Showing posts with label detektif. Show all posts
Showing posts with label detektif. Show all posts

9 November 2015

[Resensi TELEPON MISTERIUS] Halo, Kau akan Meninggal Besok Lusa

Judul: Telepon Misterius
Penulis: Riani Suhandi
Editor: Dyas
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Tebal: 184 halaman
ISBN: 978-602-296-145-1
Harga: Rp 36.000,00
Rating saya: 3/5

Anggara: Kamu percaya kalau Nania meninggal karena menerima telepon misterius itu? [...] Ayolah, nggak ada sebuah telepon yang bisa membuat seseorang meninggal.
Tantry: Bisa saja, Ang. Nania buktinya. Dia meninggal beberapa hari setelah menerima telepon itu.
(hal. 37-8)

Isu mencekam seputar telepon misterius bergaung di koridor-koridor sekolah Tantry. Katanya, sang penelepon mengatakan kapan kau akan meninggal. Awalnya, logika Tantry tak memercayai hal itu, seperti Anggara. Namun, setelah ia melihat sendiri kecelakaan yang merenggut nyawa sahabatnya, Nania, Tantry berubah pikiran. Pasalnya, Nania mengatakan bahwa sebelumnya ia mendapatkan telepon misterius dan akan meninggal malam itu.

"Lima hari lalu, setelah pulang hiking, aku mendapat telepon misterius itu, Try. Perempuan asing itu mengatakan kalau aku akan meninggal tepat pukul sebelas malam ini..." (Nania, hal. 10)

Ya, Nania meninggal malam itu, meski tidak tepat pukul sebelas. Tetap saja... Untuk sesaat, Tantry benar-benar dikuasai kesedihan. Tak lama kemudian, semangatnya tergugah untuk menyelidiki siapa orang yang meneror Nania itu. Ia mengajak Anggara untuk melakukan penyelidikan, tapi awalnya Ang menolak. Tantry terpaksa bergerak sendiri. Saat menyelidiki teman-teman Nania yang lain, Eliana, salah satu dari mereka, mengaku mendapat telepon misterius juga.

"Saat pulang dari pemakaman Nania, aku sendirian di rumah. Tiba-tiba saja telepon di rumahku berdering. Aku kira itu Tias karena sebelumnya dia bilang akan meneleponku. Jadi, aku angkat saja telepon itu tanpa rasa takut. Setelah aku mengangkatnya, orang asing itu mengatakan kalau aku akan meninggal besok lusa." (Eliana, hal. 62)

Anehnya, tak seperti Nania yang ditelepon seorang perempuan, Eliana ditelepon seorang laki-laki. Kemudian, si Kembar Ika dan Ica juga mendapat telepon yang sama, yang membuat mereka kabur ke Jerman untuk menyelamatkan diri. Yah, si Kembar memang selamat, tapi Eliana tidak. Ia ditemukan meninggal akibat keracunan racun tikus. Mungkin seharusnya Eliana kabur ke Jerman juga, hehehe. Pascakematian Eliana, Tantry menemukan petunjuk penting, yang menunjukkan bahwa Eliana sedang hamil! Nah, siapa yang menghamilinya?

Melihat perkembangan situasi tersebut, Anggara akhirnya bersedia terlibat dalam penyelidikan yang digagas oleh Tantry. Bersama mereka mengunjungi Tias, teman Nania, untuk mencari informasi. Eh, ternyata, Tias juga mendapat telepon misterius! Tak perlu menunggu lama. Tias ditemukan meninggal dengan bekas cekikan di lehernya. Mendengar berita kematian (lagi), Tantry terpuruk. Di tengah kemurungannya itu, ingatannya melayang ke sosok anak laki-laki dari masa lalunya, Zian. Anak lelaki itu baik pada Tantry, tapi pada orang lain... yah, emosinya sedikit tidak terkontrol.

Tantry dan Anggara sudah terlalu jauh nyemplung. Teruskan penyelidikan atau berhenti? Ibu Tantry, Mita, teman Nania, dan Gala, teman Tantry yang sepertinya menaruh hati padanya, menyarankan agar mereka berhenti. Bahkan, Gala sangat ngotot agar Tantry tidak melibatkan diri lagi dalam kasus telepon misterius itu.

"Tapi, aku benar-benar sudah terlibat terlalu jauh. Sangat sayang jika harus mundur di tengah jalan." (Tantry, hal. 113)

Tak ada yang tahu, kapan giliran mereka akan mendapatkan telepon misterius itu.

"Terkadang, aku berpikir kalau telepon misterius itu ibarat kematian. Keberadaannya menyadarkanku kalau kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. [...] Bisa saja selanjutnya akulah korban teror telepon misterius itu." (Tantry, hal. 91)
***
Yang nyelempit di benak saya ketika pertama kali membaca judul dan blurb novel ini adalah, film Hollywood yang pernah saya tonton. When A Stranger Calls (2006) dan One Missed Call (2008). 



Kedua film ini melibatkan telepon misterius dalam membangun sisi thrillernya. Di film yang pertama, seorang gadis remaja sedang bekerja menjaga seorang anak di dalam sebuah rumah besar, sendirian. Tiba-tiba telepon berdering, yang lama-lama menjelma teror dan mewujud dalam sosok misterius. Di film yang kedua, sebuah voice mail menyasar ponsel seseorang, dan memberitahukan kapan ia akan meninggal, dan sedikit detail cara meninggalnya.

Hampir sama dengan kedua film tersebut, tokoh utama novel ini juga adalah remaja. Tantry, gadis yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sosok yang sangat "bermoral". Sosok yang "bermoral" karena ia terlalu memikirkan pandangan orang lain akan dirinya.

"Ini sudah pukul sepuluh malam. Tapi, aku masih berada di luar rumah bersama seorang laki-laki. Ah, entah apa yang mungkin tetangga pikirkan jika aku pulang nanti." (hal. 107)

Di awal penyelidikan, Tantry sangat antusias. Tapi, sangat disayangkan, seiring dengan jatuhnya korban demi korban, ia terguncang. Tak aneh juga, sih, siapa yang tidak terguncang jika teman-temannya satu demi satu terbunuh oleh seseorang yang masih belum diketahui identitasnya? Namun, guncangan mental Tantry ini membuat akal sehatnya dan daya pikir kritisnya lengah. Untunglah, menjelang akhir, buku harian Nania membantu antusiasmenya bangkit. Herannya, ia seperti lupa dengan keberadaan buku harian Nania itu, padahal sudah cukup lama ia mengambilnya dari rumah Nania. Tapi baru menjelang akhir ia ingat akan buku itu.

Nania, menempati porsi cerita yang cukup sedikit, karena di awal ia meninggal. Namun, kisah tentangnya akan disinggung sedikit setelah itu, lewat narasi Tantry, maupun obrolannya dengan Anggara, juga belakangan lewat buku hariannya.

Anggara adalah mantan pacar Tantry ketika mereka masih SMP. Tapi mereka masih menjalin hubungan sebagai teman baik, bahkan setelah Anggara berpacaran dengan Nania. Ternyata, hubungan Anggara-Nania yang bagi Tantry terlihat baik-baik saja itu menyimpan sesuatu yang tak terduga. Anggara memiliki keahlian sebagai dubber film, dan bisa mengubah suaranya jadi benar-benar mirip perempuan. Uniknya lagi, Anggara suka mendengarkan lagu-lagu Super Junior, "boyband kesayangannya" (hal. 66). Mungkin kita akan cocok berteman, Ang! Haha.

Sebagai teman lelaki Tantry yang paling dekat selain Anggara, Gala terlihat sangat mengkhawatirkan Tantry. Sepertinya ia menaruh hati pada gadis itu. Terlebih ketika ia terlibat pertengkaran dengan Anggara.

Sebagai novel yang mengusung kisah misterius, teka-teki yang menimbulkan rasa penasaran pembaca menjadi salah satu poin yang menentukan keberhasilan penulis. Menurut saya, novel ini bukan novel thriller, karena tidak menegangkan pembaca, sampai sedikit kejutan menjelang akhir. Novel ini mungkin lebih tepat disebut novel misteri semi detektif, karena tingkah Tantry dan Anggara yang berlagak jadi detektif. Saya mengapresiasi usaha penulis untuk membuat tokoh-tokoh remajanya jadi detektif tanpa harus jadi detektif. Eh, bagaimana, sih, bingung ya? Maksud saya, penulis tidak berusaha agar tokohnya terlihat luar biasa cerdas hingga nyaris tak masuk akal. Penulis pun tidak menyajikan teka-teki yang luar biasa rumit. Yah, jadi, cerita detektif-detektifan a la remaja SMA jadi membumi. Nyatanya, kebenaran di balik teka-teki itu pun dilatari motivasi yang sederhana dan nyaris klise: masalah percintaan bersegi-segi antartokoh.

Setiap menyelidiki korban teror telepon misterius, pertanyaan andalan Tantry adalah, "Apa kamu memiliki musuh atau pernah memiliki masalah dengan seseorang sebelumnya?" Pertanyaan semacam ini memang tak akan ditanyakan oleh detektif kawakan yang luar biasa jenius, Sherlock Holmes. Atau Poirot. Atau Eve Dallas. Atau Cormoran Strike. Tapi, ini pertanyaan yang sesuai ditanyakan oleh seorang Tantry. Tantry yang polos.

Mungkin seharusnya ia juga bertanya pada tiap korban, "Seperti apa suara penelepon itu, apakah kau mengenalinya?" Nah, pertanyaan itu mungkin akan mengungkap petunjuk lebih banyak lagi. Kemudian, setelah Eliana meninggal, Tantry menemukan foto hasil USG dan test pack milik Eliana di kolong tempat tidurnya. Di kolong tempat tidur, dan tidak ada orang yang tahu ada itu di sana sebelum Tantry? Agak riskan.

Penulis juga menciptakan sebuah anomali di antara penyebab meninggalnya para korban. Ada yang memang korban, ada yang sebenarnya bukan korban, tapi terlihat seolah-olah korban. Hal ini bisa menjadi kejutan tersendiri. Penulis juga membimbing pembaca ke dugaan yang salah akan siapa tersangka sebenarnya, terlebih setelah membaca kalimat Tantry di halaman 21.

Selanjutnya, ada beberapa keanehan yang saya temukan.

"Sepulang sekolah, ia (Anggara) mengajakku pergi ke rumah neneknya yang ada di Lembang..." (Tantry, hal. 109)
"Aku seperti terjun bebas dan berlari ke sana-kemari menyaksikan setiap perjalanan hidupku; umur tiga tahunku yang menyenangkan saat masih tinggal bersama nenekku di Lembang." (Tantry, hal. 118)
Nah, dari dua petikan itu, saya agak bingung. Jadi, nenek Anggara dan nenek Tantry sama-sama tinggal di Lembang? Kebetulan sekali, ya.... Selain itu, ada sesuatu yang membuat saya menduga bahwa naskah novel ini ditulis cukup lama sebelum akhirnya terbit.

"Aku sering mengibaratkan Nania dan Anggara seperti salah satu pasangan selebritis di Hollywood sana, Robsten. Para penggemar film 'Twilight' pasti tahu siapa mereka." (hal. 22)
Robsten, kan, sudah lama putus, dan masing-masing sudah punya pasangan baru. Hehehe.

Saya juga menemukan beberapa typo dan kekurangtepatan pemilihan kata.
1. "menyainginya", seharusnya "menyayanginya" (hal. 27).
2. "Ia aku tahu...." (hal. 55), seharusnya "iya".
3. ibunya Nania (hal. 75, 108), seharusnya "ibu Nania".
4. Mobil membelah jalanan kota dan melintasi pusat-pusat keramaian Bandung dengan kekuatan sedang. (Seharusnya "kecepatan", bukan "kekuatan".) (hal. 105)
5. "Aku ada appointment penting, jadi harus segera pulang." (Gala, hal. 69) (Kenapa tidak menggunakan kata "janji" saja, tapi malah "appointment"?)

Lima poin tersebut tidak mengurangi keasyikan membaca novel, kok. Tapi, yang agak mengganggu adalah ending novel yang sangat berbau Hollywood.

"Tanpa kuduga, pembicaraan ini beralih pada cerita teror telepon misterius. Lucu, bukan? Tentu saja! Karena, aku dan Nania bukan sedang berada dalam film horor Hollywood ataupun drama seri." (hal. 9)
Novel misteri remaja ini cukup "misterius" dan membuktikan pada kita sendiri, bahwa penulis domestik pun bisa bikin cerita misterius, tidak Hollywood saja. Meski kiblatnya masih ke-Hollywood-hollywood-an, sih.

"Kalau waktu milikmu, kamu bisa mengendalikan mereka sesuka hatimu. Tapi, sudah takdirnya waktu terus berlari dan tanpa sadar kamu sudah melewati banyak hal." (Gala, hal 52-3)
"Waktu bukan milikku, dia, atau mereka. Waktu berlari tanpa sudi menoleh, meninggalkan mimpi, dan kenangan jauh di belakang." (Tantry, hal. 129)

21 July 2015

[Resensi MISTERI PATUNG GARAM] Jangan Melihat ke Belakang!

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Editor: Sulung S. Hanum & Jia Effendie
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: I, 2015
Tebal: vi + 278 halaman
ISBN: 978-979-780-786-3
Harga: Rp 49.000,00
Rating saya: 4/5


Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.

Sebuah pembunuhan sadis terjadi di Surabaya. Seorang perempuan berumur 25 tahun yang berprofesi sebagai pianis. Sekujur tubuh tak bernyawanya dilumuri garam, setelah organ-organ dalamnya dikeluarkan secara paksa saat korban masih sadar. Si pelaku menerapkan mumifikasi pada korbannya, lalu memosisikan patung garam itu seolah sedang bermain piano. Sebuah wig merah panjang bergelombang terpasang di kepalanya yang telah digunduli. Lukisan dari garam bertebaran di lantai ruangan yang AC-nya disetel hingga suhu minimal. Si pembunuh meninggalkan simbol IDIS. Mayat patung garam itu menguarkan aroma kengerian sekaligus artistik. Si pelaku pastilah punya cita rasa seni yang tinggi.

Kiri Lamari baru saja sampai di Surabaya, dan langsung menuju TKP. Polisi muda yang berprestasi lewat keberhasilannya mengungkap kasus pembunuhan Segitiga Biru itu pindah tugas dari Bojonegoro ke Surabaya. Di Stasiun Wonokromo ia bertemu dengan seorang bocah lelaki pencopet, Ireng. Perkenalan yang tidak menyenangkan itu membawa Ireng masuk ke dalam lingkaran kehidupan Kiri selanjutnya. Kasus pembunuhan itu diserahkan padanya sebagai penyidik utama, dengan Saut sebagai rekannya. 

Selain dibebani tugas penyelidikan ini, Kiri juga dihantui masa lalunya. Misteri kematian ibunya sendiri bertahun-tahun lalu, yang ia yakini bukan kecelakaan melainkan pembunuhan. Kiri mencurigai ayahnya berperan. Seperti pesan Kenes berkali-kali, Kiri harus berusaha memperbaiki hubungannya dengan ayahnya. Kiri harus bergerak cepat karena si pelaku telah menggarami tubuh korban selanjutnya, seorang pelukis. Penyelidikan yang ia lakukan terhadap Rahardian--si seniman pematung garam, orang yang ia curigai--malah membawa ketertarikan si pembunuh pada kehidupan personal Kiri. Satu korban lagi ditemukan, tapi tak serapi karya pembunuh sebelumnya. Tak lama setelahnya, pembunuh itu mulai mendekati Kenes, kekasih Kiri. Siapakah target pembunuh selanjutnya?

***

Misteri Patung Garam bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!).

Dengan antusiasme tinggi saya membaca buku ini. Pasalnya, terakhir kali membaca cerita detektif adalah sebulan yang lalu, yaitu Konstatinopel. Konstatinopel adalah salah satu novel detektif lokal yang tidak buruk, tapi saya ingin membaca yang pembunuhannya lebih sadis *hahaha*. Sebenarnya sudah sejak Misteri Patung Garam ini baru terbit dan teman-teman di komunitas Goodreads Indonesia ramai memperbincangkannya, saya ingin membacanya. Pernah dua kali ikut blogtour + giveaway-nya, tapi belum berhasil. Hingga suatu saat saya memutuskan membeli sendiri, dan baru selesai dibaca akhir-akhir ini.

Ini adalah novel kedua karya Ruwi Meita yang pertama saya baca. Yang pertama adalah novel adaptasi Hantu Bangku Kosong. Meski begitu saya sudah mendengar gaung "Agatha Christie-nya Indonesia" sebagai sebutan bagi penulis. Bisa dibilang, ini adalah salah satu faktor yang turut menyematkan rasa antusias pada diri saya ketika membaca novel detektif ini.

Novel ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama sampai ketiga, Pianis, Pelukis, dan Juru Masak diberi judul sesuai profesi masing-masing korbannya. Bagian Pianis dan Pelukis memiliki pola penceritaan hampir serupa, yaitu dimulai dengan adegan penemuan korban oleh orang tertentu yang sudah diramalkan oleh pembunuh akan menemukan mayatnya. Di dua bagian itu tidak diceritakan bagaimana si pembunuh menculik kedua korbannya sebelum dibikin patung garam Bagian Juru Masak agak berbeda, karena proses pembunuhannya pun berlangsung singkat, sehingga si pembunuh tidak sempat membuat maha karya seperti dua patung garam sebelumnya. Di bagian ini, diceritakan awal proses pertemuan korban dengan si pembunuh. Bagian terakhir, Siapa Berikutnya?, diawali adegan pembukaan pameran foto Kenes.

Dengan lihai, penulis tak melulu membuat pembacanya tegang. Ada adegan-adegan yang justru menerbitkan tawa saya, yaitu adegan yang melibatkan Ireng. Percakapan-percakapannya dengan Kiri, terutama saat pertama bertemu, mengandung humor tersendiri. Pencopet cilik yang melakukan kejahatan karena terpaksa itu sangat blak-blakan dan apa adanya. Pun cerdas dan berani, mirip Kiri waktu kecil. Dari bibir Ireng (namanya sesuai dengan warna kulit tubuhnya) sering terlempar makian khas Jawa Timur: jancuk. 

Ireng: Yok opo kon iki.... Jebul PTP?
Kiri: PTP?
Ireng: Yo... Polisi Takut Pacar. Wuahahahahaha. 
(hal. 17)
Kiri: Kenapa kamu jadi pencopet?
Ireng: Kenapa kon jadi polisi? 
(hal. 21)
Lalu dengan cepat, Ireng menjadi akrab dengan Kenes, kekasih Kiri. Kenes adalah seorang fotografi yang kariernya sedang naik daun. Pekerjaan menuntutnya untuk menapakkan kaki ke berbagai negara; berbagai daerah ekstrim pun dilakoninya. Di satu sisi, Kenes suka melakukan hal-hal maskulin seperti naik gunung. Di sisi lain, Kenes adalah seorang kolektor high heels. Bersama dengan Kiri, pada kasus Segitiga Biru, ia turut berperan dalam mengungkap kasus itu. Klub Bahaya, begitu ia menyebutnya. (Klub Bahaya mengingatkan saya akan pasangan detektif suami-istri Tommy dan Tuppence dalam novel karya Agatha Christie.) Kini, anggota Klub Bahaya bertambah satu, yaitu Ireng.

Sementara itu, di balik kecerdasan, keberanian, dan sifat bersahajanya, Kiri memiliki masa lalu kelam. Ia masih belum memiliki keberanian untuk memperbaiki hubungan dengan ayahnya. Masalah inilah yang sering membuat Kiri dan Kenes bertengkar. Oh iya, Kiri juga jago masak, lho! Kalau sedang ngambek, masakan Kiri sangat manjur untuk meluluhkan Kenes.

Saut, inspektur rekan Kiri dalam kasus Misteri Patung Garam, juga memiliki peran tersendiri dalam merilekskan pembaca. Makian khasnya, "kampret rebus", sangat melekat di pikiran saya. Hahaha. Belum lagi fenomena kebanyakan sarapan yang kerap dideritanya, tak menguntungkannya tiap kali melihat mayat yang nggilani. Meski begitu, terkadang Saut bisa menjadi seorang yang bijaksana, seperti ketika ia menasihati Kiri, tentang pilihan antara karier dan perempuan.

"Karier dan perempuan seperti dua besi melintang pada rel kereta api. Sejajar tetapi tak pernah bertemu. Dan, itu sangat kampret rebus! [...] 
Jika kamu memilih karier, kamu akan kehilangan perempuan dan begitu sebaliknya. Jangan pernah memosisikan dirimu untuk memilih. [...] 
Kamu harus membuat dua-duanya seimbang. Berjalanlah seperti kereta api dan tetaplah pada jalurmu, maka kamu akan aman." 
(Saut, hal. 65)
Dan terakhir, tentu saja, si pembunuh, alias si Salty. Sejak di bagian kedua, penulis telah menyusupkan satu nama yang dicurigai Kiri, yaitu Rahardian. Sampai mendekati akhir, penulis membuat saya percaya bahwa Rahardian memang pembunuhnya. Eh, ternyata, penulis telah menyiapkan sebuah twist yang ampuh bikin gemas karena saya terbodohi. Motif si pembunuh tergambarkan dengan meyakinkan, yaitu diinisiasi oleh trauma masa kecil. Kisah istri Lot yang dikutuk jadi patung garam serta berbagai fenomena tentang garam yang diselipkan penulis pun menambah daya tarik cerita dan pengetahuan bagi saya. Contohnya seperti berikut ini.

"Pada abad pertengahan, garam adalah emas putih dunia. Begitu berharganya sehingga lahir kata salary yang berasal dari salt. Karena dulu garam memang dipakai untuk alat pembayaran dan untuk menggaji seseorang. [...] 
Bangsawan Cina memakai garam untuk bunuh diri. Jika berat tubuhnya 50 kilo maka mengonsumsi garam 50 kilo cukup untuk membunuhnya." 
(Kiri, hal. 89)

Ada adegan yang tidak konsisten. Di halaman 193, digambarkan bahwa ketika pergi untuk "melamar" Kiri, Kenes memakai gaun tanpa lengan dengan kerah shanghai. Namun, pada halaman 199, berjam-jam kemudian saat Kiri tak kunjung datang, secara eksplisit digambarkan bahwa Kenes mengenakan celana. Pada halaman 209-210 juga tertulis bahwa saat itu Kenes mengenakan blus.

Well, saya sangat menikmati membaca buku ini! Saya berani bilang bahwa ini adalah novel thriller-misteri-detektif lokal terbaik yang pernah saya baca (hmm, memang saya jauh lebih banyak membaca genre serupa karya penulis luar negeri, sih). Tak pelak, saya jadi ingin membaca karya-karya Ruwi Meita ber-genre sama sebelumnya; juga yang akan terbit berikutnya ^^.


24 June 2015

[Resensi KONSTATINOPEL] Jari Kelingking, Mengapa Kau Dipilih?

Judul: Konstantinopel
Penulis: Sugha
Editor: Ambra
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: I, April 2015
Tebal: 272 halaman
ISBN: 978-602-296-088-1
Harga: Rp 40.000,00
Rating: 3/5
“Satu-satunya petunjuk yang mengarah kepada pelaku hanyalah potongan jari kelingking kiri korban.” 
(hal. 162)
Putra Bimasakti, atau lebih akrab dipanggil Bima, adalah lulusan terbaik dari STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara). Ia berhasil mendapatkan pekerjaan di BIN (Badan Intelijen Negara), sebagai staf ahli bidang politik, sekaligus asisten wakil kepala BIN. Di hari pertama masuk kerja, banyak hal telah terjadi padanya, termasuk dihukum oleh Pak Catur, wakil kepala BIN, yang dikenal susah dituruti maunya, sehingga ia sering gonta-ganti asisten.

Kala itu, suasana politik Indonesia sedang panas. Pemilihan presiden akan berlangsung sebentar lagi, dan partai-partai kuat yang saling menjadi oposisi mulai menggalang dukungan. Kemudian, suatu malam, Ine Wijaya, seorang caleg terpilih Partai Generasi Baru (partai si presiden sekarang), ditemukan tewas tertabrak kereta. Bukan kebetulan, Ine Wijaya ini adalah salah satu teman dekat Cinta Clarissa, putri angkat Presiden Rukmawan. Oleh karena itulah, presiden meminta Pak Catur untuk menyelidiki kasus kematian Ine yang dianggap tidak wajar.

Cinta adalah orang terakhir yang mengobrol dengan Ine, lewat telepon, hingga ia dipanggil menjadi saksi. Setelah diperiksa sebagai saksi, Cinta pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Ketika diperiksa itulah, dokter mengetahui bahwa Cinta sedang hamil 3 bulan. Presiden kalang kabut dibuatnya. Ketika sedang memeriksa TKP, Bima menemukan fakta bahwa kematian Ine memang disebabkan oleh kecelakaan belaka. Namun, ada satu hal yang unik, jari kelingking Ine putus.

Setelah itu, terjadi kecelakaan lagi yang menimpa teman baik Cinta yang lain, Sandra. Kali ini kebakaran rumah, yang awalnya tampak seperti kecelakaan biasa. Situasi berubah setelah jari kelingking mayat Sandra hilang. Dua orang teman baik Cinta meninggal dalam waktu berdekatan. Hal ini membuat Presiden mengutus Pak Catur untuk menyelidiki kasus tersebut. Bima kemudian ditugaskan menjadi pengawal Cinta. Ketika menjadi sopir Cinta itulah, Bima bertemu dengan Roman, reporter Channel-9, yang juga teman Cinta. Dari informasi yang dberikan Roman, Bima menyadari keterkaitan antarkorban.

“Konstatinopel adalah nama perkumpulan yang dibentuk oleh tujuh mahasiswa Indonesia yang pernah kuliah di Universitas Istanbul, Turki.” 
(Bima, hal. 84)
Ketujuh orang itu adalah Ine Wijaya, Sandra Sienna Dewi, Roman Abdurrahman, Cinta Clarissa, Januar Tan, Juan Sandjaya, Felyx Marpalele. Dari Roman, Bima juga mengetahui bahwa pertemanan di antara ketujuh orang itu kini tak seperti dulu.
“Namun, begitu kami lulus dan kembali ke Indonesia, begitu banyak kepentingan yang membuat kami tidak seharmonis dulu.” 
(Roman, hal. 58) 
Ine dan Sandra telah meninggal. Kemudian disusul oleh Roman, yang ditembak dari jarak jauh. Bima berhasil mengejar penembak dan mengenali postur tubuhnya, yang diduga bukan orang Indonesia. Kali ini, setelah mencuri jari kelingking Roman, si pembunuh meninggalkan pesan di dinding kamar Rumah Sakit Polri. Pesan itu ditulis dengan bahasa Turki, hingga menimbulkan kecurigaan bahwa pembunuhnya salah satu dari Januar, Juan, atau Felyx.


Berpacu dengan waktu, Bima harus memecahkan kasus ini, sebelum korban berikutnya jatuh.

***

Sepanjang pengetahuan saya (yang masih sempit), jarang ada penulis Indonesia yang menulis cerita detektif. Salah satu penulis genre ini yang saya kenal tulisannya bagus adalah Mbak Ruwi Meita (saya baru mau baca Misteri Patung Garam, huehehe).

Pertama kali melihat buku ini, saya langsung suka desainnya sampulnya yang abstrak dan sederhana, tapi menimbulkan kesan misterius akibat jalinan garis ruwet itu, yang mengingatkan saya akan pola sidik jari manusia yang diperbesar. Kemudian tagline "misteri di balik jari kelingking yang hilang" juga membangkitkan rasa penasaran.

Dengan sudut pandang orang ketiga, penulis secara leluasa menceritakan berbagai adegan, dengan tetap menyembunyikan identitas pembunuh dan motif pembunuhan sampai akhir. Alur yang dibangun cukup cepat, tapi mudah diikuti. Penyingkapan-penyingkapan misteri yang dilakukan oleh Bima berlangsung tahap demi tahap secara masuk akal. Menurut saya, faktor inilah yang menentukan suatu cerita detektif bagus atau tidak: kelogisan penyingkapan misteri. Karena itulah, novel Konstatinopel ini bukan novel detektif yang kitsch.

Twist tentang identitas pembunuh yang dibangun penulis menjelang akhir berhasil membangkitkan suspens dan rasa penasaran. Meski begitu, saya sudah curiga bahwa ia bukanlah pembunuh sebenarnya, karena begitu mudahnya barang bukti ditemukan, seakan sudah "disediakan". Menjelang akhir, saya sempat menebak bahwa pembunuh sebenarnya adalah itu, tuh, dan ternyata benar. (Mungkin saya yang terlalu cerdas, wkwkwk.)

Saya menemukan beberapa hal yang kurang logis. Pertama, hanya untuk mencari hari tanggal lahir tiap anggota Konstatinopel, Bima harus ke warnet dulu? Karena ia sudah tahu tanggalnya, bukankah bisa mengecek harinya lewat kalender HP? Lebih cepat, kan, dan nggak perlu ke warnet seberang rumah. (hal. 130) Tapi argumen saya ini langsung patah dengan mudah jika ternyata Bima tidak punya HP.

Kedua, tentang penggunaan sidik jari Cinta di atas kertas oleh pembunuh untuk membuka sekuriti apartemen (hal. 255). Seperti yang diungkapkan oleh artikel berikut ini, cara memalsukan sidik jari tak semudah langsung menempelkan kertas bekas tinta sidik jari korban ke mesin sekuriti, karena kapasitansi kertas tentu saja berbeda dengan jari manusia. Bahan yang paling mendekati kapasitansi jari manusia adalah gelatin, yang bisa digunakan untuk membuat jari palsu. Kalaupun bisa, pola sidik jari di atas kertas harus diedit dulu untuk menghilangkan noda-noda atau partikel lain yang bukan merupakan bagian dari sidik jari, kemudian melewati beberapa proses selanjutnya. Sayangnya, di dalam bagian akhir novel ini, tidak dijelaskan bagaimana tepatnya si pembunuh melakukan pemalsuan sidik jari.

Ketiga, mengapa si pembunuh memilih membakar rumah Sandra untuk membunuhnya? Bukankah kejahatan jenis itu belum tentu akan mematikan si Sandra? Belum tentu, kan, Sandra terbakar sampai mati? Tingkat "tepat sasaran"-nya jauh lebih rendah dibandingkan penembakan, misalnya. (hal. 33)

Membaca buku ini kita tak melulu disuguhi nuansa kelam. Ada adegan-adegan konyol yang diselipkan penulis, seperti ketika Bima yang digodain Bu Betty, tetangga seberang apartemen Cinta yang tubuhnya amat besar dan genit (hal. 94). Namun kadang selipan hal-hal konyol itu merusak suasana cerita, menurut saya, sih. Ada juga dialog yang rasanya, kok, tidak cocok digunakan dalam novel misteri seperti ini.
Bima : Turki? Jadi kalian semua pernah kuliah di Turki?
Roman : Ya!
Bima : Wow, hebat! Kalau begitu, kalian bisa bahasa Turki, dong?
(hal. 57)
Dialog di atas, contohnya. Penting banget, ya, Bima nanyain secara lebay gitu? Hoho. Hal lain yang mengganggu saya dalam dialog adalah penggunaan kata ganti "aku" dan "gue" yang tidak konsisten, seperti yang digunakan Cinta pada halaman 53.

Saya mengapresiasi penulis yang berani mengambil profesi tokoh utama yang jarang dituliskan sebelumnya, yaitu penyelidik BIN. Sejauh ini, saya hanya mengetahui bahwa para intel yang bekerja di bawah BIN menjalani hidup penuh rahasia, sehingga membaca buku ini seolah membuka tabir gelap. Mungkin pandangan saya sama seperti Roman memandang orang-orang BIN.
Roman : Ternyata memang sulit berbicara dengan orang-orang BIN. Semuanya serba rahasia. Baiklah!
Bima : Sama, susah juga bicara sama reporter, mau tahu urusan orang lain saja! 
(hal. 55)
Ternyata pekerjaan orang-orang BIN seperti itu, to. Saya sempat kesal akan perlakuan Pak Catur yang memanfaatkan Bima. Seenaknya, Pak Catur mengakui hasil pemecahan pola pembunuhan yang berhasil ditemukan oleh Bima sebagai miliknya.
"[...] rupanya Pak Catur ingin memanfaatkannya untuk popularitas dirinya sendiri." 
(hal. 148)
Saya juga kesal membaca bahwa senioritas diagungkan di BIN, termasuk juga penggunaan kata-kata yang menghina, seperti ini.
Bima : Tunggu di sini? Saya tidak diikutkan ketemu Presiden?
Pak Catur : Eh, kamu itu seharusnya sadar kalau kamu cuma seorang asisten. Jangan berharap bisa bertemu Presiden. Bahkan mungkin melihat mukamu saja, beliau pasti malas. 
(hal. 17)
(Memangnya, muka Bima kenapa, Pak?)

Tak hanya itu, novel ini juga merambah dunia politik menjelang pemilu presiden. Berbagai intrik dan kepentingan politik mewarnai penyingkapan kasus pembunuhan berantai. Apalagi, Juan adalah putra dari oposisi Presiden Rukmawan. Melaui tokoh Ine, penulis menyampaikan selentingan tentang satu bagian bobrok dari politik Indonesia.
“Ternyata orang Indonesia lebih suka punya wakil rakyat yang bokongnya seksi daripada yang otaknya pintar.” 
(Ine, hal. 9)
Meskipun diceritakan secara logis, bagian kesimpulan penyelidikan Bima di akhir, yang mengungkap siapa pembunuh sebenarnya, terasa terburu-buru dan ruangnya terlalu sempit. Saya juga menyayangkan, penulis tidak menjelaskan mengapa Turki dan jari kelingking dipilih. Hal ini membuat motif pembunuh kurang kuat dan terlihat dibuat-buat. Tapi saya cukup puas akan suguhan cerita detektif dalam Konstatinopel. Selain itu, saya juga mendapat pengalaman baru dengan terjun dalam lingkup kerja BIN. Novel ini juga mengandung satu pesan inti, yang disampaikan secara eksplisit oleh Bima.
“Memang, mengakui sebuah aib rasanya sangat memalukan. Tapi, menutupi sebuah aib dengan kejahatan lainnya adalah suatu tindakan yang sangat biadab!” 
(Bima, hal. 270)
Untuk novel misteri dan detektif karangan penulis lokal ini, saya memberikan rating 3,5 dari 5, yang saya bulatkan ke bawah. Meski begitu, buku ini sangat layak dibaca, atas rasa tersendiri yang dihadirkannya lewat tokoh detektif yang membumi seperti Bima, bukan detektif yang seperti dewa lantaran susah dimengerti proses analisisnya, seperti Sherlock Holmes (meski saya tetap ngefans Sherlock Holmes, sih) ^^.

24 January 2015

Resensi "Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kosong"


Judul Buku                     : Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kosong
Penulis                          : Sir Arthur Conan Doyle
Penerjemah                   : Dion, Busyra, Amin
Tebal                            : 320 halaman
Penerbit/cetakan            : Laksana/Cetakan I, 2014
ISBN                            : 978-602-296-031-7
Harga                           : Rp 45.000,00
Rating                           :

Ketika memegang buku ini dan bersiap membukanya, waspadalah! Jika yang kau harap adalah cerita detektif yang memecahkan misteri pembunuhan sadis, maka sebaiknya letakkan saja buku ini! Ya, ya, letakkan saja buku ini ketimbang kau kecewa. Tapi, jika kau menyukai teka-teki membingungkan dan ingin tahu proses bagaimana Holmes memecahkannya, kau akan menyukai buku ini! Yah, meski nanti mungkin kau akan mengeluh setelah mengetahui bahwa ternyata penjelasan dari Holmes “ternyata cuma gitu”.

Petualangan di Rumah Kosong adalah salah satu judul dari delapan kisah Sherlock Holmes yang tergabung dalam buku ini, dan tentu saja masih ditulis dengan sudut pandang orang pertama Watson. Mengutip kata pengantar dari penerbit, “Delapan cerita ini kami pilih atas orisinalitas dan keunikan kasus yang ditawarkan, serta pemecahan tak terduga yang digunakan oleh Holmes.”

Saya akan merangkum petunjuk tiap cerita, tapi tenang saja, saya akan tetap menyembunyikan jawaban teka-tekinya. Jadi, cobalah untuk memecahkannya!

Judul
Petunjuk
Misteri Pita Berbintik-bintik
·    Helen Stoner tinggal bersama ayah tirinya, dr. Roylott. Saudari kembarnya, Julia, meninggal dua tahun lalu secara aneh, tepatnya dua minggu sebelum pernikahannya.
·   Sebelum Julia meninggal, kamar tidur dr. Roylott, Julia, dan Helen berjajar berurutan. Setiap dini hari, beberapa hari sebelum meninggal, Julia selalu mendengar suara siulan.
·      Dr. Roylott memelihara macan tutul dan monyet babon. Beliau berteman dengan orang-orang gipsi pengelana yang berkemah di lahannya.
·    Pada malam ketika Julia meninggal, Helen juga mendengar siulan, suara logam jatuh. Sebelum meninggal dengan wajah ketakutan dan tubuh kejang-kejang, Julia berteriak, “Ya Tuhanku! Helen! Ada pita! Pita bintik-bintik!” (hal. 20)
Pengendara Sepeda yang Misterius
·  Violet Smith adalah guru les musik privat bagi anak perempuan Tuan Carruthers.
·  Setiap akhir pekan, ia bersepeda sejauh 9 km untuk mencapai stasiun. Rute bersepedanya melewati jalan kecil yang sepi. Sudah dua minggu, setiap kali bersepeda, ada seorang laki-laki yang membuntutinya, tapi selalu menjaga jarak, dan tiba-tiba menghilang di belokan, padahal tak ada percabangan jalan.
·     Siapakah laki-laki itu? Apa yang dia inginkan?
Misteri Kamar Tertutup di Copper Beeches
·    Violet Hunter mendapatkan pekerjaan yang aneh, dengan gaji yang besar. Ia bertugas menjaga bocah kecil di rumah Copper Beeches. Tapi, selain itu, ia diminta melakukan hal-hal aneh yang diminta oleh majikannya. Berganti pakaian yang dipilihkan sang majikan, duduk dalam sebuah ruangan, membelakangi jendela, dan mendengarkan lelucon majikannya. Atau disuruh membacakan novel.
·    Suatu ketika, Violet tahu bahwa ada seorang pria berdiri di pinggir jalan, mengamatinya lewat jendela ruangan itu.
·     Violet mengamati bahwa ada satu kamar tertutup di lantai dua rumah itu.
Skandal Raja Bohemia

· Raja Bohemia terlibat sebuah hubungan dengan Irene Adler. Wanita itu mengancam akan menyebarkan foto mereka berdua, yang akan menimbulkan skandal dan membahayakan posisi raja. Raja sudah berusaha dua kali mencuri foto itu dari rumah Irene, tapi tak berhasil.
·  Bersama Watson, Holmes melakukan rencananya untuk mengetahui di mana foto itu disembunyikan. Tapi, baru sekali itu Holmes dikelabui seorang wanita.
Kasus Terakhir
Puncak persaingan sengit antara Holmes dengan penjahat genius, Profesor Moriaty. Mereka berdua sempat beradu kekuatan sebelum terjatuh bersama-sama ke jurang. Holmes menghilang (meninggal?) hanya dengan meninggalkan selembar surat untuk Watson.
Petualangan di Rumah Kosong
·   Ronald Adair meninggal akibat tembakan misterius. Saat meninggal, ia berada di dalam kamarnya yang terkunci dari dalam. Hanya jendelanya yang terbuka karena ia merokok. Saat tertembak, ia sedang menghitung uang hasil main kartu. Diketahui bahwa ia tergabung dalam beberapa klub kartu, dan terakhir kali ia bermain kartu bersama Kolonel Moran.
Perserikatan Orang Berambut Merah
· Wilson memiliki rambut merah asli yang menawan, sehingga Spaulding, karyawan toko pegadaiannya, mendorongnya agar melamar sebuah pekerjaan yang ditawarkan oleh Perserikatan Orang Berambut Merah. Berkat rambutnya, Wilson mendapatkan pekerjaan itu. Dia hanya diminta bekerja dari pukul 10 pagi sampai pukul 2 siang; pekerjaannya adalah menyalin Ensiklopedia Britannica secara manual.
·  Lalu, tiba-tiba perserikatan itu dibubarkan, yang artinya sesuatu yang besar akan terjadi.
Misteri Noda Kedua
· Holmes didatangi Perdana Menteri Inggris bersama sekretarisnya. Sebuah dokumen penting dan rahasia yang disimpan oleh sang sekretaris dalam kotak terkunci di kamarnya.
·  Salah satu dari tiga agen internasional yang dicurigai Holmes sebagai tersangka, meninggal karena dibunuh, pada malam yang sama dengan hilangnya dokumen itu.

Ketimbang versi terjemahan Anjing Iblis dari Baskerville yang saya resensi beberapa waktu lalu, terjemahan Petualangan di Rumah Kosong ini lebih nyaman dicerna, selain kesalahan penulisannya juga jauh lebih sedikit. Namun, saya terganggu dengan beberapa penulisan tahun kejadian, yang saya rasa tidak tepat. Kisah-kisah Holmes berlatarkan waktu akhir abad 19 sampai awal abad 20. Tapi, misalnya, pada Skandal Raja Bohemia, sang raja mendatangi Holmes pada tanggal 20 Maret 1988, dan Irene Adler lahir tahun 1958…. Hmm, mungkin seharusnya 1888 dan 1858? Karena kisah itu berlangsung setelah Watson menikah, dan di Kasus Terakhir (setelah Watson menikah juga), Watson menyebutkan tahun 1890-1891.

Saya juga menemukan kejanggalan lain, dalam kisah Perserikatan Orang Berambut Merah. Ketika Wilson mendatangi Holmes, ia menunjukkan iklan di koran tentang pekerjaan untuk orang berambut merah, dan koran itu bertanggal dua bulan yang lalu (27 April 1890). Wilson juga bercerita bahwa ia sudah bekerja selama delapan minggu sebelum tiba-tiba perserikatan itu dibubarkan. Berarti, seharusnya, tanggal pembubaran itu sekitar bulan Juni, bukan? Tapi, anehnya, tertulis tanggal pembubarannya adalah 9 Oktober 1890.

Meskipun begitu, saya tetap menikmati petualangan Holmes dan Watson, yang diceritakan secara aktual dengan sudut pandang Watson. Saya meringis beberapa kali, tiap Watson mencoba menarik kesimpulan dari petunjuk-petunjuk yang ada, tapi nyaris selalu gagal. Saya kagum akan tokoh Watson, yang tetap sabar dan setia menjadi sahabat Holmes satu-satunya. Padahal, kalau menurut orang lain, Holmes bukanlah sosok sahabat yang baik. Namun, di beberapa titik, saya menemukan bahwa persabatan mereka cukup manis.

Membaca kisah Sherlock Holmes juga memperkaya saya akan wawasan nilai yang baru.



Wajib baca, deh, buat para penggemar Holmes! ^^


bloggerwidgets