Showing posts with label teenlit. Show all posts
Showing posts with label teenlit. Show all posts

24 January 2017

Meresensi Novel Sendiri (Bagian 2)



Bulan Oktober 2016 barangkali menjadi bulan yang paling penuh aktivitas membaca buku selama saya tinggal di Desa Bandar Dalam, di pelosok Pesisir Barat Lampung, dekat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (dalam rangka menjadi fasilitator masyarakat untuk pemanfaatan infrastruktur PLTS). Buku-buku yang saya bawa ke desa sudah habis saya lahap, kecuali The Révèter. Entah, waktu itu kenapa saya membawa buku itu ke desa, mungkin berharap bisa memberikannya ke seorang anak yang punya minat baca relatif tinggi dibandingkan teman-temannya, atau berharap bisa meletakkannya di rak perpustakaan sekolah setempat. Melihat-lihat tumpukan buku, saya iseng mengambil The Révèter (satu-satunya eksemplar yang saya punya) dan mulai membacanya. (Pengalaman mengajarkan saya bahwa ide-ide iseng yang tidak mengganggu orang lain, yang muncul dalam benak kita, sebaiknya diladeni. Siapa tahu, hal-hal iseng itu berbuah sesuatu yang manis. Agak masam pun boleh, deh.)

Saya takjub pada diri saya sendiri: bagaimana bisa, saat membaca The Révèter kali itu, saya merasa benar-benar sebagai pembaca (yang mungkin tidak kenal penulisnya). Kok bisa, ya?

Merumuskan Kembali The Révèter dalam Satu Paragraf

Di suatu malam Natal, Hydra bermimpi berada di sebuah hutan pinus. Begitu bangun, anehnya, ada strobilus sungguhan di dalam kaus kaki Natalnya. Mimpi anehnya itu disusul kejadian yang lebih aneh lagi: kakek-neneknya menghilang setelah memberikan kado Natal padanya dan Oxy, adiknya. Di mimpi berikutnya, dia bertemu Radon. Di dunia nyata, sepulang sekolah, Hydra diculik oleh sepasang kakak-beradik, yang ternyata Radon dan kakaknya, Calsina. Identitas Hydra sebagai remaja biasa tersungkur saat Radon dan Calsina membeberkan bahwa ia juga Révèter seperti mereka. Bukan Révèter biasa malah, melainkan keturunan ke-2562 leluhur Révèter, yang mewarisi kalung Convoera—kalung yang ada di dalam kotak kado Natal terakhir dari kakek-neneknya. Bersama Radon dan Calsina, dimulailah petualangan Hydra menemukan pemilik pasangan kalung Convoera-nya. Berdua, pemilik kalung Convoera tersebut memegang kunci perdamaian antara pengikut Auri dan Argento, leluhur para Révèter. Petualangan tersebut tidaklah mudah, ada pihak-pihak yang selalu berusaha menyabotase usaha mereka.

Merekonstruksi Alur The Révèter

Alur kisah novel ini bercabang dua: alur progresif mengikuti langkah yang diambil Hydra sembari menceritakan masa lalu. Masa lalu Auri dan Argento, yang kemudian menjadi legenda asal-mula terjadinya permusuhan antara para pengikuti dari kedua leluhur tersebut, mewujud dalam bentuk cerita yang termaktub dalam Kitab Révènian—Segala Sesuatu tentang Révèter Ada di Sini, serta dalam adegan pertarungan duel mereka di hutan pinus dalam dunia mimpi. Masa lalu kakek-nenek Hydra diceritakan melalui catatan-catatan dalam buku harian sang Kakek, yang ditemukan dan dibaca oleh Oxy.

Mungkin ada beberapa hal yang sebenarnya membutuhkan penjelasan lebih lanjut, tapi ketebalan novel ini tidak mampu menampung semua. Akan lebih menarik jika ada side story tentang peristiwa pembasmian Révèter pada tahun 1998 (eh, jadi ingat peristiwa penggulingan rezim Orde Baru), karena peristiwa itu berdampak pada “pembentukan” identitas para Révèter seangkatan Hydra, termasuk bagi Radon dan Calsina juga. Kepingan cerita lain yang layak mendapat porsi lebih banyak dan di-tunjuk-kan, bukan diceritakan, adalah tentang leluhur Révèter, Auri dan Argento. Begitu juga dengan kisah para pengikut kedua belah pihak yang senantiasa bermusuhan setelahnya (kisah-kisah “kejahatan” yang dilakukan para pengikut Argento di dalam mimpi itu menarik).

Tempo alur yang cepat membikin pembaca tidak bosan. Penulis berusaha membuat pembacanya penasaran dengan membuka sedikit demi sedikit petunjuk teka-teki, seperti misalnya siapa sebenarnya “utusan” Andrew Lee dan siapa yang menjadi mata-matanya.

Yang saya bingung, Hydra dan Zinco bisa berkomunikasi lewat kalung Convoera, tapi kenapa mereka tidak membikin janji ketemu saja lewat kalung itu, daripada susah-susah bertemu di dunia mimpi? Selain itu, saya juga bertanya-tanya, dari mana Zinco bisa tahu nama Hydra, karena—kalau tidak salah—tidak ada penjelasan, tiba-tiba Zinco memanggil Hydra dengan namanya, padahal mereka belum saling mengenal secara langsung sebelumnya.

Romance antara Hydra dan Radon terkesan terjadi terlalu cepat dan dipaksakan. Yah, maklum, karena penulis memang awalnya tidak menyertakan bumbu romance, tapi lalu menyempilkan sedikit di antara bab-bab cerita.

Tokoh-tokoh yang Menyesaki Kisah

Mungkin karena alur cerita bertempo cepat (bisa dibilang, penulis terlalu fokus pada alur—bikin alur dulu, baru comot tokoh belakangan), tokoh-tokoh di dalam novel ini jadi kurang dieksplorasi kepribadiannya. Atau mungkin juga karena terlalu banyak tokoh yang cukup penting, sehingga jadi terlalu gemuk dan kompleks untuk novel setebal hanya 236 halaman.

Bisa dibilang, tokoh utamanya adalah Hydra. Hidupnya berubah setelah mimpi-mimpi aneh mengunjunginya. Hydra adalah sosok yang cerdas, terlihat dari bagaimana ia menebak kado Natal Oxy, memecahkan cara membuka buku Kitab Révènian. Dia juga dikatakan gemar baca buku. Oxy, adik Hydra, adalah sosok yang ceria, aktif, dan dinamis, terlihat dari, antara lain, caranya membangunkan Hydra dan kegemarannya bersepatu roda. Setelah Hydra, Oxy, dan kakek-nenek mereka, kita diperkenalkan pada tokoh Zinco, pemilik pasangan kalung Convoera Hydra. Remaja laki-laki itu suka pelajaran Fisika, tapi tidak suka pelajaran Sejarah, tapi anehnya bisa menjawab dengan benar pertanyaan guru Sejarahnya meski ia ketiduran di kelas.

Seiring peristiwa “penculikan” Hydra, kita diperkenalkan pada sosok Radon dan Calsina. Kakak-beradik itu adalah Révèter senior, yang memprakarsai “pencarian” para Révèter muda melalui mimpi. Terlebih, Radon punya kemampuan istimewa: bisa membaca pikiran orang lain. Kemampuan ini kadang membuatnya kesal, karena membuatnya seperti berbicara sendiri (ia berbicara untuk menyahuti pikiran orang). Radon juga sosok yang cerdas, bisa dilihat dari idenya untuk menanam Nicelia steeli. Sementara itu, Calsina terkesan sebagai sosok perempuan dewasa yang ramah dan hangat.

Tokoh-tokoh lain yang muncul sedikit-sedikit adalah Mary (sahabat Hydra), Tory (si maniak sejarah yang berperan menyadarkan Zinco bahwa dia Révèter dan pemilik kalung Convoera), Leony (kemunculannya yang sebentar hanya untuk menciptakan drama percintaan Hydra-Radon-Leony), Baldy dan Kanno (para Révèter, teman-teman Radon dan Calsina, tapi muncul sebentar sekali dan nyaris tidak berperan dalam cerita). Tidak seperti Leony, Baldy, apalagi Kanno (yang pasti akan terlewatkan begitu saja oleh pembaca karena namanya—kalau tidak salah—hanya disebut dua kali di dalam cerita dan tidak berperan aktif sama sekali), Silvana muncul cukup sering di bagian tengah sampai akhir, karena ia ikut pergi ke Vainsalle untuk menyelamatkan Hydra dan Zinco. Silvana ini istimewa karena highlight di poninya bisa berubah warna sesuai emosinya. Jadi teringat tokoh di buku Harry Potter, Tonks. Sementara itu, Daniel, Révèter juga, berperan cukup penting di dalam cerita, sebagai salah satu orang yang dipercaya Radon, juga ikut ke Vainsalle. Tokoh lain adalah Andrew Lee, si antagonis dan ayah Radon-Calsina. Kedua orang ini memegang peran penting dalam penciptaan konflik cerita.

Lain-lain

Kisah ini diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasanya baku dan kadang menggunakan istilah bahasa Inggris (padahal sebenarnya bisa pakai bahasa Indonesia saja untuk istilah-istilah tersebut). Latar tempat di dunia nyata adalah di negara Barat yang memiliki empat musim, tapi di sebelah mana kurang jelas. Mungkin penulis berpendapat bahwa identitas kota latar cerita tidaklah penting.

Kesimpulan

Elemen-elemen fantasi bercampur jadi satu: dunia mimpi, sihir kuno, Vainsalle, free-season area, dan banyak lagi, dicampur lagi dengan dunia nyata sehari-hari seperti kegiatan sekolah, menjadikan novel ini cukup unik. Terlepas dari semua kelemahannya, novel ini telah menambah jumlah novel fantasi karya penulis domestik (meski setting-nya di Barat dan tokoh-tokohnya juga orang Barat, dan belum bisa melepaskan ketergantungannya akan fantasi a la Barat), dan menjadi teman yang menyenangkan kala butuh kabur sejenak dari dunia nyata.

Identitas Buku

Judul        : The Révèter
Penulis     : Frida Kurniawati
Editor       : Elizabeth
Tebal        : 236 halaman
Penerbit    : Elf Books
Cetak        : I, Mei 2013
ISBN        : 978-602-19335-9-6
Harga        : Rp 40.000,00

23 January 2017

Meresensi Novel Sendiri (Bagian 1): Sebelas Fakta di Balik The Reveter



Halo, readers! Saya kangen kalian semua! Sudah cukup lama blog ini saya cuekin, sampai lumutan tebal sekali. Saya sebenarnya tak ingin itu terjadi, tapi apa daya, tugas saya di pelosok desa tak memungkinkan saya untuk internetan. Nyalain laptop aja nyaris nggak pernah. Sekarang saya sudah kembali, dan tulisan pertama di tahun 2017 ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri 😎 (dan tentunya untuk kalian yang bersedia repot-repot membacanya).
***
Mungkin, ada yang berpendapat bahwa sebaiknya seorang penulis fiksi tidak meresensi karya-karya fiksi (dan/atau sebaliknya?). Sebaiknya dipasang kawat berduri bertegangan listrik ribuan volt di antara kedua pekerjaan tersebut, agar tak saling berinteraksi langsung. Mungkin tujuannya adalah agar ketika sedang menulis fiksi, seorang penulis (yang juga peresensi) tidak didera terus-menerus oleh intuisi peresensi dalam dirinya sendiri (yang sering lebih kejam dari pada editor), yang mungkin bisa menyebabkan karyanya tak kunjung selesai. Atau malah tidak jadi menulis karena beralibi, “Dari pada menulis buruk, lebih baik saya tidak usah menulis saja.” Padahal, kata Dee di sebuah acara, Someone can revise a bad page, but it’s impossible to revise a blank one.

Yah, terkadang memang saya mengalami hal tersebut. Biasanya setelah menamatkan baca sebuah novel yang menurut saya, lebih bagus tulisan saya, tapi anehnya laris di toko buku. Anehnya juga, penulis tersebut cukup produktif menjajarkan karyanya di toko buku, padahal kalau dilihat di Goodreads, rating buku-bukunya rata-rata kurang dari 3. Biasanya, lalu saya berpikir, dari pada menerbitkan buku yang biasa-biasa saja, lebih baik saya bikin karya yang fantastis. (TAPI ENTAH KAPAN.) Begitulah cara berpikir salah satu sisi dalam diri saya, yang saya tahu, seharusnya saya tidak begitu.

Padahal, sisi yang lain dalam diri saya menyadari, penulis itu bertumbuh. Demikian juga karya-karyanya. Sangat jarang ada penulis yang baru sekali membuahkan karya, langsung meledak, review-nya positif di Goodreads. Tidak masalah jika karya-karya awal tidak terlalu bagus. Yang penting, karya selanjutnya, sebisa mungkin, lebih baik dari pada sebelumnya. Bagaimana bisa mau bertumbuh, kalau memulai dari karya yang buruk saja belum pernah, kan?

***
Kembali ke kalimat pertama. Menurut saya, justru intuisi peresensi dalam diri saya membantu saya bertumbuh dalam menulis. Jika dilatih, intuisi peresensi itu bisa muncul di saat yang tepat: di saat saya perlu mempertanyakan tulisan saya sendiri, “menghajarnya” agar jadi lebih baik, tanpa membuat saya “takut” untuk memulai menulis. Nah, bagaimana jika seorang penulis meresensi karyanya sendiri yang pernah terbit? Saya tidak tahu apakah ada yang sudah melakukannya. Dalam tulisan ini, akhirnya, saya memberanikan diri meresensi novel saya sendiri.

The Révèter, adalah novel kedua yang saya tulis, tapi yang pertama diterbitkan. Setelah itu, beberapa novel saya (termasuk novel yang pertama saya tulis, yang kalau saya baca sekarang, saya bergumam frustrasi, “Saya pernah nulis novel kayak gini? Alay banget!”) masih mendekam malas-malasan di dalam internal hard disk laptop. The Révèter diterbitkan pada bulan Mei 2013, oleh Elfbooks (sekarang sudah tak ada lagi penerbit yang dulu sempat naik daun, terutama berkat karya-karya Kak Delia Angela). Naskah saya ini menjadi salah satu dari empat karya yang diterbitkan melalui jalur sayembara penulisan novel yang diadakan oleh penerbit tersebut. Tiga yang lain adalah Karena Cinta karya Monica Petra, Happiness Theory karya Arbie Sheena, dan Rubrik Kata Katya karya Primadonna Angela.

Pada masa itu, saya masih cupu di bidang dunia penerbitan dan penjualan buku. Saya akui, saya kurang mempromosikan buku saya sendiri. Pernah terlintas di benak untuk menulis semacam “behind the scene” penulisan novel ini, tapi belum pernah saya eksekusi. Oleh karena itu, di Bagian 1 ini, saya akan membahas tentang beberapa fakta di balik penulisan The Révèter, karena selalu ada cerita di balik penciptaan cerita.

***

Fakta #1

Ide yang menuntun saya menulis The Révèter pertama kali menyentuh kesadaran saya pada tahun 2009, saat saya masih SMA. Pada bagian “thanks to” di awal novel ini, ada satu ucapan terima kasih yang tidak saya tulis di situ (saya lupa, waktu menulis itu saya lupa atau memang sengaja tidak menulisnya?). Ucapan terima kasih kepada seseorang yang terhadapnya saya pernah mengalami patah hati (untuk kasus ini, saya mengamini bahwa patah hati bisa jadi perantara bagi sepercik ide untuk mendatangi seorang penulis dan memaksanya menulis).

Fakta #2

Di The Révèter, hutan pinus adalah latar tempat yang pertama kali saya perkenalkan kepada pembaca, lewat mimpi Hydra. Hutan pinus juga jadi salah satu latar tempat yang penting di novel ini, sebagai tempat berduel Argento dan Auri, latar mimpi-mimpi Hydra yang berulang, tempat Radon kehilangan Hydra dan Zinco yang kemudian tersedot ke Vainsalle, juga tempat Hydra akan “dieksekusi”. Hutan pinus itu sebenarnya, bisa dibilang, induk yang melahirkan tokoh-tokoh, konflik, dan The Révèter secara keseluruhan. Jadi sebelum mulai menulis, saya berkata pada diri sendiri, “Oke, saya ingin menulis novel, entah bagaimana isinya, pokoknya hutan pinus akan jadi setting utamanya.”

Kenapa hutan pinus? Sesederhana bahwa saya pertama kali bertemu dengan seseorang itu di sebuah hutan pinus. Kali berikutnya, saya bertemu dia di sana lagi.

Fakta #3

Dengan berbekal “hutan pinus” di pundi-pundi ide yang masih mentah, saya berpikir, mau dibentuk jadi genre apa novel ini? Nah, bukan kebetulan, jika saat itu saya membaca novel fantasi Aerial karya Kak SittaKarina (btw, saya suka cover-nya). Aerial seperti menyanyikan berulang-ulang di kepala saya, “Tulislah kisah fantasi, fantasi, fantasi...”

Fakta #4

Saya memulai menulis bakal The Révèter tak beberapa lama setelah ide muncul pertama kali. Saat itu, saya masih menulis dengan tangan di sebuah buku bergaris. Di jam-jam istirahat sekolah atau jam kosong, saya menulis. Kadang di kantin, kadang di taman belakang sekolah, kadang di kelas. Oh iya, saya menulis dengan pensil waktu itu. Alasannya, biar gampang dihapus kalau ada yang ingin saya edit. Di samping buku itu, saya punya buku kecil yang berisi ide-ide dan rancang bangun The Révèter.

Fakta #5

Tulisan tangan itu belum selesai. Saya diamkan, entah karena apa, saya lupa. Saya mulai menulis lagi, sekitar tahun 2012 (saat saya tahu ada sayembara menulis novel Elfbooks). Saya merombak di sana-sini, menambah ini-itu, bisa dibilang saya “menulis ulang”. Sialnya, saat deadline mendekat, laptop saya rusak. Waktu di rumah, saya masih bisa menulis menggunakan komputer. Nah, begitu saya balik ke Yogya untuk kembali masuk kuliah setelah libur, saya kebingungan. Untung, sahabat sekaligus teman kos saya, Rizka, waktu itu bersedia meminjamkan laptopnya. Untuk mengirimkan naskahnya saja, saya nebeng laptop dan koneksi internet Aya.

Fakta #6

Mungkin The Révèter ini belum atau malah tidak akan terbit jika saya tidak nge-fans Super Junior. Lho, apa relevansinya?

Elfbooks saya kenal pertama kali lewat novel terbitannya, Perfect Ten, karya Kak Delia Angela. Sepuluh anggota boy band dalam novel tersebut dibikin berdasarkan tokoh dunia nyata, Super Junior. Salah seorang teman geng CL Girls (12 cewek, termasuk saya, E.L.F.—sebutan untuk fans Super Junior—yang pertama kali bertemu di Super Show 4, dan bermarkas di Yogyakarta) telah membaca Perfect Ten, dan mempromosikannya kepada yang lain. Dari situ, saya tahu ada sebuah penerbit bernama Elfbooks. Dari situ, saya lalu mengikuti akun Twitter Elfbooks. Dari situ, saya kemudian tahu bahwa Elfbooks sedang mengadakan sayembara penulisan novel. Dari situ, saya menulis ulang bakal The Révèter. Dari situ, novel ini bisa terbit.

Fakta #7

Beberapa tokoh The Révèter saya namai berdasarkan nama unsur kimia (ya, waktu SMA, pelajaran Kimia adalah salah satu favorit saya, karena banyak praktikum yang seru). Ada yang saya usahakan agar unsur yang pilih itu mewakili karakter sang tokoh; ada juga (banyak) yang saya pilih dengan cukup ngasal.

Fakta #8

Kata “révèter” berasal dari kata dari bahasa Perancis “reve”, yang artinya mimpi. (Selama tiga tahun di SMA, saya selalu memilih pelajaran bahasa Perancis, tapi setelah tiga tahun, kemampuan berbahasa-Perancis saya terbatas di satu kalimat yang bisa saya ucapkan tanpa keseleo lidah, “Tu es la lumiere dans ma vie.”)

Fakta #9

Awalnya, naskah yang saya ikutkan sayembara berjudul I’ve Known You in The Dreams, yang lalu diusulkan untuk diubah menjadi The Révèter oleh pihak Elfbooks. (Yang kemudian, oleh teman-teman kuliah saya sering diplesetkan jadi “the repeater”—terlebih saat kuliah Komunikasi Data).

Fakta #10

Sekelompok orang yang bisa mengelola mimpi: masuk ke mimpi orang, menciptakan beraneka setting mimpi, membuat skenario mimpi, mungkin mengingatkanmu akan film Inception (2010). Percayalah, saya punya ide tentang Révèter sebelum film itu nongol. Kemudian saat menontonnya (waktu itu saya nggak sepenuhnya memahami bagian-bagian tertentu dalam film itu), saya menjerit sambil menuding layar komputer (waktu itu, saya masih pakai komputer ber-OS Windows XP), “Lho, kok kayak ideku?!” (Yah, sebenarnya, nggak mirip, sih.) (Itulah konsekuensi kalau punya ide tapi nggak keburu dieksekusi, jadi keduluan, kan.)

Fakta #11

Saat masa revisi, penerbit meminta saya untuk memasukkan sekelumit unsur romance. (Sebelumnya, tak ada unsur itu sama sekali. Jujur saja, saya tidak terlalu suka menulis romance.) Alhasil, dengan cerdik (atau mungkin kurang cerdik?) saya berhasil mem-blusukkan romance antara Hydra dan Radon, diwarnai kecemburuan Leony yang menganggap Radon adalah kekasihnya. Kalau antara Hydra dan Zinco, saya tidak ada maksud menerbitkan romansa antara mereka. Entahlah, saya rasa mereka cukup bahagia jadi sahabat saja.

***

Tiga tahun lebih 5 bulan setelah The Révèter terbit, saya membaca ulang karya saya itu, dari awal sampai akhir. Butuh 3 tahun 5 bulan untuk bisa membacanya seolah-olah bukan saya yang menulis novel itu. Entah bagaimana tepatnya, secara begitu saja, saya tiba-tiba bisa sangat tidak subjektif saat membaca ulang The Révèter. Saya terposisikan sebagai seorang peresensi buku.

(bersambung ke Bagian 2)

21 September 2016

[Resensi "ME VS DADDY"] Manisnya Eclair Kopanda


Judul buku: Me vs Daddy
Penulis: Sayfullan
Editor: Vita Brevis
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Agustus 2016
Tebal: 220 hlm
Genre: drama, romance
Kategori: teenlit
Harga: Rp 46.000,00
Rating saya: 2/5

"Kenapa aku harus ditakdirkan untuk selalu melawan papaku sendiri?" (Karel, hlm. 205)
Ternyata Karel penganut filosofi Stoic, yang percaya bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan untuk terjadi selayaknya ia terjadi. Untungnya, meski begitu, ia tetap berusaha menunjukkan usaha terbaiknya untuk membuktikan kemampuannya sebagai chef, dengan spesialisasi membuat eclair, dalam pertentangan pertama melawan ayahnya, Marvin. Marvin menginginkan Karel mengikuti jejaknya: berkecimpung di dunia properti, tapi Karel punya jalannya sendiri: menjadi patisserie. Keinginannya untuk membuktikan diri disambut tantangan perjanjian bisnis oleh Marvin. Marvin setuju untuk memodali pendirian Kopanda (nama yang sama dengan toko roti milik almarhumah Claudia, mama Karel) Cafe and Eclair Shop, dengan syarat: "jika kafenya kelak tidak berkembang dan harus ditutup, itu berarti dia harus rela untuk dipenjarakan di dunia properti oleh Marvin dan harus membayar denda sebesar setengah miliar rupiah" (hlm. 14).

Pertentangan itu menarik Marvin dan Karel kembali ke masa lalu tentang Claudia. Karel, ingin membangkitkan kembali mamanya melalui kafe itu, yang dinamakan berdasarkan kecintaan Claudia akan panda dan kopi, juga bunga krisan yang akan menjadi hiasan kafe Karel. Marvin, terseret pusaran pahit kisahnya dengan Claudia: kisah manis yang berakhir pahit, melibatkan Randu, teman dekat Claudia, sesama chef.
Di awal, Kopanda meraih sukses. Namun, Karel harus menghadapi tantangan yang bisa menyebabkan kafenya terpaksa ditutup.

Kesibukan Karel sebagai manager Kopanda diganggu oleh kehadiran Jianna, dengan pertemuan pertama yang mengesalkan. Sementara itu, Marvin dan Renne, mama Jianna, menjadi semakin dekat. Pasangan ibu dan anak itu sedang menata kehidupan baru, setelah masa lalu buruk yang menimpa karier Renne sebagai model dan kehidupan rumah tangganya.

Di sebuah SMA elit, Jianna harus menghadapi serangkaian siksaan mental dari Charlot (putri Widya, musuh bebuyutan Renne). Jianna ingin terjun di dunia model untuk membalas dendam pada Charlot, tapi Renne punya caranya sendiri untuk membuat anaknya mengerti bahwa menjadi model itu perlu perjuangan keras. Renne juga selalu melarang anaknya makan makanan manis. Kenapa, ya?

Di sisi lain, sebagai pekerja part time di Kopanda, Jianna mulai menyukai dunia kuliner, dan juga mulai menyukai Karel. Namun pertentangan kedua Karel dengan Marvin menjadikan hubungan spesialnya dengan Jianna tidak mungkin. Pada pertentangan kedua ini, Karel tak bisa berusaha; ia hanya bisa pasrah.
***

Behind the Front Cover

Di balik cover depan novel ini, ada...jeng-jeng-jeng..., tanda tangan dan pesan istimewa dari penulisnya, Bang Say. Novel ini pun kiriman dari blio (dengan kata lain, novel gratisan), jadi nggak enak tetep enak kalau mau menggugat karya terbarunya ini.

Plot

Me vs Daddy, selain berpusat pada kisah hubungan Karel-Marvin, juga mengisahkan tentang Jianna-Renne. Dua single parents dan dua anaknya. Kemudian di suatu paragraf, kisah dua pasang anak-single parent itu bersinggungan. Sejak itulah, muncul kisah Karel-Jianna dan Marvin-Renne. Keempat tokoh sentral itu masing-masing memiliki masa lalu yang berperan penting terhadap keputusan-keputusan yang mereka ambil di masa kini. Memori akan Claudia, almarumah mama Karel, membuat Karel memutuskan menjadi patisserie dan menamai kafenya "Kopanda", juga menghiasi kafenya dengan bunga krisan (bunga favorit Claudia). Sementara itu, Marvin tak mampu menahan kepedihan yang muncul tiap kali teringat akan akhir buruk hubungannya dengan Claudia.

Jianna dan Renne, harus menerima jungkir-balik kehidupannya. Yang dulu hidup berkecukupan, semasa Renne masih seorang model terkenal, kini harus hidup dengan dukungan finansial yang tak seberkelimpahan dulu, dari penghasilan Renne sebagai pedagang online dan penulis. Masa lalu pahit yang melibatkan perselingkuhan suaminya, pengkhianatan oleh seorang sahabat, dan penolakan oleh keluarga besarnya membuat Renne jadi makin kuat dan mandiri.

Penulis menggunakan plot flashback, baik menggunakan teknik show maupun tell, untuk menyelipkan masa lalu masing-masing tokoh sentral. Mungkin karena hanya menggunakan teknik tell, kisah masa lalu Renne kurang tereksplorasi. Di beberapa bagian, plot seolah melompat terlalu cepat, misalnya tentang hubungan Karel-Jianna. Mungkin karena kurang banyak adegan yang menunjukkan interaksi mereka berdua, jadi agak mengagetkan ketika tiba-tiba mereka saling jatuh cinta.

Kemudian tentang insiden "espresso kecoa" yang membuat pamor Kopanda hancur, menurut saya penyelesaian masalahnya terlalu mudah. Pun penjelasan yang diajukan Moren (pemeran utama dalam insiden itu) saat press conference kurang masuk akal.
"Kecoa itu bukan berasal dari kafe ini. Saya teringat, beberapa hari kemarin saya shooting film horor baru saya di gudang rumah tua daerah Tebet. Saya menyimpulkan bahwa kecoa yang ada di kopi bukan dari kafe Karel, melainkan dari rumah tua itu...." (Moren, hlm. 190)
Pernyataan itu mengandung teka-teki: bagaimana caranya kecoa dari "rumah tua di Tebet" bisa masuk ke secangkir kopi? Oke, mungkin kecoanya nemplok di rambut Moren selama perjalanan, terus ketika melihat ada secangkir kopi, dia kira itu rumahnya: air comberan berwarna hitam. Maka, nyeburlah dia ke sana. Well, kalau saya hadir di press conference itu, saya tak akan memercayai pengakuan Moren.

Di bagian ending, saya dibikin tercengang: penulis tiba-tiba meletakkan plot device, yang mungkin dimaksudkan untuk membuat twist, tapi terlalu mengejutkan untuk sekadar menjadi ending. Selain itu juga membuat plotnya seperti terburu-buru ditamatkan. Namun penulis berhasil menarik saya dengan twists lain: perjanjian bisnis yang ditawarkan Marvin pada Karel ternyata adalah siasat; setelah nama baik Kopanda berhasil dikembalikan, saya kira cerita akan langsung tamat, tapi ternyata muncul konflik lain untuk dipecahkan.

Karakter

Keempat tokoh sentral memiliki karakter yang klise, masing-masing kurang kuat dikembangkan. Mungkin disebabkan juga oleh kurangnya ruang untuk mengeksplorasi karakter, karena alurnya cukup kompleks. Dari keempat tokoh sentral itu, mungkin Karel yang paling berkarakter. Sosok flower boy (cowok cantik), berkeinginan kuat, tahu apa yang dia mau dan berjuang keras meraihnya, jutek terhadap Jianna. Sebaliknya, Jianna adalah cewek ceplas-ceplos yang kata-katanya sering ngeselin (terhadap Karel). Marvin adalah sosok om-om ganteng dan kaya, yang memaksakan kehendaknya pada anaknya. Renne, sosok perempuan mandiri. Hubungan Jianna-Renne menggambarkan hubungan ibu-anak yang seru, lebih kayak sahabatan, kayak interaksi orang seumuran gitu.

Tokoh antagonisnya adalah pasangan ibu-anak Widya-Charlot. Meski Charlot ngeselin, saya kagum akan keteguhan hatinya dalam menekuni profesinya sebagai model.
"Jangan pernah berkomentar fashion jika tidak mengerti apa-apa tentang fashion! Lo harusnya tahu. Ini mimpi gue! Mimpi nyokap gue! Dan gue nggak boleh lemah atau kalah hanya dengan luka lecet, atau perut yang kelaparan karena nggak sempet makan. Gue akan lakukan apa saja untuk mimpi gue ini! Termasuk nendang lo dari sini, jika itu perlu!" (Charlot, hlm. 159)

Sesuatu yang Aneh

Insiden daftar ulang SMA: di hlm. 91, disebutkan bahwa uang pendaftaran yang harus dibayar adalah 15 juta, tapi karena nggak bawa dompet, Renne menyuruh Jianna pinjam uang 5 juta ke Marvin (hlm. 93). Kok 5 juta doang?
Selain itu ada beberapa typo dan/atau kekurangtepatan pemilihan kata, seperti "exciting" (hlm. 166), yang seharusnya "excited".

Semacam Kesimpulan

Membaca novel ini bagaikan menonton FTV Indonesia. Gaya bahasanya memakai bahasa gaul. Adegan curhat-curhatan mellow antara Renne dan Jianna selalu tiba-tiba berakhir tangis, yang menurut saya agak berlebihan karena nggak mengharukan sebenarnya (atau mungkin saya aja yang terlalu "dingin"), contohnya adegan di hlm. 142. Menariknya, drama keluarga dan romance ini dibalut aroma eclair. (Saya baru tahu ada jenis kue seperti itu. Saya pernah dengar kata "eclair" sebagai judul sebuah novel terbitan GagasMedia.) Pasti akan lebih nikmat kalau porsi tentang dunia pastry-nya diperbanyak. Nyam, nyam, nyam *awas diabetes*.

29 April 2016

Bagaimana Feromon Bekerja (Resensi "Imaji Dua Sisi")

image
Judul Buku: Imaji Dua Sisi
Penulis: Sayfullan
Tebal: 332 halaman
Penerbit: deTEENS
Cetakan: Cetakan pertama, Juni 2014
ISBN: 978-602-7968-86-8
Harga: Rp 42.000,00


Feromon dan “Perfume

Apa yang membuat kita tertarik dengan lawan jenis? Apakah keindahan fisiknya yang tak dapat dipungkiri oleh mata? Atau…, kepribadiannya yang manis? Tak mustahil juga bahkan kita tak tahu alasannya. Namun, bagaimana jika yang membuat kita terobsesi adalah suatu zat kimia bernama FEROMON?

Tunggu dulu. Apa itu FEROMON?
“...aroma dasar yang secara naluriah menciptakan kedekatan antarindividu… zat kimia alami yang ditransmisikan lewat udara dan secara khusus berfungsi sebagai perangsang lawan jenis.” – Bumi (halaman 12)
Namun, tampaknya keberadaan feromon dalam tubuh manusia masih menjadi perdebatan.
image
Sumber gambar di sini.

Pernahkah kalian membaca novel thriller berjudul “Perfume” karya Patrick Süskind—tentang pembunuhan misterius para perawan untuk mengekstrak aroma tubuhnya menjadi parfum? Pertama kali membaca bagian prolog novel ini, saya teringat kisah tersebut.
“Demi mendapatkan Lintang, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhasil mengekstrak feromon dari tubuhnya.” – Bumi (halaman 315)
“Hanya tinggal menunggu waktunya saja untuk menguji coba apakah tetes demi tetes minyak dalam botol kecil ini berfungsi dengan baik atau tidak.
‘Bersiap-siaplah, Lintang!!!’” – Bumi (halaman 320)

Tiga Rasa yang Bertabrakan

Bara, Lintang, dan Bumi dipertemukan di hari pertama ospek jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang. Takdir mungkin yang membuat mereka bertiga tergabung dalam satu kelompok ospek. Tiga manusia itu memiliki kepribadian yang sangat berbeda-beda, tapi itu membuat mereka makin dekat. Bara adalah tipe lelaki idola di novel-novel teenlit: ganteng, keren, jago basket, supel, tapi menyembunyikan suatu rahasia tentang dirinya. Sementara itu, Lintang adalah gadis yang supel juga, tapi menyimpan masa lalu yang ingin ia tinggalkan dengan pindah ke Semarang. Lain lagi dengan Bumi, yang pendiam dan sering merasa rendah diri, tapi paling terobsesi pada ilmu kimia. Bagi Bumi, yang menyimpan masa lalu kelam, sosok Lintang mengingatkannya akan ibunya tercinta.
Setelah melewati kejamnya ospek jurusan dan mengerjakan tugas-tugas bersama, hubungan mereka makin dekat dan rumit. Cinta segitiga terjalin di antara mereka, seperti bisa ditebak. Namun, Lintang belum siap menentukan hatinya. Apalagi dengan terjadinya insiden yang nyaris menggagalkan pernikahan kakaknya, Langit, dengan Rakai.

Sebenarnya Bara ingin mengatakan perasaannya kepada Lintang sebelum ia menghilang. Bumi, yang tanpa sengaja memergokinya—telanjur mengira Bara adalah pengkhianat. Hal ini membuat Bumi melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Siapakah yang sebenarnya dicintai Lintang? Bara, Bumi, atau lelaki dari masa lalunya? Dan, ke manakah Bara menghilang selama setahun kemudian? Akankah ia menepati janjinya untuk memberi petunjuk bagi Bumi dan Lintang?

Novel dengan Bau Zat Kimia

Membaca novel ini menyuntikkan ide di kepala saya untuk menulis novel berbau Teknik Fisika *jangan, ampun!*. Saya memberi apresiasi kepada penulis, atas tema segar meski aneh yang diangkatnya. Ketika membaca bagian prolog, saya berharap ini akan menjadi novel thriller. Yah, ternyata bukan. Huhuhu.

Sebenarnya, benang merah cerita yang dijahit penulis bukanlah hal baru. Kisah tentang persahabatan tiga orang mahasiswa yang malah dikeruhkan oleh tumbuhnya cinta segitiga. Namun, penulis berinovasi dengan menambahkan rasa ilmu Teknik Kimia di dalamnya. Yang menjadi sorotan utama penulis adalah suatu zat bernama feromon. Ternyata, menurut para ahli (dari beberapa sumber yang saya baca), keberadaan feromon manusia masih merupakan kontroversi. Meski begitu, proses mengekstrak feromon yang dipaparkan penulis terasa sangat terpercaya (karena saya awam dalam hal kimia macam begitu, kecuali Kimia Dasar. Hehehe) dan seru! Tapi, saya skeptis bahwa orang bisa jatuh cinta dengan lawan jenis hanya karena feromon.

Dari awal hingga mendekati akhir cerita, it was okay. Saya suka gaya bercerita penulis, yang bisa menjelma menjadi tiga pribadi dengan sudut pandang yang berbeda. Selain itu, pemilihan kata yang digunakan penulis juga beragam, dirangkai dengan cara yang unik, sehingga tidak membosankan. Ditambah lagi dengan istilah-istilah ilmu Kimia—yang terkadang terasa dipaksakan—tapi bisa membikin cerita lebih segar. Salah satu bagian kesukaan saya adalah tentang “teori konsentrasi” yang digunakan Bumi untuk menyemangati Lintang.
“Cobaan hidup ini layaknya asam asetat yang pekat. Masam dan bau. Tapi, jika hati kita bisa seluas sungai dalam menerima atau mau untuk belajar ikhlas, cobaan itu tak akan pernah terasa.” – Bumi (halaman 242-243)
Mendekati bab 26, bab terakhir, sesuatu yang membingungkan saya terjadi. Akhir yang aneh dan kurang memuaskan, menurut saya awalnya. Tapi mungkin itu hanya karena saya belum memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis. Setelah mencapai halaman terakhir, saya kembali ke prolog dan mulai menduga-duga. Mungkin saja, tulisan di bagian prolog itu adalah bagian dari novel thriller tentang ekstraksi feromon karya Bara, atau itu hanya mimpi yang dialami Bumi?
Terdapat beberapa kalimat tidak efektif atau yang tidak bisa saya mengerti, seperti berikut ini.
“Kelainan memang cewek berpipi gempal di depan.” – Bara (halaman 26)
“Dengan cukup outfit sebuah kaus, jeans belel, sepatu kets, gue sudah merasa siap dengan semua angkatan gue.” – Lintang (halaman 85)
“Ah, malam ini aku tidak ingin sedang memikirkan Lintang.” – Bara (halaman 133)
Dan juga, istilah dalam bahasa daerah, “midodareni”, akan lebih baik jika diberi keterangan apa artinya (halaman 273). Dan, tentang siapa yang sebenarnya Lintang cintai, menurut saya adalah Bara. Mungkin tanpa sadar, Lintang berkata bahwa ia mencintai Bumi hanya karena ia ingin mengetahui di mana Bara berada.
“Biar Lintang sadar, agar dia tahu siapa sebenarnya yang benar-benar dia cintai, yang ada di hatinya selama ini.” – Bara (halaman 329)
Selain itu, saya juga menduga mengapa judulnya "Imaji Dua Sisi". Mungkin ini melambangkan dua orang yang mencintai Lintang, yang masing-masing memiliki bayangan tersendiri terhadap diri Lintang. Atau, bisa juga berkaitan dengan kisah ekstraksi feromon terhadap Bara, dari dua sudut pandang: kisah sebenarnya dan kisah dalam novel Bara.

Novel unik ini cukup nikmat dibaca, apalagi bagi para pecinta ilmu kimia, bisa menambah pengetahuan juga.

Tiga bintang untuk feromon yang membuat Bumi terobsesi.

Catatan:
Resensi ini sebelumnya saya unggah di Tumblr, karena waktu itu saya harus segera mengunggahnya, tapi koneksi ke blogspot susah. Nah, demi kerapian arsip resensi, resensi ini sekarang saya unggah juga di blogspot.

21 April 2016

[Resensi HARMONI] Bak Semangkuk Patbingsu





Judul: Harmoni
Penulis: Heruka
Editor: Diara Oso
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, April 2016
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-296-199-4
Harga: Rp 45.000,00

Paras dan Rafal adalah teman kuliah di jurusan Arsitektur. Meski begitu, hubungan mereka hanya sejauh teman sekelas yang saling mengenal nama. Sekali ini, mereka satu kelompok dalam mengerjakan sebuah tugas. Baru sekali saja satu kelompok dengan Rafal, Paras sudah dibikin dongkol berkat kata-kata lelaki itu, setelah Rafal tahu bahwa Paras adalah seorang novelis teenlit.

“Aku nggak suka teenlit. Dan nggak minat.” (hlm. 18)

Kemudian, Rafal menyerang Paras dengan menanyainya seputar sastrawan klasik dunia, yang Paras sama sekali tak tahu.

“Sia-sia sekali aku membaca novel, yang bahkan penulisnya pun nggak tahu karya-karya hebat dari penulis dunia.” (hlm. 21)

Rafal, yang diam-diam juga suka menulis fiksi selain resensi yang ia pajang di blog bukunya, ternyata lolos seleksi untuk menjadi peserta Writing Clinic, bersama Rana (di hlm. 169 namanya berubah jadi Rena. Kenapa, ya? Wkwk), salah satu teman dari komunitas pecinta buku. Sialnya, pemateri sesi terakhir, tentang penulisan novel, yang seharusnya tak bisa hadir. Dan, tahu nggak, siapa yang menjadi penggantinya? Yaps, Paras! Rafal telah gagal kabur, malah tertangkap basah oleh Paras. Dalam sesi tanya jawab, Rafal menyerang Paras tentang idealisme versus realitas menjadi penulis. Penyerangan kali ini lebih keras dan pastinya lebih memalukan bagi Paras, karena dilihat oleh orang banyak. 

Terlepas dari adu prinsip kedua orang tersebut, masing-masing memiliki masalah sendiri. Sejak editornya bukan lagi Mas Ellan, Paras jadi bermalas-malasan (awalnya). Editor yang baru, Mbak Prita, menuntut agar novel ketiganya ini jadi the breathtaking one. Revisi lagi, revisi lagi, revisi... Sebenarnya, Paras tak rela editornya diganti, karena ia akan jadi jarang bertemu dengan Mas Ellan, lelaki yang ia sukai itu. Akhirnya, ia membuat persepakatan dengan Mas Ellan, yang berbahaya jika diketahui oleh Mbak Prita. Sementara itu, Paras jadi patah hati sebelum mengutarakan perasaannya, mana kala beberapa kali ia melihat Mas Ellan nongkrong dengan seorang cewek yang tak ia kenal. Belum lagi, masalahnya dengan Irene akibat Firli (atau Firly? Namanya berubah jadi Firly di hlm. 225).

Setelah Dad dan Mom bercerai, Rafal tak pernah tahu alasan utamanya, karena sebelumnya mereka berdua terlihat baik-baik saja. Oleh karena itu, pada liburan semester, Rafal diam-diam pergi ke Polandia untuk membujuk Mom agar mau kembali bersama Dad. Namun, di sanalah, ia menemukan kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan, tak hanya oleh Dad dan Mom, tapi juga oleh nenek dan kakeknya. Dalam liburan itu, Rafal juga berencana menemui Venus, gadis yang selama ini ada di hatinya, untuk menanyakan kejelasan status hubungan mereka.

Bagaimana nasib novel ketiga Paras? Bagaimana hubungannya dengan Mas Ellan, Irene, dan Rafal? Sementara itu, apakah Rafal akan mendapat kepastian dari Venus?

Nyastra VS Pop?

Konflik yang awalnya diperkenalkan oleh penulis sungguh menarik, tentang dua orang yang berseberangan prinsip, dan saling membenci (awalnya). Bagi saya, hal ini menarik karena pertama, isu tentang nyastra versus pop selalu menimbulkan perdebatan dan pembahasan yang tak kunjung selesai. Di mana letak perbedaan antara karya nyastra dan pop? Saya kira bukan dari permukaannya (gaya bahasa, misalnya). Jika sebuah prosa ditulis dengan gaya bahasa njelimet dengan metafora berbelit-belit nan rumit dibayangkan, belum tentu ia pasti termasuk karya yang nyastra. Pun sebaliknya, bila prosa macam Cantik Itu Luka, yang ditulis dengan bahasa lugas, belum tentu ia adalah karya pop. Oleh sebab itu, saya kurang setuju dengan esai yang ditulis oleh Mbak Marliana di BasaBasi, Sastra untuk Siapa. Dalam hal ini, saya sependapat dengan Mas W.N. Rahman.

Demi pemahaman saya sendiri, saya merasa lebih pas jika pembedaan nyastra dan pop itu didasarkan pada seberapa dalam tema dan konflik yang dibangunnya. Nah, “seberapa mendalam” ini juga tentunya menimbulkan masalah lagi, karena tiap pembaca punya standar sendiri dalam menilainya. Maka, seperti halnya masalah selera, sebaiknya hal semacam ini tak usah diperdebatkan.

Awalnya, saya menemukan kemiripan dengan Rafal. Kami sama-sama pembaca karya nyastra yang lahap, meski saya tak punya perpustakaan semenakjubkan punya Daddy-nya (meski saya lebih banyak membaca karya nyastra domestik daripada luar negeri). Kami juga sama-sama blogger buku. Herannya, mengapa Rafal menyebut blog-nya BBI? Apa BBI yang dimaksud BloggerBuku Indonesia? Kalau iya, BBI yang itu kan komunitas, bukan nama blog personal.

“Kata Ivy, kamu punya blog, ya?”

“Iya, BBI. Tahu kan?”

“Aku cuma membahas buku di blogku.” (hlm. 17)

Seharusnya, Rafal menjawab, “Iya, aku anggota BBI.” Nah, begitu lebih pas!

Rafal baru beberapa kali membaca novel pop dan langsung mengecapnya lebih rendah daripada karya nyastra, sedangkan teenlit dan metropop adalah dua jenis novel yang dulu saya gemari waktu remaja. Sekarang, saya pasti lebih memilih membaca karya-karya Eka Kurniawan, Pram, SGA, Ayu Utami, Arafat Nur, Murakami, Anton Chekov, Ryunosuke Akutagawa,.... daripada teenlit atau metropop terbaru. Namun, saya tetap membaca karya pop karena saya adalah extrovert reader yang selalu ingin membaca buku dari sebanyak mungkin genre, dan karena saya setuju akan pendapat Paras, bahwa nyastra dan pop tak seharusnya dibanding-bandingkan.

Bedanya lagi, ketika meresensi, yang saya nilai adalah tulisan yang saya baca, bukan penulisnya. Oleh karena itu, saya kemudian jadi sebal terhadap Rafal, karena ia adalah contoh pembaca yang tidak bijak. Tak puas menyudutkan karya pop, ia juga turut mencibir penulisnya. Pembelaan Paras tak salah, “Hah, kamu pikir kamu siapa? Penulis hebat? Kritikus andal? Cuma tukang baca doang! Cih!” (hlm. 22). Mungkin kalau tokoh Ellie dan Julie (di novel Dear Ellie) mengenal Rafal, pasti mereka akan menyemprotnya habis-habisan.

Anehnya, prinsip Rafal yang sangat kuat dan teguh itu bisa kendor dengan mudah dan terlalu cepat, hanya karena ia menyesal telah mempermalukan Paras di Writing Clinic. Writing Clinic itu pun, yang menjadi titik balik perubahan prinsip kedua tokoh utama, diceritakan hanya saat sesi ketiga, dan hanya berisi monolog Paras sebagai pembicara, serta tanya-jawabnya dengan Rafal. Seolah ruangan itu hanya berisi mereka berdua. 

Anehnya lagi, seorang penulis yang salah satu novelnya bestseller seperti Paras, sama sekali belum pernah mendengar nama Oscar Wilde, Hemingway, dan Murakami. Mungkinkah ada penulis yang belum pernah dengar nama Hemingway? Padahal Paras juga pembaca novel-novel impor, lho, macam karya Jodi Picoult dan Rick Riordan. Lebih aneh lagi, sebelum tahu bahwa Rafal tak suka teenlit, Paras kok sudah seperti terintimidasi, ya?

“Apa jenis buku yang kamu tulis?”

“Umm... masih teenlit, sih.” (hlm. 17)

Jawaban Paras (cermati penggunaan kata “masih”) atas pertanyaan Rafal tersebut mengesankan kalau Paras juga menganggap rendah teenlit. 

Setelah peristiwa Writing Clinic, Paras berminat untuk membaca karya nyastra, dan mencoba menulis novel nyastra biar bisa bertemu Mas Ellan lebih sering (karena blio dipindahkan ke genre sastra). Isu menarik seputar nyastra versus pop ini punah dengan sendirinya (ucapkan selamat tinggal pada perpustakaan keren milik Dad dan judul-judul buku sastra dan nama penulis kenamaan dunia yang disebar penulis di separuh awal novel) dan digantikan oleh romance. Yah, memang dari awal ini akan jadi novel romance, dengan bumbu nyastra versus pop, bukan sebaliknya.

Cinta Bersegi-segi 

Mungkin dari awal pembaca akan menebak bahwa alur novel ini akan klise: dua orang yang saling membenci lalu saling jatuh cinta dan berakhir bahagia. Nyatanya, tidak seklise itu. Paras memendam rasa suka terhadap Mas Ellan. Sementara itu, Mas Ellan sepertinya sedang dekat dengan gadis lain. Firli (atau Firly?), mantan pacar Paras, berusaha mengejarnya lagi, dengan cara busuk (padahal saat itu Firli sedang mendekati Irene, teman kos sekaligus sahabat Paras). Kisah Paras-Firli-Irene ini menimbulkan persahabatan Paras-Irene rusak. Namun, sayangnya, konflik ini tidak terselesaikan dengan baik. Irene memang kemudian menyesal, tapi bagaimana dengan Firli?

Rafal menantikan kepastian dari Venus. Sebelumnya, sebuah adegan membuat saya mengira Venus telah memiliki lelaki lain di Vienna. Ternyata, di akhir, Venus mengungkapkan kenyataan bahwa ia adalah seorang.... (udah nggak tahan pengin bilang, tapi saya takut spoiler). Sungguh, kejutan macam ini tidak mengejutkan pembaca dengan cara yang menyenangkan. Kok tiba-tiba Venus begitu? Saya malah sedih karena rasanya kaum seperti Venus di dunia nyata hanya dimanfaatkan penulis agar alur cerita novelnya agak tak tertebak.

Lalu, Rafal dan Paras bagaimana? Kisah mereka juga berakhir tidak jelas, meski harmoni telah tercipta antara paradigma mereka soal nyastra versus pop. Meski begitu, saya rasa keputusan Rafal berkaitan dengan cinta Paras itu bijak, karena ia sendiri baru saja patah hati oleh Venus. 

Bak Semangkuk Patbingsu 

Saya setuju dengan gugatan yang ditulis oleh Wardah di resensinya, bahwa novel ini kebanyakan konflik, dan jumlah halamannya yang hanya 240 itu tak sanggup menampungnya dengan baik. Masalah Paras-Firli-Irene, masalah Rafal dan ibunya, masalah Rafal dan Dad, masalah Paras dan Mas Ellan terkait persepakatan rahasia mereka yang ketahuan oleh Mbak Prita... Bagaimana kelanjutan novel ketiga dan keempat Paras? Seingat saya, tentang masalah Paras-Mas Ellan-Mbak Prita, penulis juga tidak melanjutkan penyelesaiannya. Siapa yang sebenarnya mengirimkan file bab dua novel keempat Paras ke Mas Ellan?
“..., ya ada satu nama yang mungkin melakukannya. Cuma dia satu-satunya paling masuk dalam kemungkinan. Tapi, untuk apa?” (hlm. 158)

Dia siapa? Saya sempat curiga kalau itu Irene, tapi penulis tak mengungkitnya lagi sama sekali! Dari sini, saya mendapat kesan bahwa penulis sangat tak bertanggung jawab. Ia membikin banyak konflik bersaling-silang, tapi tak menyelesaikannya dengan baik. Bahkan terkesan mengabaikan (atau bahkan lupa?) untuk menyelesaikan beberapa di antaranya. Oleh karena itu, saya mengumpamakan novel ini dengan semangkuk patbingsu yang waktu itu saya makan setelah menyantap dak galbi dan rappoki.
Berbagai macam buah, kacang merah, dan es krim memenuhi mangkuk. Terlihat enak dan indah dipandang. Mangkuk patbingsu itu penuh sesak dengan aneka isian, yang awalnya terasa enak dan segar di mulut. Tapi karena terlalu banyak (dan mungkin juga karena saya terlalu kenyang), rasanya berubah jadi enek dan saya tak sanggup menghabiskan.
***
Ada beberapa typo dalam novel ini, yang saya rasa tak perlu dibahas lebih jauh, karena saya rasa masalah typo tak lebih penting ketimbang masalah-masalah yang telah saya utarakan di atas. Beberapa di antaranya adalah kata revision (hlm. 82), kalimat "Tentang perbedaan pendapatnya dengan Rana" (hlm. 115, yang seharusnya "dengan Paras"), kalimat “Tak terasa, setengah pun berlalu” (hlm. 231, setengah apa?)

Novel ini memberi harapan optimis kepada para pembaca, bahwa dunia literasi Indonesia akan terus berdenyut dan berkembang jika ada anak-anak muda macam Rafal dan Paras (dan saya =D7). Melalui gaya hidup Dad dan Rafal, kita dihadapkan pada utopia saat membaca jadi semacam rasa haus di tenggorokan tiap orang. Melalui Paras, kita melihat cerminan penulis muda yang tak henti belajar dan berkarya. Terakhir, secuil curhatan penulisnya bisa dibaca di sini.

Dua setengah bintang untuk harmoni antara nyastra dan pop yang dijalin setengah hati.

“Memang sih, idealis itu harus, tapi bergaul juga perlu. Dan caranya, ya, menyisakan separuh diri kita untuk diisi apa yang kita tak sukai.” (Paras, hlm. 129)

bloggerwidgets