19 November 2015

[Resensi COMEDY APPARITION] Drama Keluarga dan Percintaan Unik Penyihir Modern


Judul: Comedy Apparition
Penulis: Ginger Elyse Shelley
Editor: Diara Oso
Penerbit: Laksana
Cetakan: I, 2015
Tebal: 244 halaman
ISBN: 978-602-7933-87-3
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 3/5

Hari-hari pertama Stephen bersekolah di Brooke High, setelah kepindahannya di Bayfield Hallway nomor 34 B, diwarnai serentetan kejadian mencengangkan, terlebih sejak berkenalan dengan Cameron Seer. Laki-laki tampan, berperawakan kurus, dan kalem itu mengenalkannya akan siapa sebenarnya keluarga Seer, yang selama ini dikenal aneh.
"Kami penyihir." (Cameron, hal. 53)
Memang, tak mungkin Stephen tak terkejut. Namun, dengan cukup cepat, ia mampu menerima kenyataan itu. Yah, sebelumnya ia sudah curiga akan kejadian ajaib yang dilakukan Cameron di kelas. Malah, yang membuatnya tak percaya adalah ketika Cameron berkata,

"Aku tidak bisa sihir." (hal. 57)
Di antara sepuluh anak keluarga Seer, Cameron dan Rouscha paling berbeda. Mulai dari warna rambut (yang merah) hingga ketidakkerenan sihir mereka. Makin lama, Stephen makin dekat dengan Cameron dan keluarga Seer secara keseluruhan, terutama Rouscha. Stephen juga tahu bahwa Cameron gay, bahkan dialah yang membantu Cameron memastikan orientasi seksualnya.
"Kau tahu, kata mereka, cara paling cepat untuk mengetahui perasaanmu pada seseorang adalah mencium mereka." (Stephen, hal. 45)
Hari itu adalah pertama kalinya Stephen berciuman dengan laki-laki. Ia merasakan getaran aneh saat bersentuhan dengan Cameron. Ia masih normal, kan?

***

Saya tahu kalian pasti sangat tertarik akan elemen homoseksualisme dalam novel ini, tapi sayangnya (sengaja), saya akan memulai ulasan dengan memperkenalkan keluarga Seer.

The Seers


Keluarga Seer terdiri dari 12 orang, dengan Wolf Seer sebagai kepala keluarga, dan Galleg Seer, istrinya yang sangat kurang keibuan. Mereka memiliki sepuluh anak, secara berurutan mulai dari tertua sampai termuda: Harvard, Rex, Luther, Moss, Pinerose, Craish, Cameron, si Kembar Rocca dan Rouscha, dan Luca. Wolf Seer adalah seorang dosen filosofi di Universitas Parker. Galleg, adalah seorang novelis yang novelnya tidak laku. Nyaris tiap hari ia begadang, sehingga seringnya ia lebih tampak seperti zombie daripada seorang ibu. Harvard lah, si putri sulung, yang menggantikan Galleg sebagai ibu rumah tangga. Harvard sudah 32 tahun dan belum menikah, bekerja sebagai resepsionis di klinik miliki si dokter gigi membosankan, Irving Whittman. Rex, si cowok kutu buku yang bekerja di pustakawan, agak mirip Harvard saat sekolah: kalem, rajin, penurut.

Selanjutnya, kita masuk ke ulasan tentang anak-anak Seer yang populer: Luther, yang populer di kalangan cewek-cewek, dan adalah seorang jurnalis; dan Pinerose, yang populer di kalangan cowok-cowok, dan sedang kuliah. Anak cewek kedua setelah Harvard adalah Moss, yang bekerja sebagai guru. Selanjutnya, Craish, adalah cowok badung di sekolah, yang suka mengintimidasi anak-anak lain, termasuk Stephen ketika pertama kali mereka bertemu. Nah, selanjutnya, Cameron dan Rouscha adalah duri dalam daging di keluarga Seer, karena mereka berbeda. Mengenai itu, Cameron tidak memperlihatkan kegalauannya, dari luar ia terlihat baik-baik saja. Ia juga orang yang tidak mengenal basa-basi, dengan cara pikir yang cukup filosofis, misalnya filosofinya tentang homoseksualitas (hal. 59).

Rouscha juga merupakan tokoh yang cukup penting dalam novel, setelah Cameron dan Stephen. Ia gadis yang pintar, seperti kembarannya, suka menyendiri sambil membaca buku, dan berpenampilan vintage. Ia suka bergaya klasik, dengan "turtleneck hitam, rok lipit merah tua, blazer tweed, legging hitam panjang, dan sepatu Mary Jane hitam" (hal. 128). Berikutnya, Rocca, adalah penemu jenius, yang sedang mengembangkan penggunaan lemak ayam sebagai penghasil energi. Setiap kata-kata yang ia lontarkan bagaikan ensiklopedia. Luca, adalah paket komplit para gadis Seer: cantik, pintar olahraga, pintar akademis, dan lain-lain, kecuali emosinya yang kurang terkontrol.

Saya mengapresiasi bagaimana penulis menggambarkan tiap anggota keluarga Seer dengan karakter spesifik yang beragam dan unik. Secara keseluruhan, keluarga mereka mengusung prinsip demokrasi dan nyantai. Bayangkan bagaimana reaksi orang tua kalian jika kalian mengaku homo/lesbi? Kemungkinan besar tidak akan selempeng reaksi keluarga Seer.


Cameron: Mom, bolehkah aku jadi gay?
Galleg: Kenapa? Ada tugas penelitian?
Cameron: Sepertinya aku gay.
Galleg: Oh.
Wolf: Apakah cowoknya anak dokter itu? Dia lumayan oke, tapi aku harap kau cari cowok yang lebih ganteng darimu.
(hal. 38)

Penyihir Modern

Keluarga Seer punya kebiasaan-kebiasaan unik: membakar api unggun tiap sore, untuk mengantar serigala pulang. Jam 3 sampai 5 sore dikenal sebagai Waktu Serigala. Serigala adalah metafora dari matahari. Sebagai penyihir modern, mereka hanya menggunakan sihir kalau lagi kepengin saja, tapi menggunakan sihir secara besar-besaran saat Halloween dan Day of Death (jadi teringat adegan awal Spectre). Saat upacara perayaan Halloween, mereka melibatkan serangkaian ritual yang agak mengerikan, seperti memarut paruh burung gagak, menguliti kucing hidup-hidup sebelum direbus sampai jam tiga pagi.

Umumnya penyihir berbakat memainkan alat musik. Maka dari itu, tak mengherankan bahwa musik menempati porsi besar dalam novel ini. Banyak adegan keluarga Seer sedang memainkan musik, termasuk Cameron yang permainan selonya membuat Stephen menangis.

Dalam dunia penyihir modern, ada istilah "titipan", yang digunakan untuk menyebut "penyihir yang hidup bersama keluarga muggle", dan kadang ia tidak tahu kalau ia penyihir. Contohnya, Landon Clyde dan Anne Nightingale.

Semua orang Berpasangan

 


Novel ini memang bergenre fantasi, tapi kisah percintaan mendominasi. Awalnya, kisah cinta Cameron menjadi pusat gravitasi cerita, mulai dari pengakuan bahwa ia gay, dikecewakan oleh Brayton, si gay teman Luther, yang sebelumnya mendekati Cameron, tapi ternyata sudah punya pacar, sampai kesadaran akan kemampuan sihirnya. Hubungannya dengan Stephen, terutama adegan romantis antara mereka berdua, meski gay, tapi terasa manis. Mungkin karena Cameron dalam bayangan saya adalah cowok cantik, yang parasnya seperti perempuan, jadi secara tidak sadar saya membayangkan Cameron cewek. Haha. Nah, mengejutkannya, penulis menciptakan twist mini tentang hubungan Cam-Stephen ini. Awalnya saya kira makin ke belakang, novel ini akan makin jadi bergenre gay-romance, karena saya mengira Stephen benar-benar telah jatuh cinta pada Cameron dan mereka akan jadian... Eh, ternyata... Haha.

Menjelang pernikahan Rex dan Evey, semua anak Seer mendapatkan pasangan masing-masing. (Well, kecuali Cameron, yang baru mendapatkan pasangan di akhir cerita.) Bahkan, Luca, si bungsu berumur sebelas tahun pun telah bertemu dengan jodohnya, Landon Clyde. Meski mereka masih remaja, adegan di antara mereka berlangsung romantis, malah terlalu romantis untuk bocah sebelas dan dua belas tahun. Terlebih adegan ketika Landon meminta Luca mengintip ke dalam asap untuk melihat suaminya di masa depan, yang ternyata adalah Landon.

Homoseksualitas, Salah Satu Perbedaan


Melalui homoseksualitas Cameron, penulis ingin menghadirkan dunia yang agak ramah bagi orang homo. Orang-orang di sekitarnya, terutama keluarganya, menerima orientasi seksual Cam dengan cukup mudah. Memang, sih, setting-nya di AS, jadi tidak mengherankan kalau orang homo diterima dengan relatif lebih baik ketimbang di Indonesia.  Namun, homoseksualitas hanyalah sajian isu pembuka. Penulis mengulik hakikat mendalam tentang perbedaan.

Pertama, menghadirkan keluarga penyihir sebagai tokoh utama, yang berbeda dengan para muggle di sekitarnya (saya meminjam dulu peristilahan a la Harry Potter). Mereka menghadapi desas-desus antara rasa takut dan ingin tahu dari para tetangganya dengan cuek. Dikisahkan bahwa para tetangga menyuruh anak-anak mereka menjauhi rumah Seer. Well, kecuali Haegel, karena mereka penghuni baru Bayfield Hallway. Tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda. Kedua, di antara sesama penyihir pun, terdapat perbedaan. Di keluarga Seer, Cameron dan Rouscha adalah dua anak yang kemampuan sihirnya paling ecek-ecek dan warna rambutnya berbeda dengan yang lain. Namun, pada akhirnya, mereka bisa menemukan kemampuan sihirnya sendiri.

"[...] selalu ada imbalan menyenangkan bagi mereka yang mampu menerima perbedaan dengan lapang dada." (hal. 237)
Stephen Haegel, Evey Hayer, Mary Kate, adalah contoh orang-orang yang mampu menerima perbedaan yang dimiliki keluarga Seer dan memperlakukan mereka dengan baik.

Lokal yang Kebarat-baratan


Berlatarkan Amerika Serikat, kehidupan sebuah keluarga penyihir dikuak. Gaya bahasa penulis, yang benar-benar seperti gaya novel terjemahan, sangat mendukung terciptanya atmosfer kebarat-baratan. Selama membaca, saya nyaris lupa kalau novel ini karangan penulis lokal, lho. Bahasa obrolan ringannya pun terasa seperti obrolan khas bocah gaul AS.

Stephen:
Kau janji tidak akan menceritakannya kepada siapa-siapa? Bahkan ketika aku jadi bintang film terkenal? Hmm..., dan kalau bisa, jangan naksir aku, ya? Sepertinya aku suka perempuan...
Cameron:
Nggaaak... Nggak bakal kalau kau nggak bersedia pacaran denganku juga. Malas banget naksir cowok yang suka cewek. Aku kan nggak punya dada.
(hal. 46)
Siren. Sumber di sini.
Jenis guyonannya pun khas Barat. Contohnya adalah ketika penulis menarasikan mengapa Luca Seer mengamuk di pesta ketika ada yang menyeletuk, "Skywalker!". Nama tengah Luca adalah Anakin, akibat kegilaan Wolf (ayah Luca) akan Star Wars. (Anakin Skywalker adalah nama salah satu tokoh laki-laki di Star Wars, yang juga dikenal sebagai Darth Vader).

Tidak mudah membangun nuansa sihir/fantasi di tengah setting dunia nyata, atau yang biasa disebut sebagai genre low fantasy (bisa juga disebut sebagai urban fantasy karena berlangsung di dunia nyata modern), sehingga setiap komponen bahasa harus mendukungnya. Selain kejadian-kejadian ajaib sehari-hari, dan sihir besar-besaran saat Halloween, penulis juga menggunakan berbagai istilah-istilah dunia fantasi, seperti makhluk kelpie, siren, peri sugarplum (hal. 29)


Kelpie. Sumber di sini.


Sugarplum fairy. Sumber di sini.



Tak hanya istilah fantasi, penulis juga menyertakan berbagai nama makanan a la Barat, seperti colcannon dan croquembouche. Colcannon ini juga nama lain dari lagu "The Little Skillet Pot", yang muncul dalam novel di halaman 128.




Komponen lain dari gaya penulisan Kak Ginger yang penting untuk diulas adalah teknik penyajian cerita dan perumpamaan-perumpamaan yang unik. Pertama, teknik penyajian yang saya maksud adalah caranya menuliskan judul tiap bab, yang ditulis dari sudut pandang Stephen. Contohnya, "Bagaimana Caranya Mengetahui Kebenaran Keluarga Seer", mengisahkan kala pertama Stephen mengetahui bahwa keluarga Seer adalah penyihir. Kedua, penggunaan perumpamaan yang cukup unik.

"Dia seratus persen normal kecuali kerlip di matanya yang tampak kadang-kadang seperti ada peri Sugarplum menari keluar ketika ia berkedip dan seberkas percikan debu peri yang membuncah kalau dia tersenyum."

"Pria itu mengedipkan matanya yang terpicing mengantuk, tampak seperti selapis kabut melayangi matanya yang seperti potongan langit, yang mengingatkan Stephen akan makhluk kelpie di danau atau siren yang sedih."
(Dua kalimat perumpamaan panjang, yang unik dan spesifik, sangat mendukung atmosfer dunia sihir yang dibangun penulis, hal. 29.)


"Langit sore tampak seperti perasan jeruk dan busa susu. Matahari tampak seperti jeruk darah yang terbenam..." (hal. 35)
(Perumpamaan ini sebenarnya cute, tapi yang terakhir agak maksa--jeruk darah itu apa dan bagaimana? Tujuan penggunaan perumpamaan, kan, seharusnya agar pembaca bisa membayangkan sesuatu dengan lebih mudah.)

"Gadis itu memiliki mata persis seperti gadis dalam bayangannya ketika mendengar lagu yang dimainkan Cameron, seperti air tawar yang sedih." (hal. 78) (Seperti apa air tawar yang sedih?)

"Ada lebih banyak kulit udang di pastamu daripada yang ada di perekat luka!" (Morgan, hal. 168) (Sepertinya jarang, ya, orang menggunakan perekat luka untuk kulit udang?!)
"Matahari sudah turun di arah barat seperti kuning telur diberi pewarna jingga yang digantungkan di pinggir diorama dan bayangan-bayangan benda menjadi panjang seperti pria kelainan." (hal. 182) (Pria kelainan--kelainan seperti apa? Perumpamaan ini akan lebih tajam jika kalimatnya berhenti setelah "diorama".)
(Ketiga perumpamaan di atas juga bikin saya bingung.)

Memang, Comedy Apparition penuh dengan hal-hal ajaib, tapi bukan berarti miskin pengetahuan ilmiah, lho. Melalui tokoh Rocca dan Morgan (serta Rouscha dan Cameron, yang juga pintar), penulis memaparkan banyak hal-hal tentang sains dan filosofi. Contohnya, filosofi bunga teratai di hal. 87;  penjelasan ilmiah Rocca tentang aktivitas ciuman untuk pelepas stres (hal. 162).

Terakhir, saya menemukan beberapa keganjilan pemilihan diksi, sebagai berikut.

"...pegangan kayu yang dipelitur mengkilap oleh kolega-kolega Wolf Seer yang ingin mendapat IPK bagus." (hal. 23) (Kolega? Menurut saya, lebih cocok jika "kolega" diganti dengan "mahasiswa".)
Selain itu, penulis kerap tergelincir dalam penggunaan kata "hirau" dan "acuh". Di sepanjang isi novel, penggunaan kedua kata tersebut selalu kurang benar. (Bagaimana, Editor? Ehehe ^^v) Contohnya:

1. [...] Luca sedikit dihiraukan selama berbulan-bulan menghadapi pernikahan. (hal. 180)
2. [...] dan memang, mereka agak mengacuhkan si kecil selama berminggu-minggu ini. (hal. 189)

Artinya menjadi berkebalikan dengan arti sebenarnya dari kata "hirau" dan "acuh". Menurut KBBI,
1. hirau, menghiraukan = v memedulikan; mengacuhkan; mengindahkan; memperhatikan: ia tidak ~ nasihat orang tuanya
2. acuh = v peduli; mengindahkan: ia tidak -- akan larangan orang tuanya; 
tak acuh = tidak menaruh perhatian; tidak mau tahu;
mengacuhkan = v memedulikan; mengindahkan: tidak seorang pun yg ~ nasib anak gelandangan itu.

Comedy Apparition, dengan segala elemen mistis dan petualangan cintanya yang manis, serta kehangatan keluarga yang didambakan banyak orang, cocok dibaca saat sedang galau di kala hujan turun di luar kamar kos, perut kelaparan dan tak ada makanan. (Yang ada malah makin delusional akibat kisah manis antara Stephen--Rouscha, atau malah Stephen--Cameron.)

"Siapa yang tahu bagaimana menjelaskan cinta. Kalau seorang tidak tahu, kemudian mendefinisikan ketidaktahuan itu sebagai cinta, betapa absurd cinta itu untuk bahkan bertahan di dunia jelas seperti ini." (Cameron, hal. 109)
"Kau tahu, mereka bilang cinta itu datang dan pergi, kan? Bagiku sih, semuanya cuma kunjungan singkat salah rumah." (Cameron, hal. 208-09) (Di sini, Cam terdengar sangat pesimis akan cinta, ya?)
Terakhir, hampir lupa, Cameron adalah tokoh favorit saya, dengan segala kekalemannya yang menyembunyikan gelegar petir dalam hatinya. Selain ketampanannya, tentu saja, haha. Sementara itu, pasangan favorit saya adalah Rocca dan Morgan, yang nyaris tak pernah berhenti adu argumen ilmiah. Gaya pacaran mereka berdua sepertinya akan mendorong perkembangan intelegensi dan prestasi akademik. Haha.

Sepertinya saya memberikan resensi positif akan buku ini, tapi mengapa saya hanya memberi rating 3 bintang? Tak lain, karena perkembangan cerita tidak seperti yang saya ekspektasikan. Saya belum siap ketika ternyata penulis menitikberatkan cerita pada kisah percintaan masing-masing anggota keluarga Seer.
Reaksi:

13 comments:

  1. Pesona Comedy Apparition itu Cameron Seer.Tapi secara keseluruhan ceritanya memang menarik.Tak banyak novel yang mengangkat sosok gay.Dan menurut saya kehadiran Cameron Seer lah yang membuat kisah ini lain daripada yang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, saya setuju dengan pendapat Anda. Tapi sekarang banyak, lho, novel yang mengangkat tokoh utama gay ;)

      Delete
  2. Pernah sih baca novel yang angkat isu LGBT, tapi yang kemarin itu romance dan family banget. Kalo yang ini dimix sama sihir ala Harry Potter, walah tidak terbayangkan nih...

    Saya malah pengen mengusulkan di proyek selanjutnya, Mbak Ginger ini untuk menuliskan novel fantasi sihir ala indonesia banget. Yah, dari segi nama keluarga, nama tokohnya, settingnya... pokoknya "lokal" abizz.

    Hahahaha, malah nantangin ya.. biarin ajalah. Biar seru..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin nanti novel fantasinya dari mitos khas Indonesia, ya Adin, kayak kisah Bondowoso membangun 1000 candi hehe

      Delete
  3. Wah, bahasannya panjang banget dan seru. Jadi pengen baca novel ini deh. Apalagi penulisnya dari Indonesia ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga Vinia berjodoh dengan Comedy Apparition ;)

      Delete
  4. Tentang sihir, LGBT, punya banyak karakter. Jadi penasaran pengen baca...

    ReplyDelete
  5. Berhubung isu LGBT lg hangat2nya, ini juga cocok dijadikan bacaan untuk saat ini. Dan resensi ini cukup jelas memberikan gambarannya, beserta kekurangannya pula. Aku semakin penasaran dg kisah Stephen dan Cameron. Dan ingin tahu bagaimana Cameron menghadapi kehomoseksualannya :)

    ReplyDelete
  6. Wah, isu LGBT disandingkan dengan fantasi...??? Hmmm... menarik sekali. Selain itu saya tertarik dengan keluarga besar Seer ini soalnya unik apalagi bagian dimana Cameron minta ijin jadi gay... Astaga, absurd banget itu... hahah...

    Semoga bisa baca buku ini... :D

    ReplyDelete
  7. Cameron: Mom, bolehkah aku jadi gay?
    Galleg: Kenapa? Ada tugas penelitian?
    Cameron: Sepertinya aku gay.
    Galleg: Oh.
    Wolf: Apakah cowoknya anak dokter itu? Dia lumayan oke, tapi aku harap kau cari cowok yang lebih ganteng darimu.

    Hahahahah...
    baca review percakapan ini pengin ketawa... :D
    Orang tuanya klop banget.. *Cucokk...
    Kocakk :D :D :D

    Wahh GAY yaa..
    belum pernah baca novel yg membahas ttg Gay.. jd pengin punya novel ini.. heheh

    ReplyDelete
  8. jeruk darah itu ya jeruk darah. jeruk yang daging buahnya berwarna oranye-kemerahan seperti darah. sanga penulis mengibaratkan matahari merahnya mataharai terbenam seperti jeruk darah. coba googling "jeruk darah"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terima kasih, Ferina atas informasinya :D

      Delete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets