25 December 2017

[Resensi MOMIJI] Momiji yang Tidak Pernah Berubah Merah, Benarkah?

Judul: Momiji
Penulis: Orizuka
Editor: Selsa Chintya
Penerbit: Penerbit Inari
Cetakan: I, Mei 2017
Tebal: 210 halaman
ISBN: 978-602-60443-8-9
Harga: Rp 59.000,00

Mungkinkah ada orang yang tidak menyukai musim gugur? Mungkin kau akan menjawab, mungkin sekali. Lantas aku tanya lagi, kenapa kau yakin sekali? Dan jawabmu, karena tidak mungkin ada sesuatu yang disukai semua orang. Oke, aku menyerah sampai di situ. Meskipun itu musim gugur, yang kata orang-orang menyimpan keindahan; merupakan lambang kematian dan pengharapan akan adanya kehidupan kembali. Seperti tulis Ernest Hemingway dalam A Moveable Feast,
You expected to be sad in the fall. Part of you died each year when the leaves fell from the trees and their branches were bare against the wind and the cold wintery light. But you knew there would always be the spring, as you knew the river would flow again after it was frozen. When the cold rains kept on and killed the spring, it was as though a young person died for no reason.
Iya, kan? Atau jika kau belum sadar bahwa musim gugur itu menyimpan keindahan, Albert Camus pernah berkata,
Autumn is a second spring when every leaf is a flower.
Yhaa! Itu adalah saat ketika daun-daun jadi cokelat, keemasan, merah, oranye seperti bunga! Menakjubkan, bukan?

Mengapa kau terdengar sangat yakin akan keindahan musim gugur? Memangnya kau pernah mengalaminya? Mungkin begitu tanyamu kemudian, yang kujawab dengan gelengan. Belum, tapi dari melihat foto-foto, aku tahu. Namun, ada satu orang yang kutahu membenci musim gugur, Momiji.
Aku benci musim gugur.
(Momiji, hlm. 79)
Apa yang menyebabkannya jadi seperti itu? Dan siapa “Momiji” ini? tanyamu. Baiklah, begini ceritanya, ujarku.
***
Patriot Bela Negara (serius, itu nama orang, dan maaf, untuk bisa sampai ke Momiji sebaiknya kita mulai dulu dari Patriot) selalu menderita karena dirinya sama sekali tak cocok dengan nama yang harus diusungnya seumur hidup. Ya, kau tak akan jadi orang tua yang tega pada anaknya dengan memberi mereka nama yang memberatkan, kan? Ia sama sekali tidak kelihatan seperti "patriot". Ia pemuda ceking, sering jadi korban perundungan selama sekolah karena namanya dan karena dirinya sendiri. Ia kekurangan rasa percaya diri, dan oleh karenanya kalau bisa, ia menghindar jauh-jauh dari manusia. Ia punya nama panggilan "Pabel". (Siapa pun itu yang pertama menjulukinya begitu, ia berterima kasih. Karena ia tak harus lagi dipanggil dengan nama aslinya.) Pabel menyukai banyak hal berbau Jepang, hingga dia bekerja keras belajar bahasa Jepang lalu pergi ke Osaka untuk belajar bahasa Jepang selama sebulan.

Di Osaka dia tinggal di rumah keluarga Shiraishi. Sebenarnya Pabel punya misi tertentu (selain belajar): mendapatkan seorang “Yamato Nadeshiko”, gadis ideal Jepang pujaannya. Itu lho, gadis Jepang yang mungil, kulit putih bersih, rambut hitam-lurus-panjang dengan poni pagar, imut, cantik. Yah, begitulah. Terdengar stereotipikal, ya? Yah, terima saja, dunia ini memang penuh stereotip. Impiannya itu seakan kurang sejengkal lagi saat ia tahu keluarga Shiraishi ternyata punya anak gadis seumuran dia yang sedang ada di luar kota. Namanya Momiji. Setelah melihat fotonya di rumah, Pabel langsung antusias: dia akan benar-benar bertemu Yamato-nya.

Namun suatu hari terjadi insiden. Seorang gadis dengan rambut megar panjang dicat merah dan berpenampilan bak yankii (anak berandalan) tiba-tiba masuk ke rumah dan menuduh Pabel sebagai Pencuri Susu. Gadis itu langsung menggetok kepala Pabel dengan pedang bambu yang dibawanya. Pabel langsung tak sadarkan diri, dan begitu membuka mata, ia menyaksikan pertengkaran antara Nanami, ibu asuhnya, dengan gadis nyentrik itu. Gadis nyentrik yang telah tiga tahun minggat dari rumah dan tiba-tiba kembali, tapi Nanami sudah telanjur muak dengan kelakuan putrinya.

Ha, apa? Momiji si Yamato Nadeshiko berubah jadi Momiji si yankii? tanyamu. Iya, Momiji yang sekarang memang bukan lagi Momiji seperti dalam foto, jawabku.

Sejak saat itu, Pabel terlibat serius dengan Momiji, dengan hubungan tidak akur antara Nanami dan Momiji, serta harus memecahkan teka-teki kenapa Momiji menghilang dari rumah selama tiga tahun kemarin. Di samping itu, dengan caranya sendiri, Momiji berhasil membujuk Sanjo Kanon, teman satu akademi Pabel, si Yamato Nadeshiko yang sesungguhnya, untuk makan siang dengan Pabel. Apa yang harus dia lakukan? Bersama Momiji, Pabel dihadapkan pada hal-hal baru—yang cenderung nekat dan menantang.
***
Di musim gugur, semua momiji akan berubah merah. Semua, kecuali momiji yang ini. Momiji yang ini tidak pernah berubah merah. Tidak akan pernah.
(Momiji, hlm. 79-80)
Kau tahu, ini kali pertama aku membaca karya Orizuka. Beneran. Dan memang, pengalaman memang "bicara". Karya seorang penulis yang telah menulis 27 novel ini memang enak sekali dibaca. Garis besar ceritanya sederhana, tapi bagaimana penulis membawakannya jadi terasa bermakna. Ini tentang pencarian jati diri seorang Pabel, yang tanpa dinyana malah menemukan dirinya dengan bantuan Momiji yang sering bertingkah mengesalkan dan melelahkan. Malah, kemudian ia sadar bahwa mimpinya mendapatkan seorang Yamato Nadeshiko itu tidak penting. Kadang kita terjebak pada obsesi tertentu sehingga mengabaikan realita sehari-hari. Lalu begitu kita coba rehat sejenak dari obsesi kita dan melihat sekitar, kita sadar betapa bodohnya kita selama ini mengabaikan kejutan-kejutan yang diberikan oleh hidup!

Dengan sudut pandang orang pertama Pabel, gaya bahasa yang renyah dan kadang lucu, novel ini enak sekali dibaca. Meski tipis, porsi alurnya terasa pas. Proses kebersamaan Pabel dan Momiji juga tidak terasa terburu-buru ataupun kayak "dipaksa jadi dekat". Mungkin karakter Momiji, yang supel dan seenaknya sendiri, sangat membantu di sini.

Kedua karakter itu memang cocok. Pabel yang kurang percaya diri, pasif, cenderung submisif, takut mengambil risiko, dipadankan dengan Momiji yang berandalan, pemberani, kelebihan kepercayaan diri, meledak-ledak, penuh kejutan, dan suka seenaknya sendiri. Karakter Momiji ini membantu Pabel untuk berkembang. Namun ternyata Momiji tidak segarang kelihatannya. Ia jadi seperti itu untuk menutupi luka hatinya di masa lalu. Dan secara tidak langsung, Pabel membantu Momiji berani berdamai dengan masa lalunya. Bisa dibilang, mereka berdua saling menolong meski tanpa sadar. Manis sekali. Bersama Momiji, Pabel berani melakukan hal-hal yang sebelumnya bahkan tak pernah terpikir ia akan melakukan itu. Aku suka pasangan ini 💕.

Juga aku tak menyangka ada kejutan yang akan diberikan oleh penulis lewat tokoh Nanami, ibu Momiji. Itu keren sekaligus kocak. Eh, tapi agak tidak masuk akal. Kenapa? tanyamu. Hm, masa selama tinggal bersama sang ibu selama bertahun-tahun, Momiji dan Kazuki, adiknya, sama sekali tidak pernah memergoki “rahasia” sang ibu? Masa tidak pernah sama sekali terjadi ketidaksengajaan yang menyebabkan “rahasia” itu tersingkap?

Bicara tentang latar dan budaya Jepang, penulis sudah cukup membuatku merasa sedang berada di Jepang. Dan dalam hal budaya sosial Jepang yang diungkapkan Pabel, aku merasa seperti Pabel di situ.
Jepang adalah negara yang penduduknya sangat menghormati ruang pribadi orang lain. Meski dalam hati mungkin penasaran, mereka tidak akan melihat orang-orang yang berbeda dengan pandangan menilai, apalagi bertanya langsung kenapa mereka berbeda. Sebagai orang yang tidak nyaman berada di keramaian, aku menganggap budaya ini menenangkan meski kadang-kadang aku merasa orang Indonesia jauh lebih menakjubkan karena bisa lebih akrab dengan orang asing. (hlm. 113)
Aku sering ingin minggat dari Indonesia dan tinggal di negara lain yang karakter masyarakatnya seperti di Jepang itu. Yang lebih menghormati ruang pribadi orang lain, yang lebih tidak kepo dan tidak “usil”, tidak cepat membenci dan menghakimi orang yang “berbeda”. Namun di satu titik, aku juga menemukan kecintaan akan Indonesia, salah satu yang paling utama adalah karena keindahan alamnya. Nah, lho.
Ini contoh gambaran seorang Yamato Nadeshiko versi manga.
Orizuka, mungkin secara sadar ataupun tidak sadar, telah menunjukkan perlawanan atas stereotip gadis ideal Jepang, yang timbul sebagai akibat dari masyarakat yang patriarkal. Yah, aku percaya di mana pun pasti ada stereotip, bahkan di Jepang, yang kata Pabel masyarakatnya sangat menghormati ruang pribadi orang lain dan tidak gampang menghakimi. Lewat Momiji, Orizuka menunjukkan sosok yang berani tampil berbeda dan menjadi kebalikan dari elemen-elemen ideal dari gadis ideal. Dan dia, dengan caranya sendiri, sesungguhnya telah menjadi “ideal”. Karena yang ideal itu hanyalah ketidakidealan itu sendiri.

Ah, iya, novel Momiji edisi bertanda tangan ini kudapatkan sebagai hadiah kuis yang pernah diadakan oleh Kak Melani di akun Instagram-nya. Sudah berbulan-bulan lalu tapi baru sempat kubaca sekarang. Terima kasih sekali lagi, Kak Mel.
Novelnya bertanda tangan.
Novel ini ada bonusnya berupa gantungan berbentuk momiji. Cute, yah.
Demikianlah, kuberikan rating 3/5 bintang untuk novel ini. Meskipun aku menikmati membacanya, novel ini sekadar menghibur. Aku tidak dibikin gelisah olehnya. Namun untuk kategori novel young-adult, buku ini memang cukup bagus. Ah, iya, dan benarkah Momiji tidak pernah berubah merah? Kita lihat saja. Wkwkwk.[]
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets