Showing posts with label horor. Show all posts
Showing posts with label horor. Show all posts

10 October 2017

[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

2 November 2015

[Resensi 7 KISAH KLASIK] Bukan Sekadar Tujuh Kisah Horor

Judul: 7 Kisah Klasik
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerjemah: Diyan Yulianto & Slamat P. Sinambela
Editor: Misni
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, September 2015
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-602-255-968-9
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 4/5


Edgar Allan Poe adalah seorang penulis kenamaan Amerika Serikat, yang terkenal akan karya-karya fiksinya yang horor dan meneror pembaca. Buku ini berisi tujuh cerpen karya Poe, yang diterbitkan pada rentang waktu dari tahun 1839 sampai 1850. Ketujuh kisah ini diterjemahkan dari The Works of Edgar Allan Poe Vol. 1-5. Saya akan mengulas satu per satu cerpen dalam kumpulan cerpen ini, (dengan sebisa mungkin) secara ringkas.

Curahan Hati Sang Pembunuh

Di bagian ini, saya akan mengulas dua cerpen pertama dalam buku ini, yang bertema sama dan pola cerita yang hampir sama pula.

Kucing Hitam (1845)

(diterjemahkan dari The Black Cat)


Si "aku" yang anonim, secara flashback, menceritakan kisah mencekam yang pernah dialaminya beberapa tahun sebelumnya. Dulu iadikenal sebagai anak yang penurut dan welas asih, dan pecinta binatang. Setelah menikah, ia dan istrinya memelihara banyak binatang, tapi yang paling ia sukai adalah Pluto, seekor kucing hitam. Istrinya menceritakan padanya tentang takhayul yang menyebutkan bahwa semua kucing hitam sebenarnya adalah penyihir yang sedang menyamar (hal. 11). Perlahan, si "aku" berubah menjadi orang yang emosional, karena kebiasaan minum-minumnya.
"Temperamenku yang gampang tersinggung menjadi semakin parah, aku membenci semua makhluk dan juga manusia." (hal. 20)
Suatu hari, ia tak bisa mengendalikan dirinya, lalu mencongkel satu mata Pluto. Satu hari yang lain, ia menggantung Pluto hingga mati. Kejadian-kejadian aneh menghampirinya sejak saat itu. 
"Aku menggantungnya karena aku tahu bahwa hal itu adalah sebuah perbuatan dosa..." (hal. 14)

Jantung yang Berkisah (1850)

(diterjemahkan dari The Tell-Tale Heart)

Si "aku" membunuh seorang lelaki tua. Terhadap orang tua itu ia pandai beramah-tamah, seolah tak terjadi apa-apa, tapi tiap pukul 12 malam, ia selalu mengintip ke dalam apartemen lelaki itu, sampai waktu yang tepat untuk membunuhnya. Suatu saat, lelaki tua itu merasakan kehadirannya dan menjerit ketakutan. Malam itulah, malam kedelapan sejak ia meneror si lelaki tua, si "aku" akhirnya membunuhnya. Ia membunuhnya setelah mendengar derap jantung ketakutan si korban, yang membuatnya cemas, kalau-kalau tetangga akan mendengarnya. Maka, ia memutuskan untuk membunuhnya saja, lalu menyembunyikan mayatnya dengan rapi.
"Aku tahu apa yang dirasakan orang tua itu, dan aku kasihan kepadanya, meskipun di dalam hati aku tertawa begitu hebat." (hal. 30)
Jantung si korbanlah, yang akhirnya mengungkapkan tempat mayatnya disembunyikan. Karena memiliki indra yang sangat tajam, si pembunuh bisa mendengar detak jantung si korban.

Mirip, tapi tak Sama

Kedua cerpen tersebut mengambil tema yang serupa, tentang kekerasan dalam rumah tangga dan rasa bersalah yang mencengkeram hati sang narator. Dalam Kucing Hitam, si narator membunuh kucingnya, Pluto, dan kemudian istrinya juga. Motifnya membunuh Pluto adalah dorongan nafsu semata, tanpa penyebab yang jelas. Bahkan, ia mencucurkan air mata ketika menggantung kucing kesayangannya itu. Sementara itu, dalam Jantung yang Berkisah, si narator membunuh seorang lelaki tua yang bermata biru pucat. Motifnya adalah karena ia merasa ketakutan akan mata lelaki tua itu.

Poe juga mengenalkan kontradiksi dalam kedua cerpen ini. Dalam cerpen yang pertama, secara terang-terangan mempertentangkan realitas dan logika dengan hal gaib. Si narator berusaha tetap berpikir logis (terlihat ketika ia menemukan bahwa di dinding sisa rumahnya terbakar terdapat gambar siluet yang mirip Pluto, dan mencari tahu penyebabnya secara logis), sedangkan di akhir cerita muncul hal-hal gaib (seperti yang akan saya jelaskan kemudian).

Kedua naratornya pun sama-sama tak bernama, dan mengalami degradasi moral dan kewarasan secara bertahap. Di bagian pembukaan cerita, anehnya, si narator mengklaim bahwa ia tidak gila.
"Namun, aku bukanlah orang gila dan aku yakin aku tidak sedang berkhayal." (Kucing Hitam, hal. 9)
"Lalu bagaimana kau bisa menyebutku gila? Dengarlah! Dan lihatlah betapa sehatnya diriku." (Jantung yang Berkisah, hal. 27)
Dalam cerpen yang kedua, Poe menyajikan kisah tentang paranoia dan kemerosotan mental, yang mewujud dalam obsesi si narator terhadap tiga hal: mata si lelaki tua, suara detak jantung, dan kewarasannya (SparkNotes). Si narator ini tidak sadar akan ketidakwarasannya, dan tidak tahu mengapa ia jadi aneh (hipersensitif, terutama terhadap suara). Sedangkan di cerpen pertama, Poe menyajikan tema serupa; si narator juga menyangkal kegilaannya, tapi ia memelihara pemikiran yang logis, dan tahu apa penyebab kegilaannya itu. Ia mengatakan bahwa, "Aku malu mengakuinya, tetapi kebiasaan minum-minum telah menjadikanku orang yang semakin buruk." (hal. 11).

Peran alkohol dalam cerpen yang pertama juga signifikan, lantaran Poe sendiri dikenal sebagai pemabuk tak terkendali sepanjang hidupnya (SparkNotes)

Kontradiksi yang lain adalah kemampuan si narator untuk mencintai sekaligus membenci korbannya. Pada cerpen yang pertama, si narator menyayangi Pluto dan istrinya, tapi tetap saja, ia membunuh mereka. Setelah membunuh Pluto, ia merasa sangat bersalah dan semakin bergantung pada alkohol. Mungkin, munculnya kucing kedua yang mirip dengan Pluto (dengan mata satunya) dan bulu putih yang membentuk pola seperti tali menjerat lehernya, adalah efek halusinasi yang ditimbulkan oleh ketergantungannya akan alkohol. Dugaan serupa juga bisa diterapkan pada akhir cerita, ketika si kucing kedua ditemukan masih hidup dan terkubur bersama mayat sang istri. Secara logis, aneh bukan, jika seekor kucing yang masih hidup terkubur dalam tembok dan tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali pada si narator?

Setelah melakukan pembunuhan yang kedua, si narator makin tak bermoral ternyata. Ia sama sekali tak merasa bersalah telah membunuh istrinya, tidak seperti pasca-pembunuhan Pluto.

Pada cerpen yang kedua, kontradiksi ini juga muncul. Si narator menyayangi si lelaki tua, tapi membunuhnya juga. Hipersensitivitas akan suara menyebabkan ia kesulitan membedakan mana suara yang nyata dan tidak. Pada akhirnya, ia salah mengira suara detak jantungnya sebagai detak jantung si mayat lelaki tua, yang akhirnya membuat ia ketakutan dan mengakui kejahatannya pada polisi.

Kedua cerpen ini hendak menyampaikan pesan pada pembaca, bahwa sejatinya niat untuk melakukan kejahatan itu muncul dari dalam diri sendiri--dari kegagalan diri untuk menekan dorongan-dorongan untuk melanggar hukum.

Kumbang Emas (1843)


Dalam cerpen ini, si "aku" adalah narator, tapi kisah berpusat pada sahabatnya, William Legrand, yang hidup menyendiri di Pulau Sullivan, Carolina Selatan, bersama asistennya, Jupiter.
"Ternyata, dia adalah orang yang berpendidikan tinggi, dengan kecerdasan di atas rata-rata, tapi sayangnya sudah dicemari oleh ketidaksukaannya terhadap manusia." (hal. 39)
Suatu hari, Legrand menemukan kumbang emas, dan di situlah awal petualangannya mencari harta karun peninggalan Kapten Kidd, seorang bajak laut. Kecerdasannya nampak saat ia menjelaskan kronologi pemecahan enkripsi dalam selembar surat perjanjian bajak laut yang ia temukan.

53++!305))6*;4826)4+.)4+);806*;48!8'60))85;]
8*:+*8!83(88)5*!;46(;88*96*?;8)*+(;485);5*!
2:*+(;4956*2(5*-4)8'8*;4069285);)6!8)4++;1
(+9;48081;8:8+1;48!85;4)485!528806*81(+9;48;
(88;4(+?34;48)4+;161;:188;+?;
(hal. 87)

Poe menuliskan kisah ini menggunakan alur maju dan flashback, yaitu penemuan harta karun diletakkan di depan, proses pemecahan kode diceritakan setelahnya. Pengaturan plot seperti ini memberikan keuntungan bagi Poe untuk memantik rasa penasaran pembaca. Namun, bagian awalnya menimbulkan kesalahpahaman akan hubungan kumbang emas dengan tengkorak manusia. Bahwasanya kumbang emas, yang dijadikan judul itu, tidak terlalu penting terhadap penemuan harta karun. Selain itu, penemuan kumbang emas itu pun merupakan kebetulan semata.

Kumbang Emas adalah cerpen terpanjang dalam kumcer ini (67 halaman), dan disebut-sebut sebagai cerpen "bajak-laut" pertama yang pernah ditulis. Meski sudah kuno, teknik pemecahan sandi enkripsi yang dideskripsikan oleh Poe masih digunakan sampai sekarang. Bagian pemecahan kode ini memberikan aura cerita detektif. Gaya menulis Poe yang boros kata-kata sangat kental dalam cerpen ini. Namun, "boros-kata" ini juga menyebabkan deskripsi setting Pulau Sullivan tertulis dengan detail. Begitu juga dengan deskripsi letak harta karun dan pemecahan kode.

Mungkin bagi pembaca di zaman sekarang, penempatan Jupiter sebagai orang negro, dengan logat yang aneh dan kecerdasan yang berada di bawah tuannya (orang kulit putih), akan menimbulkan kesan diskriminasi. Legrand mungkin menyimbolkan karakter Poe sendiri, dengan kegemarannya akan pemecahan teka-teki dan kesukaannya akan ironi. Ironi ini muncul dalam bentuk kecurigaan si narator akan kewarasan Legrand, yang pada akhirnya ternyata malah berhasil memecahkan teka-teki dengan cerdas (Gradesaver).

William Wilson (1842)


"Awalnya hanya keisengan-keisengan kecil, lalu kenakalan-kenakalan berbahaya, hingga akhirnya menjadi kejahatan tak terampunkan." (hal. 105)
Si "aku" mewarisi karakter keluarganya, yaitu berimajinasi tinggi dan mudah naik darah. Seiring ia tumbuh, karakter ini makin mendominasi kepribadiannya, sehingga ia menjadi "bocah yang susah diatur, gemar melakukan tindakan liar dan tak terduga, serta dikendalikan oleh nafsu" (hal. 106).

Di masa sekolahnya dulu, ada seorang teman sekelas yang memiliki nama persis dengan dirinya, William Wilson. Dari segi fisik pun mereka berdua sangat mirip, pun tanggal lahirnya sama, sehingga orang-orang mengira mereka adalah kembar. Tapi si "aku" tahu pasti bahwa ia tak punya kembaran. Sejak saat itu, si "aku" tak mau lagi dipanggil dengan nama William Wilson. Si "aku" menjadi pentolan si sekolah, karena sifat mendominasinya. Tapi ia jengkel terhadap si Wilson yang lain karena bocah itu adalah satu-satunya anak yang tidak tunduk terhadap penindasan si "aku". Si "aku" juga menganggap bahwa si Wilson ini adalah saingannya. Pertemanan yang ganjil pun terjalin di antara keduanya.

Saat si "aku" menjalani hidup berfoya-foya dan penuh keburukan sebagai mahasiswa di Oxford, si Wilson datang untuk mengungkap kecurangannya. Si "aku" juga menyebutkan bahwa sebelumnya si Wilson selalu muncul untuk menjegal kejahatannya, mulai dari ketika masa sekolah di Eton itu, Roma, Paris, Napoli, hingga Mesir. Terakhir, ketika di Roma, si "aku" akhirnya menyadari siapa sebenarnya si Wilson.

Poe menghadirkan beberapa paradoks. Pertama, paradoks tentang Pastur si kepala sekolah: "pembawaannya terlihat ramah sekaligus agung", tetapi ia "menjalankan sekolah dengan muka masam, mendidik dengan tangan besi, dan memiliki sifat ringan tangan" (hal. 108). Bahkan, biliknya pun menimbulkan kesan seram
"Di pojok ruangan yang paling ujung--bagian yang membikin bulu kuduk merinding--terdapat sebuah bilik kotak berukuran dua setengah atau tiga meter persegi yang merupakan ruang pribadi kepala sekolah kami, Yang Terhormat Dr. Bransby." (hal. 110)
Poe juga kembali menggunakan deskripsi yang terlalu mendramatisasi, seperti tampak dalam deskripsi panjang si narator akan bangunan sekolahnya yang menimbulkan kesan seram dan memenjara murid-murid di dalamnya.
"Dinding yang melingkupi sekolah kami juga dilengkapi dengan sebuah gerbang yang tidak kalah galaknya. Gerbang itu diperkuat jeruji-jeruji besi yang di atasnya dipenuhi oleh pasak-pasak logam. Sungguh seram kesan yang ditimbulkan!" (hal. 108)
"Tangga-tangga melingkarnya seperti tidak punya ujung, begitu juga ruang-ruangnya yang disekat. Susah untuk menggambarkan ada berapa lantai yang disatukan di dalamnya." (hal. 109)

Melalui cerpen ini, Poe ingin mengatakan bahwa di dalam diri manusia selalu ada dua sisi yang berperang dalam setiap pengambilan keputusan: sisi hitam dan sisi putih. Kebaikan dan kejahatan yang senantiasa berebut tahta dalam hati manusia, layaknya Hyde dan Jekyll.
"Kau telah mengalahkanku dan aku pun menyerah. Namun, dengan begitu kau pun ikut mati--musnah sudah harapanmu di dunia. Di dalam dirikulah engkau hidup--dan dengan kematianku, lihatlah diriku yang adalah pantulan dirimu--kau telah membunuh dirimu sendiri." (hal. 136)

Potret Oval Seorang Gadis (1850)

(diterjemahkan dari The Oval Portrait)


Si "aku" sedang terluka parah di suatu malam yang dingin, kemudian bersama pelayannya, menumpang tidur di dalam sebuah ruangan di sebuah kastel. Dinding ruangan itu ternyata dipenuhi lukisan, salah satunya adalah potret seorang gadis muda. Ketika ia membaca penjelasan tentang potret itu, dalam buku yang menceritakan sejarah tiap-tiap lukisan, ia menemukan kisah ketulusan cinta yang berakhir pedih di baliknya. 

Ajaib, Poe mampu menulis sebuah cerpen pendek! Potret Oval Seorang Gadis adalah cerpen terpendek dalam kumcer ini (6 halaman), tapi maknanya cukup dalam. Poe mengulik kisah ketulusan cinta, yang tampak dalam karakter si gadis muda. Ia tulus mencintai si lelaki pelukis. Meski ia membenci seni lukis karena merasa diduakan, ia tetap bersedia memenuhi keinginan si lelaki untuk melukis wajahnya. 

Poe menghadirkan isu obsesi dan gender dalam cerpen yang merupakan gabungan dari sastra Gothik dan romantisme ini. Obsesi mewujud dalam sosok pelukis, yang terobsesi memindahkan kecantikan istrinya ke dalam lukisan, sehingga ia gagal melihat istrinya sebagai seorang manusia. Dari seorang gadis muda yang cantik, ia bertransformasi menjadi objek tak bernyawa, dan kemudian kemanusiaannya terlupakan, terabadikan dalam wujud lukisan di dalam sebuah kastel  yang kumuh. Si gadis menjadi hanya sepenting kecantikan dalam wujud lukisan (UK Essays).

Isu tentang gender mewujud dalam sikap tunduk si gadis terhadap suaminya. Hal ini sekaligus menunjukkan kisah cinta yang berakhir fatal. Sikap patuh si gadis ini berperan sebagai kritik akan dominasi laki-laki akan dunia seni. Namun, kepatuhan itu, bersama dengan kerelaannya, tak lebih dari pada sekadar "peringatan bisu" (silent warning--GradeSaver).
"Tapi, gadis ini rendah hati dan taat, patuh dan dia rela duduk selama berminggu-minggu dalam gelap, di sebuah kamar di dalam sebuah menara kecil tempat cahaya hanya menyorot kanvas pucat dari atas." (hal. 141)

Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher (1839)

(diterjemahkan dari The Fall of the House of Usher)



Si "aku" menjadi saksi runtuhnya kediaman keluarga Usher; sebuah rumah besar yang terkesan muram dan angker. Dikisahkan bahwa keluarga Usher tidak pernah bergaul dengan dunia luar, melakukan perkawinan sedarah, hingga mewariskan penyakit menurun. Dua keturunan terakhirnya, kakak beradik, akhirnya juga ikut meninggal bersama dengan runtuhnya rumah itu.

Nuansa horor-magis meliputi cerpen ini, dengan alurnya yang agak susah dipahami. Sama seperti dalam dua cerpen pertama, Roderick Usher mengalami kemerosotan mental. Seperti si narator dalam Jantung yang Berkisah, pewaris keluarga Usher itu juga mengalami gejala hipersensitif, tapi bedanya, si Usher sadar bahwa ia tak sehat. Roderick turut hancur seiring runtuhnya rumah besar warisan itu. Paradoks muncul di sini: hipersensitivitas Roderick membuatnya merindukan kebebasan, tapi juga membuatnya tak mampu mencapainya. The House of his heredity claims him for its own (Gerald M. Garmon).

Kebangkitan kembali Madelaine, adik Roderick, bisa dipahami sebagai berikut: Madelaine memang mengidap suatu penyakit, yang suatu hari membuatnya koma. Roderick, yang mengiranya telah meninggal, buru-buru menguburkannya dalam peti. Kemudian, karena ternyata adiknya belum meninggal, tak mengherankan jika kemudian ia "bangkit" dari kuburnya.

Obrolan Bersama Sesosok Mumi (1850)

(diterjemahkan dari Some Words with a Mummy)



Beberapa orang lelaki, termasuk si "aku", berkumpul untuk meneliti mumi. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ternyata si mumi masih hidup! Bagaimana bisa? Karena si mumi ini keturunan keluarga Scarabaeus yang sangat dihormati, yang memiliki tradisi pembalsaman tanpa mengambil jeroan si manusia. Si mumi ini sebenarnya mengalami serangan epilepsi, tapi orang-orang mengira ia sudah mati dan langsung membalsamnya. Jadi, ia dibalsam ketika masih hidup. Semalaman itu, mereka menghabiskan waktu yang menakjubkan dengan mengobrol bersama si mumi.
"..bagaimanapun kondisi seseorang ketika dia dibalsam, maka selamanya dia akan tetap seperti itu." (hal. 190)
Cerpen ini merupakan hasil obsesi Poe akan sains dan ilmu kedokteran (Trespassing Journal). Poe kembali bermain-main dengan realita dan supranatural. Secara ilmiah, cerpen ini menyajikan deskripsi teknis terkait cara pembalsaman orang-orang Mesir kuno, yang sangat menarik untuk diketahui. Namun, atmosfer supranatural melingkupi cerpen ini.
"..penting untuk diketahui bahwa pembalsaman di Mesir dilakukan untuk membekukan fungsi-fungsi hewani dalam diri manusia." (hal. 190)
Selain si mumi yang hidup kembali, hal menarik lain adalah ketika Gliddon (yang mahir berbahasa Mesir) menggambarkan kata "politik" agar bisa dimengerti oleh si mumi. Karena tidak ada lambang hieroglif yang tepat untuk "politik", maka Gliddon menggambarkannya sebagai "orang berhidung lancip tengah berkacak pinggang di atas sebuah tempat tinggi dengan lengan kiri di belakang punggung dan lengan kanan menunjuk ke depan, tatapannya mengarah ke langit dan mulutnya membuka dalam sudut sembilan puluh derajat." (hal. 186). Politik digambarkan sebagai orang yang memerintah.

***

Butuh kontemplasi mendalam untuk memahami apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Poe dalam cerpen-cerpennya yang muram. Membacanya saja butuh usaha keras, apalagi untuk menerjemahkannya menjadi terjemahan yang cukup terasa seperti bukan terjemahan ini. Jika penasaran, boleh lho, menengok curahan hati sang penerjemah di blog-nya.

Cerpen-cerpen Poe memang kebanyakan bernuansa horor, tapi tak ada alasan untuk tak membacanya karena "takut", lantaran makna yang dikandung oleh cerpen-cerpen itu lebih dalam dari pada sekadar kesan luarnya yang kelam dan menyeramkan.

13 November 2014

[Resensi IMMORTALITY OF SHADOW] Apa yang Ada di Bawah Ranjangmu?


Judul Buku                      : Immortality of Shadow
Penulis                             : E. Rows
Tebal                                : 264 halaman
Penerbit/cetakan              : Divapress/Cetakan pertama, September 2014
ISBN                                : 978-602-255-683-1
Harga                                : Rp 40.000,00

http://www.popwrapped.net/wp-content/uploads/2013/10/bloody_face.gif


“Bagaimana kulitmu bisa mengelupas seperti itu? Dibakar?”
Hening.
“Dia memotong lidahmu terlebih dahulu, lalu baru membakarmu?”
Hening kembali. (halaman 233)
Novel ini adalah cerita horor ketiga yang saya baca tahun ini, setelah kumpulan cerpen Ground Zero dan Anjing Kematian karya Agatha Christie. Novel horor ini dibuka dengan perkenalan tokoh, kemudian masuk ke prolog. Pembaca langsung disodori sebuah adegan, yang mungkin menurut penulis adalah adegan paling sadis dalam novel itu. Masuk ke bab selanjutnya, pembaca diperkenalkan pada keluarga besar Golik, yang tinggal dalam satu rumah besar di daerah Watertown, New York.

Corey, istri James Golik, sesungguhnya ingin pindah dari rumah yang terlampau padat itu karena mendambakan ketenangan. Pada lewat tengah malam, ketika sedang lembur, seringkali ia terganggu oleh suara-suara. Ia menduga itu ulah keponakannya, atau anak bungsunya, Janet, yang menderita somnambulisme (tidur berjalan). Sementara itu, putranya, Barry, seringkali memimpikan hal-hal buruk yang akan menimpa saudara kembarnya, Rose.

Corey sudah sangat ingin pindah. Namun, James tidak menggubrisnya, dan mereka berdua malah saling tidak bicara karena suatu masalah. Pikiran James sesungguhnya juga sedang kalut, karena perusahaannya telah bangkrut, dan ia belum memberitahu  istrinya. Bahkan, setiap hari ia pura-pura berangkat kerja. Tak mau menunggu James lebih lama, Corey meminta tolong temannya, Jean, untuk dicarikan rumah. Akhirnya, Jean mempertemukannya dengan McNoir, yang menawarkan An Hammer pada Corey. Rumah itu terletak di ujung jalan Carol Pl, hampir dekat hutan, di daerah Boonville, hanya satu jam lebih dari Watertown. Corey membeli rumah itu dengan uang simpanannya, tanpa meminta persetujuan James.

“Atapnya yang tinggi dan banyak jendela yang mengelilingi… Hanya dua lantai, bergaya Victoria klasik. Namun sekilas mirip juga dengan rumah bergaya Tudor dengan halaman yang lumayan luas…” – halaman 108
“Pagar yang mengelilingi rumah mendapatkan sentuhan ukiran yang khas dari Kerajaan Inggris. Sementara, rumah itu memiliki bentuk jendela dan pintu yang khas dari Prancis.” – halaman 104
Mungkin gambar rumah ini bisa mewakili An Hammer, meski tidak terlalu mirip dengan bayangan saya.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/eb/NewtonMA_HouseAt203IslingtonRoad.jpg/220px-NewtonMA_HouseAt203IslingtonRoad.jpg
Ada satu lagi keistimewaan rumah itu: memiliki danau di halaman belakangnya! Anak-anak keluarga Golik senang bukan main mengetahui hal ini, terlebih si kembar Barry dan Rose. Namun kesenangan mereka dibayangi oleh kenangan-kenangan mengerikan tentang masa lalu rumah itu. Janet, yang memilih kamar paling luas di rumah itu, menemukan kamar rahasia di bawah tanah. Semenjak itu, ia memiliki teman baru, seorang bocah bernama Dalal, yang hanya bisa dilihat olehnya. Petunjuk demi petunjuk mulai terkuak oleh Eliana, si putri sulung. Perkenalannya dengan seorang pemuda lokal, Dave, membuatnya mengetahui cerita tentang kisah bunuh diri dan pembunuhan tragis satu keluarga pemilik awal An Hammer.

Juga suara tengah malam yang sering terdengar oleh Eliana.
Dug. Dug. Dug.
Kemudian, terjadilah peristiwa yang membahayakan nyawa Rose, yang bermula dari permainan papan Ouija.
Rose kerasukan suatu roh jahat, dan sejak itu ia berubah menjadi makin aneh (sebelumnya, ia adalah gadis yang misterius). Seringkali ia melakukan perbuatan yang membahayakan nyawanya sendiri. Tingkahnya ini membuat Corey kelabakan, dan mulai percaya akan cerita hantu penghuni An Hammer. Di sisi lain, James menganggap Rose hanya bertingkah, dan tak memercayai cerita hantu. Ditambah dengan rasa frustasinya karena tak kunjung mendapat pekerjaan, James kerapkali bertengkar dengan Corey. Bahkan, ia menyekap Rose agar gadis itu tak menyakiti diri sendiri. Puncaknya, seperti kesetanan, James membakar putrinya sendiri. Kejadian mengerikan itu telah dimimpikan oleh Barry sebelumnya. Apakah ia sanggup menyelamatkan kembarannya dan keluarganya, sementara dirinya sendiri dihantui?

bloggerwidgets