Showing posts with label gramedia. Show all posts
Showing posts with label gramedia. Show all posts

22 January 2018

[Resensi PERSONA] Jatuh Cinta Sekaligus Patah Hati


Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Editor: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-2629-0
Harga: Rp 58.000,00

ada apa?

Hidup Azura awalnya bahagia. Keluarga kecilnya, Papa dan Mama dan dia sendiri, adalah keluarga yang harmonis. Namun sejak Azura SD rasanya ada yang berubah dari keharmonisan Papa-Mamanya. Dan Azura tidak pernah tahu apa masalah sebenarnya. Pertengkaran-pertengkaran itu menekan mental Azura hingga ia menemukan ketenangan lewat irisan-irisan yang ia goreskan di pergelangan tangannya. Rasa perih itu anehnya terasa menenangkan dan membantu Azura terlelap.

Di sekolah, Azura tidak pernah punya teman. Sampai SMA pun masih begitu. Ia selalu sendirian, menghabiskan jam istirahat pertama di perpustakaan, di lantai dua gedung sekolahnya, duduk di hadapan jendela perpustakaan untuk menonton permainan sepak bola di lapangan di bawah. Tepatnya yang ia tonton adalah Kak Nara. Cowok yang pernah menolongnya waktu ia terjatuh ke dalam lubang galian di sekolah akibat melamun. Tapi kayaknya Kak Nara tidak pernah mengingatnya lagi, padahal Azura diam-diam menyukai cowok itu.

Semuanya berubah saat Azura kelas XI. Tiba-tiba ada Altair, murid baru yang sekelas dengan Azura, dan sejak pertama kali bertemu cowok itu sudah menganggapnya teman. Sejak itu, mereka selalu berdua ke mana-mana. Lama-lama Azura makin yakin akan perasaannya pada Altair, dan ketika mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba Altair menghilang, meninggalkan Azura bertanya-tanya dan terluka. Di sisi lain, saat itu hubungan Azura dengan Mama membaik, meskipun setelah pertengkaran besar terakhir, Papa pergi dari rumah dan tak kembali.

Tahun 2010. Azura telah jadi mahasiswa, dan untuk pertama kalinya dia punya teman perempuan. Yara namanya. Mereka jadi amat dekat, dan ketika Azura main ke rumah Yara, dia bertemu dengan abangnya, yang ternyata adalah… Kak Nara. Kak Nara yang sudah jadi mahasiswa kedokteran. Yara memberinya keluarga baru, saat ia jarang berinteraksi dengan Mamanya sendiri. Azura menjalani masa-masa bahagia bersama keluarga barunya: Yara, Ibu, Ayah, Bara, dan Kak Nara. Namun tiba-tiba Altair muncul kembali, menghadirkan kembali gempa dalam hidupnya yang telah cukup damai.

sama-sama tentang penyakit mental

Tarik napas dulu.
Fiuh.

Meski aku udah tahu gimana akhirnya (sial, adikku yang udah baca ini duluan ngasih sopiler 😥 tapi aku tetap nikmatin bacanya, sih), tetap saja rasanya nyesek. Really depressing.

Oke, begini. Ini adalah novel young adult kedua terbitan GPU yang kubaca; yang pertama adalah Auntuk Amanda, dan sama seperti yang pertama, Persona juga mengangkat isu penyakit mental dengan tokoh utama anak SMA (yang lalu jadi mahasiswa). Bedanya, tokoh Amanda dalam A untuk Amanda menderita depresi karena ia memiliki hidup yang terlalu sempurna. Ia juga sadar bahwa dia menderita depresi, sifatnya yang sangat rasional membantu di sini. Nuansanya juga relatif cerah ketimbang Persona, berkat humor-humor dalam dialog dan pemikiran Amanda.

Namun, dalam Persona tak ada (kalaupun ada, pasti sangat sangat kecil) celah untuk berhumor. Kenapa? Karena dari awal nuansanya sudah kelam. Beda dengan Amanda, Azura (eh, namanya sama-sama berawalan huruf A) diduga menderita depresi karena memang hidupnya menderita. Orang tuanya nggak akur, terancam bercerai; nggak punya teman; kisah cinta yang nol besar; eh, begitu melewati masa-masa menyenangkan dengan Altair, cowok itu menghilang tiba-tiba. Beda dengan Amanda yang sadar bahwa dia depresi dan sedang menjalani serangkaian terapi, Azura tidak sadar kalau dia mengalami penyakit mental, maka dia tidak mencari pertolongan medis, dan maka kita cuma bisa menduga kalau dia depresi. Itulah kenapa, kadar depresif kisah ini lebih nyesek ketimbang A untuk Amanda.

Sudah saatnya kita melek perihal penyakit mental dan peka terhadap, pertama, diri kita sendiri, dan kedua, orang-orang di sekitar. Seperti yang baru-baru ini terjadi, Jonghyun Shinee bunuh diri akibat depresi yang sudah tak tertahankan lagi. Salah satu cara untuk bisa lebih peka adalah dengan membaca literatur. Tak melulu literatur ilmiah dan nonfiksi terkait, tapi bisa juga lewat buku fiksi, yang bisa jadi tak kalah efektifnya dalam memberi pemahaman terkait penyakit mental karena dibawakan dengan cara yang lebih menyenangkan. Di dalam novel Persona ini, selain penyakit mental, tema lain yang jadi hidangan utama adalah broken home dan persahabatan. Ketiganya diramu dengan baik, dengan saling keterkaitan yang kental.

ada siapa saja?

Sebagai tokoh utama novel ini dan sang narator dengan sudut pandang orang pertama, Azura jadi sangat saya kenal. Terutama lewat emosi-emosinya yang meluap-luap dan sering tak tersampaikan. Rasanya aku ingin memeluknya dan bilang, “Tak apa-apa, kamu tak salah kalau kamu jadi begini. Aku mengerti. Tapi mari kita pikirkan lagi, apakah kau ingin tetap seperti ini?”

Dengan mudah para pembaca mungkin akan jatuh kasihan terhadap tokoh ini, tapi aku tidak kasihan, aku hanya mengerti dan entah bagaimana, jadi merasa menyayangi tokoh Azura. Tapi memang tidak seperti tokoh Amanda yang kuat dan mandiri, Azura ini tokoh yang sangat tergantung dengan orang lain. Maka, ketika tak ada orang lain yang bisa ia jadikan sandaran—orang tuanya tak memberinya kasih sayang yang cukup dan ia tak punya teman—ia hanya punya dirinya sendiri, tumpukan komik Jepang, dan buku harian yang ia tulisi kadang-kadang. Maka, wajar setelah kemunculan Altair, ia jadi begitu bergantung pada cowok itu.

Sementara itu, tokoh Altair yang blasteran Jepang itu bak tokoh cowok idaman di komik-komik. Ia setia sekali menemani Azura dan jadi sandarannya, siap menolong kapan pun Azura butuh, bahkan ia juga tetap mendukung Azura untuk mendekati Kak Nara. Dan ah, betapa romantisnya adegan Altair menunjukkan pada Azura tiga bintang yang menyusun segitiga musim panas di langit malam itu setelah mereka menonton Festival Isen Mulang, festival khas kota Palangka Raya. Namun karena kita mendengarkan cerita dari sudut pandang orang pertama Azura, kita jadi kurang mengenal Altair, selain masa lalu suramnya yang hampir mirip dengan kisah Azura: keluarga yang awalnya bahagia, lalu orang tua yang bertengkar terus, sampai akhirnya bercerai. Bahkan Altair pernah mencoba bunuh diri setelah perceraian kedua orang tuanya, tapi berhasil diselamatkan. Sayang sekali, kita tidak tahu bagaimana Altair melewati itu semua sampai akhirnya pindah ke sekolah yang sama dengan Azura. Namun, jangan kesal dulu. Memang harus seperti itu—kita tidak tahu banyak tentang Altair—karena ini tuntutan twist cerita.

Kalau Altair adalah malaikat yang diberikan Tuhan pada Azura saat SMA, maka Yara adalah malaikat yang diberikan pada Azura sejak awal kuliah sampai sekarang. Yara, yang bawel, spontan, penuh perhatian, cocok sekali dengan kepribadian Azura. Sungguh, di sini aku membaca kisah persahabatan sejati. Bahkan Yara memberikan keluarga baru bagi Azura, suatu berkah yang tak terkira berharganya. Keluarga yang antitesis dari keluarga asli Azura. Sementara itu, belakangan aku tahu bahwa dulunya Kak Nara bak malaikat rahasia, yang ternyata memperhatikan Azura tapi cewek itu tidak sadar. Nah, di masa kini, Kak Nara menjelma salah satu malaikat bagi Azura setelah Altair menghilang. Dan yah, aku tak tahu banyak tentang diri Kak Nara karena bintang utamanya memang Azura.

Azura memang menjalani masa bahagia bersama keluarga barunya, tapi keluarga lamanya tetaplah keluarga yang rusak. Membaca sosok orang tua Azura, aku jadi teringat sosok orang tua Salva di novel Di Tanah Lada. Kalau sang Papa memang jelas-jelas bajingan, sang Mama adalah sosok yang juga bajingan tapi tidak jelas-jelas. Setelah kepergian Papa, dengan dalih menghidupi keluarga, Mama bekerja terus sampai tak punya waktu untuk Azura. Awalnya Azura memahami ini: Papa menjadi sewenang-wenang karena menganggap Mama dan Azura tak bisa hidup tanpa uangnya; maka sebagai bentuk pemberontakan dan pembuktian, Mama bekerja sendiri. Namun belakangan, kita tahu bahwa Mama bekerja tidak dengan cara yang benar. Ia cuma keluar dari mulut singa untuk masuk ke mulut singa lainnya. Lingkaran setan, ya. Dan tanpa Mama sadari, kelakuannya ini makin menghancurkan Azura yang sudah hancur.

plot dan twist dari twist

Plot maju dan mundur yang diusung cerita ini terbagi jadi dua bagian: Keping Pertama menceritakan hidup Azura sejak awal kemunculan Altair sampai menghilangnya cowok itu dan Keping Kedua menceritakan hidup Azura setelahnya, sejak awal kuliah, bertemu Yara, sampai ia mengetahui rahasia tentang dirinya sendiri yang pengungkapannya dibantu oleh keluarga Yara. Penggunaan gaya alur ini sudah pas menurutku. Bagian flashback menyediakan cukup amunisi bagi kita untuk mengerti apa yang dialami Azura di masa lalu. Bagian alur majunya mengajak kita terus mengikuti perkembangan kisah Azura.

Oya, meski banyak adegan bagian Keping Pertama terjadi di sekolah, anehnya, pihak sekolah sama sekali (tak ditunjukkan) menunjukkan perhatian terhadap “keanehan” Azura. Apakah se-menutup-mata itukah pihak sekolah? Atau memang penulisnya hanya tidak merasa perlu mengeksplorasi hal ini.

Bagiku, twist-nya sudah bukan lagi jadi twist, ingat, kan, adikku membocorkannya padaku. Tapi meski belum dikasih bocoran, kayaknya aku bisa nebak karena menurutku penulisnya dengan baik hati memberikan petunjuk-petunjuk yang cukup memadai. Di sini pemilihan sudut pandang orang pertama Azura mendukung suksesnya twist yang ini. Tapi, tapi, yang bikin aku terguncang justru bagian ending, yang merupakan twist dari twist sebelumnya. Kampret sekali! Mungkinkah, mungkinkah? Tapi, kok bisa-bisanya ada bukti fisik? Aku, yang mencoba mencari penjelasan logis, akhirnya cuma bisa mereka-reka penjelasan yang berangkat dari penuturan Azura yang kadang unreliable. Jangan-jangan dia sendiri yang secara tidak sadar telah membuat bukti fisik itu untuk dirinya sendiri, dan lalu dia tidak ingat sama sekali? Entahlah. Aaaarrrggh!!

mengapa rasi bintang dan “persona”?

Mengapa sampul novel ini bergambarkan rasi bintang? Dan kenapa judulnya “Persona”?

Rasi bintang memang secara gamblang cuma muncul sekali, yaitu saat Altair menjelaskan tentang segitiga musim panas pada Azura. Tapi sesungguhnya lewat Altair, yang namanya sama dengan bintang paling terang di rasi Aquila itu, bintang selalu hadir dalam kisah ini. Bintang yang menerangi kehidupan Azura yang suram. Altair sendiri berasal dari kata Arab yang berarti “elang terbang”. Elang terbang yang lalu menclok ke kehidupan Azura yang bak tebing tinggi terjal tersembunyi. Tapi, yah, namanya elang, dia pasti akan terbang lagi entah ke mana. Gambar sampul novel ini pas sekali, kan.
Rasi Aquila
Sumber di sini.
Kemudian erat kaitannya dengan Festival Tanabata yang menjadi favorit Altair, festival tersebut berasal dari Festival Qixi dari Cina. Tujuan festival ini untuk merayakan bertemunya dewi Orihime (diwakili oleh bintang Vega) dan dewa Hikoboshi (diwakili oleh bintang Altair), sepasang kekasih yang terpisahkan oleh Bima Sakti dan hanya bisa bertemu setahun sekali (sumber di sini). Cocok sekali dengan Altair dan Azura yang “terpisahkan” tapi sayangnya tak mesti bertemu setahun sekali.
Orihime dan Hikoboshi yang terpisahkan oleh Bima Sakti.
Sumber di sini.
Pemilihan judul novel ini sendiri menurutku memikat sekali. “Persona” merupakan turunan dari bahasa Latin yang artinya topeng atau karakter yang dimainkan oleh aktor. Dalam bidang analisis sastra, “persona” sering dikaitkan dengan narator bersudut pandang orang pertama (sumber di sini). Kalau di novel ini berarti Azura adalah “persona” dari sang penulis. Kalau dalam bidang psikologi Jungian,
“Persona pada dasarnya tak nyata. Ia merupakan kompromi antara individu dengan masyarakat…., apa yang seseorang harus ‘kelihatan seperti’. Persona adalah suatu kemiripan, realita dua dimensi….”
(kuterjemahkan bebas dari Two Essays on Analytical Psychology karya Carl G. Jung, hlm. 165, terbitan Bailliere, Tindall and Cox, London, 1928. Akses saya dapat di sini). 

Gampangnya, persona ini adalah topeng yang ditampilkan seseorang pada dunia. Atau topeng yang seseorang kenakan pada orang lain. Jung juga menyebut persona sebagai “diri yang tak sadar”. Dalam novel ini, barangkali “diri tak sadar” Azura telah terlalu jauh mengambil alih dirinya yang sebenarnya. (Maaf, aku tak bisa menuliskan lebih banyak lagi tentang ini karena pasti akan jadi sopiler.)

pada akhirnya

Ini pertama kalinya aku membaca karya Fakhrisina Amalia, dan ini adalah perkenalan yang sangat baik. Setelah A untuk Amanda, novel ini jadi YA lokal terbitan GPU kedua yang jadi favoritku. Ide yang menarik dan masih jarang dieksekusi dalam literatur YA dalam negeri dipadukan dengan eksekusi yang baik. Sungguh memikat dan mematahkan hatiku, persis seperti yang ditulis oleh penulis di bagian Ucapan Terima Kasih:
Aku menulis Persona untuk mereka yang jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan.
(Fakhrisina Amalia)

27 August 2017

[Resensi SILENCE] tuhan, mengapa kau diam saja?



Sudah dua puluh tahun berlalu sejak penganiayaan ini dimulai; [...] dan di hadapan pengorbanan dahsyat yang tidak kenal kasihan ini, Tuhan tetap hening dan bungkam.

(hlm. 100-101)

Kristianitas telah disebarkan benihnya di Jepang pertama kali oleh Francis Xavier tahun 1549. Selama masa pemerintahan tiga daimyo yang berusaha mempersatukan Jepang (Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu), para misionaris memiliki posisi yang bagus di istana Bakufu. Namun kemudian, sejak tahun 1587 terjadilah penganiayaan terhadap orang Kristen. Berbagai jenis penganiayaan ditimpakan kepada mereka agar mengingkari iman. Dipaksa menginjak fumie, menjalani ana-tsurushi (hukum gantung di dalam lubang, hlm. 14), dibenamkan dalam air mendidih (hlm. 27), dan direndam di laut (hlm. 44). Berbagai hukuman kreatif bikinan Jepang ini mengubah persepsi saya tentang seperti apa hukuman yang menyakitkan. Hukuman yang berdarah-darah tidak lantas lebih menyakitkan daripada hukuman seperti ana-tsurushi yang mematikan perlahan-lahan.
Menginjak fumie.
Sumber di sini.
Pukulan terdahsyat yang diterima oleh pihak gereja di masa itu sejak penyiksaan terhadap para misionaris dan orang Kristen di Jepang barangkali adalah berita tentang Christovao Ferreira, misionaris pertama yang mengingkari imannya (hlm. 15). Mengejutkan karena Ferreira sudah tiga puluh tiga tahun tinggal di Jepang, memiliki jabatan tinggi sebagai provincial; sosok yang sangat dihormati oleh para misionaris yang lain dan kelihatannya tidak mungkin mengingkari imannya.

Beberapa tahun setelah Ferreira dikabarkan mengingkari imannya, tiga pastor berkebangsaan Portugis berniat memasuki Jepang secara diam-diam dan berangkat pada bulan Maret 1638. Secara diam-diam karena semenjak meletusnya Pemberontakan Shimabara pada Januari 1638, Jepang memutuskan semua hubungan dagang dan persahabatan dengan Portugis. Mereka bertiga, Fransisco Garrpe, Juan de Santa Marta, dan Sebastian Rodrigues, dulunya adalah murid Ferreira di seminari. Mereka ingin menyelidiki apakah guru mereka itu benar-benar telah mengingkari imannya. Di perjalanan, Marta terjangkit malaria dan tak kunjung pulih, sehingga ia ditinggal di Macao. Hanya Rodrigues dan Garrpe yang melanjutkan perjalanan ke Jepang dengan bantuan Kichijiro, seorang Jepang yang mereka temukan di Macao.

Mereka sudah tahu bahwa ini adalah misi yang berbahaya. Sejak di perjalanan pun mereka telah mengalami berbagai ancaman, terutama keganasan alam. Sesampai di Jepang, bahaya yang lebih besar menghantui mereka. Mereka sudah tahu tapi tetap menjemput bahaya itu. Dua pastor terakhir di Jepang…, akankah mereka berhasil bertahan hidup?

[...] seorang pastor tidak perlu mati sebagai martir; dia harus mempertahankan hidupnya, supaya api iman yang telah dinyalakannya tidak mati sepenuhnya pada saat gereja mengalami penganiayaan.

(hlm. 126)

Tuhan, mengapa engkau diam saja?


Tuhan, mengapa engkau diam saja? Mengapa engkau selalu membisu?

(Rodrigues, hlm. 154)
 
Salah satu elemen yang menjadi daya tarik kuat novel ini adalah karakter-karakternya. Saya mengenal Rodrigues pertama kali lewat sudut pandang orang pertamanya dalam surat yang ia tulis, yaitu Bab 1 sampai Bab 4. Di bab-bab selanjutnya, saya mengikuti perjalanan Rodrigues dilihat dari sudut pandang orang ketiga. Sepanjang novel, Rodrigues mengajak saya menyelami pemikiran-pemikirannya seputar Kristianitas. Shusaku Endo berhasil menggambarkan dengan baik pergolakan batinnya hingga saya sering ikut-ikutan emosional.

Saya sangat bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika ia dan Garrpe terkungkung dalam pondok di atas gunung di Desa Tomogi. Suasana hari berhujan yang muram dan ancaman akan datangnya pengawal sewaktu-waktu untuk menggerebek desa, membuat tegang kondisi psikologis mereka (hlm. 65). Rodrigues ingin pergi keluar dan mencari orang-orang Kristen lain serta ke Nagasaki untuk mencari info tentang Ferreira, tapi ia juga ingin tetap berada di dalam pondok kecil itu—di dalam zona nyamannya.

Di pondok kecil kami, aku merasa akan aman selamanya. Entah kenapa. Sungguh perasaan yang aneh.

(hlm. 71)

Saya tahu karena saya pernah mengalami itu, dan bukan cuma sekali.
Di masa-masa persembunyian dalam pondok itu, Rodrigues merasa tak berguna sebagai pastor.

Dalam beberapa hal, kami para pastor ini bisa dikatakan adalah sekelompok orang yang menyedihkan. Lahir ke dunia untuk melayani manusia, tak ada yang lebih sendirian dan kesepian daripada pastor yang tak bisa menunaikan tugasnya.

(hlm. 47)

Justru saat di penjara di luar kota Nagasaki-lah Rodrigues baru benar-benar merasa berguna sebagai pastor. Para pengawal mengizinkannya mengunjungi para tawanan lain (orang-orang Kristen Jepang) dan menguatkan iman mereka. Selama di penjara itu, anehnya ia merasa damai. Anehnya lagi, para pengawal memperlakukannya dengan baik, jauh lebih baik ketimbang bayangannya semula.

Selain itu, siksaan mental dialami Rodrigues saat ia menyaksikan nyawa orang-orang Kristen Jepang melayang. Di penjara itu, para tawanan, kecuali Rodrigues, dipaksa menginjak fumie. Ketika mereka menolak, salah satu dari mereka ditebas dengan pedang. Mau tak mau, ia merasa bahwa kematian mereka itu karena dia juga. Kemudian Rodrigues menjadi ragu. Dia bertahan hidup memang karena dia harus bertahan hidup demi Kristianitas Jepang yang masih amat muda, atau itu karena kepengecutannya menghadapi kematian?

Selama perjalanan menuju penjara, setelah ia tertangkap di perbukitan akibat campur-tangan Kichijiro, Rodrigues merasakan seperti mengalami apa yang dialami Yesus sebelum disalibkan. Ia diseret di jalanan desa dan orang-orang desa mencemoohnya. Ia dikhianati Kichijiro seperti Yesus dikhianati Yudas.

Ngomong-ngomong tentang Yudas, pemikiran kritis Rodrigues sangat menarik dan bikin saya ikutan mikir. Yesus pasti sudah tahu kalau Yudas akan mengkhianatinya, tapi kenapa dia tetap memilih Yudas menjadi muridnya dan membiarkan Yudas melakukan kejahatan itu?
Konflik batin Rodrigues yang menjadi inti cerita adalah keheningan Tuhan dan pertarungannya dengan kristianitas di dalam jiwanya sendiri. Keheningan Tuhan itu membuat Rodrigues mempertanyakan, bagaimana jika Tuhan ternyata tidak ada? (hlm. 120)

Kichijiro, gambaran kemanusiaan

Rodrigues merasa beberapa bagian dari pengalamannya itu mirip dengan yang telah dialami Yesus. Sementara itu, mengenal tokoh Kichijiro, saya seperti bercermin. Kichijiro adalah orang yang licik, pengecut, penjilat. Ia menjadi semacam anomali di tengah anggapan para misionaris bahwa Jepang adalah “negeri yang orang-orangnya sama sekali tidak takut mati” (hlm. 49). Awalnya, kepada Garrpe dan Rodrigues dia tidak mengaku bahwa dia seorang Kristen. Kemudian saya membaca bahwa di sepanjang novel ini dia sudah beberapa kali menyangkal imannya (barangkali) karena ia takut dihukum.

Ironis ketika kedua pastor itu mau tak mau mempercayakan diri kepada Kichijiro, yang karakternya bisa dianggap seperti Yudas.

Kalau dipikir-pikir, Tuhan kita sendiri memercayakan nasibnya pada orang-orang yang tidak layak dipercaya.

(Rodrigues, hlm. 50)

Kichijiro adalah manusia biasa, yang lemah dan takut akan bayangan penyiksaan. Kalau jadi dia, saya juga akan memilih menginjak fumie daripada dihukum. Lagi pula, menurut saya, hal-hal semacam meludahi fumie itu tidak masalah, sih, dilakukan. Itu kan hanya gambar. Keimanan saya (semoga) jauh lebih dalam daripada hanya sekadar memuja gambar timbul. Namun ternyata tidak sesederhana itu, sih. Menginjak fumie ternyata melibatkan pertarungan emosi yang dahsyat.

Tuhan ingin saya berlaku seperti orang yang tegar, padahal dia menciptakan saya sebagai orang lemah. Bukankah itu tidak masuk akal?

(Kichijiro, hlm. 185)

Seperti Rodrigues yang tidak bisa membenci Kichijiro meski karakternya demikian, Tuhan juga tidak bisa membenci manusia-manusia yang dikasihinya meski iman mereka melempem, bahkan sampai menyangkal-Nya. Setelah menyangkal imannya dan mengkhianati Rodrigues, Kichijiro tetap merasa bersalah, hingga ia senantiasa mengikuti Rodrigues sampai ke penjara dan terus memohon pengampunannya.

Andai aku penganut Kristen biasa, bukan pastor, apakah aku juga akan kabur seperti dia (Kichijiro)? Mungkin yang membuatku bertahan sekarang ini hanyalah harga diriku dan perasaan kewajiban sebagai pastor.

(Rodrigues, hlm. 111)

Ferreira, sisi yang lain

Saat akhirnya bisa bertemu Ferreira, yang kini berpenampilan bak orang Jepang dan tinggal di kuil, Rodrigues untuk pertama kali mendengarkan sendiri bagaimana pendapatnya tentang misi mengkristenkan orang Jepang itu. Dia berpikir bahwa Tuhan yang disembah orang Kristen Jepang itu bukanlah Tuhan orang Kristen melainkan Tuhan rekaan mereka sendiri. Deus dicampuradukkan dengan Dainichi (Matahari Agung).

Ada sesuatu di negeri ini yang sepenuhnya menghambat pertumbuhan Kristianitas. Kristianitas yang mereka percayai itu bagaikan kerangka kupu-kupu yang terjerat di jaring laba-laba: hanya bentuk luarnya yang mereka ambil. Darah dan dagingnya sudah lenyap.

(hlm. 241)

Ferreira diperintahkan untuk membuat Rodrigues menyangkal imannya. Betapa ironis, padahal dulu Ferreira adalah gurunya di seminari. Rodrigues pun akhirnya mendengar dari mulut Ferreira sendiri, apa alasan sebenarnya dia dulu mengingkari keyakinannya. Kini saat Rodrigues juga mengalami hal serupa, apakah ia akan mengingkari imannya juga?

Sebelum bertemu langsung dengan Ferreira dan mendengar argumennya, saya dan seluruh dunia misionaris bersikap sinis terhadapnya. Ih, masa pemimpin misi malah mengingkari keyakinannya? Namun setelah membaca argumen Ferreira, saya bisa menerima keputusannya.

Kristus sudah pasti akan menyangkal keyakinannya untuk menolong manusia.

(Ferreira, hlm. 267)

Benih tanaman dan rawa-rawa; perempuan asing dan laki-laki Jepang

Pada pertemuan pertama Rodrigues dengan Inoue, gubernur Chikugoyang dari Valignano telah ia dengar kekejamannya terhadap orang Kristen, ia terlibat perdebatan tentang cocok-tidaknya agama Kristen di Jepang. Mereka berdua menggunakan perumpamaan bahwa kristianitas di Jepang seperti benih yang disebar di rawa-rawa.

Kalau daun-daunnya tidak tumbuh dan bunga-bunganya tidak berkembang, itu hanya karena pohonnya tidak diberi pupuk.

(Rodrigues, hlm. 179)

Negeri ini ibarat rawa-rawa. Suatu hari nanti kau akan menyadarinya sendiri. Dan rawa-rawa ini keadaannya lebih parah daripada yang bisa kaubayangkan. Setiap kali kau menanam tunas muda di rawa-rawa ini, akar-akarnya mulai membusuk, daun-daunnya menguning dan layu. Dan kita telah menanam tunas muda Kristianitas di rawa-rawa ini.

(Ferreira, hlm. 234)

Rawa-rawa Jepang yang dimaksud di dalam novel ini bisa berarti rawa-rawa Jepang itu sendiri (hlm. 20) atau, secara lebih personal dan universal sekaligus, merupakan rawa-rawa yang bisa muncul di dalam diri tiap pemeluk agama apa pun.

Pada pertemuan kedua, Inoue mengumpamakan hubungan Jepang dengan agama Kristen sebagai hubungan lelaki dan perempuan (hlm. 196-199), yang membuat saya mengernyit. Inoue terdengar sangat seksis. Hmm, mungkin memang di zaman itu, pendapat seperti ini terdengar sangat wajar.

Satu, kasih sayang yang dipaksakan oleh perempuan buruk rupa merupakan beban tak tertahankan bagi lelaki. Dua, perempuan yang mandul tidak seharusnya menjadi istri.

(Inoue, hlm. 199)
***
Di bagian "kata pengantar" novel ini, yang ditulis oleh William Johnston, saya mendapati kalimat berikut,

Kedua pastor asing yang melakukan pengingkaran itu (Ferreira dan Rodrigues) segera saja dianggap melambangkan Kristianitas yang gagal di Jepang karena bersikukuh mempertahankan ke-Barat-annya. 

(hlm. 18)

Saat saya merenungkannya, "ke-Barat-an” ini, misalnya, mungkin tampak dari bagaimana orang Kristen Jepang di masa itu berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani yang masih menggunakan bahasa Latin. Yah, meskipun mereka juga berdoa dalam bahasa Jepang.

Kemudian, salah satu yang bikin saya kesal adalah ketika si penerjemah mengatakan hal paradoksal ini pada Rodrigues,

Sudah berapa kali kukatakan pada kalian (para misionaris), orang-orang Jepang-lah yang harus mati demi impian egois kalian? Sudah waktunya kalian membiarkan kami hidup tenang.

(hlm. 233)
 
Satu, orang-orang Jepang tidak harus mati demi impian para misionaris jika para pejabat Jepang sendiri tidak membunuhi mereka. Dan mereka menyalahkan para misionaris karena itu? Dua, menurut si penerjemah (dan mungkin mewakili pendapat para pejabat Jepang), impian para misionaris itu egois. Padahal, pejabat Jepang sendiri juga egois. Lihatlah bagaimana mereka menyiksa rakyatnya dengan pajak yang sangat berat, belum lagi keegoisan mereka dalam menghakimi rakyatnya atas keyakinan yang mereka pilih. Lha, egois teriak egois. Tapi, bagaimana kalau itu merupakan pertahanan diri Jepang terhadap pengaruh asing? Lagi pula sampai sekarang pun, Jepang modern tetap bisa mempertahankan budaya aslinya.

Ditulis dengan alur maju, novel sejarah Jepang ini mengajak saya mendalami batin Rodrigues, memaklumi karakter Kichijiro, dan menerima keputusan Ferreira. Gejolak demi gejolak emosi terus membayangi sepanjang perjalanan Rodrigues menemukan jawaban atas kegelisahan batinnya; atas rawa-rawa dalam dirinya. Bersama Rodrigues, saya bertemu pencerahan.[]

Identitas buku

Judul: Silence (Hening)
Penulis: Shusaku Endo
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain dan ilustrasi cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, Januari 2017
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-3717-3

bloggerwidgets