Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts

10 February 2018

Perkenalan Pertama dengan Soe Hok Gie

Judul: Zaman Peralihan || Penulis: Soe Hok Gie
Editor: Stanley & Aris Santoso
Tebal: 308 halaman || Penerbit: Labirin
Terbit: Cetakan I, April 2017
ISBN: 978-979-947-1208

Harga: Rp 100.000,00
Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.
(Soe Hok Gie)

Pemuda Kritis dengan Hati dan Kepala yang Sama Besarnya

Halo, Soe Hok Gie. Dari tulisan-tulisanmu yang terkumpul dalam buku Zaman Peralihan, aku mengenalmu sebagai pemuda yang sangat idealis, kritis, dan berani menanggung konsekuensi atas pemikiran-pemikiran kritisnya. Uniknya, kau tak hanya tajam di ranah pemikiran, tapi juga tajam di ranah tindakan dan kepekaan sosial. Kau seorang pemikir yang kritis sekaligus seorang populis. Kepala dan hatimu sama "besar"-nya, dan tanganmu melakukan aksi nyata. Kau gemar menerapkan dan menguji pengetahuan akademis yang kaumiliki di kehidupan nyata di tengah masyarakat. Tak hanya berhenti di situ, kau menyuarakan dengan lantang isu-isu yang kautemukan di tengah masyarakat kepada pemerintah.

Di zaman peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, pemikiran kritis yang kautuangkan lewat tulisan-tulisan di media massa membuatmu dikenal secara luas. Kau tak ragu-ragu mengkritik pihak-pihak yang kau nilai melakukan hal yang tidak benar dengan menyebut nama mereka terang-terangan. Kau berani mati, ya? Bahkan kau tak ragu mengkritik teman-temanmu sesama aktivis, yang pada masa peralihan itu banyak beralih menjadi birokrat dan hidup dalam kenyamanan dari segi materi. Mereka berdalih bahwa harus ada para pemuda aktivis yang menjadi birokrat agar bisa berperan dalam menyetir perpolitikan dan birokrasi ke arah yang lebih berpihak pada rakyat. Tapi, pada akhirnya malah mereka yang “tersetir” hingga lupa akan visi-misi perjuangan kalian. Sementara kau, kau berprinsip bahwa kau harus tetap berada di luar arus birokrasi itu agar bisa tetap objektif.

Bangsa yang Susah Move On

Begitu membaca tulisan-tulisanmu di buku ini, aku tahu bahwa kau anti-komunis dan anti-pemerintahan Soekarno. Setelah membaca tulisan-tulisanmu berikutnya, aku memahami kenapa kau begitu. Rasa nasionalismemu begitu tinggi, maka kau anti-komunis karena kau menganggap mereka telah dan akan mengacaukan persatuan dan kesatuan bangsa. Kau anti-pemerintahan Soekarno karena mereka korup dan tidak bisa menjalankan pemerintahan dengan benar. Oleh karena itu, kau secara aktif terus mengkritisi mereka dan menyambut dengan optimis munculnya pemerintahan Orde Baru. Kau yakin Soeharto akan jadi pemimpin yang lebih baik daripada Soekarno di masa akhir pemerintahannya. Akan tetapi, kau tetap kritis terhadap pemerintahan Orde Baru. Stanley Adi Prasetyo, dalam tulisannya yang termaktub di buku Soe Hok-Gie Sekali Lagi, mengungkap bahwa kau mengutuk keras tindakan pemerintah Orde Baru dalam pembunuhan orang-orang PKI pasca-G30S.

Ternyata pemerintahan Orde Baru tidak lebih baik daripada Orde Lama. Salah satu contohnya adalah dalam hal pelarangan membaca buku-buku tertentu bagi mahasiswa dan pelarangan terbit buku-buku tertentu, seperti yang kautulis di halaman 142-144. Pelarangan itu telah berlangsung sejak pemerintahan Soekarno, dan setelah pemerintahannya tumbang dan digantikan oleh Soeharto, ternyata keadaan tak jauh berbeda. Buku-buku tersebut tetap dilarang terbit. Meski begitu, kau tetap optimis, bahwa suatu saat nanti tak akan ada lagi buku yang dilarang terbit.
Barangkali mimpi-mimpi saya tak pernah akan terlaksana. Tetapi dengan kerja keras, mimpi-mimpi tadi mungkin akan terlaksana.
(hlm. 145)
Lihatlah, sekarang mimpimu itu sudah tercapai, meski belum seluruhnya. Masih terjadi hal seperti, buku tentang PKI, komunis, atau yang judulnya ada "Tan Malaka"-nya, tiba-tiba saja tak bisa kami temukan di toko buku tertentu. Mengapa? Bagaimana? Yah, rupanya bangsa kita ini susah sekali move on, Soe. Sudah berapa lama bukan kanak lagi—mengutip Chairil Anwar—tapi masih saja menyimpan paranoia berlebihan dan tak berdasar terhadap apa pun yang berbau komunisme. Benar katamu, "...perjuangan melawan prasangka memerlukan waktu yang lama." (hlm. 250).

Melihat Indonesia dari Dekat dan Menemukan Kembali Indonesia dari Jauh

Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung.
(hlm. 58)
Mendaki gunung, menurutmu adalah salah satu cara untuk melihat Indonesia lebih dekat lewat alam dan masyarakatnya. Dari situ, akan timbul rasa cinta yang makin dalam terhadap bangsa. Dalam Zaman Peralihan, kau menuliskan pengalamanmu mendaki Gunung Slamet. Kau juga mencetuskan ide pembentukan organisasi Mapala UI. Tak hanya melihat Indonesia dari dekat, kau juga berkesempatan menemukan kembali Indonesia dari jauh, saat kau tinggal di Amerika Serikat.
Dan 'anehnya' saya merasa bahwa saya lebih mengerti 'Indonesia' setelah saya ada di negeri yang jauh.
(hlm. 228)
Kala kau menyaksikan segregasi antara kaum kulit hitam dan kulit putih di AS, kau bersyukur menjadi orang Indonesia. Indonesia dan ke-bhineka-annya yang dipersatukan oleh semangat yang sama untuk merebut kemerdekaan.
Di New York saya menjadi 'sadar' betapa berharganya warisan kebudayaan kita. Dan rasa bangga sebagai orang Indonesia timbul karena kita merebut kemerdekaan dengan darah.
(hlm. 229)
Dari situ, nasionalismemu terlihat nyata, terlebih ketika kau bertemu dengan tokoh kaum Tionghoa di AS yang sangat ingin menunjukkan ke-Tionghoa-annya di tengah masyarakat AS yang multikultur. Kepadanya kauutarakan pendapatmu yang berseberangan dengan pandangannya.
Saya adalah orang yang mempunyai ide-ide yang berbeda dengan kalian. Bagi generasi muda keturunan Tionghoa di negeri saya, persoalan pokoknya adalah bagaimana mereka dapat mengasimilasi dirinya ke dalam masyarakat mayoritas.
(hlm. 267)
Masyarakat apa yang kalian cita-citakan lima puluh tahun yang akan datang, jika keturunan Eropa memelihara keeropaannya, keturunan Afrika memelihara identitas hitamnya, dan kalian mempertahankan identitas ke-Tionghoa-an?
(hlm. 267)
Namun, Soe, meski kita membangga-banggakan semboyan "bhineka tunggal ika", kau harus mengakui bahwa persatuan masyarakat kita ini bak balon yang digelembungkan berlebihan dan dibiarkan terbang tanpa tali yang mengajaknya tetap membumi. Ia akan terpapar panas matahari dan cepat atau lambat akan meletus. Keindonesiaan ini mungkin cuma di permukaan saja. Sedikit tersenggol unsur SARA, langsung meledak-ledaklah kita atas nama kelompok. Namun memang tak kupungkiri bahwa, meski langka, tetap ada orang-orang sepertimu yang memegang teguh identitas keindonesiaan di atas identitas kelompok apa pun.

Terakhir, tahukah kau bahwa sosokmu terus menginspirasi para pemuda Indonesia? Bahwa kata-katamu yang kautuliskan bertahun-tahun lalu masih dan mungkin akan terus sering dikutip di mana-mana. Namun, aku entah bagaimana, percaya kalau kau tak akan marah karena kata-katamu dijadikan kepsyen foto selfie anak-anak muda di Instagram (yang sering tidak nyambung dengan kata-katamu).[]

29 April 2015

[Resensi GLAMO GIRLS] Tiga Meong yang Bertobat


Penulis: Ragil Kuning, dkk.
Editor: Zare
Penerbit: Senja
Cetakan: I, 2015
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-255-611-4


“Tuh, kan, baru kerasa kehilangan kalau orang nggak ada.”
(Umi kepada Adam, hal. 130)

Tiga Meong yang tak berhenti mengeong


Glamo Girls, atau lebih beken dengan nama Tiga Meong, adalah geng tiga orang cewek borju—Gina, yang agak bijaksana; Lala, yang galak; dan Monic, si Lelola alias Lemot plus Loading Lama. Karena merasa paling kaya, paling cantik, dan paling keren, mereka menempatkan diri di atas level semua teman di SMA-nya.  Namun, kalau sedang mengejar-ngejar trio Adam, Tomy, dan Bastian, mereka seolah tak punya harga diri, ngelendot ke mana-mana, padahal dicuekin para cowok itu. Lalu, muncullah sebuah ide gila dari kepala Adam. Mereka berkonspirasi untuk mengirim Tiga Meong mewakili kelas mereka melakukan baksos di pulau terpencil selama seminggu!

Tiga Meong syok berat begitu melihat tempat tinggal sementara mereka di Pulau Sabira, pulau paling utara di Kepulauan Seribu. Mereka menumpang di rumah Bu Inah, yang luasnya nggak lebih besar daripada garasi di rumah gedong mereka. Mereka memberi julukan rumah itu sebagai RSSSSP (Rumah Sangat Sederhana Sulit Selonjor Pula). Kamar segede kamar mandi di rumah mereka di Jakarta itu pun harus ditempati untuk bertiga. Belum lagi ada kecoak dan curut yang suka nongol tiba-tiba. Kayaknya mereka bakal minta pulang ke Jakarta sebelum hari itu berakhir, ya nggak? Eh, tapi siapa sangka, mungkin saja mereka bisa berubah.

Sementara itu, di SMA mereka, trio Adam, Tomy, Bastian terlihat lesu, ada yang kurang rasanya karena tak ada Tiga Meong yang mengejar-ngejar mereka. Bu Entin yang jaga kantin pun merasa kehilangan pemasukan, karena biasanya Tiga Meong selalu memborong dagangannya. Pun Pak Ono, si satpam yang biasanya disogok uang rokok oleh Tiga Meong yang sering telat, agar membukakan pintu itu merasa kehilangan sumber penghasilan tambahan. Para orang rumah Tiga Meong pun merasa kehilangan. Ternyata, meskipun nyebelin, semua orang merindukan Tiga Meong!

“Suasana kelas tampak sepi melebihi TPU Jeruk Purut.” (hal. 73)
Utie       : Hoaaam, sepi, ya? Sepertinya ada yang aneh.
Arya      : Lo pasti kangen suara cempreng Glamo Girls, ya? kalau nyanyi sok imut pake gaya Cherrybellekan.
(hal. 76)

Ketika kembali nanti, apakah Tiga Meong masih Glamo Girls yang dulu?

Bertahan menelan segala ke-lebay-an ini


“Gina melangkah pasti dengan rambut yang berkibar-kibar. Para cowok berjejer menatap Gina dengan mulut yang terus menganga. Mereka melambaikan tangan ke arah Gina sambil membawa poster foto Gina yang lagi nyengir lebar.” (hal. 17)

Terbayang, kan, betapa lebay-nya novel ini? Saya langsung terbayang dorama Jepang tentang anak sekolahan yang sering lebay, kadang si cowok sampai mimisan ketika melihat cewek cantik. Nggak hanya cara menulisnya yang lebay, para tokohnya juga lebay. Seperti ketika Lala memberikan sebatang cokelat pada Tomy, oleh-oleh papanya dari Perancis, katanya.

Tomy     : Makasih. Pasti mahal, ya?
Lala       : Iya. Ini mahal banget, Kak. Masak, ya? Kata Papa, harganya seratus ribu loh sebatang gini.”
Tomy     : (melotot)
(hal. 33)

Karena memang ketiga penulis memaksudkan novel ini sebagai novel komedi remaja, maka segala ke-lebay-an itu terampuni. Eits, jangan salah, meski novel komedi, para penulisnya menawarkan pesan moral pada para remaja agar memupuk jiwa sosial bagi orang-orang yang kurang mampu, lho. Penulis juga menunjukkan proses perubahan sikap Glamo Girls, yang tadinya berpenampilan glamor dan berjiwa glamor, hingga menjadi “biar penampilan kami glamor, jiwa kami sosial, kok!” (Lala, hal. 208).

Sebelum mengikuti baksos di Pulau Sabira, Glamo Girls memang glamor, tapi jiwa mereka sebenarnya polos. Inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya, yang memang hanya memanfaatkan uang mereka. Saking polosnya, mereka tetap senang-senang saja dan tidak merasa dimanfaatkan, terutama oleh tokoh-tokoh berikut ini.

1. Pak Ono --> sengaja menutup gerbang pukul setengah tujuh, padahal nggak ada itu di peraturan sekolah, biar Glamo Girls kesannya telat.
“Maksudnya, kalau pager aku tutup, terus mereka kesannya  telat. Abis itu, mereka kasih aku uang rokok, deh.” (Pak Ono, hal. 71)

2. Bu Entin --> senang banget kalau ada Glamo Girls nangkring di kantinnya. Itu berarti pesta traktir-traktiran dan makan besar-besaran!
“Terus selama seminggu dagangan gue siapa yang beli, dong? Walaupun mereka bawel dan nyebelin, tapi cuma mereka yang ngeborong dagangan makanan di warung gue.” (hal. 78)

Nulis satu novel bertiga itu nggak mudah

Novel ini ditulis oleh tiga penulis cewek: Ragil Kuning, Afin Yulia, dan Tia Marty (wah, jangan-jangan sembari menulis, mereka membayangkan bahwa merekalah si Glamo Girls, hihi). Pasti tidak mudah menulis satu novel bertiga, terutama dalam hal menjaga konsistensi segala hal. Untungnya, novel ini ditulis dengan cukup bagus hingga efek “perpindahan tangan dan kepala” si penulis tak terlalu terasa. Mulus-mulus aja, seolah ditulis oleh satu orang. Saya tidak tahu bagaimana sistem pembagian menulis yang mereka lakukan, tapi saya menemukan inkonsistensi gaya obrolan Glamo Girls, yaitu dalam penggunaan kata “lo” dan “lu”. Misalnya, di bab 8, mereka bertiga selalu menggunakan kata “lo”.

·         “Monic, lo nggak bercita-cita nikah muda, kan?” (Lala, hal. 142)
·         “Gina, lo kenapa? La, kok diem, sih?” (Monic, hal. 136)
·         “Lo ngapain, Mon?” (Gina, hal. 144)

Tapi, menginjak bab 9, kata “lo” dalam obrolan mereka berubah secara ajaib menjadi “lu”.
·         “...pasti impian lu tuh jadi kenyataan dalam sekejap, La.” (Gina, hal. 147)
·         “Lu kan tadi sore nggak mandi, Miss Takut Air.” (Monic, hal. 147)
·         “Lu-lu kate ini lagi syuting sinetron, apa?” (Lala, hal. 148)

Nah, anehnya, di halaman 150, Gina menggunakan “lo” lagi. Mungkin saja ini sesuatu yang lazim dalam kehidupan nyata, dan hanya saya yang terlalu memikirkannya (?).

Selain itu, terdapat pula beberapa keanehan berikut ini.
1. “Ibu, kerupuk ikannya abis semua. Nih, total uangnya sepuluh ribu.”
(Wati kepada Bu Inah, hal. 110)
Di halaman sebelumnya tertulis bahwa harga sebungkus kerupuk seribu rupiah, jadi mereka hanya berjualan sepuluh bungkus kerupuk? Menurut saya, dengan perjuangan mereka dalam membuat dan menjajakan kerupuk itu, hanya sepuluh bungkus itu terlalu sedikit. Eh, bungkusannya seberapa, saya juga nggak tahu.

2. “Apakah lo baik-baik saja?”
(arti pandangan mata Gina dan Lala, hal. 134)
Kalimat ini terasa terlalu baku untuk gaya obrolan mereka yang sebelum-sebelumnya selalu amat gaul. Kayaknya lebih cocok begini, “Apa lo baik-baik aja?”

3. “Lala garuk-garuk kepala disaksikan Monic dan Gina yang berpelukan ala Teletubbies.
Monic yang ketinggalan aksi berpelukan itu protes.... ‘Euhh, kalian nggak setia kawan. Kenapa kalian nggak ngajak gue ngajak aku berpelukan?
‘Iiih, ogaah!’ tukas Gina dan Monic sambil minggir ke pojokan.” (hal. 147)
a. Seharusnya Lala yang protes, bukan Monic, karena yang berpelukan adalah Monic dan Gina.
b. Pada kalimat yang saya highlight kuning itu seharusnya bagian “ngajak aku” dihapus.

4. “’Lu apaan, sih?!’ Gina menginjak kaki cowok aneh itu.
Cowok berambut kribo sarang burung itu cengar-cengir ngerasain kakinya diinjak keras-keras oleh Lala.”
(hal. 174)
Hei, yang menginjak Gina, lho, bukan Lala. Hehehe.

Saya juga menemukan beberapa kesalahan penulisan, yang tidak sesuai dengan EYD, tapi tidak terlalu merusak kenikmatan membaca.

Akhirnya, saya memberikan apresiasi pada ketiga penulis yang bisa dengan cukup luwes menuliskan satu novel yang menghibur sekaligus memberikan pelajaran moral ini. Apabila hidup kita sekarang berkecukupan, tak ada salahnya untuk selalu mengingat pelajaran berharga sebagaimana dialami oleh Glamo Girls selama di Pulau Sabira.

bloggerwidgets