21 July 2015

[Resensi MISTERI PATUNG GARAM] Jangan Melihat ke Belakang!

Judul: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Editor: Sulung S. Hanum & Jia Effendie
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: I, 2015
Tebal: vi + 278 halaman
ISBN: 978-979-780-786-3
Harga: Rp 49.000,00
Rating saya: 4/5


Sumber gambar di sini, diedit oleh saya.

Sebuah pembunuhan sadis terjadi di Surabaya. Seorang perempuan berumur 25 tahun yang berprofesi sebagai pianis. Sekujur tubuh tak bernyawanya dilumuri garam, setelah organ-organ dalamnya dikeluarkan secara paksa saat korban masih sadar. Si pelaku menerapkan mumifikasi pada korbannya, lalu memosisikan patung garam itu seolah sedang bermain piano. Sebuah wig merah panjang bergelombang terpasang di kepalanya yang telah digunduli. Lukisan dari garam bertebaran di lantai ruangan yang AC-nya disetel hingga suhu minimal. Si pembunuh meninggalkan simbol IDIS. Mayat patung garam itu menguarkan aroma kengerian sekaligus artistik. Si pelaku pastilah punya cita rasa seni yang tinggi.

Kiri Lamari baru saja sampai di Surabaya, dan langsung menuju TKP. Polisi muda yang berprestasi lewat keberhasilannya mengungkap kasus pembunuhan Segitiga Biru itu pindah tugas dari Bojonegoro ke Surabaya. Di Stasiun Wonokromo ia bertemu dengan seorang bocah lelaki pencopet, Ireng. Perkenalan yang tidak menyenangkan itu membawa Ireng masuk ke dalam lingkaran kehidupan Kiri selanjutnya. Kasus pembunuhan itu diserahkan padanya sebagai penyidik utama, dengan Saut sebagai rekannya. 

Selain dibebani tugas penyelidikan ini, Kiri juga dihantui masa lalunya. Misteri kematian ibunya sendiri bertahun-tahun lalu, yang ia yakini bukan kecelakaan melainkan pembunuhan. Kiri mencurigai ayahnya berperan. Seperti pesan Kenes berkali-kali, Kiri harus berusaha memperbaiki hubungannya dengan ayahnya. Kiri harus bergerak cepat karena si pelaku telah menggarami tubuh korban selanjutnya, seorang pelukis. Penyelidikan yang ia lakukan terhadap Rahardian--si seniman pematung garam, orang yang ia curigai--malah membawa ketertarikan si pembunuh pada kehidupan personal Kiri. Satu korban lagi ditemukan, tapi tak serapi karya pembunuh sebelumnya. Tak lama setelahnya, pembunuh itu mulai mendekati Kenes, kekasih Kiri. Siapakah target pembunuh selanjutnya?

***

Misteri Patung Garam bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!).

Dengan antusiasme tinggi saya membaca buku ini. Pasalnya, terakhir kali membaca cerita detektif adalah sebulan yang lalu, yaitu Konstatinopel. Konstatinopel adalah salah satu novel detektif lokal yang tidak buruk, tapi saya ingin membaca yang pembunuhannya lebih sadis *hahaha*. Sebenarnya sudah sejak Misteri Patung Garam ini baru terbit dan teman-teman di komunitas Goodreads Indonesia ramai memperbincangkannya, saya ingin membacanya. Pernah dua kali ikut blogtour + giveaway-nya, tapi belum berhasil. Hingga suatu saat saya memutuskan membeli sendiri, dan baru selesai dibaca akhir-akhir ini.

Ini adalah novel kedua karya Ruwi Meita yang pertama saya baca. Yang pertama adalah novel adaptasi Hantu Bangku Kosong. Meski begitu saya sudah mendengar gaung "Agatha Christie-nya Indonesia" sebagai sebutan bagi penulis. Bisa dibilang, ini adalah salah satu faktor yang turut menyematkan rasa antusias pada diri saya ketika membaca novel detektif ini.

Novel ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama sampai ketiga, Pianis, Pelukis, dan Juru Masak diberi judul sesuai profesi masing-masing korbannya. Bagian Pianis dan Pelukis memiliki pola penceritaan hampir serupa, yaitu dimulai dengan adegan penemuan korban oleh orang tertentu yang sudah diramalkan oleh pembunuh akan menemukan mayatnya. Di dua bagian itu tidak diceritakan bagaimana si pembunuh menculik kedua korbannya sebelum dibikin patung garam Bagian Juru Masak agak berbeda, karena proses pembunuhannya pun berlangsung singkat, sehingga si pembunuh tidak sempat membuat maha karya seperti dua patung garam sebelumnya. Di bagian ini, diceritakan awal proses pertemuan korban dengan si pembunuh. Bagian terakhir, Siapa Berikutnya?, diawali adegan pembukaan pameran foto Kenes.

Dengan lihai, penulis tak melulu membuat pembacanya tegang. Ada adegan-adegan yang justru menerbitkan tawa saya, yaitu adegan yang melibatkan Ireng. Percakapan-percakapannya dengan Kiri, terutama saat pertama bertemu, mengandung humor tersendiri. Pencopet cilik yang melakukan kejahatan karena terpaksa itu sangat blak-blakan dan apa adanya. Pun cerdas dan berani, mirip Kiri waktu kecil. Dari bibir Ireng (namanya sesuai dengan warna kulit tubuhnya) sering terlempar makian khas Jawa Timur: jancuk. 

Ireng: Yok opo kon iki.... Jebul PTP?
Kiri: PTP?
Ireng: Yo... Polisi Takut Pacar. Wuahahahahaha. 
(hal. 17)
Kiri: Kenapa kamu jadi pencopet?
Ireng: Kenapa kon jadi polisi? 
(hal. 21)
Lalu dengan cepat, Ireng menjadi akrab dengan Kenes, kekasih Kiri. Kenes adalah seorang fotografi yang kariernya sedang naik daun. Pekerjaan menuntutnya untuk menapakkan kaki ke berbagai negara; berbagai daerah ekstrim pun dilakoninya. Di satu sisi, Kenes suka melakukan hal-hal maskulin seperti naik gunung. Di sisi lain, Kenes adalah seorang kolektor high heels. Bersama dengan Kiri, pada kasus Segitiga Biru, ia turut berperan dalam mengungkap kasus itu. Klub Bahaya, begitu ia menyebutnya. (Klub Bahaya mengingatkan saya akan pasangan detektif suami-istri Tommy dan Tuppence dalam novel karya Agatha Christie.) Kini, anggota Klub Bahaya bertambah satu, yaitu Ireng.

Sementara itu, di balik kecerdasan, keberanian, dan sifat bersahajanya, Kiri memiliki masa lalu kelam. Ia masih belum memiliki keberanian untuk memperbaiki hubungan dengan ayahnya. Masalah inilah yang sering membuat Kiri dan Kenes bertengkar. Oh iya, Kiri juga jago masak, lho! Kalau sedang ngambek, masakan Kiri sangat manjur untuk meluluhkan Kenes.

Saut, inspektur rekan Kiri dalam kasus Misteri Patung Garam, juga memiliki peran tersendiri dalam merilekskan pembaca. Makian khasnya, "kampret rebus", sangat melekat di pikiran saya. Hahaha. Belum lagi fenomena kebanyakan sarapan yang kerap dideritanya, tak menguntungkannya tiap kali melihat mayat yang nggilani. Meski begitu, terkadang Saut bisa menjadi seorang yang bijaksana, seperti ketika ia menasihati Kiri, tentang pilihan antara karier dan perempuan.

"Karier dan perempuan seperti dua besi melintang pada rel kereta api. Sejajar tetapi tak pernah bertemu. Dan, itu sangat kampret rebus! [...] 
Jika kamu memilih karier, kamu akan kehilangan perempuan dan begitu sebaliknya. Jangan pernah memosisikan dirimu untuk memilih. [...] 
Kamu harus membuat dua-duanya seimbang. Berjalanlah seperti kereta api dan tetaplah pada jalurmu, maka kamu akan aman." 
(Saut, hal. 65)
Dan terakhir, tentu saja, si pembunuh, alias si Salty. Sejak di bagian kedua, penulis telah menyusupkan satu nama yang dicurigai Kiri, yaitu Rahardian. Sampai mendekati akhir, penulis membuat saya percaya bahwa Rahardian memang pembunuhnya. Eh, ternyata, penulis telah menyiapkan sebuah twist yang ampuh bikin gemas karena saya terbodohi. Motif si pembunuh tergambarkan dengan meyakinkan, yaitu diinisiasi oleh trauma masa kecil. Kisah istri Lot yang dikutuk jadi patung garam serta berbagai fenomena tentang garam yang diselipkan penulis pun menambah daya tarik cerita dan pengetahuan bagi saya. Contohnya seperti berikut ini.

"Pada abad pertengahan, garam adalah emas putih dunia. Begitu berharganya sehingga lahir kata salary yang berasal dari salt. Karena dulu garam memang dipakai untuk alat pembayaran dan untuk menggaji seseorang. [...] 
Bangsawan Cina memakai garam untuk bunuh diri. Jika berat tubuhnya 50 kilo maka mengonsumsi garam 50 kilo cukup untuk membunuhnya." 
(Kiri, hal. 89)

Ada adegan yang tidak konsisten. Di halaman 193, digambarkan bahwa ketika pergi untuk "melamar" Kiri, Kenes memakai gaun tanpa lengan dengan kerah shanghai. Namun, pada halaman 199, berjam-jam kemudian saat Kiri tak kunjung datang, secara eksplisit digambarkan bahwa Kenes mengenakan celana. Pada halaman 209-210 juga tertulis bahwa saat itu Kenes mengenakan blus.

Well, saya sangat menikmati membaca buku ini! Saya berani bilang bahwa ini adalah novel thriller-misteri-detektif lokal terbaik yang pernah saya baca (hmm, memang saya jauh lebih banyak membaca genre serupa karya penulis luar negeri, sih). Tak pelak, saya jadi ingin membaca karya-karya Ruwi Meita ber-genre sama sebelumnya; juga yang akan terbit berikutnya ^^.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets