Showing posts with label komedi. Show all posts
Showing posts with label komedi. Show all posts

17 September 2017

[Resensi THE GIRL ON PAPER] Gadis Itu Jatuh dari dalam Buku



Suatu malam yang berhujan badai, Tom Boyd menemukan sesosok perempuan telanjang yang seperti dijatuhkan begitu saja ke dalam rumahnya. Billie, perempuan itu mengaku "jatuh" dari novel trilogi laris Tom yang salah cetak--ceritanya berhenti di pertengahan novel, tepat setelah kata "jatuh".
Karena aku hafal seluruh isi novelku, aku tidak kesulitan mengingat kalimat yang seharusnya tercetak: "Kumohon!" seru gadis itu, jatuh berlutut. (hlm. 44)
Billie bilang, kalau Tom tidak segera menyelesaikan buku terakhir triloginya, maka ia akan mati. Sebagai gantinya, ia berjanji akan membantu Tom mendapatkan Aurore--pianis cantik dan terkenal akan kegemarannya gonta-ganti pacar--kembali. Tom, yang sedang depresi dan mengalami writer's block setelah diputuskan oleh Aurore, mau tak mau harus segera memulai menulis lagi. Bersama Billie, ia melakukan petualangan yang seru.

Di sisi lain, Milo dan Carole, dua sahabat Tom, berusaha menemukan satu-satunya novel-salah-cetak Tom yang luput dari penghancuran dan menjadi kunci untuk memperpanjang hidup Billie. Akankah mereka berhasil?
***
"Aku tidak suka dengan gayamu yang sebelumnya; terlalu rapi dan tampak konservatif. Kau terlihat seolah kau membutuhkan sebuah tamparan." (Billie, hlm. 180)
Aku langsung jatuh cinta pada tokoh Billie yang "berantakan", blak-blakan, bawel, pemberani, tapi hatinya tulus. Aku ngakak pada "pidato" Billie, yang saking nggak bakal selesainya, font-nya dibikin makin mengecil. Aku suka bagaimana interaksinya dengan Tom, yang diawali dengan ketidakcocokan, berangsur-angsur bisa jadi sangat harmonis. Selama membaca buku ini aku sering ketawa terutama pada bagian interaksi Billie-Tom. Aku juga menyukai persahabatan Tom-Milo-Carole.
"Kau tidak berhak melakukannya!" - Tom
"Tidak berhak menyelamatkanmu? Itu bukan tentang hak, itu tentang apa yang harus kulakukan." - Milo
"Dengan harga apa pun?" - Tom
"Kalau memang harus, dengan harga apa pun." - Milo
(hlm. 430)
Penulis dengan ciamik mengolah cerita romantis-komedi dengan sedikit suasana menegangkan dan kisah kelam masa lalu tiga sahabat itu. Tapi, kok, aku merasa bahwa masa lalu mereka yang dikoar-koarkan "kelam" itu kurang ditunjukkan oleh penulis, ya? Maklum, sih, karena cerita lebih banyak berkutat di masa kini tentang usaha penyelamatan nyawa Billie. Nah, tiga orang sahabat itu dulu tinggal di daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi dan di keluarga yang tidak harmonis. Misalnya, Carole, yang tinggal bersama ayah yang ringan tangan dan melecehkannya secara seksual. Nah, di masa sekarang, Carole adalah seorang polisi dengan pangkat cukup tinggi; Tom seorang penulis yang tenar tapi baru saja bangkrut; dan Milo adalah manajer Tom yang berperan juga dalam kebangkrutannya.
Sekali lagi, aku mendapat kesan yang sangat kuat bahwa kami akan selalu menjadi anak-anak berusia dua belas tahun. Meskipun jutaan bukuku sudah terjual, dan banyak penjahat sudah dia tahan, semua itu adalah bagian dari peran yang kami mainkan bersama untuk seluruh dunia, sementara dalam hati kami, kami tidak pernah benar-benar pergi dari sana. (hlm. 103)
Tom sendiri, menulis novel larisnya berdasarkan pengalaman pahit masa remajanya. Nanti, kita akan tahu bagaimana awalnya Tom bisa menulis novel itu. Alasannya ternyata melibatkan masa lalu kelam Carole.
Untuk melupakan masa kecilnya, Milo menganggap semuanya sebagai lelucon. Sementara aku menuangkan segalanya dalam ratusan halaman, menelan berbagai obat dan mengisap sabu-sabu. (hlm. 103)
Sementara itu,  Milo memendam cinta terhadap Carole, tapi ia takut akan merusak persahabatan mereka, makanya dia memilih untuk menjadi playboy dan menjalani hidupnya (sebelum bangkrut bersama Tom) dengan bersenang-senang. Parahnya, Milo menganggap Carole menyukai Tom, lebih dari sekadar sahabat. Nah, sebenarnya bagaimana perasaan Carole terhadap Milo?
"Untuk permainan menantang maut, memang benar kau sangat berani. Tapi, aku bicara tentang keberanian untuk mencintai seseorang. Dan risiko itu tidak pernah kau ambil, bahkan dengan--" (Tom kepada Milo, hlm. 31)
Pada awalnya, kukira Aurore adalah tokoh antagonis dalam novel ini, tapi ternyata tidak juga. Malah, aku mendapati beberapa kecocokan dengan pemikirannya tentang cinta sejati. Bisa dibilang, aku lumayan sama pesimisnya dengan dia dalam hal ini. Begini, dalam fiksi romantis yang berakhir indah dengan si tokoh utama perempuan dan tokoh utama laki-laki bersama pun kita tak tahu apakah setelah ending yang indah itu, mereka tetap bahagia bersama. Apalagi di dunia nyata.
"Kau membuat ikatan, lalu memutuskannya--itulah hidup. Pada akhirnya, kalian akan pergi ke arah yang berbeda, tanpa pernah tahu penyebabnya. Aku tidak bisa memberikan segalanya untuk orang lain sementara aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku tidak ingin membangun kehidupanku di atas perasaan, karena perasaan selalu berubah. Perasaan itu rapuh dan tak pasti. Kau pikir perasaan itu kuat dan mendalam, tapi ternyata mudah menghilang hanya karena kibasan rok atau senyum genit. Aku membuat musik karena musik tidak akan pernah meninggalkan hidupku. Aku suka buku karena buku akan selalu ada untukku. Tapi... aku sama sekali tidak kenal pasangan yang saling mencintai seumur hidup." (Aurore, hlm. 238)
Ide cerita buku ini menarik, termasuk juga ide tentang "buku berjalan" yang menginspirasiku untuk menulis sesuatu. Menariknya, tiap tokoh yang bersilangan nasib dengan buku berjalan itu memiliki kisah sendiri-sendiri. Dan twist-nya..., yah, aku agak kecewa karena berharap keajaiban itu benar-benar "ajaib". Tapi ending-nya tetap memuaskan. Aku juga suka bagaimana tiap bab dibuka dengan quote yang tidak cuma berkaitan dengan isi bab, tapi juga mengena padaku secara emosional.

Yang mengena bagiku adalah pandangan Tom terkait dunia kepenulisan. Aku baru menyadari hal ini sejak Tom mengatakannya:
"Sebuah buku hanya akan hidup kalau dibaca. Para pembacalah yang menyusun potongan-potongan gambar dan menciptakan dunia imajiner tempat para tokohnya hidup." (Tom, hlm. 290)
Aku juga mengagumi bagaimana Tom bisa mengingat seluruh isi novelnya. Itu sungguh keren! Selama menjadi penulis, aku tak pernah benar-benar mengingat seluruh isi naskah novelku 😅. Juga aku mengamini betapa benarnya perkataan Tom yang ini:
"'Menulis novel itu tidak bisa dilakukan berdasarkan pesanan. Ada semacam alkimia di dalamnya...'." (Billie--menirukan kata-kata Tom, hlm. 125)
Ah iya, satu hal penting yang tak boleh dilupakan: terjemahan buku ini renyah sekali!

Buku ini memberikan pandangan positif akan adanya kesempatan kedua bagi orang-orang yang mencari dan pantang menyerah. Juga, orang yang karenanya kita patah hati; yang awalnya kita kira benar-benar kita cintai dan inginkan, bisa saja ternyata tidak.[]

Identitas Buku

Judul: The Girl on Paper
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penerbit: Spring
Tebal: 448 halaman
Cetakan: I, September 2016
ISBN: 978-602-74322-4-6
Harga: Rp 85.000,00

19 March 2016

Serendipiturday #1: Dari Kondom Sampai Catatan Akhir Kuliah Jilid 2


Serendipiturday, seperti yang mungkin bisa Readers tebak, adalah peleburan dari kata "serendipity" dan "Saturday". Serendipity telah menjadi salah satu kata favorit saya dalam bahasa Inggris, sejak pertama kali saya mendengarnya dari seorang teman, dan sejak menonton film Serendipity yang dibintangi Kate Beckinsale dan John Cusack. Selain karena bunyinya yang merdu di telinga, pun artinya sangat sentimental. Saturday berarti saya akan mempublikasikan tulisan bertema serendipity ini pada hari Sabtu *nggak berani nulis "setiap hari Sabtu", soalnya saya agak susah menepati janji*.
Dalam dunia buku pun, saya beberapa kali mengalami serendipity, artinya buku yang dibeli tanpa ekspektasi apapun, ternyata adalah buku yang bagus (baru ketahuan setelah dibaca) dan saya tak menyesal telah membelinya. Salah satunya adalah buku Catatan Akhir Kuliah 2.0 karya Sam @maulasam. Saya membeli ini di hari terakhir bulan Mei 2015, sekadar untuk memenuhi persyaratan kompetisi menulis CAK 2.0 yang diadakan oleh Bentang Pustaka, dengan tema cerita gokil masa sekolah/kuliah.

Walhasil, tulisan saya yang berjudul "Ada Kondom di Laboratorium!" berhasil menjadi pemenang kedua. Sebagai hadiah, saya mendapatkan kaos unyu produksi Ositmen (merk kaos punya Sam), yang langsung dikirim oleh Sam dan sepaket buku Bentang Pustaka (yang saya ambil sendiri di kantornya--untung cukup dekat dengan kos saya). By the way, buku hadiah dari Bentang itu masih segelan sampai sekarang, belum saya baca :)]

Setelah memboyong hadiah kedua tersebut, berbulan-bulan kemudian, buku CAK 2.0 yang masih segelan tidur telentang dengan nyaman di rak buku bagian "To Read". Sampai saya mendapat proyek menulis buku dari DIVA Press yang ditulis keroyokan, tentang tips move on. Saya berencana menulisnya dengan gaya bahasa khas personal literature (pelit) yang ringan dan (sering) konyol (ups, nyaris typo). Oleh karena waktu itu seringnya menulis resensi buku dan cerpen nyastra, kekonyolan saya jadi terpendam dalam sekali dan butuh digali. Saya merasa butuh membaca pelit agar tertulari kekonyolan sejenis. Buku Kambing Jantan sudah saya sumbangkan ke adik tingkat untuk program perpustakaan KKN, sedangkan buku Twiries, Cinta Acakadut, dan Separuh Kaku sudah saya lemparkan ke para pemenang Giveaway Marathon. Apa lagi yang tersisa? Nah, saat itulah mata saya tertarik oleh warna hijau yang tiba-tiba bersinar menyilaukan dari bagian terbawah rak buku *dsiiing*. Ternyata, warna hijau itu berasal dari sampul buku CAK 2.0. Ternyata, selama ini dia tidak tidur dengan tenang, tapi berharap kapan saya akan menyentuh dan membukanya *elus-elus sampulnya*.

Judul: Catatan Akhir Kuliah 2.0
Penulis: Sam @maulasam
Editor: Starin Sani & Baiq Nadia Yunarthi
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, April 2015
Tebal: x + 202 halaman
Harga: Rp 39.000,0
Awalnya, mengapa saya tak kunjung membaca buku ini, tak lain adalah karena arogansi saya, yang saat itu hanya ingin membaca buku-buku serius nan berkualitas. Pandangan saya terhadap buku pelit waktu itu adalah, "Apaan sih, nggak penting banget!" *wanjir, saya sombong banget, ya--baru sadar*. Maafkan saya, para penulis dan penggemar pelit *bow 90 derajat lalu kayang*. Nah, setelah saya robek-robek segel buku ini dan mulai saya baca dari belakang ke depan awal, saya mendapati bahwa momen itu seperti saat saya menemukan buku Bumi Manusia dan Cantik Itu Luka di belantara rak buku penuh debu dan tentunya buku dalam kamar kos Indiana Malia sebelum dia berangkat pelatihan Ekspedisi NKRI awal Januari lalu. (Waktu itu saya siap sedia membawa tas besar ke kosnya, untuk kemudian jadi wadah buku-bukunya yang saya rampok dengan senyum lebar *berharap saat pulang nanti Indi amnesia*).
:D :D

CAK 2.0 merupakan catatan Sam dalam menghadapi kejamnya dunia pascawisuda.
"Waktu gue belum lulus, banyak orang bertanya kapan gue wisuda. Setelah gue lulus, mereka kembali bertanya kapan gue kerja. Manusia memang makhluk yang nggak pernah puas, terutama puas bertanya. Terkadang, gue kehabisan akal untuk menjawabnya. Gue pun selalu menyiapkan beberapa helai rumput di kantong kemeja, supaya ketika mereka menanyakan hal itu, gue bisa jawab, 'Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang,' sambil ngejejelin rumput ke mulut mereka." (hlm. vii)
Untungnya, saat ini, orang-orang nggak bertanya kapan saya kerja. Mungkin tiap mau tanya, mereka sudah keder duluan dengan sorot mata kepedean dan sinis saya.
"Hampir setiap calon sarjana merasa siap untuk lulus, tapi nggak siap untuk bekerja." (hlm. 1)

"... sarjana yang baik bukanlah sarjana yang lulus dengan nilai terbaik atau lulus lebih cepat; sarjana yang baik adalah mereka yang nggak bingung ketika ditanya, "Setelah lulus, mau ngapain?" (hlm. 4)
Nggak, nggak, saya nggak bingung, kok. Saya mau kerja 1-2 tahun sembari mengurus dokumen untuk apply program master di jurusan Sustainable Energy Technology di TU Delft dengan beasiswa LPDP. Lalu saya resign dan lanjut S-2. Setelah dapat gelar M.Sc., lantas mau ngapain? Balik ke Indonesia tentunya, karena terikat perjanjian itu, lalu... Lalu... ngapain, ya? Kayaknya lebih sakit pengangguran pascawisuda S-1 ketimbang pengangguran pascawisuda S-2 (lulusan TU Delft, lagi, sekolahnya pakai duit negara). Ups, waktu S-1 saya juga dibiayai negara :)]

Balik lagi ke cerita Sam. Lantaran IPK-nya bergelantungan di ekor angka 3,0 tapi nggak sampai, belum ngelamar kerja saja dia sudah ditolak. (Rata-rata, zaman sekarang perusahaan mensyaratkan IPK minimal 3,0.) Sam juga pernah termakan rayuan temannya untuk ikut seminar MLM, tapi untungnya dia nggak kecemplung jadi MLM beneran. Sam juga pernah menggantikan temannya bekerja sebagai Management Trainee di sebuah kantor, tapi akhirnya ia memutuskan untuk resign karena beban kerjanya begitu berat dan gajinya segitu-segitu aja. Tapi, dari pengalaman bekerja di situ, ia telah belajar tentang kedisiplinan, ketegasan, passion, hard work, dan integrity (hlm. 66).

Sam, yang gemar menjadikan hidupnya sebagai eksperimen, juga pernah jadi staf manajemen di Super Crew-nya Mario Teguh, di saat sang emak sudah merestuinya untuk berwirausaha. Oh ya, Sam pengin jadi entrepreneur, tapi orang tua awalnya tak menyetujui. Biasa, para orang tua mainstream beranggapan bahwa jadi pegawai akan lebih menjamin kemapanan hidup ketimbang memulai usaha yang belum tentu berhasil. Bersama Super Crew, Sam juga banyak belajar, tapi dia ingin bereksperimen lagi, sehingga ia memutuskan untuk resign dan memulai usaha. Jatuh bangun Sam memulai usahanya, tapi poinnya bukan di "jatuh" melainkan apakah kita mau bangun lagi setelah jatuh. Nggak cuma masalah bisnis, tapi juga cinta, Sam jatuh nyungsep karena Kodok--cewek yang ia taksir sejak lama--nggak menunjukkan bahwa perasaannya berbalas.

Kini, Sam telah benar-benar jadi wirausaha dan penulis.
"Setiap orang punya jatah nganggur, maka habiskan jatah nganggurmu selagi kamu masih muda." (hlm. 119)
:D :D

Di luar dugaan, saya menyukai buku ini. Ditulis dengan gaya bahasa ringan khas pelit dan dibalut komedi cerdas (contohnya tentang inbreeding itu), tak menyusutkan sama sekali esensi berharga yang hendak disampaikan oleh Sam. Dari cara berpikirnya tentang berwirausaha VS menjadi pegawai, saya belajar banyak.
"Ketika nanti sukses bekerja, semakin besar gaji yang gue dapat, pastinya akan semakin banyak waktu yang gue korbankan. [...] Jalan satu-satunya untuk meraih kebebasan dan kebersamaan dengan keluarga masa depan gue adalah dengan membangun perusahaan sendiri. Jadi semakin gue sukses, semakin banyak waktu yang bisa gue luangkan untuk keluarga dan orang-orang terdekat." (hlm. 115-116)
Membaca buku ini, beberapa kali saya merasa tertampar. Ini salah satu contohnya:
"Gue nggak mau terlalu lama berteori, harus segera mempraktikkan pengalaman. Gue cukup trauma dengan kuliah, yang lebih banyak mengajarkan teori, tapi tidak menjadikan gue apa-apa." (hlm. 120)
Memang, saya punya ide untuk membangun pabrik biodiesel suatu saat nanti, tapi mimpi saya hanya akan jadi bualan jika tak kunjung diwujudkan. Yah, karena jujur, masih ada rasa takut dan kurang percaya diri untuk memulai usaha sendiri.

Salah satu alasan yang menyukai buku ini, selain karena Sam berhasil membuat saya nyengir dan kadang tertawa, apa yang diceritakan Sam sangat relevan dengan kondisi saya saat itu (yang sedang menyelesaikan skripsi dan sudah was-was akan jadi apa setelah lulus nanti) dan terlebih saat ini (sedang menjalani hidup yang menyenangkan sebagai jobseeker *bukan jobless, lho*). Bagaimanapun juga, jobseeking adalah pekerjaan.

Ilustrasi di dalam buku ini imut dan lucu, dengan konsep gambar yang dibikin layaknya pixelated Mario Bros (yang kelihatan jelas kotak-kotak pikselnya gitu). Judul-judul babnya juga menarik dan mengundang cengiran. Desain sampul dan pembatas buku bentuk dasinya juga menawan.

Di dekat gambar separuh tubuh bagian atas yang memakai kemeja rapi berdasi itu ada tulisan "sebelum". Mungkin, ini maksudnya sebelum jadi wirausaha, Sam juga manusia salaryman, pegawai kantoran yang berkemeja dan berdasi. Lantas, sesudahnya, sosoknya menjelma seperti gambar separuh tubuh bagian bawah (yang di dekatnya ada tulisan "sesudah", yang cuma memakai celana pendek dan sandal jepit, dengan tiga jari terjulur ke bawah di masing-masing tangan (pose a la rocker). Ini mungkin menunjukkan sosok Sam setelah menjadi wirausaha, yang bisa berpenampilan seenaknya, pun bebas jam kerjanya dan bebas berekspresi.

Membaca CAK 2.0 adalah sebuah serendipity bagi saya. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih atas inspirasi yang berhasil ditransfer oleh Sam melalui CAK 2.0, sehingga saya cukup berhasil menulis buku tips move on dengan balutan kegokilan. Mungkin sekali ada beberapa elemen gaya bahasa saya--saat nulis tips move on itu--yang memiliki warna mirip dengan gaya bahasa Sam. Mohon dimaklumi, saya penulis pemula untuk genre pelit *elus-elus sampul CAK 2.0*. Semoga usaha Sam makin sukses dan buku-buku barunya makin menginspirasi!

Rating saya:
@-) :-/ :) :D

11 December 2015

[Resensi WRECKING ELEVEN] Kesebelasan Garuda Baja yang Berjiwa Cukup Baja

Judul: Wrecking Eleven
Penulis: Haris Firmansyah
Editor: Dyas
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Tebal: 180 halaman
ISBN: 978-602-279-179-9
Harga: Rp 36.000,00
Rating saya: 3/5


Tas sekolah yang diseret macam koper sempat ngetren saat saya masih SD dulu. Adalah seorang teman cewek yang pertama kali memiliki tas seperti itu, berwarna pink dan bergambarkan Disney's Princesses. Saya pun latah. Merengek pada Mama, pengin dibeliin juga. Zaman segitu, tas itu harganya seratus ribu lebih, dan Mama saya lebih milih makai uang segitu buat belanja seminggu ketimbang beliin anaknya tas gledekan. Sebelum tren tas gledekan, sempat ngetren juga skuter gara-gara demam Teletubbies. Si teman cewek yang tadi saya sebutin, juga yang pertama kali membawa skuter ke sekolah, sambil nyerocos, "Piripiripiripooo!" Gila!
Tazos, sumber di sini.

Saya nyaris yakin, kamu pasti juga pernah mengalami fenomena serupa. Masih umur segitu, wajarlah kalau pengin ikut-ikutan nyemplung arus biar dibilang gaul. Seto, tokoh utama dalam Wrecking Eleven juga pernah mengalami hal serupa waktu SD. Saat teman-temannya main tamagotchi Digimon, Seto pengin dibeliin juga. Namun, ketika akhirnya Emak membelikan tamagotchi, Digimon telah beralih ke Pokemon, tamagotchi udah nggak gaul lagi. Ternyata nggak sekali itu Seto telat gaul. Berikutnya, permainan tazos, beyblade, mengalami hal serupa. Dalam pertarungan beyblade, gasing Seto dihajar telak oleh gasing Rahmet. Lalu masuklah ke zaman tamiya meraja. Beruntung, kali itu Seto berhasil punya tamiya sendiri sebelum tren balapan tamiya meredup. Apalah dikata, Seto asal ikut lomba aja, nggak paham kalau sebelum diikutkan lomba, tamiya sebaiknya dimodifikasi agar bisa lebih cepat, lebih keren, dan tentunya nggak pakai baterai bekas jam dinding! Bisa ditebak, tamiya Seto menjelma siput! Lagi-lagi, ia diolok-olok Rahmet.
Beyblade, sumber di sini.

Eits, tunggu dulu. Setelah melewati segala kesialan masa kecil, akhirnya Seto menemukan keahlian dan passionnya: sepak bola. Peristiwa pecahnya kaca rumah Pak RT akibat tendangan Rahmet, mempertemukan Seto dan Mulyadi pada sosok pecinta sepak bola dalam diri Pak RT. Ternyata, beliau adalah pengasuh ekskul sepak bola SMP Kubang Bekicot, yang katanya sangat keren. Langganan menang kejuaraan. Tapi, SMP itu bukan SMP favorit. Singkat cerita, akhirnya Seto dan Mulyadi, (serta Rahmet juga ternyata) bersekolah di situ. Inilah awal mula karier Seto, yang mengidolakan Tsubasa, dalam tim sepak bola SMP Kubang Bekicot yang berhasil memenangkan kejuaraan lagi dan lagi!
Tamagotchi, sumber di sini.

Dikarenakan cinta tak sampai pada Gadis, karena cewek itu malah kelihatan dekat sekali dengan Rahmet, (padahal sebelumnya Seto yakin kalau cewek itu tertarik padanya, karena tak pernah absen menonton latihan sepak bolanya) hati Seto pedih melihatnya. Sampai tiba saatnya masuk SMA, Seto sengaja tidak mendaftar di SMKN 13 yang terkenal memiliki ekskul sepak bola yang keren, karena Gadis dan Rahmet juga mendaftar di sana. Seto tersesat di SMA Garuda Baja, yang dulunya punya tim sepak bola yang sangat keren, tapi sekarang tak lagi, karena suatu masalah di masa lalu.
"Sekolahku adalah sekolah K-pop. Sepak bola kurang populer karena cowok-cowoknya lebih gandrung dengan eskul dance ala boyband Korea. Cewek-ceweknya apalagi." (hlm. 42)
Bagaimana Seto akan menempatkan dirinya di SMA Garuda Baja? Tidak ada eskul sepak bola, lantas ia harus masuk eskul apa? Ogah, ah, kalau ikut-ikutan lagi!
"Mengikuti arus nggak selamanya bikin kita gaul. Bisa jadi, kita malah hanyut dan tersisihkan. Sekarang, aku udah nemuin passion-ku. Aku harus bertahan dengan passion ini. Walaupun kondisi sekolahku sekarang nggak memfasilitasi untuk aku mengembangkannya." (hlm. 46)
***
"Daripada dateng ke pernikahan sepupuku dan jadi pagar bagus, aku lebih memilih bertanding di final dan jadi pagar betis." (Seto, hlm. 154)

Haris Firmansyah memang memiliki spesialisasi menulis genre komedi, terlihat dari buku-buku yang telah lahir dari rahimnya *lhoh*. Date Note, Nyengir Ketupat, Cireng Forever, All About Teen Idols, Good Hobby vs Bad Habit, dan Koplak Mengejar Cinta. Namun, ini adalah novel pertamanya. Bergarisbesarkan cerita remaja yang kadung gandrung pada sepak bola, persahabatan antarpemain, dan sedikit bumbu romance, halaman demi halaman dalam novel ini mengalir ringan dalam balutan komedi. Ya, komedi, tapi nggak berarti tanpa pelajaran yang bisa dipetik.

Saya bisa bilang kalau penulis termasuk kaum muda kekinian, terlihat dari elemen-elemen yang ia masukkan dalam novel. Yang paling mayor adalah tentang eskul dance K-pop di SMA Garuda Baja, yang bikin gedek-gedek kepala. Ada adegan ketika para cowok dancer kemayu itu menarikan lagu Mr. Simple dari Super Junior, juga adegan ketika sang kepsek niruin gerakan Gangnam Style-nya Psy. Beneran, ini sekolah K-pop! Gimana nggak, kepseknya sendiri yang menginisiasi eskul K-pop, dan beliau sendiri juga K-poper -_-. Konyol, ya? Boleh jadi, awalnya kamu akan ngira ini konyol dan nggak masuk akal, tapi belakangan kamu akan sedikit memahami setelah tahu alasan di balik semua itu.

Dari Bang Jep, salah satu punggawa sepak bola kawakan SMA Garuda Baja yang masih tersisa, Seto mengetahui bahwa dulunya sekolah itu punya eskul sepak bola yang keren. Namun, kericuhan yang terjadi di suatu pertandingan final lawan SMKN 13, berujung pada dibekukannya eskul itu. Kemudian, sang kepsek punya ide untuk mendirikan eskul dance, agar para cowok di sekolah itu belajar menari ala K-pop, sehingga hati mereka jadi lebih lembut dan nggak beringasan. Semua itu agar kericuhan serupa tidak terjadi lagi. Unik, ya, jalan pikir Pak Kepsek? Hahaha.

Seperti halnya tokoh utama dalam novel Ketua Kedua, yang berusaha mendirikan eskul cosplay, di Wrecking Eleven, Seto, dibantu Bang Jep, berjuang mendirikan kembali eskul sepak bola. Berkat Cakra, yang nggak sengaja menjadi orang kesebelas, akhirnya Pak Kepsek menyetujui pendirian kembali eskul sepak bola. Menyongsong Piala Wali Kota, mereka berlatih sangat keras. Ketika menghadapi pertandingan pertama babak penyisihan, mereka baru dua kali latihan. Bandingkan dengan lawan mereka, SMKN 13, yang akhirnya membabat habis 8-1. 

Berkat bantuan dari Bang Japra, pelatih silat Ghani, si kiper, mereka menerapkan teknik silat soccer. Teknik ini membantu tim Garuda Baja, yang tadinya tim ecek-ecek dalam klasemen, menjadi tim yang cukup diunggulkan. Yah, menjelang akhir, bisa ditebak, sih, kalau tim ini nantinya akan melaju ke babak final, dan bertemu lagi dengan SMKN 13. Eits, jangan pesimis dulu akan akhir ceritanya! Banyak kejutan dan perubahan keadaan menjelang akhir, terutama yang melingkupi para anggota awal tim Garuda Baja.

Penulis berhasil menggambarkan adegan-adegan pertandingan sepak bola dengan seru. Saya cukup terhanyut waktu membacanya. Maklum, sejak ngekos dan nggak punya tivi, terakhir kali saya nonton pertandingan sepak bola adalah final Piala Dunia 2014. Waktu itu saya lagi Kuliah Kerja Nyata di pedalaman, dan kami nonton rame-rame di rumah warga. (Meski di pedalaman, tivi mereka bagus-bagus, lho!) Saya cukup puas, karena adegan pertandingan sepak bola menguasai, mungkin 2/3 bagian novel, atau bahkan lebih. Jadi, kover depan yang bergambar bola dan sepatu, nggak bohong. Isinya beneran tentang sepak bola.

Cerita dituturkan dari sudut pandang orang pertama Seto, jadi wataknya tergambar nyata. Cowok berambut mirip Tsubasa itu memang gigih dalam memperjuangkan cita-citanya. Kalau kadang ada hal lebay, itu nggak aneh sih, soalnya bagaimana pun juga, ini memang novel komedi. Lewat tingkah para tokohnya, penulis seakan menyindir kondisi sosial masyarakat Indonesia zaman sekarang. Para remajanya demen K-pop, kerjaannya nonton Running Man di laptop, padahal kalau dulu paling main sepak bola atau bulu tangkis bareng temen-temen. (Eh, btw, saya juga demen K-pop, sih, tapi saya jarang banget nonton Running Man.) Ia juga menyindir kinerja para pembesar PSSI yang kalah mencintai persepakbolaan Indonesia dibandingkan Pak RT. Mungkin para pembesar PSSI itu ada yang seperti Pak Karjo, guru penjaskes SMA Garuda Baja, yang nggak ngerti bola. Bahkan, ia ogah banget waktu diminta tim untuk mewakili guru sekolah menemani mereka saat tanding.

Karakter Bang Jep saya sukai karena kepemimpinannya. Ia selalu mampu membangkitkan semangat para anggota tim. Selain itu, di lapangan, ia juga sering mengalah dengan memberikan umpan empuk pada anggota yang lain. Ia bukan pemain egois seperti Bowo, salah satu tokoh yang muncul di awal, dan nantinya akan muncul lagi di akhir.

"Selain skill, yang dibutuhkan seorang pemain bola adalah attitude." (Pak Wah alias Pak RT, hlm. 31)
"Di lapangan, kita satu tim. Di luar lapangan, kita sahabat!" (hlm. 176)
Novel komedi ini cukup menyegarkan untuk hiburan di sela-sela rutinitas menyebalkan. Apalagi bagi yang menyukai sepak bola, novel ini cukup memuaskan dahaga akan kegilaan di tengah lapangan.

23 June 2015

[Resensi DRUNKEN MONSTER] Jadi, Selama ini Apa yang Sudah Saya Lakukan?

Judul: Drunken Monster
Penulis: Pidi Baiq
Editor: Doel Wahab dan Ahmad Mahdi
Penerbit: Pastel Books
Cetakan: II, 2013
Tebal: 292 halaman
ISBN: 978-602-7870-07-9
Harga: Rp 34.000,00
Rating saya: 4/5

Awalnya, saya adalah bagian dari kebudayaan yang meminggirkan semua itu. Entah kenapa, salah seorang teman kuliah—menurut saya dia berpotensi untuk sama jayusnya dengan Pidi—sangat ngotot meminjamkan buku ini dan lebih ngotot lagi menyuruh saya membacanya.
“Frid, pokoknya lu harus baca buku ini! Buku ini beda dari buku-buku yang biasanya lu baca!”

Saya penasaran, kan, memang dia tahu buku-buku apa yang biasanya saya baca? Huehehehe. Tapi begitu melihat bentuk buku dan membaca blurb-nya, saya jadi skeptis; menganggap buku ini hanyalah buku banyolan yang tidak memenuhi kualifikasi buku untuk saya baca *wih, sombong sekali, ya, saya ini*. Buku ini baru saya baca beberapa bulan setelah ia pinjamkan, karena banyak buku lain yang harus saya baca. Lalu tibalah suatu waktu saat keberanian saya terkumpul di ujung tangan dan meraih buku ini kemudian membuka sampulnya, lalu saya terkejut. Betapa tidak, kata pengantar pertamanya berjudul “Ini Buku Berbahaya”. Begitu mulai membaca kedua kata pengantar yang keduanya ditulis oleh dua orang doktor, pandangan saya mulai bergeser. Saya merasa tersindir.


Catatan harian Pidi Baiq yang di-republish ini memang “kumpulan kisah tidak teladan” karena semuanya berisi keisengan Pidi yang patut ditiru asal siap menanggung risiko malu atau dicap jayus. Kedelapan belas ceritanya berisi tentang keisengan Pidi; hidup sehari-harinya yang sarat drama yang dibikin sendiri. Hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh saya!

Masuk ke cerita pertama, saya sudah disambut keisengan parah. Cerita berjudul “Air Lembang Panas” ini berkisah tentang suatu malam minggu, saat Pidi dan karyawannya pergi ke pemandian air panas di Lembang. Sampai di loket tiket, ia berkata pada si penjaga, “Saya dari rombongan rumah sakit jiwa! Ini, saya bawa pasien, Pak. Mau mandi di sini. Mau terapi. Bisa ya?” (hal. 28) Lalu setelah itu ia bicara lain pada si atasan penjaga tiket, mengungkit masalah SARA (ia sengaja melakukannya untuk melihat reaksi si lawan bicara jika diajak bicara mengenai SARA).
Pidi : Gini, Pak. Kami ini kan rombongan dari Medan.Pak Handi : Iya?Pidi : Nah, tadi saya nanya sama siapa itu, bapak-bapak di situ,  orang Medan boleh gak mandi di sini?[...]Pak Handi : Ya boleh. Ini pemandian untuk umumlah. Siapa saja boleh. Suku apa saja boleh.(hal. 32)
Pidi memang suka memutar-balikkan omongan, menimbulkan kesalahpahaman, tapi tetap nggak bikin saya kesal. Malah saya suka akan kreativitasnya ini. Hahaha. Contohnya, percakapan pada cerita favorit saya di buku ini, “Oh, Kerja”. Di cerita ini, Pidi mencoba jadi tukang becak, sementara Mang Ikun, si tukang becak dikasih pinjam motornya. Eh, tapi Pidi bilangnya begini ke rekan-rekan Mang Ikun, “Itu, si Mang Ikun, biasalah. Katanya pengen bawa motor saya ke rumah. Saya disuruhnya pake becak. Dasar!” (Oh, Kerja, hal. 182)

“Oh, Kerja” jadi favorit saya, karena Pidi memberi pesan bagi orang-orang yang suka mengeluh seperti dirinya. Bahwa orang-orang yang hidupnya lebih susah (secara materiil) daripadanya saja tidak pernah mengeluh. Sebelum mencoba mengayuh becak, Pidi suka menggerutu tentang pekerjaannya (lihat hal. 172).
Dulu, saya kira mudah membawa becak, ternyata salah. […] Hai, Mang Ikun, saya mau nanya, apakah Mang Ikun suka mengeluh? 
(hal. 184)
Di cerita berjudul “Drunken Monster”, ada lagi, nih, “ada-ada aja”-nya Pidi. Untuk menghibur istri yang marah, barangkali jarang sekali suami yang melakukan ini, dia mendongeng ngawur. Katanya ia telat pulang ke rumah gara-gara dicegat monster. Monster yang mencegat suami setia. Alhasil, sang istri tidak jadi marah-marah karena udah nggak tahan ngempet ketawa. Di balik cerita amat tidak seriusnya ini, Pidi sesungguhnya ingin berpesan serius.
“Saya kira malam indah seperti ini tak akan pernah ada, kalau saja tadi begitu sampai rumah, saya langsung memasang muka perang untuk membuat istri tidak berani menegur. Atau kalau dia menegur, saya langsung balik marah dan memberinya tamparan karena menilai dia sudah berani ngatur suami.” 
(hal. 51)
Kemudian, di cerita “Jalan ke Mana-mana”, nampaklah bahwa Pidi hobi sok kenal sama orang tak dikenal. Seperti ketika ia menyapa seorang penjual jagung rebus.
Pidi : Bapak!Penjual : Iya?Pidi : Ke mana aja?Penjual : *kaget*Pidi : Si Dadang masih di Jakarta?!Penjual : Dadang?! *bingung* Dadang mana?!Pidi : Masa’ lupa?!(hal. 61)
Nah, mudah sekali, ya, untuk memulai percakapan akrab dengan orang yang tak dikenal? :D
Dalam cerita “Jalan-jalan Minggu”, Pidi iseng banget waktu parkir motor. Kepada si Juru Parkir, ia minta diberi nomor parkir cantik. Dan perdebatan tentang nomor cantik ini berlangsung cukup lama, hingga Pidi ditinggal anak-istrinya yang sudah duluan masuk ke pasar Minggu. Hah, ada aja, ya, cara unik untuk memulai percakapan dengan orang tak dikenal.
Pemikiran Pidi juga unik, rupanya, seperti terlihat pada cerita “Pulang dari Jakarta”. Ketika hendak turun dari kereta dan melihat ada tulisan “EXIT”—yang bagi saya dan banyak orang lainnya adalah hal biasa saja—ia berpikir bahwa gerbang bertuliskan EXIT itu adalah “ide cemerlang dari pihak PJKA”.
“Bayangkan saja seandainya PJKA tidak membuat gerbang EXIT, semua penumpang pasti akan menggunduk di dalam stasiun sambil terus pada teriak: ‘Keluarkan kami sekarang juga! Keluarga pada nunggu di rumah!’ Saya merasa takjub akan bagaimana bisa PJKA punya ide cemerlang seperti itu? Biasanya tidak.” 
(hal. 130)
Selain hobi sok kenal, Pidi juga hobi bagi-bagi duit pada orang tak dikenal! Contohnya, ke Tukang Rujak di cerita “Hari Senin”. Diberinya uang 150ribu sebagai tanda terima kasih karena telah suka rela dan tanpa merasa jadi korban keisengan Pidi, ups! Eh, enggak, maksudnya biar Tukang Rujak itu bisa ngajak anak-anaknya main.
Ajak anak-anak main. Saya serius, nih! Kasian mereka. Jangan dagang terus. Anak-anakmu mungkin butuh uang, tapi anak-anakmu juga butuh ayah. 
(hal. 171)
Saya juga suka cerita ketika Pidi iseng terhadap polisi yang menilang dia karena dia pura-pura nggak bawa SIM. Saya suka karena merasa dendam saya terhadap para polisi yang pernah nilang saya selama ini terbalaskan *sekali-kali mau coba, ah* hahaha. Di sini tampak juga hobi Pidi yang lain: ngeles. Setelah dia memberi uang tilang dua puluh ribu, tiba-tiba si Pidi balik sambil bawa SIM.
“Pidi : Ini SIM-nya ada!Polisi : Ya, udah!Pidi : Uangnya, Pak? He he he, bisa diambil lagi gak? Kan, SIM-nya udah ada?Polisi : Enggak. Kamu sudah lalai!Pidi : Kirain tadi nggak kebawa, Pak. Beneran!”(hal. 180)
Kemudian, dalam cerita “Noor Rosak”, Pidi menceritakan jalan-jalannya bersama teman lamanya, si Noor Rosak, orang Timor Leste. Dalam cerita itu, ia menyindir kita sebagai bangsa Indonesia.


Selain ceritanya yang bikin kaget, saking nggak pernah kepikiran oleh saya akan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan Pidi (karena saya telah terjebak dalam kungkungan normalitas dan rutinitas), bahasa penulisannya pun bikin kaget! Seperti kata Prof. Dr. Bambang Sugiharto, dalam kata pengantar.


Kalimat-kalimatnya pendek-pendek, tidak terstruktur selayaknya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Seolah-olah menegaskan bahwa Pidi memang ingin sepenuhnya mendobrak normalitas. Seperti ini contohnya:
“Selesai makan bubur, segera saya bayar. Selesai saya bayar, segera saya pergi. Selesai saya pergi, segera masuk mobil. Selesai masuk mobil, segera mobil maju, tetapi setelah pergi, mobil berhenti. Berhentinya di situ, di pinggir jalan, kira-kira beberapa meter tidak jauh dari si Tukang Bubur.” 
(hal. 164)
“Di perjalanan, kami juga ngobrol. Ngobrol yang tidak penting diobrolkan. Tahu-tahu, sudah sampai di rumah, di rumah saya.” 
(hal. 229)
Pada akhirnya, di luar ekspektasi, saya malah menyukai buku ini. Terima kasih buat teman saya, yang telah memberi saya liburan singkat gratis yang bermakna dengan membaca buku pinjaman ini. Bukan hanya liburan haha-hihi, melainkan liburan sambil introspeksi, “Jadi, sebenarnya, apa yang sudah saya lakukan selama ini? Tidakkah hidup ini sia-sia jika hanya saya habiskan dengan melakukan rutinitas? Saya selalu memimpikan hidup penuh petualangan layaknya di film-film, tapi saya sendiri tidak berani memulai petualangan itu.”


4 May 2015

[Resensi CINTA ACAKADUT] Acakadut Trakdungces!

Judul: Cinta Acakadut: Karena Cinta Gak Sesederhana FTV
Penulis: Furqonie Akbar
Editor: Meti_iteM
Tebal: 220 halaman
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
ISBN: 978-602-255-834-7
Harga: Rp 36.000,00


“Di buku ini gue bakal menceritakan kisah cinta gue yang rada absurd dan juga kisah pilihan dari orang-orang terdekat gue. Gue juga bakal ngasih tips-tips untuk para jomblo biar gak terus menjomblo, atau tips agar kalian bisa cepat move on dari mantan.
Di buku ini gue gak bermaksud menggurui kalian, cuma ingin berbagi pengalaman yang pernah gue alami biar kalian tidak merasakan pahitnya cinta kayak gue.”
(halaman 9)

Menurut saya, buku ini sesuai dengan judulnya: genre-nya acakadut, alias campur aduk, nggak jelas genre-nya apa. Kalau disebut novel, menurut saya juga kurang cocok karena ada bagian nonfiksi dan motivasinya (jangan-jangan semua pengalaman yang ditulis penulis adalah fiksi belaka?!). Tapi, pihak penerbit mengkategorikan buku ini sebagai novel.

Buku yang terdiri dari 24 bab ini diawali dengan prolog yang berisi perkenalan tokoh alias si penulis sendiri, yang mengaku bahwa kegantengannya ngalahin Siwon Super Junior *dibakar ELFs rame-rame yang baru pulang dari nonton konser Super Show 6*. Kemudian masuk ke isi buku, yang bisa dibagi menjadi beberapa bagian besar (ini saya sendiri yang membagi, sih) pengalaman pacaran penulis, pengalaman kisah cinta pahit beberapa teman dekatnya, pengalaman menjomblo, sedikit kuliah tentang percintaan, dan bagian yang tak bisa digolongkan saking absurdnya.

Pertama, pengalaman pacaran penulis dan teman dekatnya. Penulis berbagi pengalamannya selama pacaran beberapa kali bertahun-tahun yang lalu, juga pengalamannya dalam menggebet cewek-cewek meski tidak pernah jadian.  Ada yang putus karena LDR, ada yang karena si cewek teramat manja dan menyusahkan, ada yang karena jarang komunikasi, ada yang karena kena karma. Bonus juga cerita cinta pertama masa SD kelas 6.

Kedua, cerita tentang teman-teman dekat penulis, yang semuanya pahit. Pertama adalah kisah si Parno yang ditolak cewek padahal sudah usaha keras waktu pedekate. Kedua, cerita si Epul yang kena karma. Dia janjian ketemuan sama ceweknya, yang nggak kunjung datang, lalu kecewa berat. Ternyata, tanpa ia tahu, ceweknya mengalami kecelakaan hingga meninggal. Ketiga, kisah si Egi, “yang meski nggak ganteng, dia emang orang yang baik hati” (hal. 185), yang menjadi korban PHP seorang cewek. Karena kebaikan dan kepolosannya, Egi mau-mau aja diminta antar-jemput si cewek, padahal jaraknya lumayan jauh. Suatu saat, ia menangkap basah gebetannya itu sedang berciuman dengan cowok lain.

Ketiga, pengalaman menjomblo si penulis, yang ia isi dengan mengalihkan cintanya untuk hal-hal lain: ngefans tokoh idola (Arsenal, Mikha Tambayong, Fatin Sidqia Lubis, JKT48—terutama Melody). Saya juga pernah mengalami fase menjadi jomblo bahagia karena punya pacar khayalan Yesung Super Junior dan Hoya Infinite *dibakar fans saingan*. Dalam masa jomblo inilah, penulis menyadari bahwa cinta sejatinya adalah hape, si istri pertama; laptop, si istri kedua; motor, si istri ketiga; termasuk Melody JKT48, Fatin, Arsenal, dan... buku!

Keempat, kuliah tentang percintaan, yang mungkin butuh waktu 1 SKS saja, lantaran saya sudah ahli *senyum lebar kayak topeng V dalam “V for Vendetta”*. Penulis mengklasifikasikan beberapa hal, yaitu jenis-jenis hubungan; perbedaan antara tukang modus, playboy, dan mata keranjang; jenis-jenis manusia jomblo; sebab-sebab gagal move on; perbedaan Sabtu malam dan malam Minggu; sanggahan penulis terhadap gombalan-gombalan yang sedang menjamur; dan fase-fase hubungan percintaan.

Ini kutipan favorit saya. Saya setuju banget dengan penulis, yang tumben waras, hehe.

Menurut saya, kok, itu seharusnya "ganteng + baik - duit = jomblo", ya?
Kelima, bagian yang tak tergolongkan. Yang saya golongkan ke bagian ini adalah sebuah cerita pendek komedi nan absurd tentang kisah cinta Suminah dan Tono. Bagian ini paling nggak penting, menurut saya, karena nggak ada kaitannya dengan bagian yang lain.

Terakhir, bagian penutup, yang berisi sebuah renungan; surat cinta untuk si tulang rusuk penulis—yang entah siapa, semoga bertemu di masa depan; dan berbagai pendapat teman-teman penulis tentang definisi cinta.

Gaya penulisan yang dipilih penulis membuat pembaca merasa bahwa ia benar-benar sedang bercerita secara langsung di depan pembaca, menggunakan kata ganti orang pertama “gue”. Gaya bahasa gaul dan super-ringan bikin nggak bosan, dan ide-ide yang ingin disampaikan penulis terserap dengan gampang (meski sebagian ide itu adalah absurd, sebagian lagi cukup memberi pencerahan). Cara penulis menceritakan pengalamannya dibumbui dengan guyonan, yang kadang lucu. Meski begitu, saya tidak terlalu suka dengan gaya melucu penulis yang sering menyudutkan pembaca, hehe.
Saya suka desain sampulnya, juga layout bagian dalam yang lucu.


Cinta Acakadut bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!).


Buku ini cocoknya dibaca oleh remaja ABG, mungkin usia 12 – 15 tahun *mau jadi apa bocah umur segitu baca tips-tips percintaan*, biar nggak tersesat ketika mulai coba-coba menggebet atau pacaran, haha. Kalau untuk pembaca yang lebih dewasa, seperti saya, buku ini kurang cocok, karena rasanya kita-kita ini sudah pada ahli. Hahaha. Oleh karena itu, saya hanya merelakan bintang 2,5 untuk buku ini.

“Cinta itu acakadut, yang gak tau gimana opening dan ending-nya. Kayak buku ini. Ada suka, ada bahagia, ada ketawa, ada tangisan, ada romantisme, ada juga tentang ketulusan dan pengorbanan. Bisa berakhir bahagia, kecewa, atau ngegantung. Silakan tentukan sendiri.

(halaman 219)

29 April 2015

[Resensi GLAMO GIRLS] Tiga Meong yang Bertobat


Penulis: Ragil Kuning, dkk.
Editor: Zare
Penerbit: Senja
Cetakan: I, 2015
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-255-611-4


“Tuh, kan, baru kerasa kehilangan kalau orang nggak ada.”
(Umi kepada Adam, hal. 130)

Tiga Meong yang tak berhenti mengeong


Glamo Girls, atau lebih beken dengan nama Tiga Meong, adalah geng tiga orang cewek borju—Gina, yang agak bijaksana; Lala, yang galak; dan Monic, si Lelola alias Lemot plus Loading Lama. Karena merasa paling kaya, paling cantik, dan paling keren, mereka menempatkan diri di atas level semua teman di SMA-nya.  Namun, kalau sedang mengejar-ngejar trio Adam, Tomy, dan Bastian, mereka seolah tak punya harga diri, ngelendot ke mana-mana, padahal dicuekin para cowok itu. Lalu, muncullah sebuah ide gila dari kepala Adam. Mereka berkonspirasi untuk mengirim Tiga Meong mewakili kelas mereka melakukan baksos di pulau terpencil selama seminggu!

Tiga Meong syok berat begitu melihat tempat tinggal sementara mereka di Pulau Sabira, pulau paling utara di Kepulauan Seribu. Mereka menumpang di rumah Bu Inah, yang luasnya nggak lebih besar daripada garasi di rumah gedong mereka. Mereka memberi julukan rumah itu sebagai RSSSSP (Rumah Sangat Sederhana Sulit Selonjor Pula). Kamar segede kamar mandi di rumah mereka di Jakarta itu pun harus ditempati untuk bertiga. Belum lagi ada kecoak dan curut yang suka nongol tiba-tiba. Kayaknya mereka bakal minta pulang ke Jakarta sebelum hari itu berakhir, ya nggak? Eh, tapi siapa sangka, mungkin saja mereka bisa berubah.

Sementara itu, di SMA mereka, trio Adam, Tomy, Bastian terlihat lesu, ada yang kurang rasanya karena tak ada Tiga Meong yang mengejar-ngejar mereka. Bu Entin yang jaga kantin pun merasa kehilangan pemasukan, karena biasanya Tiga Meong selalu memborong dagangannya. Pun Pak Ono, si satpam yang biasanya disogok uang rokok oleh Tiga Meong yang sering telat, agar membukakan pintu itu merasa kehilangan sumber penghasilan tambahan. Para orang rumah Tiga Meong pun merasa kehilangan. Ternyata, meskipun nyebelin, semua orang merindukan Tiga Meong!

“Suasana kelas tampak sepi melebihi TPU Jeruk Purut.” (hal. 73)
Utie       : Hoaaam, sepi, ya? Sepertinya ada yang aneh.
Arya      : Lo pasti kangen suara cempreng Glamo Girls, ya? kalau nyanyi sok imut pake gaya Cherrybellekan.
(hal. 76)

Ketika kembali nanti, apakah Tiga Meong masih Glamo Girls yang dulu?

Bertahan menelan segala ke-lebay-an ini


“Gina melangkah pasti dengan rambut yang berkibar-kibar. Para cowok berjejer menatap Gina dengan mulut yang terus menganga. Mereka melambaikan tangan ke arah Gina sambil membawa poster foto Gina yang lagi nyengir lebar.” (hal. 17)

Terbayang, kan, betapa lebay-nya novel ini? Saya langsung terbayang dorama Jepang tentang anak sekolahan yang sering lebay, kadang si cowok sampai mimisan ketika melihat cewek cantik. Nggak hanya cara menulisnya yang lebay, para tokohnya juga lebay. Seperti ketika Lala memberikan sebatang cokelat pada Tomy, oleh-oleh papanya dari Perancis, katanya.

Tomy     : Makasih. Pasti mahal, ya?
Lala       : Iya. Ini mahal banget, Kak. Masak, ya? Kata Papa, harganya seratus ribu loh sebatang gini.”
Tomy     : (melotot)
(hal. 33)

Karena memang ketiga penulis memaksudkan novel ini sebagai novel komedi remaja, maka segala ke-lebay-an itu terampuni. Eits, jangan salah, meski novel komedi, para penulisnya menawarkan pesan moral pada para remaja agar memupuk jiwa sosial bagi orang-orang yang kurang mampu, lho. Penulis juga menunjukkan proses perubahan sikap Glamo Girls, yang tadinya berpenampilan glamor dan berjiwa glamor, hingga menjadi “biar penampilan kami glamor, jiwa kami sosial, kok!” (Lala, hal. 208).

Sebelum mengikuti baksos di Pulau Sabira, Glamo Girls memang glamor, tapi jiwa mereka sebenarnya polos. Inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya, yang memang hanya memanfaatkan uang mereka. Saking polosnya, mereka tetap senang-senang saja dan tidak merasa dimanfaatkan, terutama oleh tokoh-tokoh berikut ini.

1. Pak Ono --> sengaja menutup gerbang pukul setengah tujuh, padahal nggak ada itu di peraturan sekolah, biar Glamo Girls kesannya telat.
“Maksudnya, kalau pager aku tutup, terus mereka kesannya  telat. Abis itu, mereka kasih aku uang rokok, deh.” (Pak Ono, hal. 71)

2. Bu Entin --> senang banget kalau ada Glamo Girls nangkring di kantinnya. Itu berarti pesta traktir-traktiran dan makan besar-besaran!
“Terus selama seminggu dagangan gue siapa yang beli, dong? Walaupun mereka bawel dan nyebelin, tapi cuma mereka yang ngeborong dagangan makanan di warung gue.” (hal. 78)

Nulis satu novel bertiga itu nggak mudah

Novel ini ditulis oleh tiga penulis cewek: Ragil Kuning, Afin Yulia, dan Tia Marty (wah, jangan-jangan sembari menulis, mereka membayangkan bahwa merekalah si Glamo Girls, hihi). Pasti tidak mudah menulis satu novel bertiga, terutama dalam hal menjaga konsistensi segala hal. Untungnya, novel ini ditulis dengan cukup bagus hingga efek “perpindahan tangan dan kepala” si penulis tak terlalu terasa. Mulus-mulus aja, seolah ditulis oleh satu orang. Saya tidak tahu bagaimana sistem pembagian menulis yang mereka lakukan, tapi saya menemukan inkonsistensi gaya obrolan Glamo Girls, yaitu dalam penggunaan kata “lo” dan “lu”. Misalnya, di bab 8, mereka bertiga selalu menggunakan kata “lo”.

·         “Monic, lo nggak bercita-cita nikah muda, kan?” (Lala, hal. 142)
·         “Gina, lo kenapa? La, kok diem, sih?” (Monic, hal. 136)
·         “Lo ngapain, Mon?” (Gina, hal. 144)

Tapi, menginjak bab 9, kata “lo” dalam obrolan mereka berubah secara ajaib menjadi “lu”.
·         “...pasti impian lu tuh jadi kenyataan dalam sekejap, La.” (Gina, hal. 147)
·         “Lu kan tadi sore nggak mandi, Miss Takut Air.” (Monic, hal. 147)
·         “Lu-lu kate ini lagi syuting sinetron, apa?” (Lala, hal. 148)

Nah, anehnya, di halaman 150, Gina menggunakan “lo” lagi. Mungkin saja ini sesuatu yang lazim dalam kehidupan nyata, dan hanya saya yang terlalu memikirkannya (?).

Selain itu, terdapat pula beberapa keanehan berikut ini.
1. “Ibu, kerupuk ikannya abis semua. Nih, total uangnya sepuluh ribu.”
(Wati kepada Bu Inah, hal. 110)
Di halaman sebelumnya tertulis bahwa harga sebungkus kerupuk seribu rupiah, jadi mereka hanya berjualan sepuluh bungkus kerupuk? Menurut saya, dengan perjuangan mereka dalam membuat dan menjajakan kerupuk itu, hanya sepuluh bungkus itu terlalu sedikit. Eh, bungkusannya seberapa, saya juga nggak tahu.

2. “Apakah lo baik-baik saja?”
(arti pandangan mata Gina dan Lala, hal. 134)
Kalimat ini terasa terlalu baku untuk gaya obrolan mereka yang sebelum-sebelumnya selalu amat gaul. Kayaknya lebih cocok begini, “Apa lo baik-baik aja?”

3. “Lala garuk-garuk kepala disaksikan Monic dan Gina yang berpelukan ala Teletubbies.
Monic yang ketinggalan aksi berpelukan itu protes.... ‘Euhh, kalian nggak setia kawan. Kenapa kalian nggak ngajak gue ngajak aku berpelukan?
‘Iiih, ogaah!’ tukas Gina dan Monic sambil minggir ke pojokan.” (hal. 147)
a. Seharusnya Lala yang protes, bukan Monic, karena yang berpelukan adalah Monic dan Gina.
b. Pada kalimat yang saya highlight kuning itu seharusnya bagian “ngajak aku” dihapus.

4. “’Lu apaan, sih?!’ Gina menginjak kaki cowok aneh itu.
Cowok berambut kribo sarang burung itu cengar-cengir ngerasain kakinya diinjak keras-keras oleh Lala.”
(hal. 174)
Hei, yang menginjak Gina, lho, bukan Lala. Hehehe.

Saya juga menemukan beberapa kesalahan penulisan, yang tidak sesuai dengan EYD, tapi tidak terlalu merusak kenikmatan membaca.

Akhirnya, saya memberikan apresiasi pada ketiga penulis yang bisa dengan cukup luwes menuliskan satu novel yang menghibur sekaligus memberikan pelajaran moral ini. Apabila hidup kita sekarang berkecukupan, tak ada salahnya untuk selalu mengingat pelajaran berharga sebagaimana dialami oleh Glamo Girls selama di Pulau Sabira.

bloggerwidgets