9 November 2015

[Resensi TELEPON MISTERIUS] Halo, Kau akan Meninggal Besok Lusa

Judul: Telepon Misterius
Penulis: Riani Suhandi
Editor: Dyas
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Tebal: 184 halaman
ISBN: 978-602-296-145-1
Harga: Rp 36.000,00
Rating saya: 3/5

Anggara: Kamu percaya kalau Nania meninggal karena menerima telepon misterius itu? [...] Ayolah, nggak ada sebuah telepon yang bisa membuat seseorang meninggal.
Tantry: Bisa saja, Ang. Nania buktinya. Dia meninggal beberapa hari setelah menerima telepon itu.
(hal. 37-8)

Isu mencekam seputar telepon misterius bergaung di koridor-koridor sekolah Tantry. Katanya, sang penelepon mengatakan kapan kau akan meninggal. Awalnya, logika Tantry tak memercayai hal itu, seperti Anggara. Namun, setelah ia melihat sendiri kecelakaan yang merenggut nyawa sahabatnya, Nania, Tantry berubah pikiran. Pasalnya, Nania mengatakan bahwa sebelumnya ia mendapatkan telepon misterius dan akan meninggal malam itu.

"Lima hari lalu, setelah pulang hiking, aku mendapat telepon misterius itu, Try. Perempuan asing itu mengatakan kalau aku akan meninggal tepat pukul sebelas malam ini..." (Nania, hal. 10)

Ya, Nania meninggal malam itu, meski tidak tepat pukul sebelas. Tetap saja... Untuk sesaat, Tantry benar-benar dikuasai kesedihan. Tak lama kemudian, semangatnya tergugah untuk menyelidiki siapa orang yang meneror Nania itu. Ia mengajak Anggara untuk melakukan penyelidikan, tapi awalnya Ang menolak. Tantry terpaksa bergerak sendiri. Saat menyelidiki teman-teman Nania yang lain, Eliana, salah satu dari mereka, mengaku mendapat telepon misterius juga.

"Saat pulang dari pemakaman Nania, aku sendirian di rumah. Tiba-tiba saja telepon di rumahku berdering. Aku kira itu Tias karena sebelumnya dia bilang akan meneleponku. Jadi, aku angkat saja telepon itu tanpa rasa takut. Setelah aku mengangkatnya, orang asing itu mengatakan kalau aku akan meninggal besok lusa." (Eliana, hal. 62)

Anehnya, tak seperti Nania yang ditelepon seorang perempuan, Eliana ditelepon seorang laki-laki. Kemudian, si Kembar Ika dan Ica juga mendapat telepon yang sama, yang membuat mereka kabur ke Jerman untuk menyelamatkan diri. Yah, si Kembar memang selamat, tapi Eliana tidak. Ia ditemukan meninggal akibat keracunan racun tikus. Mungkin seharusnya Eliana kabur ke Jerman juga, hehehe. Pascakematian Eliana, Tantry menemukan petunjuk penting, yang menunjukkan bahwa Eliana sedang hamil! Nah, siapa yang menghamilinya?

Melihat perkembangan situasi tersebut, Anggara akhirnya bersedia terlibat dalam penyelidikan yang digagas oleh Tantry. Bersama mereka mengunjungi Tias, teman Nania, untuk mencari informasi. Eh, ternyata, Tias juga mendapat telepon misterius! Tak perlu menunggu lama. Tias ditemukan meninggal dengan bekas cekikan di lehernya. Mendengar berita kematian (lagi), Tantry terpuruk. Di tengah kemurungannya itu, ingatannya melayang ke sosok anak laki-laki dari masa lalunya, Zian. Anak lelaki itu baik pada Tantry, tapi pada orang lain... yah, emosinya sedikit tidak terkontrol.

Tantry dan Anggara sudah terlalu jauh nyemplung. Teruskan penyelidikan atau berhenti? Ibu Tantry, Mita, teman Nania, dan Gala, teman Tantry yang sepertinya menaruh hati padanya, menyarankan agar mereka berhenti. Bahkan, Gala sangat ngotot agar Tantry tidak melibatkan diri lagi dalam kasus telepon misterius itu.

"Tapi, aku benar-benar sudah terlibat terlalu jauh. Sangat sayang jika harus mundur di tengah jalan." (Tantry, hal. 113)

Tak ada yang tahu, kapan giliran mereka akan mendapatkan telepon misterius itu.

"Terkadang, aku berpikir kalau telepon misterius itu ibarat kematian. Keberadaannya menyadarkanku kalau kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. [...] Bisa saja selanjutnya akulah korban teror telepon misterius itu." (Tantry, hal. 91)
***
Yang nyelempit di benak saya ketika pertama kali membaca judul dan blurb novel ini adalah, film Hollywood yang pernah saya tonton. When A Stranger Calls (2006) dan One Missed Call (2008). 



Kedua film ini melibatkan telepon misterius dalam membangun sisi thrillernya. Di film yang pertama, seorang gadis remaja sedang bekerja menjaga seorang anak di dalam sebuah rumah besar, sendirian. Tiba-tiba telepon berdering, yang lama-lama menjelma teror dan mewujud dalam sosok misterius. Di film yang kedua, sebuah voice mail menyasar ponsel seseorang, dan memberitahukan kapan ia akan meninggal, dan sedikit detail cara meninggalnya.

Hampir sama dengan kedua film tersebut, tokoh utama novel ini juga adalah remaja. Tantry, gadis yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sosok yang sangat "bermoral". Sosok yang "bermoral" karena ia terlalu memikirkan pandangan orang lain akan dirinya.

"Ini sudah pukul sepuluh malam. Tapi, aku masih berada di luar rumah bersama seorang laki-laki. Ah, entah apa yang mungkin tetangga pikirkan jika aku pulang nanti." (hal. 107)

Di awal penyelidikan, Tantry sangat antusias. Tapi, sangat disayangkan, seiring dengan jatuhnya korban demi korban, ia terguncang. Tak aneh juga, sih, siapa yang tidak terguncang jika teman-temannya satu demi satu terbunuh oleh seseorang yang masih belum diketahui identitasnya? Namun, guncangan mental Tantry ini membuat akal sehatnya dan daya pikir kritisnya lengah. Untunglah, menjelang akhir, buku harian Nania membantu antusiasmenya bangkit. Herannya, ia seperti lupa dengan keberadaan buku harian Nania itu, padahal sudah cukup lama ia mengambilnya dari rumah Nania. Tapi baru menjelang akhir ia ingat akan buku itu.

Nania, menempati porsi cerita yang cukup sedikit, karena di awal ia meninggal. Namun, kisah tentangnya akan disinggung sedikit setelah itu, lewat narasi Tantry, maupun obrolannya dengan Anggara, juga belakangan lewat buku hariannya.

Anggara adalah mantan pacar Tantry ketika mereka masih SMP. Tapi mereka masih menjalin hubungan sebagai teman baik, bahkan setelah Anggara berpacaran dengan Nania. Ternyata, hubungan Anggara-Nania yang bagi Tantry terlihat baik-baik saja itu menyimpan sesuatu yang tak terduga. Anggara memiliki keahlian sebagai dubber film, dan bisa mengubah suaranya jadi benar-benar mirip perempuan. Uniknya lagi, Anggara suka mendengarkan lagu-lagu Super Junior, "boyband kesayangannya" (hal. 66). Mungkin kita akan cocok berteman, Ang! Haha.

Sebagai teman lelaki Tantry yang paling dekat selain Anggara, Gala terlihat sangat mengkhawatirkan Tantry. Sepertinya ia menaruh hati pada gadis itu. Terlebih ketika ia terlibat pertengkaran dengan Anggara.

Sebagai novel yang mengusung kisah misterius, teka-teki yang menimbulkan rasa penasaran pembaca menjadi salah satu poin yang menentukan keberhasilan penulis. Menurut saya, novel ini bukan novel thriller, karena tidak menegangkan pembaca, sampai sedikit kejutan menjelang akhir. Novel ini mungkin lebih tepat disebut novel misteri semi detektif, karena tingkah Tantry dan Anggara yang berlagak jadi detektif. Saya mengapresiasi usaha penulis untuk membuat tokoh-tokoh remajanya jadi detektif tanpa harus jadi detektif. Eh, bagaimana, sih, bingung ya? Maksud saya, penulis tidak berusaha agar tokohnya terlihat luar biasa cerdas hingga nyaris tak masuk akal. Penulis pun tidak menyajikan teka-teki yang luar biasa rumit. Yah, jadi, cerita detektif-detektifan a la remaja SMA jadi membumi. Nyatanya, kebenaran di balik teka-teki itu pun dilatari motivasi yang sederhana dan nyaris klise: masalah percintaan bersegi-segi antartokoh.

Setiap menyelidiki korban teror telepon misterius, pertanyaan andalan Tantry adalah, "Apa kamu memiliki musuh atau pernah memiliki masalah dengan seseorang sebelumnya?" Pertanyaan semacam ini memang tak akan ditanyakan oleh detektif kawakan yang luar biasa jenius, Sherlock Holmes. Atau Poirot. Atau Eve Dallas. Atau Cormoran Strike. Tapi, ini pertanyaan yang sesuai ditanyakan oleh seorang Tantry. Tantry yang polos.

Mungkin seharusnya ia juga bertanya pada tiap korban, "Seperti apa suara penelepon itu, apakah kau mengenalinya?" Nah, pertanyaan itu mungkin akan mengungkap petunjuk lebih banyak lagi. Kemudian, setelah Eliana meninggal, Tantry menemukan foto hasil USG dan test pack milik Eliana di kolong tempat tidurnya. Di kolong tempat tidur, dan tidak ada orang yang tahu ada itu di sana sebelum Tantry? Agak riskan.

Penulis juga menciptakan sebuah anomali di antara penyebab meninggalnya para korban. Ada yang memang korban, ada yang sebenarnya bukan korban, tapi terlihat seolah-olah korban. Hal ini bisa menjadi kejutan tersendiri. Penulis juga membimbing pembaca ke dugaan yang salah akan siapa tersangka sebenarnya, terlebih setelah membaca kalimat Tantry di halaman 21.

Selanjutnya, ada beberapa keanehan yang saya temukan.

"Sepulang sekolah, ia (Anggara) mengajakku pergi ke rumah neneknya yang ada di Lembang..." (Tantry, hal. 109)
"Aku seperti terjun bebas dan berlari ke sana-kemari menyaksikan setiap perjalanan hidupku; umur tiga tahunku yang menyenangkan saat masih tinggal bersama nenekku di Lembang." (Tantry, hal. 118)
Nah, dari dua petikan itu, saya agak bingung. Jadi, nenek Anggara dan nenek Tantry sama-sama tinggal di Lembang? Kebetulan sekali, ya.... Selain itu, ada sesuatu yang membuat saya menduga bahwa naskah novel ini ditulis cukup lama sebelum akhirnya terbit.

"Aku sering mengibaratkan Nania dan Anggara seperti salah satu pasangan selebritis di Hollywood sana, Robsten. Para penggemar film 'Twilight' pasti tahu siapa mereka." (hal. 22)
Robsten, kan, sudah lama putus, dan masing-masing sudah punya pasangan baru. Hehehe.

Saya juga menemukan beberapa typo dan kekurangtepatan pemilihan kata.
1. "menyainginya", seharusnya "menyayanginya" (hal. 27).
2. "Ia aku tahu...." (hal. 55), seharusnya "iya".
3. ibunya Nania (hal. 75, 108), seharusnya "ibu Nania".
4. Mobil membelah jalanan kota dan melintasi pusat-pusat keramaian Bandung dengan kekuatan sedang. (Seharusnya "kecepatan", bukan "kekuatan".) (hal. 105)
5. "Aku ada appointment penting, jadi harus segera pulang." (Gala, hal. 69) (Kenapa tidak menggunakan kata "janji" saja, tapi malah "appointment"?)

Lima poin tersebut tidak mengurangi keasyikan membaca novel, kok. Tapi, yang agak mengganggu adalah ending novel yang sangat berbau Hollywood.

"Tanpa kuduga, pembicaraan ini beralih pada cerita teror telepon misterius. Lucu, bukan? Tentu saja! Karena, aku dan Nania bukan sedang berada dalam film horor Hollywood ataupun drama seri." (hal. 9)
Novel misteri remaja ini cukup "misterius" dan membuktikan pada kita sendiri, bahwa penulis domestik pun bisa bikin cerita misterius, tidak Hollywood saja. Meski kiblatnya masih ke-Hollywood-hollywood-an, sih.

"Kalau waktu milikmu, kamu bisa mengendalikan mereka sesuka hatimu. Tapi, sudah takdirnya waktu terus berlari dan tanpa sadar kamu sudah melewati banyak hal." (Gala, hal 52-3)
"Waktu bukan milikku, dia, atau mereka. Waktu berlari tanpa sudi menoleh, meninggalkan mimpi, dan kenangan jauh di belakang." (Tantry, hal. 129)
Reaksi:

5 comments:

  1. jadi penasaran baca resensinya. hmmm..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe buruan beli *bantuin promosi* :D

      Delete
    2. Unsur intrinsik sebutin dong min

      Delete
    3. Saya ulas tuh beberapa unsur intrinsiknya: penokohan, alur, sudut pandang :)

      Delete
  2. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets