7 March 2015

[Resensi LUKISAN DORIAN GRAY] Aku Ingin Tetap Muda Selamanya



Lukisan Dorian Gray bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!).

Bulan Februari kemarin tanpa sengaja menjadi bulan sastra bagi saya. Ada lima karya sastra yang saya baca bulan itu (meski ada yang belum selesai). Tiga berupa kumpulan cerpen (Rashomon and Other Stories oleh Ryunosuke Akutagawa, The Steppe and Other Stories oleh Anton Chekov, dan Yang Hidup dan Mati oleh Rabindranath Tagore). Dua lainnya adalah novel, yaitu Lolita karya Vladimir Nabokov (yang belum selesai sampai sekarang) dan novel ini. Menariknya, dalam kelima karya sastra itu, saya menemukan benang merah yang tebal bertuliskan kritik sosial dan kemunduran moral.

Lukisan Dorian Gray diterjemahkan dari dari The Picture of Dorian Gray terbitan Penguin Books tahun 1994, yang masih terdiri dari 13 bab. Edisi ini merupakan terbitan ulang dari versi pertamanya yang diterbitkan pertama kali sebagai cerita berseri pada Juli 1890 oleh Lippincot’s Monthly Magazine. Oleh beberapa kritikus, karyanya dianggap merusak moral orang Inggris. Wilde kemudian merevisi bagian-bagian yang dianggap terlalu vulgar, dan menambah alur sehingga menjadi 20 bab. Termasuk menambahkan tokoh James Vane, kakak Sybil Vane, yang sangat protektif terhadap adiknya dan berniat membalas dendam pada Dorian. Versi revisi berbentuk novel ini diterbitkan pertama kali pada April 1891.
*** 
 “Betapa menyedihkan! Aku akan semakin menua dan jelek, juga buruk rupa. Tapi, lukisan ini selamanya akan tetap muda.... Seandainya aku bisa tetap selalu muda, dan seandainya lukisan ini saja yang menua, bukannya aku! Seandainya bisa begitu, seandainya bisa seperti itu—aku rela memberikan segalanya. Ya, tidak ada hal lain yang kuinginkan di dunia ini melebihi keinginanku tersebut.”(Dorian Gray, hal. 53)
Betapa satu hari saja bisa mengubah kepribadian orang! Dorian Gray, pemuda yang diberkati dengan ketampanan luar biasa dan kebaikan jiwa yang cemerlang, mendadak berubah menjadi pemuja estetika dan hedonisme era Victoria! Salahkan Lord Henry Wotton yang pertama kali bertemu Dorian di studio Basil Hallward pada bulan Juni. Kala itu, Dorian datang ke studio untuk menjadi model lukisan Basil. Salahkan Lord Henry atas ceramahnya selama beberapa jam  tentang dogma-dogma dan pengaruh buruknya!
 “Gunakanlah masa muda mumpung kau masih memilikinya. Menurutku, sungguh sebuah tragedi jika kau menyia-nyiakan anugerahmu.Karena masa muda hanya bertahan tidak lama...”(Lord Henry, hal. 47)
Satu bulan setelahnya, Dorian jatuh cinta pada seorang artis opera, Sybil Vane, dan berniat akan menikahinya. Dorian lalu mengajak Hallward dan Lord Henry menontonnya, tapi betapa kecewa dirinya karena akting Sybil Vane sangat jelek malam itu. Awalnya, Dorian jatuh cinta padanya karena ia sangat jenius dalam memerankan peran apapun, sehingga Dorian begitu kecewa dan meninggalkannya ketika aktingnya menjadi jelek. Malam itulah, pertama kali Dorian menyadari bahwa lukisannya berubah rupa menjadi mengerikan, seolah menanggung dosanya.

Seolah belum cukup mengubah Dorian, suatu saat Lord Henry mengiriminya sebuah novel Perancis yang berkisah tentang seorang pemuda Perancis dan perbuatan-perbuatan dosanya. Buku  berhasil meracuni Dorian, bahkan mungkin menjadi semacam panduan hidupnya. Bertahun-tahun berikutnya, Dorian menghabiskan masa mudanya dengan perbuatan-perbuatan amoral dan hedonistis. Hingga suatu malam, ketika Hallward mengunjunginya untuk mengonfirmasi gunjingan-gunjingan miring orang-orang terhadapnya, Dorian tak tahan lagi. Ia menunjukkan pada Hallward lukisan karyanya yang berubah menjadi sangat mengerikan. Ia merasa Hallward-lah yang harus bertanggung-jawab atas kerusakan moralnya.
“Lukisan itulah yang telah menghancurkanku.”(Dorian Gray, hal. 228)

Karakter Lebih Signifikan daripada Alur


Kekuatan karakter menjadi pilar utama yang membangun karya sastra ini. Wilde tidak terlalu memfokuskan ceritanya pada alur. Berupa alur maju, Wilde menciptakan alur yang padat dari bab pertama sampai kedelapan. Meskipun ada jarak setting waktu yang cukup lama antara bab tiga dengan bab sebelumnya, Wilde telah mengubah kepribadian tokoh utamanya dalam sekejap.  Inilah yang saya maksud dengan padat. Menginjak bab 9, saya terserang kebosanan parah. Satu bab yang tidak tipis itu hanya berisi narasi tentang ilmu-ilmu yang dipelajari Dorian selama bertahun-tahun kemudian. Seolah Wilde hendak mengatakan, “Lihatlah, betapa banyaknya hal yang ia kuasai!”Cobalah hilangkan bab 9 ini, maka cerita tetap akan berjalan dengan mulus, dan bahkan lebih bagus karena pembaca tak harus mengalami kebosanan berkepanjangan.

Ada tiga karakter inti dalam novel ini. Pertama, tentu saja Dorian. Dorian yang awalnya berjiwa bersih dengan mudahnya menjadi pemuja keindahan fisik di atas segalanya, hanya akibat terseret pengaruh Lord Henry. Tak heran Dorian semudah itu terpengaruh, lantaran Lord Henry adalah karakter pria dogmatis, berwawasan luas, terutama tentang psikologi dan filsafat. Ia pandai berkata-kata, sehingga dengan mudah menyihir orang lain. Lucunya, ia sendiri sadar bahwa pengaruh yang ia bawa itu buruk, tapi tetap menggencarkannya.

Dorian            : Benarkah Anda ini membawa pengaruh buruk, Lord Henry?
Seburuk yangdikatakan Basil?
Lord Henry     : Tidak ada itu yang namanya pengaruh yang baik, Tuan Gray.
Semua pengaruh itu sejatinya tidak bermoral… Karena dengan mempengaruhi seseorang berarti kau telah memberikan satu jiwa yang baru kepadanya. Dia tidak lagi berpikir sebagaimana dirinya….
(hal. 37)

Ia menjunjung tinggi estetika dan hedonisme. Hidupnya untuk bersenang-senang dan tidak memedulikan aturan. Namun, saya agak tersakiti membaca perkataannya yang secara eksplisit menjelaskan kedudukan wanita di bawah pria.
“Sahabatku yang baik, tidak ada wanita yang genius. Wanita hanyalah hiasan bagi pria. Mereka suka omong kosong, tetapi omong kosong itu mereka sampaikan dengan begitu menggoda. Wanita melambangkan penguasaan bendawi terhadap akal budi, sebagaimana pria yang melambangkan kemenangan akal budi terhadap moralitas… Dalam hal percakapan, hanya ada lima wanita di London yang layak untuk kita ajak mengobrol, padahal dua di antara mereka tidak diakui sebagai warga masyarakat yang terhormat.” (Lord Henry, hal. 67-68)
Juga pemikirannya tentang pernikahan.
“…salah satu hal yang menarik dari hidupku adalah bahwa pernikahan memungkinkan kedua belah pihak untuk saling berahasia.” (Lord Henry, hal. 14)
Sehingga Basil, si tokoh yang paling lurus hidupnya, merespons, “Aku tidak suka dengan caramu membicarakan kehidupan pernikahanmu, Harry.” (hal. 15). Ya, aku juga tidak suka, Harry. Cara berpikir dan bersikap yang dimiliki Basil ini bisa dibilang terlalu kaku, saking idealnya. Sebagai seorang pelukis, ia sering mengurung diri dalam studio untuk menyelesaikan karyanya, sehingga hidupnya sangat tertutup. Ia hanya memiliki sedikit teman. Beda sekali dengan Dorian atau Lord Henry, yang bisa dibilang “pria gaul Inggris”. Tapi saya mengagumi kelurusan prinsip hidup Basil, sehingga ia tidak terpengaruh ceramah Lord Henry, maupun kelakuan Dorian. Ia juga gambaran pria yang berhati lembut.

Keindahan wajah Dorian telah membawanya ke aliran seni yang baru, dengan semangat romantisme (hal. 26). Sikap Basil terhadap Dorian mengisyaratkan kesan homoseksualitas. Inilah salah satu sebab mengapa para kritikus zaman dulu mencaci karya Wilde.
“Aku harus mengakui bahwa diriku tergila-gila kepadamu, memujamu begitu rupa sampai sedemikian tidak masuk akal. Aku cemburu dengan setiap orang yang kau ajak bicara. Aku ingin memiliki dirimu seutuhnya.” (Basil Hallward, hal. 156)

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Dorian?

Setelah sampai pada halaman data diri penulis, saya masih bertanya-tanya, “Apa yang sebenarnya dilakukan Dorian sampai orang-orang mengecapnya sebagai simbol amoralitas zaman itu?” Bukannya saya yang telat mikir atau bagaimana, tapi nyatanya Wilde tidak menunjukkan tingkah buruk Dorian, tapi hanya mengatakannya berulang-ulang. Ia tak menceritakan secara spesifik perbuatan apa saja yang dilakukan Dorian. Ya, kecuali kasus Sybil Vane. Juga ketika Dorian meninggalkan Hetty Merton. Dengan bangganya ia merasa telah melakukan perbuatan baik karena meninggalkan (memutuskan) Hetty tanpa menodai kesuciannya. Oh my gosh!

Informasi paling jelas tentang kelakuan amoral Dorian hanya saya dapatkan dari kata-kata Basil, ketika ia hendak memastikan dari Dorian sendiri, apakah selama ini tuduhan-tuduhan buruk terhadap Dorian itu benar.
“Dorian, Dorian, reputasimu sungguh jelek.” (Basil Hallward, hal. 219)
Dari situ, saya tahu bahwa kelakuan buruk Dorian telah menyebarkan pengaruh buruk juga pada teman-temannya, sehingga mereka juga turut melakukan hal buruk. Karena itulah, mereka menjauhi Dorian, bahkan ada yang sampai bunuh diri.
“Kukatakan kepadanya bahwa hal itu tidak mungkin,… bahwa kamu tidak mungkin melakukan hal-hal sekeji itu. Kau tahu? Aku ragu apakah aku memang sudah mengenalmu.” (Basil Hallward, hal. 221)
Tapi, lagi-lagi, apa yang sebenarnya Dorian lakukan? Seperti Basil, saya juga ragu telah mengenal Dorian, bahkan sampai saya menamatkan buku ini.

Nah, saya juga penasaran, apa isi surat yang digunakan Dorian untuk mengancam Campbell agar memenuhi permintaannya?

Bukan Penutup

Novel sastra gotik ini sangat menarik untuk dibaca. Dengan nuansa gelap dan misterius yang selalu membuat saya bertanya-tanya, buku ini mengikat perhatian saya sampai lembar terakhir (kecuali bab 9). Di luar segala kekurangannya, (termasuk inkonsistensi Wilde, ketika ia tiba-tiba menginterupsi cerita bersudut-pandang orang ketiga dengan muncul sebagai “aku” di tengah narasi pada halaman 205. “Apakah memiliki karakter yang tertutup adalah hal yang begitu memalukan? Kurasa tidak.”), novel ini layak dinikmati. Apalagi nilai-nilai moral yang diutarakan Wilde adalah pelajaran berharga. Lewat karakter utamanya yang memuja keindahan dan penganut hedonisme, Wilde menyiratkan pelajaran bahwa:

Picture source here, quote and editing by me.

Picture source here, quote and editing by me.


Ini bukan penutup, karena saya masih bertanya-tanya, buku bersampul kuning yang meracuni Dorian itu sebenarnya buku apa? Jika kau juga ingin tahu, temukan jawabannya di sini.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets