16 March 2017

[Resensi] The (seemed-to-be-) Great Gatsby



Mereka orang-orang jahat. Kau lebih berharga daripada mereka semua. (Nick, hlm. 224)

sinopsis

Nick Carraway pindah ke sebuah rumah kecil di West Egg, diapit dua gedung besar. Salah satunya, yang di sebelah kanan, adalah puri Mr. Gatsby. Setiap akhir pekan, rumah itu penuh sesak dan berdentam-dentam meriah. Pesta-pesta besar Gatsby terkenal sampai ke mana-mana. Nick belum merasakan sendiri bagaimana rasanya berada di antara lautan manusia yang tengah berpesta itu, sampai suatu kali undangan pesta datang kepadanya, ditandatangani sendiri oleh Gatsby.

Sebelumnya, Nick mengunjungi sepupunya, Daisy, dan suaminya, Tom, di rumah indah mereka di East Egg (kembaran West Egg tapi lebih mengilap). Di sana dia bertemu dengan Jordan Baker, seorang atlet, yang juga teman Daisy. Nah, di pesta Gatsby yang meriah itu, saat Nick nyaris putus asa karena tidak mengenal siapa pun, akhirnya ia bisa bernapas lega setelah melihat Jordan.

Di pesta itulah, pertama kalinya Nick mendengar berbagai gosip mengenai siapa sebenarnya Gatsby. Ada yang bilang dia pernah membunuh seseorang; atau terlibat bisnis berbahaya; dan semacamnya. Tampaknya tidak ada yang benar-benar mengenal Gatsby, padahal mereka sering datang ke pestanya.
Pertemuan dengan Gatsby secara langsung malam itu membuka pintu bagi Nick menuju pengenalan akan masa lalu dan sisi lain Gatsby dari apa yang selama ini terlihat dari puri megahnya dan pesta-pesta meriahnya. Termasuk, bahwa selama ini Gatsby menyimpan obsesi akan Daisy, yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Secara malu-malu, Gatsby meminta tolong kepada Nick untuk mempertemukannya dengan Daisy. Nick tak akan menyangka bahwa pertemuan itu akan berujung pada tragedi.

karakter & sudut pandang—si narator yang bukan tokoh utama

Saya lebih dulu menonton film The Great Gatsby daripada membaca bukunya, jadi sangat sulit untuk mengenyahkan bayangan Leonardo di Caprio dari kepala saat membaca buku ini. Uniknya, di film ini dan The Wolf of Wall Street, Leonardo di Caprio memerankan karakter yang sama-sama miskin awalnya, lalu jadi kaya-raya setelah menjalankan sebuah bisnis.

Meski dari judul bisa langsung ketahuan kalau buku ini akan mengisahkan tentang Gatsby, tapi sudut pandang penceritanya adalah “aku”-nya Nick. Ini menarik, karena seolah-olah Gatsby akan tetap jadi sosok yang berjarak dengan pembaca, sekaligus cukup dekat untuk mengenalnya. Mungkin seperti yang dikiaskan oleh rumah Nick dengan rumah Gatsby. Sangat berdekatan, sangat berbeda secara fisik; Nick bisa mengintip ke pekarangan rumah itu, bisa melihat puncak-puncak menaranya, tapi tak pernah mengetahui dalamnya. Awalnya begitu. Lalu, setelah Nick akhirnya masuk dan berkeliling rumah itu, akhirnya pula ia berkenalan secara langsung dengan si empunya rumah.

Nick

Karena memakai sudut pandang “aku”-nya Nick, secara otomatis kita lebih dulu mengenal Nick daripada si tokoh utama, Gatsby. Nick berasal dari keluarga terpandang dan berada (seperti yang ia ceritakan di hlm. 11) di kota daerah Barat-Tengah. Nick lalu pindah ke daerah Timur dan mempelajari bisnis obligasi. Menurut dirinya sendiri, Nick adalah orang yang jujur (hlm. 90).

Menurut pemahaman saya, Nick adalah orang yang tidak terlalu suka berada di tengah keramaian. Ia adalah orang yang relatif lebih bermoral ketimbang para social climber itu, tak heran karena Nick berasal dari keluarga terhormat. Nick adalah pribadi yang mampu bersikap tenang, seperti saya rasakan dari gaya penuturannya, juga sikapnya saat Daisy, Tom, dan Gatsby terlibat percekcokan. Lucunya, Nick sering terlibat di dalam hubungan dan situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin karena ia dianggap orang yang easy-going. Pertama, pertemuan Tom dengan selingkuhannya, Myrtle. Kedua, pertemuan pertama Gatsby dengan Daisy. Lalu hang-out yang berisi ketegangan dan berakhir tidak menyenangkan dengan Gatsby, Daisy, Jordan, dan Tom. Yang sabar, ya, Nick.
 
Mengenai Gatsby, Nick kadang bersikap tidak percaya (terlebih karena gosip-gosip yang beredar dan memang awalnya Gatsby tidak jujur padanya), tapi lama-lama kekaguman dan kepercayaannya tumbuh. Meski kadang dia masih ragu, sih. Wajar, Gatsby memang sosok yang misterius.

Gatsby

Nah, mari beralih ke Gatsby. Sosoknya beraromakan kontradiksi dan ironi. Semua orang yang datang ke pestanya merasa mengenalnya tapi tidak pernah benar-benar mengenalnya. Julukannya (mungkin yang diberikan oleh Nick, seperti yang jadi judul buku) adalah “The Great Gatsby”, tapi sesungguhnya ia juga lelaki biasa. Oke, dia memang hebat dalam hal kekayaannya, terlebih ia benar-benar memulai dari minus (bukan nol lagi), dan bodoh amat lah, apa sebenarnya bisnis yang ia jalankan (koneksinya dengan Wolfshiem mengindikasikan adanya kejahatan terorganisasi). Meski begitu, ia tidak lantas melupakan orang tuanya (yang secara tidak langsung telah menyebabkan kemiskinan keluarganya). Di bagian akhir, pembaca akan tahu bahwa selama ini ia memperhatikan ayahnya (ibunya entah sudah meninggal atau bagaimana).

Sehebat apa pun Gatsby, dia tetaplah seorang lelaki biasa, yang bisa sedemikian mencintai seorang gadis, dan tetap mencintainya meski selama lima tahun tak pernah berinteraksi. Namun dalam hal ini pun, dia bisa dikatakan hebat. Obsesinya akan Daisy tetap besar, dan bisa dibilang obsesi itulah yang memampukan dia berjuang untuk lepas dari kemiskinan. Di sisi lain, obsesi ini memerangkapnya dalam masa lalu. Dengan kata lain, Gatsby ini susah move on. Lihatlah, bagaimana ia membeli rumah itu hanya agar bisa memandangi cahaya lampu dermaga rumah Daisy di seberang.

Gatsby berbicara banyak tentang masa lalu dan aku mengerti bahwa dia ingin mendapatkan sesuatu kembali, mungkin sosok dari dirinya sendiri yang lenyap karena mencintai Daisy. Kehidupannya membingungkan dan berantakan sejak saat itu, tetapi jika sekali lagi dia bisa kembali ke titik awal tertentu dan menjalaninya lagi dengan perlahan, dia bisa menemukan apa yang dicarinya… (hlm. 163)

Adalah ironi bahwa dalam pesta-pestanya, Gatsby dikelilingi oleh keramaian, tetapi ia terlihat tenggelam dalam kesendirian (seperti digambarkan Nick, saat Gatsby berdiri sendirian di puncak tangga terasnya). Banyak orang datang ke pestanya dan mengenalnya, tapi cuma sebatas apa yang tampak dari kekayaannya. Selebihnya, tak ada yang benar-benar mengenalnya. Yang bikin lebih miris lagi adalah, dari sekian orang yang mengenal Gatsby di masa kejayaannya, hanya satu (selain Nick, ayah Gatsby, para pelayan, sopir, tukang kebun, dan pendeta) yang datang saat akhir yang penuh tragedi.

Ironi lain, yang nyaris lucu, adalah yang diungkapkan Mr. Wolfshiem tentang Gatsby,

Yeah, Gatsby sangat berhati-hati dengan kaum perempuan. Dia tidak akan pernah melirik istri seorang teman. (hlm. 107)

Well, kenyataannya Gatsby mencintai istri seorang teman. Oh, tidak tepat begitu, sih, karena Tom tak bisa dibilang teman Gatsby.

daisy

Tidak seperti Gatsby yang demikian mencintai Daisy, saya malah sama sekali tidak bisa jatuh cinta akan tokoh ini. Daisy adalah tokoh yang impulsif, seperti bisa dilihat jelas saat ia mengatakan ia mencintai Gatsby, padahal di situ ada Tom (hlm. 174). Di adegan-adegan selanjutnya, sifat impulsif dan egoisnya tampak jelas. Tragedi di akhir, meski secara tidak langsung adalah akibat dari obsesi Gatsby akan Daisy, secara langsung itu disebabkan oleh tingkah impulsif nan ceroboh Daisy. Setelah itu, dengan mudahnya ia (dan Tom) lepas tangan. Namun, dalam hal perasaannya yang bercabang kepada Tom dan Gatsby, itu bisa saya mengerti dan maklumi.

tom buchanan

Tom adalah karakter yang negatif. Dari cara bicara dan sikapnya, pembaca bisa langsung tahu kalau dia orang yang arogan. Dia juga munafik, contohnya tentang perselingkuhannya. Ia dengan sangat kasual dan terbuka mengajak Nick bertemu dengan selingkuhannya. Pun ia tampak tak khawatir dengan kenyataan bahwa Daisy sudah mengetahui perihal tersebut. Tapi anehnya, di dalam kereta, Tom sok-sokan merasa nggak enak kalau nanti ada orang East Egg yang menangkap basah ia segerbong dengan selingkuhannya.

latar tempat

Sudah lama sejak saya menonton film The Great Gatsby, jadi saya tak bisa mengingat bagaimana indahnya Pantai Long Island, Pulau West Egg, dan East Egg. Maka, saya ingin mengingat kembali latar tempat tersebut.
Sumber: Shmoop
Fitzgerald menggunakan dua daratan yang terpisah ini, West Egg dan East Egg, untuk menggambarkan dikotomi antara para keluarga ningrat dan orang kaya baru. West Egg dihuni oleh, seperti Gatsby, orang kaya baru yang mendapatkan kekayaannya dari kerja keras (meski mungkin bisnis ilegal). Sementara itu, East Egg dihuni oleh keluarga ningrat atau orang kaya lama, yang kaya memang “sudah dari sononya”, seperti Daisy dan Tom. Dari sudut pandang orang East Egg, seperti diwakili oleh Tom, orang kaya baru seperti Gatsby dianggap “norak”. Misalnya, bagaimana Tom memandang jijik terhadap setelan pink yang dipakai Gatsby. Atau saat Gatsby tidak memahami ajakan basa-basi Sloane, dan mengira itu ajakan sungguhan.

isu sosial di Amerika Serikat tahun 1920-an

Pesta gila-gilaan di rumah Gatsby. Sumber: Bfi
Novel ini terbit tahun 1925, dengan latar waktu cerita pada tahun 1922 (meski kelihatan kalau Nick menceritakan kejadian pada tahun 1922 itu secara flashback. Kalau kamu ingin tahu lebih jelas tentang ini, coba kunjungi ini). Tema sosial pada tahun 1920-an sangat krusial dalam novel ini, karena merupakan ruh cerita. 
Setelah mengarungi rimba informasi di internet, saya mendapati bahwa tahun 1920-an di Amerika Serikat dijuluki “Jazz Age” atau “Roaring Twenties”, ditandai dengan meledaknya perekonomian, musik Jazz yang ngetren, perubahan perilaku para perempuan, dan menurunnya moral. Uang dan konsumerisme merupakan bagian dari mimpi banyak orang. Tak heran, banyak social climber bermunculan di pesta-pesta, berharap mendapat koneksi atau sekadar sok kaya, seperti para hadirin pesta Gatsby.

Kemudian tentang hubungan orang kulit hitam dan kulit putih di masa itu. Di halaman 102, saat berkendara ke kota bersama Gatsby, di jalan Nick melihat sebuah limosin yang dikemudikan oleh seorang kulit putih. Penumpangnya adalah “tiga orang kulit hitam yang bergaya”. Mungkin ledakan ekonomi saat itu telah melahirkan juga orang kaya baru dari kalangan minoritas kulit hitam.

pesan moral

“I am afraid you don’t quite see the moral of the story,” remarked the Linnet.
“The what?” screamed the Water-rat.
“The moral.”
“Do you mean to say that the story has a moral?”
“Certainly,” said the Linnet.
“Well, really,” said the Water-rat, in a very angry manner, “I think you should have told me that before you began. If you had done so, I certainly would not have listened to you; in fact, I should have said ‘Pooh’, like the critic…”
(The Devoted Friend by Oscar Wilde)
Melalui The Great Gatsby, Fitzgerald mengkritisi kondisi sosial-ekonomi AS pada masa itu. Ia menggambarkan adanya “karma”, seperti yang dialami Gatsby. Gatsby memperoleh kekayaannya dengan cara-cara yang tidak jujur, yang memang membuatnya sangat berkilau, tapi hanya untuk sejenak. Setelah itu, ia kehilangan Daisy (harusnya ia sudah menyadari kalau ia memang sudah kehilangan Daisy sejak lima tahun lalu) dan meninggal karena dibunuh Wilson, yang lalu bunuh diri. Fitzgerald juga menyampaikan ironi bahwa orang yang berhati baik belum tentu akan berakhir baik. Gatsby, yang berhati baik, rela menanggung tuduhan bahwa ia yang menabrak Myrtle. Sementara itu, Tom dan Daisy, yang sama sekali tidak menunjukkan iktikad untuk bertanggung jawab, bisa dengan mudah kabur dan “memulai hidup baru”.

lebih lanjut

Banyak referensi seputar analisis novel ini. Saya menyarankan satu, yaitu dari Cliffsnotes, yang mengupas secara detail dan menyeluruh bab per bab.

rating saya


identitas buku

Judul: The Great Gatsby
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Editor: M. Imelda Kusumastuty
Desain sampul: Resatio Adi Putra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2014
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-602-03-0880-7
Harga: Rp 42.000,00
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets