Showing posts with label divergent. Show all posts
Showing posts with label divergent. Show all posts

10 February 2015

[Resensi FOUR] His Name is FOUR



Judul Buku                     : Four: A Divergent Collection
Penulis                           : Veronica Roth
Penerjemah                   : Esti Budihabsari
Tebal                             : 288 halaman
Penerbit/cetakan            : Mizan/Cetakan I, Desember 2014
ISBN                              : 978-979-433-859-9
Harga                            : Rp 59.000,00
Rating                            :

Sumber foto di sini, diedit oleh saya.
 
Bagi para penggemar trilogi Divergent, tokoh Four bisa jadi sangat memikat. Penampilan fisik yang kuat, dengan hanya empat ketakutan. Namun, begitu salah satu ketakutan itu menyerangnya—ayahnya—ia tak mampu mengendalikan diri. Barangkali ada yang pernah bertanya-tanya, mengapa Roth dalam Divergent menggunakan sudut pandang orang pertama Tris? Mengapa bukan Four? Dalam buku ini Roth menjawabnya.
Sampai bertemu Tris dalam Divergent, kehidupan Four terbagi menjadi empat tahap perkembangan besar, yang masing-masing dituangkan Roth dalam sebuah cerita (agak) pendek. The Transfer, The Initiate, The Son, The Traitor.


  1. Tes kecakapan Tobias diawasi oleh Tori (seperti Tris), dan hasilnya aneh (seperti Tris juga).
  2. Kekejaman Marcus terhadapnya membuat Tobias sadar bahwa ia tak bisa tetap di Abnegation.
    "Apabila kau memilih Abnegation, kau tak akan bisa lari darinya." (Four, hal. 34)
  3. Keresahan Tobias pada Hari Pemilihan, bahkan sampai pada saat ia maju ke depan lima baskom, ia masih diliputi keraguan.
    "Kau adalah orang yang harus hidup dengan pilihanmu." (Tori, hal. 44)
  4. Pertama kali bertemu Eric, mereka berdua langsung tidak cocok. Di sini, Tobias bertemu dengan Amar, instruktur inisiasinya, juga dengan Zeke, yang menjadi sahabatnya. Pertama kalinya juga Tobias mendaoat nama baru: Four.
    "'Hei, Tori,' teriak Amar ke meja belakangnya. 'Kau pernah dengar orang hanya punya empat ketakutan di Ruang Ketakutannya?'
    'Terakhir yang kudengar, rekornya adalah tujuh atau delapan. Kenapa?' balas Tori.
    'Aku punya peserta pindahan di sini yang hanya punya empat ketakutan.'" (hal. 66)

  1. Four mendapatkan tato pertamanya di punggung, berupa gambar artistik simbol api Dauntless, akibat menerima tantangan dari teman-temannya.
    Sumber foto di sini, diedit oleh saya.
  2. Pertama kali Four berada dalam simulasi, dan ia sadar. Ia hanya membutuhkan waktu lima menit di dalam sana.
    "Aku dulu sepertimu. Aku bisa mengubah simulasi. Kukira aku hanya satu-satunya." (Amar, hal. 106)
  3. Amar mati setelah peristiwa Jeanine Matthews mencurigai hasil tes simulasi Four dan Amar yang abnormal.
  4. Four lulus inisiasi sebagai peringkat pertama dari seluruh peserta.


  1. Four bertemu kembali dengan seseorang yang seolah bangkit dari kematian.
    "Di hari yang paling kaubenci
    Saat wanita itu mati
    Di tempat yang pertama kali kaulompati." (hal. 153)
  2. Four mulai mencurigai keterlibatan Erudite dalam urusan Dauntless, salah satunya adalah proyek pemilihan pemimpin baru Dauntless, di mana ia menjadi salah satu calonnya.
    "Aku tak akan jadi pion, tidak bagi mereka, bagi ibuku, dan ayahku. Aku tak mau menjadi milik siapa pun, kecuali diriku sendiri." (Four, hal. 173)
  3. Ingat tato di punggung Four? Ia meminta Tori melanjutkan tato pertamanya (simbol Dauntless) menjadi rangkaian simbol-simbol semua faksi. Berkat Tori juga, ia sadar bahwa ia seorang Divergent.
  4. Pada akhirnya, Four memilih pekerjaan sebagai instruktur inisiasi sekaligus berkutat dengan komputer di ruang kendali.
 

Kisah ini terjadi setelah Tris bergabung dan menjadi peserta inisiasi Dauntless, sehingga banyak bagian sebagaimana dapat dijumpai di Divergent.
  1. Dari hasil penyelidikannya, Four mengetahui bahwa Dauntless akan melakukan sebuah serangan.
    "Mereka akan menyerang Abnegation." (Four, hal. 216)
  2. Edward ditusuk matanya. Al bunuh diri. Four menemukan bahwa Tris adalah seorang Divergent juga, sehingga ia membantu Tris menghilangkan data simulasinya.
  3. Four bertemu kedua kali dengan seorang yang bangkit dari kematian.
  4. Four mengajak Tris masuk dalam Ruang Ketakutannya, karena ia merasa gadis itu pantas mendapatkan kepercayaannya.

Dengan gaya penulisan khas Roth, kisah Four ini terkemas dengan jujur dan lugas. Gaya penceritaan orang pertamanya—seperti biasa—informatif dan tidak bawel, tapi kurang unik. Saya merasa, gaya bercerita si “aku” Four mirip dengan “aku” Tris. Atau mungkin ini hanya karena yang pertama kali saya kenal lewat Divergent adalah “aku” sebagai Tris. Tapi, anehnya, menurut saya, kisah ini akan lebih cocok jika menggunakan “aku” Four, bukan Tris. Atau malah keduanya secara berganti-ganti seperti dalam Allegiant. Jika Tris yang menjadi “aku”, maka kisah ini malah menjadi cengeng dan hanya berputar-putar di masalah percintaan Tris-Four (seperti dalam Insurgent, yang bikin saya muak). Padahal, yang saya harapkan adalah fokus Roth tetap pada masalah faksi dan distopianya, bukan malah bergeser ke masalah romansa belaka.

Yang saya suka dari gaya bercerita Roth adalah gaya humornya yang cool dan sarkastis, seperti banyak saya jumpai di Allegiant.
“Akhir-akhir ini sepertinya banyak logam yang menempel ke tubuhmu. Kau mungkin sebaiknya periksa ke dokter.” (Four pada Eric, yang tindikannya makin banyak, hal. 174)
Saya menjumpai beberapa kesalahan penulisan maupun pemilihan kata, sehingga sedikit mengganggu kenikmatan membaca. Mungkin ini tak akan terjadi jika editor bekerja sedikit lebih teliti, hehehe. Terakhir, saya menghadiahi buku ini empat bintang karena saya puas akan penyingkapan-penyingkapan yang dieksekusi Roth, terhadap hal-hal yang masih belum tersingkap di trilogi Divergent, khususnya membayar rasa penasaran akan apa yang sebenarnya dipikirkan dan dialami Four sebelum bertemu dengan Tris.



11 April 2014

Review FILM DIVERGENT - Faction Over Family








How This Began

Sabtu sore, 22 Maret 2014, bersama Bang Karis—motor Karisma oranye-silver—yang setia menemani saya ke mana saja, saya melaju hendak ke Togamas Gejayan, lewat Ringroad Utara. Sudah lebih dari sebulan saya tidak menghirup aroma kertas dan lem penjilid buku-buku baru di toko buku. Seharusnya, ini akan jadi sore yang menyenangkan, daripada mengautiskan diri di dalam kamar kos setelah tadi siang berkutat dengan proposal PKM GT.

Sebenarnya saya juga belum tahu mau ngapain setelah pulang dari toko buku nanti. Lampu merah di perempatan Kentungan menghentikan laju motor saya. Tak dinyana-nyana, tepat di depan saya, ada sosok yang sangat saya kenal, berkaos putih tipis dan berkendaraan motor Supra hitam plat H.
“Galeh!” Setengah menjerit, langsung saya panggil sahabat saya itu. Dia menengok, lalu ini menjadi awal petualangan saya malam itu. Setelah saya pikir-pikir, bukankah ini rencana Tuhan? Bagaimana bisa, tanpa direncanakan, saya bertemu dengan sahabat saya itu di lampu merah? Banyak lampu merah di Jogja, tapi bagaimana bisa dari sekian banyak lampu merah itu, kami berdua sama-sama terjebak lampu merah di perempatan Kentungan? Cieee…

“Aku mau nonton film ntar malem. Bareng Aji, Nando, Yonatan. Mau ikut nggak?” Wah, tuh, kan, ini rencana Tuhan untuk menyelamatkan saya dari “malam minggu tanpa acara”.
“Film apa?”
Divergent.”
Boom! Blast! Sek, sek, emang udah keluar? Bukannya baru tayang akhir 2014, ya?” Itu seingat saya, sih, setelah waktu itu melihat trailer film yang kutunggu-tunggu itu. Blah, silakan cibir saya. Ngakunya suka bukunya dan menanti-nanti filmnya, tapi jadwal tayangnya pun nggak hafal. It’s me.
“Nggak, kok, udah tayang. Ayo, ikut!”

Tentu saja saya mau—MAU BANGET—ikut!! Saya sudah baca novelnya sampai sekuelnya yang kedua. Jujur saja, saya penasaran banget pengen nonton filmnya. Yah, meskipun, setelah nonton trailer-nya, saya agak kecewa dengan pemilihan tokoh Tris dan Four yang tidak seperti bayangan saya. Tapi, saya masih tetap ingin menontonnya! Saya nggak sabar ingin menonton adegan saat para Dauntless melompat ke atas kereta yang sedang melaju. Juga bangunan The Pit yang deskripsinya di dalam novel tidak terlalu bisa saya bayangkan—well, saya juga ingin menonton bentuk visualnya!
***


Sekitar setengah jam kami berjuang menerobos lalu lintas yang padat, belum lagi mencari celah untuk memarkirkan motor di antara sesaknya Ambarrukmo Plaza. Kami masuk Studio 1 Cinema 21 tepat saat layar kosong, hanya menampilkan warna hitam. Sebentar kemudian, film yang kutunggu-tunggu dimulai. Sesuai dengan novelnya, adegan pertama menampilkan Beatrice Prior (Shailene Woodley) yang sedang duduk, sementara rambutnya dipotong dan dirapikan oleh ibunya, Natalie (Ashley Judd). Kemudian ia pergi bersama Caleb, kakaknya—yang GANTENG banget di filmnya—untuk mengikuti tes kecakapan. Sekilas diperlihatkan profil tiap faksi melalui simbol-simbol mereka; pakaian yang mereka kenakan (Abnegation: abu-abu, Erudite: biru; Dauntless: hitam, Amity: kuning-merah, Candor: hitam-putih); juga tingkah laku mereka.
 


Kelima faksi


Yang paling bikin saya merinding adalah ketika tiba-tiba terdengar backsound beat bertempo cepat mengiringi kemunculan para Dauntless yang berlari. They look so cool, alive, and free. Pantas saja Beatrice Prior mengagumi mereka.

Blah-blah-blah About Divergent


Pemandangan Kota Chicago Pasca Perang



Kisah ini bercerita tentang masa depan, ketika kota Chicago telah hancur karena peperangan. Untuk menciptakan kedamaian, dibentuklah faksi-faksi yang berisi orang-orang dengan sifat yang sama. Ada lima faksi: Abnegation, yang tidak egois dan sederhana; Erudite, yang mengutamakan ilmu pengetahuan di atas segalanya; Amity, yang baik hati dan penuh damai; Dauntless, yang pemberani dan bebas, berperan sebagai semacam tentara penjaga negara; Candor, yang memuja kejujuran lebih dari apapun. Kelima faksi tersebut hidup dengan rukun dan saling membantu sehingga tercipta kehidupan yang damai. Anak-anak yang telah berusia enam belas tahun harus mengikuti tes kecakapan untuk menetapkan faksi mana tempat mereka akan berada. Masalahnya, Beatrice Prior tak tahu di faksi mana seharusnya ia berada. Sebagai putri dari salah satu tokoh penting Abnegation, Andrew Prior (Tony Goldwyn) yang dekat dengan pemimpin Abnegation, Marcus Eaton (Ray Stevenson), Beatrice merasa tidak cukup layak berada di faksi itu. Ia terlalu egois untuk menjadi seorang Abnegation, tidak seperti kakaknya, Caleb Prior (Ansel Elgort) yang selalu tampak sempurna sebagai seorang Abnegation. 

Setelah tes kecakapan, Tori (Maggie Q), sang penguji, memperingatkan Beatrice untuk tidak memberitahu siapapun bahwa hasil simulasinya tak dapat disimpulkan. Ia mengidap kelainan, Divergent, dengan tiga hasil: Abnegation, Dauntless, dan Erudite. Beatrice ragu. Tapi kakaknya, yang selalu tidak egois, malah berkata, “Kita harus memikirkan keluarga kita. Tapi, kita juga harus memikirkan diri kita sendiri.” Kalimat itu makin memantapkan Beatrice untuk memilih satu di antara dua pilihan: Abnegation atau Dauntless. Tentu saja, itu bukan pilihan yang mudah, karena one choice can transform you, dan hasil tes menjadi tak penting lagi.
“Tes itu tak perlu mengubah pilihan kita.” (Beatrice)
Saat upacara pemilihan, Beatrice akhirnya meneteskan darahnya di atas bara api dalam mangkok Dauntless. Ia resmi memilih Dauntless sebagai faksinya. Sementara itu, jauh di luar dugaan, Caleb memilih Erudite, yang membuat faksi Abnegation tercengang, lantaran mereka sedang bermusuhan. Faksi Erudite ingin menggulingkan pemerintahan yang selama ini dipegang oleh Abnegation.
“Abnegation, if left unchecked, can destroy the system.” (Jeanine)
Tak semudah itu untuk menjadi anggota resmi faksi Dauntless; hanya 10 yang akan dipilih. Mereka harus bertarung dan menunjukkan kemampuan untuk mengangkat dan mempertahankan ranking mereka. Beatrice—yang kemudian mengubah namanya menjadi Tris—bersama para anggota baru lainnya harus menjalani serangkaian latihan fisik dan mental. Prestasi mereka akan terus dipantau dan dinilai. Yang berada di bawah batas rangking akan didepak dan menjadi factionless. Ini tidak mudah bagi Tris, mengalami ujian fisik yang berat di bawah pemerintahan kejam Eric (Jai Courtney), salah satu ketua Dauntless. Namun, keberadaan Four (Theo James), mentornya yang selalu membantunya tanpa kentara, berhasil menguatkannya. Begitu juga dengan keberadaan teman-temannya, Christina (Zoe Kravitz), Will (Ben Lloyd-Hughes), dan Al (Christian Madsen). Meskipun ternyata salah satu di antara mereka nantinya malah mengkhianatinya.

 Beberapa adegan berbahaya



Karena sifat pantang menyerah dan kecerdasannya, Tris berhasil masuk menjadi anggota Dauntless, begitu juga Christina dan Will. Tapi kekacauan terjadi ketika faksi Erudite mengendalikan otak para Dauntless dan mengarahkan mereke untuk menyerang Abnegation, karena faksi itu dianggap paling banyak menyembunyikan para Divergent. Selama masa inisiasi Dauntless, Tris berusaha menyembunyikan identitasnya sebagai seorang Divergent lantaran Erudite, yang dipimpin oleh Jeanine Matthews (Kate Winslet), berambisi untuk menangkap para Divergent dan membunuh mereka, karena dianggap berbahaya. Tris, yang otaknya tidak mempan dikendalikan oleh serum pemancar buatan Erudite, berpura-pura menjadi seperti yang lain demi menyelamatkan keluarganya. Saat itulah, ia mengetahui bahwa Four juga seorang Divergent, karena serum itu juga tidak mempan terhadapnya. Berdua, mereka berusaha menyelamatkan keluarga Tris dan menghentikan manipulasi pikiran yang dilakukan oleh Erudite tersebut.

Apakah Tris berhasil menyelamatkan keluarganya? Apakah mereka akan berhasil menyadarkan para Dauntless yang termanipulasi? Ataukah mereka akan tertangkap, sehingga Erudite bisa mempelajari otak mereka untuk menciptakan serum pengendali pikiran untuk Divergent?

 Tris di dalam bak tertutup berisi air, saat uji mental


The Movie vs The Book

Film ini adalah salah satu dari beberapa film yang menceritakan tentang kehidupan di bumi di masa yang akan datang. Bukannya makin sejahtera, kehidupan di bumi penuh dengan gambaran mengerikan. Kehancuran. Perang. Sistem pemerintahan yang baru. Seperti halnya yang digambarkan dalam film Hunger Games dengan Capitol sebagai penguasa yang sewenang-wenang, dan tak sedikit warga distrik yang hidup dalam kemiskinan. Atau dalam film The Host, di mana di masa yang akan datang, kehidupan di bumi hancur karena diserang oleh alien. Juga dalam film Elysium, dengan Elysium sebagai pusat penguasa, dan orang-orang di bumi sebagai pihak yang menderita. Film-film semacam ini dikategorikan dalam genre dystopia. Apa itu dystopia? Link berikut ini mungkin bisa mengobati rasa ingin tahu tentang dystopia, dan perbedaannya dengan utopia.

Di film Divergent ini, pemerintahan dijalankan oleh Abnegation, tapi Erudite yang dengki ingin merebutnya dan membasmi para Divergent. Tris, sebagai salah satu Divergent, juga dianggap berbahaya, apalagi dengan sifat pemberontaknya. Hampir sama dengan Katniss yang membuat Capitol kelimpungan dengan buah beri dan simbol mocking jay-nya.
“You don’t conform.  Your mind works in a million different ways.  They can’t control you.” (Tris’ Mom)
Sembari menonton filmnya dengan perhatian penuh, tanpa bisa saya cegah, pikiran saya menerawang ke novelnya yang versi terjemahan bahasa Indonesia. Terdapat beberapa perbedaan atau ketiadaan adegan dalam film, dibandingkan dengan novelnya, misalnya sebagai berikut.

1.     Bentuk muka tris lonjong harusnya, tapi kok bulat (hal 9). Tris seharusnya juga bertubuh kurus dan agak pendek, bukannya sintal dan tinggi seperti yang diperankan oleh Shailene Woodley.
2.     Di novel ada tokoh Susan dan Robert tapi di film nggak ada (hal. 17 & 39).
3.     Nggak ada adegan Peter menyerang kamar Tris saat malam hari, padahal ini termasuk adegan yang penting.
4.     Kemunculan Tris pertama kali dalam film seharusnya dia memakai celana, bukan rok panjang abu-abu (hal. 13).
5.    Tori harusnya memakai blazer hitam seperti setelan pria (halaman 20). Tidak ada percakapan tentang tato Tori yang bergambar elang (hal. 22)
6.     Saat tes kecakapan, keren banget, Tris melihat banyak pantulan dirinya di cermin, efeknya keren, meski di novel nggak ada pantulan dirinya banyak banget kayak gitu (hal 23)


"Trises"


1.     Tidak ada tes kecakapan kedua, ketika Tris berada di dalam bus, uji kejujuran (hal 26).
2.     Tidak ada adegan Tori menjelaskan kenapa hasil tesnya tak bisa disimpulkan (hal 31-32).
3.  Di novel, yang berpidato saat upacara pemilihan adalah Marcus, tapi di filmnya, Jeanine. Mungkin karena pemerannya adalah Kate Winslet, jadi dibanyakin jatah “nongolnya”. Padahal sebenarnya, di buku Divergent, tokoh Jeanine ini tidak terlalu signifikan.
4.    Menurut deskripsi fisik Christina dalam novel, harusnya gadis itu “tinggi, berkulit gelap dengan rambut pendek.” (hal 66). Dalam filmnya, memang ia berkulit gelap dan berambut pendek, tapi anehnya, ia lebih pendek dan lebih kurus dibandingkan Tris. Bukankah seharusnya sebaliknya?

 Perbandingan tinggi Christina dan Tris


Then, Was I Stunned? Satisfied?

Tak bisa dipungkiri, dalam proses adaptasi kisah novel menjadi film, memang dibutuhkan penyesuaian beberapa adegan, untuk beberapa alasan. Misalnya, untuk penghematan biaya produksi, beberapa adegan dihilangkan. Meskipun ada beberapa adegan penting yang dihilangkan, seperti saat Peter menyerang pada malam hari, secara keseluruhan film berdurasi 2 jam lebih ini tidak mengecewakan. Seru dan menegangkan, membuat saya merinding dan tertawa di beberapa bagian, dan tak mampu mengedipkan mata selama 139 menit.


Four                  : My name is Four.
Christina           : What, like the number?
Four                  : Exactly like that.
Christina           : What happened?  1-3 were taken?
Selain itu, terlepas dari ketidaksesuaian tampilan fisiknya, akting Shailene Woodley tidak terlalu bagus dalam memerankan tokoh Tris yang pendiam. Shailene tampak seperti robot, bukan pendiam. Tapi, akting Four bagus. Apalagi Eric. Pemeran ibu Tris juga cocok dengan deskripsi dalam novel, dengan wajahnya yang bertulang pipi tinggi.
 Ibu Tris


Yang paling sesuai dengan bayangan saya adalah pemeran tokoh Jeanine. Kate Winslet cocok sekali memerankannya.
 Jeanine Matthews


Meskipun begitu, ternyata Veronica Roth, sang penulis novel Divergent, puas dengan hasil casting untuk Tris dan Four. 
"I was sure within seconds: this was 'Four', no question. Theo is able to capture 'Four's' authority and strength, as well as his depth and sensitivity." She also mentions the chemistry between him and Shailene: "He is a perfect match for Shailene's incredibly strong presence as Tris. I'm thrilled!" http://en.wikipedia.org/wiki/Divergent_(film)

Oh, iya, salah satu line film yang melekat dalam pikiran saya adalah moto faksi: Faction over family. Faksi di atas keluarga. Faksi lebih penting dari pertalian darah.” (kalau dalam novel ada di halaman 56). Begitu besar kesetiaan yang dituntut oleh faksi, sehingga ikatan keluarga berada di bawah kepentingan faksi. Ini mengesankan sekaligus mengerikan. Bayangkan kau diharuskan membunuh ibumu sendiri demi kepentingan faksimu. Tapi, bagi Tris, tampaknya keluarga tetap berada di atas faksi, meskipun pada akhirnya ia harus kehilangan orangtuanya. 

Selain itu, tagline film ini, What makes you different, makes you dangerous juga mengembuskan nafas keberanian dan pemberontakan. Nyatanya, manusia tak bisa benar-benar diklasifikasikan sifatnya menjadi satu jenis kepribadian saja. Tidak ada orang yang murni melankolis, misalnya. Juga tak ada yang murni sanguinis. Sebenarnya, semua manusia itu divergent. Klasifikasi itu tak penting lagi, selama kau dapat berdiri di atas keyakinanmu dan memperjuangkannya, seperti kata Shailene Woodley:
“It doesn’t mean that you have to go climb buildings or jump off trains,” Woodley says. “But you can find the courage to stand up for what you believe in and diverge from mediocrity.”

http://time.com/32022/divergent-dystopian-stories-shailene-woodley-interview/
Selain line favorit, ada juga beberapa adegan di film ini yang sangat saya sukai, selain tampilan latar kota Chicago yang memukau:

1.     Ketika Tris meluncur di atas gedung-gedung dengan flying fox. Saat itulah, ia benar-benar merasa bebas. Kalau dibikin 3D mesti akan keren sekali.
2.     Saat Tris menembak Eric, Peter, dan menancapkan pisau ke tangan Jeanine. Bener-bener, nih cewek pemberani banget!

Peter    : You’re not going to shoot me.
Tris       : I think you may be over-estimating my character.
3.     Semua visualisasi simulasi ketakutan dan juga saat tes kecakapan Tris.
4.     Ketika Tris bertempur bersama ibunya, yang ternyata dulunya adalah seorang Dauntless. Dua orang wanita kuat dan pemberani.

Sebelum saya sudahi review ini, saya ingin mengajukan satu pertanyaan: tidakkah kalian pikir pemeran Four alias Tobias Eaton itu agak mirip VJ Mike? Hehehe. Dan, satu lagi, di faksi manakah kemungkinan besar kalian akan berada? Eh, kalian bisa mencoba Faction Quiz, lho, untuk mengetahui faksi manakah yang cocok untuk kalian. Kalau saya sendiri, saya ragu-ragu. Yang jelas, saya tidak mungkin seorang Candor dan Amity *eh, ngikut-ngikut Tris* *biarin, wkwk*.

Btw, saya semakin tidak sabar ingin membaca bukunya yang terakhir, Allegiant. Sayangnya, sampai saya menulis review ini, versi terjemahan Indonesianya belum ada di toko buku (mungkin sekarang sudah ada). Kabar baiknya, film sekuelnya, Insurgent, dijadwalkan akan rilis tanggal 20 Maret 2015 nanti. Juga, Allegiant, sekuelnya yang terakhir, akan rilis tanggal 18 Maret 2016.













bloggerwidgets