18 February 2017

Serendipiturday #3 - Hujan Bulan Juni Bikin Nggak Takut Baca Buku Puisi



frida keranjingan puisi (meminjam judul kumpulan cerpen gunawan tri atmodjo)

Entah mulai kapan tepatnya, saya keranjingan puisi. Keranjingan puisi lagi, maksud saya, karena pertama kali saya mulai menulis waktu SMP dulu, yang saya tulis adalah puisi. Saya belajar menulis pertama kali lewat puisi. Nah, sudah lama, saya fokus ke cerpen, resensi, dan novel. Selama ini pula, buku kumpulan puisi yang saya baca baru dua, karya Taufik Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri, yang saya pinjam dari perpustakaan SMA, dulu. Saya merasa sayang kalau harus beli buku kumpulan puisi. Alasannya tidak sastrawi, sih, semata-mata karena buku kumpulan puisi biasanya tipis sekali. (Ya, ya, saya tahu, tidak semua buku puisi tipis sekali.) Kalau tidak salah, saya mulai keranjingan puisi lagi sejak mulai lagi menulis puisi demi mengikuti tantangan #30haribercerita di Instagram.

Suatu siang, keluar dari Gedung Kompas Yogyakarta, saya berjalan kaki menyusuri Jalan Suroto untuk menghabiskan jam makan siang (karena saya sudah makan). Teringat di dekat situ ada Togamas, mampirlah saya ke sana. Tepat di hari Kamis (di Togamas Suroto ada diskon 25% untuk semua novel tiap Kamis, tapi waktu itu saya tidak beli novel). Semua Ikan di Langit belum ada di sana. Entah kenapa, tiba-tiba saya berkeinginan kuat untuk membeli sebuah buku puisi. Masalahnya, buku puisi yang mana? Sergius Mencari Bacchus tidak ada (saya sudah mencari-cari di rak sesuai dengan nomor yang saya dapati di mesin pencarian, tapi tidak ada). Penataan buku di Togamas situ memang kurang rapi. Saya selalu dibikin bingung olehnya. Lalu saya tertarik oleh Buku Tentang Ruang dan Perempuan yang Dihapus Namanya oleh Avianti Armand, tapi saya masih belum yakin. Berkelana di Goodreads, akhirnya saya mencomot Hujan Bulan Juni.

Sapardi adalah tokoh puisi legendaris Indonesia, dan bisa-bisanya saya cuma tahu satu puisinya (yang berjudul Aku Ingin itu). Sungguh, saya malu pada diri sendiri.
***

tentang hujan bulan juni

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu
(1989)

Seratus dua puisi bergandengan tangan membentuk garis waktu pengelanaan makna Sapardi dari tahun 1959 sampai 1994. Saya pikir, Hujan Bulan Juni cukup pas dijadikan judul buku ini, lantaran saya sering berpapasan dengan “nuansa hujan atau gerimis” di antara larik-larik puisi Sapardi, meski saya tidak tahu, itu hujan di bulan Juni atau bulan lain. Selain Hujan Bulan Juni, kalau saya tidak salah hitung, ada 17 puisi yang bicara tentang atau saat hujan.

Sebentar, saya bingung bagaimana meresensi buku puisi. Ini pengalaman pertama saya meresensi buku puisi.

Baiklah, barangkali saya akan mulai dari tema. Tema umum buku puisi ini barangkali adalah keabadian, yang digambarkan Sapardi dalam beberapa subjek dominan: kematian, spiritualitas, cinta, dan hujan. Yang paling dominan (sejauh pemaknaan saya yang cetek) adalah tentang kematian, yang banyak di antaranya ditulis Sapardi pada tahun 1959–1969 (saya belum tahu, apa yang dirasakan Sapardi di tahun-tahun itu). Selepas itu, sampai tahun 1994, cukup jarang puisi Sapardi berbicara tentang kematian, dibanding periode sebelumnya. Mengenai subjek ini, salah satu pesan yang saya tangkap, saat kematian bukanlah akhir melainkan awal dari perjalanan berikutnya. Dengan kata lain, kematian adalah pintu menuju keabadian. Pesan ini saya dapati dalam puisi Saat Sebelum Berangkat (1967), Cahaya Bertebaran (1970), dan Pada Suatu Hari Nanti (1991).

Cahaya Bertebaran
cahaya bertebaran di sekitarmu
butir-butirnya membutakan dua belah matamu
“sudah sampaikah kita?” tanyamu tiba-tiba. Lupakah
kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga?

Barangkali, kematian digambarkan sebagai “cahaya bertebaran yang membutakan mata”. Kalimat terakhir, “Lupakah kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga?” seolah twist. Pertanyaan yang menjawab pertanyaan dari seseorang yang mengira bahwa kematian adalah akhir.

Subjek berikutnya adalah spiritualitas. Kebanyakan puisi bersubjek spiritualitas (yang bisa saya tangkap) ditulis Sapardi pada tahun 1968. Puisi-puisi bersubjek ini berusaha merekam dan menyajikan aneka cara para tokohnya berbicara dengan sang Pencipta. Contohnya, dalam puisi Tuan (1980), yang hanya terdiri dari dua baris si tokoh “saya” seolah menghindar dari Tuhan.

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,

saya sedang keluar.

Membaca puisi tersebut, saya membayangkan percakapan itu berlangsung via telepon. Sebelumnya, si Tuan menelepon si Saya, tapi tidak diangkat. Mungkin si Tuan meninggalkan pesan suara untuk memberi tahu bahwa dia akan menemui si Saya di rumahnya.  Lalu, si Saya menelepon balik dan mengucapkan isi puisi itu. Barangkali sebenarnya dia ada di rumah, tapi sedang tidak mau ditemui si Tuan. Puisi ini seperti menyindir sambil tertawa (saya pun ingin tertawa membaca puisi yang terasa lucu ini). Kadang-kadang saya memang menghindari Tuhan. Meski keabadian Tuhan tak bisa dipungkiri, sehingga percuma saja menghindari.

Selanjutnya, puisi-puisi dengan subjek cinta. Izinkan saya menukil puisi Sapardi yang paling saya kenal, Aku Ingin (1989).

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu


aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Subjek “cinta” bisa diartikan cinta untuk kekasih, cinta untuk alam, cinta untuk Tuhan, cinta untuk apa saja. Biarkanlah saya mengartikannya cinta untuk kekasih. Puisi dua bait itu berisi dua alegori paralel yang menggambarkan bagaimana si “aku” mencintai “kamu” (kekasihnya) dengan cara yang ia sebut “sederhana”. Kayu bakar barangkali butuh waktu cukup lama sampai dia habis dimakan api. Dia terbakar, membara, lalu sedikit demi sedikit habis tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada api. Awan dan hujan serupa itu: butuh waktu bagi awan sampai ia selesai meneteskan tetesan air hujan terakhirnya sebelum ia lenyap. Cintanya begitu tulus seperti kayu yang bersedia dibakar habis oleh api, meski sakit. Kedua analogi itu melibatkan perubahan fisika: kayu menjadi abu dan awan menjadi air hujan. Oleh karena itu, kayu dan awan tidak benar-benar hilang, mereka hanya berubah wujud. Dengan kata lain, mereka—cintanya—abadi.
Selanjutnya, puisi-puisi dengan subjek hujan. Contohnya, yang menjadi salah satu favorit saya, adalah Percakapan Malam Hujan (1973). Saya suka puisi itu karena metaforanya sangat menggelitik.

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung,

                berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada lampu jalan,

                “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;

                asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan

                menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

Kenapa saya tergelitik:
(1) hujan digambarkan Sapardi “mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung”. Hujan berusaha melindungi diri dari dirinya sendiri?!
(2) hujan menyuruh lampu jalan untuk menutup mata dan tidur, padahal lampu jalan tidur sambil tetap membuka mata (lihat baris terakhir bait kedua).
(3) hujan dan tiang lampu lambang kontradiksi. Hujan mengesankan suasana kelam, dingin, suram, gaib/misterius: suasana yang ingin manusia hindari, tapi membuatnya tertarik. Sementara itu, lampu jalan mengesankan suasana terang: suasana yang ingin manusia dekati. Kedua hal tersebut saling bergantian ada dalam hidup manusia.

Puisi lain yang memiliki metafora yang menggelitik adalah Puisi Cat Air untuk Rizki (1975). Di puisi itu Sapardi menuliskan “hujan meludah di ujung gang”.

Kemudian, puisi-puisi yang belum bisa saya golongkan, mereka mewakili subjek apa? Salah satu dari golongan ini yang adalah favorit saya, adalah Pada Suatu Pagi Hari (1973).

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan

tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun

rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk

memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin

menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan

rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Puisi ini bicara tentang kesedihan. Kesedihan yang teramat dalam hingga hanya bisa dilampiaskan dengan cara “menangis lirih sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi”. Kenapa di pagi hari? Entahlah. Apa yang membuatnya sedemikian sedih? Entahlah. Mungkin saya perlu menghubungkannya dengan puisi lain untuk bisa menangkap maknanya. Nah, ternyata sebelumnya saya sudah pernah membaca puisi itu di cerpen apa ya, saya lupa. Duh!

Juga, Yang Fana adalah Waktu (1978) menjadi favorit saya.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

                “Tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu. Kita abadi.

Puisi itu barangkali ingin mengatakan bahwa kita, saking terjebak rutinitas atau ambisi-ambisi, lupa untuk memaknai waktu yang kita gunakan sehari-hari. Kadang malah saya ingin seandainya sehari itu tidak cuma 24 jam. Mengapa rasanya waktu cepat sekali berlalu, padahal belum sempat saya menyelesaikan ini-itu? Nah, barangkali saya perlu berhenti sejenak.

Subjek-subjek yang sudah saya sebutkan itu tak jarang saling tumpang-tindih. Itu makin menunjukkan bahwa subjek-subjek itu berasal dari satu tema umum.

Dari sisi tipografi, puisi-puisi Sapardi dalam buku ini menurut saya rapi, konsisten, dan sederhana. Bisa dilihat, misalnya pada puisi yang sudah saya cantumkan sebelumnya, Aku Ingin dan Percakapan Malam Hujan. Keduanya sama-sama terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari tiga baris, hanya saja di Percakapan Malam Hujan, baris kedua dan ketiga tiap bait ditulis menjorok ke dalam. Mayoritas puisi Sapardi ditulis seperti itu tampilannya. Yang agak dibikin “berantakan”, misalnya Ziarah (1967).
 
Sementara Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin memiliki penggalan antarbaris yang teratur dan paralelisme antarbait, ada juga yang terdiri dari satu kalimat panjang dengan penggalan yang tak kentara, seperti Catatan Masa Kecil, 3 (1971), Bunga, 2, dan Telinga (1982).


***
Buku puisi ini telah mengubah paradigma saya yang melabeli dengan semena-mena buku puisi, bahwa ia tak cukup layak untuk saya beli karena biasanya sangat tipis. Sangat tipis, ya ampun, saya tidak percaya saya bisa sebegitu menghakimi. Dan memang benar, puisi tidak bisa menggantikan nikmatnya baca prosa. Kenikmatan baca puisi beda dengan kenikmatan baca prosa, dan kenikmatan yang berbeda itu punya keistimewaan sendiri-sendiri. Tak bisa dibanding-bandingkan apalagi saling menggantikan. Hujan Bulan Juni, yang saya beli karena iseng, membuat saya tak takut lagi untuk baca buku puisi. Selain itu, makna sajak-sajak Sapardi bisa dibilang masih cukup mudah dimengerti oleh pembaca awam (saya). Dia masih mengikat makna dengan kata-kata (tak seperti, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, yang kebanyakan membebaskan kata dari makna, sehingga sulit sekali untuk saya pahami). Terima kasih, Sapardi. (Meski sayang, buku bersampul cantik ini isinya tak berilustrasi.)***
rating saya

identitas buku

Penyelia naskah: Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VIII, Agustus 2016
Tebal: xii + 120 halaman
Harga: Rp 68.000,00
ISBN: 978-979-22-9706-5
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets