Showing posts with label dkj 2014. Show all posts
Showing posts with label dkj 2014. Show all posts

10 March 2018

Untuk Apa Surga Diciptakan? (Sebuah Resensi atas "Puya ke Puya" karya Faisal Oddang)


Kenapa surga diciptakan?
Surga diciptakan karena…
(hlm. 3)

Faisal Oddang menyuguhkan padaku
semangkuk sup yang sangat tidak enak,
tapi terpaksa kulahap juga karena aku kelaparan dan
itu satu-satunya makanan yang bisa kudapatkan.

(Allu bukanlah Soe Hok Gie, jelas. Ia, yang awalnya kukira mahasiswa aktivis yang menolak dibukanya tambang nikel demi memperjuangkan apa yang dia yakini, ternyata melakukan itu atas suruhan orang yang memberinya uang.

Allu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Namun suatu hari, tibalah padanya kabar tentang meninggalnya Ambe—ayah—lewat suara Indo—ibu—di telepon. Betapa hatinya seakan rontok begitu saja: ia telah berjanji pada Ambe untuk jadi sarjana tahun itu, tapi Ambe keburu tiada untuk dapat menyaksikan ia diwisuda. Penderitaan itu diperparah oleh keberangkatan dosen pembimbing skripsinya ke luar negeri untuk melanjutkan studi.

Skripsinya terbengkalai. Bagaimanapun, yang terpenting saat ini adalah ia harus kembali ke tanah kelahirannya, sebagai satu-satunya keturunan Ambe. Ia harus membuat keputusan. Keputusan-keputusan berat berkaitan dengan kematian Ambe dan masa depan nama baik keluarga besar Ralla.

… untuk sampai ke surga,
Ambe harus diupacarakan,
dipotongkan puluhan kerbau dan ratusan babi.
Hal itu tidak mudah, tetapi demi derajat dan adat,
sebagai keturunan bangsawan—tana bulaan
Ambe harus melakukannya, lagi-lagi itu kata Ibu Pohon.

(Maria, hlm. 12)

Untuk melaksanakan upacara rambu solo itu, tentu tak sedikit uang yang dibutuhkan. Sebagai mahasiswa kritis, Allu tak setuju untuk melaksanakan adat itu, yang dianggapnya tidak relevan lagi dengan situasi masa kini. Sementara itu, anggota keluarga besar memaksa agar upacara itu tetap diadakan. Kalau tak ada rambu solo, martabat kerabat akan tercoreng. Keluarga bangsawan, pemimpin adat meninggal kok tak ada rambu solo. Apalagi telah terbukti bahwa adat tersebut selama ini menimbulkan masalah; ia menyebabkan orang hidup dalam lingkaran utang, di bawah bayang-bayang “harga diri”.

Lihatlah, begitulah adat membuat rasa pamrih,
begitulah adat secara halus menanamkan paham
tidak ada yang gratis di dunia ini.
Bahkan tenaga harus dibayar—
di masyarakat tradisional yang masih jauh dari
individualisme masyarakat kota.

(Allu, hlm. 136)

Di perutku sup itu bergolak.
Aku gelisah.
Ia seperti ingin keluar tapi
aku harus menahannya agar perutku tetap terasa kenyang.

(Seperti dalam novel Saman, aku menyaksikan kembali perebutan lahan warga lokal oleh perusahaan [bersama pemerintah dan/atau bersama militer]—kali ini adalah perusahaan tambang nikel. Dulunya Ambe menolak keras masuknya pertambangan ini di kampung mereka, sementara Allu mendukung Ambe dari Makassar dengan bantuan teman-teman mahasiswanya. Tapi, akhirnya para warga menurut saat Pak Kades turun tangan untuk melicinkan masuknya tambang itu.

Di sini, aku teringat akan Salim Kancil, yang darahnya merembesi pasir Pantai Watu Pecak dan suara-suaranya tak akan mati meski ia telah mati.

Pada akhirnya, karena tertekan oleh sana-sini, Allu akhirnya menentang Indonya dan diam-diam menjual tanah milik keluarga pada perusahaan serta tongkonan mereka yang akan dihancurkan. Memang, Allu mendapat sejumlah banyak uang. Tapi perusahaan melakukan itu dengan jebakan licik dan menyakitkan. Namun Allu memang bukanlah seorang pahlawan. Dengan mudah, ia malah masuk dan tinggal dalam jebakan itu: cinta, lalu sakit hati dan rasa kecewa begitu merasukinya hingga ia melakukan hal yang kuharap tak ia lakukan.

Aku kecewa, pemuda kritis seperti Allu berakhir begitu.

Aku terenyak; ekspektasiku tergugu. Bukankah kebanyakan dari kita juga begitu: bukan seorang “pahlawan”? Dan tak bisa disangkal, kita bukannya tak butuh uang. Bagi kebanyakan dari kita, memastikan makanan selalu tersedia di rumah barangkali lebih utama ketimbang berdemonstrasi di depan istana negara menyuarakan ketidakadilan dengan risiko-risiko, salah satunya: ketidakpastian.
Aku terenyak lagi. Aku kesal tapi, sial sekali, aku tetap tak bisa begitu saja menyalahkannya.)

Sup itu naik ke kerongkonganku.
Cairan kentalnya menjelma juluran
tangan-tangan dan mencekikku.

(Di dalam sup pahit bernama Puya ke Puya ini, Faisal bermain-main dengan racikan bumbunya. Ia menggunakan beberapa sudut pandang berganti-ganti, dengan mekanisme pergantian yang unik. Termasuk di antaranya adalah sudut pandang roh gentayangan Maria dan roh gentanyangan Ambe. Maria, adik Allu, telah meninggal sejak bayi dan dimakamkan dalam tubuh pohon tarra—makam passiliran.

Katanya lagi, aku tinggal menunggu tubuhku
dihancurkan batang pohon,
menyatu bersama getahnya yang kami susui,
menyatu dengan ranting, menjadi daun, lalu kering,
lalu jatuh kembali ke tanah, kembali ke asal,
dan kembali ke surga.

(Maria, hlm. 11)

Dari kisah Maria inilah, aku mengetahui kisah tentang kehidupan di dalam makam passiliran; tentang dalih “kesucian yang harus dijaga” yang malah menghalangi percintaan antara dua remaja—apakah percintaan memang sebegitu menakutkannya hingga harus disensor sedemikian rupa agar tak meracuni mereka yang dianggap “belum cukup umur”?; tentang peristiwa pencurian fosil bayi dari dalam tubuh tarra demi dijual dengan harga yang tinggi untuk membiayai rambu solo. Betapa ironis!

Sementara itu, roh gentayangan Ambe dilanda kegalauan tiada akhir, yang makin parah ketika mendapati kondisi keluarga besar Ralla makin kacau. Betapa seorang arwah tak gundah setengah mati (padahal ia sudah mati) ketika menyadari bahwa kematiannya hanya akan menyisakan beban besar bagi keluarga yang ia tinggalkan. Terlebih, di sisi lain, ia tak bisa memungkiri bahwa ia sendiri pun ingin diadakan rambu solo agar bisa “tiba di surga selayak bangsawan, menunggang kerbau belang diiringi ratusan babi dan puluhan kerbau lainnya” (hlm. 31).

Dulu, aku pernah berharap untuk menjadi To Membali Puang
menjadi dewa, ketika kelak tiba di surga.
Aku ingin, bahkan sampai saat ini
aku masih diam-diam memeram keinginan itu.

(Ambe, hlm. 32))
Tangan-tangan sup itu mencekikku
dan aku tak kunjung mati.

(Sampai akhir, seperti para arwah yang telah menuju puya, dan tetap tak bisa menjawab…, aku terenyak. Ternyata aku pun tetap tak bisa menjawab.

“Untuk apa surga diciptakan?”

Mengapa surga diciptakan jika keberadaannya malah menghancurkan kehidupan orang-orang yang masih hidup di bumi? Mungkin, mungkin, karena yang “menciptakan” surga itu adalah manusia sendiri...

Ah, Faisal Oddang, kau menanyakan pertanyaan yang sulit sekali.

Terus terang, kupikir novel ini lebih baik dibandingkan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, juara kedua dan ketiga sayembara novel DKJ 2014.)

identitas buku

Judul: Puya ke Puya
Penulis: Faisal Oddang
Editor: Christina M. Udiani
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: II, Agustus 2016
Tebal: xii + 218 halaman
ISBN: 978-602-424-126-1
Harga: Rp 50.000,00

24 May 2017

[Resensi DI TANAH LADA] Lada dan Garam di Tanah Lada

sinopsis

"Yang bikin Mas sedih soal kamu dan dia," kata Mas Alri pelan-pelan, "itu karena kalian berdua tumbuh jadi anak-anak yang skeptis." (hlm. 196)
Apa ekspektasimu ketika membaca novel yang ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama seorang anak kecil? Pasti kamu berharap akan menyaksikan bagaimana pemikiran-pemikiran polos yang otentik. Dalam Di Tanah Lada, Ziggy menghadirkan itu melalui sudut pandang orang pertama Salva, alias Ava.

Setelah Kakek Kia-ayah Papa-meninggal, Papa menjadi kaya karena mendapat uang warisan (dan nantinya menghabiskannya untuk berjudi). Anehnya, dia malah memutuskan mereka sekeluarga pindah ke Rusun Nero, yang kumuh dan katanya angker. Papa sering memaksa Mama untuk ikut dia pergi, sehingga Ava berkeliaran sendiri. Di sanalah Ava bertemu bocah laki-laki yang hobi main gitar. Oleh Ava, bocah bernama P itu dikira pengamen. Dari pertemanannya dengan P, Ava jadi mengenal juga Kak Suri dan Mas Alri yang juga tinggal di Rusun Nero. Keduanya baik terhadap P, dan juga terhadap Ava.

Seperti Ava, P juga mengalami kekerasan oleh papanya, bahkan lebih parah. Meski sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dari orang tua, mereka cukup bahagia dengan persahabatan mereka berdua. Setidaknya mereka saling memiliki.
Bagaimana kelanjutan persahabatan mereka?
Apakah Papa-papa mereka akan berubah sikap atau tidak?
Akankah mereka terus terpenjara di Rusun Nero, dalam bayangan ketiak Papa galak? 
Atau, bisakah mereka keluar dan kabur entah ke mana?

karakter

-AVA-

"Makasih," katanya.
"Terima kasih," aku mengoreksinya. "Kata Kakek Kia, harus bilang begitu. Katanya, 'makasih' itu bukan kata yang bagus."
"Masa, sih?" komentar Si Anak Pengamen. [...] "Biasa aja, kok. Orang-orang semuanya bilang 'makasih'. Memangnya kenapa?"
Aku mengangkat bahu. "Papa juga kadang-kadang bilang 'makasih'. Papa nggak baik. Jadi, pasti itu bukan kata yang baik."
Si Anak Pengamen berpikir-pikir. "Papaku juga suka bilang 'makasih'."
"Papa kamu baik?"
Dia menggeleng.
"Kalau begitu, itu bukan kata yang dipakai orang baik."
Aku terkesan dengan kemampuanku mengambil kesimpulan.
(hlm. 43)
😂😂😂
Ava sangat memuja sosok Kakek Kia. Ke mana-mana ia membawa kamus bahasa Indonesia pemberian Kakek Kia di hari ulang tahun ketiganya. Ava jadi pintar berbahasa Indonesia yang baku dan gemar menganalisis kosakata baru yang didengarnya, sebelum mencari tahu artinya di kamus. Gaya bicaranya yang baku dianggap aneh dan kadang susah dimengerti oleh P. Setelah Kak Suri memberinya pengertian,
Soalnya kalau lawan bicara kamu nggak mengerti apa yang kamu bicarakan, nggak ada gunanya juga kamu bicara. Benar, kan? (hlm. 67)
Ava mau menggunakan kata "nggak" alih-alih "tidak". Melalui tokoh Ava yang gemar dan pintar berbahasa Indonesia, mungkin kamu berpikir bahwa penulis mencoba menggambarkan kenyataan yang sungguh terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Orang-orang cenderung menganggap bahwa yang bisa berbahasa Inggris itu "pintar", sedangkan bahasa Indonesia disepelekan. Yah, begitulah mentalitas penduduk bekas jajahan negara-negara Eropa. Yang berbau kebarat-baratan dianggap lebih unggul dibandingkan yang berbau asli negeri sendiri.
[...] hanya Kakek Kia yang memujiku kalau aku pintar bahasa Indonesia. Orang lain tidak peduli. Mereka pikir, yang pintar hanya yang berbahasa Inggris.
(hlm. 210)
Mungkin kamu akan menganggap bahwa untuk anak ukuran umur segitu, Ava terlalu pintar. Namun, menarik sekali mengetahui cara berpikirnya yang polos dan sering melompat-lompat tapi menunjukkan kemampuan nalarnya, terlebih ketika menganalisis kosakata bahasa Indonesia. Kamu mungkin akan tergelak.
Aku mau tahu apa hubungannya kata 'penanak' dan 'anak'. Mungkin 'penanak nasi' maksudnya alat untuk membuat nasi beranak. Jadi, kalau nasi dimasukkan ke alat itu, dia bisa beranak-pinak dan jadi banyak. Aku pernah lihat Mama memasukkan sedikit nasi dan air ke dalam penanak nasi, lalu beberapa saat kemudian nasinya jadi banyak sekali. (hlm. 56)
Dari narasi Ava, kamu akan tahu bahwa Kakek Kia beberapa kali mengutuk anaknya, Papa, dengan sebutan "setan jahanam" dan "si bengis bau tengik". Kamu nanti juga akan tahu bahwa ternyata Kakek Kia secara tidak langsung turut bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan Papa terhadap Ava.
Kamu mungkin akan heran, kok Ava bisa tahu bahwa letak mereka berada saat menjelang akhir cerita (di Pantai Kiluan) adalah 317 kilometer dari tempat ia dan P bertemu pertama kali (di Jakarta)?
Di bawah langit yang berbintang, di atas tanah yang menumbuhkan kehangatan, 317 kilometer dari tempat kami pertama bertemu, dia bahagia. (hlm. 236)

-P-

Mungkin, Papa juga peduli. Tapi cuma cukup peduli untuk nggak membiarkan aku mati. Nggak cukup peduli untuk membuat aku bahagia. [...] Nggak ada seorang pun yang cukup sayang aku untuk peduli aku bahagia atau nggak.
(P, hlm. 223)
P lebih tua daripada Ava. Lebih parah daripada Ava, ia tidak tahu siapa mamanya. Lebih parah juga daripada Ava, yang meski dilarang Papa untuk tidur di kamar, bisa tidur di atas koper terbuka berisi pakaian, P tidur di dalam kamar... kardus. Tepatnya kardus lemari es. P tidak sekolah, tapi ia anak yang cerdas dan mandiri. Oleh Mas Alri, ia diajari main gitar. Lucunya, P alias Pepper sering mengaitkan hal apa saja dengan makanan.
"Kamu mau ikut, kan? Ke tempat Nenek Isma? Nenek Isma baik. Nggak ada Papa di sana. yang ada cuma Om Ulo sama Tante Anggi. Ada sepupu aku juga. Sama, ada sapi."
"Aku suka sapi," komentar Pepper. "Apalagi kalau jadi rendang."
"Ada ayam juga," kataku. [...]
"Ayam juga enak," tambah Pepper. "Telurnya juga. Digoreng paling oke."
(hlm. 148)
Oya, nama P menjadi Pepper sejak Ava memanggilnya begitu. Ia terinspirasi oleh botol merica dan garam di atas meja suatu restoran. P merasa kisah Pangeran Kecil (Pangeran Kecil yang itu, karya Antoine de Saint-Exupery) mirip kisah hidupnya, dengan dia sebagai Pangeran Kecil dan papanya yang jahat-tapi bagaimanapun akan aneh hidup tanpa dia-adalah si Mawar yang ia tinggalkan di asteroid asalnya.

-MAMA-

"Mama?" kataku. "Ava tahu Mama sayang Ava. Tapi Mama nggak butuh Ava. Mama sering lupa soal Ava, karena Mama nggak butuh Ava. Tapi Pepper butuh Ava. Makanya, Ava harus pergi sama Pepper."
(hlm. 148)
Barangkali tokoh yang paling membuat kamu sebal bukanlah Papa Ava atau Papa P, melainkan Mama Ava. Kedua papa itu memang sudah jelas "jahat"-nya, tapi Mama Ava... Ia sosok yang menyebalkan karena tahu harus melakukan hal yang benar tapi tidak melakukannya. Ia juga tidak berani melawan Papa, dan yang paling menyesakkan, malah sering tampak melupakan Ava. Pada akhirnya, yang dikatakan Ava dalam pikirannya ini merupakan kebenaran.
Kurasa, sebenarnya, bukan aku yang penurut, tapi Mama. Kuharap Mama tidak terlalu penurut, jadi dia tidak menuruti Papa terus. Papa tidak boleh dituruti. Kata Kakek Kia, tidak boleh menuruti setan. Papa kan setan. (hlm. 79)

-MAS ALRI-

Jadi, semua orang adalah satu orang. Kata Mas Alri, makanya, setiap kamu melukai orang, kamu melukai diri sendiri juga. Dan, setiap kamu membuat orang senang, kamu membuat kamu sendiri senang. (P, hlm. 141)
Mas Alri (dan Kak Suri) barangkali menurutmu adalah sosok yang malah tampil layaknya orang tua bagi P (dan juga Ava). Mas Alri perhatian terhadap kedua anak itu. Namun, ada hal--yang sebaiknya tak kutuliskan di sini, supaya tidak sop iler--yang mungkin akan membuatmu ilfil atau kesal terhadap tokoh Mas Alri. Ah, setidaknya, ada satu ujaran Mas Alri yang sangat membekas di hatiku dan mungkin juga di hatimu. Petikan yang mengingatkanku lagi betapa inginnya aku kembali jadi anak kecil dan betapa kini aku telah jadi orang dewasa yang takut jatuh cinta karena takut patah hati.
Kamu mungkin nggak punya Papa yang baik, seperti kebanyakan orang. Tapi, kamu masih bisa bahagia. Mungkin, kamu nggak perlu Papa yang baik untuk bisa bahagia. [...] Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati.
(Mas Alri, hlm. 197)

ada apa dengan 'lada'?

Lada menjadi penting dalam kisah ini sejak Ava membaptis P menjadi belahan hatinya dengan nama "Pepper" yang mengandung filosofi khas mereka. Ava merasa namanya jika diucapkan mirip dengan "salt". Lantas, "lada itu temannya garam; kalau ada lada, ada garam" dan sebaliknya, meski tak selalu begitu, tapi akan lebih enak jika ada mereka berdua bersama-sama. Nama ini jadi lebih cocok lagi lantaran
[...] kata Papa, aku bikin sakit mata. kalau kena lada juga jadi sakit mata.
(P, hlm. 89)
Sementara itu, frasa "di tanah lada" menggambarkan fase akhir kisah mereka berdua. "Tanah lada" merujuk ke Lampung, tempat rumah Nenek Isma berada.
Dan sekarang, semuanya terasa benar. Mungkin, tanah ini memang tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.
(hlm. 236)

akhir kata

Barangkali kamu berpikir bahwa Ziggy adalah salah satu penulis muda Indonesia yang produktif dan mampu jadi "bunglon". Ya, aku juga berpendapat begitu. Ia bisa menuliskan kisah dari banyak genre dengan relatif bagus. Kisah fantasi, itu salah satu keahliannya. Ia juga bisa menulis genre drama seperti ini, yang mengangkat tema kekerasan terhadap anak dan berfokus pada kondisi mental dan psikis si anak. Ziggy menyamar jadi anak perempuan enam tahun (eh, benar kan, umur Ava enam tahun?); menarasikan isi pikirannya seolah-olah dia sendirilah Ava. Yah, meski Ava sering tampak terlalu pintar untuk anak umur segitu.

Setelah membaca novel ini, mungkin masih ada yang mengganjal di benakmu karena di akhir tiba-tiba cerita menjadi begitu. Ada puntiran cerita yang dari awal mungkin tak terduga bakal jadi twist. Tapi setidaknya kau menikmati dialog-dialog antara Ava dan P, yang begitu polos dan sering kocak.
"Kamu mau dibuat patung?"
"Nggak mau, ah. Patung kan semuanya nggak pakai bagu. Nanti, kamu lihat 'itu'-nya aku, lagi," gerutunya.
"'Itu' itu apa?"
"'Itu'," kata Pepper.
Tapi itu tidak menjelaskan apa-apa dan Mas Alri sudah mulai tertawa keras-keras lagi (MUAHAHAHAHAHA HEKK). Aku akan cari di kamus nanti.
(hlm. 96)
Tapi isi obrolan mereka kadang juga memilukan.
 "[...] kata Mas Alri, nggak ada bintang lagi di Jakarta."
"Masa, sih?"
"Iya, betulan. Katanya, di langit masih ada bintang. Tapi, di langit Jakarta, nggak ada lagi. Makanya, mereka buat sereal bentuk bintang. Supaya, meskipun malam-malam mereka nggak bisa melihat bintang, mereka bisa lihat di pagi hari."
"Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul?"
"Nggak bisa," kata Pepper. "Permohonan mereka nggak bisa terkabul."
"Sereal bintang nggak bisa mengabulkan permohonan, ya?"
"Nggak bisa. Tapi bisa bikin kenyang dan sakit gigi."
"Kasihan, ya?"
"Memang iya."
(hlm. 123)
Dan, mungkin, seperti aku, kamu juga jadi ingin kembali menjadi anak-anak setelah baca novel yang jadi pemenang kedua sayembara DKJ 2014 ini.

 rating saya

identitas buku

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor: Mirna Yulistianti
Ilustrasi sampul & isi: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus, 2015
Tebal: 244 halaman
ISBN: 978-602-03-1896-7
Harga: Rp

2 May 2016

[Resensi KAMBING DAN HUJAN] Bukan Sekadar Cinta Terlarang

Periode baca: 19-21 April 2016

Judul: Kambing & Hujan
Penulis: Mahfud Ikhwan
Editor: Achmad Zaki
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Mei 2015
Tebal: vi + 374 halaman
ISBN: 978-602-291-027-5
Harga: Rp 69.000,00
Rating saya: 4/5

Betapa kehidupan selalu penuh ironi. Rencana pernikahan Sung Bo Ra dan Sung Sun Woo awalnya tak diterima oleh kedua orang tua mereka karena mereka berdua sama (sama-sama bermarga Sung). (Efek belum bisa move on dari drama Korea Reply 1988). Nah ini, hubungan Mif dan Fauzia ditentang karena mereka berbeda (beda kelompok agama).
Sebuah pertemuan tak disengaja di dalam bus membuat Mif dan Fauzia bertukar alamat surel. Mereka memang berasal dari satu desa yang sama, Centong, tapi tak pernah akrab waktu kecil. Bukan hal yang mengherankan, lantaran Mif adalah anak tokoh Masjid Utara, sedangkan Fauzia anak tokoh Masjid Selatan. Saat itu Mif, yang sudah lulus kuliah di Yogya, bekerja sebagai editor buku. Sementara itu, Fauzia kuliah di Surabaya dan sebentar lagi wisuda. Diawali sebuah surel dari Mif, hubungan dan kisah cinta di antara mereka berdua terjalin.

Sejak awal Mif dan Fauzia tahu, tak akan mudah memperjuangkan cinta mereka. Awalnya, Mif dan Fauzia sama-sama mengira bahwa Pak Kandar (bapak Mif) dan Pak Fauzan (bapak Fauzia) adalah dua orang tokoh agama Islam yang berseberangan dan saling membenci. Yang pertama tokoh Pembaharu, yang terakhir tokoh Nahdliyin. Mif dan Fauzia kemudian sepakat untuk pulang ke Centong dan berbicara pada orang tua terkait rencana mereka untuk menikah.

Tak dinyana, dari cerita yang dituturkan Pak Kandar dan Pak Fauzan, dari sebendel surat-surat lama yang disimpan Pak Fauzan, serta cerita dari Pak Anwar belakangan, Mif dan Fauzia masing-masing akhirnya mengetahui sejarah dua kelompok muslim yang berseberangan di Centong sejak tahun 1960-an dan sejarah hubungan Is dan Mat. Mereka akhirnya tahu, bahwa Is dan Mat bukanlah dua orang yang saling membenci. Bukan, mereka adalah dua orang sahabat bagai saudara yang terpaksa berada di posisi yang berseberangan, dan terpaksa tak saling menyapa selama puluhan tahun.

Tahulah kini Mif dan Fauzia, yang harus mereka hadapi bukan sekadar dua orang tua yang telah lama tak saling menyapa, melainkan dua kelompok penduduk Centong: orang Utara dan orang Selatan.

"Dan, apa salahnya berbeda? Tuhan menciptakan makhluk juga berbeda-beda... Dan, mereka memang menjadi dua orang yang berbeda. Tapi, karena apa yang kalian lakukan--atau apa yang kalian tidak lakukan--anak-anak kalian jadi dua orang yang berbeda sekaligus saling ingin melenyapkan." (Anwar, hlm. 338)
***

Bagaimana Awalnya Novel Ini Berada di Apitan Ketiak Saya


Awal November 2015, saya menjadi tamu (yang tidak diundang dan tidak tahu diri) di Kampus Fiksi #14. Acara Kampus Fiksi reguler selalu menghadirkan pemateri yang berkecimpung di dunia tulis-menulis atau nyerempet-nyerempet itu. Angkatan saya (angkatan 12) dulu mendapatkan materi menulis dari Agus Noor (terkutuklah saya yang sampai saat itu belum pernah membaca karya blio). Nah, angkatan ini dihadiri oleh Mahfud Ikhwan, yang membagikan kisah di balik penulisan Kambing & Hujan. Betapa keras perjuangan yang blio lakukan demi lahirnya novel ini.

Sejak itulah, saya bertekad untuk memburu novel Kambing & Hujan. Nahas, pada suatu Selasa di Togamas Affandi (hari diskon 25% untuk novel), saya hanya menemukan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, sedangkan Kambing & Hujan berstatus "in order". Sampai beberapa lama kemudian, statusnya tak berganti. Akhirnya, saya meminjam novel ini dari Mbak Tiwi, seorang perempuan biasa yang tak sebiasa yang diakuinya.

Pada percobaan awal membaca Kambing & Hujan, entah kenapa, saya menyerah ketika baru melahap beberapa puluh halaman. Entah apa yang terjadi pada kemampuan baca saya waktu itu. Mungkin saya hanya belum menemukan keseruan alur atau gaya ceritanya. Sampai berbulan-bulan kemudian, novel ini bak mati (suri) di atas meja saya (untung yang punya tidak terburu memintanya kembali). Akhirnya, saya beranikan diri untuk mulai baca novel ini lagi, karena tak lama lagi saya harus meninggalkan kosan dan Yogya tercinta untuk memulai petualangan baru (saat tulisan ini dipunlikasikan, saya sudah tak di Yogya), sehingga sebagai orang yang agak tahu diri, saya bertekad menyelesaikan dan mengembalikannya secepat mungkin.

Hanyalah Lapisan Epidermis


Wajar jika saya awalnya mengira novel pemenang pertama sayembara menulis novel DKJ 2014 ini hanya berisi perjuangan sepasang manusia memperjuangkan cinta terlarang akibat pertentangan dua keluarga. Wajar jika fantasi saya langsung melayang ke kisah Romeo & Juliet dengan keluarga Capulet vs Montague-nya. (Judul novel ini pun memiliki pola ... & ...) Eh, ternyata, saya terkelabui.

Kisah cinta terlarang Mif & Fauzia hanyalah lapisan epidermis dari organisme novel ini. Atau, ia hanyalah pembuka kaleng yang digunakan oleh penulis untuk membuka kaleng berisi kisah sejarah Centong dan dua kelompok yang berseteru, yang menempatkan Is dan Fauzan sebagai pentolan. Kisah Mif & Fauzia hanya diceritakan sepotong-sepotong, di bagian awal, pertengahan, dan akhir. Sebagian besar novel ini berisi sejarah dan dokumentasi dinamika sosial penduduk Centong. Oleh karena itu, tak adil bila saya menggugat penulis, mengapa Mif dan Fauzia, tiba-tiba memiliki keinginan menikah, padahal hubungan mereka tak banyak dibahas.

Apakah saya menyesal karena terkelabui? Tidak, malah saya menjadikan buku ini salah satu favorit saya. Saya bersyukur karena penulis memfokuskan ceritanya pada sejarah kultural dan sosial Centong yang kompleks, yang nantinya memengaruhi hubungan Mif dan Fauzia. Saya bersyukur karena novel ini tak jadi roman yang sekadar berisi percintaan terlarang dua manusia.

Ketika membaca kalimat demi kalimat yang mengalir lincah dan dapat memerangkap rasa penasaran saya (meski saya sudah tahu sejak awal kalau kisahnya akan berakhir bahagia dan tidak ada teka-teki eksplisit yang minta dipecahkan) akan bagaimana nantinya hubungan Is dan Mat berakhir. Saya tahu kalau mereka akan berdamai, tapi bagaimana caranya? Lalu, apa sebenarnya yang menyebabkan mereka berdua terlihat saling membenci? Apakah sesederhana alasan cinta segitiga Is-Yatun-Mat di masa lalu?

Nah, itulah yang bikin novel ini menarik. Cara penulis memvisualisasikan setiap kejadian di Centong sungguh hidup dan "dekat", membuat saya seolah menjadi saksi mata langsung atas sejarah Centong. Dinamika kehidupan beragama penduduk Centong sangat menarik dikaji. Bagaimana awalnya mereka beragama sekaligus menyembah pohon yang disebut kukun kawin. Bagaimana tradisi orang-orang tegalan kala masa menanam dan panen. Bagaimana desa santri itu, yang awalnya semua kegiatan agama berpusat di satu masjid--yang nantinya disebut Masjid Selatan--setelah kemunculan Cak Ali dan para pengikutnya, kemudian bercabang dua. Kelompok Muhammadiyah di Utara dan NU di Selatan. Bagaimana penulis mengeksplorasi detail kejadian yang berpengaruh terhadap dinamika orang Centong. Bagaimana penulis dengan piawai menyelipkan humor (yang banyak terdapat di bagian kisah masa remaja Is dan kawan-kawan) dalam roman yang kadang bikin terharu ini.

Mengapa Kambing & Hujan?


Lebih menarik lagi ketika penulis menakdirkan Is dan Mat, yang awalnya sahabat, terpaksa berada di pihak yang berseberangan. Itulah awal munculnya istilah "kambing dan hujan", seperti petikan yang saya tulis di bagian awal resensi ini. Meski demikian, saya susah menangkap mengapa kambing dan hujan dijadikan simbol dua hal yang berseberangan, yang susah dipertemukan. Apakah karena kambing tak suka hujan? Lalu, kenapa kover novel ini bergambar sebotol susu kambing (?)?

Ternyata memang kambing tak suka hujan, seperti saya baca di sini. Sementara itu, makna gambar sebotol susu di kovernya, mungkin seperti yang coba diterjemahkan oleh Sri Hadriana di artikel ini. Mahfud menguraikan kisah yang sebenarnya berat dengan bahasa yang encer, sederhana, mudah dicerna, seperti susu yang berwarna putih itu. Namun, sarat nutrisi.

Kambing dan hujan mewakili kelompok NU dan Muhammadiyah di Centong. Oleh karena saya sebelumnya belum tahu bagaimana sejarah munculnya dua kelompok tersebut, apa yang diceritakan oleh novel ini memberi pengetahuan baru bagi saya. Kisah NU dan Muhammadiyah ini mengingatkan saya akan pertentangan Katolik dengan Protestan yang menyebabkan keduanya menjadi agama berbeda. Yang satu kelompok "tua", yang lain kelompok "muda" alias pembaharu.

Meski penulis menggambarkan bahwa kedua kelompok di Centong itu sangat bertentangan, ada elemen-elemen yang secara malu-malu menyatakan bahwa sebenarnya mereka merindukan untuk bersatu. Tampaklah dari narasi di halaman 263-265, yang mengatakan, "Tidak ada enaknya terdapat dua hari raya di desa sekecil Centong. Sungguh. Jika ditanya, semua orang, baik orang Selatan maupun orang Utara, akan bilang tidak suka."

Penulis sendiri menghadirkan elemen yang sama di antara dua kelompok itu, mungkin sebagai simbol bahwa sebenarnya mereka adalah satu: sama-sama umat Muslim. Nama guru Is, yang menggerakkan pembaharuan, bernama Cak Ali. Nama salah satu tokoh yang memengaruhi pemikiran Mat, yang menentang pembaharuan, bernama Ali juga (Ali Qomaerullaeli). Mungkin saya terlalu mengada-ada *sigh*.

Meski kisah ini berpusat pada sosok-sosok lelaki (Is, Mat, Cak Ali dan para pengikutnya, Pak Kamituwo dan kerabatnya), penulis menunjukkan bahwa sekalinya perempuan diberi kesempatan bicara, ia mampu membalik keadaan sedemikian rupa. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika Bu Sri, ibu Mif, menyarankan putranya untuk meminta bantuan Pakde Anwar.
"Pakdemu itu... suaminya... Bude Siti. Bude Siti... tak lain... adalah adik Pak Fauzan. Jadi... anakku... cah ngganteng... Pakde Anwar-mu itu... sekaligus juga... Paklik Anwar-nya Fauzia." (Bu Sri, hlm. 277-78)
"... seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya." (Bu Sri, hlm. 278)
Kisah memang berpusat pada Is dan Mat, serta Mif dan Fauzia, tapi penulis tetap memberi porsi yang pas untuk mengeksplorasi tokoh-tokoh lainnya, seperti Pak Anwar. Barangkali, tokoh favorit saya adalah Pak Anwar. Berkat dia, akhirnya dua orang yang sekian lama tak saling menyapa bisa punya alasan dan keberanian untuk saling berbicara lagi. Pak Anwar adalah simbol pemersatu. Di masa lalu, ia pun tak segan menyeberang dari Utara ke Selatan, karena niat tulusnya untuk mengajar di madrasah. Lalu, sebagai orang Utara, ia menikah dengan Bu Siti, orang Selatan. Namun memang tak mudah jadi orang yang sekaligus Utara dan Selatan seperti Pak Anwar. Ia tak diterima dua-duanya, dan akhirnya minggat ke Brunei Darussalam. Tindakan ini bisa dianggap pengecut, sih. Tapi setidaknya, Pak Anwar menebus kepengecutannya itu dengan mempertemukan kembali Is dan Mat.
***
Tak salah jika novel ini menjadi pemenang pertama sayembara menulis novel DKJ 2014. Dibandingkan novel pemenang kedua dan ketiga, novel ini sangat mencolok unggulnya. Namun, ada teman yang bilang kalau Ulid Tak Ingin ke Malaysia lebih menarik ketimbang Kambing & Hujan. Baiklah, saya tak tahu benarkah itu sebelum membaca Ulid sendiri. Terima kasih, Mbak Tiwi, telah rela hati membiarkan Kambing & Hujan berada di apitan ketiak saya selama berbulan-bulan.

bloggerwidgets