pilot dalam pesawat bernama hidupku, dan tanganku terikat. (Darien, hlm. 160)
Darien Freeman adalah aktor muda yang terkenal setelah membintangi Seaside Cove dan punya banyak penggemar cewek. Apakah dia bahagia? Tidak terlalu, ternyata.

Hidupnya serasa bukan miliknya. Segalanya telah diatur, terlebih oleh ayahnya sekaligus manajernya, Mark, yang seolah menjadikan Darien sebagai mesin penghasil uang. Darien kehilangan sosok ayahnya yang dulu, sebelum ketenaran itu membayanginya ke mana pun ia pergi. Tak hanya itu, ketenaran juga telah membuatnya kehilangan sahabatnya, Brian.
Mungkin itulah yang ketenaran berikan. Ketenaran merusak apa pun di sekitarmu sampai sahabatmu sendiri melihatmu lebih karena namamu alih-alih sebagai seseorang, sebagai komoditas alih-alih individu. Mungkin begitulah hidupku sekarang.
(Darien, hlm. 283)
Kali ini, Darien harus memerankan Pangeran Federasi, Carmindor, dalam remake film Starfield. Sesungguhnya ia pun adalah seorang penggemar fanatik serial itu, tapi demi skenario yang harus ia patuhi, ia harus tampak seperti orang yang tidak benar-benar tahu tentang Starfield. Hujatan dari Stargunners menyerangnya, meski para penggemarnya pun selalu menunjukkan dukungan.

Memerankan Carmindor, Darien harus berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan segala insekuritasnya.
Hanya cara lain untuk membuktikan aku bukanlah Pangeran Federasi. Dia tidak takut pada ketinggian, atau kebakaran, atau melayang di angkasa dengan 0,1% kemungkinan mendarat di targetnya.
Darien Freeman? Dia takut pada semua itu.
(Darien, hlm. 123)
***

Ibu tiri yang jahat.
Sepasang saudara kembar yang gemar menyengsarakan hidupmu.
Seorang pangeran tampan.
Pesta dansa.
Sebelah sepatu yang tertinggal.
Terdengar familiar?

Geekerella adalah reka-ulang kisah klasik Cinderella. Istilah “Geekerella” muncul pertama kali setelah pesta dansa di konvensi ExcelsiCon. Kala itu, para pemenang berkesempatan bertemu dan berdansa dengan Darien, salah satunya adalah sang Putri Amara juara kedua, yang kemudian dijuluki oleh media sebagai “Geekerella”, dari julukan “geek”, yang dalam konteks novel ini merujuk pada penggemar fanatik Starfield. 

Ashley Poston memindahkan ruang dan waktu kisah klasik itu menjadi kisah dengan ruang dan waktu kekinian yang melibatkan dunia para penggemar serial fiksi ilmiah, elemen-elemen yang sangat bisa terjadi di dunia nyata kontemporer. Memasuki kehidupan Elle, aku seperti bernostalgia tentang masa laluku sebagai penggemar fanatik (bukan penggemar serial fiksi ilmiah, melainkan penggemar boyband Korea Super Junior). Jadi, aku sangat memahami koneksi yang dirasakan Elle dengan para tokoh dalam serial itu, meski mereka tidak nyata.
Tentu saja “Starfield” tidak nyata. […] Tapi, karakter-karakternya—Carmindor, Putri Amara, Euci, atau bahkan Nox King—mereka adalah teman-temanku ketika semua orang di dunia nyata menyebar rumor di balik punggungku, memanggilku aneh…
(Elle, hlm. 355)
Aku mengapresiasi bagaimana Ashley tidak merasa perlu membuat sang ibu tiri—Catherine—sangat kejam, meskipun, malah, Chloe-lah yang sangat menyebalkan. Juga bagaimana ia tak merasa perlu membuat Cinderella, Elle, sangat tertindas dan cuma bisa pasrah menantikan keajaiban. Kebalikannya, Elle sangat teguh (mengenai Starfield, tentunya), kritis, dan pemberontak sekaligus pihak yang tertindas. Seperti yang ia katakan, “Aku adalah penjahat di ceritaku, dan juga pahlawannya.” (hlm. 290)

Lewat kisah dari sudut pandang Elle, aku memahami bahwa ia adalah penjahat terhadap dirinya sendiri, karena di beberapa kasus ia membiarkan dirinya “ditindas” oleh Catherine dan Chloe dan ketidakmampuannya untuk melepaskan ayahnya (bukannya aku menyalahkan sikap tersebut, karena itu wajar; ia ingin terus menghidupkan ayahnya lewat Starfield; lewat mok kesayangannya….). Ia pun pahlawan terhadap dirinya sendiri, karena ia berani tegas dan berani beraksi. Akhirnya ia sadar, meskipun sudah meninggal, orang tuanya tetap hidup di dalam dirinya.

Lewat sudut pandang Darien, aku sekali lagi dipaparkan pada kehidupan selebriti yang tidak secerah wajahnya yang sering terpaksa tersenyum demi menjaga imej dan mematuhi skenario. Baik Elle maupun Darien tumbuh besar mencintai Starfield dan sama-sama menggemari serial itu bersama ayah mereka. Namun, Elle telah benar-benar ditinggalkan ayahnya, sedangkan Darien… Meskipun secara fisik ayahnya masih ada di dunia ini, itu bukan benar-benar ayahnya. Mark telah menjelmakan diri sebagai manajer, bukan ayah.

Di bagian pertama novel, Lihatlah Bintang-bintang, karakter mereka diperkenalkan pada pembaca dengan masalah-masalah yang telah mereka alami sejak sebelum novel dibuka. Di bagian kedua, Bidik, mereka memutuskan sesuatu yang besar dalam hidup mereka: Elle memutuskan ikut kontes kostum; Darien memutuskan untuk mengusahakan yang terbaik, meski ada yang suka dan ada yang tidak akan peran barunya sebagai Carmindor. Mereka berdua sama-sama harus menghadapi diri sendiri. Di bagian ketiga, Ledakkan, inilah mereka sama-sama “beraksi” di ExcelsiCon. Apakah mereka bertemu?
*
Elle menemukan seorang sahabat, sang ibu peri, Sage—karakter favoritku di novel ini, yang membuatku membayangkan karakter Nam Green di LINE webtoonSpirit Fingers” dengan rambut sama-sama hijau. Tokoh Sage ini juga mengingatkanku akan sahabat yang kutemukan semasa kuliah, orang yang mengajarkanku bahwa menjadi diri sendiri—“seaneh” apa pun kelihatannya di mata orang kebanyakan—itu sangat tidak apa-apa. 


Aku menyukai hubungan persahabatan Elle dan Sage. Yang awalnya mereka tidak pernah berbicara satu sama lain, sampai Sage menjadi pendukung nomor satu ketika Elle mengikuti kontes kostum. Sayangnya, tentu saja cerita berpusat pada Cinderella dan Sang Pangeran, kita tidak tahu kisah Sang Ibu Peri. Ia ada di semesta Geekerella hanya untuk membantu Elle menyelesaikan misinya. Yang agak aneh bagiku adalah hubungan Cal dan Sage yang tiba-tiba. Apakah ini Ashley Poston sengaja memaksakan agar hubungan asmara dua cewek itu masuk ke cerita?

Geekerella adalah kisah percintaan dewasa-muda yang merupakan reka-ulang kisah Cinderella, dengan isu-isu seputar pencarian jati diri, persahabatan, dan keluarga, dengan elemen kental dunia penggemar film fiksi-ilmiah dan unsur-unsur komedi. Merupakan pengalaman yang menyenangkan membaca buku ini!

Siapkah kalian meledakkan bintang-bintang bersama Elle? Di akhir rangkaian tur ini, Penerbit Spring akan menyediakan novel Geekerella untuk pemenang yang terpilih. Kuis ini akan diadakan di fanpage Penerbit Spring. Caranya:

1. Sukai fanpage Penerbit Spring dan ikuti juga blog ini (jika kamu merasa isi blog ini bermanfaat, hihi).
2. Ikuti akun Twitter dan Instagram Penerbit Spring, juga akun Twitter dan Instagram-ku. Bagikan informasi mengenai kuis ini via Twitter dan/atau Instagram dan mensyen/tandai akun kami dengan hestek #Geekerella.
3. Kumpulkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tiap host (tautan alamat blog tiap host tercantum di spanduk di bawah).
4. Di akhir tur ini, semua jawaban kalian menjadi senjata untuk mengikuti kuis di fanpage Penerbit Spring.
5. Kuis ini hanya berlaku bagi teman-teman yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
6. Pengumuman pemenang akan dilakukan di fanpage Penerbit Spring setelah kuis berakhir.

Berikut ini adalah pertanyaan dariku.
Ketika menemukan kostum cosplay milik ayah dan ibunya di loteng, Elle menyadari bahwa kostum itulah satu-satunya barang peninggalan berharga dari mereka. Saat itu, ia langsung tahu apa yang harus ia lakukan. Ia akan mengikuti kontes cosplay dengan mengenakan kostum itu. Di konvensi sci-fi apakah Elle akan "meledakkan bintang-bintang"?
Semoga beruntung! Mampirlah juga ke blog lainnya, ya!


Identitas buku
Judul: Geekerella
Penulis: Ashley Poston
Penerjemah: Lisa Mahardika
Penyunting: RoséMia
Penyelaras aksara: Selsa Chintya
Desain sampul: Aulia Rahmani
Penata sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring
Cetakan: I, Februari 2018
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-602-6682-16-1
Harga: Rp 99.000,00

25 December 2017

[Resensi MOMIJI] Momiji yang Tidak Pernah Berubah Merah, Benarkah?

Judul: Momiji
Penulis: Orizuka
Editor: Selsa Chintya
Penerbit: Penerbit Inari
Cetakan: I, Mei 2017
Tebal: 210 halaman
ISBN: 978-602-60443-8-9
Harga: Rp 59.000,00

Mungkinkah ada orang yang tidak menyukai musim gugur? Mungkin kau akan menjawab, mungkin sekali. Lantas aku tanya lagi, kenapa kau yakin sekali? Dan jawabmu, karena tidak mungkin ada sesuatu yang disukai semua orang. Oke, aku menyerah sampai di situ. Meskipun itu musim gugur, yang kata orang-orang menyimpan keindahan; merupakan lambang kematian dan pengharapan akan adanya kehidupan kembali. Seperti tulis Ernest Hemingway dalam A Moveable Feast,
You expected to be sad in the fall. Part of you died each year when the leaves fell from the trees and their branches were bare against the wind and the cold wintery light. But you knew there would always be the spring, as you knew the river would flow again after it was frozen. When the cold rains kept on and killed the spring, it was as though a young person died for no reason.
Iya, kan? Atau jika kau belum sadar bahwa musim gugur itu menyimpan keindahan, Albert Camus pernah berkata,
Autumn is a second spring when every leaf is a flower.
Yhaa! Itu adalah saat ketika daun-daun jadi cokelat, keemasan, merah, oranye seperti bunga! Menakjubkan, bukan?

Mengapa kau terdengar sangat yakin akan keindahan musim gugur? Memangnya kau pernah mengalaminya? Mungkin begitu tanyamu kemudian, yang kujawab dengan gelengan. Belum, tapi dari melihat foto-foto, aku tahu. Namun, ada satu orang yang kutahu membenci musim gugur, Momiji.
Aku benci musim gugur.
(Momiji, hlm. 79)
Apa yang menyebabkannya jadi seperti itu? Dan siapa “Momiji” ini? tanyamu. Baiklah, begini ceritanya, ujarku.
***
Patriot Bela Negara (serius, itu nama orang, dan maaf, untuk bisa sampai ke Momiji sebaiknya kita mulai dulu dari Patriot) selalu menderita karena dirinya sama sekali tak cocok dengan nama yang harus diusungnya seumur hidup. Ya, kau tak akan jadi orang tua yang tega pada anaknya dengan memberi mereka nama yang memberatkan, kan? Ia sama sekali tidak kelihatan seperti "patriot". Ia pemuda ceking, sering jadi korban perundungan selama sekolah karena namanya dan karena dirinya sendiri. Ia kekurangan rasa percaya diri, dan oleh karenanya kalau bisa, ia menghindar jauh-jauh dari manusia. Ia punya nama panggilan "Pabel". (Siapa pun itu yang pertama menjulukinya begitu, ia berterima kasih. Karena ia tak harus lagi dipanggil dengan nama aslinya.) Pabel menyukai banyak hal berbau Jepang, hingga dia bekerja keras belajar bahasa Jepang lalu pergi ke Osaka untuk belajar bahasa Jepang selama sebulan.

Di Osaka dia tinggal di rumah keluarga Shiraishi. Sebenarnya Pabel punya misi tertentu (selain belajar): mendapatkan seorang “Yamato Nadeshiko”, gadis ideal Jepang pujaannya. Itu lho, gadis Jepang yang mungil, kulit putih bersih, rambut hitam-lurus-panjang dengan poni pagar, imut, cantik. Yah, begitulah. Terdengar stereotipikal, ya? Yah, terima saja, dunia ini memang penuh stereotip. Impiannya itu seakan kurang sejengkal lagi saat ia tahu keluarga Shiraishi ternyata punya anak gadis seumuran dia yang sedang ada di luar kota. Namanya Momiji. Setelah melihat fotonya di rumah, Pabel langsung antusias: dia akan benar-benar bertemu Yamato-nya.

Namun suatu hari terjadi insiden. Seorang gadis dengan rambut megar panjang dicat merah dan berpenampilan bak yankii (anak berandalan) tiba-tiba masuk ke rumah dan menuduh Pabel sebagai Pencuri Susu. Gadis itu langsung menggetok kepala Pabel dengan pedang bambu yang dibawanya. Pabel langsung tak sadarkan diri, dan begitu membuka mata, ia menyaksikan pertengkaran antara Nanami, ibu asuhnya, dengan gadis nyentrik itu. Gadis nyentrik yang telah tiga tahun minggat dari rumah dan tiba-tiba kembali, tapi Nanami sudah telanjur muak dengan kelakuan putrinya.

Ha, apa? Momiji si Yamato Nadeshiko berubah jadi Momiji si yankii? tanyamu. Iya, Momiji yang sekarang memang bukan lagi Momiji seperti dalam foto, jawabku.

Sejak saat itu, Pabel terlibat serius dengan Momiji, dengan hubungan tidak akur antara Nanami dan Momiji, serta harus memecahkan teka-teki kenapa Momiji menghilang dari rumah selama tiga tahun kemarin. Di samping itu, dengan caranya sendiri, Momiji berhasil membujuk Sanjo Kanon, teman satu akademi Pabel, si Yamato Nadeshiko yang sesungguhnya, untuk makan siang dengan Pabel. Apa yang harus dia lakukan? Bersama Momiji, Pabel dihadapkan pada hal-hal baru—yang cenderung nekat dan menantang.
***
Di musim gugur, semua momiji akan berubah merah. Semua, kecuali momiji yang ini. Momiji yang ini tidak pernah berubah merah. Tidak akan pernah.
(Momiji, hlm. 79-80)
Kau tahu, ini kali pertama aku membaca karya Orizuka. Beneran. Dan memang, pengalaman memang "bicara". Karya seorang penulis yang telah menulis 27 novel ini memang enak sekali dibaca. Garis besar ceritanya sederhana, tapi bagaimana penulis membawakannya jadi terasa bermakna. Ini tentang pencarian jati diri seorang Pabel, yang tanpa dinyana malah menemukan dirinya dengan bantuan Momiji yang sering bertingkah mengesalkan dan melelahkan. Malah, kemudian ia sadar bahwa mimpinya mendapatkan seorang Yamato Nadeshiko itu tidak penting. Kadang kita terjebak pada obsesi tertentu sehingga mengabaikan realita sehari-hari. Lalu begitu kita coba rehat sejenak dari obsesi kita dan melihat sekitar, kita sadar betapa bodohnya kita selama ini mengabaikan kejutan-kejutan yang diberikan oleh hidup!

Dengan sudut pandang orang pertama Pabel, gaya bahasa yang renyah dan kadang lucu, novel ini enak sekali dibaca. Meski tipis, porsi alurnya terasa pas. Proses kebersamaan Pabel dan Momiji juga tidak terasa terburu-buru ataupun kayak "dipaksa jadi dekat". Mungkin karakter Momiji, yang supel dan seenaknya sendiri, sangat membantu di sini.

Kedua karakter itu memang cocok. Pabel yang kurang percaya diri, pasif, cenderung submisif, takut mengambil risiko, dipadankan dengan Momiji yang berandalan, pemberani, kelebihan kepercayaan diri, meledak-ledak, penuh kejutan, dan suka seenaknya sendiri. Karakter Momiji ini membantu Pabel untuk berkembang. Namun ternyata Momiji tidak segarang kelihatannya. Ia jadi seperti itu untuk menutupi luka hatinya di masa lalu. Dan secara tidak langsung, Pabel membantu Momiji berani berdamai dengan masa lalunya. Bisa dibilang, mereka berdua saling menolong meski tanpa sadar. Manis sekali. Bersama Momiji, Pabel berani melakukan hal-hal yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikir ia akan melakukan itu. Aku suka pasangan ini 💕.

Juga aku tak menyangka ada kejutan yang akan diberikan oleh penulis lewat tokoh Nanami, ibu Momiji. Itu keren sekaligus kocak. Eh, tapi agak tidak masuk akal. Kenapa? tanyamu. Hm, masa selama tinggal bersama sang ibu selama bertahun-tahun, Momiji dan Kazuki, adiknya, sama sekali tidak pernah memergoki “rahasia” sang ibu? Masa tidak pernah sama sekali terjadi ketidaksengajaan yang menyebabkan “rahasia” itu tersingkap?

Bicara tentang latar dan budaya Jepang, penulis sudah cukup membuatku merasa sedang berada di Jepang. Dan dalam hal budaya sosial Jepang yang diungkapkan Pabel, aku merasa seperti Pabel di situ.
Jepang adalah negara yang penduduknya sangat menghormati ruang pribadi orang lain. Meski dalam hati mungkin penasaran, mereka tidak akan melihat orang-orang yang berbeda dengan pandangan menilai, apalagi bertanya langsung kenapa mereka berbeda. Sebagai orang yang tidak nyaman berada di keramaian, aku menganggap budaya ini menenangkan meski kadang-kadang aku merasa orang Indonesia jauh lebih menakjubkan karena bisa lebih akrab dengan orang asing. (hlm. 113)
Aku sering ingin minggat dari Indonesia dan tinggal di negara lain yang karakter masyarakatnya seperti di Jepang itu. Yang lebih menghormati ruang pribadi orang lain, yang lebih tidak kepo dan tidak “usil”, tidak cepat membenci dan menghakimi orang yang “berbeda”. Namun di satu titik, aku juga menemukan kecintaan akan Indonesia, salah satu yang paling utama adalah karena keindahan alamnya. Nah, lho.
Ini contoh gambaran seorang Yamato Nadeshiko versi manga.
Orizuka, mungkin secara sadar ataupun tidak sadar, telah menunjukkan perlawanan atas stereotip gadis ideal Jepang, yang timbul sebagai akibat dari masyarakat yang patriarkal. Yah, aku percaya di mana pun pasti ada stereotip, bahkan di Jepang, yang kata Pabel masyarakatnya sangat menghormati ruang pribadi orang lain dan tidak gampang menghakimi. Lewat Momiji, Orizuka menunjukkan sosok yang berani tampil berbeda dan menjadi kebalikan dari elemen-elemen ideal dari gadis ideal. Dan dia, dengan caranya sendiri, sesungguhnya telah menjadi “ideal”. Karena yang ideal itu hanyalah ketidakidealan itu sendiri.

Ah, iya, novel Momiji edisi bertanda tangan ini kudapatkan sebagai hadiah kuis yang pernah diadakan oleh Kak Melani di akun Instagram-nya. Sudah berbulan-bulan lalu tapi baru sempat kubaca sekarang. Terima kasih sekali lagi, Kak Mel.
Novelnya bertanda tangan.
Novel ini ada bonusnya berupa gantungan berbentuk momiji. Cute, yah.
Demikianlah, kuberikan rating 3/5 bintang untuk novel ini. Meskipun aku menikmati membacanya, novel ini sekadar menghibur. Aku tidak dibikin gelisah olehnya. Namun untuk kategori novel young-adult, buku ini memang cukup bagus. Ah, iya, dan benarkah Momiji tidak pernah berubah merah? Kita lihat saja. Wkwkwk.[]

11 December 2017

[Review] just ELEANOR (and PARK?)

My rating: ⭐⭐1/2
—Tell us, why has Romeo and Juliet survived four hundred years?
—Because people want to remember what it's like to be young? And in love?
(p. 45)

Omaha, 1986.

ELEANOR came back after being kicked outta house for a year by her step-dad. She is white, big, with red bushy hair and bizzare fashion style. But somehow she just wanted the world ignored her existence, but how it could be with that striking appearance? Her family was dreadful: an abusive-alcoholic step-dad, a submissive mom, and four little siblings, all were packed in a tiny house, so tiny that Eleanor had to share a small room with all her siblings.

PARK was Korean-American, a quiet boy who always sat alone in the school bus reading comics and listening to the music. He came from well-off family, and he had an insecurity about his "stereotypical" beautiful Korean boy appearance which he inherited from her mom, if compared to his brother Josh's macho appearance. Thanks to his family background, his friends had never really bully him (which was still odd, though).

THE TWO met in the bus, and from the first time when Park gave the seat beside him to Eleanor, they gradually became closer and closer. But the world didn't want them to be together.
***
While I found many positive reviews on Goodreads (FYI, its rating is 4+), I just couldn't connect to this YA romance story. Why, why? Anything’s wrong with me?!

FIRST, the characters.

The two flawed characters are realistic indeed, but it's unforgivable that Rowell reduced Park to only became a "stupid Asian kid" whose face Eleanor always wanted to eat (seriously, eat? And yeah, she reminded me too often that he was Asian—why not Asian-American then?). Despite of the reality that Park shared the title together with Eleanor and this story was told from their point of views alternately, this story is about Eleanor. Yeah, Eleanor. Whereas Park, with his half-Asian identity, he must've experienced many insecurities living in Omaha (you know, since 19th century, even up to 21st century, thiscity had been racist) and went to very "white" school. But, while I saw Eleanor's character development, I know almost nothing about Park’s. Rowell also seems to exaggerating in making Eleanor's life so miserable so that the reader sympathizes with her.

SECOND, the racial issues, historical & cultural background.

Some reviews called this book "racist" (the author of this Tumblr post picked to pieces the “racism” found in this book) and written without sufficient research on historical background and Korean culture. (This review by Laura of Clear Eyes Full Shelves says much about this issue. And maybe you wanna know an opinion of Eunnie Lee, a Korean reader about this book.) There were racial tensions throughout the 19th-20th century and even up to now in Omaha. (FYI, Rowell grew up in this city.) But, this story told me that Park (the only one half--Korean in the neighborhood) and the two black girls, “friends" (I couldn't call it friendship though) of Eleanor lived such more peaceful life compared to Eleanor's (she was white, you remember?). And about Korean culture... well, one of the most visible mistakes is how could Park's mom gave him a Korean last name as his first name? “Park” is a family name after all. Together with “Kim” and “Lee”, they make the three most often used family names in South Korea. (But, there was always a possibility that Rowell did this on purpose.) Look, I didn’t do K-Pop boy bands fan-girling and watching reality shows and Korean drama series without learning anything “cultural”.

THIRD, the plot.

So boring. But the ending isn't cliche, thanks God, although I wasn't satisfied since I hope that Rowell told more about what happened to Eleanor’s mom and siblings, rather than her mere anxiety.
*
Actually I love how Rowell created analogies which aren't cliches yet make sense, and humorous lines which sometimes made me chuckle. For example:
Thinking about going out with Park, in public, was kind of like thinking about taking your helmet off in space. (p. 173)
Because being assaulted with maxi pads is a great way to win friends and influence people. (p. 61)
And also the much-pop-culture references (music, comics, books). Although I didn't know much of them. Meanwhile, about the romance, some of the readers found it unbelievable because Park went from shouting to Eleanor at the first time she got into the bus to a kind of no-words-communication, to a deep romance in which they “can’t live without each other” too fast that it turned out to be silly rather than romantic. But I didn’t really think so. It wasn’t too fast for them to be in that kind of romantic relationship. I saw they gradually became closer and closer little by little. At first Park shouted to Eleanor, then give the seat beside him to her, then Eleanor peeked at the comics Park read in the bus every day. And then Park lent his comics to her, then they began to share music. All of those, at first, were done almost without they said something to each other. So, yeah, Rowell made every effort so that they could be in that degree of relationship. But I didn’t deny that their relationship seemed to me more likely to be a friendship rather than romantic one.

I started reading this with high expectation but it didn't turn out well. So, yeah, 2.5 out of 5 rating for this novel. And I didn’t feel any heartbreak in reading this.
“Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn't supposed to look nice, form it was supposed to make you feel something.”
book identity
Title: Eleanor & Park
Author: Rainbow Rowell
Number of pages: 328
Publishing date: October 2013 (International Edition)
Publisher: St. Martin’s Griffin
ISBN: 978-1-250-05399-2 (International Edition)
Price: IDR 145,000 (Books and Beyond)

bloggerwidgets