Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

10 October 2017

[Resensi A HEAD FULL OF GHOSTS] Kerasukan, Penyakit Mental, atau yang Lain?

A Head Full of Ghosts | Paul Tremblay
Penerjemah: Reni Indardini
Nourabooks | Maret 2017 | 400 hlm
Rp 74.000,00
978-602-385-253-6

*buku ini adalah salah satu hadiah kuis ulang tahun Mizan yang ke-34
** resensi ini pernah nongol di IG saya, kali ini saya tambahkan hal-hal yang menurut saya penting tapi kepsyen IG tidak cukup menampungnya 

Lima belas tahun yang lalu. Merry delapan tahun, Marjorie empat belas tahun. Merry tidak paham ketika ibu mereka yang atheis bilang bahwa Marjorie sedang "sakit", dan membawanya secara berkala ke psikiater. Sementara itu, ayah mereka baru kena PHK dan sejak itu jadi gampang berubah-ubah suasana hatinya. Sang ayah lalu bergabung dengan suatu gereja dan menjalin kedekatan dengan Bapa Wanderly. Di keyakinan sang ayah, Marjorie "kerasukan roh jahat". Oleh karena itu, ia berkeras mempertemukannya dengan Bapa Wanderly, alih-alih mengantarkannya konsultasi ke psikiater langganannya. Maka dari itu, timbullah perselisihan antara sang ibu dan sang ayah. 

Jadi, Marjorie benar-benar kerasukan atau sakit mental? 

Memang, sih, Merry sering mendapati kakaknya melakukan hal-hal aneh. Mulai dari menceritakan kisah-kisah horor tentang molasses dan "yang tumbuh", menyelinap ke kamar Merry di malam hari, merusak tembok kamarnya sendiri, membuat luka-luka di tubuhnya.... Sampai orang-orang dewasa yakin bahwa ia kerasukan dan pada akhirnya sepakat melakukan eksorsisme. Bapa Wanderly mengenalkan kisah kerasukan Marjorie itu pada kru film dokumenter, yang lalu menjadikan keluarga itu sebagai tokoh reality show berjudul The Possession. Sang ibu awalnya tak menyetujui eksorsisme dan syuting film itu, tapi akhirnya setuju karena hanya dengan itulah keluarga yang sedang bangkrut itu bisa mendapat banyak uang dalam waktu singkat.

Lima belas tahun kemudian, Merry bersedia diwawancarai oleh Rachel tentang kisah kakaknya. Dari situ, apa yang sebenarnya terjadi di antara proses syuting episode terakhir The Possession dengan peristiwa tragis tewasnya keluarga itu--kecuali Merry--terungkap.

***
Kau yakin, Stephen King? Menurutku dia melebih-lebihkan. Aku terus membaca buku ini sampai akhir, awalnya karena berniat menegasikan testimoni itu. Bagian awal memang terasa datar, meski ada ketegangan-ketegangan minor--misalnya adegan Marjorie menyelinap ke kamar Merry (mungkin akan lebih menegangkan kalau aku menonton versi filmnya--kalaupun bakal difilmkan). Namun sejak hari eksorsisme Marjorie, cerita memang jadi menarik dan menegangkan. Bahkan aku mendapat satu adegan mengerikan (yang kuharapkan telah kudapat sejak awal, terima kasih, Paul), yaitu saat eksorsisme berlangsung, Marjorie menggigit tangan Bapa Gavin sampai kewer-kewer dan akhirnya cuil. Deskripsinya cukup membuat aku ngilu. 

Ini kisah tentang kakak-beradik. Hubungan antartokoh yang dieksplorasi paling dalam oleh penulis adalah hubungan antara Merry dan Marjorie. Meski sering kesal terhadap Marjorie, Merry tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya mengidolakan kakaknya. Mereka berdua punya kebiasaan unik, yaitu menciptakan cerita-cerita sampingan, misalnya dari buku cerita bergambar favorit Merry, Cars and Trucks and Things That Go karya Richard Scarry. Mereka akan menggambar coretan-coretan kisah mereka sendiri di bagian-bagian yang kosong pada halaman buku. Hm, sebenarnya yang gemar menciptakan cerita adalah Marjorie, sih. Tapi kalau tak ada Merry yang amat menggemari cerita-cerita karangan kakaknya, cerita Marjorie itu tak akan hidup. 

Nah, ada dua cerita karangan Marjorie yang paling berkesan, yaitu tentang "yang tumbuh"--seperti pohon kacang dalam ceria Jack dan Kacang Ajaib yang tumbuh dengan cepat menjadi raksasa dan menerjang apa saja saat tumbuh, termasuk menyebabkan terbunuhnya ibu mereka. Cerita yang kedua adalah tentang bencana banjir molasses--sirup gula warna cokelat gelap nan kental dan lengket. Cerita karangan Marjorie ini tidak benar-benar karangan, karena memang benar-benar pernah terjadi, yaitu di Boston pada tahun 1919. 

Kukira ini akan jadi kisah "kakak-beradik melawan dunia."; untuk meloloskan diri dari ayah dan ibu mereka yang sering tidak cocok dan masing-masing punya kegelisahan dalam kepala mereka. Juga dari Bapa Wanderly, kru film, psikiater.... 

Makin lama, perilaku tokoh-tokoh dalam novel ini jadi membingungkan. Pertama, Marjorie. Apakah ia memang berpura-pura kerasukan, atau memang menderita penyakit mental, atau ia berpura-pura bahwa ia pura-pura kerasukan karena ia memang kerasukan? Kedua, sang ayah. Suasana hatinya sering berubah-ubah, ada yang hingga taraf aku mengira bahwa sebenarnya yang gila bukan Marjorie, melainkan ayahnya. Namun, perilaku mereka inilah yang menarik. Mereka menstimulasi rasa penasaranku sehingga aku mulai berspekulasi....
Dalam novel ini, aku menangkap adanya isu pertentangan antara ilmu pengetahuan dan takhayul (diwujudkan dalam pertentangan pihak ibu dan pihak ayah). Keyakinan bahwa Marjorie kerasukan roh jahat mungkin menghalangi anak itu mendapatkan perawatan medis yang benar dan hal ini bisa berakibat fatal (jika sesungguhnya tingkah anehnya itu merupakan gejala psikosis alih-alih "kerasukan"). Dugaan ini tak hanya dilontarkan olehku, ternyata (kalau penasaran, coba deh, baca ini).

Bagian favoritku adalah artikel ulasan reality show The Possession dari blog Karen Brissette, yang diletakkan di tiap awal bagian. Ah, Karen Brissette ini nama yang Paul pinjam dari orang sungguhan. Di sini, Paul mewawancarai Karen yang sungguhan. Ngomong-ngomong, novel ini terdiri dari tiga bagian. Bagian Satu: Rachel memulai wawancara dengan Merry di masa sekarang. Lalu cerita Merry membawa kita ke masa lalu, saat dia masih delapan tahun dan kakaknya, Marjorie 14 tahun. Bagian dua: Merry menceritakan proses syuting The Possession sampai proses eksorsisme oleh Bapa Wanderly (dibantu Bapa Gavin) terhadap Marjorie. Bagian tiga: Merry menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di antara episode terakhir The Possession (Marjorie melompat dari balkon) sampai kemudian ayah-ibu-Marjorie mati di dalam rumah mereka. Karen sangat kritis dalam mengulas tayangan itu, terlebih terhadap unsur-unsur misoginisme yang ditampilkan. Di dunia nyata masa kini pun masih banyak unsur misoginis dalam tayangan/pemberitaan di berbagai media.

Novel ini tidak terlalu menakutkan, sih, tapi bagian akhirnya membingungkan dan membuatku berpikir. Jadi, Marjorie benar-benar berpura-pura sakit, atau memang dia "sakit" (dugaanku sih, skizofrenia) dan pengakuannya pada Merry adalah bagian dari ketidakwarasannya, jadi tak bisa sepenuhnya dipercaya, atau dia memang sakit dan sekaligus berpura-pura untuk membuatnya hiperbolis dan dramatis? Atau, malah jangan-jangan Merry bukanlah narator yang bisa diandalkan seperti ekspektasiku semula? Aku jadi ingat tokoh utama dalam The Girl on the Train.  Twist-nya tidak meledak-ledak, tapi bikin aku terdiam. Bingung. Agak merinding. Bukan karena iblis atau roh jahat, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan.... Apa yang terjadi sebenarnya? Halaman tanya-jawab pembaca dengan Paul Tremblay di laman Goodreads ini sungguh menarik, beberapa mewakili pertanyaanku.[]

30 September 2017

[Resensi THE PRAGUE CEMETERY] Penyebaran Berita Palsu di Abad Ke-19 dan Awal Abad Ke-20



Judul: The Prague Cemetery
Penulis: Umberto Eco
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penyunting: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: viii + 616 halaman
ISBN: 978-602-8811-98-9

Buku “Terlama Tak Kunjung Dibaca sejak Dibeli”

Menjadi tsundoku itu ibarat jatuh cinta padamu. Aku tak sadar, tahu-tahu dadaku sudah berlubang dan hatiku jatuh di genggamanmu. Eh, malah curhat. Salah satu akibat menjadi tsundoku adalah daftar tunggu buku yang dibaca jadi makin panjang dan terus memanjang. The Prague Cemetery ini adalah salah satu buku yang menjadi korban daftar tunggu yang terus memanjang itu. Di rak buku saya, ia memegang rekor “terlama tak kunjung dibaca sejak dibeli”. Ia saya adopsi dari Togamas Mal Galeria (ya, ampun, sampai Togamas yang di situ sudah tak ada lagi sekarang) pada tahun 2013, dan baru saya baca tahun 2017. Sungguh kasihan buku ini, ia mungkin terlalu lelah menunggu saya baca sampai kertasnya ditumbuhi bercak-bercak kuning.

The Prague Cemetery merupakan kumpulan catatan harian Simonini, yang ditulis sebagai bagian dari terapi untuk mengingat apa yang telah ia alami, karena ia menderita penyakit mental tertentu (yang sebaiknya tidak saya sebutkan karena akan menjadi bocoran). Catatan harian itu kadang dibalas oleh Dalla Piccola, dengan tulisan yang ditujukan pada Simonini sebagai upaya untuk mengingatkannya akan hal-hal buruk yang telah ia lakukan di masa lalu, tapi ia lupa, yaitu pembunuhan. Atau saking ia ngeri pada apa yang telah dirinya lakukan, mentalnya menghapus memori itu. Kadang, upaya Dalla Piccola ini membuat Simonini tersinggung (hlm 378).

Umberto Eco menulis buku ini dengan narasi berganti-ganti; dari sudut pandang orang pertama Simonini, ke sudut pandang orang pertama Abbe Dalla Piccola, lalu sudut pandang orang ketiga Sang Narator. Buku dibuka dengan adegan Sang Narator yang mulai mengikuti catatan harian Simonini. Catatan pertama (bab dua) bertanggal 24 Maret 1897, dibuka dengan penjelasan Simonini mengapa ia menulis catatan harian, lalu racauannya tentang siapa dia sebenarnya. Di sini ia mulai menyebut-nyebut Dalla Piccola. Lalu di catatan hari berikutnya (bab tiga), Simonini mulai mengulik ingatan masa lalunya dari tahun 1885-1886, saat ia terlibat obrolan dengan beberapa ahli psikiatri di Chez Magny (sebuah restoran di Paris). Saat itulah untuk pertama kalinya Diana Vaughan, seorang pasien penyakit mental, disebut.

Pertemuan dengan Sigmund Freud

Di Chez Magny itulah pertama kalinya Simonini berkenalan dengan “dokter Austria (atau Jerman) itu”, “seorang dokter berusia sekitar tiga puluh yang hampir pasti datang ke Magny hanya karena tidak bisa makan lebih mahal lagi dan magang pada Charcot”. “Aku” (Simonini) menuliskan nama dokter itu sebagai Froïde dengan nama depan Sigmund. Dari isi pembicaraan dan narasi yang dikisahkannya, Sigmund ini tak lain adalah Sigmund Freud (Freud memang dibaca “Froyd”, mirip dengan “Froïde”). Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1885-1886. Freud lahir pada tahun 1856 (jadi memang benar pada tahun 1885/1886 umurnya sekitar 30 tahun) dan pada bulan Oktober 1885 dia pergi ke Paris untuk magang pada Jean-Martin Charcot. (Sumber: Wikipedia) Dalam obrolan dengan “aku”, Froïde sempat menyebut nama tunangannya, Marta (Freud menikahi Martha Bernays pada tahun 1886).

“Semua hal itu racun jika dosisnya berlebihan, bahkan anggur,” kata Froïde pada halaman 56. Setelah itu dia juga menjelaskan beragam kegunaan kokain. Dari yang saya baca di Wikipedia, Freud memang pernah menerbitkan paper tentang efek kokain pada tahun 1884.

Jadi, ya, itu memang Sigmund Freud yang itu.

Dalam pembicaraan dengan Freud itu, kelihatan sekali ketaksukaan dan prasangka Simonini terhadap Freud yang Yahudi. “Pada detik ini kukira, aku sudah tertarik dalam berbagai rencana orang Yahudi dan ambisi ras itu agar putra-putra mereka menjadi dokter dan ahli farmasi dengan tujuan mengontrol tubuh maupun pikiran orang Kristen.” (hlm. 62)

Anti-Semitisme yang tertanam dalam benak Simonini ini tak bisa dipungkiri adalah warisan dari kakeknya, seperti yang ia ceritakan di bab selanjutnya, yang mundur ke tahun 1830-1855. Di masa kecil dan remajanya di Turin itulah, kakeknya menanamkan kebencian terhadap orang Yahudi.

Yang Ada di Balik Layar

Di bab-bab selanjutnya, catatan harian Simonini, tulisan Abbé Dalla Piccola, dan narasi dari Sang Narator, mengisahkan bagaimana Simonini mulai bekerja pada Notaio Rebaudengo, seorang notaris merangkap pembuat dokumen palsu. Ironis sekali bagaimana ia mengatakan bahwa profesinya yang penuh kebohongan itu didasarkan pada kepercayaan dengan klien. Belakangan, Simonini membuka jasa pembuatan dokumen palsunya sendiri.
“Jika aku mulai mencemaskan apakah klien itu mungkin berbohong, aku tidak lagi punya profesi ini, yang didasarkan pada kepercayaan.” (Rebaudengo, hlm. 123)
Dalam sejarah Eropa abad ke-19, Simonini memiliki peran penting sebagai konseptor; sosok yang berada di belakang layar pada beberapa peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi (penyatuan Italia, perang Franco-Prussia, Paris Commune, peristiwa Dreyfus (Sumber: Wawancara dengan Umberto Eco). Ini mengingatkan saya akan Pak Tua si tokoh utama dalam The 100-year-old man who climbed the window and disappeared, yang juga terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah dunia. Selama bekerja pada Rebaudengo, Simonini bertemu banyak klien, salah satunya dengan Cavalier Bianco, orang penting di dinas rahasia pemerintahan. Bianco merekrutnya untuk membantu penangkapan para Carbonari.

Carbonari ini adalah perkumpulan rahasia yang berkembang di Italia bagian selatan sejak tahun 1700-an (tapi baru terkenal pada awal abad ke-19) (Sumber: Global Security), dan diduga mempunyai kaitan dengan Freemason Italia (Sumber: Sanfelesesociety). Mereka melakukan ritual-ritual rahasia yang merupakan campuran dari ritual Kristen dengan simbol-simbol dan referensi pagan. Para anggotanya secara umum mendukung konsep hak-hak individu yang diakui konstitusi, kebebasan berbicara dan kemerdekaan dari dominasi kolonial asing—perkumpulan ini mengusung pemikiran republikan yang menggusarkan pemerintahan konservatif Eropa di zaman itu (pemerintahan monarki). (Sumber: Global Security)

Setelah keberhasilannya itu, kariernya menanjak sebagai agen rahasia untuk dinas pemerintahan, membuat dokumen dan laporan palsu hasil karangannya sendiri untuk memojokkan pihak-pihak tertentu, sembari menjalankan rencana-rencana demi keuntungan pribadi.

Berikutnya, Simonini turut hadir dalam Ekspedisi Garibaldi (ini merupakan peristiwa sejarah betulan). Ia menyamar dalam pendukung Garibaldi, yang disebut “Seribu Garibaldi” untuk menggali informasi dan melakukan tugas dari dinas rahasia. Saat itulah ia melakukan kontak pertama dengan Alexandre Dumas, novelis terkemuka Perancis itu. Kemudian pada tahun 1861 Simonini pindah ke Paris, setelah itu ia pernah dipenjara, membunuh beberapa orang, mengadu domba beberapa pihak (Mason, komunis, pemerintah, Jesuit, Yahudi, dan apa lagi, ya?) demi keuntungan pribadi.

Sebagaimana sang tamu pada bab satu mengintip Simonini sedang menulis catatan hariannya, saya mengikuti kisah hidup lelaki itu dan saya pikir telah mengenalnya dengan cukup baik setelah 600+ halaman. Simonini adalah orang yang cerdas, cerdik, dan licik; ia tak segan melakukan kebusukan demi mencapai keuntungan. Ia menggagas ide-ide seperti menciptakan malapetaka dalam pelayaran Nievo dari Palermo ke Turin demi melenyapkan buku-buku keuangan bersama Nievo (hlm. 210-211).

“The Protocols”

"Jika emas adalah kekuatan pertama di dunia ini, yang kedua adalah pers. Kita harus mengambil alih kepemimpinan semua surat kabar di setiap negeri." (Suara Ketigabelas di Kuburan Praha, hlm. 292)
Membaca novel ini seperti membaca sejarah Eropa abad ke-19 dengan cara yang seru. Sejarah yang penuh konspirasi, penipuan, pembajakan tulisan, adu-domba… Betapa novel ini menunjukkan berkali-kali bahwa tulisan sungguh punya kekuatan besar untuk menimbulkan kebencian terhadap sesuatu; dua di antaranya yang paling menggelegar adalah terhadap ras Yahudi dan terhadap Freemasonry.

The Protocols of The Elder of Zion, atau yang sering disebut The Protocols, yang merupakan teks anti-Semitisme yang mendeskripsikan konspirasi gelap para rabi Yahudi pada suatu malam di sebuah kuburan di Praha. Dalam pertemuan itu mereka berencana menguasai dunia. Di bab enam Simonini menceritakan bagaimana awalnya tercetus ide untuk menuliskan laporan itu. Kemudian, bagaimana dia menjiplak beberapa bagian dari novel karya Maurice Joly. Ironisnya, novel Joly itu sendiri adalah plagiarisme dari novel Les Mystères du Peuple karya Eugène Sue. [The Protocols]

The Protocols yang diterbitkan tanpa nama penulis tercantum itu kemudian menjadi terkenal dan menyebabkan meluasnya anti-Semitisme di Eropa. Adegan kuburan Praha jadi sering didaur ulang oleh pengarang-pengarang lain. Maka, menjadi lucu ketika Simonini mengeluhkan pembajakan ini, karena ia sendiri pun membajak sana-sini saat menulis The Protocols.
"Ya, Tuhan, dalam sebuah dunia para pembajak, bagaimana hidup jadi mungkin?" (Simonini, hlm. 380)

Le Diable au XIXe Siècle” dan Objektivikasi Perempuan

Dalla Piccola ternyata juga melakukan hal serupa dengan yang dilakukan Simonini, yaitu penulisan dokumen palsu. Di akhir abad ke-19, ia menyuntikkan ide dalam kepala Taxil, seorang penyebar berita palsu yang sebelumnya sempat membuat geger masyarakat, untuk menulis karya yang menjelek-jelekkan Freemasonry. Pada tahun 1892 mereka mulai memanfaatkan Diana Vaughan, seorang pasien kejiwaan dr. Du Maurier. Diana meyakini bahwa dirinya adalah murid Palladian, suatu sekte Masonik yang misterius. Dalam kegilaannya, Diana sering mengocehkan berbagai ritual Palladian. Nah, cerita Diana tentang berbagai ritual inilah yang dijadikan pijakan tulisan mereka.

Mereka juga menciptakan tokoh rekaan bernama Dr. Bataille, yang seolah-olah adalah dokter yang menangani Diana. Nama “Dr. Bataille” pun mereka cantumkan sebagai penulis buku ini, yang mereka beri judul “Le Diable au XIXe Siècle: Misteri di Balik Satanisme Modern, Magnetisme Klenik, para Perantara Lucifer, Kabalah pada Akhir Abad, Sihir Rosicrucian, Kesurupan Kambuhan, para Perintis Anti-Kristus” itu (padahal yang menulis adalah Taxil).

Dalam peristiwa ini, Diana dijadikan objek untuk menyebarkan kebencian terhadap Mason sekaligus sebagai objek seksual oleh Taxil. Sebaliknya, Dalla Piccola sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan seksual terhadap Diana. Dia juga secara terang-terangan mengungkapkan kepada pembaca perasaan jijiknya terhadap perempuan, yang juga membuat saya menduga apakah ia aseksual sebagai akibat dari lingkungan dan kebiasaan hidupnya di antara para imam.
"Aku selalu menemukan lebih banyak kenikmatan pada makanan daripada seks—mungkin satu tanda yang ditinggalkan kepadaku oleh para imam." (hlm. 24)
Pikiran berhubungan seks dengan seorang perempuan sudah cukup buruk, tetapi dengan seorang perempuan gila…. (hlm. 455)
Kejijikannya terhadap perempuan makin terlihat saat ia berada dalam kondisi yang membuatnya terpaksa terlibat dalam hubungan seksual dengan Diana. Sebagai pastor, ia belum pernah berhubungan seks dengan perempuan sebelumnya, bahkan baru saat itu ia melihat perempuan telanjang. Namun kemudian saya menangkap pertanda bahwa ia takut terhadap perempuan dewasa saja, tapi tertarik terhadap anak-anak. Nah, ini membuat saya menduga, apakah ia pedofil?
Aku menahan sekuat tenaga, seperti kena serangan kejang, karena untuk kali pertama melihat seorang perempuan tanpa penutup raga. (hlm. 537)
—dan aku harus mengakui (satu situasi aneh ketika aku, seorang imam, mengaku dosa kepadamu, Kapten!) bahwa sementara aku merasakan, bukan teror, melainkan paling sedikit rasa takut di depan seorang perempuan yang sekarang matang, sulit bagiku untuk menolak rayuan dari seorang makhluk yang belum  mekar. (hlm. 536)
Di masa itu, di Eropa mulai muncul gerakan-gerakan feminisme sebagai reaksi atas ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Perempuan (masih) menjadi korban stereotip masyarakat yang patriarkal, yaitu dipandang sebagai subordinat laki-laki. Maka wajar jika Simonini dan Dalla Piccola, sebagai laki-laki yang hidup di tengah masyarakat patriarkal itu, terkesan memandang perempuan sebagai "warga kelas dua". Dalla Piccola malah terkesan misoginis, contohnya, bisa terbaca dari perkataannya berikut.
“Kami bercakap-cakap beberapa kata (aku sudah begitu terkurung selama sepuluh hari ini sehingga merasa terhibur bahkan dengan bercakap-cakap dengan seorang perempuan) dan setiap kali kutawari dia segelas absintus, aku hampir tak bisa tidak ikut minum lagi.” (hlm. 224)
(Perempuan tidak layak diajak bercakap-cakap?)

Simonini juga memiliki pandangan serupa terhadap perempuan, terlihat dari ucapannya berikut.
Aku tidak punya kepekaan seperti perempuan dan sepenuhnya mampu menyeret mayat seorang imam ke dalam gorong-gorong, tetapi pemandangan ini menggangguku. (Simonini, hlm. 358)
(Kepekaan dipandang secara negatif dan merupakan milik perempuan (saja)?)

Kekuatan Tulisan

The Protocols dan Le Diable au XIXe Siècle (The Devil in The 19th Century) merupakan dua dari entah sekian banyak tulisan propaganda dari Eropa di abad ke-19 yang benar-benar ada di dunia nyata. Umberto Eco mencoba menciptakan latar belakang terciptanya kedua dokumen itu. Eco menunjukkan betapa tulisan memiliki kekuatan sangat besar untuk menyebarkan propaganda. Meskipun kemudian Taxil telah mengakui bahwa The Devil in the 19th Century itu hoaks, dan banyak peneliti telah membuktikan kepalsuannya, banyak orang masih memercayainya sampai sekarang. The Protocols juga telah sering dibuktikan kepalsuannya. Namun tetap saja, kedua dokumen ini masih dijadikan acuan oleh pihak-pihak yang ingin membenarkan kebenciannya terhadap Mason dan orang Yahudi. Bahkan, The Protocols menjadi bagian dalam propaganda Nazi untuk membenarkan aksi persekusinya terhadap orang Yahudi. (Sumber: The Protocols)

Maka, benar sekali yang ditulis oleh Mikulpepper di artikel blognya,
"But it is easier to get people to believe than it is to renounce their beliefs, so hoaxes can have a very negative effect."

Beberapa Catatan Lain

Awalnya tidak mudah membaca buku ini, karena ada yang membingungkan saya, terkait penyakit mental Simonini dan peristiwa-peristiwa sejarah. Tapi lama-lama saya menikmatinya, salah satu faktor paling signifikan yang telah membantu saya menikmati buku ini adalah terjemahannya yang bagus. Meski begitu, ada banyak istilah dan kalimat dalam bahasa Prancis yang artinya tidak dijelaskan di narasi dan  juga tidak dilengkapi catatan kaki berisi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya, bisa saya simpulkan bahwa ini adalah perkenalan saya yang tak terlupakan dengan Umberto Eco. Ah iya, saat menyelesaikan tulisan ini, saya sedang membaca The Name of the Rose.[]

6 June 2017

[Resensi] RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI



Mari, kuperkenalkan kau pada Sungu Lembu, seorang pemuda cerdas dari Banjaran Waru yang berambisi melayangkan nyawa Watugunung, penguasa Gilingwesi. Gilingwesi telah menguasai Banjaran Waru dan prajuritnya menangkap paman sekaligus guru Sungu Lembu, Banyak Wetan, dan membunuh Nyi Banyak. Sejak meninggalkan daerah asalnya, ia telah memasuki Kotaraja Gilingwesi, namun terlalu terpukau oleh betapa majunya kota itu hingga merasa ambisinya adalah suatu kekonyolan. Sampai di Kelapa, Sungu Lembu terdampar di Rumah Dadu Nyai Manggis. Di sanalah ia bertemu dengan Raden Mandasia, salah satu pangeran Gilingwesi. Raden yang pembangkang itu memilih untuk bepergian dan melakukan beberapa pembangkangan, seperti mencuri sapi, daripada terkungkung dalam Kotaraja. Setelah mencuri sapi, ia lalu memotong-motongnya dengan keahlian dan keindahan luar biasa sebelum memanggang dan memakannya dengan kegembiraan yang mengalahkan kepuasan sehabis orgasme.

Sungu Lembu, atas desakan Nyai Manggis, akhirnya menyetujui ikut dengan Raden Mandasia ke Gerbang Agung untuk mencegah pecahnya pertempuran antara Gilingwesi dengan Gerbang Agung. Maka, dimulailah petualangan mereka.

Sepanjang perjalanan panjang menuju Gerbang Agung, banyak yang Sungu Lembu dan Raden Mandasia alami; termasuk hal-hal yang tidak biasa. Kau tak akan bisa lupa bagaimana Sungu Lembu dan Raden Mandasia terlibat insiden gara-gara kegemaran Raden Mandasia mencuri sapi. Belum lagi pengalaman mereka berlayar yang mungkin akan membuatmu terbahak-bahak. Bagaimana peliknya urusan memancing ikan bagi Sungu Lembu, dan yang lebih pelik, masalah buang hajat dan mencuci pakaian di atas kapal.

Yang paling jago memancing adalah Wimba, nakhoda kami. Pernah ia menangkap ikan golok hanya dengan umpan sobekan karung beras. Itu keterlaluan anjingnya karena aku sudah mencoba berhari-hari dengan berbagai umpan binatang laut kecil dan tak menghasilkan apa-apa. [...] Jangankan jadi awal kapal yang andal, sebagai penumpang saja aku belum cakap. (hlm. 221)
😂 😂 😂
Urusan mengeluarkan isi perut makin runyam jika kau sedang sedap-sedapnya berhajat tiba-tiba di depan ombak meninggi atau angin berubah arah. Kalau hanya basah kena air laut sih tak mengapa. Tapi, tidak sekali aku terkotori oleh kotoranku sendiri. (hlm. 222)

Barangkali Raden Mandasia lebih sial ketimbang Sungu Lembu perihal itu.

Suatu hari, Raden Mandasia mencuci pakaiannya dengan cara menonda atau mengikat pakaian dengan tali kecil dan dicemplungkan ke laut. [...] Setelah sekitar sepenanakan nasi, Raden Mandasia mengangkat pakaiannya. Wajahnya memerah melihat ada benda kuning lembek menjijikkan yang menempel di sana. Ternyata, tak lama setelah ia menonda, Jongkeng malah berhajat besar di bagian kiri depan kapal tanpa tahu ada pakaian pangeran agung sedang ditonda di belakang. (hlm. 227)
😂 😂 😂

Lalu bagaimana mereka membujuk Loki Tua untuk mengantarkan ke Gerbang Agung, yang membuat mereka terlibat dengan seorang “babi yang makan babi” (meminjam kata-kata Sungu Lembu). Kau mungkin akan terbahak lagi, menertawakan kesialan Sungu Lembu terjebak dalam pesta a la suku berkuda dari tenggara, yang menarik sekaligus mengerikan dan menjijikkan (hlm. 380-382).

Sesampai mereka ke Gerbang Agung, kau pasti akan penasaran, apakah Putri Tabassum memang semengagumkan reputasinya yang menggema ke mana-mana itu? Namun, sebelumnya kau harus menyaksikan Sungu Lembu menyamar dengan mengenakan kulit seorang kasim.

Sedemikian jauh dan penuh tantangan perjalanan yang telah mereka tempuh, kau akan sibuk menduga, apakah Raden Mandasia berhasil mencegah terjadinya pertempuran?
***
Kisah ini merupakan catatan Sungu Lembu atas petualangan yang telah ia alami. Ia mulai menulis sejak Loki Tua menyarankannya demikian.

Menulislah, agar hidupmu tak seperti hewan ternak, sekadar makan dan tidur sebelum disembelih.
(Loki Tua, hlm. 306)

Sungu Lembu mengawali kisahnya dengan insiden pascapencurian sapi, setelah itu ia mundur untuk menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Raden Mandasia. Yang berarti, mulai dari bagaimana ia bisa sampai di Rumah Dadu Nyai Manggis. Yang berarti lagi, mulai dari riwayat hidupnya semasa masih di Banjaran Waru. Sejak itu, ia menceritakan kisahnya dengan alur maju.

Meskipun kisah ini mencatut nama “Raden Mandasia” sebagai judulnya, setelah membacanya, kau akan jauh lebih mengenal Sungu Lembu ketimbang Raden Mandasia. Wajar, karena kisah ini dituturkan dari sudut pandang orang pertama Sungu Lembu. Sepanjang 450 halaman mengenal Sungu Lembu, kau akan tahu bahwa ia memiliki pandangan yang jeli. Isi pikiran Sungu Lembu, yang sering blak-blakan, akan membuatmu sering nyengir atau bahkan tertawa.

Pelajaran-pelajaran Sungu Lembu dengan Banyak Wetan, kadang berisi dialog yang menunjukkan sikap Sungu Lembu yang blak-blakan dan mengundang tawa. Namun kemudian, humor itu dengan lihai beralih jadi wejangan serius Banyak Wetan.

“[…] Setahuku beberapa raja malah tak menyandang keris sama sekali.”
“Raja jenis apa?”
“Raja yang mau lengser dan menjadi pandita.”
“Kautahu kenapa?”
“Bosan jadi raja mungkin.”
Banyak Wetan tertawa. Ia menonyorku lagi. Ia sering melakukannya justru ketika hatinya riang.
“Maksudku, kenapa ia tak membawa keris?”
“Biar duduknya enak mungkin.”
Banyak Wetan tertawa lebih keras lagi. “Ia kadang tak perlu senjata dalam pengertian sesungguhnya. Musuhnya sangat dekat, ada dalam dirinya, hawa nafsunya sendiri.”
“Paman, aku tidak paham dan aku ingin tidak mempan dibacok atau ditombak orang. Kebal itu hebat,” kataku saat itu.
(hlm. 84)

Mungkin kau akan suka dengan cara Banyak Wetan mendidik Sungu Lembu, misalnya saat ia dilatih memakan racun. Orang lain mungkin akan menganggapnya sebagai cara yang kejam, tapi tentu Banyak Wetan punya tujuan. Berkat didikan ini, Sungu Lembu mampu mengenali semua jenis racun yang ada di Pulau Padi dan dari negeri asing yang pernah masuk ke Banjaran Waru (hlm. 92). Sungu Lembu juga punya bakat istimewa: ingatan lidah. Sekali mencicipi masakan, ia bisa tahu semua rempah yang ada di dalamnya. Belakangan, bakatnya ini berguna untuk membawanya dan Raden Mandasia ke Gerbang Agung.

Sungu Lembu bisa begitu lucu, bahkan saat ia menceritakan hal yang menyedihkan. Maaf, aku tak bisa menahan tawa karena aku merasakan ada humor di balik tragedi meninggalkan Kasim U.

Air mataku menetes untuk Kasim U. Ia mati sebagai budak, tapi kulitnya akhirnya merdeka. (hlm. 361)

Ah, yang jelas, kau akan sungguh paham bahwa Sungu Lembu gemar mengumpat. Dan sungguh, ini menular kepadaku. Hati-hati, mungkin kau akan keceplosan, “Anjing!” jika ada orang yang mengganggumu saat sedang membaca kisah ini. Atau kau akan bergumam, “Ini sungguh anjing!” jika ada bagian kisah ini yang memesonamu. (Dan aku sendiri, sering terpesona, maka sering jugalah aku berkata “anjing”.)
***
Kisah petualangan ini tak hanya bisa membuatmu tertawa, tapi juga berpikir. Misalnya tentang pekerjaan para penyair yang sangat dihargai di Gilingwesi. Kerajaan itu menaruh perhatian besar terhadap sastra; mereka membayar para penyair dan menjamin hidupnya sekeluarga; penyair yang sedang bekerja tidak boleh diganggu—karena siapa tahu, “bisa-bisa syair yang hebat gagal tercipta” (hlm. 111). Sungu Lembu menertawakan ini dalam hati.

Sedemikian degilnya Watugunung sampai-sampai ia harus membayar orang untuk menyanjungnya dalam syair-syair. (hlm. 111)

Duh, seandainya di dunia nyata para penyair dihargai sebesar itu…

Dongeng kontemporer yang diracik dengan diksi yang megah namun tetap renyah dinikmati ini juga akan memperkaya (bahkan mengenalkanmu?) khazanah kosakata bahasa Indonesiamu. Banyak kata yang jarang digunakan (tapi ternyata ada) aku temukan di sini. Tak hanya itu, kisah hidup Sungu Lembu memberikan pelajaran bagiku. Lewat perkataan Bandempo terhadap Nyai Manggis:

Kalau memang mereka tak menghormatimu, aku akan memutuskan hubungan dengan mereka. Orang yang merasa lebih suci daripada yang lainnya bukanlah temanku. (Bandempo, hlm. 153)

Lewat kebijaksanaan Wulu Banyak saat membangun kapal:

Sebuah kapal memang tak boleh sempurna. Sesuatu yang sempurna tak punya hasrat lagi mencari. Sebuah perahu yang sempurna tak akan butuh lagi mencari ikan, muatan, teman, pelanggan, bahkan tanah baru. (Wulu Banyak, hlm. 208)

Lewat Sungu Lembu sendiri, yang akhirnya menyadari beberapa ketololan yang telah ia lakukan. Pertama, terkait Pong, teman sekamarnya di kapal yang terbunuh dan meninggalkan batu zamrud untuknya, padahal ia bisa dibilang hampir tidak mengenalnya.

Kami tak benar-benar saling kenal dan pada saat terakhir hidupnya ia memberikan batu permata miliknya. Betul, percakapan kami terbatas—atau malah tak ada percakapan sama sekali. Tapi, sekiranya mau, aku yakin kami pasti bisa menemukan cara bercakap-cakap. Aku cukup berbakat menguasai bahasa-bahasa baru. Aku hanya benar-benar tak pernah berusaha mengenal Pong lebih jauh. Anjing. Aku bahkan tak berusaha mengenalnya sama sekali, aku betul-betul tak peduli. (hlm. 255)

Kedua, terkait Raden Mandasia:

Semakin banyak aku mencoba mencari tahu tentang Raden Mandasia, semakin gelap saja rasanya. Mataku membasah. Raden Mandasia adalah hal paling dekat yang bisa kusebut sebagai teman dan kami ternyata saling mengenal sedikit saja. (hlm. 412)

Sungu Lembu seakan berkata padaku, “Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi,” sambil memintaku belajar dari pengalamannya: pergunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengenal orang-orang terdekatmu. Ah, iya, kisah ini juga mengingatkanku untuk bertualang sesenang mungkin selama masih muda.

Novel ini sudah cetak ulang dengan kaver baru, tapi aku lebih suka kaver yang lama, dengan latar warna langit setelah matahari menggelincir dalam lelap tapi masih menyisakan larikan cahaya dan siluet tiga orang berlari di kejauhan. Tiga orang itu tak lain adalah Sungu Lembu, Raden Mandasia, dan Loki Tua. Kaver ini menggambarkan salah satu adegan saat mereka bertiga memilih berlari melintasi gurun sambil menggendong anjing.

Buku ini jadi salah satu favoritku, juga adalah salah satu buku terbaik yang kubaca tahun ini. Ah, sayang sekali, ada beberapa halaman yang susunannya terbalik. Tidak ada kekurangan lain kutemukan dalam novel ini, kecuali bahwa bagian akhirnya terasa terlalu ringkas diceritakan. Penulis seperti terburu-buru ingin segera menuntaskan kisah ini. Meski begitu, adalah pengalaman yang sangat menyenangkan membaca kisah ini. Anjing sekali!

rating saya



identitas buku
Judul: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana
Cetakan: I, Maret 2016
Tebal: 450 halaman
ISBN: 978-979-1079-52-5
Harga: Rp 69.000,00
Buku ini bisa dipesan di @stanbuku

2 June 2017

[Resensi PERCY JACKSON'S GREEK GODS] Surat untuk Percy Terkait Dewa-dewi Olympia



Dear, Percy.

Terima kasih, kau telah mengisahkan padaku—yang buta terhadap kisah dewa-dewi Yunani—kisah mereka secara cukup terstruktur. Kau mulai dari kisah munculnya Kaos (Chaos), dewa pertama, yang kemudian disusul terciptanya Ibu Bumi (Gaea), dan sekumpulan dewa purba lain. Kemudian, Gaea dan Ouranos (Langit) mendapatkan 12 anak yang disebut Titan, terdiri dari 6 perempuan dan 6 laki-laki. Titan  menyerupai manusia, tapi jauh lebih tinggi dan kuat. Kemudian mereka punya tiga anak kembar yang buruk rupa, yaitu Cyclops, dan tiga anak kembar lagi yang disebut Para Tangan Seratus. Karena Ouranos sangat menyebalkan dan membuat Gaea marah berkali-kali, akhirnya Gaea memutuskan bahwa Ouranos sebaiknya dibunuh saja. Dari semua anak Titan-nya, Kronos, si bungsulah yang mau melakukan pembunuhan itu. Kemudian Kronos jadi raja semesta menggantikan ayahnya.

Kronos menikah dengan Rhea, dan dari rahimnya lahirlah keenam dewa-dewi generasi pertama. Kronos yang ketakutan bahwa anaknya akan menghancurkan dirinya, memilih untuk menelan mereka. Yah, Percy, kau berhasil membuatku jijik di banyak kesempatan. Pada akhirnya Zeus, si bungsu, berhasil membunuh Kronos. Di sini aku merasa déjà vu. Sejak itu, kau fokus menceritakan satu dewa/dewi di tiap bab.

O ya, aku iseng bikin silsilah para dewa-dewi itu.
Maaf, ya, kalau ada yang kurang atau keliru.
Terima kasih, Percy, kau telah menceritakan betapa ruwet dan tak bermoralnya kehidupan para dewa-dewi Olympia dengan cara yang, seolah-olah, kau sedang menceritakan kisah penuh kekonyolan. Yah, memang, ada banyak kekonyolan. Aku tak bisa melupakan begitu saja saat “Hermes bertanya-tanya jika Argus memiliki mata di telapak tangannya, dan jika begitu, apakah matanya menghitam dari memegang tongkat gadanya seharian?” (Bab Hermes hlm. 33). Atau saat monster Typhoeus memunculkan diri dan Poseidon melihatnya, lalu berkata, “Eh, pria itu gede banget.” (Bab Zeus, hlm. 34). Juga dialog konyol antara Hera dan Zeus ini:

“Kau menyukaiku,” ucapnya. “Kau tahu itu.”
“Jelas-jelas tidak,” sahutnya. “Kau bodoh, mata keranjang, jahat, dan pembohong!”
“Tepat sekali!” seru Zeus. “Itu adalah kualitas terbaikku!”
(Bab Hera, hlm. 6)

“Bagaimana caraku untuk meyakinkanmu bahwa kau cuma membuang-buang waktu saja?”
“Memang tidak bisa. Aku mencintaimu.”
Hera mendengus. “Kau mencintai apa pun yang memakai gaun.”
(Bab Hera, hlm. 7)

Para dewa-dewi itu, tak bisakah mereka hidup dengan benar?

Di antara para dewa-dewi Olympia, kebaikan merupakan sebuah komoditi yang langka dan sangat berharga.
(Bab Hestia, hlm. 21)

Yah, setidaknya ada beberapa yang bisa hidup dengan lumayan benar, misalnya Hestia, yang dengan bijaksana memutuskan tidak ingin menikah (yang adalah gagasan tidak masuk akal bagi Zeus). Hestia kemudian menjadi penjaga api perapian Olympus selamanya. Di antara para dewa, barangkali yang paling bermoral adalah Hades (yah, meskipun ia juga melakukan beberapa perselingkuhan dari Persephone), dan Hephaestus (yah, meskipun ia membalas dendam pada Hera, ibunya). Sejak masa pemerintahan Hades, Dunia Bawah mengalami perubahan besar-besaran, dalam artian positif. Tidak seperti Zeus dan Poseidon, Hades adalah dewa yang tergolong sopan dalam mengejar perempuan yang dicintainya. Tapi gara-gara nasihat sesat dari Zeus, dia malah menculik Persephone. Namun setelah itu, ia memperlakukan Persephone dengan sangat baik.

Hephaestus mengalami masa kecil yang mengerikan. Ia dibuang Hera, ibunya, begitu lahir, lewat jendela istana Olympus, karena ia teramat buruk rupa dan cacat. (Yah, ini menunjukkan betapa Hera bisa menjadi sangat tak bermoral, bahkan setelah ia menjadi Dewi Pernikahan dan Keibuan. Insiden ini juga menunjukkan bahwa para dewa-dewi secara umum terlalu mengutamakan keindahan fisik seseorang.) Ia jatuh ke laut, lalu dibesarkan oleh Thetis, yang tidak bermasalah dengan keburuk-rupaannya. Hephaestus berbakat dalam membangun dan membuat karya dan menjadi pandai besi. Kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke Olympia dan membalas dendam pada ibunya.

Kau telah membuangku karena aku jelek dan cacat, kau menjatuhkanku dari gunung. Aku ingin kau menderita karena itu, Ibuku Tersayang. Pikirkan tentang segala hal yang bisa kubuatkan untukmu kalau kau memperlakukanku dengan baik. Mungkin kau akan menyadari bahwa kau telah membuang sesuatu yang berharga. Kau tak semestinya menilai seorang dewa dari penampilannya saja.
(Hephaestus, Bab Hephaestus, hlm. 10)

Hephaestus juga termasuk sopan saat mengejar perempuan yang ia cintai, yaitu Athena, yang sebenarnya enggan berhubungan dengan pria mana pun. Aku tak akan lupa bagaimana ulah Hephaestus itu menimbulkan “insiden sapu tangan”.

Bicara tentang Athena…, yah, dia telah jadi salah satu favoritku sejak kelahirannya yang mengejutkan. Aku tak akan lupa bagaimana Dewi Perang dan Kebijaksanaan ini lahir dari kepala Zeus (dengan dibantu oleh Hephaestus yang membedah tengkorak Zeus).

Dia mulai menendang-nendang, memukul-mukul, dan menjerit-jerit di dalam tengkorak Zeus, membuat kegaduhan sebisa mungkin. (Mungkin dia memiliki banyak ruangan untuk bergerak-gerak di sana karena otak Zeus teramat kecil. Jangan bilang kepadanya aku mengatakan itu.)
(Bab Athena hlm. 3-4)

Athena punya kisah duka saat ia masih remaja. Tanpa sengaja, ia membunuh sahabat karibnya sendiri, Pallas. Oh, Zeus terlibat di kejadian tragis ini. (Nah, banyak sekali alasan untuk membenci Zeus, kan. Jangan salahkan aku, Percy.) Athena pernah terlibat adu menenun dengan Arachne, seorang manusia yang memiliki keahlian menenun luar biasa. Pada akhirnya karya mereka seri, tapi Athena mengutuk Arachne jadi laba-laba karena gadis itu memutuskan untuk bunuh diri. Athena, dengan segala kebijaksanaannya, juga pernah memenangkan perseteruan dengan Poseidon saat memperebutkan sebuah kota untuk mereka lindungi.

Dewi lain yang jadi favoritku adalah Artemis, saudari kembar Apollo. Mereka berdua sama-sama ahli memanah. Artemis memohon pada Zeus agar menjadi perawan selamanya. Ia tidak ingin menikah, apalagi punya anak, karena itu akan menghambat hasratnya untuk menjelajah dunia dan berburu hewan-hewan berbahaya. Artemis punya kekuasaan yang kontradiktif: ia Dewi Berburu sekaligus Dewi Hewan Liar. Maksudnya, ia akan melindungi para pemburu asal mereka tidak merusak alam, benar-benar memanfaatkan apa yang mereka bunuh, serta tidak membunuh secara berlebihan tanpa alasan yang jelas. Artemis punya sekelompok pengikut yang terdiri dari para perempuan yang juga tak ingin menikah. Bersama-sama mereka menjelajahi alam liar. Nahas, Artemis dua kali kehilangan sahabatnya—yang juga adalah pengikutnya, dan sejak saat itu memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan para pengikutnya.

Dari ceritamu, aku belajar bahwa para dewa-dewi ini memang gemar melakukan keajaiban, bahkan sejak kelahiran mereka. Yang paling menarik bagiku adalah kelakuan Hermes. Saat baru lahir, ia menghabiskan hari pertamanya di dunia dengan mencuri lima puluh sapi milik Apollo dan menciptakan alat musik lira dari tempurung kura-kura dan urat domba dan alat musik suling ganda yang dia beri nama syrinx. Sepertinya seru sekali menjadi dewa perjalanan dengan banyak sekali urusan seperti Hermes, termasuk saat membantu Zeus melaksanakan pekerjaan kotor.

Ah, Zeus…. Zeus memang punya hobi melakukan hal-hal tak bermoral, bahkan cenderung menjijikkan, terutama menyangkut perempuan. Kau telah merangkum dengan baik siapa itu Zeus dalam empat kalimat ini, Percy:

Pokoknya, Zeus menjadi marah dan memutuskan untuk memusnahkan seluruh ras manusia. (Bab Zeus, hlm. 13)

Apa pun itu, Zeus senang membiarkan kaum manusia kembali ke dunia, karena tanpa mereka, dia takkan memiliki gadis-gadis manusia cantik untuk dikejar.
Kau takkan bisa mengayunkan kucing di Yunani Kuno tanpa mengenai setidaknya satu mantan pacar Zeus. (Bab Zeus, hlm. 24)

Zeus sama sekali tak memiliki rasa malu dan tak pernah kehabisan kreativitas bila menyangkut merayu perempuan. (Bab Zeus, hlm. 25)

Dewa-dewi yang lain adalah Demeter—sang Dewi Tanaman, Persephone—putri Demeter yang manja, Hera—yang tak ragu membasmi para selingkuhan Zeus serta anak-anak mereka, Poseidon—sang Dewa Laut yang berakhir jadi tukang batu, Aphrodite—sang Dewi Cinta dan Kecantikan yang menimbulkan banyak bencana, Ares—sang Dewa Perang yang suka adegan berdarah-darah tapi pengecut, Apollo—sang Dewa Musik dan Puisi yang memutuskan melajang agar bisa berkencan dengan banyak perempuan, dan Dionysius—sang Dewa Anggur yang memiliki kekuasaan melebihi perkiraan orang.
***
Aku suka gaya berceritamu, Percy. Kau sepertinya berbakat dalam hal ini. Kau menceritakannya dengan bahasa yang mengalir dan seru. Kau juga suka bercanda, ya? Kau sering bikin aku tertawa. Salah satu trik humormu adalah kau seenaknya membawa hal-hal kekinian ke konteks zaman para dewa-dewi Yunani.

Apollo tak suka itu. Dia baru mempunyai lima lagu urutan pertama di tangga lagu Billboard. Dia tak ingin ada sosok satyr bodoh menghias sampul majalah Rolling Stone alih-alih dirinya.
(Bab Apollo, hlm. 28)

Meski guyonanmu sering garing juga, sih, seperti yang kau katakan di bab “Pengantar” hlm. 2:

Aku hanya berharap aku tidak akan memancing amarah mereka sampai-sampai mereka menghanguskanku sebelum aku—
AAAAAHHHHHHHHHH!
Hanya bercanda. Masih di sini.

Kadang juga candaanmu terlalu ofensif, jadi aku tak bisa tertawa. Maaf ya, Percy. Tapi kau kadang bisa menjadi begitu bijaksana dan itu membuatku terkesan.

Kalau kau diserang seorang bajingan, itu tak pernah karena kesalahanmu. Beritahukan kepada orang lain. (Bab Artemis hlm. 34)

Memang, dia adalah Dewi Cinta, tapi sebetulnya antara cinta dan kebencian tak jauh berbeda. Keduanya lepas kendali dengan mudahnya, dan salah satu berpaling menghadap lawannya. (Bab Artemis, hlm. 44)

Ah, iya, kadang kau agak tidak logis, Percy. Misalnya, dalam kisah penghukuman Hera terhadap Semele, salah satu selingkuhan Zeus. Dengan lihai Hera membuat Zeus menampakkan diri dalam wujud asli dewa sehingga membuat Semele musnah. Nah, tapi di Bab Zeus hlm. 29, kau ceritakan bahwa Zeus mewujudkan diri jadi dewa di depan Europa (sama seperti Semele, Europa juga seorang manusia). Tapi kok, Europa tidak mati?

Kemudian juga dalam kisah Demeter.

Dan setelah sepuluh hari berada di jalanan, pakaian kotornya mulai menumbuhkan berbagai kapang dan jamur yang bahkan tak dikenali oleh Dewi Tanaman sendiri.(Bab Persephone, hlm. 25)

Percy, tidakkah kau tahu bahwa jamur itu bukan tanaman?

O ya, ceritamu juga jadi lebih menyenangkan untuk kubaca berkat ilustrasi karya John Rocco. Sayangnya, di versi digital bukumu ini beberapa kali terjadi kasus satu kalimat terulang dua kali di halaman yang sama. Kau memang mengulang kalimat itu, atau ini bagian dari kesalahan proses digitalisasi? Sepertinya yang kedua, sih. Itu cukup mengganggu, btw.

Ini pertama kali aku membaca karya Rick Riordan, dan yah, kau telah memberiku kesan yang cukup baik, Percy. Mungkin aku akan baca juga bukumu yang lain.

Salam hangat,


Frida
(Manusia biasa)

identitas buku

Penulis: Rick Riordan
Ilustrasi oleh: John Rocco
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penerbit: Mizan Fantasi (Noura Books)
ISBN: 978-602-0989-88-4
(versi digital, baca via iJak)
Rating saya:


bloggerwidgets