Showing posts with label blog tour. Show all posts
Showing posts with label blog tour. Show all posts

16 May 2016

[BLOG TOUR] Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta | Review, Giveaway


 Judul: Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta
Penulis: Suarcani
Penerbit: Jendela O’ Publishing House
Penyunting Naskah: Yenita Anggraini
Penyelaras Aksara: Deasy Serviana
Perancang Sampul: eSLC Project
Penata Letak: Refa Annisa
Cetakan: Pertama
Terbitan: Maret 2016
Tebal: vii + 226 Halaman
Rating: 3/5

Setelah lima belas tahun menyatu dengan tembok penjara yang menjadi saksi betapa larat hidupnya, Ravit mengecap aroma kebebasan. Namun, ternyata menjadi "bebas" sama sekali tak membebaskannya dari ketakutan. Malah, menurutnya lebih baik membusuk di dalam kotak sel penjara daripada ditusuk-tusuk oleh setiap tatapan penuh selidik orang-orang yang menjumpainya. Siapa yang mau menerimanya? Papa telah lama meninggal. Mama menyusul beberapa waktu setelah Ravit dipenjara. Orang-orang lain dari masa lalunya? Ah, mereka pasti akan menjauhinya. Hanya Om Rus, adik Mama, yang adalah seorang pengacara yang mau menerimanya dengan tangan terbuka.  Selama di penjara setelah Mama meninggal, Om Rus jugalah satu-satunya orang yang sering mengunjunginya dan memperjuangkan kasusnya. Om Rus mengajak Ravit tinggal di rumahnya setelah ia bebas dari penjara. Namun hidup di rumah itu tak lebih baik daripada di penjara. Tatapan dingin stri Om Rus dan kedua anak perempuannya selalu membuatnya terkucilkan. Depok, kota kelahirannya telah menjadi kota yang paling ingin ia tinggalkan.

Ravit memutuskan untuk menyewa kamar kos saja. Tapi, sama saja. Di kos yang baru ini dia hanya berakhir mengurung diri. Ia merasa orang-orang yang ia temui selalu mengingatkan akan kenangan mengerikan dari masa lalunya, yang membuatnya jadi pembunuh. Om Rus yang mengkhawatirkannya menawarkan paket liburan gratis ke Bali. Awalnya Ravit ragu, tapi melihat kondisinya yang mengenaskan di Depok, ia menyambut tawaran itu.
Di Bali, pulau eksotis tempat tradisionalitas dan modernitas berpadu itu, Ravit bertemu dengan Uci, si pemandu wisata. Sebuah kecelakaan yang menimpa Ravit membuat jadwal turnya kacau sehingga Uci menawarkan tur spesial untuknya. Selama beberapa hari Uci mengajak Ravit ke tempat-tempat yang kental dengan nuansa spiritual. Melakukan melukat--pembersihan diri, lalu mengalami kerauhan--kerasukan--di air terjun di daerah Sebatu, ,  Bersama Uci, jiwa Ravit yang tersesat seperti kompas tanpa arah, mulai menemukan kembali mata kompasnya. Namun bagaimana jika Uci, sang pemandu jiwanya itu tiba-tiba menghilang setelah Ravit (lagi-lagi) mengalami kecelakaan?
***
Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta adalah pemenang lomba menuis novel "way back home" yang diadakan oleh JOPH. Sesuai dengan tema yang diusung oleh lomba tersebut, novel ini mengisahkan perjalanan untuk pencarian jati diri yang berbalut spiritualitas dan perubahan kondisi psikologi tokoh utamanya. Novel ini mengingatkan saya akan Titik Balik, yang bertemakan serupa. Sampai di adegan ketika Uci tiba-tiba menghilang, saya menanti dengan harap-harap cemas. Jangan-jangan Uci raih entah ke mana dan tak akan kembali, seperti tokoh Avatar di novel Titik Balik. Atau seperti tokoh Sumire di novel Sputnik Sweetheart (tapi akhirnya dia kembali meski ke mana ia pergi tetaplah sebuah misteri).

Dari tokoh Uci, Ravit dan saya sendiri belajar spiritualitas modern. Tentang konsep energi dan reinkarnasi.

Ada dua alur utama dalam novel ini. Pertama, alur progresif yang mengisahkan perjalanan Ravit mencari mata kompasnya. Kedua, alur flashback yang terselip dalam memori Ravit tiap kali ia mengalami sesuatu di masa kini, yang mengingatkan akan masa lalunya. Segala sesuatunya baik-baik saja, bahkan Suarcani menghidangkan kejutan menarik terkait Dara, sekaligus mengungkapkan bahwa tidak semua yang Ravit alami nyata. Beberapa ternyata hanya terjadi di dalam pikiran traumatisnya. Ada kejutan kecil lain, yakni pengungkapan mengapa di awal pertemuannya dengan Ravit, Uci menyapa seolah telah mengenalnya sebelumnya.

Kejutan lain menjelang ending, yang terkait dengan masa lalu Uci, sayangnya malah terasa "maksa". Mungkin karena dari awal hingga akhir Ravit yang terus berceloteh dengan sudut pandang "orang pertama"-nya, sehingga pembaca tidak tahu bagaimana sudut pandang tokoh lain, terutama Uci. Maka, begitu tiba-tiba penulis mengungkapkan bahwa Uci juga punya masa lalu pahit, saya mengernyitkan dahi. Lho, kok?! Sebelumnya sama sekali tak ada petunjuk mengarah ke situ.

Secara keseluruhan, alur novel ini cukup seru diikuti berkat penggunaan konsep perjalanan yang kadang menyimpan kejutan dan pastinya mengubah sedikit demi sedikit paradigma Ravit dan secara bertahap menyembuhkan jiwanya.

Garis besar cerita hanya terdiri dari satu jalur, yang berpusat pada tokoh Ravit (tidak seperti novel Eka yang O dan Cantik Itu Luka, yang terdiri dari banyak jalur dan banyak tokoh). Oleh karena itu, tokoh Ravitlah yang terbentuk paling sempurna di novel ini, apalagi sudut pandangnya juga "aku" Ravit. Sebagai korban pelecehan seksual di masa kecil, sangat masuk akal bila Ravit tumbuh menjadi sosok yang muram dan pendiam. Menurut saya, cara berpikir Ravit kurang "lakik".

Dari Depok, dengan cepat setting berpindah ke Bali. Deskripsi setting berhasil membuatnya bukan sekadar tempelan, mungkin juga karena penulis menggunakan setting tempat-tempat yang tidak terlalu mainstream (misalnya, objek-objek wisata seklise Kuta). Alih-alih, pembaca diajak berwisata spiritual.

Sayang, cukup banyak typo bertebaran, yang bisa dimaklumi lantaran ini adalah novel pertama terbitan JOPH. Mungkin para editornya harus bekerja lebih keras. Selain itu, ada yang kurang menyedapkan mata dari layout-nya, yakni margin dan spasi yang menurut mata saya terlalu mepet. Pun banyak kalimat yang kurang bisa saya pahami maksudnya. Contohnya, "Lagipula ini pengalaman pertamaku makanya ada istilah newbie dan expert." (hlm. 183). Tanda bacanya kurang juga (hayo, coba tebak apa tanda bacanya). Coba kalau kalimatnya seperti ini, "Ini pengalaman pertamaku, makanya aku menamai diri sendiri "newbie". Pelajaran yang saya dapat dari novel ini bisa diwakili oleh kata-kata Uci berikut.
"Masa lalu tak perlu kita bawa sampai mati, Ravit." (hlm. 180).

 GIVEAWAY

Inilah saat yang ditunggu-tunggu, giveaway time! Ini adalah kesempatan terakhir bagi kalian unyuk berkesempatan mendapatkan satu eksemplar novel SMPKB gratis dalam rangkaian blog tour. Simak caranya berikut ini.

SYARAT DAN KETENTUAN 

  1. Domisili Indonesia (biar ongkirnya terjangkau, euy!).
  2. Follow blog ini via GFC atau Bloglovin.
  3. Follow akun Twitter @kimfricung, @alhzeta, @jophouse.
  4. Share link blog tour ini di medsosmu. Kalau Twitter, jangan lupa pakai hestek #SMPKB ya.
  5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar. "Masa lalu sebaiknya dilupakan, diingat-ingat, atau diapakan? Berikan alasanmu."
  6. Giveaway berlangsung pada 16-21 Mei. Akan dipilih satu pemenang untuk diumumkan pada tanggal 28 Mei di twitter JOPH.
Selamat berfilosofi! Semoga beruntung!


 

22 April 2016

MOVE ON GARIS KERAS | Blog Tour (Winner Announcement)


Sekali lagi, saya terbukti kurang bisa berkomitmen. Tanggal 12 April yang lalu, saya menulis bahwa pengumuman pemenang giveaway Move On Garis Keras akan saya umumkan pada tanggal 20 April (jika tidak ada halangan). Namun, baru saya umumkan tanggal 22 April, karena tanggal 20-nya saya sama sekali tidak laptopan dan tabletan *halah, bahasanya*. Sementara itu, tanggal 21-nya, saya sibuk pesta ulang tahun *tapi bo'ong*. Intinya, saya sedang tidak terkoneksi dengan internet beberapa hari belakangan.

Ada 17 partisipan yang mengikuti giveaway kali ini, dan seperti biasa, saya harus memilih salah satu dari mereka sebagai pemenang. Jujur, setiap mengadakan giveaway, hal terberat bukanlah menyediakan hadiah bukunya *songong*, melainkan memilih pemenangnya. Mana bisalah saya memilih hanya satu dari kalian semua :((

Meski begitu, saya tetap harus berkomitmen kali ini. Oleh karena itu, saya telah memilih salah satu jawaban terbaik untuk jadi pemenangnya.

Kitty
@womomfey
"Kalau kamu diberi kesempatan untuk memiliki satu kekuatan super agar bisa move on dari mantan pacar, kekuatan apakah yang kamu pilih?"
Hahaha. Ini pertanyaannya menarik banget! Sama menariknya dengan buku "Move On Garis Keras" dalam review ini ^o^
Hmmm... kalau aku sih kepengen punya kekuatan super "Self Healing in a Blink" supaya bisa membantuku move on dari si doi. Kenapa? Ya iyalah! Kan yang bikin kita gagal atau susah move on itu karena kita masih saja terluka atau teringat sama doi. Nah, dengan kekuatan "Self Healing in a Blink" ini bakal ngebantu aku untuk segera pulih dari keterikatan dengan si doi hanya dalam sekejap mata saja. Hohoho. Asyik banget dong?!
Jadinya gak perlu lah buang-buang energi dan waktu untuk nangisin serta menyesali ketiadaan si doi dalam hidup kita. Just with a blink, we will be totally born as a new person! (Haish! Apaan sih bahasanya nih!^^).
Oh iya, kepengennya sih aku juga bisa meminjamkan kekuatan superku ini ke orang lain yang membutuhkan. Kesian kan... daripada cape berkubang dalam ketidak-move on-an kita, mendingan kita isi waktu deh sama hal-hal lain yang tentunya lebih bermanfaat. Ya kan?
Selamat, Kitty! Sila, dalam waktu 2x24 jam kirimkan data diri ke perkarasegalanya@gmail.com berisi:
  1. Nama lengkap
  2. Alamat kirim
  3. Nomor kontak yang bisa dihubungi.
Untuk para partisipan yang lain, jangan menyerah dulu, ya! Rangkaian blog tour #MOGK masih berlangsung sampai tanggal 9 Mei!
26 - 2 Mei | krnoks.blogspot.com
3 - 9 Mei | rezanufa.wordpress.com 

12 April 2016

MOVE ON GARIS KERAS | Blog Tour (Review + Giveaway)





Judul: Move On Garis Keras
Penulis: Furqonie Akbar, Utami Pratiwi, Ghina Oksa, Kimfricung, Reza Nufa
Editor: Ainini
Penerbit: Ping
Tebal: 180 halaman
Harga: Rp 38.000,00
ISBN: 978-602-391-107-3

REVIEW

Menurut Urban Dictionary, frasa “move on” berarti “jump out of the troublesome stuffs and go on with your life; stop to go on making a happy living from all the pains that you had. Kalau begitu, istilah “move on” seharusnya bisa dipakai dalam konteks universal, misalnya move on dari pekerjaan lama yang menyiksa (tugas banyak, atasan ngasih deadline seenak jidat, gaji tak sebanding dengan kerja keras) dan mencari pekerjaan baru yang lebih menyenangkan. Atau move on dari ngefans Super Junior dan beralih ke Infinite yang lebih muda dan dance-nya lebih sharp (dibakar fans setia Super Junior). Ups, tapi move on harus ada elemen “bangkit dari situasi penuh masalah atau rasa sakit”. Apakah ngefans Super Junior menimbulkan masalah dan rasa sakit, sehingga saya merasa ingin move on? Skip, deh, makin lama makin nggak nyambung :)].

Di masa yang penuh dengan kaum muda kekinian ini, di mulut mereka, istilah “move on” seolah melekat dengan konteks percintaan, yaitu bangkit kembali setelah putus dengan (mantan) kekasih. Betapa kuatnya kata yang berkaitan dengan “mantan” ini, sehingga nyaris segala hal yang mengangkat tema tentang mantan akan laris manis. Lagu, bejibun tips, novel, buku. Ketika mengetik kata “mantan” di kolom pencarian Google, simsalabim! Langsung muncul lebih dari 7 juta hasil, dan semua yang menempati halaman pertama hasil pencarian bicara tentang mantan pacar. Nah, ini juga fenomena penyempitan makna (apa ya, istilah kerennya?), di mana kata “mantan” seolah selalu dimaksudkan untuk menyebut “mantan pacar”.

Setelah putus dengan kekasih, kita seolah berada di jurang kehidupan. Butuh usaha keras untuk memanjat tebingnya dan sampai  di atas kembali. Nah, ketika kita sudah berhasil sampai di atas dan tanpa rasa takut menjenguk ke kedalaman jurang, itu berarti kita sudah berhasil mencapai tahap pertama move on. Move on itu gampang-gampang susah. Bisa lebih banyak gampangnya, bisa juga lebih banyak susahnya. Tergantung niatmu, strategimu, dan jenis mantan yang sedang kauhadapi. Oleh karena itu, move on adalah hal yang sangat spesifik. Melalui buku ini, 3 cewek dan 2 cowok menyatukan kekuatan masing-masing sambil tetap mempertahankan keunikan dalam menghadapi serangan mantan. 

Cara menghadapi serangan berbagai jenis mantan dikupas satu per satu. Ada 24 jenis mantan yang coba dianalisis secara mendalam sambil guyon, tak jarang melibatkan serentetan sedu curhatan penulisnya. Beberapa di antaranya adalah, "mantan yang jadian dengan sahabat", "mantan terindah", "mantan yang masih perhatian", "mantan yang brondong", "mantan beda agama", dan "mantan tukang santet". Selain itu, masing-masing penulis menambahkan cerita pengalaman pribadi (bisa faktual, dibikin-bikin, atau fakta yang dibumbuin) seputar move on dari mantan.

Kimfricung meleburkan curhatannya di bahasan tiap jenis mantan, sedangkan empat penulis yang lain mengkhususkan satu subbab untuk cerita pengalaman move on mereka. Kimfricung juga melakukan olah statistik seputar fenomena mantan dan move on. Ghina Oksa menyertakan transkrip wawancara dengan para pelaku move on, begitu juga dengan Furqonie Akbar dan Utami Pratiwi. Dalam wawancaranya, Furqon membikin terobosan baru *halah* dengan mewawancarai narasumber terkait move on dalam konteks yang lebih universal, yaitu move on dari keterpurukan hidup (bukan dari mantan doang). Dalam wawancara itu, kita bisa membaca betapa keras perjuangan Sayfullan (salah satu narasumber Furqon, seorang penulis yang produktif jebolan Kampus Fiksi #1) untuk bangkit dari keterpurukan akibat penyakit yang dideritanya.

Dari tulisan mereka, pembaca bisa menyerap ciri khas gaya menulis masing-masing. Reza Nufa, dengan sudut pandang penulisan "saya", selalu memberikan perenungan yang filosofis, dan terasa emosional (seperti ia bilang sendiri) dalam tulisan tentang "mantan beda agama". Btw, tulisan Reza quotable banget.
"Negeri ini masih terlalu muda untuk memahami cinta yang luhur. Selain susah dijalani, kisah cinta beda agama pun lebih banyak berakhir sebagai kenangan." (Reza)
Sementara itu, dari tulisan Utami Pratiwi alias Tiwi, pembaca diajak menyelami fenomena move on dari sudut pandang perempuan dewasa yang pernah muda *maksudnya apa*. Gaya menulis blio dengan sudut pandang "aku", mendayu dan terkesan serius (nggak kayak Furqon yang kesannya slenge'an melulu).
"Tidak seperti dulu, aku yang sekarang sudah sangat siap menerima undangan pernikahannya." (Tiwi)
Nah, dengan sudut pandang "gue"-nya, Furqon berhasil membikin buku ini terkesan semi-personal literature yang mengumbar pelajaran hidup secara konyol dan narsis abis. Khas Furqon, deh, kayak di buku solonya yang terbit tahun 2015, Cinta Acakadut. Dalam pembahasan tiap jenis mantan, Furqon menuliskan tips dengan singkat, padat, dan jelas.
"Di saat kita terpuruk, pasti ada mantan yang sedang menertawakan kita." (Furqon)
Lain lagi dengan Oksa, yang menggunakan sudut pandang "aku". Tulisannya kental dengan gaya anak SMA (ya, karena emang dia masih anak SMA yang unyu). Tips-tips tentang move on-nya pun banyak yang ditulis dalam konteks kehidupan masa sekolah (SMA), contohnya bahasan tentang "mantan satu kelas".
"Untuk apa kau semakin menguatkan genggamanmu jika benda yang kaugenggam itu melukai tanganmu? Bukankah lebih baik untuk melepaskannya, dan mengobati tanganmu yang terluka?" (Oksa)
Dalam tulisannya, Kimfricung, berlagak ilmiah dengan menggunakan sudut pandang "saya", sambil berusaha tetap ngelawak (meski kadang garing). Ia banyak menebarkan ilustrasi atau perumpamaan untuk memudahkan penjelasan tentang mantan dan move on. Kadang, perumpamaannya bisa menjijikkan, seperti "umbel yang bergelayut manja". Dari olah data statistiknya, dia cukup berhasil membuktikan kebenaran hipotesis berikut:
"Seorang mantan pacar yang menjadi stalker, dulunya adalah pacar yang posesif. Beruntunglah kamu kalau kalian sudah putus!" (Kimfricung)
Ada beberapa tips yang sama-sama diajukan oleh beberapa penulis, yang berarti mereka memiliki pemikiran yang serupa terkait hal itu. Namun, di lain pembahasan, tips yang mereka ajukan bisa sangat kontradiktif. Misalnya, tentang membuang atau mengembalikan barang-barang pemberian mantan. Oksa dan Tiwi menganjurkan demikian, tapi Reza dan Kimfricung menganjurkan sebaliknya, yaitu untuk tetap menyimpan barang-barang sarat kenangan. Kontradiksi ini, alih-alih menimbulkan kesan mencla-mencle buku ini, ia malah menegaskan bahwa cara-cara move on itu sangat spesifik dan custom-built. Perbedaan pendapat para penulis tersebut membebaskan pembaca untuk memilih sendiri mana yang sesuai dengannya, atau malah pesimis akan seluruh pendapat para penulis dalam buku ini. Terserah, karena tujuan buku ini ditulis bukan untuk menjadi semacam "buku pegangan wajib" yang harus dipatuhi sekaligus menggurui, melainkan untuk berbagi pengalaman.

Nah, siapkah kau untuk move on?

GIVEAWAY :D

Terima kasih karena kau telah (berpura-pura) bersabar membaca ulasan saya yang tidak pendek di atas (padahal saya tahu kalau kau sudah tidak sabar membaca bagian "giveaway"-nya). Saya juga minta maaf karena terlambat meng-upload post ini, lantaran sesuatu yang menyebalkan terjadi pada kabel output charger laptop saya (padahal laptop saya nggak bisa nyala kalau nggak dicolok ke sumber listrik). Sekarang, saya akan membagikan syarat dan peraturan giveaway buku Move On Garis Keras ini. Dari seluruh peserta yang memenuhi seluruh syarat dan peraturan, akan dipilih satu  yang memenangkan satu (1) eksemplar buku Move On Garis Keras gratis.

Syarat & Peraturan

  1. Domisili di Indonesia.
  2. Follow blog ini, bisa via Google Friend Connect atau Bloglovin'.
  3. Follow akun Twitter para penulisnya: @kimfricung, @qonrobovski, @haitiwi, @ochakrn, dan @rezanufa. Juga Twitter penerbitnya, @ping_fiction.
  4. Bagikan tautan giveaway ini di medsos. Kalau di Twitter, pakai hestek #MOGK, ya. Boleh mensyen penulis dan atau penerbitnya, boleh juga nggak.
  5. Tulis nama, akun Twitter, dan alamat e-mail-mu di kolom komentar, diikuti jawaban atas pertanyaan ini: "Kalau kamu diberi kesempatan untuk memiliki satu kekuatan super agar bisa move on dari mantan pacar, kekuatan apakah yang kamu pilih?"
  6. Giveaway ini berlangsung sampai tanggal 18 April 2016, jadi jangan ketinggalan, ya! Pemenang akan diumumkan pada tanggal 20 April 2016 (doakan semoga tidak ada halangan berarti sehingga saya bisa post tepat waktu, wkwk).
Selamat berpartisipasi, dan selamat move on! :D

9 April 2016

[Blog Tour] Malam-malam Terang | Pengumuman Pemenang

Halo, Readers! Selamat bermalam Minggu bagi yang punya pasangan! Bagi yang jomblo, selamat bermalam Minggu juga dengan kekasih idaman dari balik monitor laptop (baca: Song Joong-ki atau Song Hye-kyo). Nah, buat yang lagi merana di malam Minggu yang biasa aja ini--yang perasaan sama aja dengan hari-hari lainnya--saya mau memberikan kabar gembira :D (bukan kabar gembira tentang Mastin, kok, tenang aja). Apa lagi kalau bukan pengumuman pemenang giveaway Malam Minggu Terang--eh, Malam-malam Terang!

Ada 25 partisipan giveaway kali ini, dan 11 di antaranya menjawab bahwa kegagalan terbesar yang pernah mereka alami ada kaitannya dengan gagal masuk sekolah/universitas idaman, gagal mendapat nilai bagus, gagal lulus ujian, gagal sidang dan wisuda, gagal mendapatkan beasiswa... Sembari membaca jawaban demi jawaban ini, saya menduga-duga, mungkin mereka terinspirasi dari kisah Kak Tasniem dalam novel Malam-malam Terang (yang gagal masuk SMA idaman), jadi jawabannya berkisar kegagalan dalam dunia akademis. Dan, yang lebih mengesankan adalah, kebanyakan jawaban para partisipan panjang-panjang! Saya mengapresiasi usaha dan kesungguhan teman-teman dalam menjawab pertanyaan kepo saya :-h

Ada empat jawaban yang jadi favorit saya, tapi sayang sekali, saya harus memilih satu saja. Nah, dengan bantuan salah seorang teman saya, akhirnya saya memilih satu jawaban terbaik, yaitu...



Ari
@tiarizee
  
Yeaaay, selamat, Ari! Sila mengirimkan nama, alamat, dan nomor telepon yang bisa dihubungi ke alamat e-mail kimririn93@ymail.com dengan subjek "Malam-malam Terang" dalam waktu 2 x 24 jam setelah pengumuman ini.

Buat teman-teman yang belum beruntung, jangan khawatir! Masih ada kesempatan ikut giveaway di blog selanjutnya:


1 April 2016

[BLOG TOUR] Malam-malam Terang | Review & Giveaway



Judul: Malam-malam Terang
Penulis: Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi
Editor: Donna Widjajanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Desember 2015
Tebal: 246 halaman
ISBN: 978-602-032-454-8
Harga: Rp 65.000,00
Rating saya: 3/5

 

PLOT SUMMARY

Lulus dari SMP 5 Yogyakarta dengan NEM hanya 44,73 benar-benar menghancurkan hati Tasniem. Remaja perempuan yang akrab dipanggil Ninim itu berharap NEM-nya minimal 48, karena itulah tiketnya untuk bisa mencapai mimpi jangka pendeknya, yaitu masuk ke SMA 3 Yogyakarta. Beberapa hari tak keluar kamar, Ninim meratapi NEM yang ia peroleh.
"Aku tidak terima. Perjuanganku selama tiga tahun di sekolah, berbulan-bulan khusus untuk persiapan ujian, hanya ditentukan oleh angka desimal yang didapat dari beberapa jam saja mengerjakan soal ujian. Di mana keadilan?" (hlm. 11)
Namun, Tuhan ternyata telah menuliskan rencana tersendiri mengapa Ia hanya menganugerahkan NEM sebesar 44,73 pada Ninim. Beberapa rangkaian kejadian merujuk pada kata "Singapura", seolah memberikan Ninim petunjuk, ketika ia sedemikian galau memikirkan di mana ia akan melanjutkan sekolah. Awalnya, Ibu tak menyetujui karena alasan biaya. Namun, akhirnya, bermodalkan biaya dari menjual sepetak tanah, Bapak dan Ibu mengabulkan keinginan Ninim untuk melanjutkan sekolah ke Globe College of Singapore alias GC.
"Sesuai namanya, sekolah ini benar-benar internasional. Siswanya berasal dari sekitar 70 negara yang berbeda." (hlm. 34)
Berbagai tantangan harus Ninim taklukkan, mulai dari kemampuan bahasa Inggrisnya yang masih pas-pasan, mendapatkan nilai jelek saat evaluasi kelas komputer (padahal ia yakin nilainya akan bagus), hingga pekerjaan paruh waktu pertama. Sungguh beruntung, Ninim dikelilingi tiga orang teman sekamar yang tak butuh waktu lama untuk menjadi sahabat yang senantiasa mendukungnya. Aarin Mohanty dari India, yang sudah lama tinggal di Inggris. Cecilia Ng dari China. Angelina Soemantri dari Jakarta.

Pada liburan sekolah, dua pekerjaan paruh waktu berhasil Ninim kerjakan selama sebulan, demi membiayai sendiri tiket perjalanan pergi-pulang Singapura-Jakarta, untuk menebus kerinduan mendalam terhadap keluarganya. Namun, saat mimpi untuk pulang ke rumah itu hampir ia gapai, datanglah kabar dari Angelina. Semenjak bercerai, ayah Angelina tinggal di Malaysia bersama keluarga baru, sedangkan Angelina tinggal dengan sang ibu. Sudah lama sekali Angelina tidak bertemu ayahnya. Waktu itu, ayahnya terserang suatu penyakit yang membuatnya melupakan segalanya, sedikit demi sedikit. Namun, nama Angelina sering terlepas dari bibirnya. Sebelum terlambat, Angelina ingin sekali saja bertemu ayahnya. Masalahnya, satu-satunya bahasa yang  masih diingat sang ayah adalah Jawa krama inggil, yang tidak dipahami Angelina. Oleh karena itu, ia membutuhkan bantuan Ninim untuk menerjemahkan. Ia butuh Ninim menemaninya ke Malaysia.

Mendadak Ninim dihadapkan pada dua pilihan sulit: menunda kepulangan demi menemani Angelina ke Malaysia, atau tetap pulang ke Yogyakarta, sementara Cecilia dan Aarin saja rela memutus masa liburannya demi menemani Angelina?
"Waktu adalah bagian penting dari hidupmu yang rela kaukorbankan untuknya." (hlm. 76).
Kemudian, saat akhirnya Ninim pulang ke rumah, Tuhan mempertemukan kembali dia dengan Ridho alias Edo, kakak kelasnya waktu SMP, yang dulu sempat ia taksir. Mereka bertemu di chatting room mIRC, bertukar alamat e-mail, dan berjanji untuk bertemu selepas pengajian hari Sabtu di masjid di depan rumah Ninim. Ninim sempat heran, sebelumnya selama bersekolah di SMP yang sama, mereka tak pernah berinteraksi lebih lama daripada satu kali percakapan. Lantas, ketika pada akhirnya Ninim mengucap salam perpisahan pada Edo, karena ia harus pergi lagi untuk melanjutkan studi di Jepang, mengapa terlihat sendu raut Edo?
"Setinggi apa pun engkau terbang, dan ke belahan bumi mana pun kelak engkau bertualang, suatu saat kembalilah, negeri ini membutuhkanmu." (hlm. 33)
"Orang paling cerdas adalah dia yang paling sering mengingat kematian." (hlm. 54)

REVIEW

"Jadilah bintang yang paling terang kelak, jangan menyerah." (hlm. 9)
"[...] teruslah berjuang dan jadi bintang yang paling terang di gelapnya malam." (hlm. 7)
Malam-malam Terang, yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata Tasniem ini, merupakan torehan tahun-tahun kehidupannya yang penuh tantangan dan kerja keras. (Tapi ada yang berbeda antara Tasniem dalam novel dan Tasniem yang sebenarnya. Di dalam novel, sekolah Tasniem di Singapura bernama GC, sedangkan sebenarnya Tasniem bersekolah di United World College of South East Asia, Singapura.)

Buku ini adalah memoar, yang mencatat berbagai perubahan yang terjadi pada pribadi Tasniem. Dari yang awalnya seorang gadis yang kalah dan merasa dipecundangi oleh NEM, hingga menjadi gadis yang berani menaklukkan berbagai tantangan. Awalnya, Tasniem adalah gadis yang sepertinya terbiasa berhasil (dalam skop akademik) sehingga sekalinya jatuh (NEM yang di bawah harapan), ia sangat terpuruk. Meski sudah pernah sekali gagal saat SMP itu, ketika di GC pun ia pernah terpuruk lagi karena nilai ujian kelas komputernya sangat jauh di bawah ekspektasi. Dari dua kegagalan itu, Ninim belajar untuk tetap tenang saat ujian dan membaca soal dengan baik, dan memastikan kegagalan itu tak terulang lagi. Meski tak jarang, ia merasa gagal, berkat wejangan bapaknya, ia menjadi terbiasa.
"Jadikan kegagalan sahabat terbaikmu, karena hanya dialah yang setia dalam mengingatkan untuk selalu berusaha yang lebih baik. Tanpanya, kamu tidak akan pernah maju." (hlm. 65)
Tidak seperti dulu, yang satu kegagalan saja bisa membuatnya porak poranda. Tiga tahun setelah NEM yang 48 tak sampai itu, terlihat sekali perbedaan sikap Ninim dalam menghadapi kegagalan. Lihat saja, sikapnya yang jauh lebih tenang dan dewasa saat salah satu aplikasi beasiswa S-1-nya gagal. Saya bisa membaca betapa Ninim adalah tokoh yang perfeksionis, introspektif, religius, pantang menyerah, selalu berusaha berjuang lebih keras daripada orang lain. Yang terakhir ini terlihat jelas dari persiapannya jelang ujian semester dan ujian akhir di GC. Tiap hari ia bangun dini hari untuk belajar, kemudian setelah pulang sekolah pun belajar lagi. Ia belajar saat orang lain belajar; ia juga belajar saat orang lain terlelap. Inilah yang mengantarnya menjadi peraih nilai terbaik saat lulus GC dan berhasil mendapatkan beasiswa S-1 di Ritsumeikan Asia Pacific University.

Sifat Ninim yang introspektif dan religius ini menjadikannya melankolis. Salah satu contohnya adalah Bab 10: Eskapisme, yang berisi perenungannya ketika memandang pohon dan burung pelatuk dari jendela kamarnya di suatu pagi. Tasniem juga sering kedatangan pikiran-pikiran negatif, terlihat jelas di hlm. 61, reaksi atas kegagalannya dalam ujian kelas komputer. Namun, kualitas positif pribadinya dan dukungan teman-temannya mampu membuatnya bangkit lagi.

Persahabatan Ninim dengan tiga teman sekamarnya sungguh indah diselami. Mereka berasal dari bangsa, budaya, dan agama yang berbeda, tapi bisa saling memahami dan mendukung, tak ubahnya saudara kandung (bahkan mungkin lebih). Kesamaan nasib, yaitu jauh dari keluarga, mungkin salah satu katalis yang memperkental rasa persaudaraan di antara mereka.

Di antara novel-novel lain yang mengambil tema anak sekolah, novel ini jadi salah satu yang berbeda. Drama anak sekolah pun biasanya malah menekankan kisah romansa; aktivitas sekolahnya sendiri hanya tempelan atau bahkan absen. Di novel ini, aktivitas sekolah mendominasi. Untunglah, diselingi sedikit kisah petualangan dan serunya pekerjaan paruh waktu Ninim (pelayan restoran dan pembuka pintu hotel--saya baru tahu, lho, kalau pekerjaan itu namanya pembuka pintu hotel). Kalau tidak, mungkin ini akan jadi novel yang membosankan.

Ditulis oleh dua orang, betapa mulusnya kata demi kata terajut. Saya tak menemukan petunjuk secuil pun di mana letak pembeda, dari segi gaya bahasa, dari dua orang penulisnya ini. Malah, seluruh bagian novel ini seperti tulisan Tasniem saja, lantaran semuanya berpusat pada tokoh Tasniem. Mungkin juga ini kesan dari penggunaan sudut pandang orang pertama Tasniem. Padahal, awalnya saya mengira akan mendapati dua porsi seimbang kisah Tasniem dan Ridho. Oh, ternyata memang ini cerita tentang Tasniem.

Kisah perjuangan Tasniem ditulis dengan alur progresif secara umum. Di beberapa bagian, alur flashback mengambil alih, misalnya di Bab 3: Dan Layar Pun Terkembang. Di akhir Bab 2, ibu tidak menyetujui Tasniem sekolah di Singapura. Namun, di awal Bab 3, Tasniem sudah berangkat ke Singapura. Ada plot hole yang (mungkin) sengaja diciptakan penulis untuk membuat pembaca bertanya-tanya, "Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa?" Nah, di bagian akhir Bab 3, barulah pertanyaan itu terjawab. Strategi ini bisa menyedot rasa bosan yang mungkin timbul di benak pembaca.

Rasa bosan yang mungkin timbul bisa disebabkan oleh sudut pandang "aku" yang sangat egosentris, aktivitas akademis yang rutin, gaya bahasa si "aku" yang kadang sok akademis, atau penyebab lain. Gaya bahasa yang sok akademis ini tampak pada penggunaan istilah-istilah ilmiah, tapi untung tak separah yang digunakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. Di satu sisi, gaya bahasa seperti ini menunjukkan kreativitas penulis dan memberikan pengetahuan baru bagi pembacanya (meski tak ada footnote yang menjelaskan istilah-istilah ilmiah itu, jadi ya sama saja pengetahuan saya tak bertambah kalau saya malas Gugling apa artinya :-q). Setidaknya ada dua cara memandang kecenderungan sok ilmiah ini: arogansi penulis atau intensi mulia penulis untuk merangsang rasa ingin tahu pembaca. Contohnya adalah kalimat-kalimat berikut:
  1. Huruf "S" menjadi Squamata melata yang berancang-ancang menerkamku agresif. (hlm. 6)
  2. Akar tunggang pohon belimbing tua di depan kelasku tiba-tiba menjadi raksasa, mirip kaki Cephalopoda. (hlm. 11)
  3. Pelajaran moral hari itu, kucatat kuat dalam Cerebrum-ku: jangan berkawan dengan prasangka burukmu! (hlm. 30)
  4. Ini seperti proyeksi kubus tesseract pada ruang tiga dimensi, aku dapat melihat suatu hal dari sisi yang lain, multifaset. (hlm. 36)
  5. Tak heran, otot flexor pollicis longus-ku membengkak. (hlm. 43)
  6. Saat si "aku" berlagak bak Sherlock Holmes (fight scene di Sherlock Holmes the movie 1): menghitung massa tiap bagian tubuh orang yang menabraknya waktu main basket (hlm. 93).
Tesseract, sumber di sini.


Selain itu, penulis juga sering mengulang-ulang fakta yang sudah dibeberkan sebelumnya. Misalnya, penulis menjelaskan bahwa kelas 10 di GC setara dengan kelas satu SMA (hlm. 37), padahal di hlm. 36 sudah tertera penjelasan serupa. Sepanjang membaca buku ini, saya menemukan beberapa kesalahan EYD yang seharusnya bisa diminimalisasi oleh kerja sang editor. Misalnya, kata "syaraf" (hlm. 18), yang seharusnya "saraf". Saya juga menemukan beberapa kalimat yang janggal (atau memang saya yang terlalu tolol untuk bisa memahaminya).
  1. "Seekor kerbau berkubang, semua kena lututnya." (hlm. 72) -> lututnya? Mungkin lumpurnya.
  2. "Karena aku ingin menyelesaikan apa yang harus selesaikan." (hlm. 98) -> kuselesaikan
  3. Ketika Tasniem berdiri membelakangi Siska di antrian loket stasiun dan ia pun memaksa Erika juga berbalik badan (karena enggan bertemu dengan teman SMP-nya yang menyebalkan itu) Tasniem menuliskan demikian:
"Kubalikkan badan Erika, menghadap ke arah yang sama denganku. Kami berdua, mirip petugas upacara saat itu. Bagian paduan suara tepatnya. Erika semakin bingung." (hlm. 17)
Dan saya bingung. Mirip petugas upacara? Hmm, oke, karena mereka berdua berdiri berjajar dan menatap ke arah yang sama, seperti petugas pengibar bendera sebelum "langkah tegap maju jalan", ya? Lalu, seperti bagian paduan suara? Maksud kalimat ini kurang bisa saya tangkap seutuhnya.

Salah satu elemen teknis yang saya sayangkan adalah layout buku ini, dengan margin yang terbilang mepet dengan pinggiran kertas. Hal ini membuat saya tidak nyaman waktu membaca, sehingga mata saya cepat lelah. Terlepas dari semua itu, saya suka kovernya :D

Baru-baru ini, saya dengar bahwa Malam-malam Terang akan difilmkan. Semoga filmnya nanti akan sebagus bukunya!

GIVEAWAY!!!

Nah, sekarang saat yang ditunggu-tunggu, yaitu giveaway time! Yeay! Akan ada satu (1) pemenang dengan jawaban paling menarik yang nantinya berhak mendapatkan satu (1) eksemplar novel Malam-malam Terang gratis. Mari, simak persyaratan berikut:
  1. Domisili di Indonesia.
  2. Follow akun Twitter @tasniemrais , @ridhorahmadi09 , @kimfricung.
  3. Share link blog tour ini di Twitter dengan hestek #MalamMalamTerang dan mention ketiga akun di atas.
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar dengan menuliskan nama, akun twitter, e-mail:
    "Apa kegagalan terbesar yang pernah kaualami dan bagaimana kau mengatasinya?"
  5. Event giveaway ini berlangsung selama 1 minggu, yaitu 1 - 7 April 2016.
  6. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 9 April 2016.
Semoga beruntung! :D 

25 March 2016

How is Friday #1: How to be a Deft Book Giveaway Hunter



In the realm of book hoarders, one of the most pleasing way to overload your stacks is getting books for free. Recently, for aught one knows, in Indonesia it is in fashion for publishers and/or writers of new-released books to hold blog tours. Blog tour is a kind of virtual tour which involve some bloggers as hosts, for book blog tour, the hosts are mostly book bloggers. A blog tour can lasts for a month or more or even less, depends on the event duration for each host (mostly 3, 5, or 7 days) and the number of the hosts. The event usually covers book review, ask author, and giveaway. Since most blog walkers look forward to the giveaway, it's as if the giveaway is the center of the blog tour. Whatsoever, by giving some books away, the publishers/writers aims to make their new books known by the public.

Not only publishers/writers, but also book blogger his/herself holds independent giveaway for some reasons, usually to celebrate the blog's birthday or other special occasion, to tidy up his/her overloaded stacks, or to raise the blog views. Had I been both a giveaway hunter for almost a year and a book blogger who sometimes holds giveaway, I want to suggest these trifling tips for you, if you wanna be a deft book giveaway hunter:

1.

Follow the social media account of publishers, writers, and book bloggers. Most of them use Twitter, Facebook, or Instagram (but mostly Twitter--in Indonesia) to share information about giveaway. Some Indonesian publishers regularly hold quiz with book as the gift, such as Bentang Pustaka, Gramedia, and DIVA Press.
If you don't know who are book bloggers to follow, you can do the point no. 2 below.

2.

Once you participated in a blog tour's giveaway event, you can mark all of the book bloggers who contribute as host. Follow their social media and blogs (if you are also a blogger). There are many Indonesian book bloggers who very often become blog tour hosts, so I follow them, both on Twitter and Blogger/Wordpress.

3.

Join online bookish forum/group, like Goodreads Indonesia and Blogger Buku Indonesia (if you are also a book blogger). For example, in Goodreads Indonesia forum there is a topic under the discussion board of Agenda Buku & Kabar Buku, entitled "Info Giveaway dan Kuis Buku Lainnya" (Information of Giveaway and Other Book Quiz), in which the book blogger/publisher/writer share the information.

4.

Don't secede from your gadget for days in a row, or you will miss the giveaway of certain book that you really want.

5.

Once you decide to try your luck in a giveaway, follow the instruction carefully or fulfill all the requirements, for example you must follow the blogger's Twitter account, share the giveaway link through your social media, post a comment under her/his certain blog post, and answer a question.

6.

The host is likely to give an open question, so try to be unique than others, but keep your answer concise. The host will read each answer, so it is very possibly, if there are a lot of participants, he/she get tired and reluctant of your long-winded answer. Even, maybe he/she just leave such kind of answer unread. If later you have been an experienced giveaway hunter, who have been accustomed to answer giveaway question and have won many times, you will be able to predict what kind of answer that is likely to be liked by the host.

7.

Some bloggers now bring more creative giveaway system, like asking you to make photoquotes, persuade the book writer via tweets about why you must be the winner, or guess a riddle. If this is the case, you still need to be creative and unique.

8.

Sometimes, when they just ask you to write your name on the comment column, for then the winner will be randomly chosen using random picking device, like random.org or miniwebtool.com. If this is the case, you just need to pray so that you can be fortune enough to win.

9.

If a blog tour gives the book that you very extremely want, you'll have more possibility to win if you participate in the whole tour. If there are 4 blog hosts, and you participate in all the four hosts' giveaway, your possibility to win will be raised to 4 times as compared to if you participate in one host's only. It sure worked on me when I want a free exemplar of Marry Now, Sorry Later novel so badly that I answer each question in each host's giveaway time. I didn't win here, here, here, but then finally I win there.

Do you have experience in hunting free books? Feel free to share in the comment column below! :D

6 February 2016

[TIGER ON MY BED] Blog Tour: Giveaway Winner


Hello, Readers! Dua hari telah berlalu sejak blog tour TOMB di blog ini ditutup, dan kini saatnya mengumumkan siapa pemenangnya. Eits, sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih buat teman-teman semua, yang sudah mampir baca Ask Author, Review, dan Giveaway. Terima kasih juga buat yang sudah meninggalkan jejak di sana, dan sudah ikut meramaikan giveaway.  Namun, karena tiap hari selama 15 hari berturut-turut ada giveaway dari tiap host, pesertanya jadi tidak terlalu banyak. Mungkin ada yang sekadar mampir dan setelah  menengok pertanyaan yang saya ajukan, bingung hendak menjawab apa, lalu menutup halaman dan lupa untuk mampir lagi :D . Jujur, waktu ngasih pertanyaan itu saya sendiri juga bingung, makanya saya nanya kalian. Saya sangat bersyukur ada beberapa jawaban yang memberi saya pencerahan :D .

Giveaway ini diikuti oleh 15 peserta, 4 di antaranya terpaksa saya diskualifikasi karena kurang sesuai dengan persyaratan, dan 2 lainnya saya coret karena sudah menang di host sebelumnya. Jadi, ada 9 jawaban yang valid, yang kemudian saya pilih 3 terfavorit di antaranya. Setelah membaca berulang-ulang, meresapi tiap jawaban, saya paling tercerahkan oleh satu jawaban ini.

Nggak setuju. Sebenarnya kadang, tanpa perlu patah hati, kita bisa tahu seperti apa kita ingin dicintai. Bahkan ketika kita menjalani hubungan yang mungkin tidak seperti yang kita harapkan, dari sana kita juga bisa tahu seperti apa kita ingin dicintai, tanpa harus merasa patah hati. Hehehe. :D
Hayo, jawaban siapakah itu? Ya, pemenangnya adalah...


DHAMALA SHOBITA | @dhamalashobita

Yeay!! Selamat, Dhamala! Kirimkan data diri berikut ke e-mail saya: kimririn93@ymail.com dalam jangka waktu 2 x 24 jam. Kalau lebih dari itu saya belum menerima konfirmasimu, maka saya berhak memilih pemenang yang baru :)
Nama lengkap:
Alamat kirim:
No. HP:

Untuk para peserta lain yang belum menang, jangan sedih, ya! Masih ada kesempatan bagi kalian untuk menang di blog host yang lain. Buat Bang Ino dan Twigora, saya juga mengucapkan terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan bagi saya untuk menjadi salah satu blog tour host Tiger on My Bed. Semoga kita bisa bekerja sama di kesempatan yang lain! 

29 January 2016

[TIGER ON MY BED] Blog Tour: Giveaway


Halo lagi, Readers! Akhirnya kita sampai di post paling ditunggu-tunggu hari ini, yaitu giveaway time!! Sudah baca post sebelumnya tentang Ask Author dan Book Review? Jadi penasaran pengin baca, kan? Nah, kali ini satu pemenang akan saya pilih untuk mendapatkan satu novel Tiger on My Bed gratis! Syaratnya nggak susah, kok.

SYARAT & KETENTUAN

1. Domisilimu di Indonesia.
2. Follow blog The Reveter via GFC, G+ atau Bloglovin' (tengok bagian bawah halaman ini).
3. Follow akun Twitter @twigora, @09061983, @kimfricung .
4. Share link giveaway ini di sosial media yang kamu punya, mention ketiga akun di atas, dan jangan lupa sertakan hashtag #TIGERONMYBED , ya :)
5. Baca dan tinggalkan komentar di post Ask Author dan Book Review. Komentarnya yang berkaitan dengan isi post, ya :)
6. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan format:
Jawaban
Nama | Akun Twitter | E-mail
Link share

Setujukah kamu dengan pernyataan ini:
Mengapa? Mungkin kamu pernah punya pengalaman pribadi?
Feel free to use me tell me.

Nah, tunggu apa lagi? Giveaway ini hanya berlangsung selama seminggu, terhitung mulai hari ini sampai tanggal 4 Februari 2016. Satu orang pemenang dengan jawaban paling menarik dan yang memenuhi semua persyaratan akan saya pilih untuk mendapatkan satu novel Tiger on My Bed :D .

Pengumuman pemenang akan saya lakukan di blog ini, paling lambat 3 hari setelah masa giveaway berakhir. Pemenang juga akan saya hubungi lewat Twitter dan/atau e-mail. 

Jangan lupa, ikuti juga rangkaian blog tour di blog-blog berikut ini:
22 Januari
23 Januari
24 Januari
25 Januari
26 Januari
27 Januari
28 Januari
29 Januari:YOU ARE HERE! :D
30 Januari
31 Januari
1 Februari
2 Februari
3 Februari
4 Februari
5 Februari

[TIGER ON MY BED] Blog Tour: Book Review

Judul: Tiger on My Bed (#VIMANASINGLES book 1)
Penulis: Christian Simamora
Editor: Dini Saraswati
Penerbit: Twigora
Cetakan/Bulan-Tahun Terbit: I, Desember 2015
Tebal: 408 halaman
Genre: Contemporary Romance
Kategori: Novel Dewasa
ISBN: 978-602-70362-3-9
Harga: Rp 88.800,00
Rating saya: 3/5


SEBELUM BENAR-BENAR PATAH HATI, KAU TAK AKAN PERNAH MENYADARI SEPERTI APA KAU INGIN DICINTAI.
_______________

BLURB

 

“UNTUK MENARIK PERHATIAN LAWAN JENISNYA,
HARIMAU BETINA BISA MERAUNG SAMPAI 69 KALI SELAMA 15 MENIT.”
Jai harus mengakui, Talita Koum Vimana membuatnya sangat penasaran. Dia duduk di pangkuan Jai, membuai dengan suara tawanya, dan bahkan tanpa ragu mengkritik kemampuannya merayu lawan jenis. Hebatnya lagi, semuanya terjadi bahkan sebelum Jai resmi berkenalan dengan Tal.
“SELAYAKNYA TARIAN,
HARIMAU JANTAN DAN BETINA MELAKUKAN KONTAK FISIK SATU SAMA LAIN, DISERTAI SUARA RAUNGAN DAN GERAMAN.”
Jujur saja, alasan utama Tal mendekati Jai justru karena dia sama sekali bukan tipe idealnya. Dia dipilih karena alasan shallow: indah dilihat mata, asyik buat diajak make out.
Jenis yang bisa dengan gampang ditinggalkan tanpa harus merasa bersalah.
“TAHUKAH KAMU, SETELAH PROSES KAWIN SELESAI,
HARIMAU JANTAN SELALU MENINGGALKAN BETINANYA?”
Tiger arrangement, begitu keduanya menyebut hubungan mereka.
Dan ketika salah satu pihak terpikir untuk berhenti, pihak lain tak boleh merasa keberatan.
Jai dan Tal menikmati sekali hubungan kasual ini. Tak ada tanggung jawab, tak ada penyesalan... sampai salah satu dari mereka jatuh cinta.
 
Selamat jatuh cinta,

CHRISTIAN SIMAMORA
_______________


SEBULAN tak cukup bagi Talita Koum Vimana untuk bisa move on sepenuhnya dari Rizal, mantan tunangannya, yang berselingkuh dengan Stella--si wedding organizer mereka sendiri. Tiga minggu Tal habiskan untuk mengurung diri di dalam rumah, melakukan apa saja, termasuk menulis banyak puisi bertemakan patah hati (hal yang tak akan pernah Tal lakukan dalam kondisi normal). Di minggu keempat, akhirnya ia baru kembali ke rutinitas pekerjaannya sebagai jewelry appraiser di appraisal miliknya sendiri, Appraise Appraise. Rutinitas pekerjaan saja tak cukup mengalihkan perhatiannya dari kenangan akan Rizal. Hingga tibalah undangan pesta peluncuran sebuah merek make-up, di mana Tal bertemu dengan kedua sahabatnya, Fika dan Yana. 

MALAM itu, Fika menyarankannya untuk mencari seorang rebound. Bersama Yana, mereka berdua pada akhirnya memaksa Tal untuk menyetujui pelaksanaan Operation Rebound malam itu juga. Jatuhlah pandangan Fika dan Yana pada sosok seorang cowok yang menurut Fika pantas dilabeli HAF (Hot as Fuck). Sial bagi Tal, ia keduluan seorang cewek untuk mendekati pria itu. Tapi bukan sahabat sejati namanya kalau membiarkan Tal menyerah begitu saja. Fika dan Yana menyuruhnya tetap lanjut, yang berarti ia harus menyingkirkan cewek itu. Tal mendadak kerasukan roh cewek agresif, dan berhasil menyingkirkan cewek itu, plus berciuman dengan si cowok bahkan sebelum mereka berkenalan.


JAI Birksted, si cowok target rebound Tal itu langsung punya firasat bahwa dia dan Tal akan memiliki hubungan lebih daripada sekadar pertemuan tak disengaja di sebuah pesta. Namun, setelah mendengar kejujuran Tal, bahwa cewek itu hanya membutuhkan rebound dan menawarinya sebuah tiger arrangement, ia ragu.
"The one night stand kind. Fucking each other's brains out, no strings attached. You know, kayak harimau." (Tal, hlm. 103)
DULU, Jai pernah punya pengalaman getir tentang hubungan tanpa komitmen dengan seorang cewek bernama Hana. Dulu, ia sangat terluka karena jatuh cinta pada Hana, sedangkan cewek itu malah sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuannya. Kalau sekarang ia menerima tawaran Tal, ia takut hal menyakitkan itu akan terulang. Dengan tiger arrangement, jika salah satu ingin berhenti, maka yang lain tak boleh keberatan. Namun, yang paling menakutkan adalah: bagaimana jika salah satunya jatuh cinta? Awalnya, Jai menolak. Tapi, Tal terlalu indah untuk ditolak....
"Tapi, risiko menjadi seorang rebound adalah siap untuk disakiti oleh perpisahan... Sepadankah rasa sakit kelak dengan yang gue dapat selama bersamanya nanti?" (hlm. 138)

ANGGOTA keluarga Vimana pernah muncul di novel seri #jboyfriend, antara lain All You Can Eat dan As Seen on TV (yang keduanya belum pernah saya baca #digampok). Nah, di seri #vimanasingles ini, tokoh utamanya adalah para cewek keluarga Vimana. Tiger on My Bed, dengan tokoh utama Talita Koum Vimana, menjadi pembuka seri ini. Benang merah novel ini sesungguhnya lazim dalam ranah contemporary romance (sok banget nih, padahal belum ada sepuluh novel genre itu yang sudah saya baca), tapi dengan lihainya Bang Ino menyertakan hal-hal unik yang tak akan membuat novel ini biasa saja. Hubungan tanpa komitmen yang jadi rumit setelah salah satu pihak jatuh cinta. Terdengar biasa, kan? Tapi, berkat istilah tiger arrangement dan asal-usul ilmiah di baliknya, tema ini jadi unik.

MARI kita mengenal lebih dalam si tokoh utama terlebih dulu. Tal, dengan profesinya yang unik--yang dari novel ini, saya baru tahu bahwa profesi seperti itu ada--dan karakternya sebagai perempuan independen dan berani mengambil risiko untuk mencapai mimpinya, membuat saya jatuh hati. Jai saja, menganggap bahwa tipe perempuan seperti ini intimidatif.
"They can be so scary, Man. Alih-alih menunggu di balkon kastil, mereka justru yang punya inisiatif sendiri untuk langsung datang menghampiri pangeran mereka. Salah satu cewek tipe itu pernah bilang ke gue, 'Why wasting time on waiting for miracle? I can buy my own glass shoes, thank you very much. I know exactly how to make myself happy.'" (hlm. 105)
(Bang Ino, seperti biasa, menggunakan analogi yang sederhana tapi ngena.)

UNTUK bisa menjadi seorang jewelry appraiser yang sukses seperti saat ini, Tal harus melawan keinginan ayahnya dan berjuang sendiri dari awal, mulai dari studi ke luar negeri. Yah, meski nama besar keluarga Vimana cukup membantu usahanya terkenal, sih. Mungkin kalian penasaran, jewelry appraiser itu apa.... Well, Tal bertugas untuk "meneliti baik-baik perhiasan berharga dan menaksir nilai ekonominya". Bang Ino mengatakan bahwa riset seputar profesi Tal ini salah satu riset yang menyenangkan. Meskipun, ternyata sangat sedikit adegan yang menunjukkan Tal sedang berkutat dengan profesi antiknya itu. Kalau tidak salah, saya hanya menemukan satu adegan yang paling menggambarkan profesi Tal, yaitu di halaman 60-62 (kalau salah, mohon koreksi saya, ya, wkwk).

SEMENTARA itu, Jai dulunya adalah seorang manwhore, tapi sudah enam bulan ia puasa seks dan juga tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Dulu, Jai juga pernah patah hati karena ditinggal ceweknya menikah dengan orang lain (menikahnya terpaksa untuk memenuhi keinginan orang tua). Setelah itu, ia terjerumus dalam hubungan tanpa komitmen dengan Hana, yang akhirnya juga mengecewakannya. Sosok Jai sangat mampu memahami apa yang dinginkan Tal. Perlakuannya terhadap Tal sangat gentle dan manis. Nggak salah kalau Yana menyebut Jai "he is definitely made of boyfriend material". Profesi Jai juga terdengar menyenangkan untuk dicoba, lho, jika saja saya punya kreativitas menata ruangan: interior designer. Saya juga merasa karakter Jai agak kurang konsisten. Di awal, dia merasa sebagai cowok yang nggak bisa merayu (saking terlalu lama puasa cewek). Tapi dari kata-kata dan gesturnya belakangan, dia sama sekali tidak nggak bisa merayu. Yah, ini mungkin karena lama-lama Jai telah bisa menemukan kembali dirinya yang dulu.

DUA sahabat Tal, Fika dan Yana, juga menarik untuk dibahas. Fika terlibat dengan hubungan Tal--Jai di awal, tapi di pertengahan hingga akhir ia disibukkan dengan pekerjaannya sebagai seorang fashion designer, sehingga Yana-lah yang lebih intens mengetahui perkembangan hubungan Tal dan Jai. Novel contemporary romance biasanya menghadirkan sosok para sahabat tokoh utama yang blak-blakan; nggak segan mengatakan kebenaran meski pahit. Di novel ini, Fika digambarkan sebagai cewek yang bukan berasal dari keluarga old money (nggak seperti Tal dan Yana), tapi dia seorang designer yang sukses. Yang paling berkesan dari Fika adalah mulutnya yang kayak corong nan cempreng. Kata-katanya sering vulgar dan bikin ngakak. Contohnya yang paling berkesan: julukannya untuk cowok berewokan ("cowok yang jembutnya ngewer-ngewer di dagu" - hlm. 16)

SEMENTARA itu, sosok Yana jadi lebih dekat dengan pembaca dibandingkan Fika. Sebagai sahabat sejati, meski suka meledek Tal, dia nggak pernah menghakimi Tal saat hubungannya dengan Jai jadi melampaui sekadar tiger arrangement. Dialah yang mendorong Tal untuk jujur pada perasaannya sendiri.

STORYLINE dalam novel ini tidak terlalu rumit. Konflik utamanya adalah Tal tidak mau mengakui perasaannya sendiri (di bagian ini dia jadi munafik, dan agak bikin sebel, sih, karena menurut saya sikapnya itu agak mencederai image-nya sebagai sosok perempuan Vimana yang independen dan berani) sehingga Jai memilih pergi. Ada sedikit konflik minor, yaitu waktu Tal bertemu dengan Jai saat mereka sudah membawa teman kencan masing-masing. Tapi konflik minor ini tak berlangsung lama, hanya seperti sekedipan mata. Dengan cepatnya solusi tercapai seketika, ya melibatkan adegan seks itu :p .

ALURNYA bergerak maju, dengan selingan flashback yang sangat bermanfaat bagi pembaca untuk bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi hingga menimbulkan efek demikian terhadap tokoh utamanya. Bang Ino membangun perkenalan dengan tokoh utama di bagian awal, menguak masa lalunya sampai pertengahan cerita. Sebagian besar cerita dihabiskan Bang Ino untuk membangun chemistry antara Tal dan Jai, sedikit demi sedikit, tapi sangat intens. Pembaca mungkin jadi merasa bahwa novel ini hanya bertokohkan dua orang itu :p . Adegan hot-nya banyak, tapi merupakan repetisi, jadi saya agak bosan.

YANG paling menarik dari novel ini, menurut saya adalah kegemaran Tal mempelajari fakta-fakta menarik tentang binatang (hobinya ini juga yang memantik penyebutan istilah tiger arrangement). Saya juga baru tahu, lho, bahwa buaya ternyata adalah binatang yang setia, tidak seperti harimau. Ironis, ya, padahal selama ini lelaki peselingkuh sering disebut buaya. Dan, tahu tidak, ternyata kata-kata Tal ini tidak sepenuhnya benar, dan menimbulkan twist mini di akhir cerita:
"Setelah proses kawin, harimau jantan langsung meninggalkan betina. No muss, no fuss." (Tal, hlm. 104)

 

MENGAPA ilustrasinya bertema Cinderella? Mungkin awalnya bisa membuat pembaca mengira bahwa Bang Ino akan menggunakan kisah Cinderella sebagai premis novelnya. Namun, salah besar. Malah, dengan menghadirkan sosok Tal, Bang Ino ingin mengatakan pada Cinderella bahwa perempuan yang independen dan berani tak hanya menunggu. Setuju, Bang!!! Nah, oleh karena #vimanasingles ini akan bertokohutamakan para cewek Vimana, maka kovernya juga menggambarkan dengan baik sosok mereka. Kalau seri #jboyfriend kan kovernya penuh kotak--kotak-kotak di perut cowok seksi. Selain kover dan ilustrasi yang menarik (seperti biasa), novel ini juga memberikan bonus berupa paperdoll, lho. Saya kira karena ini sudah bukan seri #jboyfriend, maka bonusnya juga akan berbeda :( .



DALAM novel ini Bang Ino juga menyertakan word of the day yang unik dan maknanya sangat sesuai dengan bab dalam novel. NAZLANMAK: lain di mulut, lain di hati (ini cewek banget, nggak, sih?! :(( ) ONIOCHALASIA: berbelanja untuk mengobati stres (ini juga cewek banget!!!). Kalau ingin tahu bagaimana Bang Ino menemukan formula word of the day-nya, kalian bisa baca di Ask Author di blog Mbak Sulis ini :) .

Akhirnya, 3 bintang untuk harimau yang hendak jadi buaya :p .

Nah, di akhir post ini, saya diminta untuk memamerkan foto dengan pose anehnya khas Madonna di album Rebel Heart-nya. Setelah usaha beberapa jam (lebay) untuk melilitkan kabel ke kepala dan muka saya, beginilah jadinya:

Lagi pusing bikin rangkaian listrik (nggak deng), terus iseng lilitin ke muka, ah, biar agak cantikan :))
Nah, begini kalau dibandingin dengan yang asli. Nggak mirip, kan? Ya iyalah, saya kan bukan Madonna :-bd . Hayo, tebak, saya pakai kabel apaaaa haha.

Baca juga:
Ask Author
Giveaway


bloggerwidgets