24 May 2017

[Resensi DI TANAH LADA] Lada dan Garam di Tanah Lada

sinopsis

"Yang bikin Mas sedih soal kamu dan dia," kata Mas Alri pelan-pelan, "itu karena kalian berdua tumbuh jadi anak-anak yang skeptis." (hlm. 196)
Apa ekspektasimu ketika membaca novel yang ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama seorang anak kecil? Pasti kamu berharap akan menyaksikan bagaimana pemikiran-pemikiran polos yang otentik. Dalam Di Tanah Lada, Ziggy menghadirkan itu melalui sudut pandang orang pertama Salva, alias Ava.

Setelah Kakek Kia-ayah Papa-meninggal, Papa menjadi kaya karena mendapat uang warisan (dan nantinya menghabiskannya untuk berjudi). Anehnya, dia malah memutuskan mereka sekeluarga pindah ke Rusun Nero, yang kumuh dan katanya angker. Papa sering memaksa Mama untuk ikut dia pergi, sehingga Ava berkeliaran sendiri. Di sanalah Ava bertemu bocah laki-laki yang hobi main gitar. Oleh Ava, bocah bernama P itu dikira pengamen. Dari pertemanannya dengan P, Ava jadi mengenal juga Kak Suri dan Mas Alri yang juga tinggal di Rusun Nero. Keduanya baik terhadap P, dan juga terhadap Ava.

Seperti Ava, P juga mengalami kekerasan oleh papanya, bahkan lebih parah. Meski sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dari orang tua, mereka cukup bahagia dengan persahabatan mereka berdua. Setidaknya mereka saling memiliki.
Bagaimana kelanjutan persahabatan mereka?
Apakah Papa-papa mereka akan berubah sikap atau tidak?
Akankah mereka terus terpenjara di Rusun Nero, dalam bayangan ketiak Papa galak? 
Atau, bisakah mereka keluar dan kabur entah ke mana?

karakter

-AVA-

"Makasih," katanya.
"Terima kasih," aku mengoreksinya. "Kata Kakek Kia, harus bilang begitu. Katanya, 'makasih' itu bukan kata yang bagus."
"Masa, sih?" komentar Si Anak Pengamen. [...] "Biasa aja, kok. Orang-orang semuanya bilang 'makasih'. Memangnya kenapa?"
Aku mengangkat bahu. "Papa juga kadang-kadang bilang 'makasih'. Papa nggak baik. Jadi, pasti itu bukan kata yang baik."
Si Anak Pengamen berpikir-pikir. "Papaku juga suka bilang 'makasih'."
"Papa kamu baik?"
Dia menggeleng.
"Kalau begitu, itu bukan kata yang dipakai orang baik."
Aku terkesan dengan kemampuanku mengambil kesimpulan.
(hlm. 43)
😂😂😂
Ava sangat memuja sosok Kakek Kia. Ke mana-mana ia membawa kamus bahasa Indonesia pemberian Kakek Kia di hari ulang tahun ketiganya. Ava jadi pintar berbahasa Indonesia yang baku dan gemar menganalisis kosakata baru yang didengarnya, sebelum mencari tahu artinya di kamus. Gaya bicaranya yang baku dianggap aneh dan kadang susah dimengerti oleh P. Setelah Kak Suri memberinya pengertian,
Soalnya kalau lawan bicara kamu nggak mengerti apa yang kamu bicarakan, nggak ada gunanya juga kamu bicara. Benar, kan? (hlm. 67)
Ava mau menggunakan kata "nggak" alih-alih "tidak". Melalui tokoh Ava yang gemar dan pintar berbahasa Indonesia, mungkin kamu berpikir bahwa penulis mencoba menggambarkan kenyataan yang sungguh terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Orang-orang cenderung menganggap bahwa yang bisa berbahasa Inggris itu "pintar", sedangkan bahasa Indonesia disepelekan. Yah, begitulah mentalitas penduduk bekas jajahan negara-negara Eropa. Yang berbau kebarat-baratan dianggap lebih unggul dibandingkan yang berbau asli negeri sendiri.
[...] hanya Kakek Kia yang memujiku kalau aku pintar bahasa Indonesia. Orang lain tidak peduli. Mereka pikir, yang pintar hanya yang berbahasa Inggris.
(hlm. 210)
Mungkin kamu akan menganggap bahwa untuk anak ukuran umur segitu, Ava terlalu pintar. Namun, menarik sekali mengetahui cara berpikirnya yang polos dan sering melompat-lompat tapi menunjukkan kemampuan nalarnya, terlebih ketika menganalisis kosakata bahasa Indonesia. Kamu mungkin akan tergelak.
Aku mau tahu apa hubungannya kata 'penanak' dan 'anak'. Mungkin 'penanak nasi' maksudnya alat untuk membuat nasi beranak. Jadi, kalau nasi dimasukkan ke alat itu, dia bisa beranak-pinak dan jadi banyak. Aku pernah lihat Mama memasukkan sedikit nasi dan air ke dalam penanak nasi, lalu beberapa saat kemudian nasinya jadi banyak sekali. (hlm. 56)
Dari narasi Ava, kamu akan tahu bahwa Kakek Kia beberapa kali mengutuk anaknya, Papa, dengan sebutan "setan jahanam" dan "si bengis bau tengik". Kamu nanti juga akan tahu bahwa ternyata Kakek Kia secara tidak langsung turut bertanggung jawab atas kekerasan yang dilakukan Papa terhadap Ava.
Kamu mungkin akan heran, kok Ava bisa tahu bahwa letak mereka berada saat menjelang akhir cerita (di Pantai Kiluan) adalah 317 kilometer dari tempat ia dan P bertemu pertama kali (di Jakarta)?
Di bawah langit yang berbintang, di atas tanah yang menumbuhkan kehangatan, 317 kilometer dari tempat kami pertama bertemu, dia bahagia. (hlm. 236)

-P-

Mungkin, Papa juga peduli. Tapi cuma cukup peduli untuk nggak membiarkan aku mati. Nggak cukup peduli untuk membuat aku bahagia. [...] Nggak ada seorang pun yang cukup sayang aku untuk peduli aku bahagia atau nggak.
(P, hlm. 223)
P lebih tua daripada Ava. Lebih parah daripada Ava, ia tidak tahu siapa mamanya. Lebih parah juga daripada Ava, yang meski dilarang Papa untuk tidur di kamar, bisa tidur di atas koper terbuka berisi pakaian, P tidur di dalam kamar... kardus. Tepatnya kardus lemari es. P tidak sekolah, tapi ia anak yang cerdas dan mandiri. Oleh Mas Alri, ia diajari main gitar. Lucunya, P alias Pepper sering mengaitkan hal apa saja dengan makanan.
"Kamu mau ikut, kan? Ke tempat Nenek Isma? Nenek Isma baik. Nggak ada Papa di sana. yang ada cuma Om Ulo sama Tante Anggi. Ada sepupu aku juga. Sama, ada sapi."
"Aku suka sapi," komentar Pepper. "Apalagi kalau jadi rendang."
"Ada ayam juga," kataku. [...]
"Ayam juga enak," tambah Pepper. "Telurnya juga. Digoreng paling oke."
(hlm. 148)
Oya, nama P menjadi Pepper sejak Ava memanggilnya begitu. Ia terinspirasi oleh botol merica dan garam di atas meja suatu restoran. P merasa kisah Pangeran Kecil (Pangeran Kecil yang itu, karya Antoine de Saint-Exupery) mirip kisah hidupnya, dengan dia sebagai Pangeran Kecil dan papanya yang jahat-tapi bagaimanapun akan aneh hidup tanpa dia-adalah si Mawar yang ia tinggalkan di asteroid asalnya.

-MAMA-

"Mama?" kataku. "Ava tahu Mama sayang Ava. Tapi Mama nggak butuh Ava. Mama sering lupa soal Ava, karena Mama nggak butuh Ava. Tapi Pepper butuh Ava. Makanya, Ava harus pergi sama Pepper."
(hlm. 148)
Barangkali tokoh yang paling membuat kamu sebal bukanlah Papa Ava atau Papa P, melainkan Mama Ava. Kedua papa itu memang sudah jelas "jahat"-nya, tapi Mama Ava... Ia sosok yang menyebalkan karena tahu harus melakukan hal yang benar tapi tidak melakukannya. Ia juga tidak berani melawan Papa, dan yang paling menyesakkan, malah sering tampak melupakan Ava. Pada akhirnya, yang dikatakan Ava dalam pikirannya ini merupakan kebenaran.
Kurasa, sebenarnya, bukan aku yang penurut, tapi Mama. Kuharap Mama tidak terlalu penurut, jadi dia tidak menuruti Papa terus. Papa tidak boleh dituruti. Kata Kakek Kia, tidak boleh menuruti setan. Papa kan setan. (hlm. 79)

-MAS ALRI-

Jadi, semua orang adalah satu orang. Kata Mas Alri, makanya, setiap kamu melukai orang, kamu melukai diri sendiri juga. Dan, setiap kamu membuat orang senang, kamu membuat kamu sendiri senang. (P, hlm. 141)
Mas Alri (dan Kak Suri) barangkali menurutmu adalah sosok yang malah tampil layaknya orang tua bagi P (dan juga Ava). Mas Alri perhatian terhadap kedua anak itu. Namun, ada hal--yang sebaiknya tak kutuliskan di sini, supaya tidak sop iler--yang mungkin akan membuatmu ilfil atau kesal terhadap tokoh Mas Alri. Ah, setidaknya, ada satu ujaran Mas Alri yang sangat membekas di hatiku dan mungkin juga di hatimu. Petikan yang mengingatkanku lagi betapa inginnya aku kembali jadi anak kecil dan betapa kini aku telah jadi orang dewasa yang takut jatuh cinta karena takut patah hati.
Kamu mungkin nggak punya Papa yang baik, seperti kebanyakan orang. Tapi, kamu masih bisa bahagia. Mungkin, kamu nggak perlu Papa yang baik untuk bisa bahagia. [...] Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati.
(Mas Alri, hlm. 197)

ada apa dengan 'lada'?

Lada menjadi penting dalam kisah ini sejak Ava membaptis P menjadi belahan hatinya dengan nama "Pepper" yang mengandung filosofi khas mereka. Ava merasa namanya jika diucapkan mirip dengan "salt". Lantas, "lada itu temannya garam; kalau ada lada, ada garam" dan sebaliknya, meski tak selalu begitu, tapi akan lebih enak jika ada mereka berdua bersama-sama. Nama ini jadi lebih cocok lagi lantaran
[...] kata Papa, aku bikin sakit mata. kalau kena lada juga jadi sakit mata.
(P, hlm. 89)
Sementara itu, frasa "di tanah lada" menggambarkan fase akhir kisah mereka berdua. "Tanah lada" merujuk ke Lampung, tempat rumah Nenek Isma berada.
Dan sekarang, semuanya terasa benar. Mungkin, tanah ini memang tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.
(hlm. 236)

akhir kata

Barangkali kamu berpikir bahwa Ziggy adalah salah satu penulis muda Indonesia yang produktif dan mampu jadi "bunglon". Ya, aku juga berpendapat begitu. Ia bisa menuliskan kisah dari banyak genre dengan relatif bagus. Kisah fantasi, itu salah satu keahliannya. Ia juga bisa menulis genre drama seperti ini, yang mengangkat tema kekerasan terhadap anak dan berfokus pada kondisi mental dan psikis si anak. Ziggy menyamar jadi anak perempuan enam tahun (eh, benar kan, umur Ava enam tahun?); menarasikan isi pikirannya seolah-olah dia sendirilah Ava. Yah, meski Ava sering tampak terlalu pintar untuk anak umur segitu.

Setelah membaca novel ini, mungkin masih ada yang mengganjal di benakmu karena di akhir tiba-tiba cerita menjadi begitu. Ada puntiran cerita yang dari awal mungkin tak terduga bakal jadi twist. Tapi setidaknya kau menikmati dialog-dialog antara Ava dan P, yang begitu polos dan sering kocak.
"Kamu mau dibuat patung?"
"Nggak mau, ah. Patung kan semuanya nggak pakai bagu. Nanti, kamu lihat 'itu'-nya aku, lagi," gerutunya.
"'Itu' itu apa?"
"'Itu'," kata Pepper.
Tapi itu tidak menjelaskan apa-apa dan Mas Alri sudah mulai tertawa keras-keras lagi (MUAHAHAHAHAHA HEKK). Aku akan cari di kamus nanti.
(hlm. 96)
Tapi isi obrolan mereka kadang juga memilukan.
 "[...] kata Mas Alri, nggak ada bintang lagi di Jakarta."
"Masa, sih?"
"Iya, betulan. Katanya, di langit masih ada bintang. Tapi, di langit Jakarta, nggak ada lagi. Makanya, mereka buat sereal bentuk bintang. Supaya, meskipun malam-malam mereka nggak bisa melihat bintang, mereka bisa lihat di pagi hari."
"Kalau begitu, bagaimana caranya permohonan orang Jakarta bisa terkabul?"
"Nggak bisa," kata Pepper. "Permohonan mereka nggak bisa terkabul."
"Sereal bintang nggak bisa mengabulkan permohonan, ya?"
"Nggak bisa. Tapi bisa bikin kenyang dan sakit gigi."
"Kasihan, ya?"
"Memang iya."
(hlm. 123)
Dan, mungkin, seperti aku, kamu juga jadi ingin kembali menjadi anak-anak setelah baca novel yang jadi pemenang kedua sayembara DKJ 2014 ini.

 rating saya

identitas buku

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Editor: Mirna Yulistianti
Ilustrasi sampul & isi: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus, 2015
Tebal: 244 halaman
ISBN: 978-602-03-1896-7
Harga: Rp
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets