Showing posts with label trivia. Show all posts
Showing posts with label trivia. Show all posts

23 January 2017

Meresensi Novel Sendiri (Bagian 1): Sebelas Fakta di Balik The Reveter



Halo, readers! Saya kangen kalian semua! Sudah cukup lama blog ini saya cuekin, sampai lumutan tebal sekali. Saya sebenarnya tak ingin itu terjadi, tapi apa daya, tugas saya di pelosok desa tak memungkinkan saya untuk internetan. Nyalain laptop aja nyaris nggak pernah. Sekarang saya sudah kembali, dan tulisan pertama di tahun 2017 ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri 😎 (dan tentunya untuk kalian yang bersedia repot-repot membacanya).
***
Mungkin, ada yang berpendapat bahwa sebaiknya seorang penulis fiksi tidak meresensi karya-karya fiksi (dan/atau sebaliknya?). Sebaiknya dipasang kawat berduri bertegangan listrik ribuan volt di antara kedua pekerjaan tersebut, agar tak saling berinteraksi langsung. Mungkin tujuannya adalah agar ketika sedang menulis fiksi, seorang penulis (yang juga peresensi) tidak didera terus-menerus oleh intuisi peresensi dalam dirinya sendiri (yang sering lebih kejam dari pada editor), yang mungkin bisa menyebabkan karyanya tak kunjung selesai. Atau malah tidak jadi menulis karena beralibi, “Dari pada menulis buruk, lebih baik saya tidak usah menulis saja.” Padahal, kata Dee di sebuah acara, Someone can revise a bad page, but it’s impossible to revise a blank one.

Yah, terkadang memang saya mengalami hal tersebut. Biasanya setelah menamatkan baca sebuah novel yang menurut saya, lebih bagus tulisan saya, tapi anehnya laris di toko buku. Anehnya juga, penulis tersebut cukup produktif menjajarkan karyanya di toko buku, padahal kalau dilihat di Goodreads, rating buku-bukunya rata-rata kurang dari 3. Biasanya, lalu saya berpikir, dari pada menerbitkan buku yang biasa-biasa saja, lebih baik saya bikin karya yang fantastis. (TAPI ENTAH KAPAN.) Begitulah cara berpikir salah satu sisi dalam diri saya, yang saya tahu, seharusnya saya tidak begitu.

Padahal, sisi yang lain dalam diri saya menyadari, penulis itu bertumbuh. Demikian juga karya-karyanya. Sangat jarang ada penulis yang baru sekali membuahkan karya, langsung meledak, review-nya positif di Goodreads. Tidak masalah jika karya-karya awal tidak terlalu bagus. Yang penting, karya selanjutnya, sebisa mungkin, lebih baik dari pada sebelumnya. Bagaimana bisa mau bertumbuh, kalau memulai dari karya yang buruk saja belum pernah, kan?

***
Kembali ke kalimat pertama. Menurut saya, justru intuisi peresensi dalam diri saya membantu saya bertumbuh dalam menulis. Jika dilatih, intuisi peresensi itu bisa muncul di saat yang tepat: di saat saya perlu mempertanyakan tulisan saya sendiri, “menghajarnya” agar jadi lebih baik, tanpa membuat saya “takut” untuk memulai menulis. Nah, bagaimana jika seorang penulis meresensi karyanya sendiri yang pernah terbit? Saya tidak tahu apakah ada yang sudah melakukannya. Dalam tulisan ini, akhirnya, saya memberanikan diri meresensi novel saya sendiri.

The Révèter, adalah novel kedua yang saya tulis, tapi yang pertama diterbitkan. Setelah itu, beberapa novel saya (termasuk novel yang pertama saya tulis, yang kalau saya baca sekarang, saya bergumam frustrasi, “Saya pernah nulis novel kayak gini? Alay banget!”) masih mendekam malas-malasan di dalam internal hard disk laptop. The Révèter diterbitkan pada bulan Mei 2013, oleh Elfbooks (sekarang sudah tak ada lagi penerbit yang dulu sempat naik daun, terutama berkat karya-karya Kak Delia Angela). Naskah saya ini menjadi salah satu dari empat karya yang diterbitkan melalui jalur sayembara penulisan novel yang diadakan oleh penerbit tersebut. Tiga yang lain adalah Karena Cinta karya Monica Petra, Happiness Theory karya Arbie Sheena, dan Rubrik Kata Katya karya Primadonna Angela.

Pada masa itu, saya masih cupu di bidang dunia penerbitan dan penjualan buku. Saya akui, saya kurang mempromosikan buku saya sendiri. Pernah terlintas di benak untuk menulis semacam “behind the scene” penulisan novel ini, tapi belum pernah saya eksekusi. Oleh karena itu, di Bagian 1 ini, saya akan membahas tentang beberapa fakta di balik penulisan The Révèter, karena selalu ada cerita di balik penciptaan cerita.

***

Fakta #1

Ide yang menuntun saya menulis The Révèter pertama kali menyentuh kesadaran saya pada tahun 2009, saat saya masih SMA. Pada bagian “thanks to” di awal novel ini, ada satu ucapan terima kasih yang tidak saya tulis di situ (saya lupa, waktu menulis itu saya lupa atau memang sengaja tidak menulisnya?). Ucapan terima kasih kepada seseorang yang terhadapnya saya pernah mengalami patah hati (untuk kasus ini, saya mengamini bahwa patah hati bisa jadi perantara bagi sepercik ide untuk mendatangi seorang penulis dan memaksanya menulis).

Fakta #2

Di The Révèter, hutan pinus adalah latar tempat yang pertama kali saya perkenalkan kepada pembaca, lewat mimpi Hydra. Hutan pinus juga jadi salah satu latar tempat yang penting di novel ini, sebagai tempat berduel Argento dan Auri, latar mimpi-mimpi Hydra yang berulang, tempat Radon kehilangan Hydra dan Zinco yang kemudian tersedot ke Vainsalle, juga tempat Hydra akan “dieksekusi”. Hutan pinus itu sebenarnya, bisa dibilang, induk yang melahirkan tokoh-tokoh, konflik, dan The Révèter secara keseluruhan. Jadi sebelum mulai menulis, saya berkata pada diri sendiri, “Oke, saya ingin menulis novel, entah bagaimana isinya, pokoknya hutan pinus akan jadi setting utamanya.”

Kenapa hutan pinus? Sesederhana bahwa saya pertama kali bertemu dengan seseorang itu di sebuah hutan pinus. Kali berikutnya, saya bertemu dia di sana lagi.

Fakta #3

Dengan berbekal “hutan pinus” di pundi-pundi ide yang masih mentah, saya berpikir, mau dibentuk jadi genre apa novel ini? Nah, bukan kebetulan, jika saat itu saya membaca novel fantasi Aerial karya Kak SittaKarina (btw, saya suka cover-nya). Aerial seperti menyanyikan berulang-ulang di kepala saya, “Tulislah kisah fantasi, fantasi, fantasi...”

Fakta #4

Saya memulai menulis bakal The Révèter tak beberapa lama setelah ide muncul pertama kali. Saat itu, saya masih menulis dengan tangan di sebuah buku bergaris. Di jam-jam istirahat sekolah atau jam kosong, saya menulis. Kadang di kantin, kadang di taman belakang sekolah, kadang di kelas. Oh iya, saya menulis dengan pensil waktu itu. Alasannya, biar gampang dihapus kalau ada yang ingin saya edit. Di samping buku itu, saya punya buku kecil yang berisi ide-ide dan rancang bangun The Révèter.

Fakta #5

Tulisan tangan itu belum selesai. Saya diamkan, entah karena apa, saya lupa. Saya mulai menulis lagi, sekitar tahun 2012 (saat saya tahu ada sayembara menulis novel Elfbooks). Saya merombak di sana-sini, menambah ini-itu, bisa dibilang saya “menulis ulang”. Sialnya, saat deadline mendekat, laptop saya rusak. Waktu di rumah, saya masih bisa menulis menggunakan komputer. Nah, begitu saya balik ke Yogya untuk kembali masuk kuliah setelah libur, saya kebingungan. Untung, sahabat sekaligus teman kos saya, Rizka, waktu itu bersedia meminjamkan laptopnya. Untuk mengirimkan naskahnya saja, saya nebeng laptop dan koneksi internet Aya.

Fakta #6

Mungkin The Révèter ini belum atau malah tidak akan terbit jika saya tidak nge-fans Super Junior. Lho, apa relevansinya?

Elfbooks saya kenal pertama kali lewat novel terbitannya, Perfect Ten, karya Kak Delia Angela. Sepuluh anggota boy band dalam novel tersebut dibikin berdasarkan tokoh dunia nyata, Super Junior. Salah seorang teman geng CL Girls (12 cewek, termasuk saya, E.L.F.—sebutan untuk fans Super Junior—yang pertama kali bertemu di Super Show 4, dan bermarkas di Yogyakarta) telah membaca Perfect Ten, dan mempromosikannya kepada yang lain. Dari situ, saya tahu ada sebuah penerbit bernama Elfbooks. Dari situ, saya lalu mengikuti akun Twitter Elfbooks. Dari situ, saya kemudian tahu bahwa Elfbooks sedang mengadakan sayembara penulisan novel. Dari situ, saya menulis ulang bakal The Révèter. Dari situ, novel ini bisa terbit.

Fakta #7

Beberapa tokoh The Révèter saya namai berdasarkan nama unsur kimia (ya, waktu SMA, pelajaran Kimia adalah salah satu favorit saya, karena banyak praktikum yang seru). Ada yang saya usahakan agar unsur yang pilih itu mewakili karakter sang tokoh; ada juga (banyak) yang saya pilih dengan cukup ngasal.

Fakta #8

Kata “révèter” berasal dari kata dari bahasa Perancis “reve”, yang artinya mimpi. (Selama tiga tahun di SMA, saya selalu memilih pelajaran bahasa Perancis, tapi setelah tiga tahun, kemampuan berbahasa-Perancis saya terbatas di satu kalimat yang bisa saya ucapkan tanpa keseleo lidah, “Tu es la lumiere dans ma vie.”)

Fakta #9

Awalnya, naskah yang saya ikutkan sayembara berjudul I’ve Known You in The Dreams, yang lalu diusulkan untuk diubah menjadi The Révèter oleh pihak Elfbooks. (Yang kemudian, oleh teman-teman kuliah saya sering diplesetkan jadi “the repeater”—terlebih saat kuliah Komunikasi Data).

Fakta #10

Sekelompok orang yang bisa mengelola mimpi: masuk ke mimpi orang, menciptakan beraneka setting mimpi, membuat skenario mimpi, mungkin mengingatkanmu akan film Inception (2010). Percayalah, saya punya ide tentang Révèter sebelum film itu nongol. Kemudian saat menontonnya (waktu itu saya nggak sepenuhnya memahami bagian-bagian tertentu dalam film itu), saya menjerit sambil menuding layar komputer (waktu itu, saya masih pakai komputer ber-OS Windows XP), “Lho, kok kayak ideku?!” (Yah, sebenarnya, nggak mirip, sih.) (Itulah konsekuensi kalau punya ide tapi nggak keburu dieksekusi, jadi keduluan, kan.)

Fakta #11

Saat masa revisi, penerbit meminta saya untuk memasukkan sekelumit unsur romance. (Sebelumnya, tak ada unsur itu sama sekali. Jujur saja, saya tidak terlalu suka menulis romance.) Alhasil, dengan cerdik (atau mungkin kurang cerdik?) saya berhasil mem-blusukkan romance antara Hydra dan Radon, diwarnai kecemburuan Leony yang menganggap Radon adalah kekasihnya. Kalau antara Hydra dan Zinco, saya tidak ada maksud menerbitkan romansa antara mereka. Entahlah, saya rasa mereka cukup bahagia jadi sahabat saja.

***

Tiga tahun lebih 5 bulan setelah The Révèter terbit, saya membaca ulang karya saya itu, dari awal sampai akhir. Butuh 3 tahun 5 bulan untuk bisa membacanya seolah-olah bukan saya yang menulis novel itu. Entah bagaimana tepatnya, secara begitu saja, saya tiba-tiba bisa sangat tidak subjektif saat membaca ulang The Révèter. Saya terposisikan sebagai seorang peresensi buku.

(bersambung ke Bagian 2)

31 August 2015

Kosakata Bahasa Indonesia Tak Sesempit Batang Sumpit

Membaca novel dari dua penulis yang pernah memenangkan Khatulistiwa Literary Award, Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak, membuat saya menyadari bahwa kosakata bahasa Indonesia tak sesempit batang sumpit. Dari novel Pulang dan Aruna & Lidahnya, saya mengantongi banyak kosakata yang baru saya ketahui bahwa mereka ada di KBBI. (Mungkin saya yang terlalu kuper, maaf >,<) Selain itu juga ada kosakata yang sudah lama tahu tapi jarang saya gunakan. Walau mungkin kalian sudah tahu tentang adanya kosakata ini, tolong lupakan sejenak, ya, karena saya ngotot untuk tetap berbagi. Hehe.

Saya mencoba untuk membuat infographic untuk tulisan ini. (Terima kasih untuk HubSpot yang telah membagikan template infographic secara gratis.)




24 August 2015

Pertama Kalinya Resensi Saya Nongol di Koran


Ini late post, sih, sebenarnya. Tapi, rasa senang masih membuncah di hati tatkala melihat kembali koran Tempo edisi Minggu, 9 Agustus 2015 (yang sudah lecek, nyelempit di dalam rak penuh buku-buku kuliah yang sudah tak terpakai *sok wkwk), jadi saya tetap ingin publikasikan di blog, hehe.

Di rubrik Buku, resensi buku Lukisan Dorian Gray tulisan saya nongol jadi bintang utama! Ini pertama kalinya saya mengirim resensi ke Koran Tempo (meski bukan pertama kalinya mengirim ke media massa, dan ditolak) dan ternyata diterima untuk diterbitkan. Tanggal 30 Juni 2015 saya mengirim ke redaksi Tempo, kemudian beberapa hari sebelum tanggal 9 Agustus pihak redaktur mengirim e-mail pemberitahuan ke saya, bahwa resensi saya akan terbit (pada saat itu, saya sudah lupa kalau pernah mengirim resensi saya ke Tempo *parah). Jika dihitung, sekitar 5 minggu jarak antara pengiriman resensi dan penerbitan.

Hari Minggu itu, pagi-pagi saya sudah bangun (tumben) dan keliling Yogya mencari Koran Tempo. Di tengah terpaan angin pagi Yogya yang dingin, saya menghampiri sebuah kios koran yang buka (sebelumnya ada beberapa kios koran, tapi tutup semua), tapi tak ada Koran Tempo di sana. Akhirnya saya mau pergi ke Terminal Jombor (pasti di terminal banyak kios koran, haha). Eh, baru sampai di perempatan lampu lalu lintas Ring Road Utara, ada mas-mas loper koran nyamperin saya.

"Mas, ada Koran Tempo, nggak?"
Si Mas menarik sebuah koran dari tumpukan di tangannya.
"Ini, kan, Mbak?"
Cling! Saya tersenyum lebar. "Iya, Mas, itu!"
Akhirnya saya memboyong koran itu seharga 3.000 rupiah.

Saya sangat antusias hingga tak sabar untuk membukanya sepanjang jalan (untung kos saya lumayan dekat dengan Ring Road Utara). Sesampai di kos, saya langsung membuka rubrik Buku. Dan.... sampai di bagian akhir tulisan, saya tercenung. Kok, nggak ada nama saya dicantumin, ya?


Lucunya, di bawah tulisan saya itu ada ralat, bahwa karena kesalahan teknis, nama penulis resensi minggu lalu tak tercantumkan. Lhah, masa tiap minggu ada ralat? Hohoho.

Saya menanyakan perihal ini ke redaktur, dan memang ternyata (lagi-lagi) ada kesalahan teknis sehingga nama saya tak tercantumkan. Sayangnya, minggu depannya, saya tak sempat memburu Koran Tempo lagi karena saya sedang berada di pedalaman di luar Pulau Jawa. Well, meski nama saya keselip entah di mana, saya tetap senang karena ini adalah pertama kalinya tulisan saya nongol di koran :D 

24 July 2015

Dua Petikan Paling Menohok dari Novel "Pulang" karya Leila S. Chudori

Sebenarnya sudah lama berlalu sejak saya menyelesaikan membaca buku ini, dan belum terlalu lama semenjak saya mengunggah resensinya. Tapi, baru saja ada selongsong peluru yang menghantam jidat saya dan dalam sekejap memerintahkan saya untuk menuliskan ini. Sebenarnya banyak petikan bagus bertebaran di lembar-lembar novel peraih Khatulistiwa Literary Award 2013 ini, tapi hanya beberapa yang benar-benar menohok saya, bahkan sampai menginspirasi. Langsung saja cek di bawah ini.

1

"Tu veux s’évader de l’histoire?" 
[Kamu ingin lari dari sejarahmu?]
(Monsieur Dupont, hal. 136) 
Membaca ini seolah saya merasakan Monsieur Dupont sedang duduk di hadapan saya dan menantang saya dengan pertanyaan tersebut. Tanpa disadari atau pun tidak, sering kali saya lari dari sejarah saya. Eits, jangan salah sangka dulu, ya. Bukan berarti saya lupa kalau sejarah menuliskan bahwa saya terlahir perempuan 22 tahun yang lalu *abaikan*. Saya merasa tergampar. Jujur saja, koleksi lagu Indonesia di laptop saya hanya 2,3 GB; bandingkan dengan koleksi MP3 K-pop saya yang melampaui 11,3 GB. Saya lupa bahwa saya orang Indonesia? Tidak. Saya hanya lari dari lagu pop Indonesia sejak ia berubah jadi alay. Lagu-lagu Indonesia yang saya simpan kebanyakan adalah lagu lawas.

2

"[...] apa yang akhirnya kaupetik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A, Lintang?"
(Dimas Suryo, hal. 446)
Dibandingkan petikan sebelumnya, petikan ini lebih menohok. (Hmm, tanpa sadar saya memilih dua petikan berbentuk kalimat tanya.) Sama seperti sebelumnya, kali ini Dimas Suryo yang seolah benar-benar menyemburkan pertanyaan itu ke muka saya. Nasionalisme; pemahaman saya akan Indonesia dipertanyakan. Kalimat ini pula yang menginspirasi saya untuk menuliskan sebuah puisi panjang untuk memeriahkan farewell party Teknik Fisika UGM angkatan 2011, yang berlangsung pada tanggal 6 Juni 2015 lalu. Saya membacakan puisi tersebut, berduet dengan seorang teman, pada segmen pentas seni. Judulnya, Apa yang Bisa Kupetik dari T.E.K.N.I.K.F.I.S.I.KA? Berikut ini adalah sepenggal bagian awal puisi saya.


Sebenarnya, beberapa kata dalam puisi itu saya ambil dari kata-kata yang jarang dipakai, yang sering digunakan oleh Leila S. Chudori dalam novel Pulang. Kalian yang sudah membaca novel ini pasti akan mengenali kata-kata yang mana saja. Hihihi.

Itulah dua petikan paling menohok bagi saya. (Cuma dua? Iya, cuma dua.) Kalau petikan favoritmu yang mana? >,^


2 June 2014

6 Reasons Why You Wouldn’t Wanna Be An Immortal



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjym-qNCuqDKzX2oU7MqeEt3ALy-AvxC4Ua7KW388cQtLwXGmKk0pO2fPB9_Ep3gNmgckFiNIzUybtHlvU2X-sSxVLoVcBVgpyafPap_dpEDDW2pv5lpFLBjARjO5eV3RunR-JlzM3XT6vZ/s1600/ImmortalsPoster1%255B1%255D.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjym-qNCuqDKzX2oU7MqeEt3ALy-AvxC4Ua7KW388cQtLwXGmKk0pO2fPB9_Ep3gNmgckFiNIzUybtHlvU2X-sSxVLoVcBVgpyafPap_dpEDDW2pv5lpFLBjARjO5eV3RunR-JlzM3XT6vZ/s1600/ImmortalsPoster1%255B1%255D.jpg
 (Based on The “Immortal” Series, by Alyson Noel)

I was interested in reading this series because I’ve heard so much about their popularity in many book-lover community. I can feel my heart was exploding because of enthusiasm for standing in front of a label written “30% off” for all the six books of Immortal series, at a book-fair in Yogyakarta, a few months ago. Without thinking two times, I grabbed all of them. But, this series are not as great as my expectation. Even, for me, the great one is just the book 1—Evermore. Frankly, the rest are…..sorry,  nauseating.
https://p.gr-assets.com/540x540/fit/hostedimages/1380372701/726043.gif
https://p.gr-assets.com/540x540/fit/hostedimages/1380372701/726043.gif

My Immortals Series

Being an immortal may become so cool and fabulous in your ears, or it’s not weird if in your mind, you wanna be one of them, maybe. Why wouldn’t you wanna be a human who can’t be dead? Who have an immortal body, and can live forever in the Earth? Can do whatever you want in an infinite time frame? While all of the people around you are anxious about wrinkles scaterred on their face, afraid of being old..., you will have a perfect body forever, without wrinkles, of course.
But, actually, it’s not like as it seems. Being an immortal is not just “against the nature law”, but also...

1.   The Immortals can still be dead, if you attack them precisely on their body’s weak point. The “dead” point refers to “their souls are locked in Shadowland, in the dark forever”. How lurid, isn’t it?
If this stuff really worked, then Drina and Roman would still be here, right? And since they’re not, well, I guess that means they weren’t really all that immortal after all, were they?” – Miles (Immortals #5, Nighstar)[1]
http://img4.wikia.nocookie.net/__cb20120329033131/theimmortalsseries/images/4/4d/The_Shadowland.jpg
Shadow Land
http://img4.wikia.nocookie.net/__cb20120329033131/theimmortalsseries/images/4/4d/The_Shadowland.jpg
2.    We do live the life only and if only we experience all of the life stages: youth, middle age, and old.
And in order to learn and grow and better myself, I need to experience life. I need to experience it fully, in all its stages—youth, middle age, old age—I want it all.” – Miles (Immortals #5, Nighstar)
3.   Being an immortal will be so much burdensome for you who like eating so much. Why? Because an immortal only needs that red liquid as his nutrient source. Even, the most delicious food in this world would be felt tasteless on an immortal’s tongue.
Not to mention the fact that I happen to like eating, in fact, I like it so much that I can’t even imagine going on a permanent liquid diet.” – Miles (Immortals #5, Nighstar)
4.   Being an immortal means that you have nothing changed in your outward appearance. It is weird, isn’t it? As human, naturally, we love changes. We can’t be developed if we don’t experience changes. Even, if the magnetic field is constant, the electric current can’t be generated.
Also, I like seeing the changes each passing year makes, the impressions they leave behind. I don’t want my scars to disappear either… They’re part of me—part of my history.” – Miles (Immortals #5, Nighstar)
5.    You won’t always will to leave all of the people around you, leave the city where you have so much memories about it, just because the normal people are growing old, but you are still the same as ten years ago, and you don’t want to make a commotion.
6. Being an immortal doesn’t mean that you will have a TRUE everlasting life. No. Even Ever had just realized that being an immortal offers you a physical eternity. It doesn’t give you the most essential thing: a spiritual eternity. And, the fruit of The Tree of Life is the only one that can “provide enlightenment—the knowledge of true immortality—the soul’s immortality—to those who seek it—as well as reversing the false, physical immortality of those who’ve been fooled” – Lotus (Immortals #6, Everlasting).
http://themeparkinvestigator.com/wp-content/uploads/2013/09/ak-tree-of-life-2.jpg
The Tree of Life
http://themeparkinvestigator.com/wp-content/uploads/2013/09/ak-tree-of-life-2.jpg

And..., all of us are eternal creatures.
And though we may pass in and out of existence, our souls,  our energy, our essence, never fade. We are infinite beings—every last one.” – Ever (Immortals #6, Everlasting).

So, do you still wanna be an immortal? Even, Ever and Damen had chosen to reverse their physical immortality.


[1] Drina had been “died” in the book one, Evermore, while Roman was “died” in the book four, Dark Flame. More, Haven was also “died” in the book five, Nightstar.

bloggerwidgets