2 July 2014

[RESENSI "TWIRIES"] Kembar Bukan Berarti Satu Dibagi Dua



Kovernya unyu, kan? Hihihi


Judul Buku                   : Twiries, The Freaky Twins Diaries
Penulis                          : Eva Sri Rahayu & Evi Sri Rezeki
Tebal                             : 304 halaman
Penerbit/cetakan           : de TEENS/Cetakan I, Mei 2014
ISBN                             : 978-602-255-577-3

Hati-hati dengan Si Kembar!


Hati-hati kalau menelepon kami. Jangan-jangan, itu bukan Eva atau Evi yang sebenarnya.” (halaman 28)

Ini bukan pertama kalinya saya membaca personal literature alias pelit (hari gini, belum pernah baca pelit?). Pelit pertama yang saya baca tentunya adalah…. karya Raditya Dika, dan yang kedua Anak Kos Dodol. Hehehe. Tapi, waktu itu saya belum suka nulis resensi, jadi ini adalah pertama kalinya saya menulis resensi buku pelit.

Dari judulnya saja sudah bisa diterawang, kan, kalau pelit ini merupakan diary sepasang kembar, Eva dan Evi. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian:

BAGIAN SATU: SERUPA KITA

Bagian satu mengulas jawaban-jawaban si kembar terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan orang-orang yang excited setelah mengetahui bahwa mereka berdua kembar. Seringnya, pertanyaan begini yang muncul, “Apa bedanya Eva sama Evi?”

“Kalau dianalogikan, Eva dan Evi itu seperti batu dan permen. Eva permen yang di dalamnya batu, Evi batu yang di dalamnya permen. Evi terlihat keras dan kuat di luar, tapi lembut dan manis di dalamnya. Sedangkan Eva sebaliknya.” (halaman 46)

*Hah, kok malah kayak iklan “renyah di luar, lembut di dalam”.
Di bagian ini, Eva dan Evi menjawab satu per satu pertanyaan yang sering muncul. Pertanyaan ini ada yang dikategorikan silly question, seperti “kalau yang satu ulang tahun, yang satunya lagi ulang tahun juga?” (nah, tahu, kan, kenapa dibilang silly? Hohoho).

Selanjutnya, Eva dan Evi membuat subbab tersendiri untuk “persoalan tukar-menukar”, “persoalan telepati”, dan “enak-nggak enaknya jadi anak kembar”. Untuk persoalan tukar-menukar itu, Eva dan Evi membocorkan cerita teman-teman mereka yang awalnya sering tertukar, yang mana Eva, dan yang mana Evi. Tapi, yang paling seru adalah cerita ketika mereka bertukar sekolah *ups, spoiler*.

Saya jadi pengin punya kembaran (#tsah) gara-gara baca “tujuh alasan kenapa jadi anak kembar itu enak”. Enak banget, kan, sudah memiliki seorang sahabat setia sejak dalam rahim ibunda? Kalau kita yang orang biasa—maksudnya nggak kembar—harus berjuang melalui rangkaian kisah jatuh-bangun untuk bisa menemukan seorang sahabat sejati #weiiiss.

Tapi, tapi.... Tapi, waktu baca bagian “tujuh alasan kenapa jadi anak kembar itu nggak enak”, saya jadi agak ragu pengin punya kembaran. Hahaha (seolah-olah bisa gitu, jadi kembar tiba-tiba). Alasan paling parah kenapa jadi anak kembar itu nggak enak, menurut saya adalah “ketergantungan”. Hahaha, itu parah banget!
Keterlaluan banget, nih, ketergantungannya! Hahaha

BAGIAN DUA: TWIN LOVE

Ditilik dari judulnya, bagian ini tentunya yang paling penuh drama—drama seputar tragedi percintaan si kembar. Kenapa tragedi? Yah, kalian harus baca sendiri! Hehehe. Ketika membaca bagian “cowok paling beruntung segalaksi” itu, saya teringat cerita teman saya. Saat kecil, dia juga punya cowok khayalan, dan ternyata cowok itu memang ada di dunia! Bedanya, kalau di cerita si kembar, cowok khayalan itu beneran ada di dekat mereka, sedangkan cerita teman saya ini.... Cowok khayalannya itu ternyata mirip banget dengan Fedi Nuril! Sampai sekarang, si Fedi ini masih menjadi cowok impiannya. Patut dicontoh, nih, seleranya cowok lokal!

*Tuh, kan, saya jadi ketularan gaya cerita si kembar. Plak! Hehehe*

Meskipun si kembar belum bisa melupakan si cowok impian, pada akhirnya mereka punya pacar beneran. Dan lucunya, Eva mudah sekali terpengaruh provokasi Evi. Jika Evi ngeluh putus sama pacarnya, Eva lantas mutusin pacarnya juga. Hahaha. Kayaknya, perlu dibentuk organisasi mantan pacar si kembar, nih.

BAGIAN TIGA: DARI BELAHAN UNTUK BELAHAN

*Eh, belahan apa, nih? Belahan pantat? Ups!*

Bagian ini berisi surat cinta dari Eva untuk Evi, dan sebaliknya. Terlepas dari segala kekonyolan yang sedari awal diobral si kembar, ternyata mereka berdua bisa jadi mendadak melankolis dan puitis di bagian ini. 

Setelah bagian ketiga berakhir, ada bonus dari si kembar, lho (berubah lagi jadi jayus). Bonus ini meliputi “behind the project”, “semacam penutup”, dan “buy one get one free”. Yang terakhir itu berisi testimoni dari teman-teman dekat si kembar tentang fenomena kembarnya mereka berdua. Saya setuju sekali dengan opini si kembar di bagian “semacam penutup”.

“Setiap individu akan bersinar dengan caranya sendiri.” (halaman 271)

Apalagi bagi anak kembar, tak patut membanding-bandingkan mereka, seolah mereka adalah separuh individu. Bagaimanapun juga, mereka masing-masing adalah seorang individu, yang seberapa pun kadar kemiripannya, pasti punya keunikan tersendiri. So, stop bully the twins! (Eh, kalau Eva dan Evi, yang ada, malah si kembar yang hobi nge-bully orang-orang! Hihihi.)

Kenapa Pelit Ini Saya Rekomendasikan untuk Dibaca

Pelit itu merupakan tulisan yang berdasarkan pengalaman nyata si penulis, jadi bisa disebut buku harian. Nah, agar seru dibaca, pelit ini biasanya diberi bumbu-bumbu komedi, sebut saja karya Raditya Dika, karya Alit, Kancut Keblenger, Anak Kos Dodol...., dan banyak lagi. Kak Eva dan Evi berhasil menuliskan pengalaman mereka menjadi suatu tulisan komedi yang kreatif (saya ketawa paling keras waktu baca bagian ini).
Ini lucu banget!


Kreatif bagaimana? Si kembar tidak melulu menuliskan pengalamannya dalam bentuk narasi, tetapi juga dalam bentuk percakapan, ditambah lagi ada komiknya! Ada juga foto-foto asli sosok mereka berdua.
Hayoo, cantikan mana? (langsung dijewer sama si kembar)
 Mereka juga menuliskan narasi sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan orang-orang kepada mereka. Mereka juga membuat tulisan versi Eva dan versi Evi. Terkadang, di dalam narasi itu, terselip percakapan mereka berdua yang meributkan kebenaran cerita, atau meributkan hal lain, seolah-olah mereka memang sedang bercerita secara langsung pada pembaca. Tema yang diusung penulis pun cukup menarik, yaitu tentang anak kembar. Apalagi, ini bukan kembar sembarangan, melainkan kembar penulis. Ya, keduanya sudah menerbitkan beberapa buku. Tidak sedikit anak kembar di dunia ini, tapi saya rasa, masih sedikit yang menulis pelit macam begini. 
 
Tiba-tiba Eva dan Evi ribut soal kebenaran cerita mereka sendiri. Hahaha.
Tidak semua cerita ditulis menggunakan sudut pandang Eva dan Evi. Ada juga tulisan teman-teman mereka, berupa testimoni (seperti sudah saya sebutkan tadi), sehingga menambah wawasan pembaca tentang bagaimana tanggapan orang-orang dekat si kembar. Si kembar juga menyelipkan opini mereka tentang kehidupan dan fenomena di sekitar mereka. Seperti pendapat mereka soal “cantik itu yang seperti apa, sih?”. Saya juga tidak setuju, lho, kalau yang disebut “cantik” itu adalah “cantik seperti Barbie”. Gaaah, maaf, ya, dunia nyata ini bukan dunia dalam film Barbie yang semua muka dan bentuk tubuhnya sama, paling bedanya cuma warna kulit dan bentuk rambut. Atau, kadang ada satu-dua yang dibikin jelek karena itu tokoh jahat yang nggak penting. Setiap orang cantik dengan caranya sendiri.
 
Sebel banget sama Barbie, nih.
Penulis pun berhasil membuat tulisan yang enak dibaca berkat gaya bahasa yang selentur permen karet dan sekocak stand up comedy. Awalnya, setelah mengetahui kepribadian masing-masing Eva dan Evi, saya kira yang tulisannya lucu alami itu si Evi, eh ternyata... (baca bagian “behind the project”). Penulis pun membagi buku ini menjadi beberapa bagian, yang memudahkan untuk diikuti alur ceritanya. Ditambah lagi dengan layout yang tertata dengan apik. Meskipun buku ini punya konflik di tiap bagian, absennya pengembangan alur yang berkesinambungan dari awal sampai penutup membuat saya kurang puas. Jenis huruf yang terlalu sering berganti-ganti juga bikin saya pusing (eh, ini sih, lebay, hehe). 

Eh, ada juga cerita yang saya rasa agak maksa, di bagian satu. Cerita tentang Evi yang buru-buru keluar dari rahim ibu setelah dikompor-kompori dengan Brad Pitt itu, beneran, nggak, sih? Lalu, kata-kata si Mama, “Melahirkan Eva itu rasanya seperti ngupil,” juga tidak saya tangkap maksudnya. Huhuhu. Menurut saya, pertanyaan orang-orang tentang si kembar itu agak lebay juga. Masalahnya, setiap melihat anak kembar, saya menganggap itu hal yang tidak menghebohkan. Jadi, nggak sampai, deh, saya meributkan hal-hal semacam silly question itu. Hehehe.

Terlepas dari itu semua, saya senang membaca pelit ini. Terima kasih, Kak Eva dan Evi, yang sudah menuliskan pengalaman jatuh-bangun bersama kembaran *XOXO* ^^.
Reaksi:

2 comments:

  1. Waaaahhh..udah baca #TWIRIES juga yaa... :D
    Yuk, ikut GA #TWIRIES di blogku, ada paket buku plus kaos unyu untuk dua pemenang ;)
    http://luckty.wordpress.com/2014/07/17/giveaway-twiries/

    ReplyDelete
  2. Baca punya saya juga mbak

    http://diirumahkata.blogspot.com/2014/08/boleh-lahir-dari-telur-yang-sama-tapi.html

    mohon komennya yaah ^^

    ReplyDelete

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets