Showing posts with label de TEENS. Show all posts
Showing posts with label de TEENS. Show all posts

21 September 2016

[Resensi "ME VS DADDY"] Manisnya Eclair Kopanda


Judul buku: Me vs Daddy
Penulis: Sayfullan
Editor: Vita Brevis
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, Agustus 2016
Tebal: 220 hlm
Genre: drama, romance
Kategori: teenlit
Harga: Rp 46.000,00
Rating saya: 2/5

"Kenapa aku harus ditakdirkan untuk selalu melawan papaku sendiri?" (Karel, hlm. 205)
Ternyata Karel penganut filosofi Stoic, yang percaya bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan untuk terjadi selayaknya ia terjadi. Untungnya, meski begitu, ia tetap berusaha menunjukkan usaha terbaiknya untuk membuktikan kemampuannya sebagai chef, dengan spesialisasi membuat eclair, dalam pertentangan pertama melawan ayahnya, Marvin. Marvin menginginkan Karel mengikuti jejaknya: berkecimpung di dunia properti, tapi Karel punya jalannya sendiri: menjadi patisserie. Keinginannya untuk membuktikan diri disambut tantangan perjanjian bisnis oleh Marvin. Marvin setuju untuk memodali pendirian Kopanda (nama yang sama dengan toko roti milik almarhumah Claudia, mama Karel) Cafe and Eclair Shop, dengan syarat: "jika kafenya kelak tidak berkembang dan harus ditutup, itu berarti dia harus rela untuk dipenjarakan di dunia properti oleh Marvin dan harus membayar denda sebesar setengah miliar rupiah" (hlm. 14).

Pertentangan itu menarik Marvin dan Karel kembali ke masa lalu tentang Claudia. Karel, ingin membangkitkan kembali mamanya melalui kafe itu, yang dinamakan berdasarkan kecintaan Claudia akan panda dan kopi, juga bunga krisan yang akan menjadi hiasan kafe Karel. Marvin, terseret pusaran pahit kisahnya dengan Claudia: kisah manis yang berakhir pahit, melibatkan Randu, teman dekat Claudia, sesama chef.
Di awal, Kopanda meraih sukses. Namun, Karel harus menghadapi tantangan yang bisa menyebabkan kafenya terpaksa ditutup.

Kesibukan Karel sebagai manager Kopanda diganggu oleh kehadiran Jianna, dengan pertemuan pertama yang mengesalkan. Sementara itu, Marvin dan Renne, mama Jianna, menjadi semakin dekat. Pasangan ibu dan anak itu sedang menata kehidupan baru, setelah masa lalu buruk yang menimpa karier Renne sebagai model dan kehidupan rumah tangganya.

Di sebuah SMA elit, Jianna harus menghadapi serangkaian siksaan mental dari Charlot (putri Widya, musuh bebuyutan Renne). Jianna ingin terjun di dunia model untuk membalas dendam pada Charlot, tapi Renne punya caranya sendiri untuk membuat anaknya mengerti bahwa menjadi model itu perlu perjuangan keras. Renne juga selalu melarang anaknya makan makanan manis. Kenapa, ya?

Di sisi lain, sebagai pekerja part time di Kopanda, Jianna mulai menyukai dunia kuliner, dan juga mulai menyukai Karel. Namun pertentangan kedua Karel dengan Marvin menjadikan hubungan spesialnya dengan Jianna tidak mungkin. Pada pertentangan kedua ini, Karel tak bisa berusaha; ia hanya bisa pasrah.
***

Behind the Front Cover

Di balik cover depan novel ini, ada...jeng-jeng-jeng..., tanda tangan dan pesan istimewa dari penulisnya, Bang Say. Novel ini pun kiriman dari blio (dengan kata lain, novel gratisan), jadi nggak enak tetep enak kalau mau menggugat karya terbarunya ini.

Plot

Me vs Daddy, selain berpusat pada kisah hubungan Karel-Marvin, juga mengisahkan tentang Jianna-Renne. Dua single parents dan dua anaknya. Kemudian di suatu paragraf, kisah dua pasang anak-single parent itu bersinggungan. Sejak itulah, muncul kisah Karel-Jianna dan Marvin-Renne. Keempat tokoh sentral itu masing-masing memiliki masa lalu yang berperan penting terhadap keputusan-keputusan yang mereka ambil di masa kini. Memori akan Claudia, almarumah mama Karel, membuat Karel memutuskan menjadi patisserie dan menamai kafenya "Kopanda", juga menghiasi kafenya dengan bunga krisan (bunga favorit Claudia). Sementara itu, Marvin tak mampu menahan kepedihan yang muncul tiap kali teringat akan akhir buruk hubungannya dengan Claudia.

Jianna dan Renne, harus menerima jungkir-balik kehidupannya. Yang dulu hidup berkecukupan, semasa Renne masih seorang model terkenal, kini harus hidup dengan dukungan finansial yang tak seberkelimpahan dulu, dari penghasilan Renne sebagai pedagang online dan penulis. Masa lalu pahit yang melibatkan perselingkuhan suaminya, pengkhianatan oleh seorang sahabat, dan penolakan oleh keluarga besarnya membuat Renne jadi makin kuat dan mandiri.

Penulis menggunakan plot flashback, baik menggunakan teknik show maupun tell, untuk menyelipkan masa lalu masing-masing tokoh sentral. Mungkin karena hanya menggunakan teknik tell, kisah masa lalu Renne kurang tereksplorasi. Di beberapa bagian, plot seolah melompat terlalu cepat, misalnya tentang hubungan Karel-Jianna. Mungkin karena kurang banyak adegan yang menunjukkan interaksi mereka berdua, jadi agak mengagetkan ketika tiba-tiba mereka saling jatuh cinta.

Kemudian tentang insiden "espresso kecoa" yang membuat pamor Kopanda hancur, menurut saya penyelesaian masalahnya terlalu mudah. Pun penjelasan yang diajukan Moren (pemeran utama dalam insiden itu) saat press conference kurang masuk akal.
"Kecoa itu bukan berasal dari kafe ini. Saya teringat, beberapa hari kemarin saya shooting film horor baru saya di gudang rumah tua daerah Tebet. Saya menyimpulkan bahwa kecoa yang ada di kopi bukan dari kafe Karel, melainkan dari rumah tua itu...." (Moren, hlm. 190)
Pernyataan itu mengandung teka-teki: bagaimana caranya kecoa dari "rumah tua di Tebet" bisa masuk ke secangkir kopi? Oke, mungkin kecoanya nemplok di rambut Moren selama perjalanan, terus ketika melihat ada secangkir kopi, dia kira itu rumahnya: air comberan berwarna hitam. Maka, nyeburlah dia ke sana. Well, kalau saya hadir di press conference itu, saya tak akan memercayai pengakuan Moren.

Di bagian ending, saya dibikin tercengang: penulis tiba-tiba meletakkan plot device, yang mungkin dimaksudkan untuk membuat twist, tapi terlalu mengejutkan untuk sekadar menjadi ending. Selain itu juga membuat plotnya seperti terburu-buru ditamatkan. Namun penulis berhasil menarik saya dengan twists lain: perjanjian bisnis yang ditawarkan Marvin pada Karel ternyata adalah siasat; setelah nama baik Kopanda berhasil dikembalikan, saya kira cerita akan langsung tamat, tapi ternyata muncul konflik lain untuk dipecahkan.

Karakter

Keempat tokoh sentral memiliki karakter yang klise, masing-masing kurang kuat dikembangkan. Mungkin disebabkan juga oleh kurangnya ruang untuk mengeksplorasi karakter, karena alurnya cukup kompleks. Dari keempat tokoh sentral itu, mungkin Karel yang paling berkarakter. Sosok flower boy (cowok cantik), berkeinginan kuat, tahu apa yang dia mau dan berjuang keras meraihnya, jutek terhadap Jianna. Sebaliknya, Jianna adalah cewek ceplas-ceplos yang kata-katanya sering ngeselin (terhadap Karel). Marvin adalah sosok om-om ganteng dan kaya, yang memaksakan kehendaknya pada anaknya. Renne, sosok perempuan mandiri. Hubungan Jianna-Renne menggambarkan hubungan ibu-anak yang seru, lebih kayak sahabatan, kayak interaksi orang seumuran gitu.

Tokoh antagonisnya adalah pasangan ibu-anak Widya-Charlot. Meski Charlot ngeselin, saya kagum akan keteguhan hatinya dalam menekuni profesinya sebagai model.
"Jangan pernah berkomentar fashion jika tidak mengerti apa-apa tentang fashion! Lo harusnya tahu. Ini mimpi gue! Mimpi nyokap gue! Dan gue nggak boleh lemah atau kalah hanya dengan luka lecet, atau perut yang kelaparan karena nggak sempet makan. Gue akan lakukan apa saja untuk mimpi gue ini! Termasuk nendang lo dari sini, jika itu perlu!" (Charlot, hlm. 159)

Sesuatu yang Aneh

Insiden daftar ulang SMA: di hlm. 91, disebutkan bahwa uang pendaftaran yang harus dibayar adalah 15 juta, tapi karena nggak bawa dompet, Renne menyuruh Jianna pinjam uang 5 juta ke Marvin (hlm. 93). Kok 5 juta doang?
Selain itu ada beberapa typo dan/atau kekurangtepatan pemilihan kata, seperti "exciting" (hlm. 166), yang seharusnya "excited".

Semacam Kesimpulan

Membaca novel ini bagaikan menonton FTV Indonesia. Gaya bahasanya memakai bahasa gaul. Adegan curhat-curhatan mellow antara Renne dan Jianna selalu tiba-tiba berakhir tangis, yang menurut saya agak berlebihan karena nggak mengharukan sebenarnya (atau mungkin saya aja yang terlalu "dingin"), contohnya adegan di hlm. 142. Menariknya, drama keluarga dan romance ini dibalut aroma eclair. (Saya baru tahu ada jenis kue seperti itu. Saya pernah dengar kata "eclair" sebagai judul sebuah novel terbitan GagasMedia.) Pasti akan lebih nikmat kalau porsi tentang dunia pastry-nya diperbanyak. Nyam, nyam, nyam *awas diabetes*.

29 April 2016

Bagaimana Feromon Bekerja (Resensi "Imaji Dua Sisi")

image
Judul Buku: Imaji Dua Sisi
Penulis: Sayfullan
Tebal: 332 halaman
Penerbit: deTEENS
Cetakan: Cetakan pertama, Juni 2014
ISBN: 978-602-7968-86-8
Harga: Rp 42.000,00


Feromon dan “Perfume

Apa yang membuat kita tertarik dengan lawan jenis? Apakah keindahan fisiknya yang tak dapat dipungkiri oleh mata? Atau…, kepribadiannya yang manis? Tak mustahil juga bahkan kita tak tahu alasannya. Namun, bagaimana jika yang membuat kita terobsesi adalah suatu zat kimia bernama FEROMON?

Tunggu dulu. Apa itu FEROMON?
“...aroma dasar yang secara naluriah menciptakan kedekatan antarindividu… zat kimia alami yang ditransmisikan lewat udara dan secara khusus berfungsi sebagai perangsang lawan jenis.” – Bumi (halaman 12)
Namun, tampaknya keberadaan feromon dalam tubuh manusia masih menjadi perdebatan.
image
Sumber gambar di sini.

Pernahkah kalian membaca novel thriller berjudul “Perfume” karya Patrick Süskind—tentang pembunuhan misterius para perawan untuk mengekstrak aroma tubuhnya menjadi parfum? Pertama kali membaca bagian prolog novel ini, saya teringat kisah tersebut.
“Demi mendapatkan Lintang, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk berhasil mengekstrak feromon dari tubuhnya.” – Bumi (halaman 315)
“Hanya tinggal menunggu waktunya saja untuk menguji coba apakah tetes demi tetes minyak dalam botol kecil ini berfungsi dengan baik atau tidak.
‘Bersiap-siaplah, Lintang!!!’” – Bumi (halaman 320)

Tiga Rasa yang Bertabrakan

Bara, Lintang, dan Bumi dipertemukan di hari pertama ospek jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang. Takdir mungkin yang membuat mereka bertiga tergabung dalam satu kelompok ospek. Tiga manusia itu memiliki kepribadian yang sangat berbeda-beda, tapi itu membuat mereka makin dekat. Bara adalah tipe lelaki idola di novel-novel teenlit: ganteng, keren, jago basket, supel, tapi menyembunyikan suatu rahasia tentang dirinya. Sementara itu, Lintang adalah gadis yang supel juga, tapi menyimpan masa lalu yang ingin ia tinggalkan dengan pindah ke Semarang. Lain lagi dengan Bumi, yang pendiam dan sering merasa rendah diri, tapi paling terobsesi pada ilmu kimia. Bagi Bumi, yang menyimpan masa lalu kelam, sosok Lintang mengingatkannya akan ibunya tercinta.
Setelah melewati kejamnya ospek jurusan dan mengerjakan tugas-tugas bersama, hubungan mereka makin dekat dan rumit. Cinta segitiga terjalin di antara mereka, seperti bisa ditebak. Namun, Lintang belum siap menentukan hatinya. Apalagi dengan terjadinya insiden yang nyaris menggagalkan pernikahan kakaknya, Langit, dengan Rakai.

Sebenarnya Bara ingin mengatakan perasaannya kepada Lintang sebelum ia menghilang. Bumi, yang tanpa sengaja memergokinya—telanjur mengira Bara adalah pengkhianat. Hal ini membuat Bumi melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Siapakah yang sebenarnya dicintai Lintang? Bara, Bumi, atau lelaki dari masa lalunya? Dan, ke manakah Bara menghilang selama setahun kemudian? Akankah ia menepati janjinya untuk memberi petunjuk bagi Bumi dan Lintang?

Novel dengan Bau Zat Kimia

Membaca novel ini menyuntikkan ide di kepala saya untuk menulis novel berbau Teknik Fisika *jangan, ampun!*. Saya memberi apresiasi kepada penulis, atas tema segar meski aneh yang diangkatnya. Ketika membaca bagian prolog, saya berharap ini akan menjadi novel thriller. Yah, ternyata bukan. Huhuhu.

Sebenarnya, benang merah cerita yang dijahit penulis bukanlah hal baru. Kisah tentang persahabatan tiga orang mahasiswa yang malah dikeruhkan oleh tumbuhnya cinta segitiga. Namun, penulis berinovasi dengan menambahkan rasa ilmu Teknik Kimia di dalamnya. Yang menjadi sorotan utama penulis adalah suatu zat bernama feromon. Ternyata, menurut para ahli (dari beberapa sumber yang saya baca), keberadaan feromon manusia masih merupakan kontroversi. Meski begitu, proses mengekstrak feromon yang dipaparkan penulis terasa sangat terpercaya (karena saya awam dalam hal kimia macam begitu, kecuali Kimia Dasar. Hehehe) dan seru! Tapi, saya skeptis bahwa orang bisa jatuh cinta dengan lawan jenis hanya karena feromon.

Dari awal hingga mendekati akhir cerita, it was okay. Saya suka gaya bercerita penulis, yang bisa menjelma menjadi tiga pribadi dengan sudut pandang yang berbeda. Selain itu, pemilihan kata yang digunakan penulis juga beragam, dirangkai dengan cara yang unik, sehingga tidak membosankan. Ditambah lagi dengan istilah-istilah ilmu Kimia—yang terkadang terasa dipaksakan—tapi bisa membikin cerita lebih segar. Salah satu bagian kesukaan saya adalah tentang “teori konsentrasi” yang digunakan Bumi untuk menyemangati Lintang.
“Cobaan hidup ini layaknya asam asetat yang pekat. Masam dan bau. Tapi, jika hati kita bisa seluas sungai dalam menerima atau mau untuk belajar ikhlas, cobaan itu tak akan pernah terasa.” – Bumi (halaman 242-243)
Mendekati bab 26, bab terakhir, sesuatu yang membingungkan saya terjadi. Akhir yang aneh dan kurang memuaskan, menurut saya awalnya. Tapi mungkin itu hanya karena saya belum memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis. Setelah mencapai halaman terakhir, saya kembali ke prolog dan mulai menduga-duga. Mungkin saja, tulisan di bagian prolog itu adalah bagian dari novel thriller tentang ekstraksi feromon karya Bara, atau itu hanya mimpi yang dialami Bumi?
Terdapat beberapa kalimat tidak efektif atau yang tidak bisa saya mengerti, seperti berikut ini.
“Kelainan memang cewek berpipi gempal di depan.” – Bara (halaman 26)
“Dengan cukup outfit sebuah kaus, jeans belel, sepatu kets, gue sudah merasa siap dengan semua angkatan gue.” – Lintang (halaman 85)
“Ah, malam ini aku tidak ingin sedang memikirkan Lintang.” – Bara (halaman 133)
Dan juga, istilah dalam bahasa daerah, “midodareni”, akan lebih baik jika diberi keterangan apa artinya (halaman 273). Dan, tentang siapa yang sebenarnya Lintang cintai, menurut saya adalah Bara. Mungkin tanpa sadar, Lintang berkata bahwa ia mencintai Bumi hanya karena ia ingin mengetahui di mana Bara berada.
“Biar Lintang sadar, agar dia tahu siapa sebenarnya yang benar-benar dia cintai, yang ada di hatinya selama ini.” – Bara (halaman 329)
Selain itu, saya juga menduga mengapa judulnya "Imaji Dua Sisi". Mungkin ini melambangkan dua orang yang mencintai Lintang, yang masing-masing memiliki bayangan tersendiri terhadap diri Lintang. Atau, bisa juga berkaitan dengan kisah ekstraksi feromon terhadap Bara, dari dua sudut pandang: kisah sebenarnya dan kisah dalam novel Bara.

Novel unik ini cukup nikmat dibaca, apalagi bagi para pecinta ilmu kimia, bisa menambah pengetahuan juga.

Tiga bintang untuk feromon yang membuat Bumi terobsesi.

Catatan:
Resensi ini sebelumnya saya unggah di Tumblr, karena waktu itu saya harus segera mengunggahnya, tapi koneksi ke blogspot susah. Nah, demi kerapian arsip resensi, resensi ini sekarang saya unggah juga di blogspot.

21 April 2016

[RESENSI "Senyum Pertama di Pagi Airin"] KOPER YANG PENUH SESAK

image 
Judul Buku: Senyum Pertama di Pagi Airin
Penulis: Okta Rahasti
Tebal: 200 halaman
Penerbit: deTEENS
Cetakan: Cetakan pertama, Agustus 2014
ISBN: 978-602-296-003-4
Harga: Rp36.000,00


image
Sepuluh tahun lalu, Airin dan Hime mencari rumah neneknya di Jakarta, berbekal sebuah alamat rumah dalam sebuah surat terakhir peninggalan ibu mereka sebelum meninggal. Secara kebetulan yang aneh, mereka bertemu dengan neneknya dan tinggal di rumah itu sampai saat cerita ini berlangsung. Rumah besar itu hanya dihuni oleh Airin, Hime, dan kedua pelayan—Mbok Nem dan Mbok Sum. Jika Airin sedang mengurung diri dalam kamar, rumah itu akan terasa sangat sepi bagi Hime. Saking terbiasanya tinggal dengan sedikit orang, Hime tertegun melihat ada dua pasang sepatu milik tamu di rumahnya.
“Ada apa, Mbok? Kok rumah kita banyak orang?” (halaman 42)
Kakak beradik itu memiliki sifat yang bertolak belakang. Airin, si gadis pendiam nan dingin, dulunya adalah pribadi yang menyenangkan. Namun, sifatnya berubah setelah ia putus dengan pacarnya, Dennis, lima tahun yang lalu. Sejak saat itu, gadis lulusan S1 Arsitektur yang memiliki hobi melukis itu suka menyendiri dalam kamar dan keluar malam-malam untuk berjalan kaki tidak jelas juntrungannya.
“Hari ini Nona Airin hanya ngomong dua kali...” – Mbok Nem (halaman 10)
“Hari ini Nona Airin ngomong empat kali.” – Mbok Nem (halaman 52)
Suatu malam ketika ia sedang menjalankan ritualnya itu, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pria bernama Reza. Pertemuan mereka berlanjut sampai menjadi sebuah hubungan yang lebih dalam daripada sekadar teman. Namun, sampai saat terakhir, Reza belum berani mengatakan dengan mulutnya sendiri, siapa dia sebenarnya.

Di sisi lain, Hime adalah seorang gadis SMA yang ceria dan menyenangkan. Insiden tertimpuk bola basket di kepala menjadikan ia dekat dengan seorang siswa tampan-keren standar teenlit dan sinetron Indonesia (ganteng, jago main basket, atletis), bernama Andre. Nah, Andre ini, kebetulan adalah adik Reza. Iya, Reza yang itu. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai Airin melarang Hime dan Andre bertemu karena ia menganggap Andre memberi pengaruh buruk bagi adiknya itu. Namun, larangan itu tak berlangsung lama. Malah, suatu kejadian buruk yang menimpa Hime—di mana Reza terlibat—membuat Airin semakin menyadari bahwa adiknya sangat berharga.

200 Halaman itu Terlalu Tipis

Ketika membaca halaman demi halaman yang menguak masalah demi masalah yang disajikan penulis, saya merasa bahwa penulis seperti sedang berusaha menjejalkan segulung selimut tebal ke dalam koper yang saking penuhnya sudah tak bisa ditutup. Awalnya, saya cukup menikmati cara penulisan yang digunakan penulis. Namun, semakin ke belakang, saya makin sering mengernyitkan dahi karena mendapati banyak hal yang “nggantung”. Cuma 200 halaman yang disediakan penulis, tapi ia menjejalkan banyak masalah yang kebanyakan tidak jelas latar belakangnya.

Saya heran, bagaimana ceritanya dua orang gadis Jepang nyasar ke Jakarta untuk mencari rumah neneknya? Apa alasan ayahnya meninggalkan mereka (sepertinya juga tidak disinggung penulis—maaf kalau saya salah)? Lha, lucunya lagi, ketika mereka sudah hampir menyerah mencari alamat itu, tiba-tiba seorang nenek muncul…. Nenek yang dicari-cari itu tiba-tiba menampakkan diri! (Tenang saja, ini bukan film horor “Nenek Gayung”.)

Tentang aktivitas mafia yang melibatkan Reza, saya sudah berharap akan menjumpai kisah mafia-romantis yang  keren semacam film “A Dirty Carnival”[1]. Tapi, menilik novelnya yang tipis, saya sudah curiga…. Curiga bahwa cerita ini ditulis dengan sangat kurang porsinya. Dan, benarlah demikian. Misalnya, adegan perampokan Bank Naemuro (halaman 60-62) yang kurang seru, hanya dituliskan sekilas seolah diceritakan ulang keberapa kalinya oleh wartawan yang kekurangan objek berita.

Latar belakang kehidupan Reza-Andre juga kurang dieksplorasi oleh penulis. Kemunculan ibu mereka yang sakit-sakitan di dalam cerita pun terasa kurang ada pengaruhnya bagi perkembangan cerita. Ini lagi, si Dennis, yang berlagak jadi polisi. Di akhir cerita tiba-tiba dia muncul dan menembak Reza, diikuti beberapa polisi di belakangnya. Dari mana, ya, dia punya pistol? Jangan-jangan, nih orang anggota geng mafia sebelah? Hohoho.

Penulis berani menyuguhkan seorang tokoh yang kepribadiannya berubah total karena sesuatu hal, tapi sayangnya, latar belakang penyebabnya diceritakan secara kurang kuat dan meyakinkan. Cuma gara-gara putus dari Dennis? Atau bagaimana? Dan, begitu mudahnyakah ia menerima kembali ajakan Dennis untuk bersama?

Serbakebetulan yang disodorkan penulis pun membuat saya gemas. Kejadian pemboman kafe itu salah satunya. Hime bisa-bisanya kebetulan berada di kafe yang saat itu akan dibom oleh anggota mafia. Selain itu, penulis juga serbaterburu dalam menceritakan kisahnya. Penulis juga kurang mengeksplorasi setting tempatnya, deskripsi fisik tokoh pun sangat minim, banyak dialog tokoh juga terasa kurang membangun cerita. Beberapa bagian penulisan pun terasa terburu-buru.
Airin tidak menanggapi ucapan Reza. Sebaliknya, Reza sangat tertarik dengan kepribadian Airin yang tertutup. Ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang baru dikenalnya itu. Setelah berbincang dengan Reza, Airin merasa Reza adalah pria yang baik. (halaman 54)
Menurut saya, kata sifat “baik” perlu dihindari jika tidak ingin membuat pembaca berspekulasi terlalu tak keruan lantaran kata sifat ini sangat abstrak. Penulis juga terkesan enggan menunjukkan pada pembaca, “perbincangan” yang mana yang membuat Airin menilai Reza sebagai pria yang baik?
Nah, ada beberapa bagian cerita yang kurang logis menurut saya. Apakah mungkin ada seekor tikus di tengah danau—di wahana permainan sepeda air? (halaman 111)

Mana mungkin saat pertandingan seorang pelatih tim basket harus diberi tahu terlebih dahulu oleh salah satu pemainnya, bahwa tim cadangannya tidak bisa hadir karena mengikuti training di luar kota? Memangnya dia tidak tahu kondisi timnya sendiri? (halaman 133)

Saya kurang paham, mengapa Hime berlatih basket dengan amat keras agar bisa membantu Andre main basket lagi? Maksudnya, Hime mau melatih Andre main basket? Nggak mungkin, kan.Itu seperti mengajar monyet lompat dari pohon ke pohon. Atau agar Andre melihat kesungguhannya sehingga hatinya terketuk dan mau main basket lagi? Lagipula, Andre nggak bisa ikut main basket karena tangannya cedera, kan? Jadi, tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan berdoa agar tangannya cepat sembuh. Hmm, entahlah….

Tarik Napas Dulu….

image
Gaya penulisan yang cukup lincah dan ringan, dengan alur yang cepat, dapat mengurangi risiko pembaca kebosanan. Novel ini cocok sekali dibaca oleh remaja yang sedang menginginkan bacaan ringan dan sedikit seru sebagai hiburan.

Novel ini diperindah dengan desain sampul yang didominasi warna oranye membara nan indah, menampilkan matahari terbit (eh, tapi, kalau dilihat sekilas seperti matahari terbenam). Namun saya agak bingung, gambar laut dan perahu yang ada di sampul tampaknya kurang mencerminkan isi novel. Hmm, mungkin…. (saya mencoba menginterpretasikan makna gambar sampul ini). Laut menggambarkan hati Airin yang (sebenarnya) luas, tapi lebih sering dikuasai ombak deras. Lantas, muncullah sebuah perahu yang berlabuh di laut itu, yang menggambarkan kehadiran sosok Reza dalam hati Airin. Tapi, tetap saja, suatu saat perahu itu akan berlalu, dan tinggallah matahari yang selalu  menemani. Matahari ini mungkin bisa diwakili oleh sosok Hime, atau Dennis, atau bahkan Mbok Nem dan Mbok Sum. Itu sekadar imajinasi saya, sih. Sesuai tidaknya, saya serahkan pada imajinasi masing-masing pembaca.

Oya, saya juga penasaran dengan misteri di balik boneka panda…. Eh, atau penulis sudah menceritakannya? Maaf, saya agak lupa. Hehehe.
“Kak, ini kan boneka kesukaanmu. Tujuh tahun terakhir ini, Kakak selalu ngasih boneka yang sama.” – Hime kepada Airin (halaman 13)
Dua bintang untuk koper yang penuh sesak ini.

image

[1] Film Korea tahun 2006, dibintangi aktor Jo In-sung, berkisah tentang kehidupan seorang anggota mafia Korea Selatan. Kisah romantismenya berpadu dengan kejamnya hidup mafia, juga diwarnai berbagai pengkhianatan.

Catatan:
Resensi ini sebelumnya saya unggah di Tumblr, karena waktu itu saya harus segera mengunggahnya, tapi koneksi ke blogspot susah. Nah, demi kerapian arsip resensi, resensi ini sekarang saya unggah juga di blogspot.

[Resensi HARMONI] Bak Semangkuk Patbingsu





Judul: Harmoni
Penulis: Heruka
Editor: Diara Oso
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, April 2016
Tebal: 240 halaman
ISBN: 978-602-296-199-4
Harga: Rp 45.000,00

Paras dan Rafal adalah teman kuliah di jurusan Arsitektur. Meski begitu, hubungan mereka hanya sejauh teman sekelas yang saling mengenal nama. Sekali ini, mereka satu kelompok dalam mengerjakan sebuah tugas. Baru sekali saja satu kelompok dengan Rafal, Paras sudah dibikin dongkol berkat kata-kata lelaki itu, setelah Rafal tahu bahwa Paras adalah seorang novelis teenlit.

“Aku nggak suka teenlit. Dan nggak minat.” (hlm. 18)

Kemudian, Rafal menyerang Paras dengan menanyainya seputar sastrawan klasik dunia, yang Paras sama sekali tak tahu.

“Sia-sia sekali aku membaca novel, yang bahkan penulisnya pun nggak tahu karya-karya hebat dari penulis dunia.” (hlm. 21)

Rafal, yang diam-diam juga suka menulis fiksi selain resensi yang ia pajang di blog bukunya, ternyata lolos seleksi untuk menjadi peserta Writing Clinic, bersama Rana (di hlm. 169 namanya berubah jadi Rena. Kenapa, ya? Wkwk), salah satu teman dari komunitas pecinta buku. Sialnya, pemateri sesi terakhir, tentang penulisan novel, yang seharusnya tak bisa hadir. Dan, tahu nggak, siapa yang menjadi penggantinya? Yaps, Paras! Rafal telah gagal kabur, malah tertangkap basah oleh Paras. Dalam sesi tanya jawab, Rafal menyerang Paras tentang idealisme versus realitas menjadi penulis. Penyerangan kali ini lebih keras dan pastinya lebih memalukan bagi Paras, karena dilihat oleh orang banyak. 

Terlepas dari adu prinsip kedua orang tersebut, masing-masing memiliki masalah sendiri. Sejak editornya bukan lagi Mas Ellan, Paras jadi bermalas-malasan (awalnya). Editor yang baru, Mbak Prita, menuntut agar novel ketiganya ini jadi the breathtaking one. Revisi lagi, revisi lagi, revisi... Sebenarnya, Paras tak rela editornya diganti, karena ia akan jadi jarang bertemu dengan Mas Ellan, lelaki yang ia sukai itu. Akhirnya, ia membuat persepakatan dengan Mas Ellan, yang berbahaya jika diketahui oleh Mbak Prita. Sementara itu, Paras jadi patah hati sebelum mengutarakan perasaannya, mana kala beberapa kali ia melihat Mas Ellan nongkrong dengan seorang cewek yang tak ia kenal. Belum lagi, masalahnya dengan Irene akibat Firli (atau Firly? Namanya berubah jadi Firly di hlm. 225).

Setelah Dad dan Mom bercerai, Rafal tak pernah tahu alasan utamanya, karena sebelumnya mereka berdua terlihat baik-baik saja. Oleh karena itu, pada liburan semester, Rafal diam-diam pergi ke Polandia untuk membujuk Mom agar mau kembali bersama Dad. Namun, di sanalah, ia menemukan kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan, tak hanya oleh Dad dan Mom, tapi juga oleh nenek dan kakeknya. Dalam liburan itu, Rafal juga berencana menemui Venus, gadis yang selama ini ada di hatinya, untuk menanyakan kejelasan status hubungan mereka.

Bagaimana nasib novel ketiga Paras? Bagaimana hubungannya dengan Mas Ellan, Irene, dan Rafal? Sementara itu, apakah Rafal akan mendapat kepastian dari Venus?

Nyastra VS Pop?

Konflik yang awalnya diperkenalkan oleh penulis sungguh menarik, tentang dua orang yang berseberangan prinsip, dan saling membenci (awalnya). Bagi saya, hal ini menarik karena pertama, isu tentang nyastra versus pop selalu menimbulkan perdebatan dan pembahasan yang tak kunjung selesai. Di mana letak perbedaan antara karya nyastra dan pop? Saya kira bukan dari permukaannya (gaya bahasa, misalnya). Jika sebuah prosa ditulis dengan gaya bahasa njelimet dengan metafora berbelit-belit nan rumit dibayangkan, belum tentu ia pasti termasuk karya yang nyastra. Pun sebaliknya, bila prosa macam Cantik Itu Luka, yang ditulis dengan bahasa lugas, belum tentu ia adalah karya pop. Oleh sebab itu, saya kurang setuju dengan esai yang ditulis oleh Mbak Marliana di BasaBasi, Sastra untuk Siapa. Dalam hal ini, saya sependapat dengan Mas W.N. Rahman.

Demi pemahaman saya sendiri, saya merasa lebih pas jika pembedaan nyastra dan pop itu didasarkan pada seberapa dalam tema dan konflik yang dibangunnya. Nah, “seberapa mendalam” ini juga tentunya menimbulkan masalah lagi, karena tiap pembaca punya standar sendiri dalam menilainya. Maka, seperti halnya masalah selera, sebaiknya hal semacam ini tak usah diperdebatkan.

Awalnya, saya menemukan kemiripan dengan Rafal. Kami sama-sama pembaca karya nyastra yang lahap, meski saya tak punya perpustakaan semenakjubkan punya Daddy-nya (meski saya lebih banyak membaca karya nyastra domestik daripada luar negeri). Kami juga sama-sama blogger buku. Herannya, mengapa Rafal menyebut blog-nya BBI? Apa BBI yang dimaksud BloggerBuku Indonesia? Kalau iya, BBI yang itu kan komunitas, bukan nama blog personal.

“Kata Ivy, kamu punya blog, ya?”

“Iya, BBI. Tahu kan?”

“Aku cuma membahas buku di blogku.” (hlm. 17)

Seharusnya, Rafal menjawab, “Iya, aku anggota BBI.” Nah, begitu lebih pas!

Rafal baru beberapa kali membaca novel pop dan langsung mengecapnya lebih rendah daripada karya nyastra, sedangkan teenlit dan metropop adalah dua jenis novel yang dulu saya gemari waktu remaja. Sekarang, saya pasti lebih memilih membaca karya-karya Eka Kurniawan, Pram, SGA, Ayu Utami, Arafat Nur, Murakami, Anton Chekov, Ryunosuke Akutagawa,.... daripada teenlit atau metropop terbaru. Namun, saya tetap membaca karya pop karena saya adalah extrovert reader yang selalu ingin membaca buku dari sebanyak mungkin genre, dan karena saya setuju akan pendapat Paras, bahwa nyastra dan pop tak seharusnya dibanding-bandingkan.

Bedanya lagi, ketika meresensi, yang saya nilai adalah tulisan yang saya baca, bukan penulisnya. Oleh karena itu, saya kemudian jadi sebal terhadap Rafal, karena ia adalah contoh pembaca yang tidak bijak. Tak puas menyudutkan karya pop, ia juga turut mencibir penulisnya. Pembelaan Paras tak salah, “Hah, kamu pikir kamu siapa? Penulis hebat? Kritikus andal? Cuma tukang baca doang! Cih!” (hlm. 22). Mungkin kalau tokoh Ellie dan Julie (di novel Dear Ellie) mengenal Rafal, pasti mereka akan menyemprotnya habis-habisan.

Anehnya, prinsip Rafal yang sangat kuat dan teguh itu bisa kendor dengan mudah dan terlalu cepat, hanya karena ia menyesal telah mempermalukan Paras di Writing Clinic. Writing Clinic itu pun, yang menjadi titik balik perubahan prinsip kedua tokoh utama, diceritakan hanya saat sesi ketiga, dan hanya berisi monolog Paras sebagai pembicara, serta tanya-jawabnya dengan Rafal. Seolah ruangan itu hanya berisi mereka berdua. 

Anehnya lagi, seorang penulis yang salah satu novelnya bestseller seperti Paras, sama sekali belum pernah mendengar nama Oscar Wilde, Hemingway, dan Murakami. Mungkinkah ada penulis yang belum pernah dengar nama Hemingway? Padahal Paras juga pembaca novel-novel impor, lho, macam karya Jodi Picoult dan Rick Riordan. Lebih aneh lagi, sebelum tahu bahwa Rafal tak suka teenlit, Paras kok sudah seperti terintimidasi, ya?

“Apa jenis buku yang kamu tulis?”

“Umm... masih teenlit, sih.” (hlm. 17)

Jawaban Paras (cermati penggunaan kata “masih”) atas pertanyaan Rafal tersebut mengesankan kalau Paras juga menganggap rendah teenlit. 

Setelah peristiwa Writing Clinic, Paras berminat untuk membaca karya nyastra, dan mencoba menulis novel nyastra biar bisa bertemu Mas Ellan lebih sering (karena blio dipindahkan ke genre sastra). Isu menarik seputar nyastra versus pop ini punah dengan sendirinya (ucapkan selamat tinggal pada perpustakaan keren milik Dad dan judul-judul buku sastra dan nama penulis kenamaan dunia yang disebar penulis di separuh awal novel) dan digantikan oleh romance. Yah, memang dari awal ini akan jadi novel romance, dengan bumbu nyastra versus pop, bukan sebaliknya.

Cinta Bersegi-segi 

Mungkin dari awal pembaca akan menebak bahwa alur novel ini akan klise: dua orang yang saling membenci lalu saling jatuh cinta dan berakhir bahagia. Nyatanya, tidak seklise itu. Paras memendam rasa suka terhadap Mas Ellan. Sementara itu, Mas Ellan sepertinya sedang dekat dengan gadis lain. Firli (atau Firly?), mantan pacar Paras, berusaha mengejarnya lagi, dengan cara busuk (padahal saat itu Firli sedang mendekati Irene, teman kos sekaligus sahabat Paras). Kisah Paras-Firli-Irene ini menimbulkan persahabatan Paras-Irene rusak. Namun, sayangnya, konflik ini tidak terselesaikan dengan baik. Irene memang kemudian menyesal, tapi bagaimana dengan Firli?

Rafal menantikan kepastian dari Venus. Sebelumnya, sebuah adegan membuat saya mengira Venus telah memiliki lelaki lain di Vienna. Ternyata, di akhir, Venus mengungkapkan kenyataan bahwa ia adalah seorang.... (udah nggak tahan pengin bilang, tapi saya takut spoiler). Sungguh, kejutan macam ini tidak mengejutkan pembaca dengan cara yang menyenangkan. Kok tiba-tiba Venus begitu? Saya malah sedih karena rasanya kaum seperti Venus di dunia nyata hanya dimanfaatkan penulis agar alur cerita novelnya agak tak tertebak.

Lalu, Rafal dan Paras bagaimana? Kisah mereka juga berakhir tidak jelas, meski harmoni telah tercipta antara paradigma mereka soal nyastra versus pop. Meski begitu, saya rasa keputusan Rafal berkaitan dengan cinta Paras itu bijak, karena ia sendiri baru saja patah hati oleh Venus. 

Bak Semangkuk Patbingsu 

Saya setuju dengan gugatan yang ditulis oleh Wardah di resensinya, bahwa novel ini kebanyakan konflik, dan jumlah halamannya yang hanya 240 itu tak sanggup menampungnya dengan baik. Masalah Paras-Firli-Irene, masalah Rafal dan ibunya, masalah Rafal dan Dad, masalah Paras dan Mas Ellan terkait persepakatan rahasia mereka yang ketahuan oleh Mbak Prita... Bagaimana kelanjutan novel ketiga dan keempat Paras? Seingat saya, tentang masalah Paras-Mas Ellan-Mbak Prita, penulis juga tidak melanjutkan penyelesaiannya. Siapa yang sebenarnya mengirimkan file bab dua novel keempat Paras ke Mas Ellan?
“..., ya ada satu nama yang mungkin melakukannya. Cuma dia satu-satunya paling masuk dalam kemungkinan. Tapi, untuk apa?” (hlm. 158)

Dia siapa? Saya sempat curiga kalau itu Irene, tapi penulis tak mengungkitnya lagi sama sekali! Dari sini, saya mendapat kesan bahwa penulis sangat tak bertanggung jawab. Ia membikin banyak konflik bersaling-silang, tapi tak menyelesaikannya dengan baik. Bahkan terkesan mengabaikan (atau bahkan lupa?) untuk menyelesaikan beberapa di antaranya. Oleh karena itu, saya mengumpamakan novel ini dengan semangkuk patbingsu yang waktu itu saya makan setelah menyantap dak galbi dan rappoki.
Berbagai macam buah, kacang merah, dan es krim memenuhi mangkuk. Terlihat enak dan indah dipandang. Mangkuk patbingsu itu penuh sesak dengan aneka isian, yang awalnya terasa enak dan segar di mulut. Tapi karena terlalu banyak (dan mungkin juga karena saya terlalu kenyang), rasanya berubah jadi enek dan saya tak sanggup menghabiskan.
***
Ada beberapa typo dalam novel ini, yang saya rasa tak perlu dibahas lebih jauh, karena saya rasa masalah typo tak lebih penting ketimbang masalah-masalah yang telah saya utarakan di atas. Beberapa di antaranya adalah kata revision (hlm. 82), kalimat "Tentang perbedaan pendapatnya dengan Rana" (hlm. 115, yang seharusnya "dengan Paras"), kalimat “Tak terasa, setengah pun berlalu” (hlm. 231, setengah apa?)

Novel ini memberi harapan optimis kepada para pembaca, bahwa dunia literasi Indonesia akan terus berdenyut dan berkembang jika ada anak-anak muda macam Rafal dan Paras (dan saya =D7). Melalui gaya hidup Dad dan Rafal, kita dihadapkan pada utopia saat membaca jadi semacam rasa haus di tenggorokan tiap orang. Melalui Paras, kita melihat cerminan penulis muda yang tak henti belajar dan berkarya. Terakhir, secuil curhatan penulisnya bisa dibaca di sini.

Dua setengah bintang untuk harmoni antara nyastra dan pop yang dijalin setengah hati.

“Memang sih, idealis itu harus, tapi bergaul juga perlu. Dan caranya, ya, menyisakan separuh diri kita untuk diisi apa yang kita tak sukai.” (Paras, hlm. 129)

16 April 2016

[Resensi GARNISH] Buni, si Pasta Basi dan Anin, si Lukisan Abstrak

Judul: Garnish
Penulis: Mashdar Zainal
Editor: Miz
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, April 2016
Tebal: 220 halaman
ISBN: 978-602-391-126-4
Harga: Rp 42.000,00

PLOT SUMMARY

Garnish (n) : hiasan (for food) (v) : menghias
"Seperti lukisan dan masakan, mimpi pun butuh warna dan cita rasa yang tinggi untuk merayakannya." (Buni, hlm. 127)


Setelah kabur dari rumah masing-masing, keduanya dipertemukan di sebuah taman kota. Awalnya, mereka memandang dengan geli satu sama lain pada penampilan masing-masing. Lantas, karena merasa senasib dan dipertemukan oleh kebetulan, mereka dengan cepat berteman akrab. Anin mengajak Buni untuk menginap di sanggar lukis milik Bli Sutha. Keesokan harinya, Anin dijemput ayahnya, bersama dua bodyguard, Mimi dan suaminya. Sesuai nasihat Bli Sutha, Anin bicara dari hati ke hati dengan Ayah. Tak dinyana, dengan cukup mudah Ayah menerima kegemaran Anin untuk melukis. Ayah memberi Anin kemerdekaan untuk melukis.
“’Kita ini manusia, kita selalu punya aturan, yang bebas hanya binatang. [...] bahwa bebas bukan berarti lepas...’” (hlm. 51)
“[...] bebas dan merdeka itu adalah dua hal yang berbeda. Bebas berarti lepas tanpa kendali, sedangkan merdeka adalah hidup tanpa merasa terbebani.” (hlm. 59)
Tak seberuntung itu nasib Buni. Ia memutuskan untuk pulang juga ke rumah, tapi Mama tetap bergeming, kukuh dengan larangannya. Maka, Buni memutuskan untuk kabur lagi dari rumah, kembali ke sanggar Bli Sutha. Di sana, kedua orang itu melakukan brainstorming yang dimulai oleh cetusan ide Anin untuk mendirikan sebuah kafe yang dikombinasikan dengan galeri lukisan.

Awalnya, kafe yang mereka namai “Garnish Cafe and Gallery” itu cukup menjanjikan. Makin lama makin banyak pelanggan berdatangan. Seringkali ada acara-acara diadakan di Garnish. Namun, hati Buni masih perih lantaran mama dan papanya sama sekali tidak pernah mengunjunginya, seolah tak peduli bahwa sekarang anaknya telah membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi chef sungguhan. Sekalinya Papa Buni datang ke kafe, berita dukalah yang ia bawa: Mama mengalami kesulitan bicara dan kelumpuhan pada separuh bagian tubuhnya.

Dalam proses penyembuhan itulah, Mama akhirnya mau bicara dari hati ke hati dengan Buni dan menumpahkan segalanya. Setelah mereka berdamai, keadaan tampak terkendali. Hmm, tapi jangan bosan dulu, penulis tak akan membiarkan ceritanya berakhir sesederhana itu. Selama Buni menunggui mamanya, kafe dijaga Anin, dibantu Mimi dan beberapa karyawan. Karena sang chef menghilang, maka beberapa menu ditiadakan. Hal ini menyebabkan jumlah pengunjung kafe berkurang dari hari ke hari.

Lalu, penulis membuat Anin tiba-tiba tertimpa sebuah kecelakaan, yang membuat tangan kanannya cedera, padahal seminggu lagi akan berlangsung Festival Sketsa Seribu Wajah Cinta. Sebelumnya, Anin telah berjanji untuk membikin sketsa wajah Buni dalam festival itu. Ia bersikeras menanggung rasa sakit untuk terus berlatih melukis. Namun, apa daya, tangan kanan Anin tak bisa menahan beban terlalu lama. Saat itu, dengan terpaksa Garnish ditelantarkan.

Apakah Anin tetap mengikuti festival itu dengan tangan kanan cedera? Dan, bagaimana nasib Garnish Cafe and Gallery setelah ditelantarkan kedua pendirinya?
 “'Dan kita tidak akan mencari alasan untuk berhenti, kita akan berhenti untuk mencari alasan.'” (Buni, hlm. 197)

 REVIEW

Nama "Mashdar Zainal" pertama kali saya kenal lewat cerpennya, "Kota Lumpur", yang menjadi salah satu pemenang LMCR 2011. (Waktu itu saya juga ikutan LMCR, betewe saya sering ikut tapi tidak pernah menjadi salah satu pemenang :(( *skip*.) Kemudian, ketika saya kuliah dan mulai melek sastra, saya demen baca cerpen koran gratisan di sini, dan nama Mashdar Zainal sering saya kepoin. Cerpen-cerpennya yang masih nempel di otak adalah "Tulang Ikan di Tenggorokan", "Kabut Ibu", "Di Sini, Hujan Turun Deras Sekali", dan "Pelajaran Hujan". (Betewe, cerpen-cerpen Mashdar juga bisa dibaca di blog pribadinya.) Oleh karena itu, saya terkejut ketika Mbak Misni menyodorkan pada saya tiga novel jatah resensi bulan Maret, yang salah satunya ditulis oleh Mashdar Zainal. Dan merupakan novel teenlit. Seorang cerpenis koran menulis teenlit?! Inilah yang bikin penasaran.

Saya agak lupa pernah membaca di mana, mungkin kultwit @divapress01 dalam sesi wawancara dengan Mashdar, tapi saya ingat bahwa Mashdar pernah bilang kalau novel Garnish awalnya ditulis untuk diikutkan sebuah lomba penulisan novel dengan tema "passion". Karyanya tidak terpilih, dan akhirnya berjodoh dengan de TEENS. Nah, saya nyaris yakin kalau lomba yang dimaksud ini adalah yang diadakan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2013, bertajuk "passion show" (kalau salah, mohon maafkan saya). Mengapa saya tahu? Karena waktu itu saya juga ikutan dan juga kalah :-h.

Dari situ, jelas bahwa novel ini mengusung tema perjuangan meraih mimpi yang berdasarkan passion. Kedua tokoh utama dalam novel ini memiliki dua passion yang berbeda, dan penulis menggabungkannya menjadi "Garnish Cafe and Gallery". Kedua tokoh ini saling menguatkan dengan karakter masing-masing. Buni adalah sosok yang kurang percaya diri (akibat penolakan oleh mamanya) tapi tetap optimis dan realistis. Misalnya, ketika ia membantu membangkitkan kembali semangat Anin pasca-kecelakaan. Tokoh Anin memberikan testimoni terhadap sifat Buni yang kurang percaya diri ini:
“Aku menyesalkan Buni yang selalu ragu dan tidak yakin pada kemampuannya sendiri, kupikir itulah salah satu alasan mengapa mamanya selalu kukuh untuk mengarahkan kehidupan Buni dengan caranya.” (hlm. 121)
[Catatan: kalimat tersebut terlalu panjang, dan sebenarnya bisa dipecah jadi dua kalimat, tepat sebelum “kupikir”.]

Tokoh Anin, adalah sosok yang berani (dalam menentang keinginan ayahnya), pernah depresi (pasca-kecelakaan), dapat dipercaya (misalnya, saat ia ngotot menepati janjinya pada Buni untuk menggambar sketsa wajahnya), dan pantang menyerah. Keduanya sama-sama kreatif, yang tampak dalam proses pendirian kafe Garnish. Meski demikian, di suatu waktu sosok Anin sempat terkesan kurang cerdas :)]. Di halaman 133, Anin tercengang membaca daftar menu rancangan Buni, tepatnya ketika membaca nama menu “cinnori, cinnaple, cinnaherbs”. Ketika mereka berdiskusi di halaman 124, Anin sendiri, lho, yang mengusulkan ada menu “cinnamon apple” dan beberapa varian cinnamon lain. Lantas, mengapa ia tak bisa menebak kalau cinnaple itu akronim dari “cinnamon apple”? Eksplisit sekali, to?

Kedua tokoh utama tersebut berdampingan menjalin alur cerita dari awal sampai akhir, bergantian tiap satu bab menggunakan sudut pandang orang pertama, "aku". Cukup sering saya lupa atau salah mengira siapa "aku" yang sedang bernarasi di suatu bab. Mungkin karena gaya narasi kedua "aku" ini sama (a.k.a. tidak punya ciri khas).

Alur novel ini berlangsung secara progresif, dengan timeline yang padat dan adegan demi adegan berkejar-kejaran. Anin dan Buni berkenalan, langsung akrab, beberapa waktu kemudian langsung merancang pendirian kafe Garnish, lalu hari-hari berlalu dengan diceritakannya aktivitas di kafe Garnish, kemudian masuk ke klimaks yang diawali dengan peristiwa klise: kecelakaan. Kejadian tersebut juga sangat tiba-tiba. Tiba-tiba saja Buni mendapat kabar bahwa Anin kecelakaan.

Mungkin karena temponya terlalu cepat, penulis kurang memberi ruang bagi cerita ini untuk merenungkan kisahnya sendiri. Salah satu akibatnya, ada motivasi yang sangat kurang kuat, sehingga membuat saya pesimis. Mengapa ayah Anin melarangnya melukis? Hanya karena Ayah tidak suka cat air untuk melukis itu mengotori tubuh Anin dan rumah. Selain itu, Ayah juga mengucapkan secara implisit bahwa anak gadis tak sepantasnya melukis karena menurutnya, melukis itu erat dengan sosok "seniman pengangguran yang berantakan" (hlm. 17). Saya malah menduga, jangan-jangan ayah Anin hanya mengada-ada alasan itu. Alasan sebenarnya, mungkin karena ia punya kenangan pahit terkait pelukis. (Ini karangan saya doang, lho.)

Untungnya, motivasi Mama Buni lebih kuat dan cukup masuk akal dalam melarang anaknya memasak. Dan, lagi-lagi gender dibawa-bawa. Menurut Mama, tak sepatutnya lelaki memasak, dan ia menginginkan Buni jadi ekonom mengikuti jejak papanya. Nah, lho, bisa jadi ideologi pribadi penulis turut terseret dalam persoalan gender ini. (Dan saya tidak tahu ideologi apa tepatnya yang penulis usung secara sadar maupun tidak di dalam karyanya ini.) (Seperti Pram dengan ideologi sosialismenya yang termaktub dalam karya-karyanya, dan Ayu Utami dengan ideologi feminisme radikalnya.) Sebuah kalimat yang dinarasikan oleh "aku" si Buni juga mengandung persoalan gender:
“Kalau ia mau, bisa saja ia meninggalkanku dan bergabung dengan gadis normal lainnya, pergi ke mal, ke bioskop, jalan-jalan ke Paris...” (hlm. 95)
Pertama, mungkin ini cerminan sudut pandang pribadi penulis, karena tak bisa dipungkiri bahwa pasti ada sekelumit jiwa penulis turut tercampur dalam cerita yang ia tulis, yakni bahwa menurut Buni, gadis yang normal adalah gadis yang “pergi ke mal, ke bioskop, jalan-jalan ke Paris”. Well, berarti saya bukan gadis normal, soalnya saya nggak terlalu suka pergi ke mal (kecuali ada barang yang butuh saya cari di sana). Saya juga jarang banget ke bioskop, karena tarifnya makin mahal, sedangkan saya bisa menyedotnya gratis di Ganool, misalnya (tiru aja, nggak pa-pa, mumpung Ganool belum di-banned). Apalagi ke Paris. Saya pernahnya ke Paris-parisan di Museum Angkut, Batu :p. Kedua, mengapa “jalan-jalan”-nya harus ke Paris? Mungkin penulis asal saja mencomot nama kota terkenal di luar negeri. Atau mungkin juga tidak. Entahlah, wkwk.

Kembali ke plot cerita. Di halaman 116 Anin berkata pada Buni (setelah tata ruang bakal kafe Garnish jadi), “Dan yang harus kau tahu, beberapa perkakas yang ada, seperti ranjang dan lemari baju di kamarmu, juga beberapa perkakas dapur, itu kubeli dengan uangmu...” Seperti ada plot hole. Kapan Buni memberikan uang tabungannya ke Anin? Memang sih, sebelumnya, di halaman 104 Buni dan Anin telah sepakat untuk menggabungkan tabungan Buni dengan uang Anin sebagai modal...

Novel ini berlatar di Jakarta, tapi saking umumnya elemen-elemen setting tempat ini, kalau kotanya dipindah pun sepertinya tak menimbulkan masalah besar. 

Ada beberapa kalimat yang janggal yang saya temukan dalam novel ini.
"Kukatakan pada diriku sendiri, bahwa aku anak manusia yang dianugerahi banyak hal. Jasad yang sehat. Jiwa yang kuat. Dan tentu saja akal yang misterinya yang terpecahkan oleh makhluk mana pun.” (hlm. 19)
Ada yang janggal pada kalimat terakhir dalam sempalan paragraf tersebut. Melihat konteks dari kalimat-kalimat sebelumnya, bisa dikira-kira kalau seharusnya kalimat itu berbunyi begini, “Dan tentu saja akal yang misterinya tak terpecahkan oleh makhluk mana pun.”

“Dan sejujurnya aku merasa aneh, aku baru saja mengenalnya kurang dari enam puluh menit. Dan kami sudah bercuap-cuap seolah kami adalah sahabat lama yang dipertemukan kembali. Dan lagi-lagi, aku tak peduli. Aku merasa, bahwa kami sudah seperti dua kutub magnet yang sama yang dipertemukan begitu saja.” (hlm. 23)
Nah, saya juga merasa ada yang janggal di kalimat terakhir (lagi-lagi kalimat terakhir). Yang saya tangkap dari tiga kalimat sebelumnya, penulis bermaksud mengumpamakan bahwa Buni sudah merasa akrab dengan Anin padahal baru bertemu. Maka, akan menjadi aneh kalau perumpamaannya adalah “dua kutub magnet yang sama”. Sejak SD, guru IPA saya mengajarkan bahwa dua kutub magnet yang sama akan tolak-menolak (meski waktu itu belum tahu mengapa begitu, dan saya menelannya—oh, tentu saja, menghafalnya. Bukankah sistem pendidikan semasa itu –mungkin sekarang masih—terlampau sering mengajarkan para murid untuk menghafal, bukan memahami?)
“... kami sudah seperti keluarga yang kelewat harmoni.” (hlm. 89)
Harmoni adalah kata benda, sehingga kurang tepat posisinya dalam petikan tersebut. Lebih tepat menggunakan “harmonis”.
“Memikirkan bagaimana cara kerja Bli Sutha sama halnya dengan memikirkan bagaimana alam ini diciptakan.” (hlm. 100)
Mungkin kalimat tersebut akan lebih enak dibaca kalau dipermak sedikit menjadi: “memikirkan bagaimana cara kerja Bli Sutha dalam melukis”, atau “memikirkan bagaimana cara Bli Sutha bekerja dengan kanvas dan cat air”.

*Alter ego Kimfricung: Ya udah, kamu nulis novel sendiri aja, Cung, cerewet, deh!
Kimfricung: Kalau aku nggak cerewet, blog ini nggak bakal eksis, woy!*
“Dengan girang aku dan Anin mengedarkan daftar menu. Setelah mereka mendapatkan menu yang mereka inginkan, aku dan Anin segera meluncur ke dapur.” (hlm. 151)
Kata “memesan” mungkin akan lebih pas daripada “mendapatkan”.
“Semula baik-baik saja, namun detik-detik berikutnya tanganku seperti ditopang beban yang tak kasat mata, begitu berat, begitu nyeri, hingga tanpa sadar, tanganku terhempas begitu saja menghantam paha.” (hlm. 189)
Seharusnya “menopang”, dong, bukan “ditopang”.
“Sampai di rumah, Ayah menyuruhku di sofa di ruang tengah.” (hlm. 49)
Ayah menyuruhku duduk di sofa di ruang tengah.
“’Ayah sangat menyayangi, kau tahu itu.’” (hlm. 51)
Ayah sangat menyayangimu, kau tahu itu.
“Sembari memotong-motong buah stroberi, Buni menampakkan air khawatir di wajahnya.” (hlm. 141)
Mungkin tepatnya, "air muka", kali, ya.

Selain beberapa bagian yang janggal itu, saya juga menemukan petikan yang didn't make sense.
“’Sebaiknya kita ke depan, tidak baik menonton orang masak kecuali di TV.’” (Bibi Manda, hlm. 91)
Hmm, memangnya kenapa tidak baik menonton orang memasak?

Saya juga menemukan beberapa typos.
  1. “beberapa suing bawang” (hlm. 91) à siung
  2. Buni: Itu kafe apa angkringan?
    Anin: Kafe. Jelas-jelas pemiliknya menemaninya kafe... (hlm. 123) à menamainya
Terakhir, percakapan antartokoh kadang kurang cair, seperti di halaman 90, yakni percakapan antara Buni dan Bli Sutha, Anin dan Bibi Manda.

Selain kombinasi antara melukis dan memasak, saya menemukan satu elemen yang menarik dari novel ini, yaitu ketika penulis menyertakan profil seorang pelukis senior asal Malang, yang kedua tangannya cacat, sehingga ia melukis dengan kaki (hlm. 210).

Pada akhirnya, saya tetap jauh lebih menyukai Mashdar yang menulis cerpen koran daripada Mashdar yang menulis novel teenlit. Duh, maaf, memangnya saya siapa, hello :)]. Novel teenlit ini mungkin akan mampu menggugah kembali semangat pembaca yang sedang mengalami kemunduran dalam passion dan perjuangan meraih cita-cita.

Bintang 2,5 untuk Buni, si Pasta Basi dan Anin, si Lukisan Abstrak.[]

24 January 2016

[Resensi] Circo de Patrimonio

Judul: Circo de Patrimonio
Penulis: Sylvee Astri
Editor: Dyas
Penerbit: de TEENS
Cetakan: I, November 2015
Tebal: 268 halaman
ISBN: 978-602-0806-36-5
Harga: Rp 40.000,00
Rating saya: 3/5


Dua bulan sejak kepindahannya ke Bilbao, Stella Gauthier akhirnya menemukan sepercik pertanda eksistensi sirkus di kota bekas industri di utara Spanyol itu. Pertemuan tak sengaja dengan Frene, seorang pemuda berambut pirang kusam panjang, yang melibatkan lemparan pisau dan serentetan omelan Stella, berbuah selembar brosur bertuliskan "Circo de Patrimonio". Antusiasme langsung bangkit, mementahkan segala kekecewaannya yang selama ini bercokol akibat tidak adanya sirkus di Bilbao. Tidak seperti di Quebec dan Paris, dua kota tempat Stella tinggal sebelumnya, yang selalu bisa memanjakannya dengan pertunjukan sirkus. Stella masih belum tahu, mengapa orang tuanya saat itu menabukan sirkus, padahal dulu mereka sangat mencintainya? Itulah juga alasan Stella terpaksa pindah ke Bilbao: menurut orang tuanya, tidak ada sirkus di kota itu.

"Sirkus? Ada sirkus di sini?"
"Yap. Baru tahu?"
"Aku tanya serius. Ada sirkus di Bilbao?"
"Ada. Betulan."
(Stella dan Frene, hlm. 11-12)
Sejak menerima brosur itu, Stella meminta izin Frene untuk berkunjung ke tempat mereka latihan sirkus. Casa de Patrimonio, kompleks yang terdiri dari beberapa gedung termasuk tempat latihan sirkus itu sebenarnya lebih dikenal sebagai panti asuhan. Banyak hal terjadi menjelang pertunjukan perdana Circo de Patrimonio. Stella, yang dulu pernah belajar aerial straps, kini mencoba berlatih lagi, dengan ditemani aerialist di situ, Ciro dan Joana. Lama-lama orang tua Stella mengetahui apa yang ia lakukan, dan tak mengizinkannya berlatih lagi. Namun Frene datang membantu berbicara pada ayahnya.
"Bagaimana kalau Anda memberi kesempatan pada Stella untuk membuktikan bakatnya? Circo de Patrimonio akan tampil akhir bulan ini. Biarkan Stella ikut main di sana. Bisa saja setelah merasakan tampil di sirkus, Stella sadar bahwa sirkus bukan dunianya, kan? Biar Stella yang memutuskan. Memberi kesempatan pada anak untuk memutuskan hidupnya sendiri adalah tugas orang tua juga, kan?" (Frene, hlm. 153-54)

Luce, cewek yang disukai Frene, seharusnya adalah tokoh utama dalam pertunjukan sirkus nanti. Namun, sebuah kecelakaan di dalam tenda sirkus mematahkan tangan kanannya. Meski Luce adalah pemain pedang terbaik di Casa de Patrimonio, tapi apalah artinya dengan tangan kanan yang patah? Merasa kecewa dengan disabilitas sementaranya, Luce memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama ayah kandungnya yang baru-baru ini menemukannya. Namun, belum lama menikmati waktu bersama, Luce dan ayahnya terlibat dalam satu insiden dengan mafia. Cent, si juggler, datang menolong dan terluka karenanya.

Berkebalikan dengan Luce, yang ingin sekali tinggal dengan orang tua kandungnya, Frene sama sekali tak berminat. Menurutnya, orang tua yang membuang anaknya memang tidak layak menjadi orang tua. Oleh karena itu, mengapa mencoba lagi menjadi orang tua? Itulah yang ia katakan ketika tiba-tiba ayah kandungnya muncul. Frene bersikap acuh tak acuh dan enggan menanggapi keinginan ayahnya untuk tinggal bersama. Kemudian, siapa sangka, ternyata ayah Stella tidak benar-benar mengizinkannya? Ia menjadi salah satu provokator agar dewan kota Bilbao melarang pertunjukan sirkus. Salah satu cara agar Circo de Patrimonio tetap bisa tampil adalah Frene harus meminta bantuan ayahnya, salah satu anggota dewan kota. Namun, ego Frene yang begitu besar, akankah menyanggupinya?

Terlepas dari itu, Frene-Luce-Cent terlibat dalam cinta segitiga. Namun, kenapa tiba-tiba Cent menyatakan cinta pada Stella? Dan mengapa Frene terlihat tidak suka dengan tindakan Cent itu? Stella bukannya tidak menyukai Cent, sih, tapi mengapa ada yang terasa tidak pas? 


Saya belum pernah menonton sirkus secara nyata dengan mata kepala sendiri. Paling banter, saya menonton lewat layar televisi. Salah satu yang paling berkesan adalah pertunjukan sirkus di film Madagascar 3: Europe's Most Wanted, dengan visual effect yang sangat bagus dan penuh warna, plus perut Gloria yang selalu bergoyang-goyang menggoda tawa tiap kali dia berlatih atraksi berjalan di atas tali.


Barangkali seperti tiap tokoh dalam Madagascar 3, tiap tokoh dalam novel ini juga memiliki masalahnya masing-masing berkaitan dengan sirkus.

Stella, si pecinta sirkus, terutama aerialist dan pelempar pisau, harus menghadapi ketidaksukaan orang tuanya terhadap sirkus, tanpa ia tahu alasannya. Stella adalah gadis yang berani mencoba hal baru, selalu ingin tahu, dan siap mengambil risiko untuk hal yang ingin ia lakukan. Contohnya, ketika ia tak malu-malu meminta Frene membolehkannya datang ke Casa de Patrimonio, padahal perjalanan ke sana dari rumahnya "bisa mencapai satu jam, bahkan lebih. Sangat jauh." (hlm. 21). Atau ketika ia berlatih aerial straps bersama Cent dan mencoba gaya yang cukup rumit di udara. Selain itu, ia juga gadis yang bandel, dalam artian tetap terlibat dalam segala hal tentang sirkus meski tahu orang tuanya melarang. Di luar itu, Stella ternyata cukup polos dalam hal percintaan.

Aerial straps, sumber di sini.

Frene, atau lebih akrab dipanggil Ash, adalah seorang pelempar pisau yang sangat percaya diri dan suka melakukan hal seenaknya sendiri. Salah satu keisengannya adalah melakukan promosi sirkus dengan melempar pisau dan brosur di dekat orang yang lewat.
"Nadanya sombong saat berkata, 'Pisauku belum pernah meleset.'" (hlm. 11)
Namun, kadang keliarannya itu membuatnya tak berpikir panjang ketika melakukan sesuatu. Frene juga keras kepala, ditandai dengan sikap antipatinya yang tak tergoyahkan terhadap ayahnya. Selain itu, ia sosok yang terlihat santai. Lihatlah gayanya saat menjawab pertanyaan Stella ini:
"Jadi, kamu nggak punya orang tua?"
"Nggak punya. Ditinggal dari bayi di depan pintu." (hlm. 29)
Tokoh-tokoh lain, seperti Cent, Luce, Felix (salah satu pendiri Casa de Patrimonio), orang tua Stella dan masa lalunya, serta Nate (bocah lelaki biang gosip di Casa de Patrimonio), memiliki kisah sendiri-sendiri. Meski diceritakan secara minor, tiap tokoh tersebut memiliki peran tersendiri dalam perkembangan alur cerita.

Mengangkat tema sirkus, dipadukan dengan drama keluarga, dan sedikit semburat percintaan, membuat novel ini unik. Istilah-istilah khas sirkus bertebaran sepanjang novel. Sebut saja, aerial straps, juggling, trapeze, akrobatik, the big top (tenda besar, tempat pertunjukan utama sirkus dilaksanakan). Aktivitas latihan sirkus pun mengambil porsi terbesar dalam novel, jadi memang sangat terasa nuansa sirkusnya. Konsep panti asuhan merangkap sekolah sirkus pun unik.

Trapeze. Sumber di sini.
Agak mirip aerial straps, tapi trapeze menggunakan batang horizontal untuk bergelayutan, sedangkan aerial straps menggunakan tali-tali.
Juggling. Sumber di sini.

Latar tempatnya pun unik, karena di kota yang belum pernah saya dengar sebelumnya: Bilbao (mungkin saya yang kelewat kuper). Melalui nama-nama tempat, makanan-makanan khas, sedikit percakapan dalam bahasa Spanyol, dan budaya setempat yang disebutkan di dalam novel, latar tempat ini terbangun dengan baik. Ada taman Dona Casilda Iturrizar, Plaza Nueva, Bilbobus (bus khas Bilbao), pintxos (finger food), kalimotxo, torrijas (puding roti), churros, marmitako, perayaan Semana Santa (Kamis Putih hingga Minggu Paskah; semua orang merayakannya hingga banyak toko tutup), fenomena sosial cuadrilla.
"Orang-orang Bilbao, terutama kaum muda, biasanya sudah memiliki grup bersama orang-orang yang tumbuh besar bersama. Semacam fenomena sosial bernama cuadrilla yang membuat orang baru sulit bergabung, kecuali ia punya kekasih dan kekasihnya itu bagian dari cuadrilla." (hlm. 15)
Gaya bahasa yang digunakan penulis sudah cukup terasa seperti novel terjemahan, tapi beberapa dialognya kurang mengalir lancar. Mungkin di beberapa tempat tertentu penulis memang ingin menunjukkan betapa tokoh-tokohnya sedang mengalami kekakuan dialog karena nervous, mood yang sedang buruk, atau hal lain. Jika memang begitu, maka penulis berhasil. Dialog Frene-Stella beberapa kali terjadi seperti itu, contohnya ketika tiba-tiba Stella mengajak Frene untuk mencoba merasakan kuliah. Dialog yang terasa kaku tersebut karena memang Stella bingung mau mengatakan apa untuk membalas kebaikan Frene.

Penulis menggunakan alur progresif, diselingi dengan flashback. Misalnya saat Stella mengingat masa lalunya ketika menonton sirkus di Toronto dan bertemu dengan seorang bocah pelempar pisau andal, yang gaya pertunjukannya mirip dengan Frene. Namun, kemudian flashback ini tidak membawa peran penting dalam perkembangan cerita selanjutnya. Tempo cerita berjalan dengan cukup cepat dan padat, mengingat cerita yang cukup kompleks ini disajikan hanya dalam 268 halaman. Alur demikian tak membiarkan pembaca bosan. Namun, meski konflik utama dan beberapa konflik minor memperkaya cerita, saya tak menemukan twist yang membuat penasaran hingga ingin terus membaca. Yah, meski ada kejutan kecil di bagian epilog, sih. Hihi.

Melalui para tokohnya, penulis menyampaikan beberapa pesan pada pembaca. Yang saya tangkap dari tokoh Frene adalah pesan bahwa kebebasan yang kita miliki harus dilakukan secara bertanggung jawab.
"Yang paling sakit, kemarahan pada dirinya sendiri. Pada kebodohannya yang tidak memikirkan akibat dari perbuatannya. Pada kenaifannya, mengira bahwa semua orang menyukai apa yang disukainya." (hlm. 243)
Saya menyukai adegan saat Frene menyadari kesalahannya, kemudian Stella datang dan membantu semangatnya muncul kembali. Kalimat Stella berikut ini cukup menohok dan mengingatkan kita bahwa segala hal akan terkendali jika dilakukan di tempat yang seharusnya.
"Apa bedanya main pedang dan lempar pisau? Sama-sama bahaya. Mereka juga akan melarangku main pedang setelah--"
"Nggak akan selama kamu menodongkan pedang di tempat seharusnya, Frene!"
(hlm. 244)
Novel tentang sirkus ini layak menjadi teman penghibur di saat kejenuhan akibat nyekripsi dan revisi yang rasanya tak kunjung selesai. Kelar sidang, masih harus revisi. Kelar revisi, masih harus mengurus administrasi yudisium dan wisuda. Yang nyesek adalah, setelah revisi selesai, waktunya sudah tidak cukup untuk mendaftar wisuda. Wkwk. Yang jelas, novel ini bisa menjadi pelarian sejenak dari rutinitas. Oya, ditambah dengan kovernya yang penuh warna dan cantik, hingga menularkan keceriaan a la sirkus. Siapa di antara kalian yang pernah nonton sirkus secara langsung? Atau siapa yang pernah main sirkus? Mungkin bisa dicoba suatu saat nanti. Hihi.

bloggerwidgets