Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts

24 March 2016

Thursday The Seven #1: 7 Most Memorable Quotes from Game of Thrones (TV Series)


Under this column, Thursday The 7, I will share 7 things about certain book or adaptation movie/series in the form of points. For this first episode, I'd like to share the quotes I found memorable on Game of Thrones TV series, from Season 2 until Season 5. Why Game of Thrones? First, I love this series very much (as many other people will do). Second, I've just finished Season 5 recently, so the scenes still flash by inside my head. Third, in this series, memorable quotes can be found spread around maybe as many as bloody scenes. Let's check this out!

1.

 

It takes courage to admit fear. And to admit a mistake. (Daenerys, Season 5 Episode 5)

2.

Nothing's more hateful than failing to protect the one you love. (Brienne, Season 5 Episode 3)

3.

Nothing isn't better or worse than anything. Nothing is just nothing. (Arya, Season 4 Episode 7)

4.

 
What good is power if you cannot protect the ones you  love? (Cersei, S04E05)

5.

A man with no motive is a man no one suspects. (Petyr Baelish, Season 4 Episode 4)

6.

 
It doesn't matter what we want, once we get it then we want something else. (Petyr Baelish, Season 3 Episode 5)

7.

You wanna lead one day? Then, learn how to follow.
(Commander Mormont, Season 2 Episode 1)

Do you also like watching this series, or reading the books? If yes, you can share your favorite quotes with me on the comment column below :D

*All photos used above were captured by me from the TV series.

24 July 2015

Dua Petikan Paling Menohok dari Novel "Pulang" karya Leila S. Chudori

Sebenarnya sudah lama berlalu sejak saya menyelesaikan membaca buku ini, dan belum terlalu lama semenjak saya mengunggah resensinya. Tapi, baru saja ada selongsong peluru yang menghantam jidat saya dan dalam sekejap memerintahkan saya untuk menuliskan ini. Sebenarnya banyak petikan bagus bertebaran di lembar-lembar novel peraih Khatulistiwa Literary Award 2013 ini, tapi hanya beberapa yang benar-benar menohok saya, bahkan sampai menginspirasi. Langsung saja cek di bawah ini.

1

"Tu veux s’évader de l’histoire?" 
[Kamu ingin lari dari sejarahmu?]
(Monsieur Dupont, hal. 136) 
Membaca ini seolah saya merasakan Monsieur Dupont sedang duduk di hadapan saya dan menantang saya dengan pertanyaan tersebut. Tanpa disadari atau pun tidak, sering kali saya lari dari sejarah saya. Eits, jangan salah sangka dulu, ya. Bukan berarti saya lupa kalau sejarah menuliskan bahwa saya terlahir perempuan 22 tahun yang lalu *abaikan*. Saya merasa tergampar. Jujur saja, koleksi lagu Indonesia di laptop saya hanya 2,3 GB; bandingkan dengan koleksi MP3 K-pop saya yang melampaui 11,3 GB. Saya lupa bahwa saya orang Indonesia? Tidak. Saya hanya lari dari lagu pop Indonesia sejak ia berubah jadi alay. Lagu-lagu Indonesia yang saya simpan kebanyakan adalah lagu lawas.

2

"[...] apa yang akhirnya kaupetik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A, Lintang?"
(Dimas Suryo, hal. 446)
Dibandingkan petikan sebelumnya, petikan ini lebih menohok. (Hmm, tanpa sadar saya memilih dua petikan berbentuk kalimat tanya.) Sama seperti sebelumnya, kali ini Dimas Suryo yang seolah benar-benar menyemburkan pertanyaan itu ke muka saya. Nasionalisme; pemahaman saya akan Indonesia dipertanyakan. Kalimat ini pula yang menginspirasi saya untuk menuliskan sebuah puisi panjang untuk memeriahkan farewell party Teknik Fisika UGM angkatan 2011, yang berlangsung pada tanggal 6 Juni 2015 lalu. Saya membacakan puisi tersebut, berduet dengan seorang teman, pada segmen pentas seni. Judulnya, Apa yang Bisa Kupetik dari T.E.K.N.I.K.F.I.S.I.KA? Berikut ini adalah sepenggal bagian awal puisi saya.


Sebenarnya, beberapa kata dalam puisi itu saya ambil dari kata-kata yang jarang dipakai, yang sering digunakan oleh Leila S. Chudori dalam novel Pulang. Kalian yang sudah membaca novel ini pasti akan mengenali kata-kata yang mana saja. Hihihi.

Itulah dua petikan paling menohok bagi saya. (Cuma dua? Iya, cuma dua.) Kalau petikan favoritmu yang mana? >,^


29 April 2015

[GAME OF THRONES] Kutipan Favorit Saya



Ada 7 kutipan yang paling berkesan bagi saya, dan empat di antaranya adalah kata-kata Tyrion Lannister. Yang lainnya ada dari Eddard Stark, Arya Stark, dan Syrio Forel.
(Catatan: urutan berikut ini bukanlah menyatakan urutan tingkat kefavoritan saya.)

#1
Kalimat berikut ini Tyrion tujukan untuk Jon Snow, saat mereka bertemu pertama kali. Tyrion tahu bahwa Jon merasa minder karena dia anak haram, sehingga dia menasihatinya dengan mengumpamakan dengan keadaan dirinya sendiri yang meskipun bukan anak haram, tapi tidak normal.
"Di mata ayahnya, semua orang cebol adalah anak haram," begitu kira-kira yang ia katakan.

Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.

 #2
Kalimat Tyrion yang ini ditujukan pada Jaime Lannister. Bagi saya, kalimat ini menunjukkan bahwa Tyrion adalah orang yang optimis menghadapi kehidupan, terlepas dari segala kecacatan fisiknya.

Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.
#3
Nah, yang ini juga bagian dari nasihat Tyrion kepada Jon Snow.

Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.

#4 


Hei, sebagai manusia, seringkali kita bersedia dibutakan oleh perasaan ketimbang memperhatikan fakta yang bisa kita lihat melalui panca indera. Hal ini membuat apa yang kita terima sangat melenceng jauh dari keadaan sebenarnya.

Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.

#5

Ingatkah saat pertama kali belajar naik sepeda? (Contohnya klise banget, ya >,<)
Adakah yang sama sekali tidak pernah jatuh atau kecelakaan saat belajar naik sepeda?
Atau bagi yang suka fitness, nih. Pertama kali fitness pasti otot-otot sakit semua, kan?
Tapi, bukankah otot yang terbentuk itu sebenarnya adalah otot yang rusak akibat kita fitness?
Perut kotak-kotak milik Taecyeon 2PM pasti tak akan terbentuk tanpa latihan keras dan diet yang bagus. Latihan keras berarti rasa sakit yang lebih keras.

Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.
#6
Kita pasti sering mendengar (atau melakukan) bahwa bohong untuk hal baik itu tidak salah.
Sementara itu, menyembunyikan sesuatu juga termasuk "bohong".
Setujukah Anda?

Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.

#7
Hayo, siapa yang sering menyangkal kebenaran?
Berpura-pura seolah masih punya pacar, padahal si doi pergi karena menemukan tambatan hati yang lain T.T


Demikianlah beberapa kutipan favorit saya dari buku pertama serial A Song of Ice and Fire, Game of Thrones. Yang mana kutipan favoritmu? ^^

15 February 2015

The Most "Quotable" Quotes from "Sabtu Bersama Bapak"

Akhir-akhir ini saya mengidentifikasi diri saya sebagai sejenis makhluk paradoksal. Di satu sisi, saya orang yang cukup mudah mengikuti arus, terlebih jika orang terdekat saya yang meyakinkan saya. Misalnya, jika seorang teman saya yang gemar mengoleksi novel (seperti saya) dan penggemar karya Ika Natassa mengiming-imingi saya, "Kamu harus baca Twivortiare 2, Frid! Bagus!", maka tanpa lama-lama, saya akan langsung meminjam dan membaca Twivortiare 2 miliknya. Tapi, di sisi lain, saya bukan tipe orang yang mudah tercebur dalam arus bacaan-bacaan yang sedang menjadi trending topic dan dianggap bagus oleh banyak orang. Saya agak skeptis, jangan-jangan ribuan orang yang memberi rating tinggi di Goodreads akan buku-buku yang sedang booming itu cuma ikut-ikutan dan terlalu subjektif. Maka, saya cenderung melewatkan banyak buku yang sedang booming, dan memilih membaca buku yang memang ingin saya baca. Nah, itulah mengapa, saya baru baca Sabtu Bersama Bapak saat novel itu sudah kelewat jauh masa booming-nya. Dengan begitu, saya tidak terseret oleh penilaian orang lain akan buku itu, dan bisa membaca dengan tenang. Dan...., saya dapat menemukan sendiri mengapa banyak orang bilang bahwa buku ini bagus.

Mengapa?

Mungkin karena ketika membaca novel ini, orang melihat berbagai pelajaran hidup yang diajarkan sang Bapak kepada Satya dan Cakra itu sesuai untuk hidup mereka sendiri. Bahkan mungkin jauh lebih sesuai untuk hidup pembacanya, dibandingkan untuk tokoh dalam novel itu sendiri.

Saya menemukan beberapa quotes yang bagus, tapi ada dua yang paling menyentuh perasaan dan hidup saya.

#First



#Second


Yang kedua bikin saya bertekad untuk menjadi orang tua yang pantas menjadi panutan bagi anak-anak saya kelak. Dari sini, saya juga menyadari bahwa orang tua saya tidak pernah menuntut kakak saya untuk menjadi panutan bagi saya dan adik saya. Mereka juga tidak pernah menuntut saya seperti itu. Betapa saya bersyukur karena telah menyadari hal ini.

(Terima kasih, @halimluthfi , karena telah meminjami saya buku ini ^^.)

bloggerwidgets