30 May 2017

[Resensi A UNTUK AMANDA] Bahagia Itu Tanggung Jawab Diri Sendiri




Tadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dalam hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna. (hlm. 10)
Mari, kukenalkan kau pada Amanda, seorang gadis SMA yang hidupnya nyaris sempurna. Ia bersekolah dengan mendapat keringanan finansial di SMA swasta terbaik dan kedua termahal di kotanya. Berkat apa lagi, kalau bukan riwayat akademisnya yang cemerlang? Amanda anak yang cerdas dan paling sering menjawab ketika guru melontarkan pertanyaan di kelas. Begitu masuk ke Klub Komputer, yang beranggotakan anak-anak jenius, Amanda merasa kepintarannya bukan apa-apa. Yah, tetap saja, waktu rapor akhir semester dibagikan, semua nilainya A.

Kau mungkin bertanya-tanya, bagaimana kehidupan sosial seorang Amanda yang amat rajin belajar dan perfeksionis dalam mengerjakan tugas? Bisa dibilang, nol. Yah, bukan nol besar, cukuplah nol kecil. Lagi pula, itu bukan masalah baginya karena ada Tommy, sahabatnya sejak bayi. Yah, kau akan tahu bahwa Amanda menganggap Tommy lebih dari sekadar sahabat, sebenarnya. Entah sejak kapan, dia jatuh cinta padanya. Apakah Tommy juga begitu, atau menganggapnya tak lebih dari sahabat?

Bisa dibilang, idola Amanda adalah ayahnya, yang telah meninggal bertahun-tahun sebelumnya. Ayahnya adalah seorang guru sains, dan pada suatu momen yang melibatkan fenomena pelangi ganda, Amanda terpukau pada alam semesta dan segera saja bertekad akan menekuni ilmu alam. Ya, Amanda lima belas tahun dan begitu yakin akan dirinya.

Lalu ia mulai meragukan dirinya sendiri. Bagaimana jika selama ini para guru memberinya nilai bagus hanya karena reputasinya sebagai anak pintar? Bagaimana jika ternyata ia hanya beruntung dan tidak sepintar kelihatannya? Amanda merasa seperti penipu dan cemas kalau-kalau rahasia ini terbongkar.

Amanda mulai mengalami depresi. Dan segalanya hancur dalam sekejap. Hubungannya dengan Tommy, aplikasinya ke Institut George Gamow, dan prestasi akademisnya—ini pertama kalinya Amanda mendapat nilai B untuk satu mata pelajaran. Dan begitulah, ia merasa menjadi produk evolusi yang gagal.

Kau mungkin akan geregetan dan ingin sekali mendamprat Amanda, “Amanda, kau tak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya!”
***
Aku jatuh cinta pada tokoh Amanda. Membaca tuturannya sepanjang novel ini membuatku merasa sangat dekat dengannya. Oh, aku senang sekali kalau bisa bertemu seorang sahabat seperti dia. Salah satunya karena aku berpikir bahwa kami berdua mirip dalam hal “bisa terlalu rasional kadang-kadang”. Eh, atau sering, malah 😅😥.

Aku kagum pada anak SMA dengan pemikiran kritis semacam itu. Wow. Aku yakin, kami pasti akan cocok mengobrol tentang ini-itu, terutama tentang Tuhan dan gender. Ah, bahkan ia sudah memutuskan jadi agnostik di umur empat belas! Akhir-akhir ini aku menjadi agak agnostik, dan oleh karenanya, aku mampu memahami pemikiran Amanda, dan mengapa ia berpikir seperti itu.

Mungkin inilah alasannya orang membutuhkan Tuhan—untuk mengetahui ada alasan yang lebih penting atas keberadaan mereka daripada sekadar produk evolusi. (hlm. 86)

Pemikiran-pemikiran kritis Amanda menarik untuk dibaca; tentang alam semesta, Tuhan, dan gender. Namun, di sisi lain, kelihatan sekali jiwanya masih belum dewasa dan bergejolak. Emosinya gampang meledak jika mendapati hal yang menurutnya tidak benar, tapi orang-orang lain seperti tidak menyadari bahwa itu tidak benar. (Btw, aku sering berada di posisi seperti ini.) Misalnya, saat ia terlibat obrolan tentang gender dengan Kenny dan Tommy.

“Sejak kapan warna punya jenis kelamin? Pink untuk anak perempuan, biru untuk anak laki-laki? Pasti kalian masih beranggapan boneka cuma untuk anak perempuan dan mobil-mobilan untuk anak laki-laki.”
Mereka berpandangan lalu mengangkat bahu, seakan berkata, “Yeah, bukannya memang begitu?”
Aku menjadi berang. “Itu mainan anak-anak! Kau tidak memainkannya dengan alat kelamin. Jadi apa pengaruhnya?”

(hlm. 28-29)

Yah, aku berharap semakin banyak orang sadar bahwa segregasi berdasarkan gender itu sangat tidak keren.

Tentang alam semesta, Amanda mengagumi betapa raksasa dan misteriusnya jagat raya, juga betapa sesungguhnya Bumi hanyalah setitik mungil di alam semesta.

[...] bagaimana setiap tahun ada kontes gadis tercantik di Bumi dan mereka memberinya gelar Miss Universe. Kenapa orang menamainya Nona Jagat Raya kalau dia cuma gadis tercantik di sebuah titik mungil? (hlm. 22)

Amanda juga punya selera humor yang, uhm, tidak biasa. Ia bisa menjadi lucu padahal sedang serius.
Wajah Tommy berubah cerah. "Aku tahu," katanya sambil meremas tanganku. “Aku tahu aku selalu bisa mengandalkanmu, Amanda sayang. Orang lain mungkin datang dan pergi, tapi kau dan aku akan bersama terus selamanya, kan?”
Dan orang-orang bilang para pria fobia terhadap komitmen.

(hlm. 114)
Isi pikirannya kadang membuatku tertawa, bahkan saat ia mengklaim bahwa pikirannya itu membuatnya sedih.
Gambaran Ibu mendorong troli di supermarket dan mengisinya dengan terong—ide yang mungkin didapatnya setelah membaca buku self-help dengan judul macam Apa yang Harus Dilakukan Saat Orang Tercinta Menderita Penyakit Mental—entah bagaimana membuatku sedih. (hlm. 172)
Lebih lucu lagi ketika ia berpura-pura punya teman tak terlihat di depan Martha (hlm. 245), tapi temannya itu tidak paham dan akhirnya malah Tommy yang tertawa diam-diam.

Aku juga jatuh cinta pada gaya bercerita sudut pandang orang pertama Amanda. Penulis menuliskannya seperti gaya bahasa novel remaja terjemahan. Narasinya terkesan cerdas, dingin, tapi kadang humoris. Sangat "Amanda". Dalam hal ini, penulis berhasil menghidupkan sungguh karakter Amanda. Saat ia mulai menderita depresi, penulis juga menunjukkan tanda-tanda dan isi pikiran Amanda yang depresi itu dengan meyakinkan dan mulus sehingga aku sendiri nyaris ikut-ikutan gila membacanya.
***
Aku langsung jatuh cinta pada tokoh ayah Amanda begitu ia keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah mok besar bertuliskan: Kau tidak boleh menyebut “kopi” dan “instan” di kalimat yang sama. (hlm. 23) Aku setuju sekali dengan tulisan itu. Bagaimana kalau aku mencetak tulisan itu di sebuah mok juga? Kopi instan itu bukan kopi. Kopi, ya kopi. Tanpa gula, apalagi susu dan berbagai aksesori entah apa itu.

Aku juga menyukai bagaimana ayah Amanda mengobrol dengan putrinya tanpa menganggap bahwa putrinya itu “masih anak kecil”, misalnya seperti saat ia menjelaskan tentang fenomena pelangi ganda.
Dan karena setiap orang melihat cahaya dibelokkan oleh tetesan hujan yang berbeda, tidak ada dua orang yang melihat pelangi yang sama. Kau melihat pelangi yang berbeda dengan kulihat, meskipun kita berdiri bersebelahan. (Ayah Amanda, hlm. 143)
***
Dan, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada karakter Helena, melihat betapa nyata (dan tidak berlebihan) perhatiannya terhadap Amanda? Ia memegangkan rambut Amanda saat ia muntah-muntah di kamar mandi, mengunjunginya saat ia terpuruk di kamar, dan terutama, menerima dengan mudah kenyataan bahwa Amanda menderita depresi. Tidak seperti Tommy, yang malah menyangkal habis-habisan dan menyalahkan Amanda.
“Aku tahu, hanya saja... dia sering bilang ini hanya ada di kepalaku saja. Aku hanya takut reaksinya, um, tidak baik.”
“Itu penyakit mental,” tukas Helena. “Jelas adanya di kepalamu. Di mana lagi dia berharap bisa menemukannya? Di paru-paru?”

(hlm. 195)
 😂 😂

Barangkali penulis memunculkan tokoh Helena untuk menunjukkan bahwa ia tak setuju dengan pandangan bahwa “cewek cantik yang suka dandan dan suka warna pink adalah Barbie berotak kosong”. Bahkan seorang guru pun bisa saja memiliki pandangan seperti itu, dan pada akhirnya meremehkan sang murid terkait. Ini terlihat saat Bu Gita meremehkan pendapat Helena tentang Big Bang, tapi menerima begitu saja saat Amanda yang berpendapat. Bu Gita meremehkan Helena karena imejnya tidak tampak seperti murid pintar. Lewat narasi Amanda, penulis mengkritik pandangan semacam ini.
Aku tidak bisa tidak berpikir seksisme masih sangat nyata, dan stereotip bahwa sains bukanlah keahlian wanita masih berlaku. Mungkin tidak begitu terlihat kalau kau cewek berkacamata dengan celana jins dan kaus Google. Tapi cewek seperti Helena, yang suka mengenakan makeup dan warna pink, masih sering diperlakukan seperti Barbie berotak kosong. (hlm. 193-194)
Yang jadi masalah, kalau kau mengabaikan perkataan seorang murid hanya karena dia kelihatan seperti gadis yang tidak pernah  menunjukkan minat terhadap hal lain selain eyeliner dan nilainya hanya rata-rata, lalu menerima begitu saja perkataan murid lain hanya karena dia dikenal sebagai juara kelas. (hlm. 71-72)
Helena juga sadar tentang ketidaksetaraan gender. Ini terlihat dari dialognya dengan Amanda tentang fenomena  “saat persetujuan si cewek dianggap tidak ada artinya” (hlm. 81). Helena sendiri juga punya masalah terkait imejnya itu, seperti ia tidak dipercaya oleh teman sekelompoknya untuk mengerjakan barang satu bagian lantaran ia dianggap sebagai "Barbie berotak kosong". Namun, ia tidak menampakkan bahwa ia punya masalah. Ia terlihat ceria dan menganggap itu seolah bukan masalah.
***
Jujur, aku tidak terlalu menyukai karakter Tommy. Awalnya aku menyukainya, sih, tapi begitu melihat reaksinya terhadap depresi yang diderita Amanda, aku jadi agak ilfil. Tapi aku mengampuninya karena ia mau mengubah sikap. Tommy adalah jenis cowok yang punya kehidupan sosial bagus sekaligus “nilai rata-rata A minus” (hlm. 14).
Tommy tahu lebih banyak tentang Bagaimana Menjadi Keren ketimbang aku, dan ini salah satu aturan yang terus kulupakan: oke-oke saja kalau kau ingin mendapat Prestasi yang Memuaskan, tapi kau tidak boleh menunjukkan kau berupaya keras untuk itu. Itu tidak keren. (hlm. 13-14)
Ia sosok yang menyayangi keluarga dan enggan terpisah dari mereka. Kalau kata Amanda, Tommy mengidap misoneism alias takut terhadap perubahan. Yah, tapi Tommy tetaplah Tommy, kan. Oya, Tommy juga punya selera humor yang garing, misalnya ini:
Kami praktikum kimia tadi pagi. Seseorang membuat campuran yang salah di tabung reaksi, lalu... BAM! Lab-nya meledak. Sekarang kita terbebas dari praktikum kimia sepanjang semester. (hlm. 13)
😦 (Lalu ada suara latar, “Mbeeeeekkk!”)
***
Aku menyukai dialog-dialog antara Amanda dan Dokter Eli. Ah, sejatinya aku menyukai juga obrolan Amanda dengan Tommy, obrolan Amanda dengan Helena, obrolan Amanda dengan ayahnya di masa lalu, dan obrolan Amanda dengan ibunya. Novel ini punya kekuatan dalam dialog-dialognya, yang bisa jadi berisi sekaligus humoris dalam satu waktu.

Dialog-dialog dengan Dokter Eli mengingatkanku untuk berpikir positif kembali. Aku manusia biasa; sepositif apa pun aku, kadang pikiran negatif bermunculan di benakku.
Misalnya orang-orang memandang rendah padamu, kenapa kau harus membiarkan apa yang mereka pikirkan memengaruhi kebahagiaanmu? (Dokter Eli, hlm. 155)
Kau tidak tahu apa yang dipikirkan orang lain. Yang memengaruhi mood-mu adalah apa yang kau pikir sedang dipikirkan orang tentangmu. (Dokter Eli, hlm. 156)
Aku suka bagaimana perlakuan Dokter Eli terhadap Amanda. Menghadapi anak cerdas seperti dia, pasti kau akan lebih suka untuk memancingnya daripada menyuapinya, kan?
“Mari berpikir secara ilmiah. Bila kau memiliki sebuah hipotesis, apa yang harus kaulakukan untuk mengetahui kebenarannya?”
“Mengetesnya?”
“Tepat sekali! Jadi lain kali kau menolak ajakan temanmu untuk berkumpul, dengan prediksi itu tidak akan memberimu kesenangan apa pun, bagaimana kalau kau mengetesnya dengan pergi dan membuktikannya sendiri? Siapa tahu, kau bisa saja mendapat kesenangan lebih dari yang diperkirakan.”

(hlm. 162)
Dan, yang paling menohokku adalah kata-kata Dokter Eli yang ini:
Amanda, menjadi feminis berarti kau bebas membuat pilihanmu sendiri. Titik. Menjadi feminis bukan berarti kau tidak boleh bersedih telah kehilangan orang yang berharga untukmu, apalagi kalau kalian sudah bersama dalam waktu lama.
(Dokter Eli, hlm. 214)
***
Setelah membaca ulang novel ini, aku memutuskan untuk mendudukannya ke rak favorit di akun Goodreads-ku. Apa yang dialami Amanda dalam novel ini mengingatkanku untuk mengatasi pikiran-pikiran negatifku sendiri. Novel ini mengingatkanku bahwa akulah yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku. Bahkan alam semesta pun tidak.

Novel ini sangat bagus dibaca oleh para remaja dan dewasa-muda yang sedang mencari jati diri. Apalagi yang juga menderita depresi. Wejangan-wejangan Dokter Eli pasti berguna juga untuk para pembaca. Mungkin sebagian pembaca akan merasa bahwa pemikiran Amanda tentang Tuhan itu radikal dan berbahaya bagi keimanan remaja yang jadi pembacanya. Wajar, sih, karena kebanyakan orang Indonesia bisa dibilang agamis, dan oleh karenanya agak sulit menerima pemikiran yang berbeda. Namun, aku mengagumi bahwa Amanda, anak semuda itu, bisa berpikir sendiri dan tak lelah bertanya serta mencari.
Alam semesta tidak punya kewajiban untuk membuatku merasa berharga; aku yang harus melakukannya untuk diriku sendiri. (hlm. 262)
rating saya:


identitas buku

Judul: A untuk Amanda
Penulis: Annisa Ihsani
Editor: Yuniar Budiarti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2016
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-605-03-2631-3
Harga: Rp 60.000,00
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets