Showing posts with label terjemahan. Show all posts
Showing posts with label terjemahan. Show all posts

8 May 2018

[BLOGTOUR "Geekerella"] Ledakkan Bintang-bintang!


Sumber gambar: Penerbit Haru Online Shop
“Kalau kau tidak bisa memenangkan pertarungan, pakai senjata yang lebih besar.”
(Episode 14, Lebih Baik di Ruang Angkasa daripada Tidak Selamanya) – hlm. 87
Elle menjadi semacam asisten rumah tangga di rumahnya sendiri, sejak ayahnya meninggal. Catherine, ibu tirinya, selalu punya alasan untuk menyalahkannya, menyuruh-nyuruhnya melakukan segala pekerjaan rumah tangga. Seolah Elle tidak sama-sama (atau malah lebih) menderita saja. Sementara itu, sepasang saudari tirinya yang adalah vloggers kecantikan, Chloe dan Cal, dengan senang hati menyiksa batinnya dengan olokan-olokan yang mereka lakukan bersama geng anak populernya. Selama liburan musim panas, Elle menghabiskan waktunya mengurus urusan domestik (sementara Catherine bekerja—ia seorang perencana pernikahan, dan si Kembar kursus tenis) dan bekerja di truk makanan Magic Pumpkin—truk makanan sehat—bersama Sage, yang juga adalah putri sang pemilik.

Sementara Elle tidak memiliki ingatan kuat tentang ibunya, yang telah meninggal saat ia masih kecil, tidak begitu dengan ayahnya. Baginya, ayahnya adalah sosok pahlawan. Orang yang mengenalkan serial fiksi-ilmiah klasik Starfield padanya. Elle selalu menonton itu bersama ayahnya, dan sejak itu Elle telah menjadi seorang penggemar fanatik. Ayahnya jugalah yang memprakarsai ExcelsiCon, sebuah konvensi penggemar film fiksi-ilmiah. Setelah ayahnya meninggal, Elle tak pernah lagi pergi ke konvensi itu.

Elle kecewa berat ketika mengetahui siapa pemeran Carmindor dalam Starfield versi remake. Darien Freeman. Aktor opera sabun yang digemari cewek-cewek ABG. Bagi Elle—dan bagi para fans fanatik lain—sungguh, Darien tidak layak memerankan Carmindor. Sebagai pemilik blog RebelGunner (isinya tentang Starfield—oh, ayolah, apalagi yang begitu dipahami oleh Elle), ia menuliskan kritikan tentang pemilihan pemain Starfield versi remake itu. Dan, bum! Terkejut-kejutlah ia ketika mendapati berkat artikel itu, blognya jadi sangat terkenal!

Elle tak pernah punya teman sungguhan. Oleh karena itulah, karakter-karakter dalam Starfield begitu berharga baginya, karena merekalah teman-temannya. Maka, ketika ada seseorang yang mengaku Carmindor menghubungi nomornya, yang adalah nomor peninggalan ayahnya, dan mereka saling berkirim pesan terus-menerus, Elle akhirnya merasa punya teman sungguhan.

Maka setelah menemukan kostum cosplay Carmindor dan Putri Amara milik orang tuanya di loteng, Elle memutuskan untuk memakai kostum itu dalam kontes kostum di ExcelsiCon. Malam itu, berhasilkah ia tampil di dalam kostum orang tuanya dan menemukan dirinya sendiri?

*
Aku punya peran untuk kumainkan, aku punya karier, tapi semua itu di luar kendaliku. Aku terjebak di kursi pilot dalam pesawat bernama hidupku, dan tanganku terikat. (Darien, hlm. 160)
Darien Freeman adalah aktor muda yang terkenal setelah membintangi Seaside Cove dan punya banyak penggemar cewek. Apakah dia bahagia? Tidak terlalu, ternyata.

Hidupnya serasa bukan miliknya. Segalanya telah diatur, terlebih oleh ayahnya sekaligus manajernya, Mark, yang seolah menjadikan Darien sebagai mesin penghasil uang. Darien kehilangan sosok ayahnya yang dulu, sebelum ketenaran itu membayanginya ke mana pun ia pergi. Tak hanya itu, ketenaran juga telah membuatnya kehilangan sahabatnya, Brian.
Mungkin itulah yang ketenaran berikan. Ketenaran merusak apa pun di sekitarmu sampai sahabatmu sendiri melihatmu lebih karena namamu alih-alih sebagai seseorang, sebagai komoditas alih-alih individu. Mungkin begitulah hidupku sekarang.
(Darien, hlm. 283)
Kali ini, Darien harus memerankan Pangeran Federasi, Carmindor, dalam remake film Starfield. Sesungguhnya ia pun adalah seorang penggemar fanatik serial itu, tapi demi skenario yang harus ia patuhi, ia harus tampak seperti orang yang tidak benar-benar tahu tentang Starfield. Hujatan dari Stargunners menyerangnya, meski para penggemarnya pun selalu menunjukkan dukungan.

Memerankan Carmindor, Darien harus berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan segala insekuritasnya.
Hanya cara lain untuk membuktikan aku bukanlah Pangeran Federasi. Dia tidak takut pada ketinggian, atau kebakaran, atau melayang di angkasa dengan 0,1% kemungkinan mendarat di targetnya.
Darien Freeman? Dia takut pada semua itu.
(Darien, hlm. 123)
***

Ibu tiri yang jahat.
Sepasang saudara kembar yang gemar menyengsarakan hidupmu.
Seorang pangeran tampan.
Pesta dansa.
Sebelah sepatu yang tertinggal.
Terdengar familiar?

Geekerella adalah reka-ulang kisah klasik Cinderella. Istilah “Geekerella” muncul pertama kali setelah pesta dansa di konvensi ExcelsiCon. Kala itu, para pemenang berkesempatan bertemu dan berdansa dengan Darien, salah satunya adalah sang Putri Amara juara kedua, yang kemudian dijuluki oleh media sebagai “Geekerella”, dari julukan “geek”, yang dalam konteks novel ini merujuk pada penggemar fanatik Starfield. 

Ashley Poston memindahkan ruang dan waktu kisah klasik itu menjadi kisah dengan ruang dan waktu kekinian yang melibatkan dunia para penggemar serial fiksi ilmiah, elemen-elemen yang sangat bisa terjadi di dunia nyata kontemporer. Memasuki kehidupan Elle, aku seperti bernostalgia tentang masa laluku sebagai penggemar fanatik (bukan penggemar serial fiksi ilmiah, melainkan penggemar boyband Korea Super Junior). Jadi, aku sangat memahami koneksi yang dirasakan Elle dengan para tokoh dalam serial itu, meski mereka tidak nyata.
Tentu saja “Starfield” tidak nyata. […] Tapi, karakter-karakternya—Carmindor, Putri Amara, Euci, atau bahkan Nox King—mereka adalah teman-temanku ketika semua orang di dunia nyata menyebar rumor di balik punggungku, memanggilku aneh…
(Elle, hlm. 355)
Aku mengapresiasi bagaimana Ashley tidak merasa perlu membuat sang ibu tiri—Catherine—sangat kejam, meskipun, malah, Chloe-lah yang sangat menyebalkan. Juga bagaimana ia tak merasa perlu membuat Cinderella, Elle, sangat tertindas dan cuma bisa pasrah menantikan keajaiban. Kebalikannya, Elle sangat teguh (mengenai Starfield, tentunya), kritis, dan pemberontak sekaligus pihak yang tertindas. Seperti yang ia katakan, “Aku adalah penjahat di ceritaku, dan juga pahlawannya.” (hlm. 290)

Lewat kisah dari sudut pandang Elle, aku memahami bahwa ia adalah penjahat terhadap dirinya sendiri, karena di beberapa kasus ia membiarkan dirinya “ditindas” oleh Catherine dan Chloe dan ketidakmampuannya untuk melepaskan ayahnya (bukannya aku menyalahkan sikap tersebut, karena itu wajar; ia ingin terus menghidupkan ayahnya lewat Starfield; lewat mok kesayangannya….). Ia pun pahlawan terhadap dirinya sendiri, karena ia berani tegas dan berani beraksi. Akhirnya ia sadar, meskipun sudah meninggal, orang tuanya tetap hidup di dalam dirinya.

Lewat sudut pandang Darien, aku sekali lagi dipaparkan pada kehidupan selebriti yang tidak secerah wajahnya yang sering terpaksa tersenyum demi menjaga imej dan mematuhi skenario. Baik Elle maupun Darien tumbuh besar mencintai Starfield dan sama-sama menggemari serial itu bersama ayah mereka. Namun, Elle telah benar-benar ditinggalkan ayahnya, sedangkan Darien… Meskipun secara fisik ayahnya masih ada di dunia ini, itu bukan benar-benar ayahnya. Mark telah menjelmakan diri sebagai manajer, bukan ayah.

Di bagian pertama novel, Lihatlah Bintang-bintang, karakter mereka diperkenalkan pada pembaca dengan masalah-masalah yang telah mereka alami sejak sebelum novel dibuka. Di bagian kedua, Bidik, mereka memutuskan sesuatu yang besar dalam hidup mereka: Elle memutuskan ikut kontes kostum; Darien memutuskan untuk mengusahakan yang terbaik, meski ada yang suka dan ada yang tidak akan peran barunya sebagai Carmindor. Mereka berdua sama-sama harus menghadapi diri sendiri. Di bagian ketiga, Ledakkan, inilah mereka sama-sama “beraksi” di ExcelsiCon. Apakah mereka bertemu?
*
Elle menemukan seorang sahabat, sang ibu peri, Sage—karakter favoritku di novel ini, yang membuatku membayangkan karakter Nam Green di LINE webtoonSpirit Fingers” dengan rambut sama-sama hijau. Tokoh Sage ini juga mengingatkanku akan sahabat yang kutemukan semasa kuliah, orang yang mengajarkanku bahwa menjadi diri sendiri—“seaneh” apa pun kelihatannya di mata orang kebanyakan—itu sangat tidak apa-apa. 


Aku menyukai hubungan persahabatan Elle dan Sage. Yang awalnya mereka tidak pernah berbicara satu sama lain, sampai Sage menjadi pendukung nomor satu ketika Elle mengikuti kontes kostum. Sayangnya, tentu saja cerita berpusat pada Cinderella dan Sang Pangeran, kita tidak tahu kisah Sang Ibu Peri. Ia ada di semesta Geekerella hanya untuk membantu Elle menyelesaikan misinya. Yang agak aneh bagiku adalah hubungan Cal dan Sage yang tiba-tiba. Apakah ini Ashley Poston sengaja memaksakan agar hubungan asmara dua cewek itu masuk ke cerita?

Geekerella adalah kisah percintaan dewasa-muda yang merupakan reka-ulang kisah Cinderella, dengan isu-isu seputar pencarian jati diri, persahabatan, dan keluarga, dengan elemen kental dunia penggemar film fiksi-ilmiah dan unsur-unsur komedi. Merupakan pengalaman yang menyenangkan membaca buku ini!

Siapkah kalian meledakkan bintang-bintang bersama Elle? Di akhir rangkaian tur ini, Penerbit Spring akan menyediakan novel Geekerella untuk pemenang yang terpilih. Kuis ini akan diadakan di fanpage Penerbit Spring. Caranya:

1. Sukai fanpage Penerbit Spring dan ikuti juga blog ini (jika kamu merasa isi blog ini bermanfaat, hihi).
2. Ikuti akun Twitter dan Instagram Penerbit Spring, juga akun Twitter dan Instagram-ku. Bagikan informasi mengenai kuis ini via Twitter dan/atau Instagram dan mensyen/tandai akun kami dengan hestek #Geekerella.
3. Kumpulkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tiap host (tautan alamat blog tiap host tercantum di spanduk di bawah).
4. Di akhir tur ini, semua jawaban kalian menjadi senjata untuk mengikuti kuis di fanpage Penerbit Spring.
5. Kuis ini hanya berlaku bagi teman-teman yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
6. Pengumuman pemenang akan dilakukan di fanpage Penerbit Spring setelah kuis berakhir.

Berikut ini adalah pertanyaan dariku.
Ketika menemukan kostum cosplay milik ayah dan ibunya di loteng, Elle menyadari bahwa kostum itulah satu-satunya barang peninggalan berharga dari mereka. Saat itu, ia langsung tahu apa yang harus ia lakukan. Ia akan mengikuti kontes cosplay dengan mengenakan kostum itu. Di konvensi sci-fi apakah Elle akan "meledakkan bintang-bintang"?
Semoga beruntung! Mampirlah juga ke blog lainnya, ya!


Identitas buku
Judul: Geekerella
Penulis: Ashley Poston
Penerjemah: Lisa Mahardika
Penyunting: RoséMia
Penyelaras aksara: Selsa Chintya
Desain sampul: Aulia Rahmani
Penata sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring
Cetakan: I, Februari 2018
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-602-6682-16-1
Harga: Rp 99.000,00

15 April 2018

Buku Berbahasa Inggris dan Terjemahan Indonesia: Sudut Pandang Seorang Pembaca


“Wah, bacaannya buku berbahasa Inggris. Keren banget!”
“Wow, bacaanmu buku berbahasa Inggris, emang kamu ngerti, gitu?”
“Weleh, bacaannya buku berbahasa Inggris, dibaca beneran nggak, tuh? Cuma biar terlihat keren, ya?”
“Dih, bacanya buku berbahasa Inggris. Kenapa nggak baca terjemahannya saja? Nggak bangga sama bahasa sendiri.”
Kira-kira komentar-komentar seperti itu yang didengar oleh Mbak Kim ketika dia ke mana-mana menenteng buku tebal The Name of The Rose versi bahasa Inggris terbitan Vintage. Dan tak sebentar dia menenteng-nenteng buku itu, hampir sebulan! Rutinitas kantoran pukul 7–16 bak kerangkeng bagi diri Mbak Kim, yang sebelumnya sungguh mencintai pekerjaan sebagai pengangguran. Waktu untuk membaca jadi benar-benar waktu yang dicuri. Makanya, ke mana-mana dia menenteng buku itu, setiap ada waktu yang bisa dicuri, dia akan mencurinya seoptimal mungkin! Butuh waktu sekitar satu bulan untuk menamatkan The Name of The Rose, karena membaca buku itu berat—bilang ke Dilan, tolong—tebal, 538 halaman; banyak sekali kata-kata bahasa Inggris yang asing bagi Mbak Kim; Eco sering menuliskan deskripsi sesuatu dengan sangat detail, dan itu malah bikin Mbak Kim makin pusing; bagian sejarah gereja Katolik juga cukup membuatnya mumet. Namun, Mbak Kim tetap berusaha membacanya, dan syukurlah, bisa menikmatinya, dan bisa sampai tamat. Membaca itu berat, lantas kenapa Mbak Kim tidak membaca yang versi terjemahan Indonesia saja? Inilah hasil wawancara saya dengan blio.

Sumber gambar: Amazon

***

Kenapa Mbak baca The Name of The Rose versi bahasa Inggris? Padahal ada terjemahan Indonesianya, kan?

Ada pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Hmm, biar terlihat keren, Mbak? Atau Mbak nggak bangga sama bahasa sendiri?

Tidak ada hubungannya. Memilih baca buku berbahasa Inggris ketimbang versi terjemahan Indonesianya, apakah itu lantas berarti minim kebanggaan terhadap bahasa sendiri? Tidak, itu dua hal yang berbeda; dalam konteks pengalaman saya, tidak ada hubungan kausal antara keduanya.

Atau, Mbak takut kemampuan baca menurun karena baca versi bahasa Indonesia? Tahu nggak, sih, Mbak, kelakuan seperti Mbak inilah yang bikin bangsa Indonesia jadi bermental minderan!

Tidak ada hubungannya lagi. “Minderan”? Minder sama siapa? Jangan-jangan, Anda sendiri yang merasa begitu?! Bisakah kita pindah ke hal substansial? Sukanya kok berputar-putar membahas aksesori.

Apakah Mbak tahu kalau versi bahasa Inggrisnya itu pun terjemahan?

Pasti, dong. Sebelum memutuskan untuk membeli (apalagi membaca)-nya, saya melakukan “penyelidikan” dulu. Naskah aslinya ditulis Umberto Eco dalam bahasa Italia.

Lalu, kenapa nggak milih yang terjemahan bahasa Indonesia? Toh, sama-sama “terjemahan”.

Tidak bisa disamakan begitu saja, dong. Yang saya baca ini adalah terjemahan pertama (langsung dari bahasa aslinya) oleh William Weaver. Nah, kalau yang terjemahan Indonesia terbitan Bentang itu adalah terjemahan kedua, dari versi bahasa Inggris terbitan Minerva tahun 1992; diterjemahkan oleh Nin Bakdi Soemanto. Dalam proses penerjemahan, pasti ada yang “hilang” dan pasti terjadi “paralaks makna”. Itu tak bisa dihindari. Yang “hilang” ini akan semakin banyak, dan “paralaks makna” akan semakin besar, jika karya tersebut diterjemahkan bukan dari bahasa aslinya. Makanya, prinsip membaca saya, salah satunya adalah sebisa mungkin membaca suatu karya dalam bahasa aslinya. Namun, karena saya nggak bisa bahasa Italia, maka saya pilih terjemahan bahasa Inggris The Name of The Rose.

Tadi Mbak bilang bahwa baca The Name of the Rose ini “berat”. Namun, kenapa Mbak tetap membacanya?

Karena untuk menikmati keindahan alam dari puncak gunung, kita harus bersusah-payah jalan kaki menanjak selama berjam-jam dulu, Mbak. Dengan baca buku itu, saya bisa belajar bahasa Inggris lebih banyak, apalagi banyak kosakata yang baru bagi saya. Biar kemampuan berbahasa Inggris saya tidak lekas luntur (maklum, jarang digunakan secara lisan di sini). Oleh karena ini terjemahan pertama, maka pemahaman saya akan isinya mungkin sekali lebih akurat ketimbang jika saya baca terjemahan kedua, ketiga,...

Selain yang Mbak paparkan sebelumnya, apakah ada pertimbangan lain kenapa memilih versi terjemahan bahasa Inggris?


Ada. Sederhana saja alasannya: harganya lebih murah ketimbang versi terjemahan bahasa Indonesia. Saya dapat harga 65 ribu di Big Bad Wolf (ups, harga aslinya 7,99 EUR atau sekitar 135 ribu rupiah), sedangkan yang terbitan Bentang Pustaka edisi sampul baru terbitan tahun 2017 dibanderol 99 ribu. Dan, Anda mungkin juga tahu kalau buku-buku terbitan Indonesia sekarang trennya cenderung makin mahal.

Lalu, apakah ini berarti Mbak tidak mau membaca buku terjemahan Indonesia?

Duh, lagi-lagi Anda memaksakan hubungan kausal... Tidak begitu juga, dong. Saya tetap suka membaca terjemahan Indonesia. Ada beberapa terjemahan Indonesia yang saya sukai, misalnya seri Harry Potter terjemahan Listiana Srisanti. Saya juga memilih mengoleksi versi bahasa Indonesianya, karena sampul barunya cantik sekali (padahal harga buku ketiga sampai ketujuhnya lebih mahal ketimbang versi asli berbahasa Inggris terbitan Bloomsbury edisi paperback terbitan tahun 2014).

Lihatlah harga yang mencekik ini, Saudara-saudara!
Dan Mbak Kim masih harus melengkapi koleksinya dengan buku ketujuh, yang harganya "berkepala" tiga!
Sumber gambar: Gramedia
Ini versi Bloomsbury yang Mbak Kim maksudkan.
Sumber gambar: Pinterest
Saya juga suka A Game of Thrones terjemahan Barokah Ruziati, juga cerpen-cerpen terjemahan Maggie Tiojakin. Untuk beberapa buku nonfiksi, saya lebih nyaman membaca versi terjemahan Indonesianya, seperti Sejarah Tuhan terjemahan Zaimul Am. Beberapa novel terbitan Spring juga bagus terjemahannya, seperti The Girl on Paper, yang diterjemahkan oleh Yudith Listiandri.

Namun, saya sering menjumpai terjemahan Indonesia yang ambyar. Itulah alasan mengapa saya berhati-hati dalam memilih buku terjemahan Indonesia. Misalnya, yang beberapa bulan lalu saya baca (dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti membacanya sebelum tamat karena saya tak kuat--terjemahannya terlalu!), Second Sex: Kehidupan Perempuan terbitan Narasi, terjemahan Nuraini Juliastuti. Banyak bagian yang bikin saya gagal paham, antara lain karena pemilihan kata tidak sesuai konteks. Diperparah dengan ejaannya tidak disempurnakan, seperti banyaknya tanda titik hilang dan malah menyelip ke tempat yang tidak seharusnya.

Sumber gambar: Goodreads
Jadi, terjemahan Indonesia yang bagus itu yang seperti apa, Mbak?

Ya, yang seperti beberapa judul buku yang saya sebutkan tadi. Terjemahan yang kalau dibaca rasanya tidak seperti terjemahan; seolah-olah karya tersebut memang aslinya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Antara buku berbahasa Inggris dan terjemahan Indonesia, Mbak pilih yang mana?

Lho, kok Anda malah mundur ke titik awal pembahasan? Kita sudah sampai sini, lho. Sudah saya jabarkan mengapa untuk kasus tertentu saya memilih versi bahasa Inggris, dan kenapa untuk kasus lain saya pilih versi terjemahan Indonesia. Tidak bisa “pilih yang mana antara keduanya” karena untuk tiap kasus saya punya pertimbangan-pertimbangan tertentu yang spesifik. Tak mustahil juga untuk satu judul karya saya membaca versi bahasa Inggris juga versi Indonesianya.

Bagaimana kalau wawancara ini saya beri judul “Buku Berbahasa Inggris versus Terjemahan Indonesia: Sudut Pandang Seorang Pembaca”?

Wah, jangan seperti itu. Mengapa keduanya harus diversuskan?

***

Demikianlah, akhirnya kata “versus” saya ganti menjadi “dan”. Semoga terjemahan-terjemahan Indonesia meningkat terus kualitasnya sehingga memuaskan para pembaca yang pemilih dan kritis seperti Mbak Kim tersebut. Dan semoga tak ada lagi pertanyaan “pilih mana antara versi bahasa Inggris atau versi terjemahan Indonesia” tanpa batasan yang spesifik dan jelas. Kalau tidak, pembahasan itu tak akan ke mana-mana, mungkin hanya akan berakhir jadi debat penuh emosi (kecuali kalau memang sengaja mau memancing emosi dan sensasi). Biar viral, katanya. Ah!

Ah, terakhir, mungkin Anda semua perlu tahu bahwa wawancara tersebut adalah wawancara dengan diri saya sendiri yang berlangsung di dalam pikiran. Hihihi.[]

10 October 2017

[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

30 September 2017

[Resensi THE PRAGUE CEMETERY] Penyebaran Berita Palsu di Abad Ke-19 dan Awal Abad Ke-20



Judul: The Prague Cemetery
Penulis: Umberto Eco
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penyunting: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: viii + 616 halaman
ISBN: 978-602-8811-98-9

Buku “Terlama Tak Kunjung Dibaca sejak Dibeli”

Menjadi tsundoku itu ibarat jatuh cinta padamu. Aku tak sadar, tahu-tahu dadaku sudah berlubang dan hatiku jatuh di genggamanmu. Eh, malah curhat. Salah satu akibat menjadi tsundoku adalah daftar tunggu buku yang dibaca jadi makin panjang dan terus memanjang. The Prague Cemetery ini adalah salah satu buku yang menjadi korban daftar tunggu yang terus memanjang itu. Di rak buku saya, ia memegang rekor “terlama tak kunjung dibaca sejak dibeli”. Ia saya adopsi dari Togamas Mal Galeria (ya, ampun, sampai Togamas yang di situ sudah tak ada lagi sekarang) pada tahun 2013, dan baru saya baca tahun 2017. Sungguh kasihan buku ini, ia mungkin terlalu lelah menunggu saya baca sampai kertasnya ditumbuhi bercak-bercak kuning.

The Prague Cemetery merupakan kumpulan catatan harian Simonini, yang ditulis sebagai bagian dari terapi untuk mengingat apa yang telah ia alami, karena ia menderita penyakit mental tertentu (yang sebaiknya tidak saya sebutkan karena akan menjadi bocoran). Catatan harian itu kadang dibalas oleh Dalla Piccola, dengan tulisan yang ditujukan pada Simonini sebagai upaya untuk mengingatkannya akan hal-hal buruk yang telah ia lakukan di masa lalu, tapi ia lupa, yaitu pembunuhan. Atau saking ia ngeri pada apa yang telah dirinya lakukan, mentalnya menghapus memori itu. Kadang, upaya Dalla Piccola ini membuat Simonini tersinggung (hlm 378).

Umberto Eco menulis buku ini dengan narasi berganti-ganti; dari sudut pandang orang pertama Simonini, ke sudut pandang orang pertama Abbe Dalla Piccola, lalu sudut pandang orang ketiga Sang Narator. Buku dibuka dengan adegan Sang Narator yang mulai mengikuti catatan harian Simonini. Catatan pertama (bab dua) bertanggal 24 Maret 1897, dibuka dengan penjelasan Simonini mengapa ia menulis catatan harian, lalu racauannya tentang siapa dia sebenarnya. Di sini ia mulai menyebut-nyebut Dalla Piccola. Lalu di catatan hari berikutnya (bab tiga), Simonini mulai mengulik ingatan masa lalunya dari tahun 1885-1886, saat ia terlibat obrolan dengan beberapa ahli psikiatri di Chez Magny (sebuah restoran di Paris). Saat itulah untuk pertama kalinya Diana Vaughan, seorang pasien penyakit mental, disebut.

Pertemuan dengan Sigmund Freud

Di Chez Magny itulah pertama kalinya Simonini berkenalan dengan “dokter Austria (atau Jerman) itu”, “seorang dokter berusia sekitar tiga puluh yang hampir pasti datang ke Magny hanya karena tidak bisa makan lebih mahal lagi dan magang pada Charcot”. “Aku” (Simonini) menuliskan nama dokter itu sebagai Froïde dengan nama depan Sigmund. Dari isi pembicaraan dan narasi yang dikisahkannya, Sigmund ini tak lain adalah Sigmund Freud (Freud memang dibaca “Froyd”, mirip dengan “Froïde”). Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1885-1886. Freud lahir pada tahun 1856 (jadi memang benar pada tahun 1885/1886 umurnya sekitar 30 tahun) dan pada bulan Oktober 1885 dia pergi ke Paris untuk magang pada Jean-Martin Charcot. (Sumber: Wikipedia) Dalam obrolan dengan “aku”, Froïde sempat menyebut nama tunangannya, Marta (Freud menikahi Martha Bernays pada tahun 1886).

“Semua hal itu racun jika dosisnya berlebihan, bahkan anggur,” kata Froïde pada halaman 56. Setelah itu dia juga menjelaskan beragam kegunaan kokain. Dari yang saya baca di Wikipedia, Freud memang pernah menerbitkan paper tentang efek kokain pada tahun 1884.

Jadi, ya, itu memang Sigmund Freud yang itu.

Dalam pembicaraan dengan Freud itu, kelihatan sekali ketaksukaan dan prasangka Simonini terhadap Freud yang Yahudi. “Pada detik ini kukira, aku sudah tertarik dalam berbagai rencana orang Yahudi dan ambisi ras itu agar putra-putra mereka menjadi dokter dan ahli farmasi dengan tujuan mengontrol tubuh maupun pikiran orang Kristen.” (hlm. 62)

Anti-Semitisme yang tertanam dalam benak Simonini ini tak bisa dipungkiri adalah warisan dari kakeknya, seperti yang ia ceritakan di bab selanjutnya, yang mundur ke tahun 1830-1855. Di masa kecil dan remajanya di Turin itulah, kakeknya menanamkan kebencian terhadap orang Yahudi.

Yang Ada di Balik Layar

Di bab-bab selanjutnya, catatan harian Simonini, tulisan Abbé Dalla Piccola, dan narasi dari Sang Narator, mengisahkan bagaimana Simonini mulai bekerja pada Notaio Rebaudengo, seorang notaris merangkap pembuat dokumen palsu. Ironis sekali bagaimana ia mengatakan bahwa profesinya yang penuh kebohongan itu didasarkan pada kepercayaan dengan klien. Belakangan, Simonini membuka jasa pembuatan dokumen palsunya sendiri.
“Jika aku mulai mencemaskan apakah klien itu mungkin berbohong, aku tidak lagi punya profesi ini, yang didasarkan pada kepercayaan.” (Rebaudengo, hlm. 123)
Dalam sejarah Eropa abad ke-19, Simonini memiliki peran penting sebagai konseptor; sosok yang berada di belakang layar pada beberapa peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi (penyatuan Italia, perang Franco-Prussia, Paris Commune, peristiwa Dreyfus (Sumber: Wawancara dengan Umberto Eco). Ini mengingatkan saya akan Pak Tua si tokoh utama dalam The 100-year-old man who climbed the window and disappeared, yang juga terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah dunia. Selama bekerja pada Rebaudengo, Simonini bertemu banyak klien, salah satunya dengan Cavalier Bianco, orang penting di dinas rahasia pemerintahan. Bianco merekrutnya untuk membantu penangkapan para Carbonari.

Carbonari ini adalah perkumpulan rahasia yang berkembang di Italia bagian selatan sejak tahun 1700-an (tapi baru terkenal pada awal abad ke-19) (Sumber: Global Security), dan diduga mempunyai kaitan dengan Freemason Italia (Sumber: Sanfelesesociety). Mereka melakukan ritual-ritual rahasia yang merupakan campuran dari ritual Kristen dengan simbol-simbol dan referensi pagan. Para anggotanya secara umum mendukung konsep hak-hak individu yang diakui konstitusi, kebebasan berbicara dan kemerdekaan dari dominasi kolonial asing—perkumpulan ini mengusung pemikiran republikan yang menggusarkan pemerintahan konservatif Eropa di zaman itu (pemerintahan monarki). (Sumber: Global Security)

Setelah keberhasilannya itu, kariernya menanjak sebagai agen rahasia untuk dinas pemerintahan, membuat dokumen dan laporan palsu hasil karangannya sendiri untuk memojokkan pihak-pihak tertentu, sembari menjalankan rencana-rencana demi keuntungan pribadi.

Berikutnya, Simonini turut hadir dalam Ekspedisi Garibaldi (ini merupakan peristiwa sejarah betulan). Ia menyamar dalam pendukung Garibaldi, yang disebut “Seribu Garibaldi” untuk menggali informasi dan melakukan tugas dari dinas rahasia. Saat itulah ia melakukan kontak pertama dengan Alexandre Dumas, novelis terkemuka Perancis itu. Kemudian pada tahun 1861 Simonini pindah ke Paris, setelah itu ia pernah dipenjara, membunuh beberapa orang, mengadu domba beberapa pihak (Mason, komunis, pemerintah, Jesuit, Yahudi, dan apa lagi, ya?) demi keuntungan pribadi.

Sebagaimana sang tamu pada bab satu mengintip Simonini sedang menulis catatan hariannya, saya mengikuti kisah hidup lelaki itu dan saya pikir telah mengenalnya dengan cukup baik setelah 600+ halaman. Simonini adalah orang yang cerdas, cerdik, dan licik; ia tak segan melakukan kebusukan demi mencapai keuntungan. Ia menggagas ide-ide seperti menciptakan malapetaka dalam pelayaran Nievo dari Palermo ke Turin demi melenyapkan buku-buku keuangan bersama Nievo (hlm. 210-211).

“The Protocols”

"Jika emas adalah kekuatan pertama di dunia ini, yang kedua adalah pers. Kita harus mengambil alih kepemimpinan semua surat kabar di setiap negeri." (Suara Ketigabelas di Kuburan Praha, hlm. 292)
Membaca novel ini seperti membaca sejarah Eropa abad ke-19 dengan cara yang seru. Sejarah yang penuh konspirasi, penipuan, pembajakan tulisan, adu-domba… Betapa novel ini menunjukkan berkali-kali bahwa tulisan sungguh punya kekuatan besar untuk menimbulkan kebencian terhadap sesuatu; dua di antaranya yang paling menggelegar adalah terhadap ras Yahudi dan terhadap Freemasonry.

The Protocols of The Elder of Zion, atau yang sering disebut The Protocols, yang merupakan teks anti-Semitisme yang mendeskripsikan konspirasi gelap para rabi Yahudi pada suatu malam di sebuah kuburan di Praha. Dalam pertemuan itu mereka berencana menguasai dunia. Di bab enam Simonini menceritakan bagaimana awalnya tercetus ide untuk menuliskan laporan itu. Kemudian, bagaimana dia menjiplak beberapa bagian dari novel karya Maurice Joly. Ironisnya, novel Joly itu sendiri adalah plagiarisme dari novel Les Mystères du Peuple karya Eugène Sue. [The Protocols]

The Protocols yang diterbitkan tanpa nama penulis tercantum itu kemudian menjadi terkenal dan menyebabkan meluasnya anti-Semitisme di Eropa. Adegan kuburan Praha jadi sering didaur ulang oleh pengarang-pengarang lain. Maka, menjadi lucu ketika Simonini mengeluhkan pembajakan ini, karena ia sendiri pun membajak sana-sini saat menulis The Protocols.
"Ya, Tuhan, dalam sebuah dunia para pembajak, bagaimana hidup jadi mungkin?" (Simonini, hlm. 380)

Le Diable au XIXe Siècle” dan Objektivikasi Perempuan

Dalla Piccola ternyata juga melakukan hal serupa dengan yang dilakukan Simonini, yaitu penulisan dokumen palsu. Di akhir abad ke-19, ia menyuntikkan ide dalam kepala Taxil, seorang penyebar berita palsu yang sebelumnya sempat membuat geger masyarakat, untuk menulis karya yang menjelek-jelekkan Freemasonry. Pada tahun 1892 mereka mulai memanfaatkan Diana Vaughan, seorang pasien kejiwaan dr. Du Maurier. Diana meyakini bahwa dirinya adalah murid Palladian, suatu sekte Masonik yang misterius. Dalam kegilaannya, Diana sering mengocehkan berbagai ritual Palladian. Nah, cerita Diana tentang berbagai ritual inilah yang dijadikan pijakan tulisan mereka.

Mereka juga menciptakan tokoh rekaan bernama Dr. Bataille, yang seolah-olah adalah dokter yang menangani Diana. Nama “Dr. Bataille” pun mereka cantumkan sebagai penulis buku ini, yang mereka beri judul “Le Diable au XIXe Siècle: Misteri di Balik Satanisme Modern, Magnetisme Klenik, para Perantara Lucifer, Kabalah pada Akhir Abad, Sihir Rosicrucian, Kesurupan Kambuhan, para Perintis Anti-Kristus” itu (padahal yang menulis adalah Taxil).

Dalam peristiwa ini, Diana dijadikan objek untuk menyebarkan kebencian terhadap Mason sekaligus sebagai objek seksual oleh Taxil. Sebaliknya, Dalla Piccola sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan seksual terhadap Diana. Dia juga secara terang-terangan mengungkapkan kepada pembaca perasaan jijiknya terhadap perempuan, yang juga membuat saya menduga apakah ia aseksual sebagai akibat dari lingkungan dan kebiasaan hidupnya di antara para imam.
"Aku selalu menemukan lebih banyak kenikmatan pada makanan daripada seks—mungkin satu tanda yang ditinggalkan kepadaku oleh para imam." (hlm. 24)
Pikiran berhubungan seks dengan seorang perempuan sudah cukup buruk, tetapi dengan seorang perempuan gila…. (hlm. 455)
Kejijikannya terhadap perempuan makin terlihat saat ia berada dalam kondisi yang membuatnya terpaksa terlibat dalam hubungan seksual dengan Diana. Sebagai pastor, ia belum pernah berhubungan seks dengan perempuan sebelumnya, bahkan baru saat itu ia melihat perempuan telanjang. Namun kemudian saya menangkap pertanda bahwa ia takut terhadap perempuan dewasa saja, tapi tertarik terhadap anak-anak. Nah, ini membuat saya menduga, apakah ia pedofil?
Aku menahan sekuat tenaga, seperti kena serangan kejang, karena untuk kali pertama melihat seorang perempuan tanpa penutup raga. (hlm. 537)
—dan aku harus mengakui (satu situasi aneh ketika aku, seorang imam, mengaku dosa kepadamu, Kapten!) bahwa sementara aku merasakan, bukan teror, melainkan paling sedikit rasa takut di depan seorang perempuan yang sekarang matang, sulit bagiku untuk menolak rayuan dari seorang makhluk yang belum  mekar. (hlm. 536)
Di masa itu, di Eropa mulai muncul gerakan-gerakan feminisme sebagai reaksi atas ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Perempuan (masih) menjadi korban stereotip masyarakat yang patriarkal, yaitu dipandang sebagai subordinat laki-laki. Maka wajar jika Simonini dan Dalla Piccola, sebagai laki-laki yang hidup di tengah masyarakat patriarkal itu, terkesan memandang perempuan sebagai "warga kelas dua". Dalla Piccola malah terkesan misoginis, contohnya, bisa terbaca dari perkataannya berikut.
“Kami bercakap-cakap beberapa kata (aku sudah begitu terkurung selama sepuluh hari ini sehingga merasa terhibur bahkan dengan bercakap-cakap dengan seorang perempuan) dan setiap kali kutawari dia segelas absintus, aku hampir tak bisa tidak ikut minum lagi.” (hlm. 224)
(Perempuan tidak layak diajak bercakap-cakap?)

Simonini juga memiliki pandangan serupa terhadap perempuan, terlihat dari ucapannya berikut.
Aku tidak punya kepekaan seperti perempuan dan sepenuhnya mampu menyeret mayat seorang imam ke dalam gorong-gorong, tetapi pemandangan ini menggangguku. (Simonini, hlm. 358)
(Kepekaan dipandang secara negatif dan merupakan milik perempuan (saja)?)

Kekuatan Tulisan

The Protocols dan Le Diable au XIXe Siècle (The Devil in The 19th Century) merupakan dua dari entah sekian banyak tulisan propaganda dari Eropa di abad ke-19 yang benar-benar ada di dunia nyata. Umberto Eco mencoba menciptakan latar belakang terciptanya kedua dokumen itu. Eco menunjukkan betapa tulisan memiliki kekuatan sangat besar untuk menyebarkan propaganda. Meskipun kemudian Taxil telah mengakui bahwa The Devil in the 19th Century itu hoaks, dan banyak peneliti telah membuktikan kepalsuannya, banyak orang masih memercayainya sampai sekarang. The Protocols juga telah sering dibuktikan kepalsuannya. Namun tetap saja, kedua dokumen ini masih dijadikan acuan oleh pihak-pihak yang ingin membenarkan kebenciannya terhadap Mason dan orang Yahudi. Bahkan, The Protocols menjadi bagian dalam propaganda Nazi untuk membenarkan aksi persekusinya terhadap orang Yahudi. (Sumber: The Protocols)

Maka, benar sekali yang ditulis oleh Mikulpepper di artikel blognya,
"But it is easier to get people to believe than it is to renounce their beliefs, so hoaxes can have a very negative effect."

Beberapa Catatan Lain

Awalnya tidak mudah membaca buku ini, karena ada yang membingungkan saya, terkait penyakit mental Simonini dan peristiwa-peristiwa sejarah. Tapi lama-lama saya menikmatinya, salah satu faktor paling signifikan yang telah membantu saya menikmati buku ini adalah terjemahannya yang bagus. Meski begitu, ada banyak istilah dan kalimat dalam bahasa Prancis yang artinya tidak dijelaskan di narasi dan  juga tidak dilengkapi catatan kaki berisi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya, bisa saya simpulkan bahwa ini adalah perkenalan saya yang tak terlupakan dengan Umberto Eco. Ah iya, saat menyelesaikan tulisan ini, saya sedang membaca The Name of the Rose.[]

bloggerwidgets