Showing posts with label personal literature. Show all posts
Showing posts with label personal literature. Show all posts

12 April 2016

MOVE ON GARIS KERAS | Blog Tour (Review + Giveaway)





Judul: Move On Garis Keras
Penulis: Furqonie Akbar, Utami Pratiwi, Ghina Oksa, Kimfricung, Reza Nufa
Editor: Ainini
Penerbit: Ping
Tebal: 180 halaman
Harga: Rp 38.000,00
ISBN: 978-602-391-107-3

REVIEW

Menurut Urban Dictionary, frasa “move on” berarti “jump out of the troublesome stuffs and go on with your life; stop to go on making a happy living from all the pains that you had. Kalau begitu, istilah “move on” seharusnya bisa dipakai dalam konteks universal, misalnya move on dari pekerjaan lama yang menyiksa (tugas banyak, atasan ngasih deadline seenak jidat, gaji tak sebanding dengan kerja keras) dan mencari pekerjaan baru yang lebih menyenangkan. Atau move on dari ngefans Super Junior dan beralih ke Infinite yang lebih muda dan dance-nya lebih sharp (dibakar fans setia Super Junior). Ups, tapi move on harus ada elemen “bangkit dari situasi penuh masalah atau rasa sakit”. Apakah ngefans Super Junior menimbulkan masalah dan rasa sakit, sehingga saya merasa ingin move on? Skip, deh, makin lama makin nggak nyambung :)].

Di masa yang penuh dengan kaum muda kekinian ini, di mulut mereka, istilah “move on” seolah melekat dengan konteks percintaan, yaitu bangkit kembali setelah putus dengan (mantan) kekasih. Betapa kuatnya kata yang berkaitan dengan “mantan” ini, sehingga nyaris segala hal yang mengangkat tema tentang mantan akan laris manis. Lagu, bejibun tips, novel, buku. Ketika mengetik kata “mantan” di kolom pencarian Google, simsalabim! Langsung muncul lebih dari 7 juta hasil, dan semua yang menempati halaman pertama hasil pencarian bicara tentang mantan pacar. Nah, ini juga fenomena penyempitan makna (apa ya, istilah kerennya?), di mana kata “mantan” seolah selalu dimaksudkan untuk menyebut “mantan pacar”.

Setelah putus dengan kekasih, kita seolah berada di jurang kehidupan. Butuh usaha keras untuk memanjat tebingnya dan sampai  di atas kembali. Nah, ketika kita sudah berhasil sampai di atas dan tanpa rasa takut menjenguk ke kedalaman jurang, itu berarti kita sudah berhasil mencapai tahap pertama move on. Move on itu gampang-gampang susah. Bisa lebih banyak gampangnya, bisa juga lebih banyak susahnya. Tergantung niatmu, strategimu, dan jenis mantan yang sedang kauhadapi. Oleh karena itu, move on adalah hal yang sangat spesifik. Melalui buku ini, 3 cewek dan 2 cowok menyatukan kekuatan masing-masing sambil tetap mempertahankan keunikan dalam menghadapi serangan mantan. 

Cara menghadapi serangan berbagai jenis mantan dikupas satu per satu. Ada 24 jenis mantan yang coba dianalisis secara mendalam sambil guyon, tak jarang melibatkan serentetan sedu curhatan penulisnya. Beberapa di antaranya adalah, "mantan yang jadian dengan sahabat", "mantan terindah", "mantan yang masih perhatian", "mantan yang brondong", "mantan beda agama", dan "mantan tukang santet". Selain itu, masing-masing penulis menambahkan cerita pengalaman pribadi (bisa faktual, dibikin-bikin, atau fakta yang dibumbuin) seputar move on dari mantan.

Kimfricung meleburkan curhatannya di bahasan tiap jenis mantan, sedangkan empat penulis yang lain mengkhususkan satu subbab untuk cerita pengalaman move on mereka. Kimfricung juga melakukan olah statistik seputar fenomena mantan dan move on. Ghina Oksa menyertakan transkrip wawancara dengan para pelaku move on, begitu juga dengan Furqonie Akbar dan Utami Pratiwi. Dalam wawancaranya, Furqon membikin terobosan baru *halah* dengan mewawancarai narasumber terkait move on dalam konteks yang lebih universal, yaitu move on dari keterpurukan hidup (bukan dari mantan doang). Dalam wawancara itu, kita bisa membaca betapa keras perjuangan Sayfullan (salah satu narasumber Furqon, seorang penulis yang produktif jebolan Kampus Fiksi #1) untuk bangkit dari keterpurukan akibat penyakit yang dideritanya.

Dari tulisan mereka, pembaca bisa menyerap ciri khas gaya menulis masing-masing. Reza Nufa, dengan sudut pandang penulisan "saya", selalu memberikan perenungan yang filosofis, dan terasa emosional (seperti ia bilang sendiri) dalam tulisan tentang "mantan beda agama". Btw, tulisan Reza quotable banget.
"Negeri ini masih terlalu muda untuk memahami cinta yang luhur. Selain susah dijalani, kisah cinta beda agama pun lebih banyak berakhir sebagai kenangan." (Reza)
Sementara itu, dari tulisan Utami Pratiwi alias Tiwi, pembaca diajak menyelami fenomena move on dari sudut pandang perempuan dewasa yang pernah muda *maksudnya apa*. Gaya menulis blio dengan sudut pandang "aku", mendayu dan terkesan serius (nggak kayak Furqon yang kesannya slenge'an melulu).
"Tidak seperti dulu, aku yang sekarang sudah sangat siap menerima undangan pernikahannya." (Tiwi)
Nah, dengan sudut pandang "gue"-nya, Furqon berhasil membikin buku ini terkesan semi-personal literature yang mengumbar pelajaran hidup secara konyol dan narsis abis. Khas Furqon, deh, kayak di buku solonya yang terbit tahun 2015, Cinta Acakadut. Dalam pembahasan tiap jenis mantan, Furqon menuliskan tips dengan singkat, padat, dan jelas.
"Di saat kita terpuruk, pasti ada mantan yang sedang menertawakan kita." (Furqon)
Lain lagi dengan Oksa, yang menggunakan sudut pandang "aku". Tulisannya kental dengan gaya anak SMA (ya, karena emang dia masih anak SMA yang unyu). Tips-tips tentang move on-nya pun banyak yang ditulis dalam konteks kehidupan masa sekolah (SMA), contohnya bahasan tentang "mantan satu kelas".
"Untuk apa kau semakin menguatkan genggamanmu jika benda yang kaugenggam itu melukai tanganmu? Bukankah lebih baik untuk melepaskannya, dan mengobati tanganmu yang terluka?" (Oksa)
Dalam tulisannya, Kimfricung, berlagak ilmiah dengan menggunakan sudut pandang "saya", sambil berusaha tetap ngelawak (meski kadang garing). Ia banyak menebarkan ilustrasi atau perumpamaan untuk memudahkan penjelasan tentang mantan dan move on. Kadang, perumpamaannya bisa menjijikkan, seperti "umbel yang bergelayut manja". Dari olah data statistiknya, dia cukup berhasil membuktikan kebenaran hipotesis berikut:
"Seorang mantan pacar yang menjadi stalker, dulunya adalah pacar yang posesif. Beruntunglah kamu kalau kalian sudah putus!" (Kimfricung)
Ada beberapa tips yang sama-sama diajukan oleh beberapa penulis, yang berarti mereka memiliki pemikiran yang serupa terkait hal itu. Namun, di lain pembahasan, tips yang mereka ajukan bisa sangat kontradiktif. Misalnya, tentang membuang atau mengembalikan barang-barang pemberian mantan. Oksa dan Tiwi menganjurkan demikian, tapi Reza dan Kimfricung menganjurkan sebaliknya, yaitu untuk tetap menyimpan barang-barang sarat kenangan. Kontradiksi ini, alih-alih menimbulkan kesan mencla-mencle buku ini, ia malah menegaskan bahwa cara-cara move on itu sangat spesifik dan custom-built. Perbedaan pendapat para penulis tersebut membebaskan pembaca untuk memilih sendiri mana yang sesuai dengannya, atau malah pesimis akan seluruh pendapat para penulis dalam buku ini. Terserah, karena tujuan buku ini ditulis bukan untuk menjadi semacam "buku pegangan wajib" yang harus dipatuhi sekaligus menggurui, melainkan untuk berbagi pengalaman.

Nah, siapkah kau untuk move on?

GIVEAWAY :D

Terima kasih karena kau telah (berpura-pura) bersabar membaca ulasan saya yang tidak pendek di atas (padahal saya tahu kalau kau sudah tidak sabar membaca bagian "giveaway"-nya). Saya juga minta maaf karena terlambat meng-upload post ini, lantaran sesuatu yang menyebalkan terjadi pada kabel output charger laptop saya (padahal laptop saya nggak bisa nyala kalau nggak dicolok ke sumber listrik). Sekarang, saya akan membagikan syarat dan peraturan giveaway buku Move On Garis Keras ini. Dari seluruh peserta yang memenuhi seluruh syarat dan peraturan, akan dipilih satu  yang memenangkan satu (1) eksemplar buku Move On Garis Keras gratis.

Syarat & Peraturan

  1. Domisili di Indonesia.
  2. Follow blog ini, bisa via Google Friend Connect atau Bloglovin'.
  3. Follow akun Twitter para penulisnya: @kimfricung, @qonrobovski, @haitiwi, @ochakrn, dan @rezanufa. Juga Twitter penerbitnya, @ping_fiction.
  4. Bagikan tautan giveaway ini di medsos. Kalau di Twitter, pakai hestek #MOGK, ya. Boleh mensyen penulis dan atau penerbitnya, boleh juga nggak.
  5. Tulis nama, akun Twitter, dan alamat e-mail-mu di kolom komentar, diikuti jawaban atas pertanyaan ini: "Kalau kamu diberi kesempatan untuk memiliki satu kekuatan super agar bisa move on dari mantan pacar, kekuatan apakah yang kamu pilih?"
  6. Giveaway ini berlangsung sampai tanggal 18 April 2016, jadi jangan ketinggalan, ya! Pemenang akan diumumkan pada tanggal 20 April 2016 (doakan semoga tidak ada halangan berarti sehingga saya bisa post tepat waktu, wkwk).
Selamat berpartisipasi, dan selamat move on! :D

19 March 2016

Serendipiturday #1: Dari Kondom Sampai Catatan Akhir Kuliah Jilid 2


Serendipiturday, seperti yang mungkin bisa Readers tebak, adalah peleburan dari kata "serendipity" dan "Saturday". Serendipity telah menjadi salah satu kata favorit saya dalam bahasa Inggris, sejak pertama kali saya mendengarnya dari seorang teman, dan sejak menonton film Serendipity yang dibintangi Kate Beckinsale dan John Cusack. Selain karena bunyinya yang merdu di telinga, pun artinya sangat sentimental. Saturday berarti saya akan mempublikasikan tulisan bertema serendipity ini pada hari Sabtu *nggak berani nulis "setiap hari Sabtu", soalnya saya agak susah menepati janji*.
Dalam dunia buku pun, saya beberapa kali mengalami serendipity, artinya buku yang dibeli tanpa ekspektasi apapun, ternyata adalah buku yang bagus (baru ketahuan setelah dibaca) dan saya tak menyesal telah membelinya. Salah satunya adalah buku Catatan Akhir Kuliah 2.0 karya Sam @maulasam. Saya membeli ini di hari terakhir bulan Mei 2015, sekadar untuk memenuhi persyaratan kompetisi menulis CAK 2.0 yang diadakan oleh Bentang Pustaka, dengan tema cerita gokil masa sekolah/kuliah.

Walhasil, tulisan saya yang berjudul "Ada Kondom di Laboratorium!" berhasil menjadi pemenang kedua. Sebagai hadiah, saya mendapatkan kaos unyu produksi Ositmen (merk kaos punya Sam), yang langsung dikirim oleh Sam dan sepaket buku Bentang Pustaka (yang saya ambil sendiri di kantornya--untung cukup dekat dengan kos saya). By the way, buku hadiah dari Bentang itu masih segelan sampai sekarang, belum saya baca :)]

Setelah memboyong hadiah kedua tersebut, berbulan-bulan kemudian, buku CAK 2.0 yang masih segelan tidur telentang dengan nyaman di rak buku bagian "To Read". Sampai saya mendapat proyek menulis buku dari DIVA Press yang ditulis keroyokan, tentang tips move on. Saya berencana menulisnya dengan gaya bahasa khas personal literature (pelit) yang ringan dan (sering) konyol (ups, nyaris typo). Oleh karena waktu itu seringnya menulis resensi buku dan cerpen nyastra, kekonyolan saya jadi terpendam dalam sekali dan butuh digali. Saya merasa butuh membaca pelit agar tertulari kekonyolan sejenis. Buku Kambing Jantan sudah saya sumbangkan ke adik tingkat untuk program perpustakaan KKN, sedangkan buku Twiries, Cinta Acakadut, dan Separuh Kaku sudah saya lemparkan ke para pemenang Giveaway Marathon. Apa lagi yang tersisa? Nah, saat itulah mata saya tertarik oleh warna hijau yang tiba-tiba bersinar menyilaukan dari bagian terbawah rak buku *dsiiing*. Ternyata, warna hijau itu berasal dari sampul buku CAK 2.0. Ternyata, selama ini dia tidak tidur dengan tenang, tapi berharap kapan saya akan menyentuh dan membukanya *elus-elus sampulnya*.

Judul: Catatan Akhir Kuliah 2.0
Penulis: Sam @maulasam
Editor: Starin Sani & Baiq Nadia Yunarthi
Penerbit: Bentang Belia
Cetakan: I, April 2015
Tebal: x + 202 halaman
Harga: Rp 39.000,0
Awalnya, mengapa saya tak kunjung membaca buku ini, tak lain adalah karena arogansi saya, yang saat itu hanya ingin membaca buku-buku serius nan berkualitas. Pandangan saya terhadap buku pelit waktu itu adalah, "Apaan sih, nggak penting banget!" *wanjir, saya sombong banget, ya--baru sadar*. Maafkan saya, para penulis dan penggemar pelit *bow 90 derajat lalu kayang*. Nah, setelah saya robek-robek segel buku ini dan mulai saya baca dari belakang ke depan awal, saya mendapati bahwa momen itu seperti saat saya menemukan buku Bumi Manusia dan Cantik Itu Luka di belantara rak buku penuh debu dan tentunya buku dalam kamar kos Indiana Malia sebelum dia berangkat pelatihan Ekspedisi NKRI awal Januari lalu. (Waktu itu saya siap sedia membawa tas besar ke kosnya, untuk kemudian jadi wadah buku-bukunya yang saya rampok dengan senyum lebar *berharap saat pulang nanti Indi amnesia*).
:D :D

CAK 2.0 merupakan catatan Sam dalam menghadapi kejamnya dunia pascawisuda.
"Waktu gue belum lulus, banyak orang bertanya kapan gue wisuda. Setelah gue lulus, mereka kembali bertanya kapan gue kerja. Manusia memang makhluk yang nggak pernah puas, terutama puas bertanya. Terkadang, gue kehabisan akal untuk menjawabnya. Gue pun selalu menyiapkan beberapa helai rumput di kantong kemeja, supaya ketika mereka menanyakan hal itu, gue bisa jawab, 'Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang,' sambil ngejejelin rumput ke mulut mereka." (hlm. vii)
Untungnya, saat ini, orang-orang nggak bertanya kapan saya kerja. Mungkin tiap mau tanya, mereka sudah keder duluan dengan sorot mata kepedean dan sinis saya.
"Hampir setiap calon sarjana merasa siap untuk lulus, tapi nggak siap untuk bekerja." (hlm. 1)

"... sarjana yang baik bukanlah sarjana yang lulus dengan nilai terbaik atau lulus lebih cepat; sarjana yang baik adalah mereka yang nggak bingung ketika ditanya, "Setelah lulus, mau ngapain?" (hlm. 4)
Nggak, nggak, saya nggak bingung, kok. Saya mau kerja 1-2 tahun sembari mengurus dokumen untuk apply program master di jurusan Sustainable Energy Technology di TU Delft dengan beasiswa LPDP. Lalu saya resign dan lanjut S-2. Setelah dapat gelar M.Sc., lantas mau ngapain? Balik ke Indonesia tentunya, karena terikat perjanjian itu, lalu... Lalu... ngapain, ya? Kayaknya lebih sakit pengangguran pascawisuda S-1 ketimbang pengangguran pascawisuda S-2 (lulusan TU Delft, lagi, sekolahnya pakai duit negara). Ups, waktu S-1 saya juga dibiayai negara :)]

Balik lagi ke cerita Sam. Lantaran IPK-nya bergelantungan di ekor angka 3,0 tapi nggak sampai, belum ngelamar kerja saja dia sudah ditolak. (Rata-rata, zaman sekarang perusahaan mensyaratkan IPK minimal 3,0.) Sam juga pernah termakan rayuan temannya untuk ikut seminar MLM, tapi untungnya dia nggak kecemplung jadi MLM beneran. Sam juga pernah menggantikan temannya bekerja sebagai Management Trainee di sebuah kantor, tapi akhirnya ia memutuskan untuk resign karena beban kerjanya begitu berat dan gajinya segitu-segitu aja. Tapi, dari pengalaman bekerja di situ, ia telah belajar tentang kedisiplinan, ketegasan, passion, hard work, dan integrity (hlm. 66).

Sam, yang gemar menjadikan hidupnya sebagai eksperimen, juga pernah jadi staf manajemen di Super Crew-nya Mario Teguh, di saat sang emak sudah merestuinya untuk berwirausaha. Oh ya, Sam pengin jadi entrepreneur, tapi orang tua awalnya tak menyetujui. Biasa, para orang tua mainstream beranggapan bahwa jadi pegawai akan lebih menjamin kemapanan hidup ketimbang memulai usaha yang belum tentu berhasil. Bersama Super Crew, Sam juga banyak belajar, tapi dia ingin bereksperimen lagi, sehingga ia memutuskan untuk resign dan memulai usaha. Jatuh bangun Sam memulai usahanya, tapi poinnya bukan di "jatuh" melainkan apakah kita mau bangun lagi setelah jatuh. Nggak cuma masalah bisnis, tapi juga cinta, Sam jatuh nyungsep karena Kodok--cewek yang ia taksir sejak lama--nggak menunjukkan bahwa perasaannya berbalas.

Kini, Sam telah benar-benar jadi wirausaha dan penulis.
"Setiap orang punya jatah nganggur, maka habiskan jatah nganggurmu selagi kamu masih muda." (hlm. 119)
:D :D

Di luar dugaan, saya menyukai buku ini. Ditulis dengan gaya bahasa ringan khas pelit dan dibalut komedi cerdas (contohnya tentang inbreeding itu), tak menyusutkan sama sekali esensi berharga yang hendak disampaikan oleh Sam. Dari cara berpikirnya tentang berwirausaha VS menjadi pegawai, saya belajar banyak.
"Ketika nanti sukses bekerja, semakin besar gaji yang gue dapat, pastinya akan semakin banyak waktu yang gue korbankan. [...] Jalan satu-satunya untuk meraih kebebasan dan kebersamaan dengan keluarga masa depan gue adalah dengan membangun perusahaan sendiri. Jadi semakin gue sukses, semakin banyak waktu yang bisa gue luangkan untuk keluarga dan orang-orang terdekat." (hlm. 115-116)
Membaca buku ini, beberapa kali saya merasa tertampar. Ini salah satu contohnya:
"Gue nggak mau terlalu lama berteori, harus segera mempraktikkan pengalaman. Gue cukup trauma dengan kuliah, yang lebih banyak mengajarkan teori, tapi tidak menjadikan gue apa-apa." (hlm. 120)
Memang, saya punya ide untuk membangun pabrik biodiesel suatu saat nanti, tapi mimpi saya hanya akan jadi bualan jika tak kunjung diwujudkan. Yah, karena jujur, masih ada rasa takut dan kurang percaya diri untuk memulai usaha sendiri.

Salah satu alasan yang menyukai buku ini, selain karena Sam berhasil membuat saya nyengir dan kadang tertawa, apa yang diceritakan Sam sangat relevan dengan kondisi saya saat itu (yang sedang menyelesaikan skripsi dan sudah was-was akan jadi apa setelah lulus nanti) dan terlebih saat ini (sedang menjalani hidup yang menyenangkan sebagai jobseeker *bukan jobless, lho*). Bagaimanapun juga, jobseeking adalah pekerjaan.

Ilustrasi di dalam buku ini imut dan lucu, dengan konsep gambar yang dibikin layaknya pixelated Mario Bros (yang kelihatan jelas kotak-kotak pikselnya gitu). Judul-judul babnya juga menarik dan mengundang cengiran. Desain sampul dan pembatas buku bentuk dasinya juga menawan.

Di dekat gambar separuh tubuh bagian atas yang memakai kemeja rapi berdasi itu ada tulisan "sebelum". Mungkin, ini maksudnya sebelum jadi wirausaha, Sam juga manusia salaryman, pegawai kantoran yang berkemeja dan berdasi. Lantas, sesudahnya, sosoknya menjelma seperti gambar separuh tubuh bagian bawah (yang di dekatnya ada tulisan "sesudah", yang cuma memakai celana pendek dan sandal jepit, dengan tiga jari terjulur ke bawah di masing-masing tangan (pose a la rocker). Ini mungkin menunjukkan sosok Sam setelah menjadi wirausaha, yang bisa berpenampilan seenaknya, pun bebas jam kerjanya dan bebas berekspresi.

Membaca CAK 2.0 adalah sebuah serendipity bagi saya. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih atas inspirasi yang berhasil ditransfer oleh Sam melalui CAK 2.0, sehingga saya cukup berhasil menulis buku tips move on dengan balutan kegokilan. Mungkin sekali ada beberapa elemen gaya bahasa saya--saat nulis tips move on itu--yang memiliki warna mirip dengan gaya bahasa Sam. Mohon dimaklumi, saya penulis pemula untuk genre pelit *elus-elus sampul CAK 2.0*. Semoga usaha Sam makin sukses dan buku-buku barunya makin menginspirasi!

Rating saya:
@-) :-/ :) :D

4 March 2015

[Resensi MIMINLICIOUS] Admin Slebor Versus Admin Normal





Semakin ramai media sosial oleh akun-akun nonpersonal (contohnya penerbit buku @divapress01), makin terbuka juga lowongan menjadi adminnya. Mungkin banyak orang akan bilang, “Enak banget jadi admin medsos, kerjaannya cuma nongkrongin Twitter, dibayar lagi!”


Tunggu dulu. Jangan salah, meski terlihat mudah, menjadi admin haruslah panjang sabar dan nggak boleh marah. Apalagi followers beraneka-rupa jenisnya, ada yang gaptek sangat, tapi tanyanya macam-macam. Jadi sebenarnya, apa aja sih, kerjaan admin Twitter—lebih tepatnya admin @divapress01? Bagaimana kalau seorang admin @divapress01 menulis personal literature? Inilah rahasia permiminan yang disingkap oleh MinCob alias admin Jacob selama menjadi seleb akun @divapress01.



Ada pula followers yang ngotot, sampai-sampai MinCob lelah dan mengelus dada orang.


MinCob merangkai enam bab menjadi personal literature  yang cukup tipis dan sangat ringan (secara fisik maupun bahasanya), plus kata pengantar. Bagian kata pengantar ini adalah yang paling krusial menurut saya, karena di sini MinCob paling banyak menuliskan narasi seputar per-mimin-an (meskipun itu juga kurang banyak).
“...seorang admin juga punya tanggung-jawabnya sendiri, which is, berusaha sekuat tenaga untuk bisa membahagiakan sebagian besar pengikutnya.”
(hal. 10)
Dunia Mimin 1 Ini adalah bab pertama, yang merangkum percakapan-percakapan yang kebanyakan menjengkelkan, antara MinCob dengan para followers. Saya menangkap adanya pesan penting yang ingin disampaikan oleh MinCob (sebagai duta para mimin sedunia), yaitu “wahai kalian yang bisa membaca, membacalah dengan benar!”. Pesan ini tepat sasaran jika ditujukan untuk menanggapi dunia pertukaran informasi dan komunikasi yang acap kali terganggu. Banyak orang tidak mau membaca dengan teliti info yang telah dibagikan, sehingga bertanya dan bertanya terus tanpa sadar bahwa jawabannya sudah tersedia. Kadang, malah para admin ini dianggap sebagai Wikipedia atau Google,  harus serba tahu!
“Min, tanya dong. Perbedaan antara kepribadian dan karakter?” (hal. 21)
Dunia Mimin 2 Di bab kedua ini, MinCob beralih menceritakan keseharian pekerjaan Kak Nita sebagai admin bagian pemesanan buku di Divapress. Para calon pembelinya pun macam-macam anehnya, seperti nampak pada dialog-dialog antara Kak Nita dengan mereka. Ada yang bingungnya nggak penting, tentang ke bank cabang mana harus mentransfer. Atau tentang calon pembeli yang mengaku punya uang banyak dan akan memborong semua buku yang ada. Malah, ada juga yang tanya jadwal dan rute bus malam.

Dunia Mimin 3 Kata MinCob, di masa kini, gila itu beda tipis dengan kreatif (hal. 76), sehingga admin slebor malah lebih banyak followers-nya daripada admin normal. Di bab ini, sempat-sempatnya, MinCob merangkum perbandingan tweets yang dibagikan oleh admin normal dan admin slebor.


Dunia Mimin 4 Kali ini, MinCob menceritakan ulang dialog-dialog unik antara admin proposal, Kak Dion, dengan para kliennya. Proposal yang dimaksud di sini adalah proposal permohonan buku gratis, sebagai tanggapan atas program Divapress yang salah satunya ber-hesteg #AksiSejutaBukuGratis. Banyak klien yang menjengkelkan, karena sudah dikasih gratis malah minta lebih-lebih melulu.

Dunia Mimin 5 Bab yang paling tebal ini (total 70 halaman) ini berisi percakapan melalui Twitter antara MinCob dengan para followers, dalam rangkaian kuis #bukuDIVA dengan tema “asal tanya asal absurd”. Amat disayangkan, halaman-halaman bab ini hanya berisi gambar kotak-kotak tampilan halaman Twitter yang berisi dialog-dialog absurd, tanpa narasi[1]. Hasilnya, saya sudah bosan pada saat belum sampai pertengahan bab. Dialog-dialognya pun sudah tak terasa lucu lagi, lama-lama menjadi garing dan hambar. Saya yakin, bab ini akan lebih menarik pembaca jika dikemas dalam bentuk narasi, sedangkan dialog absurd tersebut dituliskan beberapa saja untuk contoh.

Dunia Mimin 6 Kali ini MinCob menuliskan contoh-contoh pertanyaan followers yang tidak perlu dijawab demi kebaikan dunia.
@divapress01  : Silakan kirimkan naskah kalian via email ke redaksi_divapress@yahoo.com

@PenulisGalau: Min, kirim naskah via email boleh?

@divapress01  : ....

(hal 200)
Paham, kan, mengapa tidak perlu dijawab? Kalau dijawab hanya akan menambah kerutan di wajah.


Miminlicious bisa dibeli di Bukupedia (langsung klik!)

Menurut saya pelit (alias personal literature) ini didekorasi dengan sampul depan yang semarak dan enak dipandang. Bagian dalamnya juga dihias dengan beberapa halaman berisi gambar kartun. Mungkin akan lebih lucu kalau ditambah komik, seperti di Twiries. Juga, saya yakin akan lebih terasa sebagai pelit jika narasinya diperbanyak, bukan cuma berisi dialog-dialog absurd. Pasalnya, saya sudah telanjur optimis ketika membaca bagian kata pengantar (bagian yang paling banyak narasinya) yang ditulis dengan cara informatif tapi humoris. Memberi pengetahuan baru sembari tetap melucu. Menjumpai bab-bab berikutnya.... saya agak kecewa. Namun, dialog-dialog cukup panjang antara Kak Nita maupun Kak Dion dengan para calon pembeli itu cukup menarik.

MinCob, kamu harus menulis narasi lebih banyak lagi, supaya pembaca lebih mengenalmu! Bukankah pelit bertujuan untuk mengenalkan hal-hal seputar diri sendiri pada para pembaca? (Padahal di bagian blurb ada kisah yang melatari kemunculan MinCob di akun @divapress01. Saya berharap kisah itu dilanjutkan di bagian isi buku, tapi nggak ada L) Setelah membaca Miminlicious, saya merasa belum terlalu mengenal MinCob. *mari kenalan dulu*



[1] Ada sedikit narasi di pembukaan bab.

2 July 2014

[RESENSI "TWIRIES"] Kembar Bukan Berarti Satu Dibagi Dua



Kovernya unyu, kan? Hihihi


Judul Buku                   : Twiries, The Freaky Twins Diaries
Penulis                          : Eva Sri Rahayu & Evi Sri Rezeki
Tebal                             : 304 halaman
Penerbit/cetakan           : de TEENS/Cetakan I, Mei 2014
ISBN                             : 978-602-255-577-3

Hati-hati dengan Si Kembar!


Hati-hati kalau menelepon kami. Jangan-jangan, itu bukan Eva atau Evi yang sebenarnya.” (halaman 28)

Ini bukan pertama kalinya saya membaca personal literature alias pelit (hari gini, belum pernah baca pelit?). Pelit pertama yang saya baca tentunya adalah…. karya Raditya Dika, dan yang kedua Anak Kos Dodol. Hehehe. Tapi, waktu itu saya belum suka nulis resensi, jadi ini adalah pertama kalinya saya menulis resensi buku pelit.

Dari judulnya saja sudah bisa diterawang, kan, kalau pelit ini merupakan diary sepasang kembar, Eva dan Evi. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian:

BAGIAN SATU: SERUPA KITA

Bagian satu mengulas jawaban-jawaban si kembar terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang yang excited setelah mengetahui bahwa mereka berdua kembar. Seringnya, pertanyaan begini yang muncul, “Apa bedanya Eva sama Evi?”

“Kalau dianalogikan, Eva dan Evi itu seperti batu dan permen. Eva permen yang di dalamnya batu, Evi batu yang di dalamnya permen. Evi terlihat keras dan kuat di luar, tapi lembut dan manis di dalamnya. Sedangkan Eva sebaliknya.” (halaman 46)

*Hah, kok malah kayak iklan “renyah di luar, lembut di dalam”.
Di bagian ini, Eva dan Evi menjawab satu per satu pertanyaan yang sering muncul. Pertanyaan ini ada yang dikategorikan silly question, seperti “kalau yang satu ulang tahun, yang satunya lagi ulang tahun juga?” (nah, tahu, kan, kenapa dibilang silly? Hohoho).

Selanjutnya, Eva dan Evi membuat subbab tersendiri untuk “persoalan tukar-menukar”, “persoalan telepati”, dan “enak-nggak enaknya jadi anak kembar”. Untuk persoalan tukar-menukar itu, Eva dan Evi membocorkan cerita teman-teman mereka yang awalnya sering tertukar, yang mana Eva, dan yang mana Evi. Tapi, yang paling seru adalah cerita ketika mereka bertukar sekolah *ups, spoiler*.

Saya jadi pengin punya kembaran (#tsah) gara-gara baca “tujuh alasan kenapa jadi anak kembar itu enak”. Enak banget, kan, sudah memiliki seorang sahabat setia sejak dalam rahim ibunda? Kalau kita yang orang biasa—maksudnya nggak kembar—harus berjuang melalui rangkaian kisah jatuh-bangun untuk bisa menemukan seorang sahabat sejati #weiiiss.

Tapi, tapi.... Tapi, waktu baca bagian “tujuh alasan kenapa jadi anak kembar itu nggak enak”, saya jadi agak ragu pengin punya kembaran. Hahaha (seolah-olah bisa gitu, jadi kembar tiba-tiba). Alasan paling parah kenapa jadi anak kembar itu nggak enak, menurut saya adalah “ketergantungan”. Hahaha, itu parah banget!
Keterlaluan banget, nih, ketergantungannya! Hahaha

BAGIAN DUA: TWIN LOVE

Ditilik dari judulnya, bagian ini tentunya yang paling penuh drama—drama seputar tragedi percintaan si kembar. Kenapa tragedi? Yah, kalian harus baca sendiri! Hehehe. Ketika membaca bagian “cowok paling beruntung segalaksi” itu, saya teringat cerita teman saya. Saat kecil, dia juga punya cowok khayalan, dan ternyata cowok itu memang ada di dunia! Bedanya, kalau di cerita si kembar, cowok khayalan itu beneran ada di dekat mereka, sedangkan cerita teman saya ini.... Cowok khayalannya itu ternyata mirip banget dengan Fedi Nuril! Sampai sekarang, si Fedi ini masih menjadi cowok impiannya. Patut dicontoh, nih, seleranya cowok lokal!

*Tuh, kan, saya jadi ketularan gaya cerita si kembar. Plak! Hehehe*

Meskipun si kembar belum bisa melupakan si cowok impian, pada akhirnya mereka punya pacar beneran. Dan lucunya, Eva mudah sekali terpengaruh provokasi Evi. Jika Evi ngeluh putus sama pacarnya, Eva lantas mutusin pacarnya juga. Hahaha. Kayaknya, perlu dibentuk organisasi mantan pacar si kembar, nih.

BAGIAN TIGA: DARI BELAHAN UNTUK BELAHAN

*Eh, belahan apa, nih? Belahan pantat? Ups!*

Bagian ini berisi surat cinta dari Eva untuk Evi, dan sebaliknya. Terlepas dari segala kekonyolan yang sedari awal diobral si kembar, ternyata mereka berdua bisa jadi mendadak melankolis dan puitis di bagian ini. 

Setelah bagian ketiga berakhir, ada bonus dari si kembar, lho (berubah lagi jadi jayus). Bonus ini meliputi “behind the project”, “semacam penutup”, dan “buy one get one free”. Yang terakhir itu berisi testimoni dari teman-teman dekat si kembar tentang fenomena kembarnya mereka berdua. Saya setuju sekali dengan opini si kembar di bagian “semacam penutup”.

“Setiap individu akan bersinar dengan caranya sendiri.” (halaman 271)

Apalagi bagi anak kembar, tak patut membanding-bandingkan mereka, seolah mereka adalah separuh individu. Bagaimanapun juga, mereka masing-masing adalah seorang individu, yang seberapa pun kadar kemiripannya, pasti punya keunikan tersendiri. So, stop bully the twins! (Eh, kalau Eva dan Evi, yang ada, malah si kembar yang hobi nge-bully orang-orang! Hihihi.)

Kenapa Pelit Ini Saya Rekomendasikan untuk Dibaca

Pelit itu merupakan tulisan yang berdasarkan pengalaman nyata si penulis, jadi bisa disebut buku harian. Nah, agar seru dibaca, pelit ini biasanya diberi bumbu-bumbu komedi, sebut saja karya Raditya Dika, karya Alit, Kancut Keblenger, Anak Kos Dodol...., dan banyak lagi. Kak Eva dan Evi berhasil menuliskan pengalaman mereka menjadi suatu tulisan komedi yang kreatif (saya ketawa paling keras waktu baca bagian ini).
Ini lucu banget!


Kreatif bagaimana? Si kembar tidak melulu menuliskan pengalamannya dalam bentuk narasi, tetapi juga dalam bentuk percakapan, ditambah lagi ada komiknya! Ada juga foto-foto asli sosok mereka berdua.
Hayoo, cantikan mana? (langsung dijewer sama si kembar)
 Mereka juga menuliskan narasi sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan orang-orang kepada mereka. Mereka juga membuat tulisan versi Eva dan versi Evi. Terkadang, di dalam narasi itu, terselip percakapan mereka berdua yang meributkan kebenaran cerita, atau meributkan hal lain, seolah-olah mereka memang sedang bercerita secara langsung pada pembaca. Tema yang diusung penulis pun cukup menarik, yaitu tentang anak kembar. Apalagi, ini bukan kembar sembarangan, melainkan kembar penulis. Ya, keduanya sudah menerbitkan beberapa buku. Tidak sedikit anak kembar di dunia ini, tapi saya rasa, masih sedikit yang menulis pelit macam begini. 
 
Tiba-tiba Eva dan Evi ribut soal kebenaran cerita mereka sendiri. Hahaha.
Tidak semua cerita ditulis menggunakan sudut pandang Eva dan Evi. Ada juga tulisan teman-teman mereka, berupa testimoni (seperti sudah saya sebutkan tadi), sehingga menambah wawasan pembaca tentang bagaimana tanggapan orang-orang dekat si kembar. Si kembar juga menyelipkan opini mereka tentang kehidupan dan fenomena di sekitar mereka. Seperti pendapat mereka soal “cantik itu yang seperti apa, sih?”. Saya juga tidak setuju, lho, kalau yang disebut “cantik” itu adalah “cantik seperti Barbie”. Gaaah, maaf, ya, dunia nyata ini bukan dunia dalam film Barbie yang semua muka dan bentuk tubuhnya sama, paling bedanya cuma warna kulit dan bentuk rambut. Atau, kadang ada satu-dua yang dibikin jelek karena itu tokoh jahat yang nggak penting. Setiap orang cantik dengan caranya sendiri.
 
Sebel banget sama Barbie, nih.
Penulis pun berhasil membuat tulisan yang enak dibaca berkat gaya bahasa yang selentur permen karet dan sekocak stand up comedy. Awalnya, setelah mengetahui kepribadian masing-masing Eva dan Evi, saya kira yang tulisannya lucu alami itu si Evi, eh ternyata... (baca bagian “behind the project”). Penulis pun membagi buku ini menjadi beberapa bagian, yang memudahkan untuk diikuti alur ceritanya. Ditambah lagi dengan layout yang tertata dengan apik. Meskipun buku ini punya konflik di tiap bagian, absennya pengembangan alur yang berkesinambungan dari awal sampai penutup membuat saya kurang puas. Jenis huruf yang terlalu sering berganti-ganti juga bikin saya pusing (eh, ini sih, lebay, hehe). 

Eh, ada juga cerita yang saya rasa agak maksa, di bagian satu. Cerita tentang Evi yang buru-buru keluar dari rahim ibu setelah dikompor-kompori dengan Brad Pitt itu, beneran, nggak, sih? Lalu, kata-kata si Mama, “Melahirkan Eva itu rasanya seperti ngupil,” juga tidak saya tangkap maksudnya. Huhuhu. Menurut saya, pertanyaan orang-orang tentang si kembar itu agak lebay juga. Masalahnya, setiap melihat anak kembar, saya menganggap itu hal yang tidak menghebohkan. Jadi, nggak sampai, deh, saya meributkan hal-hal semacam silly question itu. Hehehe.

Terlepas dari itu semua, saya senang membaca pelit ini. Terima kasih, Kak Eva dan Evi, yang sudah menuliskan pengalaman jatuh-bangun bersama kembaran *XOXO* ^^.

bloggerwidgets