Showing posts with label klasik. Show all posts
Showing posts with label klasik. Show all posts

16 March 2017

[Resensi] The (seemed-to-be-) Great Gatsby



Mereka orang-orang jahat. Kau lebih berharga daripada mereka semua. (Nick, hlm. 224)

sinopsis

Nick Carraway pindah ke sebuah rumah kecil di West Egg, diapit dua gedung besar. Salah satunya, yang di sebelah kanan, adalah puri Mr. Gatsby. Setiap akhir pekan, rumah itu penuh sesak dan berdentam-dentam meriah. Pesta-pesta besar Gatsby terkenal sampai ke mana-mana. Nick belum merasakan sendiri bagaimana rasanya berada di antara lautan manusia yang tengah berpesta itu, sampai suatu kali undangan pesta datang kepadanya, ditandatangani sendiri oleh Gatsby.

Sebelumnya, Nick mengunjungi sepupunya, Daisy, dan suaminya, Tom, di rumah indah mereka di East Egg (kembaran West Egg tapi lebih mengilap). Di sana dia bertemu dengan Jordan Baker, seorang atlet, yang juga teman Daisy. Nah, di pesta Gatsby yang meriah itu, saat Nick nyaris putus asa karena tidak mengenal siapa pun, akhirnya ia bisa bernapas lega setelah melihat Jordan.

Di pesta itulah, pertama kalinya Nick mendengar berbagai gosip mengenai siapa sebenarnya Gatsby. Ada yang bilang dia pernah membunuh seseorang; atau terlibat bisnis berbahaya; dan semacamnya. Tampaknya tidak ada yang benar-benar mengenal Gatsby, padahal mereka sering datang ke pestanya.
Pertemuan dengan Gatsby secara langsung malam itu membuka pintu bagi Nick menuju pengenalan akan masa lalu dan sisi lain Gatsby dari apa yang selama ini terlihat dari puri megahnya dan pesta-pesta meriahnya. Termasuk, bahwa selama ini Gatsby menyimpan obsesi akan Daisy, yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Secara malu-malu, Gatsby meminta tolong kepada Nick untuk mempertemukannya dengan Daisy. Nick tak akan menyangka bahwa pertemuan itu akan berujung pada tragedi.

karakter & sudut pandang—si narator yang bukan tokoh utama

Saya lebih dulu menonton film The Great Gatsby daripada membaca bukunya, jadi sangat sulit untuk mengenyahkan bayangan Leonardo di Caprio dari kepala saat membaca buku ini. Uniknya, di film ini dan The Wolf of Wall Street, Leonardo di Caprio memerankan karakter yang sama-sama miskin awalnya, lalu jadi kaya-raya setelah menjalankan sebuah bisnis.

Meski dari judul bisa langsung ketahuan kalau buku ini akan mengisahkan tentang Gatsby, tapi sudut pandang penceritanya adalah “aku”-nya Nick. Ini menarik, karena seolah-olah Gatsby akan tetap jadi sosok yang berjarak dengan pembaca, sekaligus cukup dekat untuk mengenalnya. Mungkin seperti yang dikiaskan oleh rumah Nick dengan rumah Gatsby. Sangat berdekatan, sangat berbeda secara fisik; Nick bisa mengintip ke pekarangan rumah itu, bisa melihat puncak-puncak menaranya, tapi tak pernah mengetahui dalamnya. Awalnya begitu. Lalu, setelah Nick akhirnya masuk dan berkeliling rumah itu, akhirnya pula ia berkenalan secara langsung dengan si empunya rumah.

Nick

Karena memakai sudut pandang “aku”-nya Nick, secara otomatis kita lebih dulu mengenal Nick daripada si tokoh utama, Gatsby. Nick berasal dari keluarga terpandang dan berada (seperti yang ia ceritakan di hlm. 11) di kota daerah Barat-Tengah. Nick lalu pindah ke daerah Timur dan mempelajari bisnis obligasi. Menurut dirinya sendiri, Nick adalah orang yang jujur (hlm. 90).

Menurut pemahaman saya, Nick adalah orang yang tidak terlalu suka berada di tengah keramaian. Ia adalah orang yang relatif lebih bermoral ketimbang para social climber itu, tak heran karena Nick berasal dari keluarga terhormat. Nick adalah pribadi yang mampu bersikap tenang, seperti saya rasakan dari gaya penuturannya, juga sikapnya saat Daisy, Tom, dan Gatsby terlibat percekcokan. Lucunya, Nick sering terlibat di dalam hubungan dan situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin karena ia dianggap orang yang easy-going. Pertama, pertemuan Tom dengan selingkuhannya, Myrtle. Kedua, pertemuan pertama Gatsby dengan Daisy. Lalu hang-out yang berisi ketegangan dan berakhir tidak menyenangkan dengan Gatsby, Daisy, Jordan, dan Tom. Yang sabar, ya, Nick.
 
Mengenai Gatsby, Nick kadang bersikap tidak percaya (terlebih karena gosip-gosip yang beredar dan memang awalnya Gatsby tidak jujur padanya), tapi lama-lama kekaguman dan kepercayaannya tumbuh. Meski kadang dia masih ragu, sih. Wajar, Gatsby memang sosok yang misterius.

Gatsby

Nah, mari beralih ke Gatsby. Sosoknya beraromakan kontradiksi dan ironi. Semua orang yang datang ke pestanya merasa mengenalnya tapi tidak pernah benar-benar mengenalnya. Julukannya (mungkin yang diberikan oleh Nick, seperti yang jadi judul buku) adalah “The Great Gatsby”, tapi sesungguhnya ia juga lelaki biasa. Oke, dia memang hebat dalam hal kekayaannya, terlebih ia benar-benar memulai dari minus (bukan nol lagi), dan bodoh amat lah, apa sebenarnya bisnis yang ia jalankan (koneksinya dengan Wolfshiem mengindikasikan adanya kejahatan terorganisasi). Meski begitu, ia tidak lantas melupakan orang tuanya (yang secara tidak langsung telah menyebabkan kemiskinan keluarganya). Di bagian akhir, pembaca akan tahu bahwa selama ini ia memperhatikan ayahnya (ibunya entah sudah meninggal atau bagaimana).

Sehebat apa pun Gatsby, dia tetaplah seorang lelaki biasa, yang bisa sedemikian mencintai seorang gadis, dan tetap mencintainya meski selama lima tahun tak pernah berinteraksi. Namun dalam hal ini pun, dia bisa dikatakan hebat. Obsesinya akan Daisy tetap besar, dan bisa dibilang obsesi itulah yang memampukan dia berjuang untuk lepas dari kemiskinan. Di sisi lain, obsesi ini memerangkapnya dalam masa lalu. Dengan kata lain, Gatsby ini susah move on. Lihatlah, bagaimana ia membeli rumah itu hanya agar bisa memandangi cahaya lampu dermaga rumah Daisy di seberang.

Gatsby berbicara banyak tentang masa lalu dan aku mengerti bahwa dia ingin mendapatkan sesuatu kembali, mungkin sosok dari dirinya sendiri yang lenyap karena mencintai Daisy. Kehidupannya membingungkan dan berantakan sejak saat itu, tetapi jika sekali lagi dia bisa kembali ke titik awal tertentu dan menjalaninya lagi dengan perlahan, dia bisa menemukan apa yang dicarinya… (hlm. 163)

Adalah ironi bahwa dalam pesta-pestanya, Gatsby dikelilingi oleh keramaian, tetapi ia terlihat tenggelam dalam kesendirian (seperti digambarkan Nick, saat Gatsby berdiri sendirian di puncak tangga terasnya). Banyak orang datang ke pestanya dan mengenalnya, tapi cuma sebatas apa yang tampak dari kekayaannya. Selebihnya, tak ada yang benar-benar mengenalnya. Yang bikin lebih miris lagi adalah, dari sekian orang yang mengenal Gatsby di masa kejayaannya, hanya satu (selain Nick, ayah Gatsby, para pelayan, sopir, tukang kebun, dan pendeta) yang datang saat akhir yang penuh tragedi.

Ironi lain, yang nyaris lucu, adalah yang diungkapkan Mr. Wolfshiem tentang Gatsby,

Yeah, Gatsby sangat berhati-hati dengan kaum perempuan. Dia tidak akan pernah melirik istri seorang teman. (hlm. 107)

Well, kenyataannya Gatsby mencintai istri seorang teman. Oh, tidak tepat begitu, sih, karena Tom tak bisa dibilang teman Gatsby.

daisy

Tidak seperti Gatsby yang demikian mencintai Daisy, saya malah sama sekali tidak bisa jatuh cinta akan tokoh ini. Daisy adalah tokoh yang impulsif, seperti bisa dilihat jelas saat ia mengatakan ia mencintai Gatsby, padahal di situ ada Tom (hlm. 174). Di adegan-adegan selanjutnya, sifat impulsif dan egoisnya tampak jelas. Tragedi di akhir, meski secara tidak langsung adalah akibat dari obsesi Gatsby akan Daisy, secara langsung itu disebabkan oleh tingkah impulsif nan ceroboh Daisy. Setelah itu, dengan mudahnya ia (dan Tom) lepas tangan. Namun, dalam hal perasaannya yang bercabang kepada Tom dan Gatsby, itu bisa saya mengerti dan maklumi.

tom buchanan

Tom adalah karakter yang negatif. Dari cara bicara dan sikapnya, pembaca bisa langsung tahu kalau dia orang yang arogan. Dia juga munafik, contohnya tentang perselingkuhannya. Ia dengan sangat kasual dan terbuka mengajak Nick bertemu dengan selingkuhannya. Pun ia tampak tak khawatir dengan kenyataan bahwa Daisy sudah mengetahui perihal tersebut. Tapi anehnya, di dalam kereta, Tom sok-sokan merasa nggak enak kalau nanti ada orang East Egg yang menangkap basah ia segerbong dengan selingkuhannya.

latar tempat

Sudah lama sejak saya menonton film The Great Gatsby, jadi saya tak bisa mengingat bagaimana indahnya Pantai Long Island, Pulau West Egg, dan East Egg. Maka, saya ingin mengingat kembali latar tempat tersebut.
Sumber: Shmoop
Fitzgerald menggunakan dua daratan yang terpisah ini, West Egg dan East Egg, untuk menggambarkan dikotomi antara para keluarga ningrat dan orang kaya baru. West Egg dihuni oleh, seperti Gatsby, orang kaya baru yang mendapatkan kekayaannya dari kerja keras (meski mungkin bisnis ilegal). Sementara itu, East Egg dihuni oleh keluarga ningrat atau orang kaya lama, yang kaya memang “sudah dari sononya”, seperti Daisy dan Tom. Dari sudut pandang orang East Egg, seperti diwakili oleh Tom, orang kaya baru seperti Gatsby dianggap “norak”. Misalnya, bagaimana Tom memandang jijik terhadap setelan pink yang dipakai Gatsby. Atau saat Gatsby tidak memahami ajakan basa-basi Sloane, dan mengira itu ajakan sungguhan.

isu sosial di Amerika Serikat tahun 1920-an

Pesta gila-gilaan di rumah Gatsby. Sumber: Bfi
Novel ini terbit tahun 1925, dengan latar waktu cerita pada tahun 1922 (meski kelihatan kalau Nick menceritakan kejadian pada tahun 1922 itu secara flashback. Kalau kamu ingin tahu lebih jelas tentang ini, coba kunjungi ini). Tema sosial pada tahun 1920-an sangat krusial dalam novel ini, karena merupakan ruh cerita. 
Setelah mengarungi rimba informasi di internet, saya mendapati bahwa tahun 1920-an di Amerika Serikat dijuluki “Jazz Age” atau “Roaring Twenties”, ditandai dengan meledaknya perekonomian, musik Jazz yang ngetren, perubahan perilaku para perempuan, dan menurunnya moral. Uang dan konsumerisme merupakan bagian dari mimpi banyak orang. Tak heran, banyak social climber bermunculan di pesta-pesta, berharap mendapat koneksi atau sekadar sok kaya, seperti para hadirin pesta Gatsby.

Kemudian tentang hubungan orang kulit hitam dan kulit putih di masa itu. Di halaman 102, saat berkendara ke kota bersama Gatsby, di jalan Nick melihat sebuah limosin yang dikemudikan oleh seorang kulit putih. Penumpangnya adalah “tiga orang kulit hitam yang bergaya”. Mungkin ledakan ekonomi saat itu telah melahirkan juga orang kaya baru dari kalangan minoritas kulit hitam.

pesan moral

“I am afraid you don’t quite see the moral of the story,” remarked the Linnet.
“The what?” screamed the Water-rat.
“The moral.”
“Do you mean to say that the story has a moral?”
“Certainly,” said the Linnet.
“Well, really,” said the Water-rat, in a very angry manner, “I think you should have told me that before you began. If you had done so, I certainly would not have listened to you; in fact, I should have said ‘Pooh’, like the critic…”
(The Devoted Friend by Oscar Wilde)
Melalui The Great Gatsby, Fitzgerald mengkritisi kondisi sosial-ekonomi AS pada masa itu. Ia menggambarkan adanya “karma”, seperti yang dialami Gatsby. Gatsby memperoleh kekayaannya dengan cara-cara yang tidak jujur, yang memang membuatnya sangat berkilau, tapi hanya untuk sejenak. Setelah itu, ia kehilangan Daisy (harusnya ia sudah menyadari kalau ia memang sudah kehilangan Daisy sejak lima tahun lalu) dan meninggal karena dibunuh Wilson, yang lalu bunuh diri. Fitzgerald juga menyampaikan ironi bahwa orang yang berhati baik belum tentu akan berakhir baik. Gatsby, yang berhati baik, rela menanggung tuduhan bahwa ia yang menabrak Myrtle. Sementara itu, Tom dan Daisy, yang sama sekali tidak menunjukkan iktikad untuk bertanggung jawab, bisa dengan mudah kabur dan “memulai hidup baru”.

lebih lanjut

Banyak referensi seputar analisis novel ini. Saya menyarankan satu, yaitu dari Cliffsnotes, yang mengupas secara detail dan menyeluruh bab per bab.

rating saya


identitas buku

Judul: The Great Gatsby
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Editor: M. Imelda Kusumastuty
Desain sampul: Resatio Adi Putra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2014
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-602-03-0880-7
Harga: Rp 42.000,00

2 November 2015

[Resensi 7 KISAH KLASIK] Bukan Sekadar Tujuh Kisah Horor

Judul: 7 Kisah Klasik
Penulis: Edgar Allan Poe
Penerjemah: Diyan Yulianto & Slamat P. Sinambela
Editor: Misni
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, September 2015
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-602-255-968-9
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 4/5


Edgar Allan Poe adalah seorang penulis kenamaan Amerika Serikat, yang terkenal akan karya-karya fiksinya yang horor dan meneror pembaca. Buku ini berisi tujuh cerpen karya Poe, yang diterbitkan pada rentang waktu dari tahun 1839 sampai 1850. Ketujuh kisah ini diterjemahkan dari The Works of Edgar Allan Poe Vol. 1-5. Saya akan mengulas satu per satu cerpen dalam kumpulan cerpen ini, (dengan sebisa mungkin) secara ringkas.

Curahan Hati Sang Pembunuh

Di bagian ini, saya akan mengulas dua cerpen pertama dalam buku ini, yang bertema sama dan pola cerita yang hampir sama pula.

Kucing Hitam (1845)

(diterjemahkan dari The Black Cat)


Si "aku" yang anonim, secara flashback, menceritakan kisah mencekam yang pernah dialaminya beberapa tahun sebelumnya. Dulu iadikenal sebagai anak yang penurut dan welas asih, dan pecinta binatang. Setelah menikah, ia dan istrinya memelihara banyak binatang, tapi yang paling ia sukai adalah Pluto, seekor kucing hitam. Istrinya menceritakan padanya tentang takhayul yang menyebutkan bahwa semua kucing hitam sebenarnya adalah penyihir yang sedang menyamar (hal. 11). Perlahan, si "aku" berubah menjadi orang yang emosional, karena kebiasaan minum-minumnya.
"Temperamenku yang gampang tersinggung menjadi semakin parah, aku membenci semua makhluk dan juga manusia." (hal. 20)
Suatu hari, ia tak bisa mengendalikan dirinya, lalu mencongkel satu mata Pluto. Satu hari yang lain, ia menggantung Pluto hingga mati. Kejadian-kejadian aneh menghampirinya sejak saat itu. 
"Aku menggantungnya karena aku tahu bahwa hal itu adalah sebuah perbuatan dosa..." (hal. 14)

Jantung yang Berkisah (1850)

(diterjemahkan dari The Tell-Tale Heart)

Si "aku" membunuh seorang lelaki tua. Terhadap orang tua itu ia pandai beramah-tamah, seolah tak terjadi apa-apa, tapi tiap pukul 12 malam, ia selalu mengintip ke dalam apartemen lelaki itu, sampai waktu yang tepat untuk membunuhnya. Suatu saat, lelaki tua itu merasakan kehadirannya dan menjerit ketakutan. Malam itulah, malam kedelapan sejak ia meneror si lelaki tua, si "aku" akhirnya membunuhnya. Ia membunuhnya setelah mendengar derap jantung ketakutan si korban, yang membuatnya cemas, kalau-kalau tetangga akan mendengarnya. Maka, ia memutuskan untuk membunuhnya saja, lalu menyembunyikan mayatnya dengan rapi.
"Aku tahu apa yang dirasakan orang tua itu, dan aku kasihan kepadanya, meskipun di dalam hati aku tertawa begitu hebat." (hal. 30)
Jantung si korbanlah, yang akhirnya mengungkapkan tempat mayatnya disembunyikan. Karena memiliki indra yang sangat tajam, si pembunuh bisa mendengar detak jantung si korban.

Mirip, tapi tak Sama

Kedua cerpen tersebut mengambil tema yang serupa, tentang kekerasan dalam rumah tangga dan rasa bersalah yang mencengkeram hati sang narator. Dalam Kucing Hitam, si narator membunuh kucingnya, Pluto, dan kemudian istrinya juga. Motifnya membunuh Pluto adalah dorongan nafsu semata, tanpa penyebab yang jelas. Bahkan, ia mencucurkan air mata ketika menggantung kucing kesayangannya itu. Sementara itu, dalam Jantung yang Berkisah, si narator membunuh seorang lelaki tua yang bermata biru pucat. Motifnya adalah karena ia merasa ketakutan akan mata lelaki tua itu.

Poe juga mengenalkan kontradiksi dalam kedua cerpen ini. Dalam cerpen yang pertama, secara terang-terangan mempertentangkan realitas dan logika dengan hal gaib. Si narator berusaha tetap berpikir logis (terlihat ketika ia menemukan bahwa di dinding sisa rumahnya terbakar terdapat gambar siluet yang mirip Pluto, dan mencari tahu penyebabnya secara logis), sedangkan di akhir cerita muncul hal-hal gaib (seperti yang akan saya jelaskan kemudian).

Kedua naratornya pun sama-sama tak bernama, dan mengalami degradasi moral dan kewarasan secara bertahap. Di bagian pembukaan cerita, anehnya, si narator mengklaim bahwa ia tidak gila.
"Namun, aku bukanlah orang gila dan aku yakin aku tidak sedang berkhayal." (Kucing Hitam, hal. 9)
"Lalu bagaimana kau bisa menyebutku gila? Dengarlah! Dan lihatlah betapa sehatnya diriku." (Jantung yang Berkisah, hal. 27)
Dalam cerpen yang kedua, Poe menyajikan kisah tentang paranoia dan kemerosotan mental, yang mewujud dalam obsesi si narator terhadap tiga hal: mata si lelaki tua, suara detak jantung, dan kewarasannya (SparkNotes). Si narator ini tidak sadar akan ketidakwarasannya, dan tidak tahu mengapa ia jadi aneh (hipersensitif, terutama terhadap suara). Sedangkan di cerpen pertama, Poe menyajikan tema serupa; si narator juga menyangkal kegilaannya, tapi ia memelihara pemikiran yang logis, dan tahu apa penyebab kegilaannya itu. Ia mengatakan bahwa, "Aku malu mengakuinya, tetapi kebiasaan minum-minum telah menjadikanku orang yang semakin buruk." (hal. 11).

Peran alkohol dalam cerpen yang pertama juga signifikan, lantaran Poe sendiri dikenal sebagai pemabuk tak terkendali sepanjang hidupnya (SparkNotes)

Kontradiksi yang lain adalah kemampuan si narator untuk mencintai sekaligus membenci korbannya. Pada cerpen yang pertama, si narator menyayangi Pluto dan istrinya, tapi tetap saja, ia membunuh mereka. Setelah membunuh Pluto, ia merasa sangat bersalah dan semakin bergantung pada alkohol. Mungkin, munculnya kucing kedua yang mirip dengan Pluto (dengan mata satunya) dan bulu putih yang membentuk pola seperti tali menjerat lehernya, adalah efek halusinasi yang ditimbulkan oleh ketergantungannya akan alkohol. Dugaan serupa juga bisa diterapkan pada akhir cerita, ketika si kucing kedua ditemukan masih hidup dan terkubur bersama mayat sang istri. Secara logis, aneh bukan, jika seekor kucing yang masih hidup terkubur dalam tembok dan tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali pada si narator?

Setelah melakukan pembunuhan yang kedua, si narator makin tak bermoral ternyata. Ia sama sekali tak merasa bersalah telah membunuh istrinya, tidak seperti pasca-pembunuhan Pluto.

Pada cerpen yang kedua, kontradiksi ini juga muncul. Si narator menyayangi si lelaki tua, tapi membunuhnya juga. Hipersensitivitas akan suara menyebabkan ia kesulitan membedakan mana suara yang nyata dan tidak. Pada akhirnya, ia salah mengira suara detak jantungnya sebagai detak jantung si mayat lelaki tua, yang akhirnya membuat ia ketakutan dan mengakui kejahatannya pada polisi.

Kedua cerpen ini hendak menyampaikan pesan pada pembaca, bahwa sejatinya niat untuk melakukan kejahatan itu muncul dari dalam diri sendiri--dari kegagalan diri untuk menekan dorongan-dorongan untuk melanggar hukum.

Kumbang Emas (1843)


Dalam cerpen ini, si "aku" adalah narator, tapi kisah berpusat pada sahabatnya, William Legrand, yang hidup menyendiri di Pulau Sullivan, Carolina Selatan, bersama asistennya, Jupiter.
"Ternyata, dia adalah orang yang berpendidikan tinggi, dengan kecerdasan di atas rata-rata, tapi sayangnya sudah dicemari oleh ketidaksukaannya terhadap manusia." (hal. 39)
Suatu hari, Legrand menemukan kumbang emas, dan di situlah awal petualangannya mencari harta karun peninggalan Kapten Kidd, seorang bajak laut. Kecerdasannya nampak saat ia menjelaskan kronologi pemecahan enkripsi dalam selembar surat perjanjian bajak laut yang ia temukan.

53++!305))6*;4826)4+.)4+);806*;48!8'60))85;]
8*:+*8!83(88)5*!;46(;88*96*?;8)*+(;485);5*!
2:*+(;4956*2(5*-4)8'8*;4069285);)6!8)4++;1
(+9;48081;8:8+1;48!85;4)485!528806*81(+9;48;
(88;4(+?34;48)4+;161;:188;+?;
(hal. 87)

Poe menuliskan kisah ini menggunakan alur maju dan flashback, yaitu penemuan harta karun diletakkan di depan, proses pemecahan kode diceritakan setelahnya. Pengaturan plot seperti ini memberikan keuntungan bagi Poe untuk memantik rasa penasaran pembaca. Namun, bagian awalnya menimbulkan kesalahpahaman akan hubungan kumbang emas dengan tengkorak manusia. Bahwasanya kumbang emas, yang dijadikan judul itu, tidak terlalu penting terhadap penemuan harta karun. Selain itu, penemuan kumbang emas itu pun merupakan kebetulan semata.

Kumbang Emas adalah cerpen terpanjang dalam kumcer ini (67 halaman), dan disebut-sebut sebagai cerpen "bajak-laut" pertama yang pernah ditulis. Meski sudah kuno, teknik pemecahan sandi enkripsi yang dideskripsikan oleh Poe masih digunakan sampai sekarang. Bagian pemecahan kode ini memberikan aura cerita detektif. Gaya menulis Poe yang boros kata-kata sangat kental dalam cerpen ini. Namun, "boros-kata" ini juga menyebabkan deskripsi setting Pulau Sullivan tertulis dengan detail. Begitu juga dengan deskripsi letak harta karun dan pemecahan kode.

Mungkin bagi pembaca di zaman sekarang, penempatan Jupiter sebagai orang negro, dengan logat yang aneh dan kecerdasan yang berada di bawah tuannya (orang kulit putih), akan menimbulkan kesan diskriminasi. Legrand mungkin menyimbolkan karakter Poe sendiri, dengan kegemarannya akan pemecahan teka-teki dan kesukaannya akan ironi. Ironi ini muncul dalam bentuk kecurigaan si narator akan kewarasan Legrand, yang pada akhirnya ternyata malah berhasil memecahkan teka-teki dengan cerdas (Gradesaver).

William Wilson (1842)


"Awalnya hanya keisengan-keisengan kecil, lalu kenakalan-kenakalan berbahaya, hingga akhirnya menjadi kejahatan tak terampunkan." (hal. 105)
Si "aku" mewarisi karakter keluarganya, yaitu berimajinasi tinggi dan mudah naik darah. Seiring ia tumbuh, karakter ini makin mendominasi kepribadiannya, sehingga ia menjadi "bocah yang susah diatur, gemar melakukan tindakan liar dan tak terduga, serta dikendalikan oleh nafsu" (hal. 106).

Di masa sekolahnya dulu, ada seorang teman sekelas yang memiliki nama persis dengan dirinya, William Wilson. Dari segi fisik pun mereka berdua sangat mirip, pun tanggal lahirnya sama, sehingga orang-orang mengira mereka adalah kembar. Tapi si "aku" tahu pasti bahwa ia tak punya kembaran. Sejak saat itu, si "aku" tak mau lagi dipanggil dengan nama William Wilson. Si "aku" menjadi pentolan si sekolah, karena sifat mendominasinya. Tapi ia jengkel terhadap si Wilson yang lain karena bocah itu adalah satu-satunya anak yang tidak tunduk terhadap penindasan si "aku". Si "aku" juga menganggap bahwa si Wilson ini adalah saingannya. Pertemanan yang ganjil pun terjalin di antara keduanya.

Saat si "aku" menjalani hidup berfoya-foya dan penuh keburukan sebagai mahasiswa di Oxford, si Wilson datang untuk mengungkap kecurangannya. Si "aku" juga menyebutkan bahwa sebelumnya si Wilson selalu muncul untuk menjegal kejahatannya, mulai dari ketika masa sekolah di Eton itu, Roma, Paris, Napoli, hingga Mesir. Terakhir, ketika di Roma, si "aku" akhirnya menyadari siapa sebenarnya si Wilson.

Poe menghadirkan beberapa paradoks. Pertama, paradoks tentang Pastur si kepala sekolah: "pembawaannya terlihat ramah sekaligus agung", tetapi ia "menjalankan sekolah dengan muka masam, mendidik dengan tangan besi, dan memiliki sifat ringan tangan" (hal. 108). Bahkan, biliknya pun menimbulkan kesan seram
"Di pojok ruangan yang paling ujung--bagian yang membikin bulu kuduk merinding--terdapat sebuah bilik kotak berukuran dua setengah atau tiga meter persegi yang merupakan ruang pribadi kepala sekolah kami, Yang Terhormat Dr. Bransby." (hal. 110)
Poe juga kembali menggunakan deskripsi yang terlalu mendramatisasi, seperti tampak dalam deskripsi panjang si narator akan bangunan sekolahnya yang menimbulkan kesan seram dan memenjara murid-murid di dalamnya.
"Dinding yang melingkupi sekolah kami juga dilengkapi dengan sebuah gerbang yang tidak kalah galaknya. Gerbang itu diperkuat jeruji-jeruji besi yang di atasnya dipenuhi oleh pasak-pasak logam. Sungguh seram kesan yang ditimbulkan!" (hal. 108)
"Tangga-tangga melingkarnya seperti tidak punya ujung, begitu juga ruang-ruangnya yang disekat. Susah untuk menggambarkan ada berapa lantai yang disatukan di dalamnya." (hal. 109)

Melalui cerpen ini, Poe ingin mengatakan bahwa di dalam diri manusia selalu ada dua sisi yang berperang dalam setiap pengambilan keputusan: sisi hitam dan sisi putih. Kebaikan dan kejahatan yang senantiasa berebut tahta dalam hati manusia, layaknya Hyde dan Jekyll.
"Kau telah mengalahkanku dan aku pun menyerah. Namun, dengan begitu kau pun ikut mati--musnah sudah harapanmu di dunia. Di dalam dirikulah engkau hidup--dan dengan kematianku, lihatlah diriku yang adalah pantulan dirimu--kau telah membunuh dirimu sendiri." (hal. 136)

Potret Oval Seorang Gadis (1850)

(diterjemahkan dari The Oval Portrait)


Si "aku" sedang terluka parah di suatu malam yang dingin, kemudian bersama pelayannya, menumpang tidur di dalam sebuah ruangan di sebuah kastel. Dinding ruangan itu ternyata dipenuhi lukisan, salah satunya adalah potret seorang gadis muda. Ketika ia membaca penjelasan tentang potret itu, dalam buku yang menceritakan sejarah tiap-tiap lukisan, ia menemukan kisah ketulusan cinta yang berakhir pedih di baliknya. 

Ajaib, Poe mampu menulis sebuah cerpen pendek! Potret Oval Seorang Gadis adalah cerpen terpendek dalam kumcer ini (6 halaman), tapi maknanya cukup dalam. Poe mengulik kisah ketulusan cinta, yang tampak dalam karakter si gadis muda. Ia tulus mencintai si lelaki pelukis. Meski ia membenci seni lukis karena merasa diduakan, ia tetap bersedia memenuhi keinginan si lelaki untuk melukis wajahnya. 

Poe menghadirkan isu obsesi dan gender dalam cerpen yang merupakan gabungan dari sastra Gothik dan romantisme ini. Obsesi mewujud dalam sosok pelukis, yang terobsesi memindahkan kecantikan istrinya ke dalam lukisan, sehingga ia gagal melihat istrinya sebagai seorang manusia. Dari seorang gadis muda yang cantik, ia bertransformasi menjadi objek tak bernyawa, dan kemudian kemanusiaannya terlupakan, terabadikan dalam wujud lukisan di dalam sebuah kastel  yang kumuh. Si gadis menjadi hanya sepenting kecantikan dalam wujud lukisan (UK Essays).

Isu tentang gender mewujud dalam sikap tunduk si gadis terhadap suaminya. Hal ini sekaligus menunjukkan kisah cinta yang berakhir fatal. Sikap patuh si gadis ini berperan sebagai kritik akan dominasi laki-laki akan dunia seni. Namun, kepatuhan itu, bersama dengan kerelaannya, tak lebih dari pada sekadar "peringatan bisu" (silent warning--GradeSaver).
"Tapi, gadis ini rendah hati dan taat, patuh dan dia rela duduk selama berminggu-minggu dalam gelap, di sebuah kamar di dalam sebuah menara kecil tempat cahaya hanya menyorot kanvas pucat dari atas." (hal. 141)

Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher (1839)

(diterjemahkan dari The Fall of the House of Usher)



Si "aku" menjadi saksi runtuhnya kediaman keluarga Usher; sebuah rumah besar yang terkesan muram dan angker. Dikisahkan bahwa keluarga Usher tidak pernah bergaul dengan dunia luar, melakukan perkawinan sedarah, hingga mewariskan penyakit menurun. Dua keturunan terakhirnya, kakak beradik, akhirnya juga ikut meninggal bersama dengan runtuhnya rumah itu.

Nuansa horor-magis meliputi cerpen ini, dengan alurnya yang agak susah dipahami. Sama seperti dalam dua cerpen pertama, Roderick Usher mengalami kemerosotan mental. Seperti si narator dalam Jantung yang Berkisah, pewaris keluarga Usher itu juga mengalami gejala hipersensitif, tapi bedanya, si Usher sadar bahwa ia tak sehat. Roderick turut hancur seiring runtuhnya rumah besar warisan itu. Paradoks muncul di sini: hipersensitivitas Roderick membuatnya merindukan kebebasan, tapi juga membuatnya tak mampu mencapainya. The House of his heredity claims him for its own (Gerald M. Garmon).

Kebangkitan kembali Madelaine, adik Roderick, bisa dipahami sebagai berikut: Madelaine memang mengidap suatu penyakit, yang suatu hari membuatnya koma. Roderick, yang mengiranya telah meninggal, buru-buru menguburkannya dalam peti. Kemudian, karena ternyata adiknya belum meninggal, tak mengherankan jika kemudian ia "bangkit" dari kuburnya.

Obrolan Bersama Sesosok Mumi (1850)

(diterjemahkan dari Some Words with a Mummy)



Beberapa orang lelaki, termasuk si "aku", berkumpul untuk meneliti mumi. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati ternyata si mumi masih hidup! Bagaimana bisa? Karena si mumi ini keturunan keluarga Scarabaeus yang sangat dihormati, yang memiliki tradisi pembalsaman tanpa mengambil jeroan si manusia. Si mumi ini sebenarnya mengalami serangan epilepsi, tapi orang-orang mengira ia sudah mati dan langsung membalsamnya. Jadi, ia dibalsam ketika masih hidup. Semalaman itu, mereka menghabiskan waktu yang menakjubkan dengan mengobrol bersama si mumi.
"..bagaimanapun kondisi seseorang ketika dia dibalsam, maka selamanya dia akan tetap seperti itu." (hal. 190)
Cerpen ini merupakan hasil obsesi Poe akan sains dan ilmu kedokteran (Trespassing Journal). Poe kembali bermain-main dengan realita dan supranatural. Secara ilmiah, cerpen ini menyajikan deskripsi teknis terkait cara pembalsaman orang-orang Mesir kuno, yang sangat menarik untuk diketahui. Namun, atmosfer supranatural melingkupi cerpen ini.
"..penting untuk diketahui bahwa pembalsaman di Mesir dilakukan untuk membekukan fungsi-fungsi hewani dalam diri manusia." (hal. 190)
Selain si mumi yang hidup kembali, hal menarik lain adalah ketika Gliddon (yang mahir berbahasa Mesir) menggambarkan kata "politik" agar bisa dimengerti oleh si mumi. Karena tidak ada lambang hieroglif yang tepat untuk "politik", maka Gliddon menggambarkannya sebagai "orang berhidung lancip tengah berkacak pinggang di atas sebuah tempat tinggi dengan lengan kiri di belakang punggung dan lengan kanan menunjuk ke depan, tatapannya mengarah ke langit dan mulutnya membuka dalam sudut sembilan puluh derajat." (hal. 186). Politik digambarkan sebagai orang yang memerintah.

***

Butuh kontemplasi mendalam untuk memahami apa yang sebenarnya hendak disampaikan oleh Poe dalam cerpen-cerpennya yang muram. Membacanya saja butuh usaha keras, apalagi untuk menerjemahkannya menjadi terjemahan yang cukup terasa seperti bukan terjemahan ini. Jika penasaran, boleh lho, menengok curahan hati sang penerjemah di blog-nya.

Cerpen-cerpen Poe memang kebanyakan bernuansa horor, tapi tak ada alasan untuk tak membacanya karena "takut", lantaran makna yang dikandung oleh cerpen-cerpen itu lebih dalam dari pada sekadar kesan luarnya yang kelam dan menyeramkan.

18 February 2015

[Resensi "Yang Hidup dan Mati"] Budaya Bengali Klasik yang Menyimpan Banyak Kejutan


Judul Buku                       : Yang Hidup dan Mati
Penulis                            : Rabindranath Tagore
Penerjemah                     : Sovia Veronica Purba
  (diterjemahkan dari Selected Short Stories, London: Penguin Books)
Tebal                              : 384 halaman
Penerbit/cetakan              : DIVA Press/Cetakan I, Desember 2014
ISBN                              : 978-602-255-771-5
Harga                             : Rp 60.000,00

Rating : 

Buku ini merupakan kumpulan tiga puluh cerpen pilihan karya Rabindranath Tagore, yang diterbitkan pertama kali di beberapa majalah[1] Bengali pada tahun 1891 – 1900. Sebuah pendahuluan setebal 35 halaman yang sepertinya ditulis oleh pihak penerjemah dari Penguin Books memiliki peran tersendiri dalam buku ini. Bagian pendahuluan yang berisi biografi singkat Tagore itu cukup menjawab pertanyaan awal pembaca yang awam akan karyanya (layaknya saya), seperti tema cerpen seperti apa yang biasanya beliau tulis? Berikut ini adalah pengakuannya.
“...ceritaku dipenuhi oleh perangai orang-orang desa.... Ada sebuah daya tarik universal yang tercatat dalam diri mereka, karena manusia di mana pun adalah sama.” (hal. 12)
Bagian pendahuluan ini juga menyelipkan latar belakang mengapa Tagore lebih memilih untuk menuliskan kehidupan orang-orang desa dibandingkan dengan kehidupan di kota[2].

Orang Desa versus Orang Kota

Sumber di sini.

Memang, Tagore menjadikan orang-orang desa sebagai tokoh utama ceritanya, dan berbagai masalah hidup mereka sebagai pemandu plotnya. Orang desa ini terwakili oleh sosok Kadambini (Yang Hidup dan Mati). Tokoh ini terbelah status hidupnya, berada di antara “hidup” dan “mati”, yang menjadi simbol krisis jati diri orang desa yang mengalami transisi menuju kehidupan modern. Sifat orang desa yang peka dan penuh kasih muncul dalam sosok Ratan (Kepala Kantor Pos). Juga dalam kerelaan Raicharan (Kembalinya si Tuan Kecil) menyerahkan anaknya[3] pada majikannya agar hidupnya terjamin, lantaran ia amat miskin. Tagore juga menggambarkan kepolosan (yang teramat berlebihan) orang desa melalui karakter Taraprasanna (Popularitas Taraprasanna), sehingga ditipu oleh orang-orang kota (Kalkuta).

Tak semua orang desa berkarakter polos. Ternyata ada juga yang kikir, seperti Yajnanath (Penyerahan Kekayaan), yang sedemikian kikir mengumpulkan harta hingga direlakannya istrinya meninggal daripada jika harus menghabiskan uang untuk memanggil dokter. Tagore juga mengangkat cerita tentang orang desa yang menjadi orang kaya baru, kemudian pindah ke Kalkuta (tokoh Baidyanath dalam Anak Tumbal). Fenomena orang kaya baru ini memiliki kekuatan mengubah orang menjadi sombong dan menimbulkan ironi tersendiri.
“Baidyanath justru duduk di tengah-tengah makanan berlimpah dan sibuk memikirkan siapa kelak yang harus memakannya. Seluruh wilayah negara yang sedang kelaparan menatap piring kosongnya dan bertanya-tanya apa yang harus dimakannya.” (hal. 298)
Lebih parah lagi, Tagore mengeksplorasi bahwa di tengah kemiskinan pun dapat terjadi perselisihan antarkeluarga karena perebutan harta. Hanya gara-gara perebutan sebuah parit pembatas kedua rumah beserta sebatang pohon limau yang tumbuh di satu sisinya, memecah kerukunan keluarga Harachandra dan Gokulchandra (dalam Perpecahan). Harga diri dan harta yang tak seberapa itu merusak persahabatan di antara kedua anak mereka, Banamali dan Himangshu.

Berlawanan dengan kata-katanya sendiri, nyatanya banyak cerpen Tagore yang justru bercerita tentang kehidupan orang kaya, sebagian besar berprofesi sebagai zamindar[4]. Bahkan, zamindar yang berasal dari Nayanjor dipanggil dengan gelar bangsawan (dalam Thakurda). Dalam cerpen ini, Kailas Babu adalah keturunan keluarga kaya itu, tapi sudah tak tersisa lagi warisan baginya, sehingga ia tak ubahnya orang miskin. Tapi, penampilannya membuat tetangganya mengira ia masih sok kaya, padahal itu semua dilakukannya semata untuk menjaga martabat nenek moyangnya. Seorang zamindar bijaksana, Matilal Babu (dalam Sang Tamu) menemukan kekayaan lain di luar kekayaan materinya, semenjak bertemu dengan Tarapada. Dari kepribadian sederhana bocah brahmana itu ia belajar membuka pikirannya. Calon menantu untuk anak perempuannya tak harus berasal dari keluarga yang selevel dengannya, karena ada yang lebih penting daripada itu, yaitu kepribadian yang baik, seperti yang dimiliki Tarapada. Namun, bocah itu ternyata memiliki kekayaan jiwa yang bebas hingga ia tak mau terikat selamanya akan apa pun.

Jangan Anggap Remeh Seorang Anak

Sumber di sini.

Mungkin Tagore hidup sebelum kutipan terkenal itu ditulis, tapi kepekaannya akan kehidupan telah membuatnya menuliskan cerita-cerita di mana seorang anak memiliki peran yang penting dalam membalik kehidupan orang dewasa. Petikan di atas sangat sesuai dengan yang Tagore sampaikan melalui Terkabulnya Sebuah Keinginan, di mana ayah dan anak (Subal dan Sushil) saling belajar dari diri satu sama lain setelah sang Dewi Keinginan membuat mereka bertukar tubuh. Cerita serupa juga muncul dalam Sang Redaktur.
“Aku tidak begitu paham, perhatian siapa yang lebih kuat: diriku yang harus membesarkan putriku yang tidak lagi memiliki ibu dengan kasih sayang ganda, atau dia yang harus merawat ayahnya yang tidak lagi beristri.... Terlihat jelas bahwa anak kecil ini mencoba menjadi malaikat penjaga ayahnya.” (hal. 157)
Tokoh “aku” tersebut akhirnya menjadi tenar sebagai penulis, dan juga seorang redaktur majalah. Kesibukannya itu membuatnya tak lagi punya waktu untuk anaknya, dan dengan cepat hubungan mereka menjadi berjarak. Sampai kemudian anaknya sakit, dan ia sadar bahwa tulisan-tulisannya jauh tidak lebih penting dibandingkan anaknya.
Dengan bicara tentang ketidakadilan yang ditimpakan pada mereka, anak-anak memberikan pembelajaran terhadap orang dewasa. Dalam Sang Nyonya Rumah, Tagore menggunakan tokoh Ashu, yang dihina oleh gurunya yang gemar mengganti nama murid-muridnya, untuk bicara tentang perlakuan tidak adil tersebut.
“...orang umumnya mencintai namanya sendiri jauh melebihi diri mereka sendiri; mereka akan berbuat apa saja untuk memperjuangkan nama mereka.... Jika kamu mengubah nama seseorang, maka kamu mengusik sesuatu yang lebih berharga dibanding hidup itu sendiri.” (hal. 74)
Seorang anak, yang bahkan tidak disadari keberadaannya oleh sang ayah kandung, ternyata dapat menimbulkan masalah pelik, seperti dalam Anak Tumbal.
“Gurudoyal datang, kemudian mengusir perempuan dan anaknya yang kecil. Anak laki-laki kecil yang kelaparan itu ternyata adalah anak satu-satunya Baidyanath. Ratusan pendeta brahmana yang diberi gizi dengan baik dan tiga sannyasi gendut, terus memikat Baidyanath dengan janji bahwa ia akan mempunyai seorang anak, dan terus memakan makanannya dengan rakus.” (hal. 299)
Kehadiran seorang anak yang tampak tak berdaya ternyata dapat menghancurkan harapan dan rencana licik orang dewasa, seperti dimunculkan Tagore dalam Kakak Perempuan. Nilkanta, seorang bocah brahmana dalam Yang tak Diinginkan, juga mengalami kesulitan akibat perlakuan buruk yang ditimpakan Sharat padanya karena orang dewasa itu merasa tersingkir dan iri hati.

Posisi Perempuan yang Begitu Mengerikan

Sumber di sini.

Dari cerita-cerita Tagore, saya mempelajari peran dan posisi perempuan dalam budaya India zaman dulu. Dan, meski mungkin di banyak negara lain di zaman dulu para perempuan diperlakukan sama buruknya, tetap saja saya terkejut akan betapa mengerikan hal-hal yang saya temukan di sini.

PERNIKAHAN USIA TERAMAT DINI

Gadis-gadis India zaman dulu menikah pada usia kanak-kanak.
“Umurku belum genap delapan tahun ketika aku menikah.” (Anugerah Penglihatan, hal. 319)
Fenomena ini menyebabkan banyak anak perempuan yang tak sempat mengecap pendidikan. Belajar menulis pun menjadi sesuatu yang teramat salah, jika itu dilakukan oleh seorang gadis muda yang telah bersuami. Uma, yang menikah pada umur sembilan tahun (dalam Buku Latihan) mengalami hal ini. Kegemarannya menulis apa pun dalam buku latihannya menimbulkan kecaman keluarga sang suami.
“Rupanya si istri juga ingin pergi ke kantor dengan menyelipkan pena di telinganya?” (hal. 187)
Ironisnya, “Pyarimohan (sang suami) juga mempunyai sebuah buku latihan yang penuh dengan berbagai macam esai sepihak yang menusuk, tapi tak ada seorang pun berani mencuri dan memusnahkannya.” (hal. 188)

PERNIKAHAN ADALAH UPACARA JUAL-BELI

Tagore berusaha menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap adat pernikahan India yang mewajibkan orang tua si mempelai perempuan membayar sejumlah mahar kepada pihak mempelai laki-laki. Jadi, orang tua mempelai perempuan harus menanggung dua beban: menyerahkan anaknya untuk tinggal di rumah mertua[5] dan membayar mahar yang tidak sedikit. Jika gagal melunasi mahar, maka sesuatu yang buruk dapat terjadi pada anak gadisnya, seperti dalam Untung dan Rugi.

ISTRI HARUS MEMBELA SUAMI, APAPUN YANG TERJADI

Dalam masa itu, seorang istri memiliki pengabdian yang tak terhingga pada sang suami, sehingga apa pun akan dilakukan untuk menjaga nama baik suami. Tokoh “aku” yang buta dalam Anugerah Penglihatan melakukan hal semacam ini. Ketika terbukti bahwa upaya pengobatan yang dilakukan suaminya (yang adalah dokter muda) ternyata malah makin merusak matanya, ia tetap menutupi kesalahan suaminya itu.
“Seorang ibu harus membohongi anaknya; seorang istri harus membuat suaminya senang...” (hal. 322)
Bukan hanya itu, ia juga tak mengizinkan suaminya merawatnya terlalu berlebihan.
“Tidak ada laki-laki yang harus membuat janji untuk menjadi budak abadi bagi istrinya yang buta.” (hal. 326)
Pernah terjadi juga, sang suami menimpakan kesalahan pada istrinya. Dalam Hukuman, Chidam bahkan menjadikan istrinya sendiri, Chandara, sebagai tersangka pembunuhan terhadap kakak iparnya, Radha. Padahal sebenarnya kakak laki-lakinyalah, Dukhiram, yang membunuh istrinya sendiri.

ADA JUGA PEREMPUAN PEMBERANI...

Jika sebelumnya Tagore memunculkan tokoh perempuan yang mengalami perlakuan buruk oleh suaminya dan tak melakukan apa pun untuk membela dirinya, maka kini sebaliknya. Melalui tokoh Giribala dalam Ketenangan yang Lembut, Tagore menyatakan bahwa perempuan juga dapat membela dirinya sendiri. Juga melalui keteguhan tokoh Sashi dalam membela adiknya di hadapan sang suami (Kakak Perempuan).

Tagore juga memunculkan kontradiksi, dengan adanya sosok perempuan berpendirian kuat dan sangat kaku, yang berlawanan dengan kepribadian umum para perempuan lainnya. Tokoh ini adalah Jaylkali dalam Dilarang Masuk.
“Perempuan ini memiliki semua kelebihan yang seharusnya dimiliki seorang laki-laki.... Para lelaki di desa itu juga takut kepadanya....” (hal. 190)

Pada Akhirnya....

Tagore menggunakan hal-hal gaib untuk menimbulkan kesan dramatis terhadap ceritanya. Seperti saat ia menciptakan kejutan yang mustahil di bagian akhir Kembalinya si Tuan Kecil. Ia juga menggunakan sosok hantu, seperti dalam Kerangka. Beberapa kali Tagore menggunakan sudut pandang orang pertama, dan kadang muncul hanya sebagai sosok tersembunyi sebagai narator “aku”. Ajaibnya, ia juga kadang muncul secara tiba-tiba (padahal sebelumnya tak ada narator “aku”) di satu bagian cerita sebagai tokoh pencerita, si “aku”, seperti dalam Kakak Perempuan.
“Ketika ia mengucapkan selamat tinggal kepada adiknya, Sashi mengatakan bahwa ia akan bertemu lagi dengannya. Aku tidak tahu, apakah janji itu telah dipenuhi olehnya atau tidak.” (hal. 232)
Yang sangat disayangkan dari buku ini adalah keberadaan footnote. Tak ada footnote saat dibutuhkan, dan malah ada saat keberadaannya tidak bermanfaat, seperti footnote pada halaman 273. Footnote ini menjelaskan arti kata subal dan sushil, padahal sudah dijelaskan dalam narasi. Banyaknya istilah dalam bahasa India yang digunakan Tagore menimbulkan kesulitan pemahaman cerita. Memang, arti istilah-istilah tersebut telah dijelaskan di bagian glosarium, tapi banyak juga yang tidak ada di sana. Tentang glosarium ini, saya tidak terlalu nyaman menggunakannya. Ketika sedang asyik membaca, saya harus mencari arti suatu istilah di bagian belakang buku, dan begitu kembali membaca cerita, saya sudah lupa tadi sampai mana. Menurut saya, lebih nyaman jika menggunakan footnote. Lagipula, meski banyak, keberadaan istilah asing ini tidak padat (tidak mesti dalam satu halaman ada istilah asing), sehingga tak masalah jika penjelasannya diletakkan di footnote saja.

Satu hal lagi yang paling disayangkan adalah penerjemahan. Karena sudah melewati dua tahap penerjemahan (India – Inggris – Indonesia), maka banyak makna yang hilang, tak sesuai, atau tak tersampaikan dengan baik. Kondisi ini menyebabkan saya kurang mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Tagore, sehingga mengurangi kenikmatan membaca. Oleh karena itu, saya hanya dapat memberikan rating 3 dari 5 untuk buku ini.





[1] Majalah Sadhana (1891 – 1895), Hitabadi (1891), jurnal Sakha o sashi (1895), dan Bharati (1898 – 1900).
[2] Dalam banyak cerpennya, istilah kota sering merujuk pada Kalkuta.
[3] Yang anehnya mirip dengan almarhum putra sang majikan.
[4] Pemilik saham tanah dan pengumpul pajak.
[5] “Rumah mertua” dalam bahasa India adalah “svasur-bari”, yang juga berarti penjara. Dalam Kabuliwallah, tokoh Rahamat menggunakan permainan kata antara penjara dan rumah mertua.

bloggerwidgets