28 May 2017

[Resensi] Gadis Penenun Mimpi dan Pria yang Melipat Kertas Terbang




“Seandainya saja ada yang bisa menyembuhkan Hatiku.” (hlm. 41)
“Aku bisa menyembuhkan Hatimu.”
“Tapi aku sudah membekukan Hatiku,” jawab si pemuda, dan dalam benaknya ia berbisik, “Dengan begini aku tak lagi merasakan sakit.”
“Kau tak sakit, tapi juga tak sembuh. Kau tak mati, tapi juga tak hidup. Apa gunanya?”
(hlm. 43)

Pria yang Melipat Kertas Terbang awalnya adalah seorang pemuda yang merasa sangat bebas dan memiliki Hati yang ringan. Namun, di perjalanan Hatinya terluka. Begitu sakit, hingga ia memutuskan agar Hatinya dibekukan saja untuk selamanya di Lembah Es. Lalu ia tinggal di sana, menghabiskan waktu dengan melipat kertas terbang, sampai sebuah suara memanggilnya. Ternyata bisikan pedihnya sampai ke langit dan suara itu menjawabnya kemudian. Ia dipilih oleh Raja Kasih untuk melakukan suatu petualangan istimewa didampingi Kol. Ibri.

Berdua, mereka melanglang ke Istana Masa Kini dan mengintip apa yang telah terjadi pada Putri Tanpa Nama hingga ia menjadi Putri Boneka. Kemudian beralih ke sebuah negeri kecil nan miskin, dan mengintip apa yang telah dialami oleh Manusia Bintang hingga ia menjadi Pangeran Landak. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke Negeri Bawah Danau dan berjasa mempertemukan sang Pangeran dengan Dayang Tikus. Tanpa diduga, Raja Kasih memanggil mereka untuk memberikan tugas berikutnya bagi Kura-kura Pengelana, yang akan membawa mereka ke petualangan yang lebih menakjubkan.

Sementara itu, Dunia Mimpi terancam akan hancur; langitnya akan runtuh karena hantaman bertubi-tubi yang terus dideritanya dari jeritan emosi negatif para manusia. Dan Gadis Penenun Mimpi yang menenun mimpi di Ujung Pelangi mulai kehabisan Benang Perasaan, dan Warna Perasaan makin sulit diperoleh.
Ahem. Setahuku, Mimpi menimbulkan harapan, dan juga bisa menambal retakan langit dan memulihkannya kembali. Namun, seperti yang bisa kaulihat sendiri, Tuan, makin banyak orang kehilangan Mimpi. Nona ini—Gadis Penenun Mimpi—juga sudah sangat kewalahan menenun Mimpi untuk mereka. (Kol. Ibri, hlm. 204)
Apakah Kura-kura Pengelana, Kol. Ibri, dan Gadis Penenun MImpi akan berhasil mencegah runtuhnya langit dan musnahnya Dunia Mimpi?

buku self-published dengan promosi yang keren

Buku ini sampai di tanganmu pada bulan Februari 2017 sebagai hadiah giveaway di blog @p_ambangsari. Ternyata buku dengan cover yang cantik ini tidak terbang sendirian; ia ditemani sepucuk surat dengan namamu tertera di amplopnya dan selipat kertas terbang. Aduh, bagaimana bisa sebuah buku bertingkah seromantis ini terhadapmu?
Sebuah blogtour digelar oleh penulis bersama para blogger buku, dan berhasil memenuhi feed media sosialmu dengan foto-foto buku ini yang diunggah oleh para blogger buku. Hasilnya, bikin kau penasaran. Kau mengapresiasi usaha keras penulis untuk mempromosikan buku ini.

selamat datang di Dunia Mimpi

Novel ini mungkin bisa disebut dongeng yang panjang dengan genre high-fantasy. Kau akan suka bagaimana penulis menggunakan simbol-simbol (yang nyaris eksplisit) untuk merajut ceritanya. Hati yang luka, Bayangan Jiwa, empat bahan penenun mimpi—Benang Perasaan, Warna Perasaan, Kegigihan, dan Hati yang penuh cinta kasih. Oleh kalimat-kalimat indah yang bertuturan, lewat narasi, dialog, maupun sajak dan lagu, kau akan terbuai. Misalnya, kalimat ini, entah bagaimana, ia akan terdengar begitu puitis di telingamu.
Konon katanya, sewaktu ia pertama kali membuka mata, di langit sedang hujan bintang dan sebagian dari bintang-bintang itu memutuskan untuk tinggal berdiam dalam matanya. (hlm. 67)
Mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa penulis menggunakan huruf kapital untuk mengawali kata “Hati” dan “Mimpi”. Mungkin kau akan teringat akan Oscar Wilde, yang menggunakan huruf kapital untuk mengawali kata Love, Logic, Philosophy, Life, dan beberapa lagi, dalam cerpen The Nightingale and the Rose. Dalam perjalananmu ke Dunia Mimpi, mungkin kamu akan menyadari bahwa penggunaan huruf kapital itu menghasilkan efek bahwa hati dan mimpi bukan lagi sekadar “hati” dan “mimpi”, tapi mereka adalah Hati dan Mimpi yang bernyawa.

Bersamamu, para tokoh dalam novel ini tumbuh dari mengalami kepedihan hidup, menemukan pencerahan di perjalanan, lalu meneruskan hidup dengan sudut pandang yang baru akan kehidupan. Putri Boneka menanggung derita hati lantaran di mata orang tuanya, dia sama sekali bukan putri idaman mereka. Tumbuhlah ia menjadi gadis yang kurang kasih sayang dan kurang percaya diri.

Sementara itu, Pangeran Landak tumbuh dengan menyadari bahwa ia adalah manusia yang fisiknya dianggap aneh, bahkan menyeramkan. Ternyata orang-orang yang selama ini dekat dengannya—termasuk orang tuanya—cuma mau dekat dengannya karena ada maunya. Sang Pangeran calon Raja Harimau Putih juga mengalami kejatuhan mental saat ia tak bisa memenuhi harapan rakyatnya akan sosok raja yang mereka idamkan.
Tetapi Raja Harimau Putih kini sudah mengerti untuk tidak terlalu memedulikan perkataan orang lain tentangnya—mereka terlalu mudah berubah pikiran. Ia kini tahu bahwa ia adalah benar seorang raja. Bukan karena orang lain yang mengatakan demikian, tetapi karena di dalam Hatinya ia yakin akan kebenaran itu. (hlm. 178)
Dayang Tikus awalnya tidak percaya diri di hadapan Pangeran. Anggra awalnya lupa bahwa ia tak sendiri, dan memutuskan untuk menyerah menampung semua emosi negatif orang-orang. Kura-kura Pengelana awalnya begitu egois; hanya memikirkan Hatinya yang terluka tanpa menyadari bahwa ada Hati lain yang juga terluka. Gadis Penenun Mimpi hampir putus asa karena stok bahan untuk menenun mimpinya habis. Lewat mereka semua, kamu akan makin yakin bahwa akan ada akhir bahagia bagi orang-orang yang mau dan mencari bahagia. Lewat kisah mereka, kisah ini mencoba menyajikan keping-keping kebijaksanaan yang membumi. Banyak petikan cantik yang kamu akan tergoda untuk menjadikannya kepsyen IG.

Salah satu pelajaran hidup yang bisa kaupelajari dari Kura-kura Pengelana adalah “sebelum menghakimi, lihatlah dulu dari sisi yang lain”. Ini terlihat, misalnya saat Kura-kura pengelana lekas menghakimi bahwa ayah Dayang Tikus sangat tega karena mengirim anaknya yang masih kecil itu untuk bekerja. Namun Kol. Ibri dengan bijaksana menjelaskan mengapa sang ayah melakukan itu dan betapa menyesalnya dia.

Barangkali Kol. Ibri yang bijaksana itu akan jadi tokoh favoritmu (mungkin kau menyadari bahwa namanya unik dan bisa berarti seperti “Kolonel Ibri” sekaligus bahwa dia seekor “kolibri), dengan “ahem” khasnya itu. Mungkin kau juga akan menduga-duga apakah ada kaitan antara Kol. Ibri dengan Dayang Tikus.

terlalu mengawang-awang

Namun, mungkin kau akan merasa bahwa terlalu banyak hal didramatisasi secara berlebihan. Atau merasa bahwa dongeng ini terlalu mengawang-awang.

Tentang latar tempat, misalnya, di adegan hlm. 8. Sebelumnya telah dituliskan bahwa pria itu sedang berjalan, entah di mana, tanpa ada deskripsi tempat. Untuk novel fantasi, deskripsi semacam ini sangat krusial karena akan membantumu berimajinasi dengan kerangka tertentu. Kalau kerangkanya tidak terbentuk, kisahnya akan jadi sulit dibayangkan.

Nah, kemudian tiba-tiba pria itu bertemu dengan seorang perempuan yang menawarkan untuk menyembuhkan Hatinya, tapi malah (tiba-tiba lagi, entah kenapa), “menikam dan membuang Hatinya begitu saja” (hlm. 7) ke dalam air yang gelap dan Hati itu mulai tenggelam (hlm. 8). Lalu kau bengong, Lho, ternyata ada danau atau entah apa di situ?

Itu adalah bagian dari potongan kisah penting yang melatari terjadinya keseluruhan kejadian berikutnya dalam novel ini. Kau mungkin akan kecewa karena potongan penting ini cuma diceritakan secara sekilas dari sudut pandang si Pria dan dilengkapi oleh cerita dari sudut pandang si Gadis dengan teknik telling. Syukurlah, tambahan cerita dari si Gadis cukup mencerahkan kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi. Anehnya, kok setelah sedemikian lama, si Gadis baru menyadari keberadaan ukulele di punggung Kura-kura? (hlm. 210) Atau itu karena sosoknya tampak seperti bayangan kabur di matanya?

Mungkin kau juga merasa ada semacam lubang di alurnya. Bagaimana bisa Manusia Bintang tiba-tiba nongol di Kastil Masa Lalu, tepat saat rombongan Kura-kura Pengelana ada di sana? Penjelasannya hanyalah,
Aku adalah seseorang yang sedang mencari kisah dan akhir bahagiaku. Aku berjalan mencari Mimpi yang dulu pernah kulihat, lalu entah bagaimana sampai ke tempat ini. (hlm. 145)
Oleh karena sudut pandang penceritaan fokus mengikuti perjalanan rombongan Kura-kura Pengelana, maka wajar jika kau jadi tak tahu apa yang telah dilalui Manusia Bintang dalam perjalanannya sendiri. Sayang sekali.

elemen fantasi favorit

Di Dunia Mimpi kau akan menjumpai pohon berjalan (yang mungkin akan membuatmu membayangkan pasukan pohon di The Lord of The Rings dan sang Monster di A Monster Calls). Lalu, di Kastil Masa Lalu akhirnya kau akan bertemu dengan Anggra, yang isi catatan hariannya telah beberapa kali muncul sebelumnya. Ternyata ia adalah seorang… yang mungkin bakal membuatmu teringat tokoh Raja di film The Cat Returns, garapan Studio Ghibli. Di dalam kastil itu juga ada para prajurit berbentuk jam. Iya, jam. Nah, kan, sekarang kau malah membayangkan Cogsworth di Beauty and the Beast.

Ah, barangkali elemen fantasi favoritmu di Dunia Mimpi adalah alat transportasi ke Negeri Bawah Danau, berupa bunga raksasa yang begitu menenggelamkan diri ke danau, dindingnya akan berubah jadi tembus pandang (hlm. 78). Wah, seru sekali, kau bisa menikmati pemandangan bawah air tanpa harus berenang dan jadi basah!

saatnya kembali ke dunia nyata

Kau menemukan beberapa kesalahan penulisan dalam novel ini. Untunglah, itu tidak terlalu mengganggu Mimpimu. Tak kaudapati nama editor di halaman identitas buku, jadi kau menduga bahwa penulis melakukan swasunting. Sungguh, usaha keras penulis patut diapresiasi.

Nah, sampai di penghujung cerita indah (yang mudah ditebak akhirnya) ini, kau tahu bahwa secara keseluruhan ia diceritakan secara flashback, dari tulisan Kol. Ibri dalam Koleksi Perkamen Langka di perpustakaan Istana Masa Kini. Si narator dengan sudut pandang orang pertama serba-tahu yang menemanimu dari awal adalah memang Kol. Ibri sendiri.

Nah, akhirnya kau harus bangun dan kembali ke dunia nyata. Barangkali jika kau butuh mengunjungi lagi Dunia Mimpi, kau tahu ke mana harus pergi 😉.
[...] apapun yang kita putuskan untuk kita perbuat pada dasarnya hanyalah sebuah pilihan. setidaknya, sampai keputusan itu dilakukan. Lalu pilihan itu akan menjadi takdir. Dalam setiap keputusan yang diambil, ada takdir yang dibentuk. Dan mungkin, hanya mungkin, di saat kita melupakan masalah kita sendiri dan menolong orang lain yang mengalami kesusahan, sebenarnya kita juga tengah menolong diri kita sendiri. (hlm. 132)
rating saya



identitas buku

Judul: Gadis Penenun Mimpi dan Pria yang Melipat Kertas Terbang
Penulis: Gina Gabrielle
Desain sampul: Uly Novita Andrian Siahaan
Penerbit: Inner Child Crowdfund Publisher
Cetakan: I, 2016
Tebal: 266 halaman
ISBN: 978-602-74865-0-8
Bisa dipesan di www.gadispenenunmimpi.com

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets