Showing posts with label elfbooks. Show all posts
Showing posts with label elfbooks. Show all posts

24 January 2017

Meresensi Novel Sendiri (Bagian 2)



Bulan Oktober 2016 barangkali menjadi bulan yang paling penuh aktivitas membaca buku selama saya tinggal di Desa Bandar Dalam, di pelosok Pesisir Barat Lampung, dekat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (dalam rangka menjadi fasilitator masyarakat untuk pemanfaatan infrastruktur PLTS). Buku-buku yang saya bawa ke desa sudah habis saya lahap, kecuali The Révèter. Entah, waktu itu kenapa saya membawa buku itu ke desa, mungkin berharap bisa memberikannya ke seorang anak yang punya minat baca relatif tinggi dibandingkan teman-temannya, atau berharap bisa meletakkannya di rak perpustakaan sekolah setempat. Melihat-lihat tumpukan buku, saya iseng mengambil The Révèter (satu-satunya eksemplar yang saya punya) dan mulai membacanya. (Pengalaman mengajarkan saya bahwa ide-ide iseng yang tidak mengganggu orang lain, yang muncul dalam benak kita, sebaiknya diladeni. Siapa tahu, hal-hal iseng itu berbuah sesuatu yang manis. Agak masam pun boleh, deh.)

Saya takjub pada diri saya sendiri: bagaimana bisa, saat membaca The Révèter kali itu, saya merasa benar-benar sebagai pembaca (yang mungkin tidak kenal penulisnya). Kok bisa, ya?

Merumuskan Kembali The Révèter dalam Satu Paragraf

Di suatu malam Natal, Hydra bermimpi berada di sebuah hutan pinus. Begitu bangun, anehnya, ada strobilus sungguhan di dalam kaus kaki Natalnya. Mimpi anehnya itu disusul kejadian yang lebih aneh lagi: kakek-neneknya menghilang setelah memberikan kado Natal padanya dan Oxy, adiknya. Di mimpi berikutnya, dia bertemu Radon. Di dunia nyata, sepulang sekolah, Hydra diculik oleh sepasang kakak-beradik, yang ternyata Radon dan kakaknya, Calsina. Identitas Hydra sebagai remaja biasa tersungkur saat Radon dan Calsina membeberkan bahwa ia juga Révèter seperti mereka. Bukan Révèter biasa malah, melainkan keturunan ke-2562 leluhur Révèter, yang mewarisi kalung Convoera—kalung yang ada di dalam kotak kado Natal terakhir dari kakek-neneknya. Bersama Radon dan Calsina, dimulailah petualangan Hydra menemukan pemilik pasangan kalung Convoera-nya. Berdua, pemilik kalung Convoera tersebut memegang kunci perdamaian antara pengikut Auri dan Argento, leluhur para Révèter. Petualangan tersebut tidaklah mudah, ada pihak-pihak yang selalu berusaha menyabotase usaha mereka.

Merekonstruksi Alur The Révèter

Alur kisah novel ini bercabang dua: alur progresif mengikuti langkah yang diambil Hydra sembari menceritakan masa lalu. Masa lalu Auri dan Argento, yang kemudian menjadi legenda asal-mula terjadinya permusuhan antara para pengikuti dari kedua leluhur tersebut, mewujud dalam bentuk cerita yang termaktub dalam Kitab Révènian—Segala Sesuatu tentang Révèter Ada di Sini, serta dalam adegan pertarungan duel mereka di hutan pinus dalam dunia mimpi. Masa lalu kakek-nenek Hydra diceritakan melalui catatan-catatan dalam buku harian sang Kakek, yang ditemukan dan dibaca oleh Oxy.

Mungkin ada beberapa hal yang sebenarnya membutuhkan penjelasan lebih lanjut, tapi ketebalan novel ini tidak mampu menampung semua. Akan lebih menarik jika ada side story tentang peristiwa pembasmian Révèter pada tahun 1998 (eh, jadi ingat peristiwa penggulingan rezim Orde Baru), karena peristiwa itu berdampak pada “pembentukan” identitas para Révèter seangkatan Hydra, termasuk bagi Radon dan Calsina juga. Kepingan cerita lain yang layak mendapat porsi lebih banyak dan di-tunjuk-kan, bukan diceritakan, adalah tentang leluhur Révèter, Auri dan Argento. Begitu juga dengan kisah para pengikut kedua belah pihak yang senantiasa bermusuhan setelahnya (kisah-kisah “kejahatan” yang dilakukan para pengikut Argento di dalam mimpi itu menarik).

Tempo alur yang cepat membikin pembaca tidak bosan. Penulis berusaha membuat pembacanya penasaran dengan membuka sedikit demi sedikit petunjuk teka-teki, seperti misalnya siapa sebenarnya “utusan” Andrew Lee dan siapa yang menjadi mata-matanya.

Yang saya bingung, Hydra dan Zinco bisa berkomunikasi lewat kalung Convoera, tapi kenapa mereka tidak membikin janji ketemu saja lewat kalung itu, daripada susah-susah bertemu di dunia mimpi? Selain itu, saya juga bertanya-tanya, dari mana Zinco bisa tahu nama Hydra, karena—kalau tidak salah—tidak ada penjelasan, tiba-tiba Zinco memanggil Hydra dengan namanya, padahal mereka belum saling mengenal secara langsung sebelumnya.

Romance antara Hydra dan Radon terkesan terjadi terlalu cepat dan dipaksakan. Yah, maklum, karena penulis memang awalnya tidak menyertakan bumbu romance, tapi lalu menyempilkan sedikit di antara bab-bab cerita.

Tokoh-tokoh yang Menyesaki Kisah

Mungkin karena alur cerita bertempo cepat (bisa dibilang, penulis terlalu fokus pada alur—bikin alur dulu, baru comot tokoh belakangan), tokoh-tokoh di dalam novel ini jadi kurang dieksplorasi kepribadiannya. Atau mungkin juga karena terlalu banyak tokoh yang cukup penting, sehingga jadi terlalu gemuk dan kompleks untuk novel setebal hanya 236 halaman.

Bisa dibilang, tokoh utamanya adalah Hydra. Hidupnya berubah setelah mimpi-mimpi aneh mengunjunginya. Hydra adalah sosok yang cerdas, terlihat dari bagaimana ia menebak kado Natal Oxy, memecahkan cara membuka buku Kitab Révènian. Dia juga dikatakan gemar baca buku. Oxy, adik Hydra, adalah sosok yang ceria, aktif, dan dinamis, terlihat dari, antara lain, caranya membangunkan Hydra dan kegemarannya bersepatu roda. Setelah Hydra, Oxy, dan kakek-nenek mereka, kita diperkenalkan pada tokoh Zinco, pemilik pasangan kalung Convoera Hydra. Remaja laki-laki itu suka pelajaran Fisika, tapi tidak suka pelajaran Sejarah, tapi anehnya bisa menjawab dengan benar pertanyaan guru Sejarahnya meski ia ketiduran di kelas.

Seiring peristiwa “penculikan” Hydra, kita diperkenalkan pada sosok Radon dan Calsina. Kakak-beradik itu adalah Révèter senior, yang memprakarsai “pencarian” para Révèter muda melalui mimpi. Terlebih, Radon punya kemampuan istimewa: bisa membaca pikiran orang lain. Kemampuan ini kadang membuatnya kesal, karena membuatnya seperti berbicara sendiri (ia berbicara untuk menyahuti pikiran orang). Radon juga sosok yang cerdas, bisa dilihat dari idenya untuk menanam Nicelia steeli. Sementara itu, Calsina terkesan sebagai sosok perempuan dewasa yang ramah dan hangat.

Tokoh-tokoh lain yang muncul sedikit-sedikit adalah Mary (sahabat Hydra), Tory (si maniak sejarah yang berperan menyadarkan Zinco bahwa dia Révèter dan pemilik kalung Convoera), Leony (kemunculannya yang sebentar hanya untuk menciptakan drama percintaan Hydra-Radon-Leony), Baldy dan Kanno (para Révèter, teman-teman Radon dan Calsina, tapi muncul sebentar sekali dan nyaris tidak berperan dalam cerita). Tidak seperti Leony, Baldy, apalagi Kanno (yang pasti akan terlewatkan begitu saja oleh pembaca karena namanya—kalau tidak salah—hanya disebut dua kali di dalam cerita dan tidak berperan aktif sama sekali), Silvana muncul cukup sering di bagian tengah sampai akhir, karena ia ikut pergi ke Vainsalle untuk menyelamatkan Hydra dan Zinco. Silvana ini istimewa karena highlight di poninya bisa berubah warna sesuai emosinya. Jadi teringat tokoh di buku Harry Potter, Tonks. Sementara itu, Daniel, Révèter juga, berperan cukup penting di dalam cerita, sebagai salah satu orang yang dipercaya Radon, juga ikut ke Vainsalle. Tokoh lain adalah Andrew Lee, si antagonis dan ayah Radon-Calsina. Kedua orang ini memegang peran penting dalam penciptaan konflik cerita.

Lain-lain

Kisah ini diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Gaya bahasanya baku dan kadang menggunakan istilah bahasa Inggris (padahal sebenarnya bisa pakai bahasa Indonesia saja untuk istilah-istilah tersebut). Latar tempat di dunia nyata adalah di negara Barat yang memiliki empat musim, tapi di sebelah mana kurang jelas. Mungkin penulis berpendapat bahwa identitas kota latar cerita tidaklah penting.

Kesimpulan

Elemen-elemen fantasi bercampur jadi satu: dunia mimpi, sihir kuno, Vainsalle, free-season area, dan banyak lagi, dicampur lagi dengan dunia nyata sehari-hari seperti kegiatan sekolah, menjadikan novel ini cukup unik. Terlepas dari semua kelemahannya, novel ini telah menambah jumlah novel fantasi karya penulis domestik (meski setting-nya di Barat dan tokoh-tokohnya juga orang Barat, dan belum bisa melepaskan ketergantungannya akan fantasi a la Barat), dan menjadi teman yang menyenangkan kala butuh kabur sejenak dari dunia nyata.

Identitas Buku

Judul        : The Révèter
Penulis     : Frida Kurniawati
Editor       : Elizabeth
Tebal        : 236 halaman
Penerbit    : Elf Books
Cetak        : I, Mei 2013
ISBN        : 978-602-19335-9-6
Harga        : Rp 40.000,00

23 January 2017

Meresensi Novel Sendiri (Bagian 1): Sebelas Fakta di Balik The Reveter



Halo, readers! Saya kangen kalian semua! Sudah cukup lama blog ini saya cuekin, sampai lumutan tebal sekali. Saya sebenarnya tak ingin itu terjadi, tapi apa daya, tugas saya di pelosok desa tak memungkinkan saya untuk internetan. Nyalain laptop aja nyaris nggak pernah. Sekarang saya sudah kembali, dan tulisan pertama di tahun 2017 ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri 😎 (dan tentunya untuk kalian yang bersedia repot-repot membacanya).
***
Mungkin, ada yang berpendapat bahwa sebaiknya seorang penulis fiksi tidak meresensi karya-karya fiksi (dan/atau sebaliknya?). Sebaiknya dipasang kawat berduri bertegangan listrik ribuan volt di antara kedua pekerjaan tersebut, agar tak saling berinteraksi langsung. Mungkin tujuannya adalah agar ketika sedang menulis fiksi, seorang penulis (yang juga peresensi) tidak didera terus-menerus oleh intuisi peresensi dalam dirinya sendiri (yang sering lebih kejam dari pada editor), yang mungkin bisa menyebabkan karyanya tak kunjung selesai. Atau malah tidak jadi menulis karena beralibi, “Dari pada menulis buruk, lebih baik saya tidak usah menulis saja.” Padahal, kata Dee di sebuah acara, Someone can revise a bad page, but it’s impossible to revise a blank one.

Yah, terkadang memang saya mengalami hal tersebut. Biasanya setelah menamatkan baca sebuah novel yang menurut saya, lebih bagus tulisan saya, tapi anehnya laris di toko buku. Anehnya juga, penulis tersebut cukup produktif menjajarkan karyanya di toko buku, padahal kalau dilihat di Goodreads, rating buku-bukunya rata-rata kurang dari 3. Biasanya, lalu saya berpikir, dari pada menerbitkan buku yang biasa-biasa saja, lebih baik saya bikin karya yang fantastis. (TAPI ENTAH KAPAN.) Begitulah cara berpikir salah satu sisi dalam diri saya, yang saya tahu, seharusnya saya tidak begitu.

Padahal, sisi yang lain dalam diri saya menyadari, penulis itu bertumbuh. Demikian juga karya-karyanya. Sangat jarang ada penulis yang baru sekali membuahkan karya, langsung meledak, review-nya positif di Goodreads. Tidak masalah jika karya-karya awal tidak terlalu bagus. Yang penting, karya selanjutnya, sebisa mungkin, lebih baik dari pada sebelumnya. Bagaimana bisa mau bertumbuh, kalau memulai dari karya yang buruk saja belum pernah, kan?

***
Kembali ke kalimat pertama. Menurut saya, justru intuisi peresensi dalam diri saya membantu saya bertumbuh dalam menulis. Jika dilatih, intuisi peresensi itu bisa muncul di saat yang tepat: di saat saya perlu mempertanyakan tulisan saya sendiri, “menghajarnya” agar jadi lebih baik, tanpa membuat saya “takut” untuk memulai menulis. Nah, bagaimana jika seorang penulis meresensi karyanya sendiri yang pernah terbit? Saya tidak tahu apakah ada yang sudah melakukannya. Dalam tulisan ini, akhirnya, saya memberanikan diri meresensi novel saya sendiri.

The Révèter, adalah novel kedua yang saya tulis, tapi yang pertama diterbitkan. Setelah itu, beberapa novel saya (termasuk novel yang pertama saya tulis, yang kalau saya baca sekarang, saya bergumam frustrasi, “Saya pernah nulis novel kayak gini? Alay banget!”) masih mendekam malas-malasan di dalam internal hard disk laptop. The Révèter diterbitkan pada bulan Mei 2013, oleh Elfbooks (sekarang sudah tak ada lagi penerbit yang dulu sempat naik daun, terutama berkat karya-karya Kak Delia Angela). Naskah saya ini menjadi salah satu dari empat karya yang diterbitkan melalui jalur sayembara penulisan novel yang diadakan oleh penerbit tersebut. Tiga yang lain adalah Karena Cinta karya Monica Petra, Happiness Theory karya Arbie Sheena, dan Rubrik Kata Katya karya Primadonna Angela.

Pada masa itu, saya masih cupu di bidang dunia penerbitan dan penjualan buku. Saya akui, saya kurang mempromosikan buku saya sendiri. Pernah terlintas di benak untuk menulis semacam “behind the scene” penulisan novel ini, tapi belum pernah saya eksekusi. Oleh karena itu, di Bagian 1 ini, saya akan membahas tentang beberapa fakta di balik penulisan The Révèter, karena selalu ada cerita di balik penciptaan cerita.

***

Fakta #1

Ide yang menuntun saya menulis The Révèter pertama kali menyentuh kesadaran saya pada tahun 2009, saat saya masih SMA. Pada bagian “thanks to” di awal novel ini, ada satu ucapan terima kasih yang tidak saya tulis di situ (saya lupa, waktu menulis itu saya lupa atau memang sengaja tidak menulisnya?). Ucapan terima kasih kepada seseorang yang terhadapnya saya pernah mengalami patah hati (untuk kasus ini, saya mengamini bahwa patah hati bisa jadi perantara bagi sepercik ide untuk mendatangi seorang penulis dan memaksanya menulis).

Fakta #2

Di The Révèter, hutan pinus adalah latar tempat yang pertama kali saya perkenalkan kepada pembaca, lewat mimpi Hydra. Hutan pinus juga jadi salah satu latar tempat yang penting di novel ini, sebagai tempat berduel Argento dan Auri, latar mimpi-mimpi Hydra yang berulang, tempat Radon kehilangan Hydra dan Zinco yang kemudian tersedot ke Vainsalle, juga tempat Hydra akan “dieksekusi”. Hutan pinus itu sebenarnya, bisa dibilang, induk yang melahirkan tokoh-tokoh, konflik, dan The Révèter secara keseluruhan. Jadi sebelum mulai menulis, saya berkata pada diri sendiri, “Oke, saya ingin menulis novel, entah bagaimana isinya, pokoknya hutan pinus akan jadi setting utamanya.”

Kenapa hutan pinus? Sesederhana bahwa saya pertama kali bertemu dengan seseorang itu di sebuah hutan pinus. Kali berikutnya, saya bertemu dia di sana lagi.

Fakta #3

Dengan berbekal “hutan pinus” di pundi-pundi ide yang masih mentah, saya berpikir, mau dibentuk jadi genre apa novel ini? Nah, bukan kebetulan, jika saat itu saya membaca novel fantasi Aerial karya Kak SittaKarina (btw, saya suka cover-nya). Aerial seperti menyanyikan berulang-ulang di kepala saya, “Tulislah kisah fantasi, fantasi, fantasi...”

Fakta #4

Saya memulai menulis bakal The Révèter tak beberapa lama setelah ide muncul pertama kali. Saat itu, saya masih menulis dengan tangan di sebuah buku bergaris. Di jam-jam istirahat sekolah atau jam kosong, saya menulis. Kadang di kantin, kadang di taman belakang sekolah, kadang di kelas. Oh iya, saya menulis dengan pensil waktu itu. Alasannya, biar gampang dihapus kalau ada yang ingin saya edit. Di samping buku itu, saya punya buku kecil yang berisi ide-ide dan rancang bangun The Révèter.

Fakta #5

Tulisan tangan itu belum selesai. Saya diamkan, entah karena apa, saya lupa. Saya mulai menulis lagi, sekitar tahun 2012 (saat saya tahu ada sayembara menulis novel Elfbooks). Saya merombak di sana-sini, menambah ini-itu, bisa dibilang saya “menulis ulang”. Sialnya, saat deadline mendekat, laptop saya rusak. Waktu di rumah, saya masih bisa menulis menggunakan komputer. Nah, begitu saya balik ke Yogya untuk kembali masuk kuliah setelah libur, saya kebingungan. Untung, sahabat sekaligus teman kos saya, Rizka, waktu itu bersedia meminjamkan laptopnya. Untuk mengirimkan naskahnya saja, saya nebeng laptop dan koneksi internet Aya.

Fakta #6

Mungkin The Révèter ini belum atau malah tidak akan terbit jika saya tidak nge-fans Super Junior. Lho, apa relevansinya?

Elfbooks saya kenal pertama kali lewat novel terbitannya, Perfect Ten, karya Kak Delia Angela. Sepuluh anggota boy band dalam novel tersebut dibikin berdasarkan tokoh dunia nyata, Super Junior. Salah seorang teman geng CL Girls (12 cewek, termasuk saya, E.L.F.—sebutan untuk fans Super Junior—yang pertama kali bertemu di Super Show 4, dan bermarkas di Yogyakarta) telah membaca Perfect Ten, dan mempromosikannya kepada yang lain. Dari situ, saya tahu ada sebuah penerbit bernama Elfbooks. Dari situ, saya lalu mengikuti akun Twitter Elfbooks. Dari situ, saya kemudian tahu bahwa Elfbooks sedang mengadakan sayembara penulisan novel. Dari situ, saya menulis ulang bakal The Révèter. Dari situ, novel ini bisa terbit.

Fakta #7

Beberapa tokoh The Révèter saya namai berdasarkan nama unsur kimia (ya, waktu SMA, pelajaran Kimia adalah salah satu favorit saya, karena banyak praktikum yang seru). Ada yang saya usahakan agar unsur yang pilih itu mewakili karakter sang tokoh; ada juga (banyak) yang saya pilih dengan cukup ngasal.

Fakta #8

Kata “révèter” berasal dari kata dari bahasa Perancis “reve”, yang artinya mimpi. (Selama tiga tahun di SMA, saya selalu memilih pelajaran bahasa Perancis, tapi setelah tiga tahun, kemampuan berbahasa-Perancis saya terbatas di satu kalimat yang bisa saya ucapkan tanpa keseleo lidah, “Tu es la lumiere dans ma vie.”)

Fakta #9

Awalnya, naskah yang saya ikutkan sayembara berjudul I’ve Known You in The Dreams, yang lalu diusulkan untuk diubah menjadi The Révèter oleh pihak Elfbooks. (Yang kemudian, oleh teman-teman kuliah saya sering diplesetkan jadi “the repeater”—terlebih saat kuliah Komunikasi Data).

Fakta #10

Sekelompok orang yang bisa mengelola mimpi: masuk ke mimpi orang, menciptakan beraneka setting mimpi, membuat skenario mimpi, mungkin mengingatkanmu akan film Inception (2010). Percayalah, saya punya ide tentang Révèter sebelum film itu nongol. Kemudian saat menontonnya (waktu itu saya nggak sepenuhnya memahami bagian-bagian tertentu dalam film itu), saya menjerit sambil menuding layar komputer (waktu itu, saya masih pakai komputer ber-OS Windows XP), “Lho, kok kayak ideku?!” (Yah, sebenarnya, nggak mirip, sih.) (Itulah konsekuensi kalau punya ide tapi nggak keburu dieksekusi, jadi keduluan, kan.)

Fakta #11

Saat masa revisi, penerbit meminta saya untuk memasukkan sekelumit unsur romance. (Sebelumnya, tak ada unsur itu sama sekali. Jujur saja, saya tidak terlalu suka menulis romance.) Alhasil, dengan cerdik (atau mungkin kurang cerdik?) saya berhasil mem-blusukkan romance antara Hydra dan Radon, diwarnai kecemburuan Leony yang menganggap Radon adalah kekasihnya. Kalau antara Hydra dan Zinco, saya tidak ada maksud menerbitkan romansa antara mereka. Entahlah, saya rasa mereka cukup bahagia jadi sahabat saja.

***

Tiga tahun lebih 5 bulan setelah The Révèter terbit, saya membaca ulang karya saya itu, dari awal sampai akhir. Butuh 3 tahun 5 bulan untuk bisa membacanya seolah-olah bukan saya yang menulis novel itu. Entah bagaimana tepatnya, secara begitu saja, saya tiba-tiba bisa sangat tidak subjektif saat membaca ulang The Révèter. Saya terposisikan sebagai seorang peresensi buku.

(bersambung ke Bagian 2)

23 April 2014

Resensi SUPER GIRLS - "The Miracle of A Second Chance"




Judul Buku                       : Super Girls (Sequel of “Perfect Ten)
Penulis                              : Delia Angela
Tebal                                 : 360
Penerbit/cetakan               : Elfbooks/Cetakan pertama, Februari 2013
ISBN                                 : 978-602-19335-5-8
Harga                                 : Rp 50.000,00 Rp 30.000,00 (diskon 40%)

“Ternyata menjadi public figure tidaklah mudah. Ruang privasi menjadi sempit. Tidak dapat bergerak bebas.” – Hyuna (halaman 181)

Sepanjang karier saya menjadi fans salah satu boyband Korea Selatan, Super Junior, saya tidak bisa tidak memperhatikan perasaan mereka. Saya tak pernah berhenti bertanya (meskipun belum mendapat jawabannya sampai sekarang), apakah yang mereka tampilkan di hadapan para fans itu adalah benar-benar yang mereka ingin tampilkan? Atau itu hanya tuntutan kamera saja? 
Selama itu pula, saya pernah menjadi hater beberapa member girlband Korea. Seenak mulut saya, saya membicarakan kejelekan mereka dengan teman saya. Tentang wajah cantik mereka yang tidak asli. Tentang sikap mereka yang buruk terhadap teman member mereka sendiri. Puas sekali rasanya membicarakan kejelekan artis, tanpa pernah memikirkan perasaan mereka. Tanpa pernah membayangkan jika saya menjadi mereka dan harus menghadapi banyaknya komentar negatif tentang diri mereka. Padahal saya juga tidak tahu fakta sebenarnya.
Membaca novel ini, saya jadi tahu rasanya. Apalagi, kebetulan, ketika membaca novel ini, saya juga sedang menonton drama Korea, The Man From The Star, yang juga menceritakan kehidupan seorang artis. Seperti kata Hyuna, tokoh utama novel ini, “menjadi public figure tidaklah mudah.”
Park Hyuna, yang hanya setahun menjalani masa training di JP Entertainment, akhirnya debut. Seharusnya ia bahagia, bukan, bisa debut secepat itu, di mana rata-rata trainee lain baru debut setelah bertahun-tahun menjalani masa training yang tampak tiada akhir. Tapi tidak. Hyuna malah cemas. Bagaimana tidak? Ia debut sebagai member tambahan sebuah girlband populer bernama Super Girls. Kemunculannya sebagai anggota baru tentunya memicu kontroversi di tengah para fans dan juga haters.[1] Namun, yang paling menyengsarakan Hyuna adalah perlakuan member lain terhadapnya. Awalnya, Kim Gahee (leader, lead dancer), Lee Eunhye (rapper), Han Minyoung (lead vocal), bersikap dingin terhadap Hyuna. Hanya Moon Jieun (magnae)[2] yang bersikap baik padanya sejak awal. Tidak hanya ketika di asrama saja, ketika di dalam mobil van pun, Hyuna merasa tersisih. Keempat member mengobrol asyik, meninggalkannya sendirian.
Hyuna pun mencoba metode memasak makanan untuk mendapatkan hati para member (seperti yang pernah ia lakukan pada Perfect Ten dulu)[3]. Metode ini cukup berhasil, karena Minyoung yang adalah penggemar gamjaguk, ternyata menyukai gamjaguk buatan Hyuna.
Tunggu dulu. Tak semudah itu memenangkan hati para member. Apalagi Hyuna melakukan kesalahan besar. Pertama kali tampil di atas panggung sebagai anggota Super Girls, Hyuna malah tidak sengaja menjatuhkan mikrofon ketika sedang menyanyikan bagian dengan nada tinggi. Kesalahan ini, meskipun kecil, tapi menodai penampilan Super Girls, yang selama ini tanpa cela.
“Grup kami tidak pernah melakukan kesalahan selama tampil di atas panggung, dan kau berhasil membuat citra yang bagus di awal debutmu!” – Kim Gahee (halaman 46).
Namun, Ji Eun berhasil menguatkan Hyuna dengan kata-kata pemberi semangat, begitu juga dengan Jongwoon[4] (anggota Perfect Ten, yang adalah pacar Hyuna). Tapi, apakah Hyuna masih bisa bertahan ketika dua orang itu juga menjauhinya? Ji Eun—yang marah padanya karena salah paham terhadap hubungan Hyuna dengan Yongjin (anggota Perfect Ten yang disukai Ji Eun). Juga hubungan Hyuna dengan Jongwoon yang retak karena munculnya orang ketiga di antara mereka: Kim Johan, yang menjadi pasangan Hyuna dalam reality show “Celebrity on Dating”.
Gosip-gosip negatif juga terus beredar menyerang Hyuna. Ia hampir selalu ketakutan ketika membuka laptop dan mengecek komentar orang-orang tentang dirinya di internet. Bahkan, keberadaan seorang fans pun terasa sangat istimewa bagi Hyuna, dan mampu memberinya kekuatan untuk terus bertahan.
“Astaga, baru hari ini aku bertemu langsung secara personal dengan orang yang mengaku sebagai penggemarku—setelah sekian lama hanya berkutat dengan haters.” – Hyuna (halaman 132)
Apalagi dengan munculnya sekelompok penggemar yang mendirikan fanbase untuk Hyuna dan menamai diri mereka “Hyunaism”.
Kami adalah fans Hyuna-sshi. Kami akan terus mendukungmu!” (halaman 267)
Berbagai tantangan selalu muncul di jalan yang Hyuna lalui. Bahkan setelah para member menerimanya dengan tulus, Hyuna masih harus menghadapi berbagai masalah. Menghadapi sasaeng fans yang menculik Gahee. Mengungkap misteri tentang hubungannya dengan keluarga Kim Johan. Meluruskan gosip-gosip berkaitan dengan masa lalunya. Mempertahankan hubungannya dengan Jongwoon. Dan satu perstiwa yang menentukan masa depannya selanjutnya: akankah ia masih terus bisa bernyanyi?


4 April 2014

Resensi WHITE LIES - "Bohong Bukan Sekadar Bohong"



Judul Buku                      : White Lies
Penulis                           : Riz Amelia
Tebal                              : 316 halaman
Penerbit/cetakan             : Elfbooks/Cetakan pertama, Desember 2012
ISBN                              : 978-602-19335-4-1
Harga                             : Rp 45.000 Rp 24.900 (diskon 40%)

“Pahitnya sebuah kejujuran akan jauh lebih baik daripada manisnya kebohongan yang mengatasnamakan kebaikan. Karena percayalah, ketika kebohongan itu terungkap, semua akan tersakiti.”

Saya pernah mendengar bahwa menyembunyikan sesuatu itu sama saja dengan berbohong. Setujukah kalian?

Kalian pasti setuju bahwa ketika kebohongan terungkap, maka semua akan tersakiti. Ketika masih SMP, saya pernah punya pacar—pacar pertama saya—dan saya menyembunyikan itu dari orangtua saya. Istilah kerennya: backstreet. Pada akhirnya, hubungan saya dengan pacar saya itu ketahuan. Ayah saya marah besar. Sejak kejadian itu, hubungan saya dan ayah saya ternoda. Sudah tak sama seperti dulu. Saya sakit hati karena ayah saya marah besar pada saya. Ayah saya juga sakit hati karena saya berbohong padanya.

Sebenarnya, saya tidak terlalu pandai berbohong. Tapi, bohong itu akan lebih mudah jika dilakukan dengan alasan “demi kebaikan”. Nah, ini yang berbahaya. Seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel ini. Adalah sepasang saudara kembar, Elaine dan Clara Fawne, yang sebelumnya hidup terpisah karena perceraian orang tua mereka sepuluh tahun yang lalu. Elaine hidup bersama ayahnya, Nicolas, di Manhattan, tapi sudah dua tahun ayahnya itu bekerja sebagai duta besar di London. Sementara itu, Clara hidup bersama ibunya, Eriko, di Jepang. Setelah lulus kuliah S1, Clara ingin melanjutkan S2 di Manhattan, sehingga dia bisa tinggal bersama saudara kembarnya.

Elaine yang berkepribadian ceria itu nge-fans pada seorang penyanyi terkenal, Keane Ackley. Awalnya, semua berjalan normal. Clara dan Elaine gembira karena mereka bisa tinggal bersama. Tapi, pertemuan Elaine secara tak sengaja dengan Keane, membuka pintu bagi berbagai bencana yang mengganggu sistem hidup Elaine dan Clara. Apalagi, Eriko menjodohkan Clara dengan anak sahabatnya, Keane Ackley. Keane yang sama dengan idola Elaine. Entah bagaimana, Elaine bisa mencintai Keane, padahal sebelumnya ia kira itu hanya perasaan seorang fans terhadap idolanya.
“.... Namun lambat laun aku tahu, sekalipun aku tak pernah berbicara padamu, tak pernah benar-benar mengenalmu, nyatanya aku mampu mencintaimu. Karena pria itu kau. Bukan orang lain.” – Elaine (halaman 181)
Clara menyembunyikan bahwa orang yang dijodohkan dengannya adalah Keane Ackley. Ketika mengetahuinya, Elaine marah dan sakit hati. Selama ini, ia selalu menjadi yang kedua setelah Clara. Perasaan tidak sukanya membuncah kembali, merusak hubungannya dengan Clara. Kris Russel, sahabat Elaine, berusaha menyadarkan Elaine, bahwa perjodohan itu bukan salah Clara. Elaine ragu, apa yang harus ia lakukan dengan perasaannya terhadap Keane?
“Jika kau mencintai seseorang dengan begitu mudahnya, mungkinkah kau melupakan rasa itu juga dengan mudah?” – Elaine
“Aku akan mempertahankannya. Untuk apa dilupakan? Cinta itu anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan.” – Kris
(halaman 58 – 59)
Di sisi lain, Clara marah pada ibunya, karena ia tahu, Eriko melakukan itu semata-mata untuk menyakiti Elaine. Ia masih tak mengerti mengapa Eriko sangat membenci Elaine. Elaine pun tak tahu. Yang ia tahu, pasti itu ada hubungannya dengan kecelakaan yang pernah menimpa Fawne sekeluarga, saat Elaine dan Clara masih kecil, karena ayah dan ibu mereka bercerai tak lama setelah itu. Sayangnya, Elaine tidak mengingat kejadiannya secara lengkap. Akibat kecelakaan itu, Elaine hilang ingatan parsial.
“Amnesia membuatmu melupakan apa yang kau lakukan... Aku hanya ingin kau mengingat dengan sendirinya. Karena pada saat itulah kau akan menyadari siapa yang seharusnya membenci siapa.” – Eriko (halaman 133)
Sekali lagi, Clara menyembunyikan sesuatu dari Elaine. Ia diterima bekerja sebagai asisten manajer seorang artis. Dan siapakah artis itu? Yaps, Keane Ackley. Clara yakin sekali bahwa ibunya yang mengatur semua ini. Padahal, ia sudah menjaga jarak dengan Keane, karena ia juga sudah menolak perjodohan itu. Ia tak mau jatuh cinta pada Keane, karena sesuatu hal yang ia Hubungannya dengan Elaine yang masih rentan merenggang; rentan putus seperti seuntai mie rebus, harus hancur kembali begitu Elaine mengetahui bahwa Clara bekerja untuk Keane. Pada akhirnya, Clara meminta Elaine untuk bermain peran, bertukar identitas. Ia menyuruh Elaine berpura-pura jadi dirinya sebagai asisten manajer Keane. Ada sesuatu yang ingin ia luruskan, sebelum waktunya habis. Selama masa penyamaran itu, Keane akhirnya tahu siapa yang sebenarnya ia cintai, meski pada awalnya, ia menyukai Clara.

Clara pun akhirnya menyadari, bahwa hatinya bukan terpaut pada Keane, melainkan pria lain. Pertanyaan tentang alasan Eriko membenci Elaine ternyata berkaitan dengan perceraian kedua orang tua mereka, beserta kenyataan yang tersembunyi di baliknya yang sarat dengan kesalahpahaman.

Awalnya, saya tertarik membeli novel ini karena sinopsis di kover belakangnya bikin saya penasaran. Ditambah lagi, kover depannya yang cute, seperti halnya ciri khas kover depan buku lainnya terbitan Elfbooks. Meskipun, saya agak susah menangkap korelasi antara isi cerita novel dengan gambar kover depannya. Yah, setidaknya, saya bisa membayangkan kalau kemeja putih tergantung di dalam lemari itu adalah kemeja milik Clara Fawne yang suka berdandan kasual. Hehe.

Saya penasaran, cerita apa yang kini diangkat dari fenomena manusia kembar? Tidak jarang saya menjumpai cerpen yang mengangkat tema kekacauan akibat ulah saudara kembar. Yah, memang benar, konflik utama dalam novel ini juga terjadi karena ulah saudara kembar. Tapi, hal penting lainnya yang ditekankan penulis adalah masalah kebohongan. Bagaimana kebohongan itu bisa menimbulkan masalah, yang akan menyebabkan kebohongan-kebohongan baru, dengan alasan “demi kebaikan”.

Seperti sudah saya katakan tadi, menyembunyikan sesuatu itu juga bisa diartikan sebagai kebohongan. Beberapa tokoh dalam novel ini melakukan hal itu. Clara yang menyembunyikan pekerjaannya dari Elaine, sebagai asisten manajer Keane. Alasannya mungkin karena Clara tidak mau membuat Elaine salah paham dan marah lagi padanya. Ternyata, akibatnya lebih buruk daripada jika Clara bicara jujur, misalnya. Elaine marah besar begitu mengetahui hal itu.
“Kau yang memulai, Clara.” – Elaine (hal. 114)
Sebelumnya, begitu mengetahui kalau Elaine sangat mengidolakan artis bernama Keane Ackley, Clara juga menyembunyikan pada Elaine, bahwa lelaki yang dijodohkan dengannya juga bernama Keane Ackley. Kali ini Clara melakukannya karena ia tak tahu apakah itu Keane yang sama, atau bukan. Tapi, nyatanya, ketika Elaine mengetahui fakta itu, kebencian dan kemarahan yang selama ini dipendamnya pada Clara, kini mulai menimbulkan ledakan-ledakan.
“Siapa nama pria itu?”
“Namanya—“ Clara terdiam dan Elaine memasang tampang tak sabar. “Aku lupa.” (hal. 19)
Bukan hanya Clara. Alex juga menyembunyikan sesuatu dari Keane. Sesuatu yang membuat Keane marah besar begitu mengetahui kenyataan sebenarnya, berkaitan dengan karirnya di dunia selebriti.
“Kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku,” kata Keane tajam…. “Katakan padaku, apa tidak kuketahui dan kau mengetahuinya?” (hal. 163)
Tidak mengatakan kebenaran juga bisa diartikan “berbohong”. Kris tidak mengatakan yang sesungguhnya, ketika Alex menunjukkan padanya foto Clara, yang ia kira adalah Elaine. Kris tidak mengatakan bahwa itu Clara, bukan Elaine; bahwa mereka saudara kembar.
“Bagaimana, aku benar, kan?”
Kris terlonjak kaget, matanya memandang Alex yang kini tengah tersenyum senang. Lalu sedetik kemudian Kris mengangguk ragu, menyembunyikan sesuatu yang seharusnya ia katakan. (hal. 51)
Namun, saya bernapas lega karena penulis tak pernah membiarkan kebohongan itu bertahan terlalu lama. Penulis selalu membuat kebohongan itu terungkap, tak lama setelah diucapkan. Meskipun akan menimbulkan pertengkaran, setidaknya, jika fakta terungkap lebih cepat maka akan lebih baik, bukan? Hanya satu kebenaran besar yang dibiarkan oleh penulis tersimpan lama, yaitu kebenaran di balik kesalahpahaman yang menciptakan perceraian orangtua Elaine dan Clara, juga yang menyebabkan mereka berdua hidup terpisah sebelumnya. Penulis berhasil menyelipkan rasa penasaran di tiap halaman bukunya, dengan menyembunyikan kebenaran ini hingga hampir mencapai akhir.

Ada beberapa hal yang agak aneh dalam novel ini. Pertama, peristiwa di mana Keane melihat Clara untuk pertama kali di sebuah kafe. Suatu kebetulan yang aneh lantaran Keane langsung menduga bahwa gadis itu adalah Clara, hanya dari keterangan yang diberikan oleh Eriko, ibu Clara (hal. 39 – 43). Ada juga beberapa kebetulan lainnya yang terlalu “kebetulan”. Kalian akan menemukan sendiri saat membaca buku ini.  

Kedua, kalimat paragraf pertama hal. 9 cukup membingungkan saya: “Dahi Elaine mengernyit karena tatapan pria itu terasa aneh, seolah-olah dirinya akan menerkam pria itu.” Saya rasa, seharusnya kalimat itu begini: “Dahi Elaine mengernyit karena tatapan pria itu terasa aneh, seolah-olah akan menerkam dirinya.”

Tokoh Clara, yang disukai semua orang, ternyata juga saya sukai. Ia begitu tulus dan rela berkorban. Ia tetap menyayangi Elaine dan bersikap baik padanya meskipun Clara membencinya. Saya juga kagum pada tokoh Elaine, ia mewakili sosok wanita yang tidak akan menyerah menggapai cintanya. Tokoh Elaine menegaskan bahwa hal yang mustahil ini benar-benar bisa terjadi: mencintai orang yang tidak ia kenal secara personal. Bahkan ia juga berani mengungkapkan perasaannya terlebih dulu, meskipun saat itu ia mabuk (hal. 181). Ini sama halnya dengan kerinduan saya terhadap Yesung Super Junior dan Hoya Infinite, yang bahkan tidak pernah tahu bahwa saya ada di dunia ini. Hahaha. Tapi, bagi saya, perasaan cinta itu tetap membutuhkan perkenalan. Saya masih merasa perasaan yang dialami Elaine itu agak mustahil.

Oh iya, ada satu bagian dalam novel ini yang begitu saya setujui: paragraf kelima halaman 31. Ceritanya, Clara mengira Elaine dan Kris pacaran, yang langsung disanggah oleh Elaine. Bagi Elaine, Kris memang tampan, tapi tidak untuk dipacari, karena ia sudah terlanjur melihatnya sebagai seorang “sahabat”, bukan “laki-laki di mata seorang wanita”. Ini persis sekali dengan yang saya alami. Seringkali saya tidak menyadari bahwa sahabat saya cukup tampan, karena saya sudah terlalu mengetahui semua boroknya. Hehehe.

Pada akhirnya, saya ingin berpesan: segeralah katakan hal yang kausembunyikan pada seseorang yang benar-benar memercayaimu. Lebih baik terungkap sekarang, langsung dari bibirmu, daripada ia mengetahuinya dari orang lain dan masalah besar akan terjadi.




bloggerwidgets