Showing posts with label laksana. Show all posts
Showing posts with label laksana. Show all posts

19 November 2015

[Resensi COMEDY APPARITION] Drama Keluarga dan Percintaan Unik Penyihir Modern


Judul: Comedy Apparition
Penulis: Ginger Elyse Shelley
Editor: Diara Oso
Penerbit: Laksana
Cetakan: I, 2015
Tebal: 244 halaman
ISBN: 978-602-7933-87-3
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 3/5

Hari-hari pertama Stephen bersekolah di Brooke High, setelah kepindahannya di Bayfield Hallway nomor 34 B, diwarnai serentetan kejadian mencengangkan, terlebih sejak berkenalan dengan Cameron Seer. Laki-laki tampan, berperawakan kurus, dan kalem itu mengenalkannya akan siapa sebenarnya keluarga Seer, yang selama ini dikenal aneh.
"Kami penyihir." (Cameron, hal. 53)
Memang, tak mungkin Stephen tak terkejut. Namun, dengan cukup cepat, ia mampu menerima kenyataan itu. Yah, sebelumnya ia sudah curiga akan kejadian ajaib yang dilakukan Cameron di kelas. Malah, yang membuatnya tak percaya adalah ketika Cameron berkata,

"Aku tidak bisa sihir." (hal. 57)
Di antara sepuluh anak keluarga Seer, Cameron dan Rouscha paling berbeda. Mulai dari warna rambut (yang merah) hingga ketidakkerenan sihir mereka. Makin lama, Stephen makin dekat dengan Cameron dan keluarga Seer secara keseluruhan, terutama Rouscha. Stephen juga tahu bahwa Cameron gay, bahkan dialah yang membantu Cameron memastikan orientasi seksualnya.
"Kau tahu, kata mereka, cara paling cepat untuk mengetahui perasaanmu pada seseorang adalah mencium mereka." (Stephen, hal. 45)
Hari itu adalah pertama kalinya Stephen berciuman dengan laki-laki. Ia merasakan getaran aneh saat bersentuhan dengan Cameron. Ia masih normal, kan?

***

Saya tahu kalian pasti sangat tertarik akan elemen homoseksualisme dalam novel ini, tapi sayangnya (sengaja), saya akan memulai ulasan dengan memperkenalkan keluarga Seer.

The Seers


Keluarga Seer terdiri dari 12 orang, dengan Wolf Seer sebagai kepala keluarga, dan Galleg Seer, istrinya yang sangat kurang keibuan. Mereka memiliki sepuluh anak, secara berurutan mulai dari tertua sampai termuda: Harvard, Rex, Luther, Moss, Pinerose, Craish, Cameron, si Kembar Rocca dan Rouscha, dan Luca. Wolf Seer adalah seorang dosen filosofi di Universitas Parker. Galleg, adalah seorang novelis yang novelnya tidak laku. Nyaris tiap hari ia begadang, sehingga seringnya ia lebih tampak seperti zombie daripada seorang ibu. Harvard lah, si putri sulung, yang menggantikan Galleg sebagai ibu rumah tangga. Harvard sudah 32 tahun dan belum menikah, bekerja sebagai resepsionis di klinik miliki si dokter gigi membosankan, Irving Whittman. Rex, si cowok kutu buku yang bekerja di pustakawan, agak mirip Harvard saat sekolah: kalem, rajin, penurut.

Selanjutnya, kita masuk ke ulasan tentang anak-anak Seer yang populer: Luther, yang populer di kalangan cewek-cewek, dan adalah seorang jurnalis; dan Pinerose, yang populer di kalangan cowok-cowok, dan sedang kuliah. Anak cewek kedua setelah Harvard adalah Moss, yang bekerja sebagai guru. Selanjutnya, Craish, adalah cowok badung di sekolah, yang suka mengintimidasi anak-anak lain, termasuk Stephen ketika pertama kali mereka bertemu. Nah, selanjutnya, Cameron dan Rouscha adalah duri dalam daging di keluarga Seer, karena mereka berbeda. Mengenai itu, Cameron tidak memperlihatkan kegalauannya, dari luar ia terlihat baik-baik saja. Ia juga orang yang tidak mengenal basa-basi, dengan cara pikir yang cukup filosofis, misalnya filosofinya tentang homoseksualitas (hal. 59).

Rouscha juga merupakan tokoh yang cukup penting dalam novel, setelah Cameron dan Stephen. Ia gadis yang pintar, seperti kembarannya, suka menyendiri sambil membaca buku, dan berpenampilan vintage. Ia suka bergaya klasik, dengan "turtleneck hitam, rok lipit merah tua, blazer tweed, legging hitam panjang, dan sepatu Mary Jane hitam" (hal. 128). Berikutnya, Rocca, adalah penemu jenius, yang sedang mengembangkan penggunaan lemak ayam sebagai penghasil energi. Setiap kata-kata yang ia lontarkan bagaikan ensiklopedia. Luca, adalah paket komplit para gadis Seer: cantik, pintar olahraga, pintar akademis, dan lain-lain, kecuali emosinya yang kurang terkontrol.

Saya mengapresiasi bagaimana penulis menggambarkan tiap anggota keluarga Seer dengan karakter spesifik yang beragam dan unik. Secara keseluruhan, keluarga mereka mengusung prinsip demokrasi dan nyantai. Bayangkan bagaimana reaksi orang tua kalian jika kalian mengaku homo/lesbi? Kemungkinan besar tidak akan selempeng reaksi keluarga Seer.


Cameron: Mom, bolehkah aku jadi gay?
Galleg: Kenapa? Ada tugas penelitian?
Cameron: Sepertinya aku gay.
Galleg: Oh.
Wolf: Apakah cowoknya anak dokter itu? Dia lumayan oke, tapi aku harap kau cari cowok yang lebih ganteng darimu.
(hal. 38)

Penyihir Modern

Keluarga Seer punya kebiasaan-kebiasaan unik: membakar api unggun tiap sore, untuk mengantar serigala pulang. Jam 3 sampai 5 sore dikenal sebagai Waktu Serigala. Serigala adalah metafora dari matahari. Sebagai penyihir modern, mereka hanya menggunakan sihir kalau lagi kepengin saja, tapi menggunakan sihir secara besar-besaran saat Halloween dan Day of Death (jadi teringat adegan awal Spectre). Saat upacara perayaan Halloween, mereka melibatkan serangkaian ritual yang agak mengerikan, seperti memarut paruh burung gagak, menguliti kucing hidup-hidup sebelum direbus sampai jam tiga pagi.

Umumnya penyihir berbakat memainkan alat musik. Maka dari itu, tak mengherankan bahwa musik menempati porsi besar dalam novel ini. Banyak adegan keluarga Seer sedang memainkan musik, termasuk Cameron yang permainan selonya membuat Stephen menangis.

Dalam dunia penyihir modern, ada istilah "titipan", yang digunakan untuk menyebut "penyihir yang hidup bersama keluarga muggle", dan kadang ia tidak tahu kalau ia penyihir. Contohnya, Landon Clyde dan Anne Nightingale.

Semua orang Berpasangan

 


Novel ini memang bergenre fantasi, tapi kisah percintaan mendominasi. Awalnya, kisah cinta Cameron menjadi pusat gravitasi cerita, mulai dari pengakuan bahwa ia gay, dikecewakan oleh Brayton, si gay teman Luther, yang sebelumnya mendekati Cameron, tapi ternyata sudah punya pacar, sampai kesadaran akan kemampuan sihirnya. Hubungannya dengan Stephen, terutama adegan romantis antara mereka berdua, meski gay, tapi terasa manis. Mungkin karena Cameron dalam bayangan saya adalah cowok cantik, yang parasnya seperti perempuan, jadi secara tidak sadar saya membayangkan Cameron cewek. Haha. Nah, mengejutkannya, penulis menciptakan twist mini tentang hubungan Cam-Stephen ini. Awalnya saya kira makin ke belakang, novel ini akan makin jadi bergenre gay-romance, karena saya mengira Stephen benar-benar telah jatuh cinta pada Cameron dan mereka akan jadian... Eh, ternyata... Haha.

Menjelang pernikahan Rex dan Evey, semua anak Seer mendapatkan pasangan masing-masing. (Well, kecuali Cameron, yang baru mendapatkan pasangan di akhir cerita.) Bahkan, Luca, si bungsu berumur sebelas tahun pun telah bertemu dengan jodohnya, Landon Clyde. Meski mereka masih remaja, adegan di antara mereka berlangsung romantis, malah terlalu romantis untuk bocah sebelas dan dua belas tahun. Terlebih adegan ketika Landon meminta Luca mengintip ke dalam asap untuk melihat suaminya di masa depan, yang ternyata adalah Landon.

Homoseksualitas, Salah Satu Perbedaan


Melalui homoseksualitas Cameron, penulis ingin menghadirkan dunia yang agak ramah bagi orang homo. Orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya, menerima orientasi seksual Cam dengan cukup mudah. Memang, sih, setting-nya di AS, jadi tidak mengherankan kalau orang homo diterima dengan relatif lebih baik ketimbang di Indonesia.  Namun, homoseksualitas hanyalah sajian isu pembuka. Penulis mengulik hakikat mendalam tentang perbedaan.

Pertama, menghadirkan keluarga penyihir sebagai tokoh utama, yang berbeda dengan para muggle di sekitarnya (saya meminjam dulu peristilahan a la Harry Potter). Mereka menghadapi desas-desus antara rasa takut dan ingin tahu dari para tetangganya dengan cuek. Dikisahkan bahwa para tetangga menyuruh anak-anak mereka menjauhi rumah Seer. Well, kecuali Haegel, karena mereka penghuni baru Bayfield Hallway. Tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda. Kedua, di antara sesama penyihir pun, terdapat perbedaan. Di keluarga Seer, Cameron dan Rouscha adalah dua anak yang kemampuan sihirnya paling ecek-ecek dan warna rambutnya berbeda dengan yang lain. Namun, pada akhirnya, mereka bisa menemukan kemampuan sihirnya sendiri.

"[...] selalu ada imbalan menyenangkan bagi mereka yang mampu menerima perbedaan dengan lapang dada." (hal. 237)
Stephen Haegel, Evey Hayer, Mary Kate, adalah contoh orang-orang yang mampu menerima perbedaan yang dimiliki keluarga Seer dan memperlakukan mereka dengan baik.

Lokal yang Kebarat-baratan


Berlatarkan Amerika Serikat, kehidupan sebuah keluarga penyihir dikuak. Gaya bahasa penulis, yang benar-benar seperti gaya novel terjemahan, sangat mendukung terciptanya atmosfer kebarat-baratan. Selama membaca, saya nyaris lupa kalau novel ini karangan penulis lokal, lho. Bahasa obrolan ringannya pun terasa seperti obrolan khas bocah gaul AS.

Stephen:
Kau janji tidak akan menceritakannya kepada siapa-siapa? Bahkan ketika aku jadi bintang film terkenal? Hmm..., dan kalau bisa, jangan naksir aku, ya? Sepertinya aku suka perempuan...
Cameron:
Nggaaak... Nggak bakal kalau kau nggak bersedia pacaran denganku juga. Malas banget naksir cowok yang suka cewek. Aku kan nggak punya dada.
(hal. 46)
Siren. Sumber di sini.
Jenis guyonannya pun khas Barat. Contohnya adalah ketika penulis menarasikan mengapa Luca Seer mengamuk di pesta ketika ada yang menyeletuk, "Skywalker!". Nama tengah Luca adalah Anakin, akibat kegilaan Wolf (ayah Luca) akan Star Wars. (Anakin Skywalker adalah nama salah satu tokoh laki-laki di Star Wars, yang juga dikenal sebagai Darth Vader).

Tidak mudah membangun nuansa sihir/fantasi di tengah setting dunia nyata, atau yang biasa disebut sebagai genre low fantasy (bisa juga disebut sebagai urban fantasy karena berlangsung di dunia nyata modern), sehingga setiap komponen bahasa harus mendukungnya. Selain kejadian-kejadian ajaib sehari-hari, dan sihir besar-besaran saat Halloween, penulis juga menggunakan berbagai istilah-istilah dunia fantasi, seperti makhluk kelpie, siren, peri sugarplum (hal. 29)


Kelpie. Sumber di sini.


Sugarplum fairy. Sumber di sini.



Tak hanya istilah fantasi, penulis juga menyertakan berbagai nama makanan a la Barat, seperti colcannon dan croquembouche. Colcannon ini juga nama lain dari lagu "The Little Skillet Pot", yang muncul dalam novel di halaman 128.




Komponen lain dari gaya penulisan Kak Ginger yang penting untuk diulas adalah teknik penyajian cerita dan perumpamaan-perumpamaan yang unik. Pertama, teknik penyajian yang saya maksud adalah caranya menuliskan judul tiap bab, yang ditulis dari sudut pandang Stephen. Contohnya, "Bagaimana Caranya Mengetahui Kebenaran Keluarga Seer", mengisahkan kala pertama Stephen mengetahui bahwa keluarga Seer adalah penyihir. Kedua, penggunaan perumpamaan yang cukup unik.

"Dia seratus persen normal kecuali kerlip di matanya yang tampak kadang-kadang seperti ada peri Sugarplum menari keluar ketika ia berkedip dan seberkas percikan debu peri yang membuncah kalau dia tersenyum."

"Pria itu mengedipkan matanya yang terpicing mengantuk, tampak seperti selapis kabut melayangi matanya yang seperti potongan langit, yang mengingatkan Stephen akan makhluk kelpie di danau atau siren yang sedih."
(Dua kalimat perumpamaan panjang, yang unik dan spesifik, sangat mendukung atmosfer dunia sihir yang dibangun penulis, hal. 29.)


"Langit sore tampak seperti perasan jeruk dan busa susu. Matahari tampak seperti jeruk darah yang terbenam..." (hal. 35)
(Perumpamaan ini sebenarnya cute, tapi yang terakhir agak maksa--jeruk darah itu apa dan bagaimana? Tujuan penggunaan perumpamaan, kan, seharusnya agar pembaca bisa membayangkan sesuatu dengan lebih mudah.)

"Gadis itu memiliki mata persis seperti gadis dalam bayangannya ketika mendengar lagu yang dimainkan Cameron, seperti air tawar yang sedih." (hal. 78) (Seperti apa air tawar yang sedih?)

"Ada lebih banyak kulit udang di pastamu daripada yang ada di perekat luka!" (Morgan, hal. 168) (Sepertinya jarang, ya, orang menggunakan perekat luka untuk kulit udang?!)
"Matahari sudah turun di arah barat seperti kuning telur diberi pewarna jingga yang digantungkan di pinggir diorama dan bayangan-bayangan benda menjadi panjang seperti pria kelainan." (hal. 182) (Pria kelainan--kelainan seperti apa? Perumpamaan ini akan lebih tajam jika kalimatnya berhenti setelah "diorama".)
(Ketiga perumpamaan di atas juga bikin saya bingung.)

Memang, Comedy Apparition penuh dengan hal-hal ajaib, tapi bukan berarti miskin pengetahuan ilmiah, lho. Melalui tokoh Rocca dan Morgan (serta Rouscha dan Cameron, yang juga pintar), penulis memaparkan banyak hal-hal tentang sains dan filosofi. Contohnya, filosofi bunga teratai di hal. 87;  penjelasan ilmiah Rocca tentang aktivitas ciuman untuk pelepas stres (hal. 162).

Terakhir, saya menemukan beberapa keganjilan pemilihan diksi, sebagai berikut.

"...pegangan kayu yang dipelitur mengkilap oleh kolega-kolega Wolf Seer yang ingin mendapat IPK bagus." (hal. 23) (Kolega? Menurut saya, lebih cocok jika "kolega" diganti dengan "mahasiswa".)
Selain itu, penulis kerap tergelincir dalam penggunaan kata "hirau" dan "acuh". Di sepanjang isi novel, penggunaan kedua kata tersebut selalu kurang benar. (Bagaimana, Editor? Ehehe ^^v) Contohnya:

1. [...] Luca sedikit dihiraukan selama berbulan-bulan menghadapi pernikahan. (hal. 180)
2. [...] dan memang, mereka agak mengacuhkan si kecil selama berminggu-minggu ini. (hal. 189)

Artinya menjadi berkebalikan dengan arti sebenarnya dari kata "hirau" dan "acuh". Menurut KBBI,
1. hirau, menghiraukan = v memedulikan; mengacuhkan; mengindahkan; memperhatikan: ia tidak ~ nasihat orang tuanya
2. acuh = v peduli; mengindahkan: ia tidak -- akan larangan orang tuanya; 
tak acuh = tidak menaruh perhatian; tidak mau tahu;
mengacuhkan = v memedulikan; mengindahkan: tidak seorang pun yg ~ nasib anak gelandangan itu.

Comedy Apparition, dengan segala elemen mistis dan petualangan cintanya yang manis, serta kehangatan keluarga yang didambakan banyak orang, cocok dibaca saat sedang galau di kala hujan turun di luar kamar kos, perut kelaparan dan tak ada makanan. (Yang ada malah makin delusional akibat kisah manis antara Stephen--Rouscha, atau malah Stephen--Cameron.)

"Siapa yang tahu bagaimana menjelaskan cinta. Kalau seorang tidak tahu, kemudian mendefinisikan ketidaktahuan itu sebagai cinta, betapa absurd cinta itu untuk bahkan bertahan di dunia jelas seperti ini." (Cameron, hal. 109)
"Kau tahu, mereka bilang cinta itu datang dan pergi, kan? Bagiku sih, semuanya cuma kunjungan singkat salah rumah." (Cameron, hal. 208-09) (Di sini, Cam terdengar sangat pesimis akan cinta, ya?)
Terakhir, hampir lupa, Cameron adalah tokoh favorit saya, dengan segala kekalemannya yang menyembunyikan gelegar petir dalam hatinya. Selain ketampanannya, tentu saja, haha. Sementara itu, pasangan favorit saya adalah Rocca dan Morgan, yang nyaris tak pernah berhenti adu argumen ilmiah. Gaya pacaran mereka berdua sepertinya akan mendorong perkembangan intelegensi dan prestasi akademik. Haha.

Sepertinya saya memberikan resensi positif akan buku ini, tapi mengapa saya hanya memberi rating 3 bintang? Tak lain, karena perkembangan cerita tidak seperti yang saya ekspektasikan. Saya belum siap ketika ternyata penulis menitikberatkan cerita pada kisah percintaan masing-masing anggota keluarga Seer.

24 August 2015

Pertama Kalinya Resensi Saya Nongol di Koran


Ini late post, sih, sebenarnya. Tapi, rasa senang masih membuncah di hati tatkala melihat kembali koran Tempo edisi Minggu, 9 Agustus 2015 (yang sudah lecek, nyelempit di dalam rak penuh buku-buku kuliah yang sudah tak terpakai *sok wkwk), jadi saya tetap ingin publikasikan di blog, hehe.

Di rubrik Buku, resensi buku Lukisan Dorian Gray tulisan saya nongol jadi bintang utama! Ini pertama kalinya saya mengirim resensi ke Koran Tempo (meski bukan pertama kalinya mengirim ke media massa, dan ditolak) dan ternyata diterima untuk diterbitkan. Tanggal 30 Juni 2015 saya mengirim ke redaksi Tempo, kemudian beberapa hari sebelum tanggal 9 Agustus pihak redaktur mengirim e-mail pemberitahuan ke saya, bahwa resensi saya akan terbit (pada saat itu, saya sudah lupa kalau pernah mengirim resensi saya ke Tempo *parah). Jika dihitung, sekitar 5 minggu jarak antara pengiriman resensi dan penerbitan.

Hari Minggu itu, pagi-pagi saya sudah bangun (tumben) dan keliling Yogya mencari Koran Tempo. Di tengah terpaan angin pagi Yogya yang dingin, saya menghampiri sebuah kios koran yang buka (sebelumnya ada beberapa kios koran, tapi tutup semua), tapi tak ada Koran Tempo di sana. Akhirnya saya mau pergi ke Terminal Jombor (pasti di terminal banyak kios koran, haha). Eh, baru sampai di perempatan lampu lalu lintas Ring Road Utara, ada mas-mas loper koran nyamperin saya.

"Mas, ada Koran Tempo, nggak?"
Si Mas menarik sebuah koran dari tumpukan di tangannya.
"Ini, kan, Mbak?"
Cling! Saya tersenyum lebar. "Iya, Mas, itu!"
Akhirnya saya memboyong koran itu seharga 3.000 rupiah.

Saya sangat antusias hingga tak sabar untuk membukanya sepanjang jalan (untung kos saya lumayan dekat dengan Ring Road Utara). Sesampai di kos, saya langsung membuka rubrik Buku. Dan.... sampai di bagian akhir tulisan, saya tercenung. Kok, nggak ada nama saya dicantumin, ya?


Lucunya, di bawah tulisan saya itu ada ralat, bahwa karena kesalahan teknis, nama penulis resensi minggu lalu tak tercantumkan. Lhah, masa tiap minggu ada ralat? Hohoho.

Saya menanyakan perihal ini ke redaktur, dan memang ternyata (lagi-lagi) ada kesalahan teknis sehingga nama saya tak tercantumkan. Sayangnya, minggu depannya, saya tak sempat memburu Koran Tempo lagi karena saya sedang berada di pedalaman di luar Pulau Jawa. Well, meski nama saya keselip entah di mana, saya tetap senang karena ini adalah pertama kalinya tulisan saya nongol di koran :D 

7 March 2015

[Resensi LUKISAN DORIAN GRAY] Aku Ingin Tetap Muda Selamanya



Lukisan Dorian Gray bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!).

Bulan Februari kemarin tanpa sengaja menjadi bulan sastra bagi saya. Ada lima karya sastra yang saya baca bulan itu (meski ada yang belum selesai). Tiga berupa kumpulan cerpen (Rashomon and Other Stories oleh Ryunosuke Akutagawa, The Steppe and Other Stories oleh Anton Chekov, dan Yang Hidup dan Mati oleh Rabindranath Tagore). Dua lainnya adalah novel, yaitu Lolita karya Vladimir Nabokov (yang belum selesai sampai sekarang) dan novel ini. Menariknya, dalam kelima karya sastra itu, saya menemukan benang merah yang tebal bertuliskan kritik sosial dan kemunduran moral.

Lukisan Dorian Gray diterjemahkan dari dari The Picture of Dorian Gray terbitan Penguin Books tahun 1994, yang masih terdiri dari 13 bab. Edisi ini merupakan terbitan ulang dari versi pertamanya yang diterbitkan pertama kali sebagai cerita berseri pada Juli 1890 oleh Lippincot’s Monthly Magazine. Oleh beberapa kritikus, karyanya dianggap merusak moral orang Inggris. Wilde kemudian merevisi bagian-bagian yang dianggap terlalu vulgar, dan menambah alur sehingga menjadi 20 bab. Termasuk menambahkan tokoh James Vane, kakak Sybil Vane, yang sangat protektif terhadap adiknya dan berniat membalas dendam pada Dorian. Versi revisi berbentuk novel ini diterbitkan pertama kali pada April 1891.
*** 
 “Betapa menyedihkan! Aku akan semakin menua dan jelek, juga buruk rupa. Tapi, lukisan ini selamanya akan tetap muda.... Seandainya aku bisa tetap selalu muda, dan seandainya lukisan ini saja yang menua, bukannya aku! Seandainya bisa begitu, seandainya bisa seperti itu—aku rela memberikan segalanya. Ya, tidak ada hal lain yang kuinginkan di dunia ini melebihi keinginanku tersebut.”(Dorian Gray, hal. 53)
Betapa satu hari saja bisa mengubah kepribadian orang! Dorian Gray, pemuda yang diberkati dengan ketampanan luar biasa dan kebaikan jiwa yang cemerlang, mendadak berubah menjadi pemuja estetika dan hedonisme era Victoria! Salahkan Lord Henry Wotton yang pertama kali bertemu Dorian di studio Basil Hallward pada bulan Juni. Kala itu, Dorian datang ke studio untuk menjadi model lukisan Basil. Salahkan Lord Henry atas ceramahnya selama beberapa jam  tentang dogma-dogma dan pengaruh buruknya!
 “Gunakanlah masa muda mumpung kau masih memilikinya. Menurutku, sungguh sebuah tragedi jika kau menyia-nyiakan anugerahmu.Karena masa muda hanya bertahan tidak lama...”(Lord Henry, hal. 47)
Satu bulan setelahnya, Dorian jatuh cinta pada seorang artis opera, Sybil Vane, dan berniat akan menikahinya. Dorian lalu mengajak Hallward dan Lord Henry menontonnya, tapi betapa kecewa dirinya karena akting Sybil Vane sangat jelek malam itu. Awalnya, Dorian jatuh cinta padanya karena ia sangat jenius dalam memerankan peran apapun, sehingga Dorian begitu kecewa dan meninggalkannya ketika aktingnya menjadi jelek. Malam itulah, pertama kali Dorian menyadari bahwa lukisannya berubah rupa menjadi mengerikan, seolah menanggung dosanya.

Seolah belum cukup mengubah Dorian, suatu saat Lord Henry mengiriminya sebuah novel Perancis yang berkisah tentang seorang pemuda Perancis dan perbuatan-perbuatan dosanya. Buku  berhasil meracuni Dorian, bahkan mungkin menjadi semacam panduan hidupnya. Bertahun-tahun berikutnya, Dorian menghabiskan masa mudanya dengan perbuatan-perbuatan amoral dan hedonistis. Hingga suatu malam, ketika Hallward mengunjunginya untuk mengonfirmasi gunjingan-gunjingan miring orang-orang terhadapnya, Dorian tak tahan lagi. Ia menunjukkan pada Hallward lukisan karyanya yang berubah menjadi sangat mengerikan. Ia merasa Hallward-lah yang harus bertanggung-jawab atas kerusakan moralnya.
“Lukisan itulah yang telah menghancurkanku.”(Dorian Gray, hal. 228)

Karakter Lebih Signifikan daripada Alur


Kekuatan karakter menjadi pilar utama yang membangun karya sastra ini. Wilde tidak terlalu memfokuskan ceritanya pada alur. Berupa alur maju, Wilde menciptakan alur yang padat dari bab pertama sampai kedelapan. Meskipun ada jarak setting waktu yang cukup lama antara bab tiga dengan bab sebelumnya, Wilde telah mengubah kepribadian tokoh utamanya dalam sekejap.  Inilah yang saya maksud dengan “padat”. Menginjak bab 9, saya terserang kebosanan parah. Satu bab yang tidak tipis itu hanya berisi narasi tentang ilmu-ilmu yang dipelajari Dorian selama bertahun-tahun kemudian. Seolah Wilde hendak mengatakan, “Lihatlah, betapa banyaknya hal yang ia kuasai!”Cobalah hilangkan bab 9 ini, maka cerita tetap akan berjalan dengan mulus, dan bahkan lebih bagus karena pembaca tak harus mengalami kebosanan berkepanjangan.

Ada tiga karakter inti dalam novel ini. Pertama, tentu saja Dorian. Dorian yang awalnya berjiwa bersih dengan mudahnya menjadi pemuja keindahan fisik di atas segalanya, hanya akibat terseret pengaruh Lord Henry. Tak heran Dorian semudah itu terpengaruh, lantaran Lord Henry adalah karakter pria dogmatis, berwawasan luas, terutama tentang psikologi dan filsafat. Ia pandai berkata-kata, sehingga dengan mudah menyihir orang lain. Lucunya, ia sendiri sadar bahwa pengaruh yang ia bawa itu buruk, tapi tetap menggencarkannya.

Dorian            : Benarkah Anda ini membawa pengaruh buruk, Lord Henry?
Seburuk yangdikatakan Basil?
Lord Henry     : Tidak ada itu yang namanya pengaruh yang baik, Tuan Gray.
Semua pengaruh itu sejatinya tidak bermoral… Karena dengan mempengaruhi seseorang berarti kau telah memberikan satu jiwa yang baru kepadanya. Dia tidak lagi berpikir sebagaimana dirinya….
(hal. 37)

Ia menjunjung tinggi estetika dan hedonisme. Hidupnya untuk bersenang-senang dan tidak memedulikan aturan. Namun, saya agak tersakiti membaca perkataannya yang secara eksplisit menjelaskan kedudukan wanita di bawah pria.
“Sahabatku yang baik, tidak ada wanita yang genius. Wanita hanyalah hiasan bagi pria. Mereka suka omong kosong, tetapi omong kosong itu mereka sampaikan dengan begitu menggoda. Wanita melambangkan penguasaan bendawi terhadap akal budi, sebagaimana pria yang melambangkan kemenangan akal budi terhadap moralitas… Dalam hal percakapan, hanya ada lima wanita di London yang layak untuk kita ajak mengobrol, padahal dua di antara mereka tidak diakui sebagai warga masyarakat yang terhormat.” (Lord Henry, hal. 67-68)
Juga pemikirannya tentang pernikahan.
“…salah satu hal yang menarik dari hidupku adalah bahwa pernikahan memungkinkan kedua belah pihak untuk saling berahasia.” (Lord Henry, hal. 14)
Sehingga Basil, si tokoh yang paling lurus hidupnya, merespons, “Aku tidak suka dengan caramu membicarakan kehidupan pernikahanmu, Harry.” (hal. 15). Ya, aku juga tidak suka, Harry. Cara berpikir dan bersikap yang dimiliki Basil ini bisa dibilang terlalu kaku, saking idealnya. Sebagai seorang pelukis, ia sering mengurung diri dalam studio untuk menyelesaikan karyanya, sehingga hidupnya sangat tertutup. Ia hanya memiliki sedikit teman. Beda sekali dengan Dorian atau Lord Henry, yang bisa dibilang “pria gaul Inggris”. Tapi saya mengagumi kelurusan prinsip hidup Basil, sehingga ia tidak terpengaruh ceramah Lord Henry, maupun kelakuan Dorian. Ia juga gambaran pria yang berhati lembut.

Keindahan wajah Dorian telah membawanya ke aliran seni yang baru, dengan semangat romantisme (hal. 26). Sikap Basil terhadap Dorian mengisyaratkan kesan homoseksualitas. Inilah salah satu sebab mengapa para kritikus zaman dulu mencaci karya Wilde.
“Aku harus mengakui bahwa diriku tergila-gila kepadamu, memujamu begitu rupa sampai sedemikian tidak masuk akal. Aku cemburu dengan setiap orang yang kau ajak bicara. Aku ingin memiliki dirimu seutuhnya.” (Basil Hallward, hal. 156)

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Dorian?

Setelah sampai pada halaman data diri penulis, saya masih bertanya-tanya, “Apa yang sebenarnya dilakukan Dorian sampai orang-orang mengecapnya sebagai simbol amoralitas zaman itu?” Bukannya saya yang telat mikir atau bagaimana, tapi nyatanya Wilde tidak menunjukkan tingkah buruk Dorian, tapi hanya mengatakannya berulang-ulang. Ia tak menceritakan secara spesifik perbuatan apa saja yang dilakukan Dorian. Ya, kecuali kasus Sybil Vane. Juga ketika Dorian meninggalkan Hetty Merton. Dengan bangganya ia merasa telah melakukan perbuatan baik karena meninggalkan (memutuskan) Hetty tanpa menodai kesuciannya. Oh my gosh!

Informasi paling jelas tentang kelakuan amoral Dorian hanya saya dapatkan dari kata-kata Basil, ketika ia hendak memastikan dari Dorian sendiri, apakah selama ini tuduhan-tuduhan buruk terhadap Dorian itu benar.
“Dorian, Dorian, reputasimu sungguh jelek.” (Basil Hallward, hal. 219)
Dari situ, saya tahu bahwa kelakuan buruk Dorian telah menyebarkan pengaruh buruk juga pada teman-temannya, sehingga mereka juga turut melakukan hal buruk. Karena itulah, mereka menjauhi Dorian, bahkan ada yang sampai bunuh diri.
“Kukatakan kepadanya bahwa hal itu tidak mungkin,… bahwa kamu tidak mungkin melakukan hal-hal sekeji itu. Kau tahu? Aku ragu apakah aku memang sudah mengenalmu.” (Basil Hallward, hal. 221)
Tapi, lagi-lagi, apa yang sebenarnya Dorian lakukan? Seperti Basil, saya juga ragu telah mengenal Dorian, bahkan sampai saya menamatkan buku ini.

Nah, saya juga penasaran, apa isi surat yang digunakan Dorian untuk mengancam Campbell agar memenuhi permintaannya?

Bukan Penutup

Novel sastra gotik ini sangat menarik untuk dibaca. Dengan nuansa gelap dan misterius yang selalu membuat saya bertanya-tanya, buku ini mengikat perhatian saya sampai lembar terakhir (kecuali bab 9). Di luar segala kekurangannya, (termasuk inkonsistensi Wilde, ketika ia tiba-tiba menginterupsi cerita bersudut-pandang orang ketiga dengan muncul sebagai “aku” di tengah narasi pada halaman 205. “Apakah memiliki karakter yang tertutup adalah hal yang begitu memalukan? Kurasa tidak.”), novel ini layak dinikmati. Apalagi nilai-nilai moral yang diutarakan Wilde adalah pelajaran berharga. Lewat karakter utamanya yang memuja keindahan dan penganut hedonisme, Wilde menyiratkan pelajaran bahwa:

Picture source here, quote and editing by me.

Picture source here, quote and editing by me.


Ini bukan penutup, karena saya masih bertanya-tanya, buku bersampul kuning yang meracuni Dorian itu sebenarnya buku apa? Jika kau juga ingin tahu, temukan jawabannya di sini.


[Lukisan Dorian Gray] Buku Kuning, Romantisme, Estetika, Hedonisme, dan Sybil Vane

Buku Misterius Bersampul Kuning

Dalam narasi, Wilde memang tak pernah menyebutkan judul buku kuning yang diberikan Lord Henry kepada Dorian. Ia hanya mendeskripsikannya sebagai buku berbahasa Perancis; sebuah “novel tanpa alur, hanya memiliki satu karakter dan cuma berisi semacam kajian psikologis dari seorang anak muda Paris yang menghabiskan seumur hidupnya di abad kesembilan belas…” (hal. 175).

Lantas, mengapa buku yang kedengarannya membosankan itu mampu meracuni Dorian?
“Saat membacanya, orang mungkin bingung apakah dirinya sedang membaca sebuah kisah tentang ekstase spiritual yang dialami seorang santo di abad pertengahan ataukah sebuah catatan pengakuan dosa seorang pendosa di abad modern.” 
(hal. 175 – 6)
Buku apa itu sebenarnya?

Dalam pengadilan[1], Wilde mengatakan (atau nyaris mengatakan) bahwa buku itu adalah À Rebours (diterjemahkan sebagai “Against Nature”), karya Joris-Karl Huysmans yang diterbitkan tahun 1884. Novel itu menceritakan kehidupan karakter satu-satunya, Jean des Esseintes, yang adalah anggota keluarga terakhir dari sebuah keluarga bangsawan. Masyarakat tidak menyukainya karena perbuatan-perbuatan amoralnya, sehingga ia menyingkirkan diri untuk tinggal di sebuah rumah di pedesaan. Di sana, ia menghabiskan waktunya untuk mempelajari berbagai jenis seni dan estetika. Kemerosotan kesehatannya akhirnya memaksanya kembali ke kota. Mengenai kembalinya ke tengah masyarakat, “he compares his return to human society to that of a non-believer trying to embrace religion.”
(Anonymous, 2014).

Tentang Romantisme, Estetika, dan Hedonisme Abad ke-19

Disebut sebagai karya sastra filosofis, Lukisan Dorian Gray penuh dengan paham-paham romantisme, estetika, dan hedonisme.

Romantisme

The Death of Sardanapalus
(a painting by Eugène Delacroix)
Keindahan fisik Dorian membuat Basil beralih ke aliran seni yang baru, “yang di dalamnya terkandung seluruh hasrat dari semangat romantisme.”[2]. Aliran seni romantisme ini sendiri pertama kali muncul di Perancis dan Inggris pada awal abad ke-19. Barangkali ada yang mengira bahwa romantisme berkaitan dengan roman atau percintaan antara dua manusia. Namun, itu salah besar. Romantisme tak ada kaitannya dengan percintaan, tapi:

1.  mengekspresikan emosi secara intens dan mendalam. Kadang, ia menggambarkan hubungan spiritual dengan alam. Ini seperti Basil yang mengekspresikan kekagumannya yang mendalam terhadap wajah tampan Dorian melalui lukisannya.

2.  menonjolkan ajaran untuk membela hak-hak asasi sesama manusia, atau mengkritik tindakan tak berperikemanusiaan antarmanusia. Semangat ini menjadi ide utama dari tiga novel romantis paling terkenal, The Hunchback of Notre-Dame dan Les Misérables karya Victor Hugo, dan Frankenstein karya Mary Shelley. Oleh karena itu, aliran romantisme dapat disebut sebagai “art with a heart”. (Wilder, 2007)

3.  penganut aliran ini memercayai bahwa pada dasarnya semua manusia baik; lingkungan sosiallah yang mengubahnya menjadi buruk. Tokoh Basil Hallward juga percaya akan hal ini, sehingga ia sulit untuk percaya pada tuduhan buruk orang-orang akan Dorian.

4.  karena begitu beragamnya gaya dan subjek seni aliran ini, romantisme dikategorikan tidak berdasarkan pemilihan subjek maupun kebenaran pasti, “but in a way of feeling”, seperti dituliskan oleh Charles Baudelaire pada tahun 1846. (Galitz)

Estetika

Pavonia
(a painting by Frederic Leighton)
“Kau ini memiliki para yang luar biasa tampan, Tuan Gray.... Keindahan rupa adalah suatu bentuk kegeniusan—yang bahkan lebih tinggi kedudukannya dari genius pikiran... Ketampanan membuat pemiliknya menjadi pangeran. Kau mungkin tersenyum sekarang, tapi kau tidak akan tersenyum seperti itu kalau kau sudah tidak lagi tampan.”(Lord Henry, hal. 45)
“Karena tuntunan utama dalam sebuah masyarakat beradab adalah—atau seharusnya—serupa dengan tuntunan utama dalam dunia seni. Wujud luar adalah sesuatu yang mutlak pentingnya.” (hal. 205)
Secara eksplisit, dalam Lukisan Dorian Gray, Wilde, menuliskan seputar paham estetika. Estetika, muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-19 di Eropa sebagai pergerakan seni, mengajarkan bahwa “seni ada untuk kepentingan keindahannya sendiri” (Anonymous, Aestheticism, 2014) atau “art for art’s sake” yang meninggikan seni di atas segalanya dan bahwa kesenangan dapat ditemukan pada hal-hal yang indah. (Anonymous, Style Guide: Aestheticism). Karya-karya Oscar Wilde sendiri sarat akan filosofi “art for art’s sake” ini.

Hedonisme

Hedonisme awalnya beranggapan bahwa kesenangan adalah pencapaian manusia yang paling penting. Oleh karena itu, sudah seharusnya manusia bertindak untuk memaksimalkan kesenangannya sendiri. Paham ini kemudian menjadi akar munculnya paham libertinisme. Libertinisme tidak mengindahkan norma-norma agama, moral yang diterima masyarakat, dan menganjurkan kepuasan dalam semua hal, terutama seksualitas. Paham inilah yang meracuni kepribadian Dorian, sebagaimana dianjurkan oleh Lord Henry. Bertahun-tahun Dorian menghabiskan masa mudanya untuk bersenang-senang, memanfaatkan ketampanan fisiknya, status keluarga bangsawannya, dan kekayaan hartanya.

Pada abad ke-19, filsuf Inggris, John Stuart Mill dan Jeremy Bentham memperbaiki paham hedonisme, bahwa seharusnya kita mengambil tindakan mana pun yang terbaik untuk semua orang (the greatest good for the greatest number) (Anonymous, Hedonism). Hedonisme model baru inilah yang kemungkinan besar dimaksud oleh Lord Henry.
“Sebuah hedonisme model baru—itulah yang diinginkan oleh abad ini.” (Lord Henry, hal. 47)

Perbedaan Paradigma antara Sybil dan Dorian

Saya ingin membahas sedikit tentang hal ini, karena inilah yang melatari tindakan Dorian meninggalkan Sybil Vane, gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta. Mengapa pemuda yang jatuh cinta terhadap seorang gadis bisa dengan begitu mudah meninggalkan gadis itu?

Semua akibat perbedaan. Ternyata, sejak dulu, alasan klise ini selalu dapat menimbulkan perpecahan dalam suatu hubungan cinta. Dorian, yang terlalu memuja estetika seni, awalnya jatuh cinta terhadap Sybil karena kepiawaiannya berakting. Dalam Lukisan Dorian Gray, Dorian kadang-kadang menyebut Sybil sebagai Juliet, Rosalind[3], atau Imogen[4].
“Malam ini dia berperan sebagai Imogen, dan besok malam sebagai Juliet.” “Kapan dia menjadi Sybil Vane?” “Tidak pernah.” (hal. 79)
Dengan kata lain, Dorian bukan mencintai Sybil Vane, melainkan tokoh-tokoh yang diperankan oleh Sybil di atas panggung. Dorian menganggap bahwa seni lebih tinggi daripada cinta. Sebaliknya, setelah jatuh cinta pada Dorian, Sybil merasa tak bisa lagi berakting dengan baik. Dia merasa bahwa semua yang selama ini ia mainkan di atas panggung adalah semu.
“Kau telah membawakan untukku sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang jauh melampaui keindahan seni. Kau telah membuatku mengerti apa arti cinta. Aku bosan dengan bayang-bayang. Bagiku, kau jauh melampaui keindahan karya seni terbaik. Buat apa aku berpura-pura di atas panggung?” (Sybil Vane, hal. 109)
Pemahaman Sybil terhadap cinta ditolak mentah-mentah oleh Dorian.
“Kau telah merusak romantisme dalam hidupku. Kau bilang cinta telah merusak senimu? Seberapa besar pemahamanmu akan cinta? Tidak ada.” (Dorian, hal. 111)
Sungguh lucu cara berpikir si pemuja seni ini. Dan, ya, saya merasa kasihan terhadap Sybil Vane. Dorian mengaku sebagai penganut paham romantisme, tapi ia tidak melakukan kebaikan bagi orang lain (Sybil Vane). Di satu sisi, ia penganut hedonisme, tapi di sisi lain, ia berusaha berbuat baik, dengan tinggal di pedesaan. Oscar Wilde menciptakan Dorian sebagai simbol dualisme, sebagaimana Jekyll and Hyde karya Robert Louis Stevenson (1886).

Bibliography

Anonymous. (2014, 12 13). À Rebours. Retrieved 3 6, 2015, from Wikipedia: http://en.wikipedia.org/wiki/À_Rebours
Anonymous. (2014, April 3). Aestheticism. Retrieved March 7, 2015, from Encyclopaedia Britannica: http://www.britannica.com/EBchecked/topic/7474/Aestheticism
Anonymous. (n.d.). Hedonism. Retrieved March 7, 2015, from The Basics of Philosophy: http://www.philosophybasics.com/movements_hedonism.html
Anonymous. (n.d.). Style Guide: Aestheticism. Retrieved March 7, 2015, from Victoria & Albert Museum: http://www.vam.ac.uk/content/articles/s/style-guide-aestheticism/
Galitz, K. C. (n.d.). Romanticism. Retrieved March 7, 2015, from The Metropolitan Museum of Art: http://www.metmuseum.org/toah/hd/roma/hd_roma.htm
Wilder, J. B. (2007, April). Defining Romanticism in the Arts. Retrieved March 7, 2015, from For Dummies: http://www.dummies.com/store/product/Art-History-For-Dummies.productCd-0470099100.html


[1] Karakter utama perempuan dalam sandiwara As You Like It karya William Shakespeare.
[2] Anak perempuan Raja Cymbeline dalam sandiwara Cymbeline karya William Shakespeare.
[3] Lukisan Dorian Gray, hal. 26.                          
[4] Pengadilan yang dimaksud adalah tindak lanjut dari penahanan Wilde pada tahun 1895 dengan tuduhan homoseksualitas.

24 January 2015

Resensi "Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kosong"


Judul Buku                     : Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kosong
Penulis                          : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah                   : Dion, Busyra, Amin
Tebal                            : 320 halaman
Penerbit/cetakan            : Laksana/Cetakan I, 2014
ISBN                            : 978-602-296-031-7
Harga                           : Rp 45.000,00
Rating                           :

Ketika memegang buku ini dan bersiap membukanya, waspadalah! Jika yang kau harap adalah cerita detektif yang memecahkan misteri pembunuhan sadis, maka sebaiknya letakkan saja buku ini! Ya, ya, letakkan saja buku ini ketimbang kau kecewa. Tapi, jika kau menyukai teka-teki membingungkan dan ingin tahu proses bagaimana Holmes memecahkannya, kau akan menyukai buku ini! Yah, meski nanti mungkin kau akan mengeluh setelah mengetahui bahwa ternyata penjelasan dari Holmes “ternyata cuma gitu”.

Petualangan di Rumah Kosong adalah salah satu judul dari delapan kisah Sherlock Holmes yang tergabung dalam buku ini, dan tentu saja masih ditulis dengan sudut pandang orang pertama Watson. Mengutip kata pengantar dari penerbit, “Delapan cerita ini kami pilih atas orisinalitas dan keunikan kasus yang ditawarkan, serta pemecahan tak terduga yang digunakan oleh Holmes.”

Saya akan merangkum petunjuk tiap cerita, tapi tenang saja, saya akan tetap menyembunyikan jawaban teka-tekinya. Jadi, cobalah untuk memecahkannya!

Judul
Petunjuk
Misteri Pita Berbintik-bintik
·    Helen Stoner tinggal bersama ayah tirinya, dr. Roylott. Saudari kembarnya, Julia, meninggal dua tahun lalu secara aneh, tepatnya dua minggu sebelum pernikahannya.
·   Sebelum Julia meninggal, kamar tidur dr. Roylott, Julia, dan Helen berjajar berurutan. Setiap dini hari, beberapa hari sebelum meninggal, Julia selalu mendengar suara siulan.
·      Dr. Roylott memelihara macan tutul dan monyet babon. Beliau berteman dengan orang-orang gipsi pengelana yang berkemah di lahannya.
·    Pada malam ketika Julia meninggal, Helen juga mendengar siulan, suara logam jatuh. Sebelum meninggal dengan wajah ketakutan dan tubuh kejang-kejang, Julia berteriak, “Ya Tuhanku! Helen! Ada pita! Pita bintik-bintik!” (hal. 20)
Pengendara Sepeda yang Misterius
·  Violet Smith adalah guru les musik privat bagi anak perempuan Tuan Carruthers.
·  Setiap akhir pekan, ia bersepeda sejauh 9 km untuk mencapai stasiun. Rute bersepedanya melewati jalan kecil yang sepi. Sudah dua minggu, setiap kali bersepeda, ada seorang laki-laki yang membuntutinya, tapi selalu menjaga jarak, dan tiba-tiba menghilang di belokan, padahal tak ada percabangan jalan.
·     Siapakah laki-laki itu? Apa yang dia inginkan?
Misteri Kamar Tertutup di Copper Beeches
·    Violet Hunter mendapatkan pekerjaan yang aneh, dengan gaji yang besar. Ia bertugas menjaga bocah kecil di rumah Copper Beeches. Tapi, selain itu, ia diminta melakukan hal-hal aneh yang diminta oleh majikannya. Berganti pakaian yang dipilihkan sang majikan, duduk dalam sebuah ruangan, membelakangi jendela, dan mendengarkan lelucon majikannya. Atau disuruh membacakan novel.
·    Suatu ketika, Violet tahu bahwa ada seorang pria berdiri di pinggir jalan, mengamatinya lewat jendela ruangan itu.
·     Violet mengamati bahwa ada satu kamar tertutup di lantai dua rumah itu.
Skandal Raja Bohemia

· Raja Bohemia terlibat sebuah hubungan dengan Irene Adler. Wanita itu mengancam akan menyebarkan foto mereka berdua, yang akan menimbulkan skandal dan membahayakan posisi raja. Raja sudah berusaha dua kali mencuri foto itu dari rumah Irene, tapi tak berhasil.
·  Bersama Watson, Holmes melakukan rencananya untuk mengetahui di mana foto itu disembunyikan. Tapi, baru sekali itu Holmes dikelabui seorang wanita.
Kasus Terakhir
Puncak persaingan sengit antara Holmes dengan penjahat genius, Profesor Moriaty. Mereka berdua sempat beradu kekuatan sebelum terjatuh bersama-sama ke jurang. Holmes menghilang (meninggal?) hanya dengan meninggalkan selembar surat untuk Watson.
Petualangan di Rumah Kosong
·   Ronald Adair meninggal akibat tembakan misterius. Saat meninggal, ia berada di dalam kamarnya yang terkunci dari dalam. Hanya jendelanya yang terbuka karena ia merokok. Saat tertembak, ia sedang menghitung uang hasil main kartu. Diketahui bahwa ia tergabung dalam beberapa klub kartu, dan terakhir kali ia bermain kartu bersama Kolonel Moran.
Perserikatan Orang Berambut Merah
· Wilson memiliki rambut merah asli yang menawan, sehingga Spaulding, karyawan toko pegadaiannya, mendorongnya agar melamar sebuah pekerjaan yang ditawarkan oleh Perserikatan Orang Berambut Merah. Berkat rambutnya, Wilson mendapatkan pekerjaan itu. Dia hanya diminta bekerja dari pukul 10 pagi sampai pukul 2 siang; pekerjaannya adalah menyalin Ensiklopedia Britannica secara manual.
·  Lalu, tiba-tiba perserikatan itu dibubarkan, yang artinya sesuatu yang besar akan terjadi.
Misteri Noda Kedua
· Holmes didatangi Perdana Menteri Inggris bersama sekretarisnya. Sebuah dokumen penting dan rahasia yang disimpan oleh sang sekretaris dalam kotak terkunci di kamarnya.
·  Salah satu dari tiga agen internasional yang dicurigai Holmes sebagai tersangka, meninggal karena dibunuh, pada malam yang sama dengan hilangnya dokumen itu.

Ketimbang versi terjemahan Anjing Iblis dari Baskerville yang saya resensi beberapa waktu lalu, terjemahan Petualangan di Rumah Kosong ini lebih nyaman dicerna, selain kesalahan penulisannya juga jauh lebih sedikit. Namun, saya terganggu dengan beberapa penulisan tahun kejadian, yang saya rasa tidak tepat. Kisah-kisah Holmes berlatarkan waktu akhir abad 19 sampai awal abad 20. Tapi, misalnya, pada Skandal Raja Bohemia, sang raja mendatangi Holmes pada tanggal 20 Maret 1988, dan Irene Adler lahir tahun 1958…. Hmm, mungkin seharusnya 1888 dan 1858? Karena kisah itu berlangsung setelah Watson menikah, dan di Kasus Terakhir (setelah Watson menikah juga), Watson menyebutkan tahun 1890-1891.

Saya juga menemukan kejanggalan lain, dalam kisah Perserikatan Orang Berambut Merah. Ketika Wilson mendatangi Holmes, ia menunjukkan iklan di koran tentang pekerjaan untuk orang berambut merah, dan koran itu bertanggal dua bulan yang lalu (27 April 1890). Wilson juga bercerita bahwa ia sudah bekerja selama delapan minggu sebelum tiba-tiba perserikatan itu dibubarkan. Berarti, seharusnya, tanggal pembubaran itu sekitar bulan Juni, bukan? Tapi, anehnya, tertulis tanggal pembubarannya adalah 9 Oktober 1890.

Meskipun begitu, saya tetap menikmati petualangan Holmes dan Watson, yang diceritakan secara aktual dengan sudut pandang Watson. Saya meringis beberapa kali, tiap Watson mencoba menarik kesimpulan dari petunjuk-petunjuk yang ada, tapi nyaris selalu gagal. Saya kagum akan tokoh Watson, yang tetap sabar dan setia menjadi sahabat Holmes satu-satunya. Padahal, kalau menurut orang lain, Holmes bukanlah sosok sahabat yang baik. Namun, di beberapa titik, saya menemukan bahwa persabatan mereka cukup manis.

Membaca kisah Sherlock Holmes juga memperkaya saya akan wawasan nilai yang baru.



Wajib baca, deh, buat para penggemar Holmes! ^^


bloggerwidgets