21 April 2016

[RESENSI "Senyum Pertama di Pagi Airin"] KOPER YANG PENUH SESAK

image 
Judul Buku: Senyum Pertama di Pagi Airin
Penulis: Okta Rahasti
Tebal: 200 halaman
Penerbit: deTEENS
Cetakan: Cetakan pertama, Agustus 2014
ISBN: 978-602-296-003-4
Harga: Rp36.000,00


image
Sepuluh tahun lalu, Airin dan Hime mencari rumah neneknya di Jakarta, berbekal sebuah alamat rumah dalam sebuah surat terakhir peninggalan ibu mereka sebelum meninggal. Secara kebetulan yang aneh, mereka bertemu dengan neneknya dan tinggal di rumah itu sampai saat cerita ini berlangsung. Rumah besar itu hanya dihuni oleh Airin, Hime, dan kedua pelayan—Mbok Nem dan Mbok Sum. Jika Airin sedang mengurung diri dalam kamar, rumah itu akan terasa sangat sepi bagi Hime. Saking terbiasanya tinggal dengan sedikit orang, Hime tertegun melihat ada dua pasang sepatu milik tamu di rumahnya.
“Ada apa, Mbok? Kok rumah kita banyak orang?” (halaman 42)
Kakak beradik itu memiliki sifat yang bertolak belakang. Airin, si gadis pendiam nan dingin, dulunya adalah pribadi yang menyenangkan. Namun, sifatnya berubah setelah ia putus dengan pacarnya, Dennis, lima tahun yang lalu. Sejak saat itu, gadis lulusan S1 Arsitektur yang memiliki hobi melukis itu suka menyendiri dalam kamar dan keluar malam-malam untuk berjalan kaki tidak jelas juntrungannya.
“Hari ini Nona Airin hanya ngomong dua kali...” – Mbok Nem (halaman 10)
“Hari ini Nona Airin ngomong empat kali.” – Mbok Nem (halaman 52)
Suatu malam ketika ia sedang menjalankan ritualnya itu, tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang pria bernama Reza. Pertemuan mereka berlanjut sampai menjadi sebuah hubungan yang lebih dalam daripada sekadar teman. Namun, sampai saat terakhir, Reza belum berani mengatakan dengan mulutnya sendiri, siapa dia sebenarnya.

Di sisi lain, Hime adalah seorang gadis SMA yang ceria dan menyenangkan. Insiden tertimpuk bola basket di kepala menjadikan ia dekat dengan seorang siswa tampan-keren standar teenlit dan sinetron Indonesia (ganteng, jago main basket, atletis), bernama Andre. Nah, Andre ini, kebetulan adalah adik Reza. Iya, Reza yang itu. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai Airin melarang Hime dan Andre bertemu karena ia menganggap Andre memberi pengaruh buruk bagi adiknya itu. Namun, larangan itu tak berlangsung lama. Malah, suatu kejadian buruk yang menimpa Hime—di mana Reza terlibat—membuat Airin semakin menyadari bahwa adiknya sangat berharga.

200 Halaman itu Terlalu Tipis

Ketika membaca halaman demi halaman yang menguak masalah demi masalah yang disajikan penulis, saya merasa bahwa penulis seperti sedang berusaha menjejalkan segulung selimut tebal ke dalam koper yang saking penuhnya sudah tak bisa ditutup. Awalnya, saya cukup menikmati cara penulisan yang digunakan penulis. Namun, semakin ke belakang, saya makin sering mengernyitkan dahi karena mendapati banyak hal yang “nggantung”. Cuma 200 halaman yang disediakan penulis, tapi ia menjejalkan banyak masalah yang kebanyakan tidak jelas latar belakangnya.

Saya heran, bagaimana ceritanya dua orang gadis Jepang nyasar ke Jakarta untuk mencari rumah neneknya? Apa alasan ayahnya meninggalkan mereka (sepertinya juga tidak disinggung penulis—maaf kalau saya salah)? Lha, lucunya lagi, ketika mereka sudah hampir menyerah mencari alamat itu, tiba-tiba seorang nenek muncul…. Nenek yang dicari-cari itu tiba-tiba menampakkan diri! (Tenang saja, ini bukan film horor “Nenek Gayung”.)

Tentang aktivitas mafia yang melibatkan Reza, saya sudah berharap akan menjumpai kisah mafia-romantis yang  keren semacam film “A Dirty Carnival”[1]. Tapi, menilik novelnya yang tipis, saya sudah curiga…. Curiga bahwa cerita ini ditulis dengan sangat kurang porsinya. Dan, benarlah demikian. Misalnya, adegan perampokan Bank Naemuro (halaman 60-62) yang kurang seru, hanya dituliskan sekilas seolah diceritakan ulang keberapa kalinya oleh wartawan yang kekurangan objek berita.

Latar belakang kehidupan Reza-Andre juga kurang dieksplorasi oleh penulis. Kemunculan ibu mereka yang sakit-sakitan di dalam cerita pun terasa kurang ada pengaruhnya bagi perkembangan cerita. Ini lagi, si Dennis, yang berlagak jadi polisi. Di akhir cerita tiba-tiba dia muncul dan menembak Reza, diikuti beberapa polisi di belakangnya. Dari mana, ya, dia punya pistol? Jangan-jangan, nih orang anggota geng mafia sebelah? Hohoho.

Penulis berani menyuguhkan seorang tokoh yang kepribadiannya berubah total karena sesuatu hal, tapi sayangnya, latar belakang penyebabnya diceritakan secara kurang kuat dan meyakinkan. Cuma gara-gara putus dari Dennis? Atau bagaimana? Dan, begitu mudahnyakah ia menerima kembali ajakan Dennis untuk bersama?

Serbakebetulan yang disodorkan penulis pun membuat saya gemas. Kejadian pemboman kafe itu salah satunya. Hime bisa-bisanya kebetulan berada di kafe yang saat itu akan dibom oleh anggota mafia. Selain itu, penulis juga serbaterburu dalam menceritakan kisahnya. Penulis juga kurang mengeksplorasi setting tempatnya, deskripsi fisik tokoh pun sangat minim, banyak dialog tokoh juga terasa kurang membangun cerita. Beberapa bagian penulisan pun terasa terburu-buru.
Airin tidak menanggapi ucapan Reza. Sebaliknya, Reza sangat tertarik dengan kepribadian Airin yang tertutup. Ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis yang baru dikenalnya itu. Setelah berbincang dengan Reza, Airin merasa Reza adalah pria yang baik. (halaman 54)
Menurut saya, kata sifat “baik” perlu dihindari jika tidak ingin membuat pembaca berspekulasi terlalu tak keruan lantaran kata sifat ini sangat abstrak. Penulis juga terkesan enggan menunjukkan pada pembaca, “perbincangan” yang mana yang membuat Airin menilai Reza sebagai pria yang baik?
Nah, ada beberapa bagian cerita yang kurang logis menurut saya. Apakah mungkin ada seekor tikus di tengah danau—di wahana permainan sepeda air? (halaman 111)

Mana mungkin saat pertandingan seorang pelatih tim basket harus diberi tahu terlebih dahulu oleh salah satu pemainnya, bahwa tim cadangannya tidak bisa hadir karena mengikuti training di luar kota? Memangnya dia tidak tahu kondisi timnya sendiri? (halaman 133)

Saya kurang paham, mengapa Hime berlatih basket dengan amat keras agar bisa membantu Andre main basket lagi? Maksudnya, Hime mau melatih Andre main basket? Nggak mungkin, kan.Itu seperti mengajar monyet lompat dari pohon ke pohon. Atau agar Andre melihat kesungguhannya sehingga hatinya terketuk dan mau main basket lagi? Lagipula, Andre nggak bisa ikut main basket karena tangannya cedera, kan? Jadi, tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan berdoa agar tangannya cepat sembuh. Hmm, entahlah….

Tarik Napas Dulu….

image
Gaya penulisan yang cukup lincah dan ringan, dengan alur yang cepat, dapat mengurangi risiko pembaca kebosanan. Novel ini cocok sekali dibaca oleh remaja yang sedang menginginkan bacaan ringan dan sedikit seru sebagai hiburan.

Novel ini diperindah dengan desain sampul yang didominasi warna oranye membara nan indah, menampilkan matahari terbit (eh, tapi, kalau dilihat sekilas seperti matahari terbenam). Namun saya agak bingung, gambar laut dan perahu yang ada di sampul tampaknya kurang mencerminkan isi novel. Hmm, mungkin…. (saya mencoba menginterpretasikan makna gambar sampul ini). Laut menggambarkan hati Airin yang (sebenarnya) luas, tapi lebih sering dikuasai ombak deras. Lantas, muncullah sebuah perahu yang berlabuh di laut itu, yang menggambarkan kehadiran sosok Reza dalam hati Airin. Tapi, tetap saja, suatu saat perahu itu akan berlalu, dan tinggallah matahari yang selalu  menemani. Matahari ini mungkin bisa diwakili oleh sosok Hime, atau Dennis, atau bahkan Mbok Nem dan Mbok Sum. Itu sekadar imajinasi saya, sih. Sesuai tidaknya, saya serahkan pada imajinasi masing-masing pembaca.

Oya, saya juga penasaran dengan misteri di balik boneka panda…. Eh, atau penulis sudah menceritakannya? Maaf, saya agak lupa. Hehehe.
“Kak, ini kan boneka kesukaanmu. Tujuh tahun terakhir ini, Kakak selalu ngasih boneka yang sama.” – Hime kepada Airin (halaman 13)
Dua bintang untuk koper yang penuh sesak ini.

image

[1] Film Korea tahun 2006, dibintangi aktor Jo In-sung, berkisah tentang kehidupan seorang anggota mafia Korea Selatan. Kisah romantismenya berpadu dengan kejamnya hidup mafia, juga diwarnai berbagai pengkhianatan.

Catatan:
Resensi ini sebelumnya saya unggah di Tumblr, karena waktu itu saya harus segera mengunggahnya, tapi koneksi ke blogspot susah. Nah, demi kerapian arsip resensi, resensi ini sekarang saya unggah juga di blogspot.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets