30 June 2014

[RESENSI "DESTINY"] Destiny—Persenyawaan Antara Tangan Tuhan dan Usaha Manusia



Ada apa dengan tanggal 29 Juli?
You will know once you read this novel.

Judul Buku                   : Destiny
Penulis                          : Leonita Julian
Tebal                             : 216 halaman
Penerbit/cetakan           : Bentang/Cetakan I, Mei 2014
ISBN                            : 978-602-291-028-2

Apa, sih, Destiny itu?


“Destiny bukanlah soal kesempatan. Bukan pula sesuatu yang hanya ditunggu. Ini tentang sesuatu yang harus diwujudkan dengan usaha. Ini hanyalah jembatannya.” (halaman 196)

Nah, seperti judulnya, novel ini menyuguhkan cerita tentang takdir enam orang yang bersahabat sejak SMA. Ada Aubrey—tokoh “aku”, yang dulu agak nerd, dan punya sixth sense. Ada Arjuna, si playboy pangeran sekolah. Amanda, yang galak dan cerewet, yang berkebalikan dengan Nadya yang pendiam, tapi sekalinya ngomong, tegas. Si mantan ketua OSIS yang baik hati dan perhatian, Tommy. Si nerd yang sesungguhnya, yang cerdas dan random, Chucky. Mereka berenam mengadakan farewell party di Destiny Café, Seminyak, Bali, sebelum Arjuna hijrah ke AS untuk kuliah di Columbia University.

Layaknya anak-anak muda yang sedang berkumpul, mereka pun bergosip. Malah, Arjuna sempat berbicara tidak sopan kepada seorang ibu penjaja buku. Lantas, seorang pelayan cantik menghampiri dan menegur mereka. Kata-katanya terdengar seperti kutukan, yang akan membuat mereka menuai akibat dari gosip yang telah mereka semai.

Sarat dengan Kebetulan—eh, Takdir, Maksudnya

Bagi penyuka film Serendipity, film tahun 2001 yang dibintangi John Cusack dan Kate Beckinsale, pasti juga akan menyukai novel ini. Kalau di film itu, nama kafenya adalah Serendipity, di novel ini namanya kafe Destiny dan kafe Fate. Awalnya, saya agak pesimis akan novel ini, karena saya menjumpai terlalu banyak adegan kebetulan—eh, maaf, takdir, maksud saya, sehingga banyak jalan cerita yang bisa saya tebak. Padahal, saya membeli buku ini karena tertarik akan sinopsisnya, yang menyiratkan ada hal berbau magis dan misteri di dalamnya. Ternyata, saya malah menjumpai kisah percintaan Aubrey yang penuh takdir, dengan Bintang, yang ia cintai sebelum ia bertemu pertama kali.

“I knew I loved him before I met the real him.” Aubrey (halaman 26)

Saya suka dengan kisah mereka berdua, yang sangat…romantis! Yah, meskipun adegan macam sinetron, seperti tidak sengaja bersentuhan tangan saat ingin mengambil apel yang sama di minimarket, turut berperan. Saya juga suka, novel ini bukan melulu soal cinta. Si penulis menyelipkan kritik-kritik sosial, seperti yang sering dia tulis di blog-nya, leonisecret.com, tentang AIDS dan pelecehan seksual.

“Pelecehan seksual mungkin jadi pelecehan yang paling ironis. Jika pada pelecehan lain korban akan dibela mati-matian, korban pelecehan seksual bisa jadi justru disalahkan.” (halaman 175)

Dan, yang paling bikin saya betah membaca adalah novel ini bebas typo! Juga sketsa wajah Bintang dan Arjuna bikinan penulis. Aih, mereka ganteng sekali, plus senyumnya manis! Jadi pengin ketemu sosok nyata dari sketsa wajah itu. Huhuhu. Meski begitu, logika ceritanya kadang terpeleset. Di halaman 50, Arjuna dan Aubrey sudah menyadari bahwa Amanda terkena efek karma akibat gosip mereka delapan tahun lalu. Lha, kok, di halaman 199 terkesan bahwa mereka baru menyadarinya? Lalu, pertemuan Aubrey dengan Randy itu juga agak aneh menurut saya. Logiskah jika dua orang yang pertama kali bertemu obrolannya sudah sangat akrab, malah sampai cium kening segala? Yah, mungkin mereka hanya sedang terbawa emosi dan keindahan pemandangan pantai….

Maafkan kelambanan saya akan pemrograman komputer—saya tidak paham adegan halaman 97-99, tentang obrolan lewat Twitter, antara Aubrey dengan seseorang yang mengumumkan bahwa blog Aubrey di-hack. Saya ulangi baca beberapa kali, tetap tidak mengerti maksudnya. Jadi, orang itu sendiri yang menge-hack—atau bagaimana? Pengungkapan bahwa ternyata Aubrey dan Nadya adalah korban pelecehan seksual di bagian akhir novel itu juga terasa dipaksakan. Kok, sebelumnya Aubrey tidak pernah mengungkitnya? Hm, mungkin juga karena Aubrey tidak ingin mengungkit-ungkit masa lalu kelamnya itu.
Secara keseluruhan, saya menyukai gaya bercerita penulis. Dengan cerdasnya, penulis menggubah tulisan-tulisan nonfiksinya di blog menjadi sebuah novel yang keuntungan penjualannya akan didonasikan untuk gerakan pendidikan bagi anak-anak marjinal, Save Street Child. Great job!
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Your comment is so valuable for this blog ^^

bloggerwidgets