Halo, Readers! Selamat bermalam Minggu bagi yang punya pasangan! Bagi yang jomblo, selamat bermalam Minggu juga dengan kekasih idaman dari balik monitor laptop (baca: Song Joong-ki atau Song Hye-kyo). Nah, buat yang lagi merana di malam Minggu yang biasa aja ini--yang perasaan sama aja dengan hari-hari lainnya--saya mau memberikan kabar gembira :D (bukan kabar gembira tentang Mastin, kok, tenang aja). Apa lagi kalau bukan pengumuman pemenang giveaway Malam Minggu Terang--eh, Malam-malam Terang!
Ada 25 partisipan giveaway kali ini, dan 11 di antaranya menjawab bahwa kegagalan terbesar yang pernah mereka alami ada kaitannya dengan gagal masuk sekolah/universitas idaman, gagal mendapat nilai bagus, gagal lulus ujian, gagal sidang dan wisuda, gagal mendapatkan beasiswa... Sembari membaca jawaban demi jawaban ini, saya menduga-duga, mungkin mereka terinspirasi dari kisah Kak Tasniem dalam novel Malam-malam Terang (yang gagal masuk SMA idaman), jadi jawabannya berkisar kegagalan dalam dunia akademis. Dan, yang lebih mengesankan adalah, kebanyakan jawaban para partisipan panjang-panjang! Saya mengapresiasi usaha dan kesungguhan teman-teman dalam menjawab pertanyaan kepo saya :-h
Ada empat jawaban yang jadi favorit saya, tapi sayang sekali, saya harus memilih satu saja. Nah, dengan bantuan salah seorang teman saya, akhirnya saya memilih satu jawaban terbaik, yaitu...
Ari @tiarizee
Yeaaay, selamat, Ari!Sila mengirimkan nama, alamat, dan nomor telepon yang bisa dihubungi ke alamat e-mail kimririn93@ymail.com dengan subjek "Malam-malam Terang" dalam waktu 2 x 24 jam setelah pengumuman ini.
Buat teman-teman yang belum beruntung, jangan khawatir! Masih ada kesempatan ikut giveaway di blog selanjutnya:
Judul: Malam-malam Terang Penulis: Tasniem Fauzia Rais & Ridho Rahmadi Editor: Donna Widjajanto Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Cetakan: I, Desember 2015 Tebal: 246 halaman ISBN: 978-602-032-454-8 Harga: Rp 65.000,00 Rating saya: 3/5
PLOT SUMMARY
Lulus dari SMP 5 Yogyakarta dengan NEM hanya 44,73 benar-benar menghancurkan hati Tasniem. Remaja perempuan yang akrab dipanggil Ninim itu berharap NEM-nya minimal 48, karena itulah tiketnya untuk bisa mencapai mimpi jangka pendeknya, yaitu masuk ke SMA 3 Yogyakarta. Beberapa hari tak keluar kamar, Ninim meratapi NEM yang ia peroleh.
"Aku tidak terima. Perjuanganku selama tiga tahun di sekolah, berbulan-bulan khusus untuk persiapan ujian, hanya ditentukan oleh angka desimal yang didapat dari beberapa jam saja mengerjakan soal ujian. Di mana keadilan?" (hlm. 11)
Namun, Tuhan ternyata telah menuliskan rencana tersendiri mengapa Ia hanya menganugerahkan NEM sebesar 44,73 pada Ninim. Beberapa rangkaian kejadian merujuk pada kata "Singapura", seolah memberikan Ninim petunjuk, ketika ia sedemikian galau memikirkan di mana ia akan melanjutkan sekolah. Awalnya, Ibu tak menyetujui karena alasan biaya. Namun, akhirnya, bermodalkan biaya dari menjual sepetak tanah, Bapak dan Ibu mengabulkan keinginan Ninim untuk melanjutkan sekolah ke Globe College of Singapore alias GC.
"Sesuai namanya, sekolah ini benar-benar internasional. Siswanya berasal dari sekitar 70 negara yang berbeda." (hlm. 34)
Berbagai tantangan harus Ninim taklukkan, mulai dari kemampuan bahasa Inggrisnya yang masih pas-pasan, mendapatkan nilai jelek saat evaluasi kelas komputer (padahal ia yakin nilainya akan bagus), hingga pekerjaan paruh waktu pertama. Sungguh beruntung, Ninim dikelilingi tiga orang teman sekamar yang tak butuh waktu lama untuk menjadi sahabat yang senantiasa mendukungnya. Aarin Mohanty dari India, yang sudah lama tinggal di Inggris. Cecilia Ng dari China. Angelina Soemantri dari Jakarta.
Pada liburan sekolah, dua pekerjaan paruh waktu berhasil Ninim kerjakan selama sebulan, demi membiayai sendiri tiket perjalanan pergi-pulang Singapura-Jakarta, untuk menebus kerinduan mendalam terhadap keluarganya. Namun, saat mimpi untuk pulang ke rumah itu hampir ia gapai, datanglah kabar dari Angelina. Semenjak bercerai, ayah Angelina tinggal di Malaysia bersama keluarga baru, sedangkan Angelina tinggal dengan sang ibu. Sudah lama sekali Angelina tidak bertemu ayahnya. Waktu itu, ayahnya terserang suatu penyakit yang membuatnya melupakan segalanya, sedikit demi sedikit. Namun, nama Angelina sering terlepas dari bibirnya. Sebelum terlambat, Angelina ingin sekali saja bertemu ayahnya. Masalahnya, satu-satunya bahasa yang masih diingat sang ayah adalah Jawa krama inggil, yang tidak dipahami Angelina. Oleh karena itu, ia membutuhkan bantuan Ninim untuk menerjemahkan. Ia butuh Ninim menemaninya ke Malaysia.
Mendadak Ninim dihadapkan pada dua pilihan sulit: menunda kepulangan demi menemani Angelina ke Malaysia, atau tetap pulang ke Yogyakarta, sementara Cecilia dan Aarin saja rela memutus masa liburannya demi menemani Angelina?
"Waktu adalah bagian penting dari hidupmu yang rela kaukorbankan untuknya." (hlm. 76).
Kemudian, saat akhirnya Ninim pulang ke rumah, Tuhan mempertemukan kembali dia dengan Ridho alias Edo, kakak kelasnya waktu SMP, yang dulu sempat ia taksir. Mereka bertemu di chatting room mIRC, bertukar alamat e-mail, dan berjanji untuk bertemu selepas pengajian hari Sabtu di masjid di depan rumah Ninim. Ninim sempat heran, sebelumnya selama bersekolah di SMP yang sama, mereka tak pernah berinteraksi lebih lama daripada satu kali percakapan. Lantas, ketika pada akhirnya Ninim mengucap salam perpisahan pada Edo, karena ia harus pergi lagi untuk melanjutkan studi di Jepang, mengapa terlihat sendu raut Edo?
"Setinggi apa pun engkau terbang, dan ke belahan bumi mana pun kelak engkau bertualang, suatu saat kembalilah, negeri ini membutuhkanmu." (hlm. 33)
"Orang paling cerdas adalah dia yang paling sering mengingat kematian." (hlm. 54)
REVIEW
"Jadilah bintang yang paling terang kelak, jangan menyerah." (hlm. 9)
"[...] teruslah berjuang dan jadi bintang yang paling terang di gelapnya malam." (hlm. 7)
Malam-malam Terang, yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata Tasniem ini, merupakan torehan tahun-tahun kehidupannya yang penuh tantangan dan kerja keras. (Tapi ada yang berbeda antara Tasniem dalam novel dan Tasniem yang sebenarnya. Di dalam novel, sekolah Tasniem di Singapura bernama GC, sedangkan sebenarnya Tasniem bersekolah di United World College of South East Asia, Singapura.)
Buku ini adalah memoar, yang mencatat berbagai perubahan yang terjadi pada pribadi Tasniem. Dari yang awalnya seorang gadis yang kalah dan merasa dipecundangi oleh NEM, hingga menjadi gadis yang berani menaklukkan berbagai tantangan. Awalnya, Tasniem adalah gadis yang sepertinya terbiasa berhasil (dalam skop akademik) sehingga sekalinya jatuh (NEM yang di bawah harapan), ia sangat terpuruk. Meski sudah pernah sekali gagal saat SMP itu, ketika di GC pun ia pernah terpuruk lagi karena nilai ujian kelas komputernya sangat jauh di bawah ekspektasi. Dari dua kegagalan itu, Ninim belajar untuk tetap tenang saat ujian dan membaca soal dengan baik, dan memastikan kegagalan itu tak terulang lagi. Meski tak jarang, ia merasa gagal, berkat wejangan bapaknya, ia menjadi terbiasa.
"Jadikan kegagalan sahabat terbaikmu, karena hanya dialah yang setia dalam mengingatkan untuk selalu berusaha yang lebih baik. Tanpanya, kamu tidak akan pernah maju." (hlm. 65)
Tidak seperti dulu, yang satu kegagalan saja bisa membuatnya porak poranda. Tiga tahun setelah NEM yang 48 tak sampai itu, terlihat sekali perbedaan sikap Ninim dalam menghadapi kegagalan. Lihat saja, sikapnya yang jauh lebih tenang dan dewasa saat salah satu aplikasi beasiswa S-1-nya gagal. Saya bisa membaca betapa Ninim adalah tokoh yang perfeksionis, introspektif, religius, pantang menyerah, selalu berusaha berjuang lebih keras daripada orang lain. Yang terakhir ini terlihat jelas dari persiapannya jelang ujian semester dan ujian akhir di GC. Tiap hari ia bangun dini hari untuk belajar, kemudian setelah pulang sekolah pun belajar lagi. Ia belajar saat orang lain belajar; ia juga belajar saat orang lain terlelap. Inilah yang mengantarnya menjadi peraih nilai terbaik saat lulus GC dan berhasil mendapatkan beasiswa S-1 di Ritsumeikan Asia Pacific University.
Sifat Ninim yang introspektif dan religius ini menjadikannya melankolis. Salah satu contohnya adalah Bab 10: Eskapisme, yang berisi perenungannya ketika memandang pohon dan burung pelatuk dari jendela kamarnya di suatu pagi. Tasniem juga sering kedatangan pikiran-pikiran negatif, terlihat jelas di hlm. 61, reaksi atas kegagalannya dalam ujian kelas komputer. Namun, kualitas positif pribadinya dan dukungan teman-temannya mampu membuatnya bangkit lagi.
Persahabatan Ninim dengan tiga teman sekamarnya sungguh indah diselami. Mereka berasal dari bangsa, budaya, dan agama yang berbeda, tapi bisa saling memahami dan mendukung, tak ubahnya saudara kandung (bahkan mungkin lebih). Kesamaan nasib, yaitu jauh dari keluarga, mungkin salah satu katalis yang memperkental rasa persaudaraan di antara mereka.
Di antara novel-novel lain yang mengambil tema anak sekolah, novel ini jadi salah satu yang berbeda. Drama anak sekolah pun biasanya malah menekankan kisah romansa; aktivitas sekolahnya sendiri hanya tempelan atau bahkan absen. Di novel ini, aktivitas sekolah mendominasi. Untunglah, diselingi sedikit kisah petualangan dan serunya pekerjaan paruh waktu Ninim (pelayan restoran dan pembuka pintu hotel--saya baru tahu, lho, kalau pekerjaan itu namanya pembuka pintu hotel). Kalau tidak, mungkin ini akan jadi novel yang membosankan.
Ditulis oleh dua orang, betapa mulusnya kata demi kata terajut. Saya tak menemukan petunjuk secuil pun di mana letak pembeda, dari segi gaya bahasa, dari dua orang penulisnya ini. Malah, seluruh bagian novel ini seperti tulisan Tasniem saja, lantaran semuanya berpusat pada tokoh Tasniem. Mungkin juga ini kesan dari penggunaan sudut pandang orang pertama Tasniem. Padahal, awalnya saya mengira akan mendapati dua porsi seimbang kisah Tasniem dan Ridho. Oh, ternyata memang ini cerita tentang Tasniem.
Kisah perjuangan Tasniem ditulis dengan alur progresif secara umum. Di beberapa bagian, alur flashback mengambil alih, misalnya di Bab 3: Dan Layar Pun Terkembang. Di akhir Bab 2, ibu tidak menyetujui Tasniem sekolah di Singapura. Namun, di awal Bab 3, Tasniem sudah berangkat ke Singapura. Ada plot hole yang (mungkin) sengaja diciptakan penulis untuk membuat pembaca bertanya-tanya, "Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa?" Nah, di bagian akhir Bab 3, barulah pertanyaan itu terjawab. Strategi ini bisa menyedot rasa bosan yang mungkin timbul di benak pembaca.
Rasa bosan yang mungkin timbul bisa disebabkan oleh sudut pandang "aku" yang sangat egosentris, aktivitas akademis yang rutin, gaya bahasa si "aku" yang kadang sok akademis, atau penyebab lain. Gaya bahasa yang sok akademis ini tampak pada penggunaan istilah-istilah ilmiah, tapi untung tak separah yang digunakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. Di satu sisi, gaya bahasa seperti ini menunjukkan kreativitas penulis dan memberikan pengetahuan baru bagi pembacanya (meski tak ada footnote yang menjelaskan istilah-istilah ilmiah itu, jadi ya sama saja pengetahuan saya tak bertambah kalau saya malas Gugling apa artinya :-q). Setidaknya ada dua cara memandang kecenderungan sok ilmiah ini: arogansi penulis atau intensi mulia penulis untuk merangsang rasa ingin tahu pembaca. Contohnya adalah kalimat-kalimat berikut:
Huruf "S" menjadi Squamatamelata yang berancang-ancang menerkamku agresif. (hlm. 6)
Akar tunggang pohon belimbing tua di depan kelasku tiba-tiba menjadi raksasa, mirip kaki Cephalopoda. (hlm. 11)
Pelajaran moral hari itu, kucatat kuat dalam Cerebrum-ku: jangan berkawan dengan prasangka burukmu! (hlm. 30)
Ini seperti proyeksi kubus tesseract pada ruang tiga dimensi, aku dapat melihat suatu hal dari sisi yang lain, multifaset. (hlm. 36)
Saat si "aku" berlagak bak Sherlock Holmes (fight scene di Sherlock Holmes the movie 1): menghitung massa tiap bagian tubuh orang yang menabraknya waktu main basket (hlm. 93).
Selain itu, penulis juga sering mengulang-ulang fakta yang sudah dibeberkan sebelumnya. Misalnya, penulis menjelaskan bahwa kelas 10 di GC setara dengan kelas satu SMA (hlm. 37), padahal di hlm. 36 sudah tertera penjelasan serupa. Sepanjang membaca buku ini, saya menemukan beberapa kesalahan EYD yang seharusnya bisa diminimalisasi oleh kerja sang editor. Misalnya, kata "syaraf" (hlm. 18), yang seharusnya "saraf". Saya juga menemukan beberapa kalimat yang janggal (atau memang saya yang terlalu tolol untuk bisa memahaminya).
"Seekor kerbau berkubang, semua kena lututnya." (hlm. 72) -> lututnya? Mungkin lumpurnya.
"Karena aku ingin menyelesaikan apa yang harus selesaikan." (hlm. 98) -> kuselesaikan
Ketika Tasniem berdiri membelakangi Siska di antrian loket stasiun dan ia pun memaksa Erika juga berbalik badan (karena enggan bertemu dengan teman SMP-nya yang menyebalkan itu) Tasniem menuliskan demikian:
"Kubalikkan badan Erika, menghadap ke arah yang sama denganku. Kami berdua, mirip petugas upacara saat itu. Bagian paduan suara tepatnya. Erika semakin bingung." (hlm. 17)
Dan saya bingung. Mirip petugas upacara? Hmm, oke, karena mereka berdua berdiri berjajar dan menatap ke arah yang sama, seperti petugas pengibar bendera sebelum "langkah tegap maju jalan", ya? Lalu, seperti bagian paduan suara? Maksud kalimat ini kurang bisa saya tangkap seutuhnya.
Salah satu elemen teknis yang saya sayangkan adalah layout buku ini, dengan margin yang terbilang mepet dengan pinggiran kertas. Hal ini membuat saya tidak nyaman waktu membaca, sehingga mata saya cepat lelah. Terlepas dari semua itu, saya suka kovernya :D
Baru-baru ini, saya dengar bahwa Malam-malam Terang akan difilmkan. Semoga filmnya nanti akan sebagus bukunya!
GIVEAWAY!!!
Nah, sekarang saat yang ditunggu-tunggu, yaitu giveaway time! Yeay! Akan ada satu (1) pemenang dengan jawaban paling menarik yang nantinya berhak mendapatkan satu (1) eksemplar novel Malam-malam Terang gratis. Mari, simak persyaratan berikut: