Showing posts with label furqonie akbar. Show all posts
Showing posts with label furqonie akbar. Show all posts

15 April 2017

[SiPiLis #4] Furqonie Akbar: Penulis Kece yang (Ngaku) Mirip Lee Min Ho

Yeaaayy, SiPiLis datang kembali setelah vakum selama... errr, setahun lebih 😳. (Ketahuan banget, masih kimfricung.blogspot.com)
Yuk, kita kenalan dengan Furqonie Akbar alias Furqon, penulis kece yang sudah (atau baru?) ngelahirin tiga buku.

Keterangan:
Yang huruf tebal dan cetak miring pakai tanda bintang *--itu saya.
Yang pakai huruf warna ungu--itu Furqon.

Kenalan dulu, dong, Furqon, biar kami bisa ngebayangin ketampananmu

Hai, nama gue Furqon. Zodiak scorpio, golongan darah O, dan O yang terakhir? Jomblo.
Ketampanan gue itu gak bisa dibayangin dan gak bisa dijangkau imajinasi. Jadi ya silakan searching ada di Google pake keyword “Lee Min Ho”
Makasih.
Sumber: Pinterest
*Ekspresi gue waktu denger lu mirip Lee Min Ho. Btw, gue nggak ngerti Bakuman itu apa, tapi abis searching di Google nemu itu.
Ceritanya gimana, sih, bisa nyemplung ke dunia kepenulisan? Boleh banget nih, kalau mau cerita suka-duka seorang Furqon sebagai penulis.

Jujur ya, ampe sekarang gue bingung kenapa bisa terjun ke dunia menulis. Asli. Ya walaupun emang dari kecil udah demen ngayal sih.
Pertama kali serius nulis itu waktu patah hati hebat banget. Karena bingung mau curhat ke mana (mungkin gak kayak keliatannya ya. Tapi gue ini introver), gue akhirnya nulis-nulis di catetan Facebook.

*Bentar deh, lu introver? SERIUS? Jadi lu selama ini sok-sokan rame gitu ya, orangnya. Oke.

Beberapa waktu kemudian, gue baca bukunya Indra Widjaya yang judulnya “Idol Gagal”. Waktu baca buku itu, gue ngebatin “Lho? Kalo gini doang mah gue bisa!” Setelah itu gue mulai rutin nulis. Tapi, yang bikin bergerak buat bikin buku itu setelah baca Skripshit-nya Mas Alit Susanto. Buku itu benar-benar memotivasi. Makasih ya, Mas Indra & Mas Alit. Love yah~

Suka dukanya ya? Banyak. Sukanya itu nama kita jadi dikenal. Jelas ya ini. Lainnya, ada kebahagiaan tersendiri ketika karya kita dinikmati orang lain. Dukanya, penulis itu pekerjaan yang kudu ngandelin sabar. Ngerampungin naskah kudu sabar. Nunggu naskah terbit harus sabar. Nunggu royalti harus super sabar. Serba sabar pokoknya. Jadi, wanita, kalian gak tertarik apa sama cowok penyabar ini? *dihajar*

*Tuh, para pembaca cewek, kalian nggak tertarik sama Lee Min Ho KW 2 ini?

Apa filosofi menulismu?

Waktu baca pertanyaan ini gue langsung mikir keras. Saking kerasnya ampe ngeden.
Bahahaha

*Yuk, ngeden bareng.

Selama ini gue nulis buat diri sendiri dan sukur-sukur dinikmati orang banyak. Jadi, mungkin filosofi gue itu,
Nulis apa pun, yang penting gue hepi.
Bukumu yang udah terbit apa aja, sih? (Lumayan, lho, kesempatan buat pamer gratis wkwk)

Oh, baru ada tiga. *sisir rambut* *sisirnya nyangkut*
Pertama itu Cinta Acakadut. Udah bada baca? Oh, belom. *nangis*
Cinta Acakadut
*Tenang, Fur, gue udah baca, kok. Yang waktu itu gue kasih bintang 2 di Goodreads itu, kan?

Kedua, Move On Garis Keras (BUKU YANG KITA TULIS BERLIMA ITU LHO, FRI. YANG COVERNYA KUNING, BAGUS. YANG KAMU NULIS PAKE DATA-DATA STATISTIK GITU. ITU NULIS BUKU APA SKRIPSI, BUK?)

*Kampreeeet. Maaf, saya nggak kenal Anda.
Yang baru aja terbit, itu Three Mas Getir. MASIH ADA DI TOKO BUKU LHO! BORONG~

*Ini gue belum baca, Fur. Nggak mau ngasih gratis ke gue, gitu?

Pasti ada kisah menarik saat proses penulisannya... Ceritain, dong.

Bakal panjang nih. Gapapa? Wkwk

*Nggak apa-apa, laman blog gue punya banyak space untuk diisi sama curhatan lu.

Hmm..
Buku pertama, Cinta Acakadut itu gue tulis waktu ilmu gue masih cetek banget. Bukan berarti sekarang udah bagus. Cuma, itu tulisan gue yang paling murni. Sampe sekarang, gue ogah baca ulang tulisan gue di buku itu saking malunya. Serius. Ya ampun, Polos banget deh tulisan gue di sana. Proses bikin buku ini yang paling seru sih menurut gue. karena mungkin ini buku pertama kali ya. Semangat sama motivasinya bener-bener beda. Sampe sekarang gue belom nemu lagi semangat nulis kayak gue nulis buku pertama.

Buku MOGK lain lagi tantangannya. Ada 5 penulis yang disuruh ngomongin move on. Temanya hanya move on. Bayangin. Padahal, yang namanya move on ya begitu-begitu aja kan? Tapi setelah diskusi panjang, baku hantam, mandi kembang dan puasa 7 hari 7 malam, akhirnya kami berhasil membuat konsep dan lahirlah buku tersebut.
Nb: MAKASIH YA FRIDA, BERKAT TULISAN KAMU, BUKU INI BISA MEMENUHI SYARAT MINIMAL HALAMAN. WALAU AKHIRNYA KEBANYAKAN DAN TULISAN KITA BANYAK YANG DIPANGKAS. *dibakar editor*

*Sama-sama, Fur 😎
Buku ketiga adalah sebuah pengalaman baru buat gue. Karena buku ini terdiri dari 50% komik, 40% tulisan, dan 10% keringat dan air mata. Di buku ini, gue ngonsep tokoh, bikin skenario komik, sama bikin tulisan-tulisan pendukung komik. Sementara komiknya digambar sama Julian. Mungkin yang punya Instagram lebih ngenal dia lewat akun @sengklekman. Proses pembuatan buku ini sangat berdarah-darah. Julian sering bolak balik revisi gambarnya, sementara gue hampir koma karena stres dikejar deadline tulisan dan script. Tapi, karena emang kami pengin banget komik ini hasilnya maksimal, kami menjalani itu semua dengan senang hati. Yang lebih keren, gue berasa tokoh di manga Bakuman. Keren banget asli.

*Wah, gue jadi penasaran pengin baca. Teman-teman pembaca sudah pada baca ini belum?
Jadi, sebenarnya inspirasimu itu datangnya dari mana?

Dari kehidupan sehari-hari. Gue sering banget dapet pengalaman absurd. Mungkin  gue emang ditakdirkan buat menceritakan pengalaman-pengalaman itu buat menghibur orang. Hehe.

*Mulia banget hidup lu, Fur.

Saat ini lagi sibuk nulis atau ngegambar apa atau ngecengin berapa cewek? #eh

Kayaknya sekarang sibuk kuliah deh. Sama main game sih. Wkwk
Nulis paling buat hehorean aja. Tapi tahun ini harus selesai 1 naskah. Tunggu ya!

Ehm. Ini penting. Gue udah pensiun dari dunia sepik-menyepik cewek. Ya paling sekarang cuma hobi bikin drama aja sih sama Tiwi atau Chinggam. Bahaha #PodoWae

Ada pesan, nggak, buat teman-teman penulis dan pembaca (terutama pembaca bukumu)?

Buat temen-temen penulis, tulislah apa yang bikin kamu bahagia. Wajar ketika kita melihat tulisan orang lain lebih bagus atau lebih ‘wah’ dari tulisan kita dan kita ingin menjadi seperti mereka. Tapi, ketika kamu meninggalkan jati diri, apa hal itu bikin bahagia? Gak usah malu sama jati diri kita. 

*Setuju banget. Tumben lu waras.

Anak Punk bisa menikmati aliran musik lain, tapi Punk gak akan bisa jadi Blues atau Jazz. Karena yang namanya jiwa itu gak bisa diubah, meskipun fisiknya kita ubah. Ya, intinya gitu deh. Gue ngomong apaan sih?

Buat temen-temen pembaca, apa ya… ehm, maaf karena belum bisa maksimal dalam menulis dan maa karena belum ada tanda-tanda karya berikutnya. Gue tau menunggu itu melelahkan, tapi, tunggu karya gue selanjutnya!

*Siaaap!

Oya, rencana mau lulus kapan? Wkwk

Apa? Ini di mana? Aku siapa? Di mana jodoh gue? Di manaaaaaa?

*Nah, barangkali para pembaca penasaran seperti apa, sih, ketampanan Furqon yang kayak Lee Min Ho ini.
Bahkan balita pun disepik sama dia.
Sumber: qonrobovski
Sila kenalan sama Furqon di Instagram atau Twitter atau Facebook atau ketiganya. Orangnya asik banget dan emang rada gila. Semoga buku selanjutnya segera jadi kenyataan, ya Fur *ini doa sekaligus buat diri sendiri*

Baca juga [SiPiLis #3] Ziggy: Suka Bikin Banyak Karakter

Wah, udah sampai di hari terakhir #BBIHUT6 marathon 😢.
Setelah ini, saya akan bagi-bagi buku gratis dalam rangkaian giveaway hop #BBIHUT6. Tunggu, ya!

12 April 2016

MOVE ON GARIS KERAS | Blog Tour (Review + Giveaway)





Judul: Move On Garis Keras
Penulis: Furqonie Akbar, Utami Pratiwi, Ghina Oksa, Kimfricung, Reza Nufa
Editor: Ainini
Penerbit: Ping
Tebal: 180 halaman
Harga: Rp 38.000,00
ISBN: 978-602-391-107-3

REVIEW

Menurut Urban Dictionary, frasa “move on” berarti “jump out of the troublesome stuffs and go on with your life; stop to go on making a happy living from all the pains that you had. Kalau begitu, istilah “move on” seharusnya bisa dipakai dalam konteks universal, misalnya move on dari pekerjaan lama yang menyiksa (tugas banyak, atasan ngasih deadline seenak jidat, gaji tak sebanding dengan kerja keras) dan mencari pekerjaan baru yang lebih menyenangkan. Atau move on dari ngefans Super Junior dan beralih ke Infinite yang lebih muda dan dance-nya lebih sharp (dibakar fans setia Super Junior). Ups, tapi move on harus ada elemen “bangkit dari situasi penuh masalah atau rasa sakit”. Apakah ngefans Super Junior menimbulkan masalah dan rasa sakit, sehingga saya merasa ingin move on? Skip, deh, makin lama makin nggak nyambung :)].

Di masa yang penuh dengan kaum muda kekinian ini, di mulut mereka, istilah “move on” seolah melekat dengan konteks percintaan, yaitu bangkit kembali setelah putus dengan (mantan) kekasih. Betapa kuatnya kata yang berkaitan dengan “mantan” ini, sehingga nyaris segala hal yang mengangkat tema tentang mantan akan laris manis. Lagu, bejibun tips, novel, buku. Ketika mengetik kata “mantan” di kolom pencarian Google, simsalabim! Langsung muncul lebih dari 7 juta hasil, dan semua yang menempati halaman pertama hasil pencarian bicara tentang mantan pacar. Nah, ini juga fenomena penyempitan makna (apa ya, istilah kerennya?), di mana kata “mantan” seolah selalu dimaksudkan untuk menyebut “mantan pacar”.

Setelah putus dengan kekasih, kita seolah berada di jurang kehidupan. Butuh usaha keras untuk memanjat tebingnya dan sampai  di atas kembali. Nah, ketika kita sudah berhasil sampai di atas dan tanpa rasa takut menjenguk ke kedalaman jurang, itu berarti kita sudah berhasil mencapai tahap pertama move on. Move on itu gampang-gampang susah. Bisa lebih banyak gampangnya, bisa juga lebih banyak susahnya. Tergantung niatmu, strategimu, dan jenis mantan yang sedang kauhadapi. Oleh karena itu, move on adalah hal yang sangat spesifik. Melalui buku ini, 3 cewek dan 2 cowok menyatukan kekuatan masing-masing sambil tetap mempertahankan keunikan dalam menghadapi serangan mantan. 

Cara menghadapi serangan berbagai jenis mantan dikupas satu per satu. Ada 24 jenis mantan yang coba dianalisis secara mendalam sambil guyon, tak jarang melibatkan serentetan sedu curhatan penulisnya. Beberapa di antaranya adalah, "mantan yang jadian dengan sahabat", "mantan terindah", "mantan yang masih perhatian", "mantan yang brondong", "mantan beda agama", dan "mantan tukang santet". Selain itu, masing-masing penulis menambahkan cerita pengalaman pribadi (bisa faktual, dibikin-bikin, atau fakta yang dibumbuin) seputar move on dari mantan.

Kimfricung meleburkan curhatannya di bahasan tiap jenis mantan, sedangkan empat penulis yang lain mengkhususkan satu subbab untuk cerita pengalaman move on mereka. Kimfricung juga melakukan olah statistik seputar fenomena mantan dan move on. Ghina Oksa menyertakan transkrip wawancara dengan para pelaku move on, begitu juga dengan Furqonie Akbar dan Utami Pratiwi. Dalam wawancaranya, Furqon membikin terobosan baru *halah* dengan mewawancarai narasumber terkait move on dalam konteks yang lebih universal, yaitu move on dari keterpurukan hidup (bukan dari mantan doang). Dalam wawancara itu, kita bisa membaca betapa keras perjuangan Sayfullan (salah satu narasumber Furqon, seorang penulis yang produktif jebolan Kampus Fiksi #1) untuk bangkit dari keterpurukan akibat penyakit yang dideritanya.

Dari tulisan mereka, pembaca bisa menyerap ciri khas gaya menulis masing-masing. Reza Nufa, dengan sudut pandang penulisan "saya", selalu memberikan perenungan yang filosofis, dan terasa emosional (seperti ia bilang sendiri) dalam tulisan tentang "mantan beda agama". Btw, tulisan Reza quotable banget.
"Negeri ini masih terlalu muda untuk memahami cinta yang luhur. Selain susah dijalani, kisah cinta beda agama pun lebih banyak berakhir sebagai kenangan." (Reza)
Sementara itu, dari tulisan Utami Pratiwi alias Tiwi, pembaca diajak menyelami fenomena move on dari sudut pandang perempuan dewasa yang pernah muda *maksudnya apa*. Gaya menulis blio dengan sudut pandang "aku", mendayu dan terkesan serius (nggak kayak Furqon yang kesannya slenge'an melulu).
"Tidak seperti dulu, aku yang sekarang sudah sangat siap menerima undangan pernikahannya." (Tiwi)
Nah, dengan sudut pandang "gue"-nya, Furqon berhasil membikin buku ini terkesan semi-personal literature yang mengumbar pelajaran hidup secara konyol dan narsis abis. Khas Furqon, deh, kayak di buku solonya yang terbit tahun 2015, Cinta Acakadut. Dalam pembahasan tiap jenis mantan, Furqon menuliskan tips dengan singkat, padat, dan jelas.
"Di saat kita terpuruk, pasti ada mantan yang sedang menertawakan kita." (Furqon)
Lain lagi dengan Oksa, yang menggunakan sudut pandang "aku". Tulisannya kental dengan gaya anak SMA (ya, karena emang dia masih anak SMA yang unyu). Tips-tips tentang move on-nya pun banyak yang ditulis dalam konteks kehidupan masa sekolah (SMA), contohnya bahasan tentang "mantan satu kelas".
"Untuk apa kau semakin menguatkan genggamanmu jika benda yang kaugenggam itu melukai tanganmu? Bukankah lebih baik untuk melepaskannya, dan mengobati tanganmu yang terluka?" (Oksa)
Dalam tulisannya, Kimfricung, berlagak ilmiah dengan menggunakan sudut pandang "saya", sambil berusaha tetap ngelawak (meski kadang garing). Ia banyak menebarkan ilustrasi atau perumpamaan untuk memudahkan penjelasan tentang mantan dan move on. Kadang, perumpamaannya bisa menjijikkan, seperti "umbel yang bergelayut manja". Dari olah data statistiknya, dia cukup berhasil membuktikan kebenaran hipotesis berikut:
"Seorang mantan pacar yang menjadi stalker, dulunya adalah pacar yang posesif. Beruntunglah kamu kalau kalian sudah putus!" (Kimfricung)
Ada beberapa tips yang sama-sama diajukan oleh beberapa penulis, yang berarti mereka memiliki pemikiran yang serupa terkait hal itu. Namun, di lain pembahasan, tips yang mereka ajukan bisa sangat kontradiktif. Misalnya, tentang membuang atau mengembalikan barang-barang pemberian mantan. Oksa dan Tiwi menganjurkan demikian, tapi Reza dan Kimfricung menganjurkan sebaliknya, yaitu untuk tetap menyimpan barang-barang sarat kenangan. Kontradiksi ini, alih-alih menimbulkan kesan mencla-mencle buku ini, ia malah menegaskan bahwa cara-cara move on itu sangat spesifik dan custom-built. Perbedaan pendapat para penulis tersebut membebaskan pembaca untuk memilih sendiri mana yang sesuai dengannya, atau malah pesimis akan seluruh pendapat para penulis dalam buku ini. Terserah, karena tujuan buku ini ditulis bukan untuk menjadi semacam "buku pegangan wajib" yang harus dipatuhi sekaligus menggurui, melainkan untuk berbagi pengalaman.

Nah, siapkah kau untuk move on?

GIVEAWAY :D

Terima kasih karena kau telah (berpura-pura) bersabar membaca ulasan saya yang tidak pendek di atas (padahal saya tahu kalau kau sudah tidak sabar membaca bagian "giveaway"-nya). Saya juga minta maaf karena terlambat meng-upload post ini, lantaran sesuatu yang menyebalkan terjadi pada kabel output charger laptop saya (padahal laptop saya nggak bisa nyala kalau nggak dicolok ke sumber listrik). Sekarang, saya akan membagikan syarat dan peraturan giveaway buku Move On Garis Keras ini. Dari seluruh peserta yang memenuhi seluruh syarat dan peraturan, akan dipilih satu  yang memenangkan satu (1) eksemplar buku Move On Garis Keras gratis.

Syarat & Peraturan

  1. Domisili di Indonesia.
  2. Follow blog ini, bisa via Google Friend Connect atau Bloglovin'.
  3. Follow akun Twitter para penulisnya: @kimfricung, @qonrobovski, @haitiwi, @ochakrn, dan @rezanufa. Juga Twitter penerbitnya, @ping_fiction.
  4. Bagikan tautan giveaway ini di medsos. Kalau di Twitter, pakai hestek #MOGK, ya. Boleh mensyen penulis dan atau penerbitnya, boleh juga nggak.
  5. Tulis nama, akun Twitter, dan alamat e-mail-mu di kolom komentar, diikuti jawaban atas pertanyaan ini: "Kalau kamu diberi kesempatan untuk memiliki satu kekuatan super agar bisa move on dari mantan pacar, kekuatan apakah yang kamu pilih?"
  6. Giveaway ini berlangsung sampai tanggal 18 April 2016, jadi jangan ketinggalan, ya! Pemenang akan diumumkan pada tanggal 20 April 2016 (doakan semoga tidak ada halangan berarti sehingga saya bisa post tepat waktu, wkwk).
Selamat berpartisipasi, dan selamat move on! :D

bloggerwidgets