Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

8 May 2018

[BLOGTOUR "Geekerella"] Ledakkan Bintang-bintang!


Sumber gambar: Penerbit Haru Online Shop
“Kalau kau tidak bisa memenangkan pertarungan, pakai senjata yang lebih besar.”
(Episode 14, Lebih Baik di Ruang Angkasa daripada Tidak Selamanya) – hlm. 87
Elle menjadi semacam asisten rumah tangga di rumahnya sendiri, sejak ayahnya meninggal. Catherine, ibu tirinya, selalu punya alasan untuk menyalahkannya, menyuruh-nyuruhnya melakukan segala pekerjaan rumah tangga. Seolah Elle tidak sama-sama (atau malah lebih) menderita saja. Sementara itu, sepasang saudari tirinya yang adalah vloggers kecantikan, Chloe dan Cal, dengan senang hati menyiksa batinnya dengan olokan-olokan yang mereka lakukan bersama geng anak populernya. Selama liburan musim panas, Elle menghabiskan waktunya mengurus urusan domestik (sementara Catherine bekerja—ia seorang perencana pernikahan, dan si Kembar kursus tenis) dan bekerja di truk makanan Magic Pumpkin—truk makanan sehat—bersama Sage, yang juga adalah putri sang pemilik.

Sementara Elle tidak memiliki ingatan kuat tentang ibunya, yang telah meninggal saat ia masih kecil, tidak begitu dengan ayahnya. Baginya, ayahnya adalah sosok pahlawan. Orang yang mengenalkan serial fiksi-ilmiah klasik Starfield padanya. Elle selalu menonton itu bersama ayahnya, dan sejak itu Elle telah menjadi seorang penggemar fanatik. Ayahnya jugalah yang memprakarsai ExcelsiCon, sebuah konvensi penggemar film fiksi-ilmiah. Setelah ayahnya meninggal, Elle tak pernah lagi pergi ke konvensi itu.

Elle kecewa berat ketika mengetahui siapa pemeran Carmindor dalam Starfield versi remake. Darien Freeman. Aktor opera sabun yang digemari cewek-cewek ABG. Bagi Elle—dan bagi para fans fanatik lain—sungguh, Darien tidak layak memerankan Carmindor. Sebagai pemilik blog RebelGunner (isinya tentang Starfield—oh, ayolah, apalagi yang begitu dipahami oleh Elle), ia menuliskan kritikan tentang pemilihan pemain Starfield versi remake itu. Dan, bum! Terkejut-kejutlah ia ketika mendapati berkat artikel itu, blognya jadi sangat terkenal!

Elle tak pernah punya teman sungguhan. Oleh karena itulah, karakter-karakter dalam Starfield begitu berharga baginya, karena merekalah teman-temannya. Maka, ketika ada seseorang yang mengaku Carmindor menghubungi nomornya, yang adalah nomor peninggalan ayahnya, dan mereka saling berkirim pesan terus-menerus, Elle akhirnya merasa punya teman sungguhan.

Maka setelah menemukan kostum cosplay Carmindor dan Putri Amara milik orang tuanya di loteng, Elle memutuskan untuk memakai kostum itu dalam kontes kostum di ExcelsiCon. Malam itu, berhasilkah ia tampil di dalam kostum orang tuanya dan menemukan dirinya sendiri?

*
Aku punya peran untuk kumainkan, aku punya karier, tapi semua itu di luar kendaliku. Aku terjebak di kursi pilot dalam pesawat bernama hidupku, dan tanganku terikat. (Darien, hlm. 160)
Darien Freeman adalah aktor muda yang terkenal setelah membintangi Seaside Cove dan punya banyak penggemar cewek. Apakah dia bahagia? Tidak terlalu, ternyata.

Hidupnya serasa bukan miliknya. Segalanya telah diatur, terlebih oleh ayahnya sekaligus manajernya, Mark, yang seolah menjadikan Darien sebagai mesin penghasil uang. Darien kehilangan sosok ayahnya yang dulu, sebelum ketenaran itu membayanginya ke mana pun ia pergi. Tak hanya itu, ketenaran juga telah membuatnya kehilangan sahabatnya, Brian.
Mungkin itulah yang ketenaran berikan. Ketenaran merusak apa pun di sekitarmu sampai sahabatmu sendiri melihatmu lebih karena namamu alih-alih sebagai seseorang, sebagai komoditas alih-alih individu. Mungkin begitulah hidupku sekarang.
(Darien, hlm. 283)
Kali ini, Darien harus memerankan Pangeran Federasi, Carmindor, dalam remake film Starfield. Sesungguhnya ia pun adalah seorang penggemar fanatik serial itu, tapi demi skenario yang harus ia patuhi, ia harus tampak seperti orang yang tidak benar-benar tahu tentang Starfield. Hujatan dari Stargunners menyerangnya, meski para penggemarnya pun selalu menunjukkan dukungan.

Memerankan Carmindor, Darien harus berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan segala insekuritasnya.
Hanya cara lain untuk membuktikan aku bukanlah Pangeran Federasi. Dia tidak takut pada ketinggian, atau kebakaran, atau melayang di angkasa dengan 0,1% kemungkinan mendarat di targetnya.
Darien Freeman? Dia takut pada semua itu.
(Darien, hlm. 123)
***

Ibu tiri yang jahat.
Sepasang saudara kembar yang gemar menyengsarakan hidupmu.
Seorang pangeran tampan.
Pesta dansa.
Sebelah sepatu yang tertinggal.
Terdengar familiar?

Geekerella adalah reka-ulang kisah klasik Cinderella. Istilah “Geekerella” muncul pertama kali setelah pesta dansa di konvensi ExcelsiCon. Kala itu, para pemenang berkesempatan bertemu dan berdansa dengan Darien, salah satunya adalah sang Putri Amara juara kedua, yang kemudian dijuluki oleh media sebagai “Geekerella”, dari julukan “geek”, yang dalam konteks novel ini merujuk pada penggemar fanatik Starfield. 

Ashley Poston memindahkan ruang dan waktu kisah klasik itu menjadi kisah dengan ruang dan waktu kekinian yang melibatkan dunia para penggemar serial fiksi ilmiah, elemen-elemen yang sangat bisa terjadi di dunia nyata kontemporer. Memasuki kehidupan Elle, aku seperti bernostalgia tentang masa laluku sebagai penggemar fanatik (bukan penggemar serial fiksi ilmiah, melainkan penggemar boyband Korea Super Junior). Jadi, aku sangat memahami koneksi yang dirasakan Elle dengan para tokoh dalam serial itu, meski mereka tidak nyata.
Tentu saja “Starfield” tidak nyata. […] Tapi, karakter-karakternya—Carmindor, Putri Amara, Euci, atau bahkan Nox King—mereka adalah teman-temanku ketika semua orang di dunia nyata menyebar rumor di balik punggungku, memanggilku aneh…
(Elle, hlm. 355)
Aku mengapresiasi bagaimana Ashley tidak merasa perlu membuat sang ibu tiri—Catherine—sangat kejam, meskipun, malah, Chloe-lah yang sangat menyebalkan. Juga bagaimana ia tak merasa perlu membuat Cinderella, Elle, sangat tertindas dan cuma bisa pasrah menantikan keajaiban. Kebalikannya, Elle sangat teguh (mengenai Starfield, tentunya), kritis, dan pemberontak sekaligus pihak yang tertindas. Seperti yang ia katakan, “Aku adalah penjahat di ceritaku, dan juga pahlawannya.” (hlm. 290)

Lewat kisah dari sudut pandang Elle, aku memahami bahwa ia adalah penjahat terhadap dirinya sendiri, karena di beberapa kasus ia membiarkan dirinya “ditindas” oleh Catherine dan Chloe dan ketidakmampuannya untuk melepaskan ayahnya (bukannya aku menyalahkan sikap tersebut, karena itu wajar; ia ingin terus menghidupkan ayahnya lewat Starfield; lewat mok kesayangannya….). Ia pun pahlawan terhadap dirinya sendiri, karena ia berani tegas dan berani beraksi. Akhirnya ia sadar, meskipun sudah meninggal, orang tuanya tetap hidup di dalam dirinya.

Lewat sudut pandang Darien, aku sekali lagi dipaparkan pada kehidupan selebriti yang tidak secerah wajahnya yang sering terpaksa tersenyum demi menjaga imej dan mematuhi skenario. Baik Elle maupun Darien tumbuh besar mencintai Starfield dan sama-sama menggemari serial itu bersama ayah mereka. Namun, Elle telah benar-benar ditinggalkan ayahnya, sedangkan Darien… Meskipun secara fisik ayahnya masih ada di dunia ini, itu bukan benar-benar ayahnya. Mark telah menjelmakan diri sebagai manajer, bukan ayah.

Di bagian pertama novel, Lihatlah Bintang-bintang, karakter mereka diperkenalkan pada pembaca dengan masalah-masalah yang telah mereka alami sejak sebelum novel dibuka. Di bagian kedua, Bidik, mereka memutuskan sesuatu yang besar dalam hidup mereka: Elle memutuskan ikut kontes kostum; Darien memutuskan untuk mengusahakan yang terbaik, meski ada yang suka dan ada yang tidak akan peran barunya sebagai Carmindor. Mereka berdua sama-sama harus menghadapi diri sendiri. Di bagian ketiga, Ledakkan, inilah mereka sama-sama “beraksi” di ExcelsiCon. Apakah mereka bertemu?
*
Elle menemukan seorang sahabat, sang ibu peri, Sage—karakter favoritku di novel ini, yang membuatku membayangkan karakter Nam Green di LINE webtoonSpirit Fingers” dengan rambut sama-sama hijau. Tokoh Sage ini juga mengingatkanku akan sahabat yang kutemukan semasa kuliah, orang yang mengajarkanku bahwa menjadi diri sendiri—“seaneh” apa pun kelihatannya di mata orang kebanyakan—itu sangat tidak apa-apa. 


Aku menyukai hubungan persahabatan Elle dan Sage. Yang awalnya mereka tidak pernah berbicara satu sama lain, sampai Sage menjadi pendukung nomor satu ketika Elle mengikuti kontes kostum. Sayangnya, tentu saja cerita berpusat pada Cinderella dan Sang Pangeran, kita tidak tahu kisah Sang Ibu Peri. Ia ada di semesta Geekerella hanya untuk membantu Elle menyelesaikan misinya. Yang agak aneh bagiku adalah hubungan Cal dan Sage yang tiba-tiba. Apakah ini Ashley Poston sengaja memaksakan agar hubungan asmara dua cewek itu masuk ke cerita?

Geekerella adalah kisah percintaan dewasa-muda yang merupakan reka-ulang kisah Cinderella, dengan isu-isu seputar pencarian jati diri, persahabatan, dan keluarga, dengan elemen kental dunia penggemar film fiksi-ilmiah dan unsur-unsur komedi. Merupakan pengalaman yang menyenangkan membaca buku ini!

Siapkah kalian meledakkan bintang-bintang bersama Elle? Di akhir rangkaian tur ini, Penerbit Spring akan menyediakan novel Geekerella untuk pemenang yang terpilih. Kuis ini akan diadakan di fanpage Penerbit Spring. Caranya:

1. Sukai fanpage Penerbit Spring dan ikuti juga blog ini (jika kamu merasa isi blog ini bermanfaat, hihi).
2. Ikuti akun Twitter dan Instagram Penerbit Spring, juga akun Twitter dan Instagram-ku. Bagikan informasi mengenai kuis ini via Twitter dan/atau Instagram dan mensyen/tandai akun kami dengan hestek #Geekerella.
3. Kumpulkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tiap host (tautan alamat blog tiap host tercantum di spanduk di bawah).
4. Di akhir tur ini, semua jawaban kalian menjadi senjata untuk mengikuti kuis di fanpage Penerbit Spring.
5. Kuis ini hanya berlaku bagi teman-teman yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
6. Pengumuman pemenang akan dilakukan di fanpage Penerbit Spring setelah kuis berakhir.

Berikut ini adalah pertanyaan dariku.
Ketika menemukan kostum cosplay milik ayah dan ibunya di loteng, Elle menyadari bahwa kostum itulah satu-satunya barang peninggalan berharga dari mereka. Saat itu, ia langsung tahu apa yang harus ia lakukan. Ia akan mengikuti kontes cosplay dengan mengenakan kostum itu. Di konvensi sci-fi apakah Elle akan "meledakkan bintang-bintang"?
Semoga beruntung! Mampirlah juga ke blog lainnya, ya!


Identitas buku
Judul: Geekerella
Penulis: Ashley Poston
Penerjemah: Lisa Mahardika
Penyunting: RoséMia
Penyelaras aksara: Selsa Chintya
Desain sampul: Aulia Rahmani
Penata sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring
Cetakan: I, Februari 2018
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-602-6682-16-1
Harga: Rp 99.000,00

22 January 2018

[Resensi PERSONA] Jatuh Cinta Sekaligus Patah Hati


Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Editor: Tri Saputra Sakti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-2629-0
Harga: Rp 58.000,00

ada apa?

Hidup Azura awalnya bahagia. Keluarga kecilnya, Papa dan Mama dan dia sendiri, adalah keluarga yang harmonis. Namun sejak Azura SD rasanya ada yang berubah dari keharmonisan Papa-Mamanya. Dan Azura tidak pernah tahu apa masalah sebenarnya. Pertengkaran-pertengkaran itu menekan mental Azura hingga ia menemukan ketenangan lewat irisan-irisan yang ia goreskan di pergelangan tangannya. Rasa perih itu anehnya terasa menenangkan dan membantu Azura terlelap.

Di sekolah, Azura tidak pernah punya teman. Sampai SMA pun masih begitu. Ia selalu sendirian, menghabiskan jam istirahat pertama di perpustakaan, di lantai dua gedung sekolahnya, duduk di hadapan jendela perpustakaan untuk menonton permainan sepak bola di lapangan di bawah. Tepatnya yang ia tonton adalah Kak Nara. Cowok yang pernah menolongnya waktu ia terjatuh ke dalam lubang galian di sekolah akibat melamun. Tapi kayaknya Kak Nara tidak pernah mengingatnya lagi, padahal Azura diam-diam menyukai cowok itu.

Semuanya berubah saat Azura kelas XI. Tiba-tiba ada Altair, murid baru yang sekelas dengan Azura, dan sejak pertama kali bertemu cowok itu sudah menganggapnya teman. Sejak itu, mereka selalu berdua ke mana-mana. Lama-lama Azura makin yakin akan perasaannya pada Altair, dan ketika mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba Altair menghilang, meninggalkan Azura bertanya-tanya dan terluka. Di sisi lain, saat itu hubungan Azura dengan Mama membaik, meskipun setelah pertengkaran besar terakhir, Papa pergi dari rumah dan tak kembali.

Tahun 2010. Azura telah jadi mahasiswa, dan untuk pertama kalinya dia punya teman perempuan. Yara namanya. Mereka jadi amat dekat, dan ketika Azura main ke rumah Yara, dia bertemu dengan abangnya, yang ternyata adalah… Kak Nara. Kak Nara yang sudah jadi mahasiswa kedokteran. Yara memberinya keluarga baru, saat ia jarang berinteraksi dengan Mamanya sendiri. Azura menjalani masa-masa bahagia bersama keluarga barunya: Yara, Ibu, Ayah, Bara, dan Kak Nara. Namun tiba-tiba Altair muncul kembali, menghadirkan kembali gempa dalam hidupnya yang telah cukup damai.

sama-sama tentang penyakit mental

Tarik napas dulu.
Fiuh.

Meski aku udah tahu gimana akhirnya (sial, adikku yang udah baca ini duluan ngasih sopiler 😥 tapi aku tetap nikmatin bacanya, sih), tetap saja rasanya nyesek. Really depressing.

Oke, begini. Ini adalah novel young adult kedua terbitan GPU yang kubaca; yang pertama adalah Auntuk Amanda, dan sama seperti yang pertama, Persona juga mengangkat isu penyakit mental dengan tokoh utama anak SMA (yang lalu jadi mahasiswa). Bedanya, tokoh Amanda dalam A untuk Amanda menderita depresi karena ia memiliki hidup yang terlalu sempurna. Ia juga sadar bahwa dia menderita depresi, sifatnya yang sangat rasional membantu di sini. Nuansanya juga relatif cerah ketimbang Persona, berkat humor-humor dalam dialog dan pemikiran Amanda.

Namun, dalam Persona tak ada (kalaupun ada, pasti sangat sangat kecil) celah untuk berhumor. Kenapa? Karena dari awal nuansanya sudah kelam. Beda dengan Amanda, Azura (eh, namanya sama-sama berawalan huruf A) diduga menderita depresi karena memang hidupnya menderita. Orang tuanya nggak akur, terancam bercerai; nggak punya teman; kisah cinta yang nol besar; eh, begitu melewati masa-masa menyenangkan dengan Altair, cowok itu menghilang tiba-tiba. Beda dengan Amanda yang sadar bahwa dia depresi dan sedang menjalani serangkaian terapi, Azura tidak sadar kalau dia mengalami penyakit mental, maka dia tidak mencari pertolongan medis, dan maka kita cuma bisa menduga kalau dia depresi. Itulah kenapa, kadar depresif kisah ini lebih nyesek ketimbang A untuk Amanda.

Sudah saatnya kita melek perihal penyakit mental dan peka terhadap, pertama, diri kita sendiri, dan kedua, orang-orang di sekitar. Seperti yang baru-baru ini terjadi, Jonghyun Shinee bunuh diri akibat depresi yang sudah tak tertahankan lagi. Salah satu cara untuk bisa lebih peka adalah dengan membaca literatur. Tak melulu literatur ilmiah dan nonfiksi terkait, tapi bisa juga lewat buku fiksi, yang bisa jadi tak kalah efektifnya dalam memberi pemahaman terkait penyakit mental karena dibawakan dengan cara yang lebih menyenangkan. Di dalam novel Persona ini, selain penyakit mental, tema lain yang jadi hidangan utama adalah broken home dan persahabatan. Ketiganya diramu dengan baik, dengan saling keterkaitan yang kental.

ada siapa saja?

Sebagai tokoh utama novel ini dan sang narator dengan sudut pandang orang pertama, Azura jadi sangat saya kenal. Terutama lewat emosi-emosinya yang meluap-luap dan sering tak tersampaikan. Rasanya aku ingin memeluknya dan bilang, “Tak apa-apa, kamu tak salah kalau kamu jadi begini. Aku mengerti. Tapi mari kita pikirkan lagi, apakah kau ingin tetap seperti ini?”

Dengan mudah para pembaca mungkin akan jatuh kasihan terhadap tokoh ini, tapi aku tidak kasihan, aku hanya mengerti dan entah bagaimana, jadi merasa menyayangi tokoh Azura. Tapi memang tidak seperti tokoh Amanda yang kuat dan mandiri, Azura ini tokoh yang sangat tergantung dengan orang lain. Maka, ketika tak ada orang lain yang bisa ia jadikan sandaran—orang tuanya tak memberinya kasih sayang yang cukup dan ia tak punya teman—ia hanya punya dirinya sendiri, tumpukan komik Jepang, dan buku harian yang ia tulisi kadang-kadang. Maka, wajar setelah kemunculan Altair, ia jadi begitu bergantung pada cowok itu.

Sementara itu, tokoh Altair yang blasteran Jepang itu bak tokoh cowok idaman di komik-komik. Ia setia sekali menemani Azura dan jadi sandarannya, siap menolong kapan pun Azura butuh, bahkan ia juga tetap mendukung Azura untuk mendekati Kak Nara. Dan ah, betapa romantisnya adegan Altair menunjukkan pada Azura tiga bintang yang menyusun segitiga musim panas di langit malam itu setelah mereka menonton Festival Isen Mulang, festival khas kota Palangka Raya. Namun karena kita mendengarkan cerita dari sudut pandang orang pertama Azura, kita jadi kurang mengenal Altair, selain masa lalu suramnya yang hampir mirip dengan kisah Azura: keluarga yang awalnya bahagia, lalu orang tua yang bertengkar terus, sampai akhirnya bercerai. Bahkan Altair pernah mencoba bunuh diri setelah perceraian kedua orang tuanya, tapi berhasil diselamatkan. Sayang sekali, kita tidak tahu bagaimana Altair melewati itu semua sampai akhirnya pindah ke sekolah yang sama dengan Azura. Namun, jangan kesal dulu. Memang harus seperti itu—kita tidak tahu banyak tentang Altair—karena ini tuntutan twist cerita.

Kalau Altair adalah malaikat yang diberikan Tuhan pada Azura saat SMA, maka Yara adalah malaikat yang diberikan pada Azura sejak awal kuliah sampai sekarang. Yara, yang bawel, spontan, penuh perhatian, cocok sekali dengan kepribadian Azura. Sungguh, di sini aku membaca kisah persahabatan sejati. Bahkan Yara memberikan keluarga baru bagi Azura, suatu berkah yang tak terkira berharganya. Keluarga yang antitesis dari keluarga asli Azura. Sementara itu, belakangan aku tahu bahwa dulunya Kak Nara bak malaikat rahasia, yang ternyata memperhatikan Azura tapi cewek itu tidak sadar. Nah, di masa kini, Kak Nara menjelma salah satu malaikat bagi Azura setelah Altair menghilang. Dan yah, aku tak tahu banyak tentang diri Kak Nara karena bintang utamanya memang Azura.

Azura memang menjalani masa bahagia bersama keluarga barunya, tapi keluarga lamanya tetaplah keluarga yang rusak. Membaca sosok orang tua Azura, aku jadi teringat sosok orang tua Salva di novel Di Tanah Lada. Kalau sang Papa memang jelas-jelas bajingan, sang Mama adalah sosok yang juga bajingan tapi tidak jelas-jelas. Setelah kepergian Papa, dengan dalih menghidupi keluarga, Mama bekerja terus sampai tak punya waktu untuk Azura. Awalnya Azura memahami ini: Papa menjadi sewenang-wenang karena menganggap Mama dan Azura tak bisa hidup tanpa uangnya; maka sebagai bentuk pemberontakan dan pembuktian, Mama bekerja sendiri. Namun belakangan, kita tahu bahwa Mama bekerja tidak dengan cara yang benar. Ia cuma keluar dari mulut singa untuk masuk ke mulut singa lainnya. Lingkaran setan, ya. Dan tanpa Mama sadari, kelakuannya ini makin menghancurkan Azura yang sudah hancur.

plot dan twist dari twist

Plot maju dan mundur yang diusung cerita ini terbagi jadi dua bagian: Keping Pertama menceritakan hidup Azura sejak awal kemunculan Altair sampai menghilangnya cowok itu dan Keping Kedua menceritakan hidup Azura setelahnya, sejak awal kuliah, bertemu Yara, sampai ia mengetahui rahasia tentang dirinya sendiri yang pengungkapannya dibantu oleh keluarga Yara. Penggunaan gaya alur ini sudah pas menurutku. Bagian flashback menyediakan cukup amunisi bagi kita untuk mengerti apa yang dialami Azura di masa lalu. Bagian alur majunya mengajak kita terus mengikuti perkembangan kisah Azura.

Oya, meski banyak adegan bagian Keping Pertama terjadi di sekolah, anehnya, pihak sekolah sama sekali (tak ditunjukkan) menunjukkan perhatian terhadap “keanehan” Azura. Apakah se-menutup-mata itukah pihak sekolah? Atau memang penulisnya hanya tidak merasa perlu mengeksplorasi hal ini.

Bagiku, twist-nya sudah bukan lagi jadi twist, ingat, kan, adikku membocorkannya padaku. Tapi meski belum dikasih bocoran, kayaknya aku bisa nebak karena menurutku penulisnya dengan baik hati memberikan petunjuk-petunjuk yang cukup memadai. Di sini pemilihan sudut pandang orang pertama Azura mendukung suksesnya twist yang ini. Tapi, tapi, yang bikin aku terguncang justru bagian ending, yang merupakan twist dari twist sebelumnya. Kampret sekali! Mungkinkah, mungkinkah? Tapi, kok bisa-bisanya ada bukti fisik? Aku, yang mencoba mencari penjelasan logis, akhirnya cuma bisa mereka-reka penjelasan yang berangkat dari penuturan Azura yang kadang unreliable. Jangan-jangan dia sendiri yang secara tidak sadar telah membuat bukti fisik itu untuk dirinya sendiri, dan lalu dia tidak ingat sama sekali? Entahlah. Aaaarrrggh!!

mengapa rasi bintang dan “persona”?

Mengapa sampul novel ini bergambarkan rasi bintang? Dan kenapa judulnya “Persona”?

Rasi bintang memang secara gamblang cuma muncul sekali, yaitu saat Altair menjelaskan tentang segitiga musim panas pada Azura. Tapi sesungguhnya lewat Altair, yang namanya sama dengan bintang paling terang di rasi Aquila itu, bintang selalu hadir dalam kisah ini. Bintang yang menerangi kehidupan Azura yang suram. Altair sendiri berasal dari kata Arab yang berarti “elang terbang”. Elang terbang yang lalu menclok ke kehidupan Azura yang bak tebing tinggi terjal tersembunyi. Tapi, yah, namanya elang, dia pasti akan terbang lagi entah ke mana. Gambar sampul novel ini pas sekali, kan.
Rasi Aquila
Sumber di sini.
Kemudian erat kaitannya dengan Festival Tanabata yang menjadi favorit Altair, festival tersebut berasal dari Festival Qixi dari Cina. Tujuan festival ini untuk merayakan bertemunya dewi Orihime (diwakili oleh bintang Vega) dan dewa Hikoboshi (diwakili oleh bintang Altair), sepasang kekasih yang terpisahkan oleh Bima Sakti dan hanya bisa bertemu setahun sekali (sumber di sini). Cocok sekali dengan Altair dan Azura yang “terpisahkan” tapi sayangnya tak mesti bertemu setahun sekali.
Orihime dan Hikoboshi yang terpisahkan oleh Bima Sakti.
Sumber di sini.
Pemilihan judul novel ini sendiri menurutku memikat sekali. “Persona” merupakan turunan dari bahasa Latin yang artinya topeng atau karakter yang dimainkan oleh aktor. Dalam bidang analisis sastra, “persona” sering dikaitkan dengan narator bersudut pandang orang pertama (sumber di sini). Kalau di novel ini berarti Azura adalah “persona” dari sang penulis. Kalau dalam bidang psikologi Jungian,
“Persona pada dasarnya tak nyata. Ia merupakan kompromi antara individu dengan masyarakat…., apa yang seseorang harus ‘kelihatan seperti’. Persona adalah suatu kemiripan, realita dua dimensi….”
(kuterjemahkan bebas dari Two Essays on Analytical Psychology karya Carl G. Jung, hlm. 165, terbitan Bailliere, Tindall and Cox, London, 1928. Akses saya dapat di sini). 

Gampangnya, persona ini adalah topeng yang ditampilkan seseorang pada dunia. Atau topeng yang seseorang kenakan pada orang lain. Jung juga menyebut persona sebagai “diri yang tak sadar”. Dalam novel ini, barangkali “diri tak sadar” Azura telah terlalu jauh mengambil alih dirinya yang sebenarnya. (Maaf, aku tak bisa menuliskan lebih banyak lagi tentang ini karena pasti akan jadi sopiler.)

pada akhirnya

Ini pertama kalinya aku membaca karya Fakhrisina Amalia, dan ini adalah perkenalan yang sangat baik. Setelah A untuk Amanda, novel ini jadi YA lokal terbitan GPU kedua yang jadi favoritku. Ide yang menarik dan masih jarang dieksekusi dalam literatur YA dalam negeri dipadukan dengan eksekusi yang baik. Sungguh memikat dan mematahkan hatiku, persis seperti yang ditulis oleh penulis di bagian Ucapan Terima Kasih:
Aku menulis Persona untuk mereka yang jatuh cinta dan patah hati di saat yang bersamaan.
(Fakhrisina Amalia)

bloggerwidgets