16 December 2017

[Resensi NYAWA] "Rasa sakit selalu membuatku tertawa."

Judul: Nyawa
Penulis: Vinca Callista
Editor: Starin Sani & Dila Maretihaqsari
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: iv + 296 halaman
ISBN: 978-602-1383-46-9
Harga: Rp 54.000,00

Ratingku: ★★★☆☆
“Aku suka kematian. Aku ingin kematian.
Aku ingin ketemu…”
(hlm. 208)
Kaatje. Pemeran utama—si Wanita Angka—teater Kubang mati di atas panggung kala sedang berpentas. Menit terakhir sebelum nyawanya direnggut lantai gedung yang mematahkan lehernya, ia tertawa-tawa di luar naskah, lalu seperti melayang sesaat dan terjungkal dari atas panggung. Ia mati di panggung yang membesarkan namanya. Kaatje mati, dari sepatu haknya bermunculan peniti-peniti; kakinya bertitik-titik merah: darah.
Di tribun penonton, seorang gadis tertawa-tawa menyaksikan itu, lalu menusuk-nusuk tangannya dengan peniti.
---
Penghuni kos Pondok Kumis hari itu pindah ke kos Rumah Mangga, kos yang masih dikelola oleh pemilik yang sama, lantaran kos yang lama hendak diratakan dengan tanah. Di kos itu ada delapan kamar, semuanya terisi. Ada Lian, gadis yang bergaya pakaian kuno—seperti yang sering dijadikan bahan gosip oleh Cangi dan Gandes, tidak mau makan di depan teman-temannya, dan suka melontarkan pertanyaan tak lazim secara tiba-tiba. Gadis itu kadang terbangun dengan bekas cekikan di lehernya. Di dalam kamarnya ada kardus-kardus yang ia sebut berisi persediaan.
“Ini buat persediaan aja. Aku butuh biar bisa deket terus sama orang yang aku sayang.” (Lian, hlm. 32)
Ada Rory, gadis populer yang cerdas, supel, tegas, kritis, tidak suka bergosip. Awalnya cuma Rory yang mau dekat-dekat dengan Lian. Ia punya hobi lari, mengobrol dengan orang-orang gila di pinggir jalan. Sejak magang di Padepokan Seni Pijar, jiwanya terikat oleh tempat itu. Di sana ia menekuni gambang bambu, juga teater. Dalam teater Kubang untuk memperingati 100 hari kepergian Kaatje, Rory mendapatkan peran utama. Peran yang sama dengan Kaatje. Mendekati pementasan, ia makin sering dihantui mimpi buruk tentang Kaatje. Jika teater itu diharapkan sememukau saat masih diperankan oleh Kaatje, apakah itu berarti Rory harus mati seperti Kaatje telah mati?

Cangi dan Gandes, dua orang teman dekat yang anehnya, tidak menampakkan interaksi persahabatan yang sehat. Cangi, si biang gosip yang suka asal jiplak itu sebenarnya naksir Aria. Sementara itu, Gandes, yang ingin jadi selebriti dan terobsesi pengin kurus, naksir Sandre. Sayang, Aria dan Sandre sama-sama naksir berat Rory. Aria, orang yang tertutup itu mungkin cuma membuka dirinya pada Rory. Pemilik kafe O’Koffie itu suka ngemilin biji kopi. Sementara itu, Sandre si blasteran ganteng, suka tebar pesona, playboy, dan suka mengambil keuntungan dari para cewek yang mengejar-ngejarnya.
“Yang penting bikin diri sendiri puas, dan biarkan orang lain penasaran.” (prinsip yang dipelajari Sandre dari Rory, hlm. 97)
Terakhir, ada Danu dan Mara, sepasang kekasih yang penuh drama. Mara cewek yang dominan, manja, rewel, cemburuan, dan sombong. Danu, yang submisif, sering tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Mara. Mereka semua kuliah di Universitas Palagan, kecuali Aria, yang kuliah di sekolah bisnis.
---
Keanehan-keanehan mulai merayapi Rumah Mangga, dimulai dari sepasang kakek-nenek misterius yang dipergoki Lian (eh, sebenarnya Lianlah yang dipergoki mereka sedang memergoki mereka—nah, lho!) masuk ke kosan dan menghilang ke halaman belakang. Siapa mereka? Lalu ada suara-suara pikiran yang merisaukan, entah milik siapa, menyeruak sejak awal dalam bentuk cetakan miring.
“Ingin kuludahi saja mereka. Lalu, kutendang satu-satu wajahnya hingga belah.”
(hlm. 11)
Ada suara-suara lenguhan seperti orang kesakitan di malam hari, seperti pernah didengar oleh Aria dan Rory. Sementara itu, Cangi pernah mendengar suara yang terdengar seperti anak kecil sedang mengoceh di malam hari. Dan siapa sangka, ternyata di halaman belakang Rumah Mangga ada kuburan?
***
“Rasa sakit selalu membuatku tertawa.”
(hlm. 115)
Ini kali ketiga aku membaca novel psychothriller Vinca. Yang pertama, Seruak, tetap menjadi yang terbaik, menurutku. Mungkin karena itu pertama kalinya aku berkenalan dengan gaya thriller blio. Yang kedua, Kilah, sangat biasa saja. Yang ketiga, adalah novel ini. Dari tiga buku itu, aku mendapati beberapa formula khas Vinca dalam meracik psychothriller-nya.

Pertama, di tiga buku blio yang sudah saya baca tersebut, ini kali ketiga blio meletakkan tokoh sekelompok anak muda yang berada dalam satu lokasi, lalu terjadi hal-hal aneh di sekitar mereka.

Kedua, permainan sudut pandang penceritaan. Aku ingat betapa dulu terpukau oleh permainan sudut pandang Boni–Nina dalam Seruak (FYI, di Nyawa ini nama “Natanina” nongol lagi, lho! Saya jadi menduga-duga, mungkin nama itu adalah nama favorit Vinca.). Nah, dalam novel ini, Vinca mengajak kita menyusuri alur maju di masa kini, yang bermula dari kepindahan para penghuni Pondok Kumis ke Rumah Mangga, dengan sudut pandang orang ketiga. Lalu, lewat sudut pandang orang pertama seseorang melesatkan kita ke masa lalu, dimulai dari tragedi meninggalnya Kaatje, terus ke masa yang lebih lalu. Permainan sudut pandang penceritaan ini memberi ruang bagi eksplorasi tokoh dan penciptaan nuansa misterius akibat anonimitas narator. “Siapa yang berbicara?” yang pada akhirnya berguna bagi Vinca untuk menyamarkan pelaku sesungguhnya.

Ketiga, berkaitan erat dengan poin kedua, adanya tokoh(-tokoh) yang mencurigakan, juga adanya tokoh perempuan yang keren abis. Ya, yang terakhir itu maksudku adalah tokoh Rory. Awalnya aku menyukai tokoh ini, bagaimana tidak? Berbakat di bidang seni, kepribadiannya bagus, cantik… Namun aku menyukainya pertama kali sejak ia mengkritisi asosiasi warna dengan gender.
“Kamar cewek itu nggak mesti pink. Warna pink itu nggak harus diidentikkan sama cewek. […] ‘Cewek harus pakai warna pink’ dan ‘cowok nggak boleh pakai warna pink’ itu cuma hasil konstruksi sosial. Saya nggak mau ngebatasin kemampuan kita cuma gara-gara kita nggak sadar buat keluar dari kurungan konstruksi sosial.” (Rory, hlm. 16)
Tapi makin ke belakang, aku merasa bahwa Rory ini terlalu sempurna. Kenapa dia diciptakan seperti itu, ya? Satu-satunya kesialannya pun tak mencederai kebijaksanaannya sama sekali. Namun menurutku ada satu blunder yang dia buat (Atau penulis yang buat? Entah dengan sengaja atau tidak.). Aku menangkap kesan bahwa Rory tak mau jadi pacar siapa pun karena kadung cinta pada seorang lelaki yang dia tahu tak akan pernah membalas cintanya. Rory jadi terdengar seperti “membalas dendam akan keadaan itu” tapi di sisi lain tetap berlagak seperti orang paling bijaksana dan orang-orang di sekitarnya pun menganggapnya begitu. Karena tahu bahwa lelaki itu tak akan membalas cintanya dan sialnya ia tetap mencintai lelaki itu, maka ia memutuskan untuk mengambil keuntungan dari para lelaki lain yang dengan senang hati menyenangkannya, meski tahu bahwa ia tak akan menjadi pacar salah satu dari mereka. Aku kok nggak bisa bersimpati dengan prinsip Rory yang satu ini. (Itu lho, yang tadi dikutip Sandre untuk membenarkan perilaku playboy-nya.)

Keempat, Vinca selalu berusaha menyelipkan opininya mengenai isu-isu sosial lewat suara tokohnya. Kali ini adalah isu tentang gender yang blio suarakan lewat Rory. Dan kritik-kritik sosial ini tidak semembahana yang blio usung di novel Seruak.

Kelima, ada kelainan tertentu yang diderita oleh tokoh tertentu. Di sini ada alien hand syndrome, Munchausen syndrome by proxy, dan Fregoli Delusion. Yang terakhir itu diinterpretasikan menjadi gambar sampul novel ini. Isu ini yang paling menarik bagiku, selain karena aku memang tertarik dengan pembahasan seputar penyakit mental, juga karena Munchausen syndrome by proxy dan Fregoli Delusion baru pertama ini kudengar. Kalau alien hand syndrome (AHS) sudah pernah kuketahui. (Kayaknya ini juga diderita oleh Alfa di Supernova: Gelombang, ya nggak, sih? Oya, jadi inget film jadul Idle Hands yang dibintangi si ganteng Devon Sawa. Paling ganteng tetap pas main di film Casper. Eh, maaf, ngelantur.) Penderita sindrom ini tak sadar ketika tangannya “bergerak sendiri”. Menurut sumber yang kubaca, sindrom ini berkaitan dengan kerusakan saraf. Namun di dalam novel ini, Vinca mengesankan bahwa kondisi jiwa yang tak sehatlah yang menyebabkan si tokoh mengalami AHS. Nah, apakah mungkin AHS disebabkan oleh penyakit jiwa alih-alih kerusakan saraf? Seperti yang kutemukan di artikel Neurology Times, menurut rekaman data medis, AHS ini sepenuhnya adalah kelainan saraf, tanpa ada unsur penyakit jiwa. Namun sering terjadi salah diagnosis di antara pasien yang diduga menderita AHS, bahwa “tangan mereka bergerak sendiri” itu sebenarnya disebabkan oleh kelainan jiwa. Nah, mungkin saja, si tokoh dalam novel ini tak benar-benar menderita AHS, melainkan itu salah satu efek dari kelainan jiwanya. Hmm, entahlah.

Sementara itu, Munchausensyndrome by proxy (MSBP) kebanyakan diderita oleh para ibu. Seorang ibu yang menderita MSBP terobsesi agar anaknya terlihat sakit, padahal sebenarnya tidak sakit sama sekali. Ini adalah penyakit mental yang mungkin disebabkan oleh trauma masa kanak-kanak si penderita, yang kemungkinan juga menjadi korban dari orang tua penderita MSBP.

Terakhir, Fregoli delusion. Penderita penyakit mental ini mengira bahwa banyak orang di sekitar mereka sebenarnya adalah satu orang yang sama yang sedang menyamar. Penamaan kelainan ini diambil dari nama Leopoldo Fregoli, seorang aktor Italia yang terkenal dengan kemampuannya yang luar biasa untuk menirukan orang-orang di panggung (Langdon, Connaughton, Coltheart [2014]). Fregoli juga bisa dengan cepat berubah-ubah penampilan saat di atas panggung (Frontier Psychiatrist).

Keenam, petunjuk teka-teki yang diumpankan pada pembaca pada ruang dan waktu tertentu, salah satunya untuk mempertahankan nuansa misterius dan membuat pembaca penasaran. Tapi tidak terlalu berhasil padaku. Di pertengahan novel, aku sudah menebak (dengan benar) siapa keponakan Kaatje. Memang sepertinya Vinca membuat ini bisa tertebak dengan mudah (?).

Alur novel ini tidak semenegangkan alur Seruak, maka kupikir bukan pada unsur thriller-nyalah keunggulan novel ini, melainkan pada ide-ide brilian yang dikombinasikan oleh Vinca di dalamnya. Banyaknya tokoh dengan keistimewaan masing-masing tentu berperan dalam hal ini. Dalam novel ini kita bisa menonton teater, mendengar musik dari gambang bambu, melihat Aria mengembangkan bisnis, melihat Sandre mengedit video dokumenternya. Kita diingatkan juga tentang deret Fibonacci dan bagaimana briliannya ide Isvara untuk mengangkatnya dalam naskah teater. Kita juga menyaksikan berbagai kelainan mental.

Namun, ide-ide brilian yang banyak ini jugalah yang jadi titik lemah Nyawa. Aku merasa banyak yang ingin diceritakan oleh Vinca tapi jumlah halaman tak mampu mewadahinya. Jadinya banyak yang nanggung. Banyak hal yang sangat potensial untuk dieksplorasi lebih jauh (ini, sih, semata keegoisanku sebagai seorang pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak 😅). Misalnya, masa lalu Lian dengan orang tuanya, terutama ibunya yang terobsesi bahwa anaknya sakit. Bagian ini cuma diceritakan sedikit, padahal ini sangat krusial bagi perkembangan karakter Lian dan bagi kita kalau ingin mengenal Lian dengan lebih dekat dan lebih benar. Ah, yang paling kusayangkan adalah sangat minimnya eksplorasi personal Kaatje, padahal tokoh ini sangat menarik. Yang kuketahui hanyalah bahwa ia pemain teater fenomenal, menjadi pujaan banyak lelaki, dan terobsesi menjadi seperti Leopoldo Fregoli. Apa yang menyebabkan ia jadi seperti itu?

Bagian akhirnya juga jadi terasa, “Loh, gitu doang?” Kukira Kaatje dibunuh keponakannya, ternyata…. Ini mungkin dimaksudkan jadi twist, tapi kok tidak terasa seperti twist, malah ia berlalu begitu saja tanpa sempat aku terpukau olehnya. Namun terlepas dari itu semua, aku mengapresiasi kegigihan Vinca untuk memperkaya khazanah novel psychothriller domestik yang tidak receh (seperti kubilang tadi, banyak ide brilian kita jumpai di novel ini; juga banyak pengetahuan baru yang kudapat). Blio juga memberi panggung bagi kesenian lokal, meski hanya sekilas. Juga bagaimana dengan tokoh sebanyak itu, blio bisa memberi ruang bagi masing-masing untuk bergerak dan membangun kekhasan tiap karakter hingga terus teringat oleh pembaca. Akhirnya, aku menantikan karya Vinca yang lebih menawan.
“Kalau kami sedih, kami tertawa.”
(hlm. 70)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets