Showing posts with label fantasi. Show all posts
Showing posts with label fantasi. Show all posts

2 June 2017

[Resensi PERCY JACKSON'S GREEK GODS] Surat untuk Percy Terkait Dewa-dewi Olympia



Dear, Percy.

Terima kasih, kau telah mengisahkan padaku—yang buta terhadap kisah dewa-dewi Yunani—kisah mereka secara cukup terstruktur. Kau mulai dari kisah munculnya Kaos (Chaos), dewa pertama, yang kemudian disusul terciptanya Ibu Bumi (Gaea), dan sekumpulan dewa purba lain. Kemudian, Gaea dan Ouranos (Langit) mendapatkan 12 anak yang disebut Titan, terdiri dari 6 perempuan dan 6 laki-laki. Titan  menyerupai manusia, tapi jauh lebih tinggi dan kuat. Kemudian mereka punya tiga anak kembar yang buruk rupa, yaitu Cyclops, dan tiga anak kembar lagi yang disebut Para Tangan Seratus. Karena Ouranos sangat menyebalkan dan membuat Gaea marah berkali-kali, akhirnya Gaea memutuskan bahwa Ouranos sebaiknya dibunuh saja. Dari semua anak Titan-nya, Kronos, si bungsulah yang mau melakukan pembunuhan itu. Kemudian Kronos jadi raja semesta menggantikan ayahnya.

Kronos menikah dengan Rhea, dan dari rahimnya lahirlah keenam dewa-dewi generasi pertama. Kronos yang ketakutan bahwa anaknya akan menghancurkan dirinya, memilih untuk menelan mereka. Yah, Percy, kau berhasil membuatku jijik di banyak kesempatan. Pada akhirnya Zeus, si bungsu, berhasil membunuh Kronos. Di sini aku merasa déjà vu. Sejak itu, kau fokus menceritakan satu dewa/dewi di tiap bab.

O ya, aku iseng bikin silsilah para dewa-dewi itu.
Maaf, ya, kalau ada yang kurang atau keliru.
Terima kasih, Percy, kau telah menceritakan betapa ruwet dan tak bermoralnya kehidupan para dewa-dewi Olympia dengan cara yang, seolah-olah, kau sedang menceritakan kisah penuh kekonyolan. Yah, memang, ada banyak kekonyolan. Aku tak bisa melupakan begitu saja saat “Hermes bertanya-tanya jika Argus memiliki mata di telapak tangannya, dan jika begitu, apakah matanya menghitam dari memegang tongkat gadanya seharian?” (Bab Hermes hlm. 33). Atau saat monster Typhoeus memunculkan diri dan Poseidon melihatnya, lalu berkata, “Eh, pria itu gede banget.” (Bab Zeus, hlm. 34). Juga dialog konyol antara Hera dan Zeus ini:

“Kau menyukaiku,” ucapnya. “Kau tahu itu.”
“Jelas-jelas tidak,” sahutnya. “Kau bodoh, mata keranjang, jahat, dan pembohong!”
“Tepat sekali!” seru Zeus. “Itu adalah kualitas terbaikku!”
(Bab Hera, hlm. 6)

“Bagaimana caraku untuk meyakinkanmu bahwa kau cuma membuang-buang waktu saja?”
“Memang tidak bisa. Aku mencintaimu.”
Hera mendengus. “Kau mencintai apa pun yang memakai gaun.”
(Bab Hera, hlm. 7)

Para dewa-dewi itu, tak bisakah mereka hidup dengan benar?

Di antara para dewa-dewi Olympia, kebaikan merupakan sebuah komoditi yang langka dan sangat berharga.
(Bab Hestia, hlm. 21)

Yah, setidaknya ada beberapa yang bisa hidup dengan lumayan benar, misalnya Hestia, yang dengan bijaksana memutuskan tidak ingin menikah (yang adalah gagasan tidak masuk akal bagi Zeus). Hestia kemudian menjadi penjaga api perapian Olympus selamanya. Di antara para dewa, barangkali yang paling bermoral adalah Hades (yah, meskipun ia juga melakukan beberapa perselingkuhan dari Persephone), dan Hephaestus (yah, meskipun ia membalas dendam pada Hera, ibunya). Sejak masa pemerintahan Hades, Dunia Bawah mengalami perubahan besar-besaran, dalam artian positif. Tidak seperti Zeus dan Poseidon, Hades adalah dewa yang tergolong sopan dalam mengejar perempuan yang dicintainya. Tapi gara-gara nasihat sesat dari Zeus, dia malah menculik Persephone. Namun setelah itu, ia memperlakukan Persephone dengan sangat baik.

Hephaestus mengalami masa kecil yang mengerikan. Ia dibuang Hera, ibunya, begitu lahir, lewat jendela istana Olympus, karena ia teramat buruk rupa dan cacat. (Yah, ini menunjukkan betapa Hera bisa menjadi sangat tak bermoral, bahkan setelah ia menjadi Dewi Pernikahan dan Keibuan. Insiden ini juga menunjukkan bahwa para dewa-dewi secara umum terlalu mengutamakan keindahan fisik seseorang.) Ia jatuh ke laut, lalu dibesarkan oleh Thetis, yang tidak bermasalah dengan keburuk-rupaannya. Hephaestus berbakat dalam membangun dan membuat karya dan menjadi pandai besi. Kemudian, ia memutuskan untuk pergi ke Olympia dan membalas dendam pada ibunya.

Kau telah membuangku karena aku jelek dan cacat, kau menjatuhkanku dari gunung. Aku ingin kau menderita karena itu, Ibuku Tersayang. Pikirkan tentang segala hal yang bisa kubuatkan untukmu kalau kau memperlakukanku dengan baik. Mungkin kau akan menyadari bahwa kau telah membuang sesuatu yang berharga. Kau tak semestinya menilai seorang dewa dari penampilannya saja.
(Hephaestus, Bab Hephaestus, hlm. 10)

Hephaestus juga termasuk sopan saat mengejar perempuan yang ia cintai, yaitu Athena, yang sebenarnya enggan berhubungan dengan pria mana pun. Aku tak akan lupa bagaimana ulah Hephaestus itu menimbulkan “insiden sapu tangan”.

Bicara tentang Athena…, yah, dia telah jadi salah satu favoritku sejak kelahirannya yang mengejutkan. Aku tak akan lupa bagaimana Dewi Perang dan Kebijaksanaan ini lahir dari kepala Zeus (dengan dibantu oleh Hephaestus yang membedah tengkorak Zeus).

Dia mulai menendang-nendang, memukul-mukul, dan menjerit-jerit di dalam tengkorak Zeus, membuat kegaduhan sebisa mungkin. (Mungkin dia memiliki banyak ruangan untuk bergerak-gerak di sana karena otak Zeus teramat kecil. Jangan bilang kepadanya aku mengatakan itu.)
(Bab Athena hlm. 3-4)

Athena punya kisah duka saat ia masih remaja. Tanpa sengaja, ia membunuh sahabat karibnya sendiri, Pallas. Oh, Zeus terlibat di kejadian tragis ini. (Nah, banyak sekali alasan untuk membenci Zeus, kan. Jangan salahkan aku, Percy.) Athena pernah terlibat adu menenun dengan Arachne, seorang manusia yang memiliki keahlian menenun luar biasa. Pada akhirnya karya mereka seri, tapi Athena mengutuk Arachne jadi laba-laba karena gadis itu memutuskan untuk bunuh diri. Athena, dengan segala kebijaksanaannya, juga pernah memenangkan perseteruan dengan Poseidon saat memperebutkan sebuah kota untuk mereka lindungi.

Dewi lain yang jadi favoritku adalah Artemis, saudari kembar Apollo. Mereka berdua sama-sama ahli memanah. Artemis memohon pada Zeus agar menjadi perawan selamanya. Ia tidak ingin menikah, apalagi punya anak, karena itu akan menghambat hasratnya untuk menjelajah dunia dan berburu hewan-hewan berbahaya. Artemis punya kekuasaan yang kontradiktif: ia Dewi Berburu sekaligus Dewi Hewan Liar. Maksudnya, ia akan melindungi para pemburu asal mereka tidak merusak alam, benar-benar memanfaatkan apa yang mereka bunuh, serta tidak membunuh secara berlebihan tanpa alasan yang jelas. Artemis punya sekelompok pengikut yang terdiri dari para perempuan yang juga tak ingin menikah. Bersama-sama mereka menjelajahi alam liar. Nahas, Artemis dua kali kehilangan sahabatnya—yang juga adalah pengikutnya, dan sejak saat itu memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan para pengikutnya.

Dari ceritamu, aku belajar bahwa para dewa-dewi ini memang gemar melakukan keajaiban, bahkan sejak kelahiran mereka. Yang paling menarik bagiku adalah kelakuan Hermes. Saat baru lahir, ia menghabiskan hari pertamanya di dunia dengan mencuri lima puluh sapi milik Apollo dan menciptakan alat musik lira dari tempurung kura-kura dan urat domba dan alat musik suling ganda yang dia beri nama syrinx. Sepertinya seru sekali menjadi dewa perjalanan dengan banyak sekali urusan seperti Hermes, termasuk saat membantu Zeus melaksanakan pekerjaan kotor.

Ah, Zeus…. Zeus memang punya hobi melakukan hal-hal tak bermoral, bahkan cenderung menjijikkan, terutama menyangkut perempuan. Kau telah merangkum dengan baik siapa itu Zeus dalam empat kalimat ini, Percy:

Pokoknya, Zeus menjadi marah dan memutuskan untuk memusnahkan seluruh ras manusia. (Bab Zeus, hlm. 13)

Apa pun itu, Zeus senang membiarkan kaum manusia kembali ke dunia, karena tanpa mereka, dia takkan memiliki gadis-gadis manusia cantik untuk dikejar.
Kau takkan bisa mengayunkan kucing di Yunani Kuno tanpa mengenai setidaknya satu mantan pacar Zeus. (Bab Zeus, hlm. 24)

Zeus sama sekali tak memiliki rasa malu dan tak pernah kehabisan kreativitas bila menyangkut merayu perempuan. (Bab Zeus, hlm. 25)

Dewa-dewi yang lain adalah Demeter—sang Dewi Tanaman, Persephone—putri Demeter yang manja, Hera—yang tak ragu membasmi para selingkuhan Zeus serta anak-anak mereka, Poseidon—sang Dewa Laut yang berakhir jadi tukang batu, Aphrodite—sang Dewi Cinta dan Kecantikan yang menimbulkan banyak bencana, Ares—sang Dewa Perang yang suka adegan berdarah-darah tapi pengecut, Apollo—sang Dewa Musik dan Puisi yang memutuskan melajang agar bisa berkencan dengan banyak perempuan, dan Dionysius—sang Dewa Anggur yang memiliki kekuasaan melebihi perkiraan orang.
***
Aku suka gaya berceritamu, Percy. Kau sepertinya berbakat dalam hal ini. Kau menceritakannya dengan bahasa yang mengalir dan seru. Kau juga suka bercanda, ya? Kau sering bikin aku tertawa. Salah satu trik humormu adalah kau seenaknya membawa hal-hal kekinian ke konteks zaman para dewa-dewi Yunani.

Apollo tak suka itu. Dia baru mempunyai lima lagu urutan pertama di tangga lagu Billboard. Dia tak ingin ada sosok satyr bodoh menghias sampul majalah Rolling Stone alih-alih dirinya.
(Bab Apollo, hlm. 28)

Meski guyonanmu sering garing juga, sih, seperti yang kau katakan di bab “Pengantar” hlm. 2:

Aku hanya berharap aku tidak akan memancing amarah mereka sampai-sampai mereka menghanguskanku sebelum aku—
AAAAAHHHHHHHHHH!
Hanya bercanda. Masih di sini.

Kadang juga candaanmu terlalu ofensif, jadi aku tak bisa tertawa. Maaf ya, Percy. Tapi kau kadang bisa menjadi begitu bijaksana dan itu membuatku terkesan.

Kalau kau diserang seorang bajingan, itu tak pernah karena kesalahanmu. Beritahukan kepada orang lain. (Bab Artemis hlm. 34)

Memang, dia adalah Dewi Cinta, tapi sebetulnya antara cinta dan kebencian tak jauh berbeda. Keduanya lepas kendali dengan mudahnya, dan salah satu berpaling menghadap lawannya. (Bab Artemis, hlm. 44)

Ah, iya, kadang kau agak tidak logis, Percy. Misalnya, dalam kisah penghukuman Hera terhadap Semele, salah satu selingkuhan Zeus. Dengan lihai Hera membuat Zeus menampakkan diri dalam wujud asli dewa sehingga membuat Semele musnah. Nah, tapi di Bab Zeus hlm. 29, kau ceritakan bahwa Zeus mewujudkan diri jadi dewa di depan Europa (sama seperti Semele, Europa juga seorang manusia). Tapi kok, Europa tidak mati?

Kemudian juga dalam kisah Demeter.

Dan setelah sepuluh hari berada di jalanan, pakaian kotornya mulai menumbuhkan berbagai kapang dan jamur yang bahkan tak dikenali oleh Dewi Tanaman sendiri.(Bab Persephone, hlm. 25)

Percy, tidakkah kau tahu bahwa jamur itu bukan tanaman?

O ya, ceritamu juga jadi lebih menyenangkan untuk kubaca berkat ilustrasi karya John Rocco. Sayangnya, di versi digital bukumu ini beberapa kali terjadi kasus satu kalimat terulang dua kali di halaman yang sama. Kau memang mengulang kalimat itu, atau ini bagian dari kesalahan proses digitalisasi? Sepertinya yang kedua, sih. Itu cukup mengganggu, btw.

Ini pertama kali aku membaca karya Rick Riordan, dan yah, kau telah memberiku kesan yang cukup baik, Percy. Mungkin aku akan baca juga bukumu yang lain.

Salam hangat,


Frida
(Manusia biasa)

identitas buku

Penulis: Rick Riordan
Ilustrasi oleh: John Rocco
Penerjemah: Nuraini Mastura
Penerbit: Mizan Fantasi (Noura Books)
ISBN: 978-602-0989-88-4
(versi digital, baca via iJak)
Rating saya:


28 May 2017

[Resensi] Gadis Penenun Mimpi dan Pria yang Melipat Kertas Terbang




“Seandainya saja ada yang bisa menyembuhkan Hatiku.” (hlm. 41)
“Aku bisa menyembuhkan Hatimu.”
“Tapi aku sudah membekukan Hatiku,” jawab si pemuda, dan dalam benaknya ia berbisik, “Dengan begini aku tak lagi merasakan sakit.”
“Kau tak sakit, tapi juga tak sembuh. Kau tak mati, tapi juga tak hidup. Apa gunanya?”
(hlm. 43)

Pria yang Melipat Kertas Terbang awalnya adalah seorang pemuda yang merasa sangat bebas dan memiliki Hati yang ringan. Namun, di perjalanan Hatinya terluka. Begitu sakit, hingga ia memutuskan agar Hatinya dibekukan saja untuk selamanya di Lembah Es. Lalu ia tinggal di sana, menghabiskan waktu dengan melipat kertas terbang, sampai sebuah suara memanggilnya. Ternyata bisikan pedihnya sampai ke langit dan suara itu menjawabnya kemudian. Ia dipilih oleh Raja Kasih untuk melakukan suatu petualangan istimewa didampingi Kol. Ibri.

Berdua, mereka melanglang ke Istana Masa Kini dan mengintip apa yang telah terjadi pada Putri Tanpa Nama hingga ia menjadi Putri Boneka. Kemudian beralih ke sebuah negeri kecil nan miskin, dan mengintip apa yang telah dialami oleh Manusia Bintang hingga ia menjadi Pangeran Landak. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Negeri Bawah Danau dan berjasa mempertemukan sang Pangeran dengan Dayang Tikus. Tanpa diduga, Raja Kasih memanggil mereka untuk memberikan tugas berikutnya bagi Kura-kura Pengelana, yang akan membawa mereka ke petualangan yang lebih menakjubkan.

Sementara itu, Dunia Mimpi terancam akan hancur; langitnya akan runtuh karena hantaman bertubi-tubi yang terus dideritanya dari jeritan emosi negatif para manusia. Dan Gadis Penenun Mimpi yang menenun mimpi di Ujung Pelangi mulai kehabisan Benang Perasaan, dan Warna Perasaan makin sulit diperoleh.
Ahem. Setahuku, Mimpi menimbulkan harapan, dan juga bisa menambal retakan langit dan memulihkannya kembali. Namun, seperti yang bisa kaulihat sendiri, Tuan, makin banyak orang kehilangan Mimpi. Nona ini—Gadis Penenun Mimpi—juga sudah sangat kewalahan menenun Mimpi untuk mereka. (Kol. Ibri, hlm. 204)
Apakah Kura-kura Pengelana, Kol. Ibri, dan Gadis Penenun MImpi akan berhasil mencegah runtuhnya langit dan musnahnya Dunia Mimpi?

buku self-published dengan promosi yang keren

Buku ini sampai di tanganmu pada bulan Februari 2017 sebagai hadiah giveaway di blog @p_ambangsari. Ternyata buku dengan cover yang cantik ini tidak terbang sendirian; ia ditemani sepucuk surat dengan namamu tertera di amplopnya dan selipat kertas terbang. Aduh, bagaimana bisa sebuah buku bertingkah seromantis ini terhadapmu?
Sebuah blogtour digelar oleh penulis bersama para blogger buku, dan berhasil memenuhi feed media sosialmu dengan foto-foto buku ini yang diunggah oleh para blogger buku. Hasilnya, bikin kau penasaran. Kau mengapresiasi usaha keras penulis untuk mempromosikan buku ini.

selamat datang di Dunia Mimpi

Novel ini mungkin bisa disebut dongeng yang panjang dengan genre high-fantasy. Kau akan suka bagaimana penulis menggunakan simbol-simbol (yang nyaris eksplisit) untuk merajut ceritanya. Hati yang luka, Bayangan Jiwa, empat bahan penenun mimpi—Benang Perasaan, Warna Perasaan, Kegigihan, dan Hati yang penuh cinta kasih. Oleh kalimat-kalimat indah yang bertuturan, lewat narasi, dialog, maupun sajak dan lagu, kau akan terbuai. Misalnya, kalimat ini, entah bagaimana, ia akan terdengar begitu puitis di telingamu.
Konon katanya, sewaktu ia pertama kali membuka mata, di langit sedang hujan bintang dan sebagian dari bintang-bintang itu memutuskan untuk tinggal berdiam dalam matanya. (hlm. 67)
Mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa penulis menggunakan huruf kapital untuk mengawali kata “Hati” dan “Mimpi”. Mungkin kau akan teringat akan Oscar Wilde, yang menggunakan huruf kapital untuk mengawali kata Love, Logic, Philosophy, Life, dan beberapa lagi, dalam cerpen The Nightingale and the Rose. Dalam perjalananmu ke Dunia Mimpi, mungkin kamu akan menyadari bahwa penggunaan huruf kapital itu menghasilkan efek bahwa hati dan mimpi bukan lagi sekadar “hati” dan “mimpi”, tapi mereka adalah Hati dan Mimpi yang bernyawa.

Bersamamu, para tokoh dalam novel ini tumbuh dari mengalami kepedihan hidup, menemukan pencerahan di perjalanan, lalu meneruskan hidup dengan sudut pandang yang baru akan kehidupan. Putri Boneka menanggung derita hati lantaran di mata orang tuanya, dia sama sekali bukan putri idaman mereka. Tumbuhlah ia menjadi gadis yang kurang kasih sayang dan kurang percaya diri.

Sementara itu, Pangeran Landak tumbuh dengan menyadari bahwa ia adalah manusia yang fisiknya dianggap aneh, bahkan menyeramkan. Ternyata orang-orang yang selama ini dekat dengannya—termasuk orang tuanya—cuma mau dekat dengannya karena ada maunya. Sang Pangeran calon Raja Harimau Putih juga mengalami kejatuhan mental saat ia tak bisa memenuhi harapan rakyatnya akan sosok raja yang mereka idamkan.
Tetapi Raja Harimau Putih kini sudah mengerti untuk tidak terlalu memedulikan perkataan orang lain tentangnya—mereka terlalu mudah berubah pikiran. Ia kini tahu bahwa ia adalah benar seorang raja. Bukan karena orang lain yang mengatakan demikian, tetapi karena di dalam Hatinya ia yakin akan kebenaran itu. (hlm. 178)
Dayang Tikus awalnya tidak percaya diri di hadapan Pangeran. Anggra awalnya lupa bahwa ia tak sendiri, dan memutuskan untuk menyerah menampung semua emosi negatif orang-orang. Kura-kura Pengelana awalnya begitu egois; hanya memikirkan Hatinya yang terluka tanpa menyadari bahwa ada Hati lain yang juga terluka. Gadis Penenun Mimpi hampir putus asa karena stok bahan untuk menenun mimpinya habis. Lewat mereka semua, kamu akan makin yakin bahwa akan ada akhir bahagia bagi orang-orang yang mau dan mencari bahagia. Lewat kisah mereka, kisah ini mencoba menyajikan keping-keping kebijaksanaan yang membumi. Banyak petikan cantik yang kamu akan tergoda untuk menjadikannya kepsyen IG.

Salah satu pelajaran hidup yang bisa kaupelajari dari Kura-kura Pengelana adalah “sebelum menghakimi, lihatlah dulu dari sisi yang lain”. Ini terlihat, misalnya saat Kura-kura pengelana lekas menghakimi bahwa ayah Dayang Tikus sangat tega karena mengirim anaknya yang masih kecil itu untuk bekerja. Namun Kol. Ibri dengan bijaksana menjelaskan mengapa sang ayah melakukan itu dan betapa menyesalnya dia.

Barangkali Kol. Ibri yang bijaksana itu akan jadi tokoh favoritmu (mungkin kau menyadari bahwa namanya unik dan bisa berarti seperti “Kolonel Ibri” sekaligus bahwa dia seekor “kolibri), dengan “ahem” khasnya itu. Mungkin kau juga akan menduga-duga apakah ada kaitan antara Kol. Ibri dengan Dayang Tikus.

terlalu mengawang-awang

Namun, mungkin kau akan merasa bahwa terlalu banyak hal didramatisasi secara berlebihan. Atau merasa bahwa dongeng ini terlalu mengawang-awang.

Tentang latar tempat, misalnya, di adegan hlm. 8. Sebelumnya telah dituliskan bahwa pria itu sedang berjalan, entah di mana, tanpa ada deskripsi tempat. Untuk novel fantasi, deskripsi semacam ini sangat krusial karena akan membantumu berimajinasi dengan kerangka tertentu. Kalau kerangkanya tidak terbentuk, kisahnya akan jadi sulit dibayangkan.

Nah, kemudian tiba-tiba pria itu bertemu dengan seorang perempuan yang menawarkan untuk menyembuhkan Hatinya, tapi malah (tiba-tiba lagi, entah kenapa), “menikam dan membuang Hatinya begitu saja” (hlm. 7) ke dalam air yang gelap dan Hati itu mulai tenggelam (hlm. 8). Lalu kau bengong, Lho, ternyata ada danau atau entah apa di situ?

Itu adalah bagian dari potongan kisah penting yang melatari terjadinya keseluruhan kejadian berikutnya dalam novel ini. Kau mungkin akan kecewa karena potongan penting ini cuma diceritakan secara sekilas dari sudut pandang si Pria dan dilengkapi oleh cerita dari sudut pandang si Gadis dengan teknik telling. Syukurlah, tambahan cerita dari si Gadis cukup mencerahkan kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi. Anehnya, kok setelah sedemikian lama, si Gadis baru menyadari keberadaan ukulele di punggung Kura-kura? (hlm. 210) Atau itu karena sosoknya tampak seperti bayangan kabur di matanya?

Mungkin kau juga merasa ada semacam lubang di alurnya. Bagaimana bisa Manusia Bintang tiba-tiba nongol di Kastil Masa Lalu, tepat saat rombongan Kura-kura Pengelana ada di sana? Penjelasannya hanyalah,
Aku adalah seseorang yang sedang mencari kisah dan akhir bahagiaku. Aku berjalan mencari Mimpi yang dulu pernah kulihat, lalu entah bagaimana sampai ke tempat ini. (hlm. 145)
Oleh karena sudut pandang penceritaan fokus mengikuti perjalanan rombongan Kura-kura Pengelana, maka wajar jika kau jadi tak tahu apa yang telah dilalui Manusia Bintang dalam perjalanannya sendiri. Sayang sekali.

elemen fantasi favorit

Di Dunia Mimpi kau akan menjumpai pohon berjalan (yang mungkin akan membuatmu membayangkan pasukan pohon di The Lord of The Rings dan sang Monster di A Monster Calls). Lalu, di Kastil Masa Lalu akhirnya kau akan bertemu dengan Anggra, yang isi catatan hariannya telah beberapa kali muncul sebelumnya. Ternyata ia adalah seorang… yang mungkin bakal membuatmu teringat tokoh Raja di film The Cat Returns, garapan Studio Ghibli. Di dalam kastil itu juga ada para prajurit berbentuk jam. Iya, jam. Nah, kan, sekarang kau malah membayangkan Cogsworth di Beauty and the Beast.

Ah, barangkali elemen fantasi favoritmu di Dunia Mimpi adalah alat transportasi ke Negeri Bawah Danau, berupa bunga raksasa yang begitu menenggelamkan diri ke danau, dindingnya akan berubah jadi tembus pandang (hlm. 78). Wah, seru sekali, kau bisa menikmati pemandangan bawah air tanpa harus berenang dan jadi basah!

saatnya kembali ke dunia nyata

Kau menemukan beberapa kesalahan penulisan dalam novel ini. Untunglah, itu tidak terlalu mengganggu Mimpimu. Tak kaudapati nama editor di halaman identitas buku, jadi kau menduga bahwa penulis melakukan swasunting. Sungguh, usaha keras penulis patut diapresiasi.

Nah, sampai di penghujung cerita indah (yang mudah ditebak akhirnya) ini, kau tahu bahwa secara keseluruhan ia diceritakan secara flashback, dari tulisan Kol. Ibri dalam Koleksi Perkamen Langka di perpustakaan Istana Masa Kini. Si narator dengan sudut pandang orang pertama serba-tahu yang menemanimu dari awal adalah memang Kol. Ibri sendiri.

Nah, akhirnya kau harus bangun dan kembali ke dunia nyata. Barangkali jika kau butuh mengunjungi lagi Dunia Mimpi, kau tahu ke mana harus pergi 😉.
[...] apapun yang kita putuskan untuk kita perbuat pada dasarnya hanyalah sebuah pilihan. setidaknya, sampai keputusan itu dilakukan. Lalu pilihan itu akan menjadi takdir. Dalam setiap keputusan yang diambil, ada takdir yang dibentuk. Dan mungkin, hanya mungkin, di saat kita melupakan masalah kita sendiri dan menolong orang lain yang mengalami kesusahan, sebenarnya kita juga tengah menolong diri kita sendiri. (hlm. 132)
rating saya



identitas buku

Judul: Gadis Penenun Mimpi dan Pria yang Melipat Kertas Terbang
Penulis: Gina Gabrielle
Desain sampul: Uly Novita Andrian Siahaan
Penerbit: Inner Child Crowdfund Publisher
Cetakan: I, 2016
Tebal: 266 halaman
ISBN: 978-602-74865-0-8
Bisa dipesan di www.gadispenenunmimpi.com


bloggerwidgets