Showing posts with label KPG. Show all posts
Showing posts with label KPG. Show all posts

10 March 2018

Untuk Apa Surga Diciptakan? (Sebuah Resensi atas "Puya ke Puya" karya Faisal Oddang)


Kenapa surga diciptakan?
Surga diciptakan karena…
(hlm. 3)

Faisal Oddang menyuguhkan padaku
semangkuk sup yang sangat tidak enak,
tapi terpaksa kulahap juga karena aku kelaparan dan
itu satu-satunya makanan yang bisa kudapatkan.

(Allu bukanlah Soe Hok Gie, jelas. Ia, yang awalnya kukira mahasiswa aktivis yang menolak dibukanya tambang nikel demi memperjuangkan apa yang dia yakini, ternyata melakukan itu atas suruhan orang yang memberinya uang.

Allu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsinya. Namun suatu hari, tibalah padanya kabar tentang meninggalnya Ambe—ayah—lewat suara Indo—ibu—di telepon. Betapa hatinya seakan rontok begitu saja: ia telah berjanji pada Ambe untuk jadi sarjana tahun itu, tapi Ambe keburu tiada untuk dapat menyaksikan ia diwisuda. Penderitaan itu diperparah oleh keberangkatan dosen pembimbing skripsinya ke luar negeri untuk melanjutkan studi.

Skripsinya terbengkalai. Bagaimanapun, yang terpenting saat ini adalah ia harus kembali ke tanah kelahirannya, sebagai satu-satunya keturunan Ambe. Ia harus membuat keputusan. Keputusan-keputusan berat berkaitan dengan kematian Ambe dan masa depan nama baik keluarga besar Ralla.

… untuk sampai ke surga,
Ambe harus diupacarakan,
dipotongkan puluhan kerbau dan ratusan babi.
Hal itu tidak mudah, tetapi demi derajat dan adat,
sebagai keturunan bangsawan—tana bulaan
Ambe harus melakukannya, lagi-lagi itu kata Ibu Pohon.

(Maria, hlm. 12)

Untuk melaksanakan upacara rambu solo itu, tentu tak sedikit uang yang dibutuhkan. Sebagai mahasiswa kritis, Allu tak setuju untuk melaksanakan adat itu, yang dianggapnya tidak relevan lagi dengan situasi masa kini. Sementara itu, anggota keluarga besar memaksa agar upacara itu tetap diadakan. Kalau tak ada rambu solo, martabat kerabat akan tercoreng. Keluarga bangsawan, pemimpin adat meninggal kok tak ada rambu solo. Apalagi telah terbukti bahwa adat tersebut selama ini menimbulkan masalah; ia menyebabkan orang hidup dalam lingkaran utang, di bawah bayang-bayang “harga diri”.

Lihatlah, begitulah adat membuat rasa pamrih,
begitulah adat secara halus menanamkan paham
tidak ada yang gratis di dunia ini.
Bahkan tenaga harus dibayar—
di masyarakat tradisional yang masih jauh dari
individualisme masyarakat kota.

(Allu, hlm. 136)

Di perutku sup itu bergolak.
Aku gelisah.
Ia seperti ingin keluar tapi
aku harus menahannya agar perutku tetap terasa kenyang.

(Seperti dalam novel Saman, aku menyaksikan kembali perebutan lahan warga lokal oleh perusahaan [bersama pemerintah dan/atau bersama militer]—kali ini adalah perusahaan tambang nikel. Dulunya Ambe menolak keras masuknya pertambangan ini di kampung mereka, sementara Allu mendukung Ambe dari Makassar dengan bantuan teman-teman mahasiswanya. Tapi, akhirnya para warga menurut saat Pak Kades turun tangan untuk melicinkan masuknya tambang itu.

Di sini, aku teringat akan Salim Kancil, yang darahnya merembesi pasir Pantai Watu Pecak dan suara-suaranya tak akan mati meski ia telah mati.

Pada akhirnya, karena tertekan oleh sana-sini, Allu akhirnya menentang Indonya dan diam-diam menjual tanah milik keluarga pada perusahaan serta tongkonan mereka yang akan dihancurkan. Memang, Allu mendapat sejumlah banyak uang. Tapi perusahaan melakukan itu dengan jebakan licik dan menyakitkan. Namun Allu memang bukanlah seorang pahlawan. Dengan mudah, ia malah masuk dan tinggal dalam jebakan itu: cinta, lalu sakit hati dan rasa kecewa begitu merasukinya hingga ia melakukan hal yang kuharap tak ia lakukan.

Aku kecewa, pemuda kritis seperti Allu berakhir begitu.

Aku terenyak; ekspektasiku tergugu. Bukankah kebanyakan dari kita juga begitu: bukan seorang “pahlawan”? Dan tak bisa disangkal, kita bukannya tak butuh uang. Bagi kebanyakan dari kita, memastikan makanan selalu tersedia di rumah barangkali lebih utama ketimbang berdemonstrasi di depan istana negara menyuarakan ketidakadilan dengan risiko-risiko, salah satunya: ketidakpastian.
Aku terenyak lagi. Aku kesal tapi, sial sekali, aku tetap tak bisa begitu saja menyalahkannya.)

Sup itu naik ke kerongkonganku.
Cairan kentalnya menjelma juluran
tangan-tangan dan mencekikku.

(Di dalam sup pahit bernama Puya ke Puya ini, Faisal bermain-main dengan racikan bumbunya. Ia menggunakan beberapa sudut pandang berganti-ganti, dengan mekanisme pergantian yang unik. Termasuk di antaranya adalah sudut pandang roh gentayangan Maria dan roh gentanyangan Ambe. Maria, adik Allu, telah meninggal sejak bayi dan dimakamkan dalam tubuh pohon tarra—makam passiliran.

Katanya lagi, aku tinggal menunggu tubuhku
dihancurkan batang pohon,
menyatu bersama getahnya yang kami susui,
menyatu dengan ranting, menjadi daun, lalu kering,
lalu jatuh kembali ke tanah, kembali ke asal,
dan kembali ke surga.

(Maria, hlm. 11)

Dari kisah Maria inilah, aku mengetahui kisah tentang kehidupan di dalam makam passiliran; tentang dalih “kesucian yang harus dijaga” yang malah menghalangi percintaan antara dua remaja—apakah percintaan memang sebegitu menakutkannya hingga harus disensor sedemikian rupa agar tak meracuni mereka yang dianggap “belum cukup umur”?; tentang peristiwa pencurian fosil bayi dari dalam tubuh tarra demi dijual dengan harga yang tinggi untuk membiayai rambu solo. Betapa ironis!

Sementara itu, roh gentayangan Ambe dilanda kegalauan tiada akhir, yang makin parah ketika mendapati kondisi keluarga besar Ralla makin kacau. Betapa seorang arwah tak gundah setengah mati (padahal ia sudah mati) ketika menyadari bahwa kematiannya hanya akan menyisakan beban besar bagi keluarga yang ia tinggalkan. Terlebih, di sisi lain, ia tak bisa memungkiri bahwa ia sendiri pun ingin diadakan rambu solo agar bisa “tiba di surga selayak bangsawan, menunggang kerbau belang diiringi ratusan babi dan puluhan kerbau lainnya” (hlm. 31).

Dulu, aku pernah berharap untuk menjadi To Membali Puang
menjadi dewa, ketika kelak tiba di surga.
Aku ingin, bahkan sampai saat ini
aku masih diam-diam memeram keinginan itu.

(Ambe, hlm. 32))
Tangan-tangan sup itu mencekikku
dan aku tak kunjung mati.

(Sampai akhir, seperti para arwah yang telah menuju puya, dan tetap tak bisa menjawab…, aku terenyak. Ternyata aku pun tetap tak bisa menjawab.

“Untuk apa surga diciptakan?”

Mengapa surga diciptakan jika keberadaannya malah menghancurkan kehidupan orang-orang yang masih hidup di bumi? Mungkin, mungkin, karena yang “menciptakan” surga itu adalah manusia sendiri...

Ah, Faisal Oddang, kau menanyakan pertanyaan yang sulit sekali.

Terus terang, kupikir novel ini lebih baik dibandingkan Di Tanah Lada dan Napas Mayat, juara kedua dan ketiga sayembara novel DKJ 2014.)

identitas buku

Judul: Puya ke Puya
Penulis: Faisal Oddang
Editor: Christina M. Udiani
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: II, Agustus 2016
Tebal: xii + 218 halaman
ISBN: 978-602-424-126-1
Harga: Rp 50.000,00

3 April 2016

[Resensi] MANJALI DAN CAKRABIRAWA

Judul: Manjali dan Cakrabirawa
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG
Cetakan: II, 2010
Tebal: x + 252 halaman
ISBN: 978-979-91-0260-7
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 3/5
 

PLOT SUMMARY


"Namun, pada malam ketujuh mereka bercinta-cintaan, Mpu Barada datang diam-diam ke puri itu dan membunuh Calwanarang yang sedang berbahagia, demi merebut kitab saktinya yang berisi mantra Bhairawa Cakra." (hlm. 96)
Buku kedua Seri Bilangan Fu yang ber-genre roman misteri ini mengisahkan perjalanan Marja dan Parang Jati, bersama Jacques, si arkeolog dari Perancis, untuk mengunjungi dan meneliti sebuah candi yang baru ditemukan di kaki gunung Lawu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat itu, Yuda, kekasih Marja, sedang berada di Bandung untuk berlatih bersama militer sebagai partner latihan panjat tebing dari pihak sipil profesional. Ia merahasiakan itu dari Parang Jati, dan meminta Marja untuk membantu menyembunyikannya.

Candi yang baru ditemukan itu dijuluki Candi Calwanarang, dinamai berdasarkan nama Calwanarang, seorang ratu teluh yang hidup pada masa Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Airlangga. Candi itu menjadi penting, karena tak banyak peninggalan sejarah dari masa Kahuripan.
"Untuk memperingati ibunya, Manjali mendirikan sebuah candi, di mana ibunya dipuja sebagai Durga." (hlm. 97)
Perjalanan itu merupakan titik balik cara pikir Marja, seorang gadis manja dari ibu kota yang "dibesarkan dalam kemudahan dan keriangan aneh ibukota rezim militer yang menumpulkan mata dan telinga". Ia selalu menuntut jawaban instan, benar atau salah, tanpa mau berpikir lebih jauh. Namun, pelajaran yang ia dapat dari Parang Jati dan dari perjalanan itu sendiri (seorang ibu tua yang tak sengaja ia temui dalam perjalanan dari lokasi candi ke kota, legenda hantu Banaspati, kisah Cakrabirawa yang mencekam seluruh penduduk Desa Girah, kisah Calwanarang, kisah hidup Jacques, pertemuan dengan Musa Wanara, penjelajahan candi-candi Jawa Timur) telah mendewasakan cara pikir Marja. Bahkan, di bagian menjelang akhir, Marjalah yang berhasil memecahkan teka-teki surat Haji Samadiman.

Dalam perjalanan itu, ada yang berubah dalam hubungan Marja dan Parang Jati. Marja kini tak lagi melihat Jati sebagai sekadar sahabat, seperti biasa di mana Yuda-Marja-Jati adalah segitiga yang saling melengkapi. Marja terperenyak dalam sorot mata Jati yang bagaikan "malaikat jatuh ke bumi", yang menyediakan diri untuk dijelajahi. Sosok Jati yang tenang, berwibawa, dan cerdas itu tak henti membuat Marja makin mengaguminya.

Sementara itu, setelah Marja mengabarkan pada Yuda bahwa telah ditemukan prasasti bertuliskan mantra Bhairawa Cakra di sekitar candi Calwanarang, berawal dari proyek balas budi, Yuda terjebak dalam kegilaan Musa Wanara--salah satu anggota militer--akan dunia klenik. Musa, yang terobsesi memiliki mantra Bhairawa Cakra, akan berusaha mendapatkannya, bagaimanapun caranya.
"Siapa yang memiliki mantra itu bisa menghancurkan apa pun yang dia mau hancurkan." (hlm. 72)

REVIEW


Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya fiksi Ayu Utami. Sebelumnya, saya membaca Pengakuan Eks Parasit Lajang--yang menurut saya adalah autobiografi, dan Si Parasit Lajang, yang adalah kumpulan artikel. Ada sedikit perasaan cenat-cenut mengantisipasi akan seperti apa gaya Ayu Utami dalam berbicara melalui novel?

Oleh karena belum membaca Bilangan Fu, baru kali inilah saya berkenalan dengan trio kwek-kwek Marja-Yuda-Jati. Untungnya, antarbuku dalam seri ini tidak bersambung terlalu lekat antara scene terakhir buku pertama dengan scene pertama buku kedua, sehingga saya bisa menikmatinya nyaris sama dengan buku tunggal. Manjali dan Cakrabirawa menancapkan cakarnya pada genre romance-misteri. Premis novel ini barangkali adalah seperti yang dikatakan oleh Jacques dan Parang Jati digabung jadi satu,
"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, seorang ilmuwan akan mencari pola-pola dan seorang beriman akan mencari rencana tuhan." (hlm. 19)
Lantas, saya bergumam, "Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, itu karena sang penulis membuatnya demikian."

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian: Rahasia, Misteri, dan Teka-teki. Di bagian Rahasia, penulis menunjukkan bahwa ketiga sahabat itu memiliki rahasia yang disimpan masing-masing. Dari Jati, Yuda merahasiakan aktivitas latihannya bersama militer. Dari Jati dan Marja, Yuda merahasiakan intensi Musa Wanara untuk mencuri mantra Bhairawa Cakra. Dari Yuda, Marja menyembunyikan perasaannya terhadap Jati dan sebagian kecil dari apa yang telah mereka berdua lakukan ketika Yuda tak ada. Dari Yuda, Jati menyembunyikan hal serupa terkait perasaannya terhadap Marja. Dari Marja, Jati menyembunyikan "bintang merah"--sisi gelapnya.

Di bagian Misteri, penulis memperkenalkan adanya misteri yang melingkupi Marja begitu mereka berada di lokasi candi Calwanarang. Misteri sosok Jacques "yang lain", hantu Banaspati, kesamaan nama Marja dengan nama putri Calwanarang: Manjali--Marja Manjali. Sering Marja merasakan bulu kuduknya merinding, entah karena apa. Segenap misteri itu sangat mengguncang Marja, si gadis kota yang telah lama menjadi "manusia Indonesia yang kering" (mengutip perkataan Jacques, hlm. 46).

Di bagian Teka-teki, penulis mengajak pembaca untuk memecahkan teka-teki surat Haji Samadiman yang dititipkan pada Suhubudi, ayah angkat Parang Jati. Selain itu juga menguak hubungan surat itu dengan si ibu tua penggendong kayu bakar yang ditolong Marja, juga hubungan Musa Wanara dengan ibu itu. Juga hubungan Samadiman dengan si ibu dan Musa Wanara.
"Ada di dunia ini hal yang merupakan teka-teki, ada yang merupakan misteri. Dan beda keduanya adalah ini: teka-teki adalah rahasia yang jawabannya tetap dan pasti. Tetapi misteri adalah rahasia yang jawabnya tak pernah kita tahu adakah ia tetap dan pasti. Sesuatu samar-samar menampakkan diri, tapi kita tak akan pernah bisa memegangnya. Misteri menjelmakan suasana kepedihan dan harapan. Dan suasana itu, anehnya, indah." (Bilangan Fu, hlm. 413)
Karakter para tokoh utama terjelma dengan baik dan cukup kuat. Marja, yang awalnya polos, manja, kekanak-kanakan, tidak konsisten, berubah signifikan menjadi lebih dewasa dalam berpikir, tapi tanpa kehilangan keceriaan dan sifat energiknya. Marja saya sebut tidak konsisten karena di satu sisi ia ingin menjadi setara dengan laki-laki, tapi di sisi lain ia terus mempertahankan sisi kemanjaan dan kelemahan khas perempuannya.

Yuda, sosok yang bebas, energik, memiliki kekaguman aneh terhadap militer (pada "kegagahan sekumpulan manusia yang mengorbankan kemanusiaannya demi menjadi mesin"--hlm. 53), dan terbuka. Sifat terbukanya itulah yang membawanya kepada bencana ketika ia menceritakan tentang Bhairawa Cakra kepada Musa Wanara. Yuda juga bisa dibilang setia atau tidak. Ketika Musa mengajaknya ke rumah pelacuran, demi solidaritas antarlelaki, Yuda menurut saja, tapi tidak menyentuh si pelacur. Sebenarnya bukan karena setia pada Marja, sih, melainkan lebih karena menurut Yuda (saat itu) hanya Marjalah partner seks yang sepadan dengannya. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Parang Jati sosok yang dewasa, tenang, cerdas, kritism dan berpengetahuan luas. Ia juga sosok yang menghormati perempuan, terlihat dari "matanya (yang) tidak menjelalati tubuhmu, matanya tidak menjelmakan engkau seonggok obyek" (hlm. 118).

Kalau Jacques, arkeolog Perancis itu sosok yang banyak bicara, blak-blakan, keras kepala, percaya akan reinkarnasi (hlm. 41). Dialah yang, secara blak-blakan dan cenderung usil, awalnya menyadarkan Marja akan adanya benih-benih perasaan antara dia dengan Jati. Namun, Jacques juga punya perasaan cinta-benci dengan Indonesia. Ia jatuh cinta akan peninggalan arkeologi di Indonesia, tapi menunjukkan ketaksukaan terhadap cara berpikir orang Indonesia, misalnya tentang tindak kejahatan dengan hipnotis.
"Saya kira orang Indonesia memang suka memelihara kebodohan." (Jacques, hlm. 158)
Di antara para tokohnya, penulis menciptakan pertentangan abadi. Misalnya, antara Jacques dan Jati terkait anggapan pribadi mereka tentang "arkeolog Jawa". Antara Jati dan Yuda, terkait anggapan terhadap militer. Hal ini menunjukkan bahwa seterbuka dan dewasa apa pun cara berpikir seseorang, tetap ada hal yang begitu ia yakini tanpa memberi kesempatan keyakinannya itu ditentang.

Melalui karakter tokoh dan narasi, penulis mengirimkan sinyal-sinyal ideologinya pada para pembaca. Contohnya, tokoh Yuda yang tidak ingin menikah, yang menganggap konyol anggapan para lelaki bahwa "tidak masalah main dengan pelacur meski sudah punya pacar atau calon istri, calon istri kan harus dijaga kesuciannya" (hlm. 55-56). Kemudian juga melalui narasi seputar Peristiwa 30 September 1965, selain mengungkapkan fakta sejarah, penulis juga menyelipkan keyakinannya akan apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat bahwa penulis sama seperti Jati, antipati terhadap militer karena latar belakang sejarahnya. Hal semacam ini sah-sah saja. Bukankah karya sastra memang karya yang subjektif? Ia menjadi sarana penyampaian ideologi pribadi penulisnya. Pembaca yang bijaksana tak akan serta merta memberi rating buruk terhadap sebuah buku hanya karena tak setuju dengan ideologi penulisnya.

Ada beberapa bagian yang kurang bisa saya pahami. Contohnya kalimat ini:
"'Ha ha! Seorang ilmuwan tak boleh percaya pada apa pun.' Kali ini tak ada nada sedih pada suaranya. Jacques sepenuhnya riang." (hlm. 21) 
Memang sebelumnya Jacques bernada sedih? Saya kira tidak, soalnya sebelumnya (hlm. 20) Jacques terus berceloteh, tak ada "nada sedih".

Penulis menggunakan alur campuran, progresif diselingi beberapa flashback, tapi tidak terlalu membikin penasaran. Waspada jadi bosan atau malah jadi hafal, karena penulis sering mengulang beberapa hal. Pemecahan teka-tekinya saya rasa sungguh terlampau mudah karena sekonyong-konyong Marja bisa memecahkannya begitu saja. Yah, meski argumennya cukup meyakinkan. Hal yang saya keluhkan adalah, mengapa arti "Cakrabirawa" baru dijelaskan di bagian menjelang akhir (hlm. 243)? Disebutkan bahwa "Cakrabirawa" berbeda dengan Bhairawa Cakra, padahal sebelum-sebelumnya (maaf kalau saya salah) definisi dua istilah itu disamakan.

Gaya menulis Ayu menggunakan bahasa baku, tapi memiliki daya tarik tersendiri melalui pemilihan diksi-diksinya. Ayu menggunakan beberapa kata tidak baku, seperti "obyek" secara konsisten, jadi saya rasa itu tidak masalah. Ia juga menggunakan teknik direct speech yang indirect. Jadi, sering perkataan tokoh diungkapkan tidak dalam kutipan tanda petik. Mungkin di beberapa tempat itu suatu ketaksengajaan, yang merupakan typo. Bagaimana pun juga, kedua hal itu menjadi semacam "ciri khas" tulisan Ayu.
"Seorang ilmuwan tidak boleh percaya pada apa pun. Kita hanya tidak boleh percaya apa pun ketika sedang menjalankan pekerjaan ilmiah. Tapi, di luar itu, tentu manusia ingin percaya sesuatu." (Jacques, hlm. 40)
"Tabu adalah sesuatu yang tak boleh kau katakan, sebab jika kau mengatakannya kau akan merusak maknanya." (hlm. 110)
"Sebab, hanya jika kita menemukan maka kita tahu sesuatu itu ada. Tapi jika kita tidak menemukan, kita tak bisa mengatakan bahwa sesuatu adalah tidak ada." (Jati, hlm. 118)
"[...] kita mungkin tidak punya kemampuan untuk mengampuni. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai. Berdamai dengan sisi lain manusia yang tak kita mengerti." (hlm. 206)
Saya memperoleh banyak pengetahuan baru tentang sejarah (terutama tentang candi dan peristiwa penumpasan PKI), cerita-cerita rakyat, arkeologi, yang dikemas dengan kisah petualangan dan romance, yang khas Ayu: seksis. Mungkin sebagian pembaca akan merasa kurang menyukai persepsi "cinta" yang ditulis oleh Ayu di novel ini, yaitu bahwa cinta seolah identik dengan berahi (bacalah, betapa inginnya Marja menunggangi Jati). Namun bagi saya, hal itu tidak masalah.

RATING SAYA:

@-) :-/ :)

24 July 2015

Dua Petikan Paling Menohok dari Novel "Pulang" karya Leila S. Chudori

Sebenarnya sudah lama berlalu sejak saya menyelesaikan membaca buku ini, dan belum terlalu lama semenjak saya mengunggah resensinya. Tapi, baru saja ada selongsong peluru yang menghantam jidat saya dan dalam sekejap memerintahkan saya untuk menuliskan ini. Sebenarnya banyak petikan bagus bertebaran di lembar-lembar novel peraih Khatulistiwa Literary Award 2013 ini, tapi hanya beberapa yang benar-benar menohok saya, bahkan sampai menginspirasi. Langsung saja cek di bawah ini.

1

"Tu veux s’évader de l’histoire?" 
[Kamu ingin lari dari sejarahmu?]
(Monsieur Dupont, hal. 136) 
Membaca ini seolah saya merasakan Monsieur Dupont sedang duduk di hadapan saya dan menantang saya dengan pertanyaan tersebut. Tanpa disadari atau pun tidak, sering kali saya lari dari sejarah saya. Eits, jangan salah sangka dulu, ya. Bukan berarti saya lupa kalau sejarah menuliskan bahwa saya terlahir perempuan 22 tahun yang lalu *abaikan*. Saya merasa tergampar. Jujur saja, koleksi lagu Indonesia di laptop saya hanya 2,3 GB; bandingkan dengan koleksi MP3 K-pop saya yang melampaui 11,3 GB. Saya lupa bahwa saya orang Indonesia? Tidak. Saya hanya lari dari lagu pop Indonesia sejak ia berubah jadi alay. Lagu-lagu Indonesia yang saya simpan kebanyakan adalah lagu lawas.

2

"[...] apa yang akhirnya kaupetik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A, Lintang?"
(Dimas Suryo, hal. 446)
Dibandingkan petikan sebelumnya, petikan ini lebih menohok. (Hmm, tanpa sadar saya memilih dua petikan berbentuk kalimat tanya.) Sama seperti sebelumnya, kali ini Dimas Suryo yang seolah benar-benar menyemburkan pertanyaan itu ke muka saya. Nasionalisme; pemahaman saya akan Indonesia dipertanyakan. Kalimat ini pula yang menginspirasi saya untuk menuliskan sebuah puisi panjang untuk memeriahkan farewell party Teknik Fisika UGM angkatan 2011, yang berlangsung pada tanggal 6 Juni 2015 lalu. Saya membacakan puisi tersebut, berduet dengan seorang teman, pada segmen pentas seni. Judulnya, Apa yang Bisa Kupetik dari T.E.K.N.I.K.F.I.S.I.KA? Berikut ini adalah sepenggal bagian awal puisi saya.


Sebenarnya, beberapa kata dalam puisi itu saya ambil dari kata-kata yang jarang dipakai, yang sering digunakan oleh Leila S. Chudori dalam novel Pulang. Kalian yang sudah membaca novel ini pasti akan mengenali kata-kata yang mana saja. Hihihi.

Itulah dua petikan paling menohok bagi saya. (Cuma dua? Iya, cuma dua.) Kalau petikan favoritmu yang mana? >,^


11 July 2015

[Resensi PULANG] Malpraktek Sejarah dan Perzinahan Politik

Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit : KPG
Cetakan : IV, Desember 2013
Tebal : vii + 461 halaman
ISBN : 978-979-91-0515-8
Harga : Rp 70.000,00
Rating saya: 4/5

Tahun 1965, ketika Indonesia terpecah-belah antara pihak kiri dan kanan, orang yang tidak memihak kedua kubu pun artinya telah memihak. Itulah yang dialami Dimas Suryo. Ia tidak memilih pihak kiri seperti Hananto. Tapi, tetap saja ia terasingkan sampai ke Paris pada tahun 1968, bersama ketiga sahabatnya, Risjaf, Tjai, dan Mas Nug. Belakangan nasib mereka lebih beruntung dibandingkan Hananto yang akhirnya berhasil ditangkap dan dieksekusi. Meski sebagai gantinya mereka harus kehilangan identitas ke-Indonesia-annya dan KTP-nya dicap sebagai E.T. (eks tapol). Sampai generasi kedua, pada zaman putri Dimas, Lintang Utara, peristiwa 1965 masih menghantui para keluarga dan kerabat eks tapol. 

Perjalanan Dimas Suryo, sebelum terdampar di Paris.

Dimas kemudian menikah dengan Vivienne, meski tetap ada cinta tak tersampaikan pada Surti, istri Hananto. Bersama Risjaf, Tjai, dan Mas Nug, Dimas mendirikan restoran Indonesia bernama "Tanah Air", yang berhasil menjadi salah satu restoran terkenal di Paris. Meskipun pada akhirnya Dimas dan Vivienne bercerai, mereka berdua tetap menjaga komunikasi.


Tibalah saat bagi Lintang--yang seumur hidupnya belum pernah menginjak Indonesia--untuk mulai menguak sejarah bangsanya dalam bentuk film dokumenter tentang 1965 sebagai tugas akhir kuliahnya di Universitas Sorbonne.

“Tak inginkah kau menjenguk kembali asal mula dirimu? Tak inginkah kau mengetahui apa yang membawa ayahmu dan kawan-kawannya terbang ke sini, ke sebuah negara yang nyaris tak memiliki hubungan historis dengan Indonesia?” 
(Monsieur Dupont, hal. 134)

Mei 1998. Bersama Alam, Lintang menyaksikan sendiri peristiwa berdarah yang berkubang di negeri asalnya.



Pada akhirnya, ayahnya kembali mengajukan pertanyaan ini,
"Apa yg akhirnya kau petik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A, Lintang?" 
(Dimas Suryo, hal. 446)


***


Butuh waktu lama untuk saya menyelesaikan buku ini, karena banyak buku lain yang lebih mendesak untuk saya baca. Meski kontinuitas membaca saya tersendat-sendat, tapi saya tetap menikmati buku ini. Membaca "Pulang" seperti belajar sejarah Indonesia tahun 1965 sampai 1998, sembari bertanya pada diri sendiri, apa yang bisa kupetik dari I.N.D.O.N.E.S.I.A?

Dalam Rangkulan Sastra dan Budaya


Membaca "Pulang", saya menangkap gelagat penulis untuk mengomparasikan beberapa hal yang dimiliki Indonesia dengan negara lain. Pertama, penulis membandingkan peristiwa unjuk rasa Mei 1968 di Paris (yang serusuh apa pun masih jauh lebih santun) dengan peristiwa tak beradab untuk memberantas PKI di Indonesia. Kedua, penulis menyandingkan para penyair Indonesia (Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, dll.) dengan penyair luar negeri (T.S. Eliot, Jalaludin Rumi, John Keats, dll.). Tokoh Narayana pernah menyandingkan Shakespeare dan Subagio Sastrowardoyo dalam satu halaman. Mungkin penulis beriktikad menyejajarkan para sastrawan Indonesia dengan sastrawan dunia.

Selain itu, melalui tokoh-tokohnya, yang mencintai sastra dan budaya, penulis seolah menyindir generasi muda negeri ini yang kurang menyukai kedua hal itu. Penulis mengetengahkan kisah-kisah Mahabharata, terutama wayang Ekalaya, yang Dimas anggap mewakili dirinya. Selain banyak partikel-partikel sastra di dalamnya (seperti petikan-petikan puisi milik penyair terkenal), penulis juga menyebut-nyebut film-film karya Akira Kurosawa. (Barusan saya mencari di Google, ternyata Akira Kurosawa juga menyutradai film Rashomon, yang diangkat dari cerita karya Ryunosuke Akutagawa--salah satu cerita favorit saya.)
Sumber di sini.
Oh, ya, jangan lupakan setoples kunyit bubuk dan cengkeh milik Dimas!


Lho, Kok Sama?

Menggunakan 6 sudut pandang orang pertama (Hananto, Dimas Suryo, Lintang Utara, Vivienne Deveraux, Segara Alam [anak Hananto], Bimo Nugroho [anak Mas Nug]) dan sudut pandang orang ketiga, penulis merangkai kisah sejarah sampai dua generasi dengan sangat nyambung. Terlalu nyambung, malah, karena gaya bahasa keenam tokoh itu seragam. Saya mendapati satu kata yang sering sama-sama digunakan oleh mereka: membuhulkan. Meski karakteristik tiap tokoh tergambar dengan apik jika diceritakan oleh tokoh lain, rasanya aneh ketika menjumpai saat mereka berbicara sebagai sudut pandang orang pertama; mereka jadi seolah 6 orang yang sama.

Protagonis vs Antagonis


Saya bertanya-tanya, mengapa penulis menciptakan semua tokoh protagonisnya ganteng dan cantik bak dewa-dewi? Suatu jenis kecantikan dan kegantengan yang tak terelakkan oleh lawan jenis. Kecantikan fisik plus kebaikan hati. Dimas, yang tampan dan cerdas. Risjaf, yang paling tampan, jantan, berhati lurus dan tulus. Lintang yang amat cantik dan cerdas, dan lain-lain.

Sementara itu, tokoh antagonisnya digambarkan buruk: entah gendut, berkumis mengerikan, atau bergigi emas norak (seperti Si Telunjuk alias Sumarno Biantoro, pengkhianat Hananto), dll. Ada apa dengan dikotomi hitam-putih ini?

Kumis Clark Gable. (Sumber di sini)
Di antara keempat pilar restoran "Tanah Air", Mas Nug adalah orang yang paling optimistik, merasa diri paling ganteng dengan kumis Clark Gable-nya, gemar bernyanyi dan bersiul meski suaranya paling sember dan tak beraturan (hal. 92), memiliki kemampuan memijit & akupuntur yang dipelajari selama di Peking.

Tjai, adalah yang mulutnya paling tajam, tapi kata-katanya benar. Dimas menggambarkannya seperti ini: "yang lekat dengan kalkulator di tangan kirinya jauh melebihi nyawanya sendiri, lebih banyak berbuat, berpikir cepat daripada coa-coa (hal. 50). Pekerja keras dengan kepribadian “yang tak punya keanehan atau kekenesan” (hal. 98), sama sekali tak suka berpolitik.

Beralih ke generasi kedua, kita berjumpa dengan Segara Alam, anak Hananto Prawiro. Sebagai anak seorang tertuduh komunis yang dieksekusi, Alam tumbuh menjadi seorang aktivis LSM Satu Bangsa, yang kerjaannya advokasi kelompok minoritas yang diperlakukan tidak adil. Alam tumbuh sebagai pemuda yang "penuh pertanyaan dan kemarahan" (hal. 290); tidak percaya akan sejarah. Sejarah yang selama ini disematkan pemerintah ke dalam semua buku teks pelajaran sekolah.

"[...] Siapakah pemilik sejarah? Siapa yang menentukan siapa yang jadi pahlawan dan siapa yang penjahat?" 
(Segara Alam, hal. 288)

Krisis Identitas Pasca Peristiwa 1965

Sebagai seorang eks-tapol, Dimas Suryo tentunya mengalami krisis identitas. Jauh di lubuk hati ia amat mencintai Indonesia, tapi ketidakadilan sosial yang ia alami mengakibatkan sikapnya menjadi nyinyir terhadap keadaan. Salah satu contohnya adalah ketika ia bertengkar dengan putrinya, Lintang, tentang keluarga Narayana. Narayana adalah kekasih Lintang di Paris, yang sama seperti Lintang, berasal dari keluarga blasteran Perancis-Indonesia. Namun, lain dengan keluarga Dimas, keluarga Nara kaya dan terhormat di kalangan orang-orang Indonesia yang ada di Perancis. Oleh karena kecemburuan ini, Dimas tidak bisa menyukai Nara.
"Bagaimana Maman bisa betah hidup bersama lelaki yang gemar mengkritik segala yang salah di matanya?" 
(Lintang, hal. 177)
Sementara itu, Lintang juga mengalami krisis identitas, yang menurut Dimas terindikasi dari pilihan putrinya itu akan tokoh-tokoh wayang yang berubah jender (Srikandi dan Panji Semirang). Setelah Dimas dan Vivienne bercerai, Lintang merindukan keluarga yang harmonis. 
"Saya merasa tenteram dengan keluarga Nara. Famille harmonieuse. Mereka baik hati dan hangat pada siapa saja. Saya merasa nyaman berada di antara mereka." 
(hal. 177)

Le Coup de Foudre

Mengenai kisah le coup de foudre--cinta pada pandangan pertama--antara Vivienne dan Dimas, saya bisa merasakan kesenduan yang manis, sehingga saya, yang pesimis akan cinta jenis itu, menerimanya dengan terbuka. Namun, ketika cinta jenis itu juga terjalin antara Alam dan Lintang, bagi saya itu adalah jenis cinta yang didorong oleh nafsu belaka, dan sedikit menyebalkan. Sementara sudah memiliki Nara yang bak malaikat jatuh, Lintang malah terpesona pada Alam, yang memiliki pamor sebagai playboy yang tengil dan slenge'an. Jenis laki-laki yang hanya ingin bersenang-senang tanpa keinginan menjalani hubungan yang serius.

"Urusan badan dan hati adalah dua hal yang berbeda. Badan ada di bumi, dan hati ada di langit. Problemnya, aku lebih suka membumi belaka, sedangkan para perempuan lebih suka membicarakan langit masa depan." 
(Segara Alam, hal. 290)
Membaca sudut pandang Lintang dan Alam membuat saya mengerti bagaimana gejolak perasaan masing-masing. Saya masih agak tidak terima ketika mereka malah bercinta di saat para aktivis mahasiswa dan militer beradu dalam aksi demonstrasi panas.

***
Apakah saya akan dengan bangga dan lapang dada mengakui identitas diri, sebagaimana dilakukan oleh Dimas Suryo, meski dengan sikap nyinyirnya, atau lebih memilih malu dan menyembunyikan identitas sampai kelak terungkap dengan cara yang lebih memalukan, seperti yang dilakukan Rama (keponakan Dimas)?
Akhir kata, terlepas dari segala kekurangannya, buku ini adalah buku yang memadukan sejarah dan semangat nasionalisme yang kental, dengan budaya, sastra, kisah cinta yang jauh dari menye-menye, dengan proses penemuan jati diri para tokohnya, yang sangat menarik untuk dibaca.


Catatan:
"Malpraktek sejarah" dan "perzinahan politik" adalah dua terminologi bikinan penulis. Yang pertama dipopulerkan oleh tokoh Segara Alam. Yang kedua dipopulerkan oleh Dimas Suryo.

bloggerwidgets