Showing posts with label mizan fantasi. Show all posts
Showing posts with label mizan fantasi. Show all posts

2 June 2017

[Resensi PERCY JACKSON'S GREEK GODS] Surat untuk Percy Terkait Dewa-dewi Olympia



Dear, Percy.

Terima kasih, kau telah mengisahkan padaku—yang buta terhadap kisah dewa-dewi Yunani—kisah mereka secara cukup terstruktur. Kau mulai dari kisah munculnya Kaos (Chaos), dewa pertama, yang kemudian disusul terciptanya Ibu Bumi (Gaea), dan sekumpulan dewa purba lain. Kemudian, Gaea dan Ouranos (Langit) mendapatkan 12 anak yang disebut Titan, terdiri dari 6 perempuan dan 6 laki-laki. Titan  menyerupai manusia, tapi jauh lebih tinggi dan kuat. Kemudian mereka punya tiga anak kembar yang buruk rupa, yaitu Cyclops, dan tiga anak kembar lagi yang disebut Para Tangan Seratus. Karena Ouranos sangat menyebalkan dan membuat Gaea marah berkali-kali, akhirnya Gaea memutuskan bahwa Ouranos sebaiknya dibunuh saja. Dari semua anak Titan-nya, Kronos, si bungsulah yang mau melakukan pembunuhan itu. Kemudian Kronos jadi raja semesta menggantikan ayahnya.

Kronos menikah dengan Rhea, dan dari rahimnya lahirlah keenam dewa-dewi generasi pertama. Kronos yang ketakutan bahwa anaknya akan menghancurkan dirinya, memilih untuk menelan mereka. Yah, Percy, kau berhasil membuatku jijik di banyak kesempatan. Pada akhirnya Zeus, si bungsu, berhasil membunuh Kronos. Di sini aku merasa déjà vu. Sejak itu, kau fokus menceritakan satu dewa/dewi di tiap bab.

O ya, aku iseng bikin silsilah para dewa-dewi itu.
Maaf, ya, kalau ada yang kurang atau keliru.
Terima kasih, Percy, kau telah menceritakan betapa ruwet dan tak bermoralnya kehidupan para dewa-dewi Olympia dengan cara yang, seolah-olah, kau sedang menceritakan kisah penuh kekonyolan. Yah, memang, ada banyak kekonyolan. Aku tak bisa melupakan begitu saja saat “Hermes bertanya-tanya jika Argus memiliki mata di telapak tangannya, dan jika begitu, apakah matanya menghitam dari memegang tongkat gadanya seharian?” (Bab Hermes hlm. 33). Atau saat monster Typhoeus memunculkan diri dan Poseidon melihatnya, lalu berkata, “Eh, pria itu gede banget.” (Bab Zeus, hlm. 34). Juga dialog konyol antara Hera dan Zeus ini:

“Kau menyukaiku,” ucapnya. “Kau tahu itu.”
“Jelas-jelas tidak,” sahutnya. “Kau bodoh, mata keranjang, jahat, dan pembohong!”
“Tepat sekali!” seru Zeus. “Itu adalah kualitas terbaikku!”
(Bab Hera, hlm. 6)

“Bagaimana caraku untuk meyakinkanmu bahwa kau cuma membuang-buang waktu saja?”
“Memang tidak bisa. Aku mencintaimu.”
Hera mendengus. “Kau mencintai apa pun yang memakai gaun.”
(Bab Hera, hlm. 7)

Para dewa-dewi itu, tak bisakah mereka hidup dengan benar?

Di antara para dewa-dewi Olympia, kebaikan merupakan sebuah komoditi yang langka dan sangat berharga.
(Bab Hestia, hlm. 21)

Yah, setidaknya ada beberapa yang bisa hidup dengan lumayan benar, misalnya Hestia, yang dengan bijaksana memutuskan tidak ingin menikah (yang adalah gagasan tidak masuk akal bagi Zeus). Hestia kemudian menjadi penjaga api perapian Olympus selamanya. Di antara para dewa, barangkali yang paling bermoral adalah Hades (yah, meskipun ia juga melakukan beberapa perselingkuhan dari Persephone), dan Hephaestus (yah, meskipun ia membalas dendam pada Hera, ibunya). Sejak masa pemerintahan Hades, Dunia Bawah mengalami perubahan besar-besaran, dalam artian positif. Tidak seperti Zeus dan Poseidon, Hades adalah dewa yang tergolong sopan dalam mengejar perempuan yang dicintainya. Tapi gara-gara nasihat sesat dari Zeus, dia malah menculik Persephone. Namun setelah itu, ia memperlakukan Persephone dengan sangat baik.

Hephaestus mengalami masa kecil yang mengerikan. Ia dibuang Hera, ibunya, begitu lahir, lewat jendela istana Olympus, karena ia teramat buruk rupa dan cacat. (Yah, ini menunjukkan betapa Hera bisa menjadi sangat tak bermoral, bahkan setelah ia menjadi Dewi Pernikahan dan Keibuan. Insiden ini juga menunjukkan bahwa para dewa-dewi secara umum terlalu mengutamakan keindahan fisik seseorang.) Ia jatuh ke laut, lalu dibesarkan oleh Thetis, yang tidak bermasalah dengan keburuk-rupaannya. Hephaestus berbakat dalam membangun dan membuat karya dan menjadi pandai besi. Kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke Olympia dan membalas dendam pada ibunya.

Kau telah membuangku karena aku jelek dan cacat, kau menjatuhkanku dari gunung. Aku ingin kau menderita karena itu, Ibuku Tersayang. Pikirkan tentang segala hal yang bisa kubuatkan untukmu kalau kau memperlakukanku dengan baik. Mungkin kau akan menyadari bahwa kau telah membuang sesuatu yang berharga. Kau tak semestinya menilai seorang dewa dari penampilannya saja.
(Hephaestus, Bab Hephaestus, hlm. 10)

Hephaestus juga termasuk sopan saat mengejar perempuan yang ia cintai, yaitu Athena, yang sebenarnya enggan berhubungan dengan pria mana pun. Aku tak akan lupa bagaimana ulah Hephaestus itu menimbulkan “insiden sapu tangan”.

Bicara tentang Athena…, yah, dia telah jadi salah satu favoritku sejak kelahirannya yang mengejutkan. Aku tak akan lupa bagaimana Dewi Perang dan Kebijaksanaan ini lahir dari kepala Zeus (dengan dibantu oleh Hephaestus yang membedah tengkorak Zeus).

Dia mulai menendang-nendang, memukul-mukul, dan menjerit-jerit di dalam tengkorak Zeus, membuat kegaduhan sebisa mungkin. (Mungkin dia memiliki banyak ruangan untuk bergerak-gerak di sana karena otak Zeus teramat kecil. Jangan bilang kepadanya aku mengatakan itu.)
(Bab Athena hlm. 3-4)

Athena punya kisah duka saat ia masih remaja. Tanpa sengaja, ia membunuh sahabat karibnya sendiri, Pallas. Oh, Zeus terlibat di kejadian tragis ini. (Nah, banyak sekali alasan untuk membenci Zeus, kan. Jangan salahkan aku, Percy.) Athena pernah terlibat adu menenun dengan Arachne, seorang manusia yang memiliki keahlian menenun luar biasa. Pada akhirnya karya mereka seri, tapi Athena mengutuk Arachne jadi laba-laba karena gadis itu memutuskan untuk bunuh diri. Athena, dengan segala kebijaksanaannya, juga pernah memenangkan perseteruan dengan Poseidon saat memperebutkan sebuah kota untuk mereka lindungi.

Dewi lain yang jadi favoritku adalah Artemis, saudari kembar Apollo. Mereka berdua sama-sama ahli memanah. Artemis memohon pada Zeus agar menjadi perawan selamanya. Ia tidak ingin menikah, apalagi punya anak, karena itu akan menghambat hasratnya untuk menjelajah dunia dan berburu hewan-hewan berbahaya. Artemis punya kekuasaan yang kontradiktif: ia Dewi Berburu sekaligus Dewi Hewan Liar. Maksudnya, ia akan melindungi para pemburu asal mereka tidak merusak alam, benar-benar memanfaatkan apa yang mereka bunuh, serta tidak membunuh secara berlebihan tanpa alasan yang jelas. Artemis punya sekelompok pengikut yang terdiri dari para perempuan yang juga tak ingin menikah. Bersama-sama mereka menjelajahi alam liar. Nahas, Artemis dua kali kehilangan sahabatnya—yang juga adalah pengikutnya, dan sejak saat itu memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan para pengikutnya.

Dari ceritamu, aku belajar bahwa para dewa-dewi ini memang gemar melakukan keajaiban, bahkan sejak kelahiran mereka. Yang paling menarik bagiku adalah kelakuan Hermes. Saat baru lahir, ia menghabiskan hari pertamanya di dunia dengan mencuri lima puluh sapi milik Apollo dan menciptakan alat musik lira dari tempurung kura-kura dan urat domba dan alat musik suling ganda yang dia beri nama syrinx. Sepertinya seru sekali menjadi dewa perjalanan dengan banyak sekali urusan seperti Hermes, termasuk saat membantu Zeus melaksanakan pekerjaan kotor.

Ah, Zeus…. Zeus memang punya hobi melakukan hal-hal tak bermoral, bahkan cenderung menjijikkan, terutama menyangkut perempuan. Kau telah merangkum dengan baik siapa itu Zeus dalam empat kalimat ini, Percy:

Pokoknya, Zeus menjadi marah dan memutuskan untuk memusnahkan seluruh ras manusia. (Bab Zeus, hlm. 13)

Apa pun itu, Zeus senang membiarkan kaum manusia kembali ke dunia, karena tanpa mereka, dia takkan memiliki gadis-gadis manusia cantik untuk dikejar.
Kau takkan bisa mengayunkan kucing di Yunani Kuno tanpa mengenai setidaknya satu mantan pacar Zeus. (Bab Zeus, hlm. 24)

Zeus sama sekali tak memiliki rasa malu dan tak pernah kehabisan kreativitas bila menyangkut merayu perempuan. (Bab Zeus, hlm. 25)

Dewa-dewi yang lain adalah Demeter—sang Dewi Tanaman, Persephone—putri Demeter yang manja, Hera—yang tak ragu membasmi para selingkuhan Zeus serta anak-anak mereka, Poseidon—sang Dewa Laut yang berakhir jadi tukang batu, Aphrodite—sang Dewi Cinta dan Kecantikan yang menimbulkan banyak bencana, Ares—sang Dewa Perang yang suka adegan berdarah-darah tapi pengecut, Apollo—sang Dewa Musik dan Puisi yang memutuskan melajang agar bisa berkencan dengan banyak perempuan, dan Dionysius—sang Dewa Anggur yang memiliki kekuasaan melebihi perkiraan orang.
***
Aku suka gaya berceritamu, Percy. Kau sepertinya berbakat dalam hal ini. Kau menceritakannya dengan bahasa yang mengalir dan seru. Kau juga suka bercanda, ya? Kau sering bikin aku tertawa. Salah satu trik humormu adalah kau seenaknya membawa hal-hal kekinian ke konteks zaman para dewa-dewi Yunani.

Apollo tak suka itu. Dia baru mempunyai lima lagu urutan pertama di tangga lagu Billboard. Dia tak ingin ada sosok satyr bodoh menghias sampul majalah Rolling Stone alih-alih dirinya.
(Bab Apollo, hlm. 28)

Meski guyonanmu sering garing juga, sih, seperti yang kau katakan di bab “Pengantar” hlm. 2:

Aku hanya berharap aku tidak akan memancing amarah mereka sampai-sampai mereka menghanguskanku sebelum aku—
AAAAAHHHHHHHHHH!
Hanya bercanda. Masih di sini.

Kadang juga candaanmu terlalu ofensif, jadi aku tak bisa tertawa. Maaf ya, Percy. Tapi kau kadang bisa menjadi begitu bijaksana dan itu membuatku terkesan.

Kalau kau diserang seorang bajingan, itu tak pernah karena kesalahanmu. Beritahukan kepada orang lain. (Bab Artemis hlm. 34)

Memang, dia adalah Dewi Cinta, tapi sebetulnya antara cinta dan kebencian tak jauh berbeda. Keduanya lepas kendali dengan mudahnya, dan salah satu berpaling menghadap lawannya. (Bab Artemis, hlm. 44)

Ah, iya, kadang kau agak tidak logis, Percy. Misalnya, dalam kisah penghukuman Hera terhadap Semele, salah satu selingkuhan Zeus. Dengan lihai Hera membuat Zeus menampakkan diri dalam wujud asli dewa sehingga membuat Semele musnah. Nah, tapi di Bab Zeus hlm. 29, kau ceritakan bahwa Zeus mewujudkan diri jadi dewa di depan Europa (sama seperti Semele, Europa juga seorang manusia). Tapi kok, Europa tidak mati?

Kemudian juga dalam kisah Demeter.

Dan setelah sepuluh hari berada di jalanan, pakaian kotornya mulai menumbuhkan berbagai kapang dan jamur yang bahkan tak dikenali oleh Dewi Tanaman sendiri.(Bab Persephone, hlm. 25)

Percy, tidakkah kau tahu bahwa jamur itu bukan tanaman?

O ya, ceritamu juga jadi lebih menyenangkan untuk kubaca berkat ilustrasi karya John Rocco. Sayangnya, di versi digital bukumu ini beberapa kali terjadi kasus satu kalimat terulang dua kali di halaman yang sama. Kau memang mengulang kalimat itu, atau ini bagian dari kesalahan proses digitalisasi? Sepertinya yang kedua, sih. Itu cukup mengganggu, btw.

Ini pertama kali aku membaca karya Rick Riordan, dan yah, kau telah memberiku kesan yang cukup baik, Percy. Mungkin aku akan baca juga bukumu yang lain.

Salam hangat,


Frida
(Manusia biasa)

identitas buku

Penulis: Rick Riordan
Ilustrasi oleh: John Rocco
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penerbit: Mizan Fantasi (Noura Books)
ISBN: 978-602-0989-88-4
(versi digital, baca via iJak)
Rating saya:


21 September 2015

[Resensi] How to Speak Dragonese

Judul: How to Speak Dragonese
(Hiccup Horrendous III, #3)
Penulis: Cressida Cowell
Penerjemah: Mutia Dharma
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: II, Agustus 2010
Tebal: 263 halaman
ISBN: 978-979-433-585-7
Harga: Rp 9.000 (obral)
Rating saya: 4/5


Saya menemukan buku ini di sebuah book fair, dan langsung membelinya tanpa pikir panjang karena sampulnya yang lucu dan harganya cuma sembilan ribu. Ini pertama kalinya saya membaca buku serial How to Train Your Dragon (sebelumnya cuma menonton filmnya). Nah, karena filmnya sudah sampai sekuel kedua, lantas saya pikir (dengan lugunya) bahwa buku ini adalah kelanjutan dari film yang kedua. Ternyata (sepertinya) tidak begitu, karena:

  1. bukunya terdiri dari sebelas seri. Menurut saya, kurang realistis jika sebuah film bersekuel sampai belasan. Harry Potter saja (cuma) sampai 7, dan seri ketujuhnya dibagi dua.
  2. seingat saya (maaf kalau salah), saya pernah melihat ada adegan dalam buku ketiga ini di film Jadi, seri buku sepertinya tidak sinkron dengan seri film. Selain itu, terdapat beberapa perbedaan signifikan antara film dengan buku, seperti dilansir oleh halaman How to Train Your Dragon Wiki.

***
"Pada zaman dahulu kala, ada banyak naga...." (hal. 15)


Hiccup adalah seorang anak laki-laki suku Hooligan Berbulu bangsa Viking. Umurnya kurang dari 12 tahun, dan masih jauh dari ekspektasi ayahnya tentang gambaran 'pahlawan Viking yang kuat'. Bagi Stoick Agung, kepala suku Hooligan Berbulu, anaknya itu hanya memalukannya saja. Naga Hiccup, Toothless, pun bertubuh kecil dan tak bergigi--tak menyeramkan sekali sebagai naga. Hiccup adalah satu-satunya orang yang mengerti Bahasa Naga. Ia telah menuliskan selama hidupnya bersama Toothless, sebuah buku berisi pelajaran bagaimana berbicara Bahasa Naga.

Pada buku ketiga ini, Hiccup sedang mengikuti Program Pelatihan Bajak Laut, dengan Gobber The Belch sebagai instrukturnya. Dalam pelajaran Mendarat di Perahu Musuh, Hiccup berpartner dengan Fishlegs, bersama-sama mengendarai perahu bobrok bikinan mereka berdua, The Hopeful Puffin. Gobber menugaskan mereka untuk mendarat di perahu musuh target yang mudah, yaitu perahu nelayan dari Negeri Damai. Alih-alih mendarat di perahu nelayan, Hiccup dan Snoutlout malah mendarat di atas kapal Romawi, yang penuh dengan legiun serdadu Romawi dan naga-naga hasil curian dalam jeruji. Tampaknya mereka akan menyerang bangsa Viking! Dengan bantuan Toothless, Hiccup dan Snoutlout berhasil kabur dari orang-orang Romawi. Tapi, sayang sekali, si Prefek Ceking berhasil merebut separuh bagian buku Bagaimana Caranya Bicara Bahasa Naga. Tak hanya itu, prefek Romawi itu juga berhasil menangkap Toothless! Nah, mengapa si Prefek Ceking terlihat sangat mengincar Hiccup? Identitas sebenarnya akan terbongkar kemudian!

Mereka berhasil kembali ke Pulau Berk dengan membawa helm serdadu Romawi. Tapi kembalinya mereka dari situasi darurat malah dianggap hal yang memalukan. Poin yang menjadi fokus Gobber dan Stoick adalah, dua anak itu 'salah mendarat di kapal Romawi dan tersesat'.

"Bangsa Viking tidak pernah tersesat." (hal. 89)

Stoick dan Gobber abai terhadap kemungkinan bahwa bangsa Romawi akan menyerang mereka, entah bagaimana caranya. Stoick juga tidak percaya akan analisis Hiccup (berkat kemampuannya berbahasa Latin), bahwa orang Romawi sedang mengadu-domba suku Hooligan Berbulu dengan suku Bog-Burglar. Akhirnya Hiccup dan Fishlegs terdampar di Benteng Seram. Di sana mereka punya kesempatan untuk menyelamatkan Toothless dan diri mereka sendiri. Dan, oh, mereka bertemu dengan Camicazi, anak perempuan ahli waris suku Bog-Burglar. Bersama-sama mereka mengatur rencana untuk kabur.... Well, sebelum sepasukan naga hiu cacing menyerang!

Sumber di sini.
***

"Tetapi ukuran bukanlah segalanya [...]. Betapapun kecilnya kita, kita selalu harus memperjuangkan apa yang kita percayai. Dan maksudku bukan berjuang dengan kekuatan kepalan tangan kita atau kekuatan pedang kita [...]. Maksudku adalah kekuatan otak dan pikiran dan mimpi kita."
(Hiccup, hal. 254-5)

Buku ini diawali dan diakhiri oleh tulisan bersudut-pandang 'aku' milik Hiccup dewasa--saat dia sudah menjadi Pahlawan Viking Besar Terakhir. Ceritanya, dia sedang menyelami masa lalunya sebagai Hiccup yang kecil dan sama sekali bukan anak lelaki yang kuat. Seperti umumnya cerita anak-anak, pola cerita buku ini mengikuti pola 'kebajikan melawan kejahatan', yang diwakili oleh Hiccup melawan si Prefek Ceking. Selain itu, tokoh antagonis lain adalah Gobber dan Snoutlout, salah satu teman sepantaran Hiccup yang fisiknya kuat (Viking bangetlah!) dan sombong. 


Tokoh Hiccup merupakan simbol perlawanan terhadap konvensionalisme. Ia sangat berbeda dari orang Viking kebanyakan, sehingga dianggap 'salah'. Banyak fenomena di dunia nyata yang menggambarkan bahwa 'berbeda itu salah'. Contohnya, peristiwa yang sempat meledak saat itu, tentang PR matematika seorang anak SD yang disalahkan oleh sang guru, karena masalah perbedaan 4 x 3 dan 3 x 4. Dalam kasus Hiccup, perbedaannya itu malah menguntungkan. Ia punya otak cerdas, kreatif, dan rasional yang jarang dimiliki oleh orang-orang Viking kebanyakan. Ia bisa berbahasa Latin (bahasa orang Romawi), yang dikecam oleh ayahnya, tapi memberikan keuntungan. Ia jadi bisa mengerti pembicaraan orang Romawi tentang rencana mengadu-domba suku Hooligan Berbulu dan Bog-Burglar. Rasionalitas otak Hiccup nampak, salah satunya, ketika ia menghadapi Camicazi yang meledak-ledak.
Sumber di sini.

CAMICAZI: Ibuku bilang satu-satunya orang Hooligan yang baik cuma orang Hooligan yang sudah mati.
HICCUP: Itu lucu, karena ayahku bilang satu-satunya orang Bog-Burglar yang baik cuma orang Bog-Burglar yang sudah mati--dan yang benar-benar menghibur adalah, kalau kita nggak bersatu, dalam dua minggu, kita berdua bakal SANGAT BAIK, dan SANGAT MATI.
(hal. 154-5)

Tokoh Camicazi dan suku Bog-Burglar pada umumnya, adalah simbol dari emansipasi wanita. Mereka adalah pejuang-pejuang wanita yang kuat dan tidak kenal takut. Dan Camicazi mengklaim dirinya sebagai 'ahli melarikan diri'.
Sumber di sini.

Tokoh Stoick Agung adalah simbol orang tua yang terlalu berekspektasi tinggi terhadap anaknya, tanpa sadar bahwa 'mereka hanyalah anak-anak'. Awalnya, ia juga mengabaikan segala peringatan Hiccup akan penyerangan bangsa Romawi; bahwa sukunya dan Bog-Burglar sedang diadu domba. Sebagai kepala suku, keputusannya harus dipertimbangkan sebijaksana mungkin. Tapi, akhirnya, ia mampu memercayai Hiccup.

Tokoh naga Toothless dan Naga Nano mewakili sosok Hiccup dalam dunia naga. Kalau Toothless sangat kecil, maka Naga Nano adalah 'kecil' pangkat 10 minus 9.

Sumber: di sini.

"Satu-satunya hal yang mengesankan soal Toothless adalah betapa kecilnya ia. Si naga ompong ini hanya setengah ukuran naga-naga milik anak-anak lain." (hal. 21)
[Ngakak baca kalimat terakhir, hahaha!]

Meski suka merajuk dan terkadang sangat menyebalkan, Toothless sangat menyayangi Hiccup, terbukti dari tindakan penyelamatan yang ia lakukan di atas kapal serdadu Romawi. Saya suka membaca bagian interaksi Hiccup--Toothless. Semacam 'benci tapi cinta'. Haha. Saya ikutan sebal dengan kelakuan Toothless yang pemalas, ngambekan, dan suka seenaknya. Tapi, begitu membayangkan bentuknya yang imut, saya nggak jadi sebal lagi. (gambar animasi Toothless)

Sementara itu, Naga Nano bekerja sama secara kolektif memanfaatkan kecerdikannya untuk membantu Hiccup. Kemudian, Naga Hiu Cacing bisa dianggap mewakili bangsa Viking secara umum, atas fisiknya yang besar dan menyeramkan; 'salah satu predator paling menyeramkan di lautan' (hal. 49). Namun, segerombolan Naga Hiu Cacing bisa dikalahkan oleh Hiccup and the gang. Tokoh si Prefek Ceking menyimbolkan pengkhianatan, keculasan, dan kejahatan terselubung (terkait identitas sebenarnya, yang tidak akan saya bocorkan di sini, hehe).

***
Buku ini lumayan menyegarkan saya, yang sudah kebanyakan membaca novel agak serius/dewasa/cinta-cintaan yang memualkan. Cerita dan bahasanya khas ditujukan untuk anak-anak, tapi tidak kekanak-kanakan. Nama-nama tokoh, nama benda yang lucu (atau lebih tepatnya konyol), bikin cerita makin lucu. Ilustrasi dan coretan-coretan di dalamnya menambah keasyikan membaca. Konsep buku ini seolah-olah ditulis oleh Hiccup, seperti konsep buku Fantastic Beast and Where to Find Them karya J.K. Rowling. Selain itu, ilustrasi-ilustrasi kasarnya mirip dengan buku seri Diary of A Wimpy Kid karya Jeff Kinney (sayang, saya tidak punya bukunya dan belum pernah baca).




Alurnya bergerak cepat dan seru, sehingga sangat menyenangkan diikuti. Banyak pelajaran berharga terselip di ketiak Bertha si Pundak Lebar (hihihi), seperti 'jangan meremehkan makhluk kecil yang terlihat lemah'. Contohnya, naga nano dan Hiccup yang--kecil tapi cerdas--mampu kabur dari serdadu Romawi dan dari naga-naga hiu cacing yang mengerikan. 

"Dan tiba-tiba, aku menyadari dengan begitu jelas betapa kecilnya kita ini dibandingkan dengan lautan alam semesta. Seperti serangga yang sombong! Seperti amoeba yang sok!"
(Hiccup, hal. 254)

10 February 2015

[Resensi FOUR] His Name is FOUR



Judul Buku                     : Four: A Divergent Collection
Penulis                           : Veronica Roth
Penerjemah                   : Esti Budihabsari
Tebal                             : 288 halaman
Penerbit/cetakan            : Mizan/Cetakan I, Desember 2014
ISBN                              : 978-979-433-859-9
Harga                            : Rp 59.000,00
Rating                            :

Sumber foto di sini, diedit oleh saya.
 
Bagi para penggemar trilogi Divergent, tokoh Four bisa jadi sangat memikat. Penampilan fisik yang kuat, dengan hanya empat ketakutan. Namun, begitu salah satu ketakutan itu menyerangnya—ayahnya—ia tak mampu mengendalikan diri. Barangkali ada yang pernah bertanya-tanya, mengapa Roth dalam Divergent menggunakan sudut pandang orang pertama Tris? Mengapa bukan Four? Dalam buku ini Roth menjawabnya.
Sampai bertemu Tris dalam Divergent, kehidupan Four terbagi menjadi empat tahap perkembangan besar, yang masing-masing dituangkan Roth dalam sebuah cerita (agak) pendek. The Transfer, The Initiate, The Son, The Traitor.


  1. Tes kecakapan Tobias diawasi oleh Tori (seperti Tris), dan hasilnya aneh (seperti Tris juga).
  2. Kekejaman Marcus terhadapnya membuat Tobias sadar bahwa ia tak bisa tetap di Abnegation.
    "Apabila kau memilih Abnegation, kau tak akan bisa lari darinya." (Four, hal. 34)
  3. Keresahan Tobias pada Hari Pemilihan, bahkan sampai pada saat ia maju ke depan lima baskom, ia masih diliputi keraguan.
    "Kau adalah orang yang harus hidup dengan pilihanmu." (Tori, hal. 44)
  4. Pertama kali bertemu Eric, mereka berdua langsung tidak cocok. Di sini, Tobias bertemu dengan Amar, instruktur inisiasinya, juga dengan Zeke, yang menjadi sahabatnya. Pertama kalinya juga Tobias mendaoat nama baru: Four.
    "'Hei, Tori,' teriak Amar ke meja belakangnya. 'Kau pernah dengar orang hanya punya empat ketakutan di Ruang Ketakutannya?'
    'Terakhir yang kudengar, rekornya adalah tujuh atau delapan. Kenapa?' balas Tori.
    'Aku punya peserta pindahan di sini yang hanya punya empat ketakutan.'" (hal. 66)

  1. Four mendapatkan tato pertamanya di punggung, berupa gambar artistik simbol api Dauntless, akibat menerima tantangan dari teman-temannya.
    Sumber foto di sini, diedit oleh saya.
  2. Pertama kali Four berada dalam simulasi, dan ia sadar. Ia hanya membutuhkan waktu lima menit di dalam sana.
    "Aku dulu sepertimu. Aku bisa mengubah simulasi. Kukira aku hanya satu-satunya." (Amar, hal. 106)
  3. Amar mati setelah peristiwa Jeanine Matthews mencurigai hasil tes simulasi Four dan Amar yang abnormal.
  4. Four lulus inisiasi sebagai peringkat pertama dari seluruh peserta.


  1. Four bertemu kembali dengan seseorang yang seolah bangkit dari kematian.
    "Di hari yang paling kaubenci
    Saat wanita itu mati
    Di tempat yang pertama kali kaulompati." (hal. 153)
  2. Four mulai mencurigai keterlibatan Erudite dalam urusan Dauntless, salah satunya adalah proyek pemilihan pemimpin baru Dauntless, di mana ia menjadi salah satu calonnya.
    "Aku tak akan jadi pion, tidak bagi mereka, bagi ibuku, dan ayahku. Aku tak mau menjadi milik siapa pun, kecuali diriku sendiri." (Four, hal. 173)
  3. Ingat tato di punggung Four? Ia meminta Tori melanjutkan tato pertamanya (simbol Dauntless) menjadi rangkaian simbol-simbol semua faksi. Berkat Tori juga, ia sadar bahwa ia seorang Divergent.
  4. Pada akhirnya, Four memilih pekerjaan sebagai instruktur inisiasi sekaligus berkutat dengan komputer di ruang kendali.
 

Kisah ini terjadi setelah Tris bergabung dan menjadi peserta inisiasi Dauntless, sehingga banyak bagian sebagaimana dapat dijumpai di Divergent.
  1. Dari hasil penyelidikannya, Four mengetahui bahwa Dauntless akan melakukan sebuah serangan.
    "Mereka akan menyerang Abnegation." (Four, hal. 216)
  2. Edward ditusuk matanya. Al bunuh diri. Four menemukan bahwa Tris adalah seorang Divergent juga, sehingga ia membantu Tris menghilangkan data simulasinya.
  3. Four bertemu kedua kali dengan seorang yang bangkit dari kematian.
  4. Four mengajak Tris masuk dalam Ruang Ketakutannya, karena ia merasa gadis itu pantas mendapatkan kepercayaannya.

Dengan gaya penulisan khas Roth, kisah Four ini terkemas dengan jujur dan lugas. Gaya penceritaan orang pertamanya—seperti biasa—informatif dan tidak bawel, tapi kurang unik. Saya merasa, gaya bercerita si “aku” Four mirip dengan “aku” Tris. Atau mungkin ini hanya karena yang pertama kali saya kenal lewat Divergent adalah “aku” sebagai Tris. Tapi, anehnya, menurut saya, kisah ini akan lebih cocok jika menggunakan “aku” Four, bukan Tris. Atau malah keduanya secara berganti-ganti seperti dalam Allegiant. Jika Tris yang menjadi “aku”, maka kisah ini malah menjadi cengeng dan hanya berputar-putar di masalah percintaan Tris-Four (seperti dalam Insurgent, yang bikin saya muak). Padahal, yang saya harapkan adalah fokus Roth tetap pada masalah faksi dan distopianya, bukan malah bergeser ke masalah romansa belaka.

Yang saya suka dari gaya bercerita Roth adalah gaya humornya yang cool dan sarkastis, seperti banyak saya jumpai di Allegiant.
“Akhir-akhir ini sepertinya banyak logam yang menempel ke tubuhmu. Kau mungkin sebaiknya periksa ke dokter.” (Four pada Eric, yang tindikannya makin banyak, hal. 174)
Saya menjumpai beberapa kesalahan penulisan maupun pemilihan kata, sehingga sedikit mengganggu kenikmatan membaca. Mungkin ini tak akan terjadi jika editor bekerja sedikit lebih teliti, hehehe. Terakhir, saya menghadiahi buku ini empat bintang karena saya puas akan penyingkapan-penyingkapan yang dieksekusi Roth, terhadap hal-hal yang masih belum tersingkap di trilogi Divergent, khususnya membayar rasa penasaran akan apa yang sebenarnya dipikirkan dan dialami Four sebelum bertemu dengan Tris.



bloggerwidgets