Showing posts with label blogtour. Show all posts
Showing posts with label blogtour. Show all posts

8 May 2018

[BLOGTOUR "Geekerella"] Ledakkan Bintang-bintang!


Sumber gambar: Penerbit Haru Online Shop
“Kalau kau tidak bisa memenangkan pertarungan, pakai senjata yang lebih besar.”
(Episode 14, Lebih Baik di Ruang Angkasa daripada Tidak Selamanya) – hlm. 87
Elle menjadi semacam asisten rumah tangga di rumahnya sendiri, sejak ayahnya meninggal. Catherine, ibu tirinya, selalu punya alasan untuk menyalahkannya, menyuruh-nyuruhnya melakukan segala pekerjaan rumah tangga. Seolah Elle tidak sama-sama (atau malah lebih) menderita saja. Sementara itu, sepasang saudari tirinya yang adalah vloggers kecantikan, Chloe dan Cal, dengan senang hati menyiksa batinnya dengan olokan-olokan yang mereka lakukan bersama geng anak populernya. Selama liburan musim panas, Elle menghabiskan waktunya mengurus urusan domestik (sementara Catherine bekerja—ia seorang perencana pernikahan, dan si Kembar kursus tenis) dan bekerja di truk makanan Magic Pumpkin—truk makanan sehat—bersama Sage, yang juga adalah putri sang pemilik.

Sementara Elle tidak memiliki ingatan kuat tentang ibunya, yang telah meninggal saat ia masih kecil, tidak begitu dengan ayahnya. Baginya, ayahnya adalah sosok pahlawan. Orang yang mengenalkan serial fiksi-ilmiah klasik Starfield padanya. Elle selalu menonton itu bersama ayahnya, dan sejak itu Elle telah menjadi seorang penggemar fanatik. Ayahnya jugalah yang memprakarsai ExcelsiCon, sebuah konvensi penggemar film fiksi-ilmiah. Setelah ayahnya meninggal, Elle tak pernah lagi pergi ke konvensi itu.

Elle kecewa berat ketika mengetahui siapa pemeran Carmindor dalam Starfield versi remake. Darien Freeman. Aktor opera sabun yang digemari cewek-cewek ABG. Bagi Elle—dan bagi para fans fanatik lain—sungguh, Darien tidak layak memerankan Carmindor. Sebagai pemilik blog RebelGunner (isinya tentang Starfield—oh, ayolah, apalagi yang begitu dipahami oleh Elle), ia menuliskan kritikan tentang pemilihan pemain Starfield versi remake itu. Dan, bum! Terkejut-kejutlah ia ketika mendapati berkat artikel itu, blognya jadi sangat terkenal!

Elle tak pernah punya teman sungguhan. Oleh karena itulah, karakter-karakter dalam Starfield begitu berharga baginya, karena merekalah teman-temannya. Maka, ketika ada seseorang yang mengaku Carmindor menghubungi nomornya, yang adalah nomor peninggalan ayahnya, dan mereka saling berkirim pesan terus-menerus, Elle akhirnya merasa punya teman sungguhan.

Maka setelah menemukan kostum cosplay Carmindor dan Putri Amara milik orang tuanya di loteng, Elle memutuskan untuk memakai kostum itu dalam kontes kostum di ExcelsiCon. Malam itu, berhasilkah ia tampil di dalam kostum orang tuanya dan menemukan dirinya sendiri?

*
Aku punya peran untuk kumainkan, aku punya karier, tapi semua itu di luar kendaliku. Aku terjebak di kursi pilot dalam pesawat bernama hidupku, dan tanganku terikat. (Darien, hlm. 160)
Darien Freeman adalah aktor muda yang terkenal setelah membintangi Seaside Cove dan punya banyak penggemar cewek. Apakah dia bahagia? Tidak terlalu, ternyata.

Hidupnya serasa bukan miliknya. Segalanya telah diatur, terlebih oleh ayahnya sekaligus manajernya, Mark, yang seolah menjadikan Darien sebagai mesin penghasil uang. Darien kehilangan sosok ayahnya yang dulu, sebelum ketenaran itu membayanginya ke mana pun ia pergi. Tak hanya itu, ketenaran juga telah membuatnya kehilangan sahabatnya, Brian.
Mungkin itulah yang ketenaran berikan. Ketenaran merusak apa pun di sekitarmu sampai sahabatmu sendiri melihatmu lebih karena namamu alih-alih sebagai seseorang, sebagai komoditas alih-alih individu. Mungkin begitulah hidupku sekarang.
(Darien, hlm. 283)
Kali ini, Darien harus memerankan Pangeran Federasi, Carmindor, dalam remake film Starfield. Sesungguhnya ia pun adalah seorang penggemar fanatik serial itu, tapi demi skenario yang harus ia patuhi, ia harus tampak seperti orang yang tidak benar-benar tahu tentang Starfield. Hujatan dari Stargunners menyerangnya, meski para penggemarnya pun selalu menunjukkan dukungan.

Memerankan Carmindor, Darien harus berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan segala insekuritasnya.
Hanya cara lain untuk membuktikan aku bukanlah Pangeran Federasi. Dia tidak takut pada ketinggian, atau kebakaran, atau melayang di angkasa dengan 0,1% kemungkinan mendarat di targetnya.
Darien Freeman? Dia takut pada semua itu.
(Darien, hlm. 123)
***

Ibu tiri yang jahat.
Sepasang saudara kembar yang gemar menyengsarakan hidupmu.
Seorang pangeran tampan.
Pesta dansa.
Sebelah sepatu yang tertinggal.
Terdengar familiar?

Geekerella adalah reka-ulang kisah klasik Cinderella. Istilah “Geekerella” muncul pertama kali setelah pesta dansa di konvensi ExcelsiCon. Kala itu, para pemenang berkesempatan bertemu dan berdansa dengan Darien, salah satunya adalah sang Putri Amara juara kedua, yang kemudian dijuluki oleh media sebagai “Geekerella”, dari julukan “geek”, yang dalam konteks novel ini merujuk pada penggemar fanatik Starfield. 

Ashley Poston memindahkan ruang dan waktu kisah klasik itu menjadi kisah dengan ruang dan waktu kekinian yang melibatkan dunia para penggemar serial fiksi ilmiah, elemen-elemen yang sangat bisa terjadi di dunia nyata kontemporer. Memasuki kehidupan Elle, aku seperti bernostalgia tentang masa laluku sebagai penggemar fanatik (bukan penggemar serial fiksi ilmiah, melainkan penggemar boyband Korea Super Junior). Jadi, aku sangat memahami koneksi yang dirasakan Elle dengan para tokoh dalam serial itu, meski mereka tidak nyata.
Tentu saja “Starfield” tidak nyata. […] Tapi, karakter-karakternya—Carmindor, Putri Amara, Euci, atau bahkan Nox King—mereka adalah teman-temanku ketika semua orang di dunia nyata menyebar rumor di balik punggungku, memanggilku aneh…
(Elle, hlm. 355)
Aku mengapresiasi bagaimana Ashley tidak merasa perlu membuat sang ibu tiri—Catherine—sangat kejam, meskipun, malah, Chloe-lah yang sangat menyebalkan. Juga bagaimana ia tak merasa perlu membuat Cinderella, Elle, sangat tertindas dan cuma bisa pasrah menantikan keajaiban. Kebalikannya, Elle sangat teguh (mengenai Starfield, tentunya), kritis, dan pemberontak sekaligus pihak yang tertindas. Seperti yang ia katakan, “Aku adalah penjahat di ceritaku, dan juga pahlawannya.” (hlm. 290)

Lewat kisah dari sudut pandang Elle, aku memahami bahwa ia adalah penjahat terhadap dirinya sendiri, karena di beberapa kasus ia membiarkan dirinya “ditindas” oleh Catherine dan Chloe dan ketidakmampuannya untuk melepaskan ayahnya (bukannya aku menyalahkan sikap tersebut, karena itu wajar; ia ingin terus menghidupkan ayahnya lewat Starfield; lewat mok kesayangannya….). Ia pun pahlawan terhadap dirinya sendiri, karena ia berani tegas dan berani beraksi. Akhirnya ia sadar, meskipun sudah meninggal, orang tuanya tetap hidup di dalam dirinya.

Lewat sudut pandang Darien, aku sekali lagi dipaparkan pada kehidupan selebriti yang tidak secerah wajahnya yang sering terpaksa tersenyum demi menjaga imej dan mematuhi skenario. Baik Elle maupun Darien tumbuh besar mencintai Starfield dan sama-sama menggemari serial itu bersama ayah mereka. Namun, Elle telah benar-benar ditinggalkan ayahnya, sedangkan Darien… Meskipun secara fisik ayahnya masih ada di dunia ini, itu bukan benar-benar ayahnya. Mark telah menjelmakan diri sebagai manajer, bukan ayah.

Di bagian pertama novel, Lihatlah Bintang-bintang, karakter mereka diperkenalkan pada pembaca dengan masalah-masalah yang telah mereka alami sejak sebelum novel dibuka. Di bagian kedua, Bidik, mereka memutuskan sesuatu yang besar dalam hidup mereka: Elle memutuskan ikut kontes kostum; Darien memutuskan untuk mengusahakan yang terbaik, meski ada yang suka dan ada yang tidak akan peran barunya sebagai Carmindor. Mereka berdua sama-sama harus menghadapi diri sendiri. Di bagian ketiga, Ledakkan, inilah mereka sama-sama “beraksi” di ExcelsiCon. Apakah mereka bertemu?
*
Elle menemukan seorang sahabat, sang ibu peri, Sage—karakter favoritku di novel ini, yang membuatku membayangkan karakter Nam Green di LINE webtoonSpirit Fingers” dengan rambut sama-sama hijau. Tokoh Sage ini juga mengingatkanku akan sahabat yang kutemukan semasa kuliah, orang yang mengajarkanku bahwa menjadi diri sendiri—“seaneh” apa pun kelihatannya di mata orang kebanyakan—itu sangat tidak apa-apa. 


Aku menyukai hubungan persahabatan Elle dan Sage. Yang awalnya mereka tidak pernah berbicara satu sama lain, sampai Sage menjadi pendukung nomor satu ketika Elle mengikuti kontes kostum. Sayangnya, tentu saja cerita berpusat pada Cinderella dan Sang Pangeran, kita tidak tahu kisah Sang Ibu Peri. Ia ada di semesta Geekerella hanya untuk membantu Elle menyelesaikan misinya. Yang agak aneh bagiku adalah hubungan Cal dan Sage yang tiba-tiba. Apakah ini Ashley Poston sengaja memaksakan agar hubungan asmara dua cewek itu masuk ke cerita?

Geekerella adalah kisah percintaan dewasa-muda yang merupakan reka-ulang kisah Cinderella, dengan isu-isu seputar pencarian jati diri, persahabatan, dan keluarga, dengan elemen kental dunia penggemar film fiksi-ilmiah dan unsur-unsur komedi. Merupakan pengalaman yang menyenangkan membaca buku ini!

Siapkah kalian meledakkan bintang-bintang bersama Elle? Di akhir rangkaian tur ini, Penerbit Spring akan menyediakan novel Geekerella untuk pemenang yang terpilih. Kuis ini akan diadakan di fanpage Penerbit Spring. Caranya:

1. Sukai fanpage Penerbit Spring dan ikuti juga blog ini (jika kamu merasa isi blog ini bermanfaat, hihi).
2. Ikuti akun Twitter dan Instagram Penerbit Spring, juga akun Twitter dan Instagram-ku. Bagikan informasi mengenai kuis ini via Twitter dan/atau Instagram dan mensyen/tandai akun kami dengan hestek #Geekerella.
3. Kumpulkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tiap host (tautan alamat blog tiap host tercantum di spanduk di bawah).
4. Di akhir tur ini, semua jawaban kalian menjadi senjata untuk mengikuti kuis di fanpage Penerbit Spring.
5. Kuis ini hanya berlaku bagi teman-teman yang memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
6. Pengumuman pemenang akan dilakukan di fanpage Penerbit Spring setelah kuis berakhir.

Berikut ini adalah pertanyaan dariku.
Ketika menemukan kostum cosplay milik ayah dan ibunya di loteng, Elle menyadari bahwa kostum itulah satu-satunya barang peninggalan berharga dari mereka. Saat itu, ia langsung tahu apa yang harus ia lakukan. Ia akan mengikuti kontes cosplay dengan mengenakan kostum itu. Di konvensi sci-fi apakah Elle akan "meledakkan bintang-bintang"?
Semoga beruntung! Mampirlah juga ke blog lainnya, ya!


Identitas buku
Judul: Geekerella
Penulis: Ashley Poston
Penerjemah: Lisa Mahardika
Penyunting: RoséMia
Penyelaras aksara: Selsa Chintya
Desain sampul: Aulia Rahmani
Penata sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring
Cetakan: I, Februari 2018
Tebal: 392 halaman
ISBN: 978-602-6682-16-1
Harga: Rp 99.000,00

9 March 2017

[BLOGTOUR] [UPDATE PEMENANG] Resensi + Giveaway GOLDEN



plot summary

Katakan, apa yang kalian rencanakan bagi satu-satunya hidup kalian yang liar dan berharga?
--Mary Oliver, hlm. 45

Parker Frost selama ini adalah cewek yang belum pernah mengambil risiko. Segala hal dilakukannya menurut rencana matang, tanpa keluar dari garis batas yang dia dan ibunya tetapkan. Belajar dan terus belajar, melakukan yang terbaik di bidang akademis. Itu akan membuat ibunya senang, meski tak lantas mengizinkannya untuk menghabiskan satu malam saja di hari sekolah untuk bersenang-senang dengan sahabatnya, Kat. Bisa dibilang, hidup Parker seperti kereta yang melaju di atas rel: mungkin memang suatu saat ada percabangan, belokan, tapi tetap saja, tak akan pernah keluar dari rel (keluar rel bukanlah hal yang diharapkan).

Dalam hal percintaan, Parker juga belum pernah mengambil risiko mencium Trevor Collins, cowok yang ditaksirnya sejak enam tahun lalu. Dan sekarang, sebentar lagi Parker akan lulus SMA. Oh, tidak. Dia merasa belum melakukan apa-apa (ya, selain prestasi akademisnya, serta undangan sebagai finalis Beasiswa Cruz-Farnetti untuk universitas pilihannya, Stanford). Sampai, saat itu, ketika ia sedang membantu Mr. Kinney mengirimkan jurnal para senior yang ditulis sepuluh tahun lalu, ia menemukan sebuah jurnal yang tak mampu ia abaikan. Jurnal milik Julianna Farnetti.

Julianna Farnetti dan Shane Cruz dulu dikenal sebagai pasangan sempurna di SMA Summit Lakes, sebelum sebuah kecelakaan tragis di malam bersalju merenggut nyawa mereka. Mobil mereka jatuh ke Summit Lake, dan keduanya tak pernah ditemukan. Orang tua mereka menguburkan peti tanpa jenazah. Sejak itulah, mereka berdua menjelma jadi semacam legenda Summit Lake. Foto mereka menghiasi baliho-baliho. Ya, sebatas itu saja pengetahuan Parker, dan mungkin sebagian besar orang yang suka mengarang-ngarang cerita terkait kecelakaan itu. Maka, jangan salahkan Parker kalau ia tak bisa menahan tangannya mengambil jurnal Julianna dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Lalu, Kat menantang Parker untuk sekali saja mengambil risiko, melakukan hal yang belum pernah ia lakukan. Dengan segenap pertentangan dalam diri, akhirnya Parker mengambil risiko itu. Ia mulai membaca jurnal Julianna dan menemukan dirinya begitu terisap dalam kisah sang legenda, yang mungkin tak diketahui orang lain. Mungkin Parker bisa melakukan lebih jauh lagi terkait isi jurnal itu: memecahkan teka-teki yang meliputi kecelakaan Farnetti dan Cruz. Mungkin, jika teka-teki itu ingin dipecahkan.

I love riddles

Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less travelled by,
And that has made all the differences.
(“The Road Not Taken” by Robert Frost, 1916)

Saya pertama kali berkenalan dan mencoba memikirkan makna petikan puisi ini saat meresensi novel Sejak Awal Kami Tahu Ini Tidak Akan Pernah Mudah karya Sisimaya (resensi bisa dibaca di sini) Saat itu, saya bertanya-tanya, mengapa judulnya “The Road Not Taken”, bukan “The Road Taken”? Apakah itu berarti sang penulis lebih memikirkan jalan yang tidak diambil daripada yang ia ambil? Apa mungkin, ia menyesali jalan yang ia ambil?

Terlepas dari judulnya, petikan itu (mungkin kamu berminat membaca puisinya secara utuh, sekaligus analisisnya, coba mampirlah ke sini) menjadi ruh utama novel ini. Beberapa tokohnya berhadapan dengan pilihan-pilihan, salah satunya adalah zona nyaman, dan yang lain adalah hal di luar kebiasaan.

Tokoh Parker dihadapkan pada dua pilihan:
1. Melakukan apa yang diharapkan ibunya dan yang biasanya akan ia lakukan selama ini: mengurung diri di dalam kamar dan mulai menulis pidatonya untuk acara makan malam Beasiswa Cruz-Farnetti. Melanjutkan hidup sebagai mahasiswa kedokteran Stanford.

2. Melakukan apa yang Kat suruh Parker janjikan: “lakukan sesuatu yang tidak terduga sekali saja” (Kat, hlm. 32), atau jika dijabarkan, sesuatu itu bisa berarti: (a) mengambil risiko, (b) tidak melakukan sesuatu yang orang lain harap ia lakukan, (c) melakukan sesuatu yang benar-benar ia inginkan, meskipun mungkin ia tidak pernah melakukannya (hlm. 32). Dalam sudut pandang Parker, “sesuatu” ini adalah membiarkan dirinya terobsesi jurnal Julianna Farnetti. Melanjutkan hidup sebagai penulis seperti ayahnya.

Tokoh Julianna juga dihadapkan pada dua pilihan:
1. Mengabaikan Orion dan menjalani kehidupan seperti biasa, sebagai pasangan Shane Cruz. Tidak menghidupkan kembali kegemarannya melukis.

2. Membuka diri terhadap Orion dan hal-hal baru yang bisa ia lakukan tanpa terus dikaitkan dan tergantung dengan Shane (selama ini ia merasa separuh hidupnya milik Shane). Hei, Julianna juga punya kehidupan sendiri! Menggapai cita-citanya sebagai pelukis.

and I love poems too

Selain “The Road Not Taken”, puisi-puisi lain Robert Frost (ya, mungkin ia masih keluarga Parker Frost) bertebaran di sekujur novel.  Buku puisi Robert Frost adalah favorit Parker. Buku itu dihadiahkan padanya oleh ayahnya, yang juga seorang penyair. Saya jadi ingin baca buku puisi Robert Frost juga.

antara karyawan dan seniman

Pasti bukan kebetulan ketika penulis menjadikan sosok ibu Parker sebagai orang yang kaku dan terbelenggu rutinitas pekerjaan (dia bekerja dari pagi sampai malam), dan menuntut Parker agar sukses di bidang akademis. Sementara itu, ayah Parker, diceritakan sebagai penulis puisi yang, menurut ibu Parker, pengangguran. Setelah menerbitkan buku puisinya kali pertama, ayah Parker tidak menerbitkan lagi selama bertahun-tahun, dan itu membuat ibu Parker merasa tidak aman. Ekonomi keluarga disokong sepenuhnya oleh sang Ibu. Di masa kini, mereka berdua telah bercerai.

Ibu Parker memandang remeh keindahan seni dan kesenangan sederhana semacam bermain salju di taman. Hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. Sementara itu, ayah Parker sebaliknya. Mungkin, ibu Parker juga menggambarkan para orang tua di negeri kita, yang tak jarang menganggap remeh jika anaknya memilih mendalami seni, dibanding kuliah kedokteran, misalnya. Terutama jika berkaitan dengan masalah penghasilan. Stigma semacam itu memang masih ada, dan mungkin akan tetap ada entah sampai kapan.

Ngomong-ngomong, karakter ibu Parker mengingatkan saya akan ibu si Anak Perempuan di film The Little Prince (2016). Saat Parker berpidato di depan dewan beasiswa, mau tak mau saya membayangkan adegan film tersebut, saat si ibu mendampingi putrinya dalam pidato penerimaan Werth Academy.

interaksi MBTI parker dan kat, api dan es

Iseng, saya mencoba mengambil tes kepribadian di 16personalities untuk karakter Parker. Tak mengejutkan, hasilnya sesuai dengan tebakan saya: Parker seorang ISTJ-T (saya pernah berinteraksi intens dengan seorang teman ISTJ, jadi saya lumayan memahami karakternya. Kalau kamu ingin tahu lebih jauh tentang ISTJ, sila klik ini). Tapi, kalau kamu ingin tahu lebih jauh tentang karakter INTP, maka kenalilah saya 😂.

Sementara itu, tebakan saya, karakter Kat berkepribadian ENFP atau ENTP. Ouch, setelah mengambil tes, ternyata dia ENFP-A (sila klik ini kalau ingin tahu lebih lanjut). Oleh karena itu, penulis membuat Trevor menjuluki duo itu “api dan es”. Saya pikir, itu karena kepribadian mereka.
Awalnya, kupikir julukan “es” itu berhubungan dengan nama keluargaku (Frost), atau mungkin warna mataku (biru), tapi setelah bertahun-tahun, semakin jelaslah bahwa bukan itu yang ia maksudkan. Sama sekali. (hlm. 9)
Kepribadian Parker dan Kat memang sangat bertentangan. Misalnya, Kat dengan mudah akan mengajak Parker pergi ke suatu tempat tanpa merencanakan lebih jauh, sedangkan Parker kebalikannya. Dialog mereka di halaman 63 dengan gamblang menjelaskan kepribadian mereka.
Parker:
Rencananya kurang matang—
Kat:
Ini rencana terbuka. Masih banyak ruang untuk berbagai kemungkinan. Kita bisa memutuskan sisanya saat kita pergi nanti.
Parker:
Mungkin. Tapi kita harus membuat rencana yang matang terlebih dulu. Misalnya soal uang, dan jadwal, dan peta.
Kat:
Di situlah gunanya dirimu. Itu bagian merepotkan tapi penting yang merupakan keahlianmu, jadi semuanya sempurna.
Pertentangan kepribadianlah yang menyatukan mereka. Saya juga suka ketika Kat dengan sangat pengertian memahami saat Parker belum siap mengungkapkan rahasianya (hlm. 79). Sangat manis juga ketika Kat diam-diam merencanakan sesuatu. Oh, saya sangat menyukai persahabatan mereka berdua!

Trevor juga sangat manis, dia memahami obsesi Parker akan Julianna Farnetti dan Shane Cruz, dan tidak menganggap itu konyol. Juga bagaimana usahanya selama ini untuk mencairkan si “es” itu.
Tidak, tidak bodoh. Seperti di film. Seperti salah satu film-film cewek itu. Kalau kau menemukannya, itu artinya memang ada sesuatu di luar sana untuk dipercayai—cinta sejati, takdir, dan semua itu.
(Trevor, hlm. 232)

(Salah satu) Momen romantis, yang sayangnya tidak disadari oleh Parker (seperti biasa) adalah saat dia dan Trevor dalam satu mobil dan tubuh Parker penuh lumpur. Kata-kata Trevor bikin saya salah tingkah.
Parker:
Oh, sial, maaf. Aku benar-benar mengotori mobilmu.
Trevor:
Tidak, jangan khawatir. Aku bukan melihat lumpurnya, Frost.
(hlm. 90)

Eh, bukan kebetulan juga, jika oleh Orion, Julianna dijuluki “Putri Es” (hlm. 98). Juga gambar di pinggiran Summit Lake berjudul “Api dan Es”. Juga judul puisi Robert Frost.
Some say the world will end in fire,
Some say in ice.
From what I’ve tasted of desire
I hold with those who favor fire.
But if it had to perish twice,
I think I know enough of hate
To say that for destruction ice
Is also great
And would suffice.
Robert Frost, 1920
(Sumber di sini)
Lho, saya malah jadi teringat Game of Thrones.
Deskripsi tempat-tempat penting juga sangat berhasil memukau saya, terutama Summit Lake.
Sumber: Naturefully

simpulan

Sudah sepantasnya jika saya memberi novel ini rating 4/5. Kenapa nggak 5? Karena bagian akhirnya terasa terlalu cepat dan agak dipaksakan. Terlepas dari itu, saya suka bagaimana penulis meramu kisah pencarian jati diri seorang anak SMA dengan bumbu teka-teki legenda kota, kisah persahabatan dan sedikit percintaan yang porsinya pas. Terlebih, covernya cantik. Apalagi kalau pas mantulin cahaya matahari. Namun saya masih bertanya-tanya mengapa judulnya “Golden”. Ada ide?

Pada akhirnya, penulis ingin menyampaikan pada para remaja dan dewasa muda, atau semua pembaca pada umumnya, untuk menerima dirimu apa adanya, tapi kamu keren jika berani mencoba melakukan hal baru yang bisa mengembangkan dirimu. Dan, kamu sebaiknya berani menghadapi konsekuensi atas pilihan yang kamu pilih.
Aku harap kau tahu bahwa aku bersedia kembali dan mengubah segalanya kalau bisa. Tapi hidup tidak berjalan seperti itu, dan kita semua harus hidup dalam pilihan-pilihan yang kita buat. (hlm. 262)
rating saya

giveaway

Oke, saatnya giveaway! Giveaway ini berhadiah notebook cantik Golden untuk satu orang pemenang.
Yah, kok bukan novel hadiahnya? Hadiah novelnya ada juga kok, tapi nanti di giveaway final yang akan diadakan di FB Penerbit Spring. Nah, untuk giveaway ini, syaratnya mudah banget:
  1. Follow blog ini, boleh via GFC atau Bloglovin’. Temukan tombolnya di side bar.
  2. Follow Twitter @kimfricung dan @penerbitspring.
  3. Bagikan link giveaway ini Twitter, mention @kimfricung dan @penerbitspring.
  4. Tuliskan di kolom komentar: nama, akun Twittermu, dan shared link. Good luck! 
  5. Giveaway ini berlangsung tanggal 9-13 Maret 2017.
Kunjungi juga blog-blog lainnya, ya!

identitas buku

Judul: Golden
Penulis: Jessi Kirby
Penerjemah: Wisnu Wardhana
Penyunting: Adeliany Azfar
Proofreader: Titish A.K.
Layout Cover: @teguhra
Penerbit: Spring
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal: 308 halaman
ISBN: 978-602-74322-7-7
Harga: Rp 79.000,00

pengumuman pemenang

Yeay, waktunya tiba untuk mengumumkan siapa pemenangnya! Menggunakan situs random.org, satu nama berhasil terpilih, yaitu:
Siti Nihlatul Fuadah
@nihlafuadah09

Selamat, kamu berhak memenangkan satu buah notebook Golden! Pemenang akan saya hubungi langsung. Terima kasih untuk teman-teman lain yang telah berpartisipasi dalam giveaway ini. Saya ingatkan lagi, tanggal 16 Maret nanti akan ada giveaway final berhadiah novel Golden di FB Penerbit Spring. Jangan lupa ikutan, ya! Semoga bisa menang lain kali 😃

bloggerwidgets