Showing posts with label serendipiturday. Show all posts
Showing posts with label serendipiturday. Show all posts

18 February 2017

Serendipiturday #3 - Hujan Bulan Juni Bikin Nggak Takut Baca Buku Puisi



frida keranjingan puisi (meminjam judul kumpulan cerpen gunawan tri atmodjo)

Entah mulai kapan tepatnya, saya keranjingan puisi. Keranjingan puisi lagi, maksud saya, karena pertama kali saya mulai menulis waktu SMP dulu, yang saya tulis adalah puisi. Saya belajar menulis pertama kali lewat puisi. Nah, sudah lama, saya fokus ke cerpen, resensi, dan novel. Selama ini pula, buku kumpulan puisi yang saya baca baru dua, karya Taufik Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri, yang saya pinjam dari perpustakaan SMA, dulu. Saya merasa sayang kalau harus beli buku kumpulan puisi. Alasannya tidak sastrawi, sih, semata-mata karena buku kumpulan puisi biasanya tipis sekali. (Ya, ya, saya tahu, tidak semua buku puisi tipis sekali.) Kalau tidak salah, saya mulai keranjingan puisi lagi sejak mulai lagi menulis puisi demi mengikuti tantangan #30haribercerita di Instagram.

Suatu siang, keluar dari Gedung Kompas Yogyakarta, saya berjalan kaki menyusuri Jalan Suroto untuk menghabiskan jam makan siang (karena saya sudah makan). Teringat di dekat situ ada Togamas, mampirlah saya ke sana. Tepat di hari Kamis (di Togamas Suroto ada diskon 25% untuk semua novel tiap Kamis, tapi waktu itu saya tidak beli novel). Semua Ikan di Langit belum ada di sana. Entah kenapa, tiba-tiba saya berkeinginan kuat untuk membeli sebuah buku puisi. Masalahnya, buku puisi yang mana? Sergius Mencari Bacchus tidak ada (saya sudah mencari-cari di rak sesuai dengan nomor yang saya dapati di mesin pencarian, tapi tidak ada). Penataan buku di Togamas situ memang kurang rapi. Saya selalu dibikin bingung olehnya. Lalu saya tertarik oleh Buku Tentang Ruang dan Perempuan yang Dihapus Namanya oleh Avianti Armand, tapi saya masih belum yakin. Berkelana di Goodreads, akhirnya saya mencomot Hujan Bulan Juni.

Sapardi adalah tokoh puisi legendaris Indonesia, dan bisa-bisanya saya cuma tahu satu puisinya (yang berjudul Aku Ingin itu). Sungguh, saya malu pada diri sendiri.
***

tentang hujan bulan juni

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu


tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu


tak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu
(1989)

Seratus dua puisi bergandengan tangan membentuk garis waktu pengelanaan makna Sapardi dari tahun 1959 sampai 1994. Saya pikir, Hujan Bulan Juni cukup pas dijadikan judul buku ini, lantaran saya sering berpapasan dengan “nuansa hujan atau gerimis” di antara larik-larik puisi Sapardi, meski saya tidak tahu, itu hujan di bulan Juni atau bulan lain. Selain Hujan Bulan Juni, kalau saya tidak salah hitung, ada 17 puisi yang bicara tentang atau saat hujan.

Sebentar, saya bingung bagaimana meresensi buku puisi. Ini pengalaman pertama saya meresensi buku puisi.

Baiklah, barangkali saya akan mulai dari tema. Tema umum buku puisi ini barangkali adalah keabadian, yang digambarkan Sapardi dalam beberapa subjek dominan: kematian, spiritualitas, cinta, dan hujan. Yang paling dominan (sejauh pemaknaan saya yang cetek) adalah tentang kematian, yang banyak di antaranya ditulis Sapardi pada tahun 1959–1969 (saya belum tahu, apa yang dirasakan Sapardi di tahun-tahun itu). Selepas itu, sampai tahun 1994, cukup jarang puisi Sapardi berbicara tentang kematian, dibanding periode sebelumnya. Mengenai subjek ini, salah satu pesan yang saya tangkap, saat kematian bukanlah akhir melainkan awal dari perjalanan berikutnya. Dengan kata lain, kematian adalah pintu menuju keabadian. Pesan ini saya dapati dalam puisi Saat Sebelum Berangkat (1967), Cahaya Bertebaran (1970), dan Pada Suatu Hari Nanti (1991).

Cahaya Bertebaran
cahaya bertebaran di sekitarmu
butir-butirnya membutakan dua belah matamu
“sudah sampaikah kita?” tanyamu tiba-tiba. Lupakah
kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga?

Barangkali, kematian digambarkan sebagai “cahaya bertebaran yang membutakan mata”. Kalimat terakhir, “Lupakah kau bahwa baru saja meninggalkan dermaga?” seolah twist. Pertanyaan yang menjawab pertanyaan dari seseorang yang mengira bahwa kematian adalah akhir.

Subjek berikutnya adalah spiritualitas. Kebanyakan puisi bersubjek spiritualitas (yang bisa saya tangkap) ditulis Sapardi pada tahun 1968. Puisi-puisi bersubjek ini berusaha merekam dan menyajikan aneka cara para tokohnya berbicara dengan sang Pencipta. Contohnya, dalam puisi Tuan (1980), yang hanya terdiri dari dua baris si tokoh “saya” seolah menghindar dari Tuhan.

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,

saya sedang keluar.

Membaca puisi tersebut, saya membayangkan percakapan itu berlangsung via telepon. Sebelumnya, si Tuan menelepon si Saya, tapi tidak diangkat. Mungkin si Tuan meninggalkan pesan suara untuk memberi tahu bahwa dia akan menemui si Saya di rumahnya.  Lalu, si Saya menelepon balik dan mengucapkan isi puisi itu. Barangkali sebenarnya dia ada di rumah, tapi sedang tidak mau ditemui si Tuan. Puisi ini seperti menyindir sambil tertawa (saya pun ingin tertawa membaca puisi yang terasa lucu ini). Kadang-kadang saya memang menghindari Tuhan. Meski keabadian Tuhan tak bisa dipungkiri, sehingga percuma saja menghindari.

Selanjutnya, puisi-puisi dengan subjek cinta. Izinkan saya menukil puisi Sapardi yang paling saya kenal, Aku Ingin (1989).

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu


aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Subjek “cinta” bisa diartikan cinta untuk kekasih, cinta untuk alam, cinta untuk Tuhan, cinta untuk apa saja. Biarkanlah saya mengartikannya cinta untuk kekasih. Puisi dua bait itu berisi dua alegori paralel yang menggambarkan bagaimana si “aku” mencintai “kamu” (kekasihnya) dengan cara yang ia sebut “sederhana”. Kayu bakar barangkali butuh waktu cukup lama sampai dia habis dimakan api. Dia terbakar, membara, lalu sedikit demi sedikit habis tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada api. Awan dan hujan serupa itu: butuh waktu bagi awan sampai ia selesai meneteskan tetesan air hujan terakhirnya sebelum ia lenyap. Cintanya begitu tulus seperti kayu yang bersedia dibakar habis oleh api, meski sakit. Kedua analogi itu melibatkan perubahan fisika: kayu menjadi abu dan awan menjadi air hujan. Oleh karena itu, kayu dan awan tidak benar-benar hilang, mereka hanya berubah wujud. Dengan kata lain, mereka—cintanya—abadi.
Selanjutnya, puisi-puisi dengan subjek hujan. Contohnya, yang menjadi salah satu favorit saya, adalah Percakapan Malam Hujan (1973). Saya suka puisi itu karena metaforanya sangat menggelitik.

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung,

                berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada lampu jalan,

                “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;

                asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan

                menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

Kenapa saya tergelitik:
(1) hujan digambarkan Sapardi “mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung”. Hujan berusaha melindungi diri dari dirinya sendiri?!
(2) hujan menyuruh lampu jalan untuk menutup mata dan tidur, padahal lampu jalan tidur sambil tetap membuka mata (lihat baris terakhir bait kedua).
(3) hujan dan tiang lampu lambang kontradiksi. Hujan mengesankan suasana kelam, dingin, suram, gaib/misterius: suasana yang ingin manusia hindari, tapi membuatnya tertarik. Sementara itu, lampu jalan mengesankan suasana terang: suasana yang ingin manusia dekati. Kedua hal tersebut saling bergantian ada dalam hidup manusia.

Puisi lain yang memiliki metafora yang menggelitik adalah Puisi Cat Air untuk Rizki (1975). Di puisi itu Sapardi menuliskan “hujan meludah di ujung gang”.

Kemudian, puisi-puisi yang belum bisa saya golongkan, mereka mewakili subjek apa? Salah satu dari golongan ini yang adalah favorit saya, adalah Pada Suatu Pagi Hari (1973).

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan

tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun

rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk

memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin

menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan

rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

Puisi ini bicara tentang kesedihan. Kesedihan yang teramat dalam hingga hanya bisa dilampiaskan dengan cara “menangis lirih sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi”. Kenapa di pagi hari? Entahlah. Apa yang membuatnya sedemikian sedih? Entahlah. Mungkin saya perlu menghubungkannya dengan puisi lain untuk bisa menangkap maknanya. Nah, ternyata sebelumnya saya sudah pernah membaca puisi itu di cerpen apa ya, saya lupa. Duh!

Juga, Yang Fana adalah Waktu (1978) menjadi favorit saya.

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

                “Tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu. Kita abadi.

Puisi itu barangkali ingin mengatakan bahwa kita, saking terjebak rutinitas atau ambisi-ambisi, lupa untuk memaknai waktu yang kita gunakan sehari-hari. Kadang malah saya ingin seandainya sehari itu tidak cuma 24 jam. Mengapa rasanya waktu cepat sekali berlalu, padahal belum sempat saya menyelesaikan ini-itu? Nah, barangkali saya perlu berhenti sejenak.

Subjek-subjek yang sudah saya sebutkan itu tak jarang saling tumpang-tindih. Itu makin menunjukkan bahwa subjek-subjek itu berasal dari satu tema umum.

Dari sisi tipografi, puisi-puisi Sapardi dalam buku ini menurut saya rapi, konsisten, dan sederhana. Bisa dilihat, misalnya pada puisi yang sudah saya cantumkan sebelumnya, Aku Ingin dan Percakapan Malam Hujan. Keduanya sama-sama terdiri dari dua bait, tiap bait terdiri dari tiga baris, hanya saja di Percakapan Malam Hujan, baris kedua dan ketiga tiap bait ditulis menjorok ke dalam. Mayoritas puisi Sapardi ditulis seperti itu tampilannya. Yang agak dibikin “berantakan”, misalnya Ziarah (1967).
 
Sementara Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin memiliki penggalan antarbaris yang teratur dan paralelisme antarbait, ada juga yang terdiri dari satu kalimat panjang dengan penggalan yang tak kentara, seperti Catatan Masa Kecil, 3 (1971), Bunga, 2, dan Telinga (1982).


***
Buku puisi ini telah mengubah paradigma saya yang melabeli dengan semena-mena buku puisi, bahwa ia tak cukup layak untuk saya beli karena biasanya sangat tipis. Sangat tipis, ya ampun, saya tidak percaya saya bisa sebegitu menghakimi. Dan memang benar, puisi tidak bisa menggantikan nikmatnya baca prosa. Kenikmatan baca puisi beda dengan kenikmatan baca prosa, dan kenikmatan yang berbeda itu punya keistimewaan sendiri-sendiri. Tak bisa dibanding-bandingkan apalagi saling menggantikan. Hujan Bulan Juni, yang saya beli karena iseng, membuat saya tak takut lagi untuk baca buku puisi. Selain itu, makna sajak-sajak Sapardi bisa dibilang masih cukup mudah dimengerti oleh pembaca awam (saya). Dia masih mengikat makna dengan kata-kata (tak seperti, puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, misalnya, yang kebanyakan membebaskan kata dari makna, sehingga sulit sekali untuk saya pahami). Terima kasih, Sapardi. (Meski sayang, buku bersampul cantik ini isinya tak berilustrasi.)***
rating saya

identitas buku

Penyelia naskah: Mirna Yulistianti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: VIII, Agustus 2016
Tebal: xii + 120 halaman
Harga: Rp 68.000,00
ISBN: 978-979-22-9706-5

11 February 2017

Serendipiturday #2: Rumah Kertas yang Bikin Ngilu Sekaligus Jadi Favorit Pecinta Buku


Suatu siang di kedai Jualan Buku Sastra (JBS), Wijilan, Yogyakarta, bersama seorang teman, saya melihat-lihat buku yang dijajakan. Saya tak tahu mau beli buku apa—banyak sekali pilihan dan saya bingung. Setelah bolak-balik melahap judul-judul buku yang ada di meja-meja, saya iseng melongokkan kepala ke barisan pasukan buku di rak pojok, di bawah tulisan “diskon 15%”. Pandangan saya terperangkap oleh sebuah punggung buku oranye yang amat tipis. Lha, ini novel tipis banget, mungkin lebih tepat disebut novela, ya. Biasanya saya tertarik pada buku tebal (yang isinya bagus, biar tak lekas berpisah dengannya—tapi saya pernah juga membeli sebuah buku tebal dan isinya sangat membosankan hingga saya tak sanggup menyelesaikannya). Biasanya juga, sebelum membeli buku, saya akan mengepoin terlebih dulu buku itu di Goodreads atau jalan-jalan di blog-blog para blogger buku.

Kali ini saya mengambil risiko. Sekali ini saya mau membeli buku yang sama sekali tidak saya kenali sebelumnya. Saya belum pernah dengar atau baca nama penulisnya (iya, parah banget saya). Yang meyakinkan saya hanyalah blurb yang sangat bikin penasaran dan gambar sampulnya yang menarik (buku-buku membentuk sosok seorang lelaki tua sedang baca buku). Akhirnya saya putuskan untuk membelinya (lagi pula, harganya tidak mahal). Sebelum membawanya ke kasir pun saya tak hendak mengintip rating-nya di Goodreads. Biarlah segala tentang buku ini menjadi kejutan. Apa yang bisa diperbuat oleh buku nan tipis ini kepada saya? Apakah saya akan menemukan serendipity?

Baca juga Serendipiturday #1: Dari Kondom Sampai Catatan Akhir Kuliah Jilid 2
***
Novela ini diawali dengan paragraf yang sangat menggelitik.
Pada musim semi 1998, bu dosen Bluma Lennon membeli satu eksemplar buku lawas Poems karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.
Setelah itu, tokoh “aku” (seorang dosen dari Argentina), yang menggantikan Bluma mengajar di Jurusan Sastra Amerika Latin Universitas Cambridge, menerima sebuah paket berisi buku The Shadow-Line karya Joseph Conrad yang dialamatkan pada mendiang Bluma. Bekas semen termaktub pada penampakan fisik buku itu, membuat si “aku” penasaran bukan kepalang. Naluri untuk menyelidiki menguasai si “aku”. Buku Joseph Conrad itu kemudian membawa si “aku” bertemu Delgado, pecinta buku yang mengenal Carlos Brauer, si pengirim The Shadow-Line (La linea de sombre). Belakangan tokoh “aku” mengetahui bahwa Bluma dan Carlos pernah berkenalan di sebuah kongres penulis di Monterrey. Kemudian cerita—yang diceritakan oleh Delgado kepada tokoh “aku”—berpusat pada kisah Carlos, sang penggila buku. Koleksinya sekitar dua puluh ribu, memenuhi setiap bagian rumahnya, dan karena tidak memiliki biaya yang memadai untuk merawatnya, Carlos dibikin gila oleh ngengat. Kedua puluh ribu buku itu butuh diklasifikasi, dan Carlos dibuat gila oleh sistem indeks rancangannya sendiri.
Seseorang bisa menaklukkan banyak buku, tapi si penakluk kemudian sadar bahwa ia harus menata apa yang ditaklukkannya. (hlm. 37)
Makin gilalah Carlos setelah sebuah kecelakaan terjadi. Kebakaran menghanguskan lemari indeksnya. Memang, rak-rak buku berisi isinya selamat, tapi semua kartu indeksnya sebagian menjelma abu dan sebagian rusak kena air.
…sebab bagi seorang pecinta buku membayangkan kebakaran saja ibarat menghanguskan mimpi jadi abu. (hlm. 45)
Apa yang dialami oleh Carlos ini diibaratkan oleh Delgado sebagai, “Bayangkan untuk sejenak saja bahwa sepanjang hidup ini Anda mengawetkan serangkaian kenangan dari masa kecil […] Anda terus memupuk kenangan akan semua pengalaman Anda hingga saat ini. Lantas suatu hari, tak dinyana, Anda kehilangan urut-urutan kenangan ini. Kenangannya sendiri tidak hilang, tapi juga tidak bisa ditemukan.” (hlm. 50)

Kecelakaan itu lalu membuat Carlos melakukan hal gila terhadap koleksi buku-bukunya.
***
Buku ini cocok sekali dibaca oleh para pecinta buku. Saya berkali-kali dibikin membatin, “Duh, bener banget ini. Ini, nih, yang kurasakan selama ini!”
Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (hlm. 9)
[…] buku-buku merangsek ke sekujur rumah, diam-diam, tanpa rasa bersalah. Tak ada cara buat menghentikannya. (hlm. 9)
Kedua penggila buku itu, Delgado dan Carlos, adalah dua tipe penimbun buku yang sangat berbeda, tapi mereka cocok-cocok saja. Delgado, hobi mengumpulkan buku yang “terjangkau dengan kondisi sebaik mungkin”. Dia juga pantang meninggalkan bekas apa pun terhadap bukunya. Sementara itu, Carlos hobi mengumpulkan buku –buku langka, tak peduli berapa harganya (tidak, tidak, dia bukan orang kaya-raya). Yang paling bikin Delgado kesal dari Carlos adalah dia suka mencoret-coret bukunya.
Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme. (hlm. 32) 
Sebaliknya buat saya, buku yang dicoret-coret selalu terasa sama brutal seperti sesumbarnya itu. Saya merasakan suka cita yang luar biasa saat membuka buku dan mendapati tidak ada ujung halaman yang tertekuk, saat mempelajari rentang antar barisnya yang dipikirkan masak-masak, marjin putihnya yang lebar; membuka, pada setiap hari ulang tahun saya, jilidan yang tidak disisir. (Delgado, hlm. 32)
Meski cocok untuk dibaca pecinta buku, novela ini patut diwaspadai juga. Pasalnya, yang dilakukan Carlos terhadap buku-bukunya bikin saya—dan mungkin para pecinta buku lain—ngilu. Ngilu sekali. Saya juga ngilu lantaran dari sekian judul buku yang disebut-sebut dalam novel ini, saya belum pernah membaca seluruhnya. Sungguh, saya merasa bagai hanya sebuah titik dibandingkan dengan tulisan sepanjang ratusan halaman. Begitulah taraf “kutu buku” saya dibandingkan Delgado dan Carlos.

Buku ini adalah salah satu jenis buku yang bikin saya ternganga dan berpikir keras, bahkan lama setelah buku itu saya tutup—hanya dengan 76 halaman! Mengapa buku The Shadow-Line, mengapa Joseph Conrad? Mungkin saya harus baca buku itu dulu. Mengapa di halaman persembahan, penulis menulis “untuk mengenang Joseph sang adiluhung”? Apakah karena dia sangat mengagumi Joseph Conrad? Meski buku ini dibuka dengan kematian Bluma yang ganjil, saya pahami kemudian bahwa buku ini bukan menceritakan tentang Bluma, melainkan tentang Carlos. Dan, mengapa Bluma ingin jika ia meninggal, ia meninggal saat membaca puisi Emily Dickinson? Mungkin saya harus baca dulu puisi-puisinya. Mengapa nama penggila buku yang gila itu Carlos, seperti nama depan penulis novela ini?

Selain memperoleh wawasan tambahan mengenai judul-judul buku yang belum pernah saya tahu sebelumnya, juga tentang apa yang bisa diperbuat buku-buku terhadap manusia, saya baru tahu adanya “jalan setapak” (jalur-jalur putih vertikal atau diagonal yang terbentuk dari spasi-spasi antar kata—hlm. 43) yang bisa menentukan keunggulan seorang penulis (menurut Carlos Brauer). Nah, saya juga takjub betapa seseorang bisa sedemikian memperhatikan buku-bukunya ketika menyusunnya, seperti Carlos. Ia memperhatikan masalah “kekerabatan” ketika menyusun buku di rak.
Brauer juga merasa tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe, mengingat tudingan-tudingan penjiplakan yang pedas antar kedua penulis itu…. (hlm. 38)
Meski saya hanya mengenal Carlos lewat cerita Delgado yang diceritakan kepada tokoh “aku”, saya bisa memahami mengapa ia melakukan hal gila kepada buku-buku yang dicintainya. Didukung dengan terjemahan yang bagus oleh Ronny Agustinus, saya sungguh menikmati membaca buku ini. Apa yang telah diperbuat Rumah Kertas pada saya sungguh mengagumkan. Oh iya, saya tidak menyangka apa yang disebut “rumah kertas” ternyata tidak seperti perkiraan awal saya. Yang jelas, membaca buku ini merupakan salah satu serendipity yang boleh saya alami.***

Identitas Buku

Judul: Rumah Kertas (diterjemahkan dari judul La casa de papel)
Penerjemah: Ronny Agustinus
Ilustrator isi: Melia P. Khoo
Penerbit: Marjin Kiri
Cetakan: II, Oktober 2016
Tebal: vi + 76 halaman
ISBN: 978-979-1260-62-6
Harga: Rp 34.000,00
Rating saya: 5/5

19 March 2016

Serendipiturday #1: Dari Kondom Sampai Catatan Akhir Kuliah Jilid 2


Serendipiturday, seperti yang mungkin bisa Readers tebak, adalah peleburan dari kata "serendipity" dan "Saturday". Serendipity telah menjadi salah satu kata favorit saya dalam bahasa Inggris, sejak pertama kali saya mendengarnya dari seorang teman, dan sejak menonton film Serendipity yang dibintangi Kate Beckinsale dan John Cusack. Selain karena bunyinya yang merdu di telinga, pun artinya sangat sentimental. Saturday berarti saya akan mempublikasikan tulisan bertema serendipity ini pada hari Sabtu *nggak berani nulis "setiap hari Sabtu", soalnya saya agak susah menepati janji*.
Dalam dunia buku pun, saya beberapa kali mengalami serendipity, artinya buku yang dibeli tanpa ekspektasi apapun, ternyata adalah buku yang bagus (baru ketahuan setelah dibaca) dan saya tak menyesal telah membelinya. Salah satunya adalah buku Catatan Akhir Kuliah 2.0 karya Sam @maulasam. Saya membeli ini di hari terakhir bulan Mei 2015, sekadar untuk memenuhi persyaratan kompetisi menulis CAK 2.0 yang diadakan oleh Bentang Pustaka, dengan tema cerita gokil masa sekolah/kuliah.

Walhasil, tulisan saya yang berjudul "Ada Kondom di Laboratorium!" berhasil menjadi pemenang kedua. Sebagai hadiah, saya mendapatkan kaos unyu produksi Ositmen (merk kaos punya Sam), yang langsung dikirim oleh Sam dan sepaket buku Bentang Pustaka (yang saya ambil sendiri di kantornya--untung cukup dekat dengan kos saya). By the way, buku hadiah dari Bentang itu masih segelan sampai sekarang, belum saya baca :)]

Setelah memboyong hadiah kedua tersebut, berbulan-bulan kemudian, buku CAK 2.0 yang masih segelan tidur telentang dengan nyaman di rak buku bagian "To Read". Sampai saya mendapat proyek menulis buku dari DIVA Press yang ditulis keroyokan, tentang tips move on. Saya berencana menulisnya dengan gaya bahasa khas personal literature (pelit) yang ringan dan (sering) konyol (ups, nyaris typo). Oleh karena waktu itu seringnya menulis resensi buku dan cerpen nyastra, kekonyolan saya jadi terpendam dalam sekali dan butuh digali. Saya merasa butuh membaca pelit agar tertulari kekonyolan sejenis. Buku Kambing Jantan sudah saya sumbangkan ke adik tingkat untuk program perpustakaan KKN, sedangkan buku Twiries, Cinta Acakadut, dan Separuh Kaku sudah saya lemparkan ke para pemenang Giveaway Marathon. Apa lagi yang tersisa? Nah, saat itulah mata saya tertarik oleh warna hijau yang tiba-tiba bersinar menyilaukan dari bagian terbawah rak buku *dsiiing*. Ternyata, warna hijau itu berasal dari sampul buku CAK 2.0. Ternyata, selama ini dia tidak tidur dengan tenang, tapi berharap kapan saya akan menyentuh dan membukanya *elus-elus sampulnya*.

Judul: Catatan Akhir Kuliah 2.0
Penulis: Sam @maulasam
Editor: Starin Sani & Baiq Nadia Yunarthi
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, April 2015
Tebal: x + 202 halaman
Harga: Rp 39.000,0
Awalnya, mengapa saya tak kunjung membaca buku ini, tak lain adalah karena arogansi saya, yang saat itu hanya ingin membaca buku-buku serius nan berkualitas. Pandangan saya terhadap buku pelit waktu itu adalah, "Apaan sih, nggak penting banget!" *wanjir, saya sombong banget, ya--baru sadar*. Maafkan saya, para penulis dan penggemar pelit *bow 90 derajat lalu kayang*. Nah, setelah saya robek-robek segel buku ini dan mulai saya baca dari belakang ke depan awal, saya mendapati bahwa momen itu seperti saat saya menemukan buku Bumi Manusia dan Cantik Itu Luka di belantara rak buku penuh debu dan tentunya buku dalam kamar kos Indiana Malia sebelum dia berangkat pelatihan Ekspedisi NKRI awal Januari lalu. (Waktu itu saya siap sedia membawa tas besar ke kosnya, untuk kemudian jadi wadah buku-bukunya yang saya rampok dengan senyum lebar *berharap saat pulang nanti Indi amnesia*).
:D :D

CAK 2.0 merupakan catatan Sam dalam menghadapi kejamnya dunia pascawisuda.
"Waktu gue belum lulus, banyak orang bertanya kapan gue wisuda. Setelah gue lulus, mereka kembali bertanya kapan gue kerja. Manusia memang makhluk yang nggak pernah puas, terutama puas bertanya. Terkadang, gue kehabisan akal untuk menjawabnya. Gue pun selalu menyiapkan beberapa helai rumput di kantong kemeja, supaya ketika mereka menanyakan hal itu, gue bisa jawab, 'Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang,' sambil ngejejelin rumput ke mulut mereka." (hlm. vii)
Untungnya, saat ini, orang-orang nggak bertanya kapan saya kerja. Mungkin tiap mau tanya, mereka sudah keder duluan dengan sorot mata kepedean dan sinis saya.
"Hampir setiap calon sarjana merasa siap untuk lulus, tapi nggak siap untuk bekerja." (hlm. 1)

"... sarjana yang baik bukanlah sarjana yang lulus dengan nilai terbaik atau lulus lebih cepat; sarjana yang baik adalah mereka yang nggak bingung ketika ditanya, "Setelah lulus, mau ngapain?" (hlm. 4)
Nggak, nggak, saya nggak bingung, kok. Saya mau kerja 1-2 tahun sembari mengurus dokumen untuk apply program master di jurusan Sustainable Energy Technology di TU Delft dengan beasiswa LPDP. Lalu saya resign dan lanjut S-2. Setelah dapat gelar M.Sc., lantas mau ngapain? Balik ke Indonesia tentunya, karena terikat perjanjian itu, lalu... Lalu... ngapain, ya? Kayaknya lebih sakit pengangguran pascawisuda S-1 ketimbang pengangguran pascawisuda S-2 (lulusan TU Delft, lagi, sekolahnya pakai duit negara). Ups, waktu S-1 saya juga dibiayai negara :)]

Balik lagi ke cerita Sam. Lantaran IPK-nya bergelantungan di ekor angka 3,0 tapi nggak sampai, belum ngelamar kerja saja dia sudah ditolak. (Rata-rata, zaman sekarang perusahaan mensyaratkan IPK minimal 3,0.) Sam juga pernah termakan rayuan temannya untuk ikut seminar MLM, tapi untungnya dia nggak kecemplung jadi MLM beneran. Sam juga pernah menggantikan temannya bekerja sebagai Management Trainee di sebuah kantor, tapi akhirnya ia memutuskan untuk resign karena beban kerjanya begitu berat dan gajinya segitu-segitu aja. Tapi, dari pengalaman bekerja di situ, ia telah belajar tentang kedisiplinan, ketegasan, passion, hard work, dan integrity (hlm. 66).

Sam, yang gemar menjadikan hidupnya sebagai eksperimen, juga pernah jadi staf manajemen di Super Crew-nya Mario Teguh, di saat sang emak sudah merestuinya untuk berwirausaha. Oh ya, Sam pengin jadi entrepreneur, tapi orang tua awalnya tak menyetujui. Biasa, para orang tua mainstream beranggapan bahwa jadi pegawai akan lebih menjamin kemapanan hidup ketimbang memulai usaha yang belum tentu berhasil. Bersama Super Crew, Sam juga banyak belajar, tapi dia ingin bereksperimen lagi, sehingga ia memutuskan untuk resign dan memulai usaha. Jatuh bangun Sam memulai usahanya, tapi poinnya bukan di "jatuh" melainkan apakah kita mau bangun lagi setelah jatuh. Nggak cuma masalah bisnis, tapi juga cinta, Sam jatuh nyungsep karena Kodok--cewek yang ia taksir sejak lama--nggak menunjukkan bahwa perasaannya berbalas.

Kini, Sam telah benar-benar jadi wirausaha dan penulis.
"Setiap orang punya jatah nganggur, maka habiskan jatah nganggurmu selagi kamu masih muda." (hlm. 119)
:D :D

Di luar dugaan, saya menyukai buku ini. Ditulis dengan gaya bahasa ringan khas pelit dan dibalut komedi cerdas (contohnya tentang inbreeding itu), tak menyusutkan sama sekali esensi berharga yang hendak disampaikan oleh Sam. Dari cara berpikirnya tentang berwirausaha VS menjadi pegawai, saya belajar banyak.
"Ketika nanti sukses bekerja, semakin besar gaji yang gue dapat, pastinya akan semakin banyak waktu yang gue korbankan. [...] Jalan satu-satunya untuk meraih kebebasan dan kebersamaan dengan keluarga masa depan gue adalah dengan membangun perusahaan sendiri. Jadi semakin gue sukses, semakin banyak waktu yang bisa gue luangkan untuk keluarga dan orang-orang terdekat." (hlm. 115-116)
Membaca buku ini, beberapa kali saya merasa tertampar. Ini salah satu contohnya:
"Gue nggak mau terlalu lama berteori, harus segera mempraktikkan pengalaman. Gue cukup trauma dengan kuliah, yang lebih banyak mengajarkan teori, tapi tidak menjadikan gue apa-apa." (hlm. 120)
Memang, saya punya ide untuk membangun pabrik biodiesel suatu saat nanti, tapi mimpi saya hanya akan jadi bualan jika tak kunjung diwujudkan. Yah, karena jujur, masih ada rasa takut dan kurang percaya diri untuk memulai usaha sendiri.

Salah satu alasan yang menyukai buku ini, selain karena Sam berhasil membuat saya nyengir dan kadang tertawa, apa yang diceritakan Sam sangat relevan dengan kondisi saya saat itu (yang sedang menyelesaikan skripsi dan sudah was-was akan jadi apa setelah lulus nanti) dan terlebih saat ini (sedang menjalani hidup yang menyenangkan sebagai jobseeker *bukan jobless, lho*). Bagaimanapun juga, jobseeking adalah pekerjaan.

Ilustrasi di dalam buku ini imut dan lucu, dengan konsep gambar yang dibikin layaknya pixelated Mario Bros (yang kelihatan jelas kotak-kotak pikselnya gitu). Judul-judul babnya juga menarik dan mengundang cengiran. Desain sampul dan pembatas buku bentuk dasinya juga menawan.

Di dekat gambar separuh tubuh bagian atas yang memakai kemeja rapi berdasi itu ada tulisan "sebelum". Mungkin, ini maksudnya sebelum jadi wirausaha, Sam juga manusia salaryman, pegawai kantoran yang berkemeja dan berdasi. Lantas, sesudahnya, sosoknya menjelma seperti gambar separuh tubuh bagian bawah (yang di dekatnya ada tulisan "sesudah", yang cuma memakai celana pendek dan sandal jepit, dengan tiga jari terjulur ke bawah di masing-masing tangan (pose a la rocker). Ini mungkin menunjukkan sosok Sam setelah menjadi wirausaha, yang bisa berpenampilan seenaknya, pun bebas jam kerjanya dan bebas berekspresi.

Membaca CAK 2.0 adalah sebuah serendipity bagi saya. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih atas inspirasi yang berhasil ditransfer oleh Sam melalui CAK 2.0, sehingga saya cukup berhasil menulis buku tips move on dengan balutan kegokilan. Mungkin sekali ada beberapa elemen gaya bahasa saya--saat nulis tips move on itu--yang memiliki warna mirip dengan gaya bahasa Sam. Mohon dimaklumi, saya penulis pemula untuk genre pelit *elus-elus sampul CAK 2.0*. Semoga usaha Sam makin sukses dan buku-buku barunya makin menginspirasi!

Rating saya:
@-) :-/ :) :D

bloggerwidgets