Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

10 March 2018

Untuk Apa Surga Diciptakan? (Sebuah Resensi atas "Puya ke Puya" karya Faisal Oddang)


Kenapa surga diciptakan?
Surga diciptakan karena…
(hlm. 3)

Faisal Oddang menyuguhkan padaku
semangkuk sup yang sangat tidak enak,
tapi terpaksa kulahap juga karena aku kelaparan dan
itu satu-satunya makanan yang bisa kudapatkan.

(Allu bukanlah Soe Hok Gie, jelas. Ia, yang awalnya kukira mahasiswa aktivis yang menolak dibukanya tambang nikel demi memperjuangkan apa yang dia yakini, ternyata melakukan itu atas suruhan orang yang memberinya uang.

Allu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Namun suatu hari, tibalah padanya kabar tentang meninggalnya Ambe—ayah—lewat suara Indo—ibu—di telepon. Betapa hatinya seakan rontok begitu saja: ia telah berjanji pada Ambe untuk jadi sarjana tahun itu, tapi Ambe keburu tiada untuk dapat menyaksikan ia diwisuda. Penderitaan itu diperparah oleh keberangkatan dosen pembimbing skripsinya ke luar negeri untuk melanjutkan studi.

Skripsinya terbengkalai. Bagaimanapun, yang terpenting saat ini adalah ia harus kembali ke tanah kelahirannya, sebagai satu-satunya keturunan Ambe. Ia harus membuat keputusan. Keputusan-keputusan berat berkaitan dengan kematian Ambe dan masa depan nama baik keluarga besar Ralla.

… untuk sampai ke surga,
Ambe harus diupacarakan,
dipotongkan puluhan kerbau dan ratusan babi.
Hal itu tidak mudah, tetapi demi derajat dan adat,
sebagai keturunan bangsawan—tana bulaan
Ambe harus melakukannya, lagi-lagi itu kata Ibu Pohon.

(Maria, hlm. 12)

Untuk melaksanakan upacara rambu solo itu, tentu tak sedikit uang yang dibutuhkan. Sebagai mahasiswa kritis, Allu tak setuju untuk melaksanakan adat itu, yang dianggapnya tidak relevan lagi dengan situasi masa kini. Sementara itu, anggota keluarga besar memaksa agar upacara itu tetap diadakan. Kalau tak ada rambu solo, martabat kerabat akan tercoreng. Keluarga bangsawan, pemimpin adat meninggal kok tak ada rambu solo. Apalagi telah terbukti bahwa adat tersebut selama ini menimbulkan masalah; ia menyebabkan orang hidup dalam lingkaran utang, di bawah bayang-bayang “harga diri”.

Lihatlah, begitulah adat membuat rasa pamrih,
begitulah adat secara halus menanamkan paham
tidak ada yang gratis di dunia ini.
Bahkan tenaga harus dibayar—
di masyarakat tradisional yang masih jauh dari
individualisme masyarakat kota.

(Allu, hlm. 136)

Di perutku sup itu bergolak.
Aku gelisah.
Ia seperti ingin keluar tapi
aku harus menahannya agar perutku tetap terasa kenyang.

(Seperti dalam novel Saman, aku menyaksikan kembali perebutan lahan warga lokal oleh perusahaan [bersama pemerintah dan/atau bersama militer]—kali ini adalah perusahaan tambang nikel. Dulunya Ambe menolak keras masuknya pertambangan ini di kampung mereka, sementara Allu mendukung Ambe dari Makassar dengan bantuan teman-teman mahasiswanya. Tapi, akhirnya para warga menurut saat Pak Kades turun tangan untuk melicinkan masuknya tambang itu.

Di sini, aku teringat akan Salim Kancil, yang darahnya merembesi pasir Pantai Watu Pecak dan suara-suaranya tak akan mati meski ia telah mati.

Pada akhirnya, karena tertekan oleh sana-sini, Allu akhirnya menentang Indonya dan diam-diam menjual tanah milik keluarga pada perusahaan serta tongkonan mereka yang akan dihancurkan. Memang, Allu mendapat sejumlah banyak uang. Tapi perusahaan melakukan itu dengan jebakan licik dan menyakitkan. Namun Allu memang bukanlah seorang pahlawan. Dengan mudah, ia malah masuk dan tinggal dalam jebakan itu: cinta, lalu sakit hati dan rasa kecewa begitu merasukinya hingga ia melakukan hal yang kuharap tak ia lakukan.

Aku kecewa, pemuda kritis seperti Allu berakhir begitu.

Aku terenyak; ekspektasiku tergugu. Bukankah kebanyakan dari kita juga begitu: bukan seorang “pahlawan”? Dan tak bisa disangkal, kita bukannya tak butuh uang. Bagi kebanyakan dari kita, memastikan makanan selalu tersedia di rumah barangkali lebih utama ketimbang berdemonstrasi di depan istana negara menyuarakan ketidakadilan dengan risiko-risiko, salah satunya: ketidakpastian.
Aku terenyak lagi. Aku kesal tapi, sial sekali, aku tetap tak bisa begitu saja menyalahkannya.)

Sup itu naik ke kerongkonganku.
Cairan kentalnya menjelma juluran
tangan-tangan dan mencekikku.

(Di dalam sup pahit bernama Puya ke Puya ini, Faisal bermain-main dengan racikan bumbunya. Ia menggunakan beberapa sudut pandang berganti-ganti, dengan mekanisme pergantian yang unik. Termasuk di antaranya adalah sudut pandang roh gentayangan Maria dan roh gentanyangan Ambe. Maria, adik Allu, telah meninggal sejak bayi dan dimakamkan dalam tubuh pohon tarra—makam passiliran.

Katanya lagi, aku tinggal menunggu tubuhku
dihancurkan batang pohon,
menyatu bersama getahnya yang kami susui,
menyatu dengan ranting, menjadi daun, lalu kering,
lalu jatuh kembali ke tanah, kembali ke asal,
dan kembali ke surga.

(Maria, hlm. 11)

Dari kisah Maria inilah, aku mengetahui kisah tentang kehidupan di dalam makam passiliran; tentang dalih “kesucian yang harus dijaga” yang malah menghalangi percintaan antara dua remaja—apakah percintaan memang sebegitu menakutkannya hingga harus disensor sedemikian rupa agar tak meracuni mereka yang dianggap “belum cukup umur”?; tentang peristiwa pencurian fosil bayi dari dalam tubuh tarra demi dijual dengan harga yang tinggi untuk membiayai rambu solo. Betapa ironis!

Sementara itu, roh gentayangan Ambe dilanda kegalauan tiada akhir, yang makin parah ketika mendapati kondisi keluarga besar Ralla makin kacau. Betapa seorang arwah tak gundah setengah mati (padahal ia sudah mati) ketika menyadari bahwa kematiannya hanya akan menyisakan beban besar bagi keluarga yang ia tinggalkan. Terlebih, di sisi lain, ia tak bisa memungkiri bahwa ia sendiri pun ingin diadakan rambu solo agar bisa “tiba di surga selayak bangsawan, menunggang kerbau belang diiringi ratusan babi dan puluhan kerbau lainnya” (hlm. 31).

Dulu, aku pernah berharap untuk menjadi To Membali Puang
menjadi dewa, ketika kelak tiba di surga.
Aku ingin, bahkan sampai saat ini
aku masih diam-diam memeram keinginan itu.

(Ambe, hlm. 32))
Tangan-tangan sup itu mencekikku
dan aku tak kunjung mati.

(Sampai akhir, seperti para arwah yang telah menuju puya, dan tetap tak bisa menjawab…, aku terenyak. Ternyata aku pun tetap tak bisa menjawab.

“Untuk apa surga diciptakan?”

Mengapa surga diciptakan jika keberadaannya malah menghancurkan kehidupan orang-orang yang masih hidup di bumi? Mungkin, mungkin, karena yang “menciptakan” surga itu adalah manusia sendiri...

Ah, Faisal Oddang, kau menanyakan pertanyaan yang sulit sekali.

Terus terang, kupikir novel ini lebih baik dibandingkan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, juara kedua dan ketiga sayembara novel DKJ 2014.)

identitas buku

Judul: Puya ke Puya
Penulis: Faisal Oddang
Editor: Christina M. Udiani
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: II, Agustus 2016
Tebal: xii + 218 halaman
ISBN: 978-602-424-126-1
Harga: Rp 50.000,00

10 August 2017

Terjemahan dan Pencernaan: "Kesialan Orang Lajang" & "Seorang Dokter Desa"

Catatan: tulisan ini pernah saya publikasikan di Instagram, saya publikasikan kembali di sini dengan beberapa perubahan.


Buku yang berjodoh dengan pembacanya akan menjamah kesadarannya pada waktu yang tepat.

Baru-baru ini aku mengalaminya. Bulan Juni kemarin, aku menemukan Seorang Dokter Desa di tumpukan teratas buku dalam salah satu ruangan. Malam sampai pagi hari itu aku sama sekali tak bisa tidur, padahal paginya aku ada wawancara kerja. Kucoba membaca cerpen yang berjudul sama dengan buku kumpulan cerpen itu, tapi tetap aku tak bisa tidur, padahal kelopak mata terasa berat.


Baca juga: Resensi "Seorang Dokter Desa"


Beberapa minggu setelah itu, aku selesai membaca Kesialan Orang Lajang, lalu iseng membuka kembali Seorang Dokter Desa--semata karena aku sedang ingin menyelami karya-karya Kafka. Mataku mengecupi daftar judul cerpennya, dan betapa gegar intelektualku--ada beberapa cerpen yang ternyata sama dengan yang ada di buku Kesialan Orang Lajang! Tak tertahankan, sesuatu dalam diriku ingin sekali membandingkan rasa terjemahan keduanya.


Mungkin karena diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman, terbitan Oak ini terasa lebih gampang dikunyah dan ditelan. Beberapa bagian yang sulit kucerna di Kesialan Orang Lajang (rasanya seperti waktu konstipasi: perut muat-muat saja untuk makan dengan kuantitas biasa, tapi terasa tak enak), kucoba memamahnya lagi di Seorang Dokter Desa. Hasilnya, pencernaanku jadi lebih lancar.


Nah, kenapa begitu? Mungkin karena buku Kesialan Orang Lajang diterjemahkan dari bahasa Inggris, sehingga paralaks makna yang tercipta jauh lebih besar ketimbang yang terjadi pada buku Seorang Dokter Desa, yang langsung diterjemahkan dari bahasa aslinya, Jerman.

Baca juga: Resensi "Kesialan Orang Lajang"


Misalnya, dalam cerpen Pembunuhan Saudara di adegan terakhir, sebelum Schmar ditangkap oleh polisi, tertulis seperti ini di hlm. 53 (yang di dalam kurung siku adalah catatan saya):
Pallas, yang tersedak karena obat dalam tubuhnya, [obat, memangnya Pallas habis minum obat apa?] berdiri di pintu ganda rumahnya yang terbuka. "Schmar! Schmar! Aku melihat semuanya, aku tak melewatkan apa pun!" Pallas dan Schmar saling menyelidiki [menyelidiki, kupikir ada yang kurang pas dengan pemilihan kata ini]. Hasilnya memuaskan Pallas, Schmar tak menyimpulkan apa pun. [nah, "menyimpulkan" ini kupikir juga kurang pas]
Mari, kita bandingkan dengan terjemahan cerpen yang sama dalam buku Seorang Dokter Desa terbitan Oak, yang diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman (dari hlm. 74):
Pallas, seolah sekujur badannya tercemar racun, berdiri di pintu rumahnya yang berdaun dua. "Schmar! Schmar! Aku melihat semuanya, dan tidak melewatkan apa pun." Pallas dan Schmar saling menatap satu sama lain. Itu membuat Pallas puas, namun Schmar tidak mengerti.
Nah, setelah membaca yang kedua, aku baru paham apa maksudnya. Dalam cerpen yang sama, aku menemukan kebingungan lain pada bagian berikut.


Ada perbedaan mencolok (bagian yang kutebalkan) antara kedua terjemahan tersebut. Pada terjemahan yang pertama, si tokoh "mengusapkan pisau itu bagaikan busur biola pada tapak sepatunya". Sementara itu, pada terjemahan yang kedua, si tokoh tidak mengusapkan pisau pada tapak sepatunya, tapi menggunakan sepatunya untuk membuat goresan--yang telah ia buat sebelumnya dengan pisaunya--itu "menjadi mirip busur biola".

Kemudian pada terjemahan yang pertama, pemilihan kata "di sisi jalan yang amat penting itu" kupikir agak janggal, terutama di bagian "yang amat penting". Pada terjemahan yang kedua, pemilihan kata "yang akan menentukan takdirnya itu" lebih jelas, cocok, dan mudah dipahami daripada terjemahan yang pertama.

Kasus yang berikutnya adalah pada cerpen Mimpi atau Sebuah Mimpi. Seperti yang kutampilkan di bawah ini, deskripsi pada terjemahan yang pertama cenderung lebih sulit dipahami ketimbang pada terjemahan yang kedua.


Berikutnya adalah cerpen Advokat Baru atau Si Pengacara Baru.


Perbedaan yang paling mencolok di antara kedua terjemahan adalah (selain pemilihan kata advokat dan pengacara) pada terjemahan yang pertama, disebutkan bahwa Bucephalus dulunya adalah prajurit Iskanda Agung/Aleksander Agung, sedangkan pada terjemahan yang kedua, disebutkan bahwa ia dulunya adalah kuda perang kesayangan sang raja tersebut. Menurut sejarah, Bucephalus memang adalah kuda perang Aleksander Agung.
Sumber: TIME
Dari terjemahan bahasa Inggrisnya (Franz Kafka: The Complete Stories terbitan Schocken Books tahun 1971), kalimat pertama adalah


We have a new advocate, Dr. Bucephalus. There is little in his appearance to remind you that he was once Alexander of Macedon's battle charger.


Bucephalus dulunya adalah "Alexander of Macedon's battle charger". Battle charger adalah "kuda yang digunakan untuk perang". Jadi, kupikir memang lebih cocok jika diterjemahkan menjadi "kuda perang" alih-alih "prajurit. Dalam fiksi mini ini Kafka menunjukkan transformasi yang entah bagaimana terjadinya, dari kuda perang menjadi pengacara. (Ingatkah kau akan "perubahan" Peter si Kera menjadi manusia dalam Pidato di Hadapan Sebuah Akademi?) Lebih dari itu, cerpen ini mengandung kegelisahan Kafka akan isu rasial (analisis yang menarik ini kutemukan di blog Simon Brilsby).

Namun, dalam cerpen Mengunjungi Tambang, ada bagian terjemahan yang pemilihan katanya kusukai, yaitu "mata yang mengisap segala sesuatu". Pemilihan diksi ini lebih kusukai ketimbang yang ada di terjemahan kedua.



Rasa yang berbeda juga kutemukan dalam cerpen yang dalam bahasa Inggris berjudul "Up in The Gallery". Sejak judul pun sudah sangat berbeda terjemahan yang pertama dan kedua. Di terjemahan pertama, cerpen ini berjudul "Di Galeri", sedangkan dalam terjemahan yang kedua ia berjudul "Di Balkon". Galeri dan balkon memiliki arti yang sungguh berbeda. Tapi dari bahasa Inggris "gallery" memang bisa diterjemahkan menjadi "galeri" maupun "balkon". Namun dalam konteks cerpen ini, kupikir lebih cocok menggunakan "balkon".


Menerjemahkan karya sastra bukanlah persoalan mudah, karena mempertimbangkan makna dan rasa seperti aslinya, juga apakah terjemahan itu mudah dicerna oleh pembaca. Apalagi jika bukan diterjemahkan dari bahasa aslinya--paralaks makna yang terjadi akan lebih besar ketimbang terjemahan dari bahasa asli. Oleh karena itu, sesungguhnya aku lebih memilih membaca versi bahasa Inggris dari karya sastra berbahasa lain yang aku tidak familiar.[ ]

4 August 2017

Kafka, Aku Hanyalah Orang Menyedihkan yang Berusaha Memahami Pesanmu

*Catatan: resensi ini pernah terbit di Instagram; diterbitkan lagi di sini dengan beberapa perubahan.

Hei, Kafka, si lelaki pemurung! Ingatkah kau, kita pernah berkenalan beberapa tahun yang lalu? Saat itu aku masih cupu dalam menangkap pesanmu (sekarang pun masih cupu) sehingga aku tak terlalu memahami apa isi pesanmu dalam novel The Trial. Tenang saja, aku akan membacanya lagi--nanti. Kau selalu terasa murung dalam karya-karyamu, tapi itulah yang menarikku semakin dalam. Setelah menamatkan Kesialan Orang Lajang dan mulai membacanya ulang, barulah aku ingat kalau di ruangan tempatku tidur ada setumpuk buku dan Seorang Dokter Desa berbaring diam di paling atas. Memang benar katamu dalam cerpen Seorang Dokter Desa, "Seseorang tidak tahu barang-barang apa saja yang ia simpan di rumahnya sendiri." (Eh, itu bukan rumahku sendiri, sih, tapi sudah kuanggap rumah sendiri.)

Sebagian besar judul sudah pernah kubaca sebelumnya di Kesialan Orang Lajang, dan hanya beberapa yang baru kukenal pertama kali lewat buku ini. Tiga di antaranya adalah Seorang Dokter Desa, Pidato di Hadapan Sebuah Akademi, dan Pesan Sang Kaisar. 

Seorang Dokter Desa

Kau mengajakku ke alam muram dalam badai salju dan kegelapan malam. Seorang dokter (satu-satunya) di sebuah desa mendapat panggilan dan harus menemui pasiennya yang tinggal 10 mil dari kediamannya. Duh, Kafka, kau membuatku frustrasi gara-gara membaca betapa sialnya si dokter ini! Ia harus pergi, tapi kudanya telah mati dan Rosa, pembantunya, telah mencari-cari pinjaman kuda tapi tak menghasilkan. Secara ajaib, dari dalam kandang kudanya muncullah seorang pengurus kuda dengan dua ekor kuda yang liar. Kau membuat kuda itu tak bisa dikendalikan oleh sang dokter, sehingga ia pasrah saja dan akhirnya sampai di rumah pasien dengan cepat. Dan secepat itu pula, pengurus kuda yang tinggal berduaan dengan Rosa, berhasil menaklukannya (memperkosanya?).

Selama berada di rumah pasien, pikiran si dokter tak benar-benar berada di sana. Ia sibuk mengkhawatirkan Rosa. Dan kalimat yang diucapkan Rosa, yang telah kukutip sebelumnya, "Seseorang tidak tahu apa saja yang ia simpan di rumahnya sendiri," apakah itu kaumaksudkan sebagai petunjuk? Petunjuk bahwa sang dokter selama ini tak menyadari kehadiran Rosa di rumahnya sebagai "perempuan". Oleh karena itu, menyesallah sang dokter, tapi sayang sekali, Rosa telah ditaklukkan oleh si pengurus kuda.

Sang pasien adalah seorang bocah laki-laki dengan luka menganga di tubuhnya, berwarna merah muda dan bercacing. Oh, aku menyadari permainan kata-katamu, Kafka! Rosa dan rose--merah muda--apakah ini melambangkan "cinta"? Si dokter tahu bahwa penyakit itu di luar kemampuannya, tapi keluarga si pasien masih ngeyel. Mereka lalu melepas pakaian si dokter dan membaringkannya di samping pasien dan menyanyikan sebuah lagu; mereka percaya bahwa itu akan menyembuhkan pasien. Sang dokter kemudian berhasil kabur, sambil terus memikirkan Rosa dan berhasrat menyelamatkannya. Namun sayang sekali, ia tak pernah mencapainya.
Mungkinkah kau memaksudkan bahwa apa yang dialami oleh sang dokter itu semuanya hanyalah halusinasinya sendiri? Atau mimpi buruknya? Pasien dengan luka berwarna merah muda itu, apakah dia melambangkan bagian dari kepribadian sang dokter sendiri? Ia merasa bersalah karena tidak melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh--ia setengah hati saat memeriksa si pasien dan ragu-ragu selama dalam perjalanan--dan tak bisa menyelamatkannya. Dalam percintaan pun dia gagal. Kau pun telah mengantisipasi penyakit tuberkulosis yang (ternyata) kauderita saat menulis cerpen ini. Analisis lain menduga bahwa kepergian sang dokter menembus segala rintangan untuk menemui pasiennnya ini adalah alegori bagi para tentara yang pergi berperang dengan mengorbankan banyak hal, tanpa tahu akan seperti apa hasil perang itu nantinya--mengingat bahwa kau menulis cerpen ini pada masa Perang Dunia II.

Pidato di Hadapan Sebuah Akademi

Lepas dari badai salju ganas, kau menyeretku ke sebuah aula dan secara ajaib aku telah duduk di salah satu kursi penonton. Memandang ke podium, mataku terbelalak dan mulutku membuka lebar. Benarkah itu seekor kera yang sedang berbicara?
Omong-omong: dengan kebebasan, manusia sering sekali mengecewakan dirinya sendiri. Dan karena kebebasan dianggap sebagai perasaan yang paling luhur, maka luhur pula kekecewaan yang mengikutinya. (hlm. 90)
Oh, apa-apaan ini, Kafka? Kera itu sedang membicarakan kita, manusia, dengan gaya amat sok tahu! Hampir saja, aku pasti telah berdiri dan berteriak menghujat si kera kalau kau, yang duduk di sebelahku, tidak menarik sikuku dan berujar, "Sudahlah, dengarkan dulu pidatonya. Ini akan sangat menarik dan agak absurd. Kau suka hal-hal seperti itu, kan?"

Entah bagaimana, matamu berhasil membuatku memutuskan untuk mendengarkan kera itu. Namanya Peter, Peter si kera. Katamu, sebelumnya ia menceritakan bagaimana ia dibawa dari habitat aslinya oleh sebuah tim ekspedisi. Kemudian ia dimasukkan dalam kerangkeng yang sempit bukan main. Kondisinya yang terkungkung itu memaksanya belajar menjadi manusia, karena menurutnya, itulah satu-satunya jalan keluar. Aku teringat akan Dr. Bucephalus dalam Si Pengacara Baru. Kuda legendaris Aleksander Agung itu juga, entah bagaimana, kaubuat "berubah" menjadi manusia. Ah, aku juga teringat akan karyamu yang--barangkali--paling termasyhur: Metamorfosis. Gregor Samsa mengalami perubahan yang berkebalikan dengan Peter si kera: ia berubah dari manusia menjadi binatang--seekor serangga raksasa. Tak seperti Samsa, Peter tidak mengalami metamorfosis secara fisik.

Akhirnya pidato itu selesai dan aku terperangah. Peter adalah wujud paradoks lipat tiga. Pertama, ia mengaku tidak menginginkan kebebasan; ia hanya ingin keluar dari kerangkeng itu. Lho, keinginannya itu bukankah termasuk dalam "menginginkan kebebasan"? Kedua, dia ingin jalan keluar. Memang, akhirnya ia bisa keluar dengan "menjadi" manusia, tapi dengan begitu, ia telah menukar kerangkeng lamanya dengan kerangkeng baru, yaitu perilaku dan cara berpikir manusia. Ketiga, ia berusaha menjadi yang bukan dirinya, tapi anehnya ia merasa nyaman dan merasa itulah dirinya. Semakin ia termanusiakan, semakin kabur ingatan akan kehidupan lamanya sebagai kera. Dalam pidatonya, ia tak sekalipun menceritakan bagaimana kehidupannya sebelum tercerabut dari habitat dan dirinya sendiri.

Pesan Sang Kaisar

Peter telah selesai berpidato dan aku kembali menatap matamu untuk mencari-cari adakah makna lain tersimpan di sana? Kutemukan diriku terjerembab di dalam liang pikiranmu yang kelabu. Berusaha memahami karyamu bak berusaha menemukan titik terang dalam sebuah labirin. Adalah suatu petualangan menggairahkan, meski mungkin aku hanya akan berakhir duduk di jendela, memimpikan pesan dari Sang Kaisar, tanpa tahu bahwa si Kurir tak akan pernah sampai. Memang, betapa aku adalah orang "yang menyedihkan, hidup dalam bayang-bayang karyamu tanpa pernah benar-benar memahaminya". Yah, setidaknya aku telah memimpikan pesanmu, bukan?[]

Rating saya:
  

Catatan:
  • Aku suka ukuran buku ini dan tata letaknya. Tapi penjilidannya bikin buku ini susah dibuka lebar.
  • Nomor halaman pada daftar isi banyak yang meleset.
  • Terjemahannya cukup enak dinikmati, lebih enak daripada buku Kesialan Orang Lajang (mungkin karena Seorang Dokter Desa diterjemahkan langsung dari bahasa Jerman). 
Judul: Seorang Dokter Desa
Penulis: Franz Kafka
Penerjemah: Widya Mahardika P.
Penerbit: OAK
Cetakan: I, September 2016
Tebal: 116 halaman
ISBN: 9788027253874
Harga buku: Rp 59.000,00 

bloggerwidgets